Come in!
Monday, 13 April 2026
[seratus sebelas] it's this self
Saturday, 11 April 2026
[seratus sepuluh] we're running in a sliced timeline of life
Hello, again, everyonee
So actually, judul ini sudah jadi draft sejak tengah tahun lalu, lupa juga saat itu mikirin apa sampai bisa tulis judul ini. Trus, minggu lalu ketika mengikuti sebuah event, ada satu pembicara yang membicarakan satu hal yang membuat saya teringat lagi dengan judul ini. Dia bilang (tidak exact, tapi kurang lebih) "Kita semua (re: semua orang) menjalani hidup kita masing-masing. Di kehidupan ini, kita bertemu dengan orang tua, keluarga, teman, pasangan, anak, dan orang-orang lain yang datang dan pergi di kehidupan kita. Tapi, pada akhirnya, sejak kita lahir sampai nanti kita meninggal, hanya kita seorang yang menjalani hidup kita sendiri."
Menurut saya, hal ini sangat reflektif ya, bahwa semua orang yang kita temui adalah orang-orang yang kebetulan jalan hidupnya beririsan dengan kita. Ibaratnya, ada seseorang mau pergi ke suatu tempat, lalu ia mengambil jalan A. Nah, di jalan A dia bertemu dengan orang-orang yang berada di jalan yang sama itu. Mereka berkenalan, ngobrol, bertukar pikiran, dan lain-lain. Sampai tiba di persimpangan, ternyata mereka akan mengambil jalan yang berbeda, kemudian berpisah. Lalu, di ruas jalan berikutnya, ia bertemu lagi dengan orang-orang lain (ada orang baru dan ada juga orang yang mengambil jalan yang sama sebelumnya).
Dan seperti itulah kehidupan kita ini. People come and go. Kita pun, di kehidupan orang lain, seperti itu, hanyalah orang yang datang dan pergi ketika waktunya tiba.
Mungkin saat ini kita ketemu orang-orang dengan arah jalan yang sama sehingga kita bisa berjalan berbarengan, tapi mungkin ada waktunya arah itu sudah tidak lagi sama sehingga harus berpisah.
At the end of the day, we are all alone.
Seems like pathetic ya? Wkwkwwkk
The bad thing is we have limited time. The good thing is we have limited time. Funny.
Tapi memang begitu adanya. Waktu yang terbatas adalah hal yang baik dan hal yang buruk. Selagi masih ada waktu, manfaatkanlah dengan baik. Create good things, good memories. So, when the time comes, no more regret left.
Semoga kita semua bisa menggunakan waktu yang ada dengan baik, dengan orang-orang yang sejalan dengan kita, hingga tiba saatnya kita (mungkin) harus berjalan sendiri, dan pada akhirnya pun akan menjalani kehidupan ini sendiri secara sepenuhnya.
I'll see you at [seratus sebelas]
Cheers,
Em 🙆
Monday, 23 March 2026
[seratus sembilan] hidup itu soal pilihan
Saturday, 28 February 2026
[seratus delapan] what a planner can't plan
a whole package on Saturday morning!
Setelah sebulan akhirnya ada bahan buat nulis juga, an expected one. Tepat di hari terakhir di bulan Februari juga, ya setidak nya bulan ini ada tulisan lah ya hhehe
Pagi ini jadi salah satu pagi yang sangat tidak diduga-duga.
Sebagai gambaran awal, saya adalah seorang yang menyusun rencana, a planner. Jadi selalu pasti diplanning dengan baik. Sebagai contoh, sebelum traveling ke mana-mana, pasti 1 atau 2 hari sebelumnya.
Nah, hari ini juga begitu.
Dari jauh-jauh hari sudah pesan tiket, sudah mengajukan cuti, packing, sudah pesan kendaraan ke bandara, aman as usual. Pagi-pagi bangun, siap-siap, langsung jalan. Berhubung tidak bisa check-in online, maka berangkat lebih awal untuk check-in on-site di counter. Pas mbak-mbaknya cek paspor, ternyata ED pasporku kurang dari 6 bulan. And then, tidak dikasih check-in. Waduh, mulai panik tuh kan. Trus, manager di counternya itu bilang bahwa ada unit imigrasi di bandara yang bisa mengurus percepatan pembuatan paspor, express langsung jadi di hari itu.
Terus, saya langsung lah ke sana, untung masih pagi. Lari-lari sedikit di pagi hari. Ternyata pas ke sana, mas-masnya bilang sistemnya lagi down jadi tidak bisa cetak. Makin panik. Terus, duduklah saya dan menunggu dan mulai mencari-mencari di internet dimana ya bisa bikin paspor.
Singkat cerita, tidak jadi berangkat. Akan coba peruntungan di hari Senin.
Waktu duduk menunggu, semakin berpikir. Memang, pasti ada hal-hal yang tidak bisa kontrol di dunia ini. Sebaik apapun kita berencana (meskipun yang kali ini kurang baik ya karena saya kurang riset huhuuuu, sudah sempat ada feeling tapi diabaikan karena masih yakin masih bisa terpakai kok paspornya karena masih belum ED). Tapi ya sudahlah, sudah tidak bisa apa-apa juga.
Dari kejadian hari ini, ada beberapa kesimpulan yang mungkin sudah pernah kutulis juga di postingan sebelumnya.
Yang pertama, ketika ada satu hal yang tidak diinginkan terjadi, yang paling sedih pasti yang mengalaminya. Jadi ketika kita tidak berada di posisi orang yang mengalaminya, kita bisa coba untuk lebih memahami orang tersebut.
Kedua, how we act or react conclude who we are. Mau marah, mau kesal, mau panik, mau menyesal, mau tenang, mau menerima, cara kita bereaksi terhadap sesuatu menunjukkan kita sebenarnya. Awalnya agak shock dan susah menerima, tapi lama-lama ya sudah pasrah saja.
Ketiga, selalu ada possibility yang terjadi itu di luar yang kita ekspektasikan atau rencanakan, yang mana begitulah kehidupan. Jadi ya siap-siaplah setiap saat.
Begitulah cerita darderdor hari ini. Akan jadi pelajaran yang diingat sepanjang masa :))
Have a good weekend.
Cheers,
Em 🙆
Saturday, 10 January 2026
[seratus tujuh] satu januari
wkwkwk maap yaa agak kocak karena judulnya 1 Januari tapi ga di post tanggal 1, dan bukan postingan pertama juga di tahun 2026
btw ini mau nulis singkat saja, pengalaman dan pemikiran waktu tahun baru kemarin.
As a disclaimer bahwa saya bukan yang merayakan tahun baru, jadi mungkin cerita saya ini kurang relate untuk teman-teman yang merayakan tahun baru bersama keluarga atau orang-orang terdekat ya.
Tahun baru selalu jadi momen yang spesial untuk semua orang di dunia, tapi tidak semua orang merayakannya. Tidak semua orang menantikan pergantian tahun di jam 12 malam, tidak semua orang membakar kembang api, tidak semua orang berkumpul dengan keluarga di malam pergantian tahun, tidak semua orang makan bersama atau barbekyuan di malam pergantian tahun. Tidak semua orang mengunjungi saudara atau keluarga di tahun baru.
Nah, tahun baru kemarin, saya sih tidur aja ya di kosan wkkwkw gak kemana-mana, pas malam taun baru juga cuma menghabiskan waktu dengan nonton dan makan snack, mirip seperti menikmati hari libur lainnya. Terus, tanggal 2 itu udah masuk kerja lagi, dan karena gak ambil cuti, jadi ya tetap masuk saja seperti biasa. Waktu ke kantor, jalanan sudah mulai ramai, toko-toko, warung-warung sudah mulai buka. Sudah banyak orang yang beraktivitas seperti biasa. Lalu, sepintas lalu muncul di pikiran saya "betapa cepatnya tahun baru itu berlalu". Padahal baru kemarin loh tahun baru, hari libur, tapi hari ini orang beraktivitas normal seolah-olah kemarin itu kayak hari biasa aja bukan tahun baru hahaaa
Sekelibat pemikiran itu agak menggelitik saya sih sejujurnya. Saya jadi merasa kayak gila sih sebegitunya ya. Secepat itu sesuatu bisa berlalu, dan se-"sepele" itu. Gak tau ya "sepele" itu kata yang tepat atau bukan, tapi maksudnya tuh kayak ya udah tahun baru sambil lalu, sehari setelahnya orang menjalani kehidupan nyata nya lagi, gak ada sisa-sisa "hura-hura" tahun baru. (atau mungkin di tempat saya saja ya yang begitu HAHAHAA)
Ya pokoknya begitulah, saya jadi refleksi kembali soal "impermanence". Apapun itu akan berlalu, tidak kekal, bahkan bisa berlalu secepat itu. Secepat tahun baru yang merupakan sebuah perayaan spesial. Tapi, rayakanlah suatu momen sesingkat apapun itu, rayakanlah karena itu singkat, hayati dan nikmatilah karena itu singkat :)
That's all guys. Selamat tahun baru sekali lagi (baru 10 hari pertama wkwkkw) semoga kalian, kita semua bahagia selalu.
I'll see you at [seratus delapan],
Cheers,
Em 🙆
[seratus enam] it is about sweeping
it is bad to be the one sweeping other's litter; but it is much worse to be the one who litter
Hello again everyone, and happy new year 2026!
masuk minggu pertama 2026, bagaimana kabar kawan2 semua? wkwkwkw minggu lalu mau nulis tapi kyk nda ketemu moodnya *elah alasaaann hahhhaa, jadi ya sudah nulisnya sekarang, mumpung lagi ada topik juga
anw, semoga tahun ini aman, tentram, sehat-sehat semua, best wishes khususnya buat kita2 yang WNI huehehehe
actually this week is akinda off for me, kyk hadeuh hadeuh padahal baru minggu pertama hahahaha and there's one moment that I felt like 'betapa bodohnya diriku ini and why did I do that one silly mistake'. Dan, karena itu banyak orang terdampak yang harus "menyapu". To be honest, I feel really bad.
Dalam kehidupan ini, baik pekerjaan atau yang bukan pekerjaan, kita pasti pernah "menanggung" kesalahan orang lain. Orang lain berbuat salah, tapi kita harus memperbaiki nya. Ketika itu terjadi beberapa kali, ada rasa kesal yang muncul. Kayak, kenapa sih kita harus kena dampaknya. Yang salah siapa, yang menanggung siapa. Yang keliru siapa, yang dimarahin siapa.. Yang numpahin siapa, yang ngepel siapa. Dan sejenisnya.
Dunia memang berputar guys. Sampai di suatu titik sayalah itu, saya lah yang menumpahkan minuman itu.
You know what, rasa kesal nya berlipat-lipat ganda. Bercampur sih, rasa jengkel, rasa bersalah, rasa menyesal juga. Dan itu sangat tidak enak. Rasanya kyk cuma mau menghilang saja atau memutar waktu. yang mana dua-duanya sudah pasti ndak mungkin *kyk lebay tapi memang begitu hahaa
Di waktu kita menjadi orang yang "menanggung" kesalahan orang lain, rasa yang muncul mungkin cuma kesal saja, jengkel. But, at least, you did the right thing and you don't feel sorry about that, you feel proud. Tapi ketika kita tau kalau kita lah yang menjadi penyebabnya, rasanya aduh kayak feel bad, really bad, kadang-kadang sampai meragukan diri sendiri (lebay mode). Mungkin ini mirip seperti ketika suatu tim kalah atau seorang atlet kalah, mungkin kita fansnya kesal dan sedih, tapi si pemain pasti tidak kalah sedih dan kecewa. Kecewanya sama diri sendiri lagi.
Ngomong-ngomong soal kesalahan, kadang-kadang kita memang tidak tau bahwa itu adalah sebuah kesalahan sampai itu terjadi. Dan saya nemu sebuah quote di thread tulisnya gini "forgive yourself for not knowing earlier what only time could teach". Lalu saya berpikir mungkin hal ini juga salah satunya. Ketika kita melakukan kesalahan yang kita tidak tau atau kita tidak bermaksud, mungkin kita harus belajar memaafkan diri sendiri. Meskipun di sisi lain, kita juga sadar mungkin itu kesalahan yang cukup besar, yang dampaknya ke banyak orang. Honestly, I don't know. Kita tidak pernah tau yang terjadi sekarang, yang terlihat buruk, apakah memang benar-benar buruk, atau mungkin di masa depan hal ini akan menjadi hal baik yang perlu disyukuri. Good or bad, right or wrong, I don't know.
Yah begitulah.
Kesimpulannya ada dua. Yang pertama, untuk saya, masih mencerna pengalaman membuat kebodohan ini dan jadinya sedang belajar harus bersikap bagaimana terhadap diri saya sendiri. Yang kedua, untuk semuanya, kalau kita yang jadi "tukang sapu", kesal lah secukupnya, dan percayalah it's way far far better than being the one who cause it happen.
Oke, itu dulu saja yah curhatan saya hahaaa
Sampai ketemu di [seratus tujuh]
Cheers,
Em 🙆
Tuesday, 9 December 2025
[seratus lima] the imagination of a toddler
Hello guys,
So, sekarang saya lagi menunggu pesawat pulang ke Jakarta, tapi karena pesawatnya masih lama jadi saya yang harusnya mengerjakan pekerjaan lain tapi belum ada ide jadi melipir nulis dulu ah hahahaaa
Kepulangan kali ini singkat sekali rasanya, cuma 4 hari. Tapi, selama 4 hari itupun, tiap hari saya main dengan keponakan ku yang ucul wkwkwk biasanya misalnya selama pulang seminggu cuma ketemu 4 atau 5 hari, tapi kali ini literally setiap hari hahaha and as she is growing bigger, she understands everything dan mengerti oh ini kuku (tante) nya datang. Meskipun shy shy cat awalnya, tapi lama-lama ikrib juga heheee
Nah melanjutkan tadi, as she is getting bigger now, sudah 4 tahun, dia sudah mulai mengerti mau main apa, suka karakter tertentu, dan sudah bisa request main ini main itu, request gambar ini gambar itu.
Dan kuku nya ini si sok bisa gambar hahahhaha jadi kutawarkan lahhh
🙆: mau gambar apa? sini kuku gambarkan
👧: rumi demon hunter
🙆: (bingung dak taupun itu apa hahhhaa) yang mana itu? kuku nda tau, kuku cari dulu nah di google
👧: iyaa
Setelah searching ketemu lah gambar si rumi demon hunter ini, entah kenapa si bocil ini suka sekali demon hunter, terus ada 3 karakternya kayak anime begitu, susah pun bentukannya krna kayak orang, bukan hewan macam doraemon hahahaa
Tapi ya sudahlah, terlanjur sudah menawarkan dan nampaknya masih bisa ji digambarkan, jadi kugambarlah, nah pas di tengah-tengah gambar, agak jelek kan kurasa jadi kubilanglah begini
🙆: aihh jelek ini, kuku nda bisa gambar
👧: mana liat? bagus ji ini kuku, bagus ji
🙆: (dalam hati "wkwkkwkw")
Di saat itu juga mikir, anak-anak itu sederhana sekali ya yang mereka mau, meskipun gambarnya jelek tapi ndak protes, malah bilang sudah bagus, dan dia happy sekali digambarkan, and I'm so happy see her happy hahahhaa. Then, dia lanjut warnai, dan kuminta dia tulis namanya si karakter (hitung-hitung doi lagi belajar nulis).
Terus, imajinasi nya anak-anak itu betul-betul tanpa batas. Tidak heran kalau misal anak-anak itu gambar orang cuma kotak-kotak, tapi apa yang mereka lihat gambar itu hidup dan bergerak seperti di pikirannya mereka, sangat amazing dan sangat menyenangkan. Anak-anak nda selalu butuh gambar yang perfect, mereka bisa mengimajinasikan gambar yang biasa-biasa aja itu jadi gambar yang bagus menarik seperti yang mereka bayangkan. Padahal saya kek aduh gambar apa ini hahahaa hancur bettt, tapi ternyata si bocilnya sudah hepi sekali.
Jadi amazed aja begituu hahahhaa karena ternyata biar gambar yg kita buat tidak sempurna tapi mereka sudah senang karena mau digambarkan, terus juga melihat itu jadi kayak kita juga dulu begitu mungkin ya tapi sekarang sudah sebesar ini, banyak yang berubah, tapi seru ya dulu jadi anak-anak. Mungkin kadang-kadang kita perlu jadi kayak kita yang anak-anak dulu, berimajinasi dan happy dengan sesuatu yang sederhana wkwkkww
Sebagai informasi yang tidak penting, ini gambar yang kugambarkan (bukan saat percakapan di atas, ini sudah gambar kedua kali tapi ya kurang lebih kyk begini modelnya HAHHAA). Kuku gambar, doi warnai dan tulis nama karakternya.
Sunday, 23 November 2025
[seratus empat] semua orang adalah orang
every person is a human being
Hello guys, tidak terasa sudah penghujung November, sedikit lagi kita akan menyambut tahun yang baruuu yuhuuu
So, hari ini mau nulis nulis dulu sedikit wkwkkww
Kebanyakan topik yang saya tulis di blog ini muncul randomly dari momentum-momentum kecil, yang tiba-tiba memberi kesan tersendiri terus memunculkan pemikiran-pemikiran random wkwkwk, nah yang ini termasuk salah satunya.
Jadi, beberapa waktu lalu, saya habis menghadiri salah satu presentasi dari seseorang yang posisinya cukup tinggi di kantor, and I admire her so much, kyk kerennya ini ibuu kwkwkw
Nah, singkat cerita (wkwkwk singkat memang ji ini postingan HAHHA), ada satu momen yang membuat saya menyadari sesuatu. Saat presentasi itu, menurut pandangan subjektif mata saya (jadi ini klaim sepihak ygy, saya ndaktau ibunya merasakan apa saat itu), ibunya terlihat cukup gugup, kelihatan dari cara beliau menyampaikan materinya (however, the meeting ended very well). Ini hanya sebuah momen kecil dari presentasi dan diskusi selama kurang lebih 3-4 jam itu. Kebetulan waktu itu pesertanya juga ada dari eksternal dan ada yang bertanya-bertanya gitulah. Jadi memang tense nya beda ya hahahaa. Di momen yang sangat singkat itu, saya melihat sisi "manusia" nya ibu ini. Saya jadi berpikir, wah ibu ini, yang pastinya dikagumi banyak orang, bisa juga ada gugupnya di depan khalayak.
Then, what's next?
Sejujurnya saya juga masih bingung mendeskripsikan apa yang saya rasakan waktu itu, belum nemu kata-kata yang pas. Tapi, setelah berpikir beberapa hari sebelum menulis ini, mungkin saya akan lihat dari 2 point of view. Yang pertama, dari sisi sebagai ibu ini, bahwa bagaimana pun seseorang, sehebat apa pun dia, dia adalah seorang manusia, yang pasti tidak lepas dari sifat-sifat manusia yang tidak sempurna dan sangat wajar. Misalnya gugup, atau ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, which are normal. Setelah kejadian itu, bukan berarti kekaguman saya berkurang, tapi saya malah jadi rispek dan bisa mengerti memahami dan memaklumi sisi "kemanusiaan" ibu ini. Jadi, kayak siapapun itu, lihatlah dia sebagai seorang manusia, dia bukan orang yang sempurna, jadi kalau ada kesalahan minor 1 2 ya itu wajar dan tidak menganulir hal-hal hebat yang pernah ia buat. Yang pov kedua adalah mungkin pelajaran yang bisa saya ambil, bahwa saya juga manusia. Apalagi posisi saya masih jauh di bawah ibu itu ya, memang mesti banyak belajar. Dan bahwa, doing a mistake itu tidak apa-apa loh. Memang itu manusiawi. Orang sehebat itu aja bisa melakukan kesalahan kecil dan orang lain pasti bisa memaklumi. Jadi kalau kita melakukan kesalahan kecil, itu tidak apa-apa, bisa dijadikan pelajaran, dan orang-orang yang tau kita, pasti akan memaklumi, karena itu bukan kesengajaan, itu hanya memang sisi manusia kita saja, tidak sempurna dan tidak akan pernah.
Ya kira-kira begitulah yaaa hahahaa semoga nyampe apa yang mau saya sampaikan. Karena kita juga manusia, mari kita memanusiakan sesama manusia. Termasuk di dalamnya tidak over ekspektasi dan tidak under estimate. Secukupnya saja.
That's it. And I'll see you at [seratus lima],
Cheers,
Em 🙆