Friday, 23 August 2019

[sebelas] Perisai Pujian

Menang tidak terbang, kalah tidak patah 
- Agus Harimurti Yudhoyono -
Hello again teman-teman semua hehee 
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat :)

Topik hari ini cukup membingungkan bukan? 
Hahahaa mengapa pujian memerlukan perisai, bukankah pujian adalah suatu hal yang baik dan bahkan dinantikan oleh banyak orang? Bukankah  malah hujatan yang memerlukan perisai sebagaimana hujatan apalagi dihujat oleh netizen kadang-kadang cukup menyakitkan dan menyeramkan? Wkwkwk

Ya, jadi dari beberapa pengalaman dan pemikiran ternyata pujian itu kadang-kadang jauh lebih 'berbahaya' daripada hujatan, termasuk hujatan netizen yang lagi naik daun sekarang ini wkwkw

Ketika kita dihujat, dikritik, atau dicela, itu mungkin menyakitkan. Hm, bukan mungkin, tapi pasti yaa. Tetapi, setelah itu menurut saya kita bisa recovery dengan cepat. Dari sekian banyak hujatan, celaan, kritikan pedas yang terpedaaas sekalipun kita pasti bisa (baik itu dengan mudah ataupun membutuhkan beberapa waktu) untuk bangkit dan belajar dari semua hujatan-hujatan itu. Bahkan kadang-kadang celaan yang paling menyakitkan malah menjadi motivasi paling mujarab untuk 'comeback stronger'. Motivasi untuk membuktikan bahwa 'mereka salah' dan 'kita bisa' begitu besar begitu nyata ketika kita menerima hal-hal yang kurang menyenangkan. 

Jadi ketika teman-teman dihujat apalagi oleh netijen wkwkk no need to feel bad, cukup buktikan bahwa mereka itu salah hehee

Nah, bagaimana kabarnya jika yang kita terima adalah puja puji yang membawa kita terbang ke langit ke 7? Hahahahaa apakah reaksi kita sama seperti saat menerima hujatan? 

Oo, tentu tidak dong yaa, toh kita menerima pujian, apa yang mesti dipusingkan? Bukankah pujian itu bagus? 

Yap, tentu psikologis kita akan berbeda. Semua orang pasti akan senang dipuji yang berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu baik dan disukai oleh orang lain. Lalu mengapa perlu perisai seperti judul topik kali ini? Ya, analogi nya seperti ini, ketika kita 'dibanting' kita pasti jatuh ke tanah, lantai, terserah apa intinya jatuh ke bawah, sedangkan ketika kita 'diterbangkan' kadang-kadang kita lupa dimana seharusnya kaki kita berpijak. 

Kira-kira seperti itulah mengapa kita tetap perlu perisai saat menerima pujian. Perisai di sini bukan berarti kita menolak pujian yang datang kepada kita. Tetapi perisai di sini berarti melindungi kita dari kata-kata manis pujian yang membuat kita lupa atau takabur dengan semuanya.

Kembali ke masalah psikologis, ketika kita sedih kita pasti mencari cara untuk menjadi bahagia kembali, tetapi ketika kita senang kita berusaha mempertahankan kondisi bahagia itu. Demikian juga ketika kita dihujat kita berusaha bangkit membuktikan diri kita. Tetapi ketika dipuja puji sangat mungkin kita terlalu senang terlalu bahagia sampai lupa diri.

Kita menjadi lupa kalau hidup ini dinamika, mungkin hari ini kita di atas tapi besok belum tentu. Kalau kita terus menganggap diri kita paling baik hanya karena sekalimat pujian maka bisa jadi celaka. Apalagi kalau sampai merasa diri paling benar, paling hebat, dan apalah orang lain, maka kita sangat perlu perisai itu.

Perisai yang akan membelokkan sudut pandang kita, membuat reaksi kita menjadi sama seperti ketika menerima hujatan. Membuat motivasi yang sama berlipat ganda untuk tetap menjadi yang baik, yang disenangi orang lain. 

Ya, kira-kira seperti itulah perisai pujian ini wkkww tentunya bukan berarti saya yang menulis ini sudah mampu menangkal pujian dengan bijaksana seperti yang diuraikan di atas yaa hahhaaa saya pun masih belajar wkkw

Oleh karena itu, semoga dengan sharing ini bisa bermanfaat menjadi pengingat untuk saya dan teman-teman yang sudah menyempatkan waktu membaca hehhee

Seperti yang saya kutip dari kata-kata Mas AHY di akun instagramnya, 'menang tidak terbang, kalah tidak patah' jadi pujian pun tidak membuat kita terbang, celaan tidak membuat kita patah. Tidak perlu lupa diri jika mendapat pujian, tidak perlu patah semangat ketika dicela. Tetap yakini apa yang diusahakan, tetap usahakan yang terbaik.

Sekian dulu,

See ya at [dua belas]

Cheers,
Em 🙆

No comments:

Post a Comment