Thursday, 5 March 2020

[tujuh belas] J E D A

Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna bila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?
 -Dee Lestari-

Hello guys, gimana pendahuluan kali ini? Mantep gak tuh hahahahaa 


Apa kabar teman-teman semuaa? Semoga sehat selalu yaa, sekarang lagi marak-maraknya virus Corona beserta semua keunikan keanehan yang mengikutinya, seperti orang pada berebut makanan instan lah, nimbun masker lah, macam-macam lah. Kadang-kadang ngerasa lucu juga, sedih juga, kok bisa gitu ya di tengah-tengah musibah kek gini masih aja ada orang-orang yang tanggung jawab sosialnya gak ada. Semoga kita bukan salah satu dari orang-orang itu, jika pun iya, cepat-cepatlah bertobat wkwkwk


Hmm, yahh udah sekip sebulan nih gaes hahahaa maafkan dakuuu *gak ada yang nunggu juga sih ya hahaaa

So, what am I going to talk today?
As clear as the title, yap, tentang jeda. Sering sekali pastinya kita sekip untuk hal ini.
Terlalu sibuk, terlalu fokus, terlalu kencang, terlalu hectic sampai lupa, lupa berhenti sejenak.


Mungkin teman-teman pernah dalam hidup ini, entah itu pekerjaan, studi atau apapun itu merasa seperti (I don't know if this is the right word) antara bingung dan lelah dan panik. Saya gak tau cara mendeskripsikannya hahahaaa intinya hal-hal yang biasa saya rasakan ketika saya stuck dalam suatu hal atau ketika saya memiliki terlalu banyak hal di kepala saya yang harus dilakukan. Semacam pace nya tuh cepat bangett, kek naik F1, puyeng hahaaaa Gak tau apa smua orang merasakan itu atau tidak tapi ya semacam itulah, kemampuan deskripsi saya cuma sampai di sana pemirsa hahaaa

Nah, ketika berada di posisi itu apa yang harus kita lakukan?
Biasanya kita malah makin ngegas gitu kan, makin mikir dan makin panik. Itu rasanya kayak makin banyak yang berlarian di otak kita, makin puyeng gak sih hahhaaa


Ibarat sedang mengendarai mobil nih, kalo kita ngerasa laju mobil kita udah cukup kencang ya jangan makin digas dong ya, mestinya direm kan. Sama juga ketika kita sedang panik atau hectic banget, what we should do adalah berjeda, diam sejenak. Diam sejenak gak akan merusak apa yang sudah dikerjakan atau direncanakan malah bisa memperjelas semuanya. Ibarat air keruh, kalau makin diaduk makin keruh tuh, tapi kalo didiemin nanti pelan-pelan akan jernih (ibarat mulu nih kali ini wkwk). Yes, sama aja dengan kita, pikiran kita. Kalau makin diaduk-aduk makin puyeng dah tuh.


Kalau untuk saya pribadi nih, kadang-kadang saya namakan step back atau keluar dari tubuh (hantu kali ye hehehe). Jadi semacam kita mencoba untuk berhenti sejenak, diam, lalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang di luar kita. Jadi kayak kita melihat diri kita sendiri gitu, tapi dari luar. Moga-moga dapet maksud saya yaa heheee


Nah, menurut pengalaman pribadi, dengan melakukan hal itu, saya bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jelas dan bisa memetakan kembali apa yang sedang terjadi. Kalau dikata mirip benang kusut, maka kita harus keluar dulu dari tengah-tengah kekusutan itu, melihat benang itu secara keseluruhan, menelaah ujung pangkal benang itu arahnya kemana, yang terlilit yang mana, barulah setelah itu kita bisa tau oh bagian ini yang harus dilepas, sampai akhirnya benang itu menjadi lurus dan rapi kembali.


Quite similar dengan kejadian hidup kita sehari-hari, kalau kita ngerasa pace nya cepet banget nih, atau semacam tensi kita tinggi banget atau kayak senggol bacok gitu hahaa mungkin ada baiknya untuk berhenti sejenak, jangan makin digas, malah bahaya bisa nabrak cuy wkwkw


Ketika kita mundur selangkah atau kita keluar dari sudut pandang kita sendiri, kita bisa melihat secara lebih jelas kita sekarang ada dimana. Oh iya, kalau temen-temen pendengar podcast, maka saya saranin denger podcast Thirty Days of Lunch, narasumber nya dan topiknya keren-keren banget. Nah, ada satu episode dengan Yasa Singgih (silahkan searching kalau gak tau beliau), ada yang menarik ketika dia bilang bahwa kebanyakan orang tuh bukan gak tau tujuannya ke mana, tapi mereka gak tau sekarang ada di mana. Menurutku, that's really true. Kadang-kadang kita gak tau kita sudah ada di mana sekarang, padahal dengan mengetahui kita sekarang di mana, kita bisa mengetahui apa yang sudah kita lakukan dan apa yang harus kita lakukan ke depannya untuk sampai di tujuan sana.

Balik ke yang tadi, ketika kita diam sejenak, berjeda, step back, atau keluar dari tubuh kita (you name it apapun itu namanya hahaaa) kita bener-bener bisa melihat gambaran besarnya. Hal ini akan sangat membantu mengurangi kehectican dan kepanikan. Karena kadang-kadang ketika terlalu banyak hal yang harus dilakukan kita bingung harus mengerjakan yang mana dan memulai dari mana. Kita jadi kayak 'duh harus ngapain nih banyak banget mulai dari yang mana dulu nih'. When it happened, duduk, diam, tarik napas, hentikan semua yang berlarian di otak kita, just like freeze the time. Habis itu, tarik sudut pandang kita keluar, ibarat lampu sorot akan menyorot semua apa yang harus dikerjakan. Nah saat itu lah kita lihat baik-baik dan mulai analisa. Dengan melihat broad view nya, kita tau oh ini yang harus dikerjakan duluan, baru setelah itu mengerjakan yang itu, dan seterusnya. Secara otomatis, kepanikan akan hilang karena kita sudah tau apa yang harus dilakukan dan kita sudah punya gambaran yang jelas akan seperti apa ke depannya.


For me personally, it really helps sih, jadi kayak bisa lebih waras aja, lebih tenang dan terarah. So, we do need a space to calm down, butuh jeda sodara-sodara wkwkkw

Jadi mungkin sekian dulu bacotan dari saya semoga ada guna nya ya hahaaa

Kesimpulannya semua di dunia ini perlu jeda ya gaes, kecuali hestek! wkwkwkw

See ya at [delapan belas]

Cheers,
Em 🙆

Saturday, 25 January 2020

[enam belas] selalu ada yang terakhir

If there is a beginning, then there will be an end


Tribute to my beloved mom and grandma

Selamat tahun baru Imlek ya untuk teman-teman yang merayakan xD

Mau ngomongin apapun, semua yang berawal pasti akan berakhir. Klise.
Everything with a start will end.


Eight years four months, 2012 was the last year I celebrated Chinese New Year with my mom. The last year that she was still strong enough to walk, to sit, to get in a car. 

Almost seven months, 2019 was the last year I celebrated Chinese New Year with my grandma. The last year that she was still strong enough to sit, to smile, not to stand, a little bit to talk, a very small sound came up from her mouth.

These two women had brought so many things in my life.

Those two years, the years, no one knew before, would be the last time to celebrate Chinese New Year with them.

I still remember the new shirt my mom wore that day, a simple red shirt. Red, the symbol of happiness. She was healthy that morning, excited to visit the family. No one knew, six months after that she completed her journey in this world. To be honest, nothing is worse than losing someone you love but at that time, one thing we can be thankful for was that she had ended the suffering from cancer. 

I also still remember my grandma's smile on the Chinese New Year last year. She was very excited that day, full of smile, had the strength to talk with people (even with a very small sound), sat almost half-day (a thing that she was not able to do a few months before). She even remembered that she had to give the children the 'angpao'. No one knew, four months later she finished her journey in this world. At that time, the thing we can be thankful for was that she did not suffer from the application of NGT tube (she used this for two months). 

You know what, I learned a lot from all these things. Everything has an end. Everything will end, definitely.

Before the time comes, make sure to spend it well. 

I am quite grateful and thankful, I am not saying I did not do mistakes. I did, a lot. The thing is that I had done what I should have done. Life must go on.

I miss you so much, I love you always, mom and grandma
I wish you always be happy wherever you are now

See you in the next chapter of life


See ya at [tujuh belas]
Cheers,
Em 🙆

Wednesday, 1 January 2020

[lima belas] If you're happy, I'm happy too!

Be just as enthusiastic about the success of others as you are about your own
- Christian D. Larson -

Happy New Year All !! Say goodbye with a smile to 2019, and say hello with a bigger smile to 2020
Are you ready?? Wkwkwk
Selamat tahun baru ya teman-teman semua, tentunya kita semua berharap yang lebih baik untuk tahun 2020 ini, bagi yang udah punya daftar resolusi semoga bisa tercapai semua yaa hehee yang belum buat resolusi juga tetap semangat menjalani hidup yang lebih baik yaa di tahun depan 


Sebenarnya pergantian hari dari 31 Desember ke 1 Januari tak ada bedanya dengan pergantian hari lainnya, Selasa ke Rabu sama seperti pergantian hari Selasa ke Rabu yang sebelumnya. Hanya saja, perhitungan astronomi membuatnya berbeda, perhitungan revolusi Bumi yang membuatnya berbeda. 1 tahun berarti Bumi kembali ke titik awal dalam mengitari matahari. Ya, perkembangan ilmu pengetahuan. Tapi tahun baru bisa dijadikan momentum, untuk lebih baik dari sebelumnya. Meskipun, hendaknya setiap hari pun seperti itu. Semangat guys wkwkw

Kali ini, tidak ada kaitannya dengan tahun baru hehee
Mungkin teman-teman masih ingat, waktu kecil kita diajarkan banyak hal oleh orang tua kita. Kalau ada yang butuh bantuan, ditolongin. Kalau mau minta sesuatu harus bilang 'tolong'. Kalau buat salah harus minta maaaf. Kalau dikasih sesuatu harus bilang 'terima kasih'. 

Tapi ada hal yang mungkin beberapa atau sebagian besar (tidak semua ya) dari kita luput dari pengajaran itu. Yaitu, turut merasa bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Tapi, kita kan diajar untuk memberikan selamat kepada orang yang sedang sukses atau bahagia? Ya benar, tapi kadang-kadang ucapan selamat itu tidak diikuti rasa bahagia yang sesungguhnya dari dalam hati.

Susah liat orang senang, senang lihat orang susah.
Ungkapan yang umum sekali kita dengarkan. Jangan sampai kita demikian.

Memang sulit, apalagi mungkin rival atau orang yang sering dibanding-bandingkan dengan kita meraih suatu kesuksesan. Mungkin tanpa sadar kita sering iri atau malah merasa rendah diri, minder. Atau kadang pula malah berprasangka buruk. Jangan-jangan .....

Ini lebih sulit sepertinya daripada meminta maaf atau mengucapkan terima kasih.
Tapi ini adalah hal yang perlu kita latih dan kembangkan. Ketika ada orang lain yang sukses, apalagi itu pesaing kita, ikutlah berbahagia, ucapkan selamat dan jangan lupa jadikan motivasi. 

Bukan kah rasa iri atau rendah diri itu bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih positif yaitu motivasi?
Jika orang lain bisa, maka kita juga pasti bisa. 
Ketika ada orang yang lebih baik dari kita, maka kita harus akui itu. Tapi bukan berarti kita menyerah. Kita juga pasti bisa kok, asal kita berusaha.

Ikut merasa bahagia ketika orang lain bahagia akan membuat hati kita menjadi lega, lebih lapang sepertinya. Suatu tanda kebesaran hati yang mungkin tak semua orang miliki.

Jadi gitu yah guys wkkw
Ini adalah sharing dari perspektif saya pribadi, juga sebagai pengingat untuk saya pribadi. Jika ada kesalahan maka mohon dimaafkan heehee
Semoga bisa menjadi pengingat kita bersama.

Selamat tahun baru !!!

See ya at [enam belas]
Cheers,
Em 🙆

Friday, 20 December 2019

[empat belas] Melawan Hukum Newton (?)

It is not possible to shut everyone's mouth, to close everyone's eyes, or to change everyone's attitude but it is always possible to control your heart and mind
-Anonim-

Hello again guys ...
Udah lama juga ya gak update lagi hahaaa maafkeun ketidakkonsistenan saya dikarenakan beberapa hal hahaa 

Jadi hari ini kita mau belajar fisika dulu yaa hahaa ya kagaklah ya ..
Apakah teman-teman masih ingat Hukum Newton III yang bunyinya F aksi = - F reaksi?
Banyak orang berpikir seperti ini 'sikapku ditentukan oleh sikapmu kepadaku', quite make sense. Jika orang baik pada kita, kita juga baik pada  mereka. Kalau orang jahatin kita, mungkin kita bisa lebih jahat lagi sama mereka.

But, another perspective may come. Kenapa kita harus selalu bergantung pada orang lain? Bukankah kita bisa menentukan sikap kita sendiri?

Banyak hal, sakit hati, kecewa, marah, senang, sedih kemungkinan besar dikarenakan dari sikap orang lain kepada kita. 

Jika dipikir-pikir lagi, cukup aneh bukan?

Kita tidak bisa mengontrol orang lain, tidak bisa mengontrol semua orang di dunia ini, tidak bisa menentukan sikap orang lain, lalu mengapa kita harus bergantung kepada itu semua?
Biarlah kita mengontrol apa yang ada dalam teritori kita, dalam kemampuan dan kesanggupan kita yaitu diri kita sendiri.

Contoh kasus, banyak sih sebenarnya yang sering terjadi di kehidupan kita setiap harinya, misalnya karena orang jahat sama kita, kita jadi membalas jahat sama orang tersebut. Di satu sisi mungkin ini hal wajar, tapi itu adalah pilihan. Tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada kita adalah satu pilihan yang sangat mungkin untuk dilakukan, tentu dengan semua tantangannya. 

Contoh lain, orang yang nyinyir kepada kita yang akhirnya membuat kita sedih atau marah. Menutup mulut orang-orang nyinyir itu hampir tidak mungkin bisa kita lakukan, mengubah pola pikir orang, sikap orang, kebiasaan orang bukan hal yang gampang. Ya kali kita bisa mengubah hati semua orang wkwkwk, tapi kita punya hak sepenuhnya untuk memilih untuk diri kita. Memilih merasa sedih, memilih merasa marah, memilih untuk ikhlas, memilih untuk bahagia, memilih untuk menghargai kerja keras diri sendiri, memilih untuk tetap baik-baik saja. Semua adalah pilihan kawan-kawan sekalian.

You do you.

Hari ini ada orang yang tidak ramah kepada kita, tidak baik kepada kita, tidak masalah. Uang 100 ribu rupiah tidak akan menjadi 100 ribu rupiah dengan sanjungan orang, tidak akan kehilangan nilai 100 ribu rupiahnya karena diinjak-injak. Uang seribu rupiah tidak akan menjadi 100 ribu meskipun saya meneriaki uang itu 'kamu 100 ribu, kamu 100 ribu'. Orang gila kali saya ini hahahaa

Begitupun kita, kita tidak akan menjadi lebih baik hanya karena didengung-dengungkan pujian, disanjung-sanjung setinggi langit. Pun bukan berarti kita buruk jika kita dihina, dimaki ataupun diremehkan. 

Kita ingin menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu pilihan kita, keputusan kita sendiri, tidak ada urusan dengan orang lain.

Untuk hal-hal seperti ini, mungkin kita sudah lumrah dengan ilmunya, sudah tau, sudah sering lihat dan dengar. Tapi, aplikasinya mungkin belum. Masih sulit, masih gimana gitu ya hahahaa

Mulailah belajar, saya masih belajar, kita sama-sama belajar.
Belajar mengendalikan diri, mengendalikan hati, mengendalikan pikiran. 

Biarlah orang lain juga melakukan pekerjaan mereka sendiri, mengendalikan diri, hati, dan pikiran mereka masing-masing. Biarlah setiap orang belajar, karena semua dimulai dari diri sendiri.

Jadi, dalam hal ini, mon maap nih ya mbah Newton yang kuhormati dan kufavoritkan ilmunya selama masa sekolah bahkan sampai sekarang ini, F reaksi tidak harus selalu besarnya sama dengan F aksi (dengan arah berlawanan). Tidak selamanya pukul dibalas dengan pukul, maki dibalas dengan maki.
Kita masih bisa belajar lebih bijak, lebih baik. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri. Lebih berdamai dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain. 

Jika kita bisa mengendalikan hati dan pikiran kita, maka sudah pasti, kelegaan itu ada, kemandirian (ketidaktergantungan) itu ada, dan kebahagiaan itu ada. 

See ya at [lima belas]
Cheers,
Em 🙆

Sunday, 3 November 2019

[tiga belas] Waktu adalah Rasa

Time is not measured by clocks, but by moments
- Anonymous -
Halo teman-teman semua,
Finally, I come back after about 2 months hehee yup, blog ke tiga belas wkwk
Kali ini kita akan bahas tentang waktu, quite familiar, quite common topic, but let's see ..

I bet you guys, all of you, semua teman-teman yang baca ini pasti pernah merasakan ini, termasuk saya '1 jam serasa 1 menit', '5 menit terasa 5 jam', atau mungkin kalian pernah berpikir seperti 'duh, ini 10 menit terlama dalam hidup gue' iya gak sih?

Kalau kita ingat kembali waktu belajar fisika pas sekolah dulu, waktu adalah suatu besaran, bisa diukur mungkin dengan detik, menit, hari, tahun dan seterusnya. Kalau kita menghabiskan waktu 15 menit untuk menghabiskan semangkuk bakso maka meski di luar angkasa pun kita juga akan tetap menghabiskan waktu 15 menit. 15 menit adalah 15 menit, you can count it.

The other thing is, waktu tidak sesederhana itu, karena lebih seringnya kita mengukur waktu dengan perasaan. Membaca buku pelajaran selama 1 jam beda rasa lamanya dengan membaca novel 1 jam. Menghabiskan waktu dengan teman atau dengan pacar akan selalu terasa lebih cepat dibandingkan menghabiskan waktu belajar di kelas, meskipun dengan durasi yang sama. 

Waktu senantiasa demikian, dipengaruhi oleh perasaan.

Waktu adalah sesuatu yang mutlak, itulah mengapa stopwatch diciptakan. Tapi lebih dari itu waktu sangat relatif, karena perasaan manusia itu ada dan nyata. Mutlak tapi relatif, hmm cukup menarik.

Pertanyaannya, pernah kah kita benar-benar merasakan waktu? 

Setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda-beda ketika ditanya '1 jam itu seperti apa?'. Karena setiap orang akan menjawab sesuai pengalaman 1 jam nya masing-masing. Tak bisa dibandingkan 1 jam seorang dan orang lain.

Karena waktu adalah rasa, seringkali perasaan terlalu jauh terlibat dalam masalah waktu. Mungkin tidak dialami semua orang, tetapi cukup sering kita mengomel, ngedumel, dan kategori sejenisnya untuk sesuatu hal yang berkaitan dengan waktu. 

Mungkin kita perlu belajar melihat waktu yang sebenarnya, mungkin perlu belajar mendengar detak jarum jam.

Mungkin topik kali ini agak kurang penting atau kurang relate dengan banyak orang, tetapi ada hal lain yang menurut saya bisa saya amati dari diri saya sendiri ataupun dari orang lain bahwa untuk sesuatu yang indah, nyaman, bahagia, waktu bukan menjadi masalah tapi untuk hal yang tidak nyaman, waktu bisa jadi menjadi masalah. Menonton drama korea dari pagi sampai pagi bukan masalah, bermain game sepanjang hari bukan masalah, tetapi belajar 1 jam saja menjadi masalah, mendengarkan orang berbicara selama 30 menit bisa jadi juga adalah masalah. 

Maka dari itu, mungkin kita perlu lebih adil dengan waktu, lebih merasakan waktu, merasakan 15 menit sebagai 15 menit, merasakan 2 jam sebagai 2 jam.

Agak absurd memang hahhaa mohon maaf 

Mungkin inti dari topik ini yang ingin saya sampaikan kurang tersampaikan, tetapi ya begitulah, jika nanti ada kesempatan dan bisa mendeskripsikan dengan lebih baik topiknya akan saya tulis lagi hehhee

Memang tak bisa dipungkiri, waktu lebih banyak diukur dengan rasa, but don't let the feeling takes all away. Kadang kita harus menerima untuk menunggu 15 menit, untuk mendengarkan 1 jam, untuk duduk diam 30 menit. 

If you get what I mean wkwkwk

Anyway, terima kasih teman-teman yang sudah membaca blog saya ini yang masih banyak kekurangannya, semoga bisa memberi insight positif. If you have any idea to discuss or any suggestions, feel free to drop in email at emilia.utomo@gmail.com, I'd be more than happy to share, thank you!

Sampai jumpa di [empat belas],
Cheers,
Em 🙆



Sunday, 8 September 2019

[dua belas] Your Assumptions Do Kill You!

Your assumption, and the truth, dine at totally separate tables
- J Michael Straczynski -
Halo semuanyaa .. I hope this blog finds you well :)
Feels so good to write again hehee

Kali ini topiknya mengenai hal yang menurutku paling sering dilakukan oleh manusia, ya istilahnya cukup manusiawi lah sebagaimana kita tuh punya akal untuk berpikir jadi setiap orang pasti pernah bahkan sering untuk 'berasumsi', ya gak?

Ketika ada sesuatu yang terjadi, maka secara otomatis pikiran kita membentuk banyak asumsi-asumsi yang bisa jadi benar, bisa jadi juga salah, who knows?
So, apakah berasumsi itu salah ? Tentuuuuu saja tidak wkwk
Asumsi itu sebenarnya merupakan cara kita bernalar terhadap suatu hal yang sedang terjadi, pikiran kita mencoba membentuk kemungkinan-kemungkinan yang bersesuaian dengan kejadian tersebut. Akan tetapi, sadar gak sadar, kadang-kadang pikiran atau hati kita masih sulit membedakan antara asumsi dan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Mungkin kita pikir kita ini cenayang ya hhahaa bisa membaca pikiran orang wkwkkw. Nah, hal inilah yang sering menimbulkan masalah.

Coba deh diingat-ingat kembali, seberapa sering kita berasumsi, seberapa banyak kita termakan oleh asumsi kita sendiri yang ujung-ujungnya menimbulkan masalah yang merugikan kita sendiri? 

Contoh sederhana,
Misalnya nih kita lagi buat kue, anggaplah kita ini masih amatiran gitu yaa tapi kalo buat kue bisalah hahaaa. Setelah kuenya jadi, eh ternyata jadinya lumayan banyak, gak mungkin dihabisin sendiri kan? Jadilah kita bungkusin dikit buat tetangga yang baru sebulan tinggal di sebelah rumah, yakali bisa diendorse *eh wkwkk 
Nah, setelah dari rumah tetangga, pulanglah kita. Gak lama setelah itu, gak sengaja nengok di jendela, eh si tetangga itu ngasih tempat kue yang tadi kita kasihin beserta isinya ke orang lain. 
Ketika melihat itu, kira-kira apa yang muncul di pikiran kita?

"Kurang asem nih tetangga, masa kue yang aku kasih malah dikasih ke orang lain? Huh, gak menghargai pemberian orang", "Lho kok kuenya malah dikasih orang lain? Gak tau apa kalau buat kue itu susah?", "Waduh, parah nih tetangga, lain kali gak bakal aku kasih lagi", "Dasar tetangga baru aja udah belagu", "Hm, mungkin orang itu pengemis kali ya jadi dikasihin tapi kok  mesti kasih kue yang barusan aku kasih sih"

Apa masih ada lagi asumsi lain? Hahahaa saya yakin, pikiran-pikiran semacam itu pastii akan muncul di otak kita. Bahkan lebih banyak dan lebih variatif dari yang di atas. 

Kita lanjut ceritanya ya,
Nah, setelah kejadian itu, kita pasti akan merasa gak enak ketika bertemu tetangga kita, senyum jadi gak ikhlas, jadi malas menyapa, berujung ke hubungan yang mungkin jadi kurang harmonis dengan si tetangga itu.

Asumsi yang kita bangun dalam pikiran tadi membuat banyak perubahan sikap, perubahan cara pandang terhadap orang lain. 
Nah, pertanyaannya adalah, apakah asumsi kita itu benar? Apakah memang tetangga kita itu kurang asem? Hahahaa silahkan jawab sendiri ya, coba cek ke tetangganya wkkwkw

Mungkin aja nih ya, tetangga kita itu jadi bingung, "Ni orang ngapa yakk, kemaren baek banget ngasihin kue, kok hari ini senyum aja ogah-ogahan". Bisa jadi demikian kawan-kawan hehhee

Yang menjadi refleksi dari contoh di atas adalah bahwa kita tuh jangan kemakan dengan asumsi sebelum ngecek kebenarannya. Berasumsi boleh-boleh saja, itu mengasah otak kita melihat segala kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi sekali lagi, asumsi itu gak nyata gaes, seperti quote di awal bahwa asumsi dan kenyataan itu totally gak ada di meja yang sama, jadi jangan menjadikan asumsi sebagai pembenaran atau kebenaran palsu. 

Ya, kita mesti ngecek dulu kebenarannya seperti apa, kalau kayak contoh tadi, kita bisa nanya ke tetangga kita kayak "Kue yang kemaren enak gak Bu? Soalnya masih belajar nih Bu hehee butuh masukan dari orang lain kali aja masih banyak kekurangan". Nah, bisa saja dengan bertanya demikian tetangga kita akan cerita hal yang sebenarnya terjadi itu seperti "Oh iya enak banget, makasih loh ya, cuma kebetulan di rumah saya cuma berdua sama suami, anak-anak lagi pada liburan ke rumah neneknya, jadi takut kuenya gak habis saya kasihin sebagian ke bawahan suami saya yang kebetulan berkunjung ke rumah, katanya kuenya enak banget, dia kirain saya yang buat, padahal saya mah gak bisa masak hahhaa bisalah saya belajar sama kamu".

Nah, kan gaes, gimana? Bisa aja kita tuh udah berprasangka buruk sama orang lain gara-gara asumsi kita sendiri. Ya, meskipun di atas itu cuma contoh tapi setidaknya banyak hal yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari yang mirip seperti itu.

Asumsi-asumsi yang kita bangun (yang kebanyakan adalah asumsi negatif) otomatis akan membuat sikap kita berubah karena kita yakin dengan asumsi itu dan menganggapnya sebagai kebenaran tanpa kroscek terlebih dahulu dengan apa yang terjadi.
Kebayang gak sih, orang lain yang gak tau apa-apa tentang asumsi kita terus jadi korban dari perubahan sikap kita. Mereka pasti bingung kan, "Kesambet apa nih orang kok tiba-tiba sikapnya berubah gitu" padahal mereka gak ngapa-ngapain, kitanya aja emang yang jadi aneh gara-gara pikiran kita sendiri. Dasar aku wkwkkkw 

Kalau ditarik lagi jauh ke depan, gara-gara setitik asumsi maka bisa rusak semua ke depannya hahahaaa hubungan dengan orang lain bisa terganggu, perubahan sikap kita bisa menimbulkan asumsi-asumsi di pikiran orang lain yang gak ada ujungnya, dan masalah-masalah lainnya yang of course merugikan kita. Yuk, pikiran dikondisikan kembali untuk lebih bijak menyikapi suatu masalah dan mengantisipasi asumsi hasil nalar kita sendiri.

Dah cukup panjang nih ya wkkw
Jadi, udah yaa, cukup sudah membangun dan mempercayai asumsi-asumsi yang muncul di pikiran kita, sekali lagi gak apa-apa berasumsi tapi yaa ayo di kroscek dulu kebenarannya sesuai apa ndak. 

Kuulang judulnya ya "your assumptions do kill you!"
Sekian, all the best for us in everything we do :)

See ya at [tiga belas]
Cheers,
Em 🙆

Friday, 23 August 2019

[sebelas] Perisai Pujian

Menang tidak terbang, kalah tidak patah 
- Agus Harimurti Yudhoyono -
Hello again teman-teman semua hehee 
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat :)

Topik hari ini cukup membingungkan bukan? 
Hahahaa mengapa pujian memerlukan perisai, bukankah pujian adalah suatu hal yang baik dan bahkan dinantikan oleh banyak orang? Bukankah  malah hujatan yang memerlukan perisai sebagaimana hujatan apalagi dihujat oleh netizen kadang-kadang cukup menyakitkan dan menyeramkan? Wkwkwk

Ya, jadi dari beberapa pengalaman dan pemikiran ternyata pujian itu kadang-kadang jauh lebih 'berbahaya' daripada hujatan, termasuk hujatan netizen yang lagi naik daun sekarang ini wkwkw

Ketika kita dihujat, dikritik, atau dicela, itu mungkin menyakitkan. Hm, bukan mungkin, tapi pasti yaa. Tetapi, setelah itu menurut saya kita bisa recovery dengan cepat. Dari sekian banyak hujatan, celaan, kritikan pedas yang terpedaaas sekalipun kita pasti bisa (baik itu dengan mudah ataupun membutuhkan beberapa waktu) untuk bangkit dan belajar dari semua hujatan-hujatan itu. Bahkan kadang-kadang celaan yang paling menyakitkan malah menjadi motivasi paling mujarab untuk 'comeback stronger'. Motivasi untuk membuktikan bahwa 'mereka salah' dan 'kita bisa' begitu besar begitu nyata ketika kita menerima hal-hal yang kurang menyenangkan. 

Jadi ketika teman-teman dihujat apalagi oleh netijen wkwkk no need to feel bad, cukup buktikan bahwa mereka itu salah hehee

Nah, bagaimana kabarnya jika yang kita terima adalah puja puji yang membawa kita terbang ke langit ke 7? Hahahahaa apakah reaksi kita sama seperti saat menerima hujatan? 

Oo, tentu tidak dong yaa, toh kita menerima pujian, apa yang mesti dipusingkan? Bukankah pujian itu bagus? 

Yap, tentu psikologis kita akan berbeda. Semua orang pasti akan senang dipuji yang berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu baik dan disukai oleh orang lain. Lalu mengapa perlu perisai seperti judul topik kali ini? Ya, analogi nya seperti ini, ketika kita 'dibanting' kita pasti jatuh ke tanah, lantai, terserah apa intinya jatuh ke bawah, sedangkan ketika kita 'diterbangkan' kadang-kadang kita lupa dimana seharusnya kaki kita berpijak. 

Kira-kira seperti itulah mengapa kita tetap perlu perisai saat menerima pujian. Perisai di sini bukan berarti kita menolak pujian yang datang kepada kita. Tetapi perisai di sini berarti melindungi kita dari kata-kata manis pujian yang membuat kita lupa atau takabur dengan semuanya.

Kembali ke masalah psikologis, ketika kita sedih kita pasti mencari cara untuk menjadi bahagia kembali, tetapi ketika kita senang kita berusaha mempertahankan kondisi bahagia itu. Demikian juga ketika kita dihujat kita berusaha bangkit membuktikan diri kita. Tetapi ketika dipuja puji sangat mungkin kita terlalu senang terlalu bahagia sampai lupa diri.

Kita menjadi lupa kalau hidup ini dinamika, mungkin hari ini kita di atas tapi besok belum tentu. Kalau kita terus menganggap diri kita paling baik hanya karena sekalimat pujian maka bisa jadi celaka. Apalagi kalau sampai merasa diri paling benar, paling hebat, dan apalah orang lain, maka kita sangat perlu perisai itu.

Perisai yang akan membelokkan sudut pandang kita, membuat reaksi kita menjadi sama seperti ketika menerima hujatan. Membuat motivasi yang sama berlipat ganda untuk tetap menjadi yang baik, yang disenangi orang lain. 

Ya, kira-kira seperti itulah perisai pujian ini wkkww tentunya bukan berarti saya yang menulis ini sudah mampu menangkal pujian dengan bijaksana seperti yang diuraikan di atas yaa hahhaaa saya pun masih belajar wkkw

Oleh karena itu, semoga dengan sharing ini bisa bermanfaat menjadi pengingat untuk saya dan teman-teman yang sudah menyempatkan waktu membaca hehhee

Seperti yang saya kutip dari kata-kata Mas AHY di akun instagramnya, 'menang tidak terbang, kalah tidak patah' jadi pujian pun tidak membuat kita terbang, celaan tidak membuat kita patah. Tidak perlu lupa diri jika mendapat pujian, tidak perlu patah semangat ketika dicela. Tetap yakini apa yang diusahakan, tetap usahakan yang terbaik.

Sekian dulu,

See ya at [dua belas]

Cheers,
Em 🙆

Sunday, 4 August 2019

[sepuluh] Disappointment or Surprise ?

Don't expect too much, because that too much can hurt you so much
- Anonim -
Hi guys, apa kabar kalian? Semoga selalu baik ya hehee
Kali ini, kita akan membahas tentang 'harapan'. Bakal seru nih hahaaa begitu banyak opini yang muncul tentang 'harapan' ini. Kata orang harapan itu yang membuat kita hidup, membuat kita semangat, tapi kadang-kadang harapan itu juga membuat sakit hati, membuat putus asa.

Jadi harus bagaimana? Menggantungkan harapan, salah, tidak berharap, salah juga.

Pernahkah kalian ketika uang bulanan kalian sudah menipis dan ketika kalian sedang mencuci celana kalian tiba-tiba "Apa ya ini? Waah 50ribuu". Ah, saya yakin hampir semua orang mengalami hal ini. Bagaimana rasanya? Wah, seperti dapat durian runtuh hahhaaa seperti lagi haus-hausnya terus dapat air dingin segelas wkwkkw

Pernahkah kalian jalan-jalan ke supermarket atau toko, terus ngeliat sebuah makanan kemasan yang sungguh menarik perhatian. "Wihh, pasti enak nih", lalu dibelilah makanan itu, dibawa pulang. Waduh, ternyata zonk guys. Ternyata rasanya tidak se-"enak" kemasannya. Duh, apes.

Kedua hal di atas ataupun kejadian serupa lainnya sering, sungguh sering kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejadian pertama adalah surprise, karena kita tidak berharap. Ketika hal itu terjadi, tidak pernah terbersit di pikiran kita bahwa akan ada uang yang terselip. Malah, kadang-kadang ketika kita berharap malah uangnya gak ada wkwkwk. Sementara kejadian kedua adalah disappointment, karena di pikiran ini sudah ada gambaran harapan rasa yang enak lezat. Ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, ya udeh kecewa pemirsah. 

Kalau boleh memilih, yang mana yang kalian pilih? Ya pastilah gak ada yang mau kecewa kan. Jadi, apakah kita tidak boleh berharap? Kan nanti kecewa? 

Bagaimana???

Kalau menurut saya, berdasarkan yang pernah dialami dan yang sering direfleksikan, berharap itu boleh, as hope makes us alive, harapan yang bikin kita lebih semangat. Yang tidak boleh adalah memaksakan harapan menjadi kenyataan. Ya semacam expect too much gitu loh hahaaa. 
Lho, kalau begitu untuk apa berharap? Bukankah semua orang pasti ingin harapannya menjadi kenyataan?
Ya benar, ibaratnya pemain bola ngapain tendang bola kalau gak pengen gol kan. Tapi guys, kenyataannya adalah tidak semua harapan kita bisa menjadi kenyataan. Hal ini lah yang harus kita ingat dan pahami sehingga ketika yang terjadi tidak sesuai harapan maka kita akan tetap baik-baik saja karena kita tahu betul harapan tinggal harapan dan kenyataan yang saat ini terjadi.

Oh iya, kadang pula rasa kecewa itu semakin menjadi-jadi karena perspektif otak kita mengatakan bahwa peristiwa yang kita harapkan adalah yang terbaik. Jadi ketika kenyataan tidak sesuai harapan kita seolah terdoktrin bahwa yang sedang terjadi adalah hal yang buruk, hanya semata-mata karena tidak sesuai harapan kita.
Tentunya tidak seperti itu bukan? Tidak selamanya yang tampak buruk adalah buruk, dan tampak baik adalah baik. More than that, sometimes we don't even see that what is happened right now is a good thing, and maybe the best. We never know, so never judge.

Ya, jadi begitulah ya guys hahaaa mudah-mudahan ada faedahnya. Maka, berharap itu boleh-boleh saja apalagi kalau bisa menjadi motivasi kan bagus ya khan wkwkwk asal jangan terlena dan harus selalu ingat kalau harapan dan kenyataan tidak selalu sejalan. Expectation is okay, but expect too much, that too much is a problem.

See ya at [sebelas]
Cheers from thousand miles away from home :)
Em 🙆