Saturday, 10 January 2026

[seratus tujuh] satu januari

wkwkwk maap yaa agak kocak karena judulnya 1 Januari tapi ga di post tanggal 1, dan bukan postingan pertama juga di tahun 2026

btw ini mau nulis singkat saja, pengalaman dan pemikiran waktu tahun baru kemarin. 

As a disclaimer bahwa saya bukan yang merayakan tahun baru, jadi mungkin cerita saya ini kurang relate untuk teman-teman yang merayakan tahun baru bersama keluarga atau orang-orang terdekat ya. 

Tahun baru selalu jadi momen yang spesial untuk semua orang di dunia, tapi tidak semua orang merayakannya. Tidak semua orang menantikan pergantian tahun di jam 12 malam, tidak semua orang membakar kembang api, tidak semua orang berkumpul dengan keluarga di malam pergantian tahun, tidak semua orang makan bersama atau barbekyuan di malam pergantian tahun. Tidak semua orang mengunjungi saudara atau keluarga di tahun baru.

Nah, tahun baru kemarin, saya sih tidur aja ya di kosan wkkwkw gak kemana-mana, pas malam taun baru juga cuma menghabiskan waktu dengan nonton dan makan snack, mirip seperti menikmati hari libur lainnya. Terus, tanggal 2 itu udah masuk kerja lagi, dan karena gak ambil cuti, jadi ya tetap masuk saja seperti biasa. Waktu ke kantor, jalanan sudah mulai ramai, toko-toko, warung-warung sudah mulai buka. Sudah banyak orang yang beraktivitas seperti biasa. Lalu, sepintas lalu muncul di pikiran saya "betapa cepatnya tahun baru itu berlalu". Padahal baru kemarin loh tahun baru, hari libur, tapi hari ini orang beraktivitas normal seolah-olah kemarin itu kayak hari biasa aja bukan tahun baru hahaaa

Sekelibat pemikiran itu agak menggelitik saya sih sejujurnya. Saya jadi merasa kayak gila sih sebegitunya ya. Secepat itu sesuatu bisa berlalu, dan se-"sepele" itu. Gak tau ya "sepele" itu kata yang tepat atau bukan, tapi maksudnya tuh kayak ya udah tahun baru sambil lalu, sehari setelahnya orang menjalani kehidupan nyata nya lagi, gak ada sisa-sisa "hura-hura" tahun baru. (atau mungkin di tempat saya saja ya yang begitu HAHAHAA)

Ya pokoknya begitulah, saya jadi refleksi kembali soal "impermanence". Apapun itu akan berlalu, tidak kekal, bahkan bisa berlalu secepat itu. Secepat tahun baru yang merupakan sebuah perayaan spesial. Tapi, rayakanlah suatu momen sesingkat apapun itu, rayakanlah karena itu singkat, hayati dan nikmatilah karena itu singkat :)

That's all guys. Selamat tahun baru sekali lagi (baru 10 hari pertama wkwkkw) semoga kalian, kita semua bahagia selalu.

I'll see you at [seratus delapan],

Cheers,

Em 🙆

[seratus enam] it is about sweeping

it is bad to be the one sweeping other's litter; but it is much worse to be the one who litter

Hello again everyone, and happy new year 2026!

masuk minggu pertama 2026, bagaimana kabar kawan2 semua? wkwkwkw minggu lalu mau nulis tapi kyk nda ketemu moodnya *elah alasaaann hahhhaa, jadi ya sudah nulisnya sekarang, mumpung lagi ada topik juga

anw, semoga tahun ini aman, tentram, sehat-sehat semua, best wishes khususnya buat kita2 yang WNI huehehehe

actually this week is akinda off for me, kyk hadeuh hadeuh padahal baru minggu pertama hahahaha and there's one moment that I felt like 'betapa bodohnya diriku ini and why did I do that one silly mistake'. Dan, karena itu banyak orang terdampak yang harus "menyapu". To be honest, I feel really bad.

Dalam kehidupan ini, baik pekerjaan atau yang bukan pekerjaan, kita pasti pernah "menanggung" kesalahan orang lain. Orang lain berbuat salah, tapi kita harus memperbaiki nya. Ketika itu terjadi beberapa kali, ada rasa kesal yang muncul. Kayak, kenapa sih kita harus kena dampaknya. Yang salah siapa, yang menanggung siapa. Yang keliru siapa, yang dimarahin siapa.. Yang numpahin siapa, yang ngepel siapa. Dan sejenisnya.

Dunia memang berputar guys. Sampai di suatu titik sayalah itu, saya lah yang menumpahkan minuman itu. 

You know what, rasa kesal nya berlipat-lipat ganda. Bercampur sih, rasa jengkel, rasa bersalah, rasa menyesal juga. Dan itu sangat tidak enak. Rasanya kyk cuma mau menghilang saja atau memutar waktu. yang mana dua-duanya sudah pasti ndak mungkin *kyk lebay tapi memang begitu hahaa

Di waktu kita menjadi orang yang "menanggung" kesalahan orang lain, rasa yang muncul mungkin cuma kesal saja, jengkel. But, at least, you did the right thing and you don't feel sorry about that, you feel proud. Tapi ketika kita tau kalau kita lah yang menjadi penyebabnya, rasanya aduh kayak feel bad, really bad, kadang-kadang sampai meragukan diri sendiri (lebay mode). Mungkin ini mirip seperti ketika suatu tim kalah atau seorang atlet kalah, mungkin kita fansnya kesal dan sedih, tapi si pemain pasti tidak kalah sedih dan kecewa. Kecewanya sama diri sendiri lagi. 

Ngomong-ngomong soal kesalahan, kadang-kadang kita memang tidak tau bahwa itu adalah sebuah kesalahan sampai itu terjadi. Dan saya nemu sebuah quote di thread tulisnya gini "forgive yourself for not knowing earlier what only time could teach". Lalu saya berpikir mungkin hal ini juga salah satunya. Ketika kita melakukan kesalahan yang kita tidak tau atau kita tidak bermaksud, mungkin kita harus belajar memaafkan diri sendiri. Meskipun di sisi lain, kita juga sadar mungkin itu kesalahan yang cukup besar, yang dampaknya ke banyak orang. Honestly, I don't know. Kita tidak pernah tau yang terjadi sekarang, yang terlihat buruk, apakah memang benar-benar buruk, atau mungkin di masa depan hal ini akan menjadi hal baik yang perlu disyukuri. Good or bad, right or wrong, I don't know.

Yah begitulah.

Kesimpulannya ada dua. Yang pertama, untuk saya, masih mencerna pengalaman membuat kebodohan ini dan jadinya sedang belajar harus bersikap bagaimana terhadap diri saya sendiri. Yang kedua, untuk semuanya, kalau kita yang jadi "tukang sapu", kesal lah secukupnya, dan percayalah it's way far far better than being the one who cause it happen.  

Oke, itu dulu saja yah curhatan saya hahaaa

Sampai ketemu di [seratus tujuh]

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 9 December 2025

[seratus lima] the imagination of a toddler

Hello guys, 

So, sekarang saya lagi menunggu pesawat pulang ke Jakarta, tapi karena pesawatnya masih lama jadi saya yang harusnya mengerjakan pekerjaan lain tapi belum ada ide jadi melipir nulis dulu ah hahahaaa

Kepulangan kali ini singkat sekali rasanya, cuma 4 hari. Tapi, selama 4 hari itupun, tiap hari saya main dengan keponakan ku yang ucul wkwkwk biasanya misalnya selama pulang seminggu cuma ketemu 4 atau 5 hari, tapi kali ini literally setiap hari hahaha and as she is growing bigger, she understands everything dan mengerti oh ini kuku (tante) nya datang. Meskipun shy shy cat awalnya, tapi lama-lama ikrib juga heheee

Nah melanjutkan tadi, as she is getting bigger now, sudah 4 tahun, dia sudah mulai mengerti mau main apa, suka karakter tertentu, dan sudah bisa request main ini main itu, request gambar ini gambar itu. 

Dan kuku nya ini si sok bisa gambar hahahhaha jadi kutawarkan lahhh

🙆: mau gambar apa? sini kuku gambarkan

👧: rumi demon hunter

🙆: (bingung dak taupun itu apa hahhhaa) yang mana itu? kuku nda tau, kuku cari dulu nah di google

👧: iyaa 

Setelah searching ketemu lah gambar si rumi demon hunter ini, entah kenapa si bocil ini suka sekali demon hunter, terus ada 3 karakternya kayak anime begitu, susah pun bentukannya krna kayak orang, bukan hewan macam doraemon hahahaa

Tapi ya sudahlah, terlanjur sudah menawarkan dan nampaknya masih bisa ji digambarkan, jadi kugambarlah, nah pas di tengah-tengah gambar, agak jelek kan kurasa jadi kubilanglah begini

🙆: aihh jelek ini, kuku nda bisa gambar

👧: mana liat? bagus ji ini kuku, bagus ji

🙆: (dalam hati "wkwkkwkw")

Di saat itu juga mikir, anak-anak itu sederhana sekali ya yang mereka mau, meskipun gambarnya jelek tapi ndak protes, malah bilang sudah bagus, dan dia happy sekali digambarkan, and I'm so happy see her happy hahahhaa. Then, dia lanjut warnai, dan kuminta dia tulis namanya si karakter (hitung-hitung doi lagi belajar nulis). 

Terus, imajinasi nya anak-anak itu betul-betul tanpa batas. Tidak heran kalau misal anak-anak itu gambar orang cuma kotak-kotak, tapi apa yang mereka lihat gambar itu hidup dan bergerak seperti di pikirannya mereka, sangat amazing dan sangat menyenangkan. Anak-anak nda selalu butuh gambar yang perfect, mereka bisa mengimajinasikan gambar yang biasa-biasa aja itu jadi gambar yang bagus menarik seperti yang mereka bayangkan. Padahal saya kek aduh gambar apa ini hahahaa hancur bettt, tapi ternyata si bocilnya sudah hepi sekali.

Jadi amazed aja begituu hahahhaa karena ternyata biar gambar yg kita buat tidak sempurna tapi mereka sudah senang karena mau digambarkan, terus juga melihat itu jadi kayak kita juga dulu begitu mungkin ya tapi sekarang sudah sebesar ini, banyak yang berubah, tapi seru ya dulu jadi anak-anak. Mungkin kadang-kadang kita perlu jadi kayak kita yang anak-anak dulu, berimajinasi dan happy dengan sesuatu yang sederhana wkwkkww

Sebagai informasi yang tidak penting, ini gambar yang kugambarkan (bukan saat percakapan di atas, ini sudah gambar kedua kali tapi ya kurang lebih kyk begini modelnya HAHHAA). Kuku gambar, doi warnai dan tulis nama karakternya.


Stay happy yaa kiddosss!!!
I'll see you soon again hehehe

See you at [seratus enam]
Cheers,
Em 🙆

Sunday, 23 November 2025

[seratus empat] semua orang adalah orang

every person is a human being

Hello guys, tidak terasa sudah penghujung November, sedikit lagi kita akan menyambut tahun yang baruuu yuhuuu

So, hari ini mau nulis nulis dulu sedikit wkwkkww

Kebanyakan topik yang saya tulis di blog ini muncul randomly dari momentum-momentum kecil, yang tiba-tiba memberi kesan tersendiri terus memunculkan pemikiran-pemikiran random wkwkwk, nah yang ini termasuk salah satunya.

Jadi, beberapa waktu lalu, saya habis menghadiri salah satu presentasi dari seseorang yang posisinya cukup tinggi di kantor, and I admire her so much, kyk kerennya ini ibuu kwkwkw

Nah, singkat cerita (wkwkwk singkat memang ji ini postingan HAHHA), ada satu momen yang membuat saya menyadari sesuatu. Saat presentasi itu, menurut pandangan subjektif mata saya (jadi ini klaim sepihak ygy, saya ndaktau ibunya merasakan apa saat itu), ibunya terlihat cukup gugup, kelihatan dari cara beliau menyampaikan materinya (however, the meeting ended very well). Ini hanya sebuah momen kecil dari presentasi dan diskusi selama kurang lebih 3-4 jam itu. Kebetulan waktu itu pesertanya juga ada dari eksternal dan ada yang bertanya-bertanya gitulah. Jadi memang tense nya beda ya hahahaa. Di momen yang sangat singkat itu, saya melihat sisi "manusia" nya ibu ini. Saya jadi berpikir, wah ibu ini, yang pastinya dikagumi banyak orang, bisa juga ada gugupnya di depan khalayak. 

Then, what's next?

Sejujurnya saya juga masih bingung mendeskripsikan apa yang saya rasakan waktu itu, belum nemu kata-kata yang pas. Tapi, setelah berpikir beberapa hari sebelum menulis ini, mungkin saya akan lihat dari 2 point of view. Yang pertama, dari sisi sebagai ibu ini, bahwa bagaimana pun seseorang, sehebat apa pun dia, dia adalah seorang manusia, yang pasti tidak lepas dari sifat-sifat manusia yang tidak sempurna dan sangat wajar. Misalnya gugup, atau ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, which are normal. Setelah kejadian itu, bukan berarti kekaguman saya berkurang, tapi saya malah jadi rispek dan bisa mengerti memahami dan memaklumi sisi "kemanusiaan" ibu ini. Jadi, kayak siapapun itu, lihatlah dia sebagai seorang manusia, dia bukan orang yang sempurna, jadi kalau ada kesalahan minor 1 2 ya itu wajar dan tidak menganulir hal-hal hebat yang pernah ia buat. Yang pov kedua adalah mungkin pelajaran yang bisa saya ambil, bahwa saya juga manusia. Apalagi posisi saya masih jauh di bawah ibu itu ya, memang mesti banyak belajar. Dan bahwa, doing a mistake itu tidak apa-apa loh. Memang itu manusiawi. Orang sehebat itu aja bisa melakukan kesalahan kecil dan orang lain pasti bisa memaklumi. Jadi kalau kita melakukan kesalahan kecil, itu tidak apa-apa, bisa dijadikan pelajaran, dan orang-orang yang tau kita, pasti akan memaklumi, karena itu bukan kesengajaan, itu hanya memang sisi manusia kita saja, tidak sempurna dan tidak akan pernah.

Ya kira-kira begitulah yaaa hahahaa semoga nyampe apa yang mau saya sampaikan. Karena kita juga manusia, mari kita memanusiakan sesama manusia. Termasuk di dalamnya tidak over ekspektasi dan tidak under estimate. Secukupnya saja. 

That's it. And I'll see you at [seratus lima],

Cheers,

Em 🙆


Saturday, 1 November 2025

[seratus tiga] the matter of winning

Winning is for everyone, but not every time

Hello everyone, welcome Novemberrr yuhuwww

Ternyata postingannya keskip di Oktober yak wkwkw

Kali ini nulisnya pas di jalan wkwkwk

Oke lesgoo, kali ini mau menulis terkait hal-hal yang kadang kita dapatkan, kadang tidak kita tidak dapatkan. Just a short one, tapi kayak lagi ngena huehehe.

I, sometimes, think that in some aspects of life,  I can win, but in another aspect, I lost. This most likely happen to others, too.  

Then, this thought just came yesterday, that, maybe, in every game in this life, sometimes you win, sometimes you lose. If people say not everyone can win, I would say that winning is for everyone, but not every time. This is kind of a little bit optimistic, you can win any games, if you try, but it is not possible to win every time. Even Valentino Rossi can be defeated.

It is okay to lose. You can win, maybe, next time, even no one knows when the next time is. And the plot twist maybe, lose is win, who knows.

Ya begitulah, hehe.

See you at [seratus empat],

Enjoy the rest of 2025, two months to go :))

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️

Sunday, 14 September 2025

[seratus dua] jika tidak hitam, maka belum tentu selalu putih

Life is not as clear as black or white

Hitam dan putih adalah warna yang mutlak. Hitam adalah ketiadaan cahaya sedangkan putih ada sumber dari segala warna ketika disinari oleh cahaya. Tetapi, hidup tidak sesederhana definisi kedua warna tersebut. 

Tidak jarang, kita melihat sesuatu di kehidupan ini hanya sebatas hitam dan putih. Contohnya "kita tuh ga perlu lah dengar kata orang lain tentang kita". Kadang, kesan yang kita ambil adalah "oh iyaa, ga perlu kita dengar kata orang lain, suka-suka gue aja lah". This is not how this world works, right? Tidak mendengarkan kata orang lain, bukan berarti bisa berbuat sesuka hati kita. This is too unemphatetic. Atau contoh lain "kita tuh harus selalu baik sama orang", yang ditangkap adalah "oke apapun yang terjadi, kita harus baik, di kondisi apapun harus tetap baik". Hmmmm, gimana ya, kan gak bener juga yaa jadinyaa..

*disclaimer a little bit: I don't really like those two examples, but my brain is not braining right now, but if I wait until my brain braining again, maybe this will be a draft forever wkwwkk so hope you understand and get my point and can find your own examples that fit better hehee

Lanjut,

Jadi seperti itu guys, ada hal yang harus dipertimbangkan dalam menyerap suatu informasi termasuk di dalamnya insight ataupun nasihat. Ada satu kata kunci yang bisa membuat kita tidak melihat sesuatu secara hitam dan putih, I think it is called "wisdom". Ya, dengan kebijaksanaan, kita bisa mengerti batasan suatu hal, bukan ekstrim kiri atau kanan, tapi bisa saja di tengah-tengah, tidak terlalu kiri, tidak pula terlalu kanan. 

Di contoh yang pertama, mungkin benar kita tidak usah mendengarkan kata-kata orang lain, kalau itu ternyata hanya bersifat subjektif, tidak benar, atau tidak berdampak langsung ke orang lain. Misal orang yang mengomentari penampilan orang lain. Masalah penampilan ya kembali ke orang memakai ya, senyamannya, kalau di Indonesia, harus memperhatikan norma-norma juga misalnya. Tapi, kalau ada orang yang mengomentari etos kerja kita, yang mana sifatnya kritik membangun, mungkin bisa dipertimbangkan. Apalagi untuk kebaikan atau improvement kita juga. Jadi, tidak semua ditolak, tapi tidak semua juga diserap, nanti bisa gila.

Di contoh yang kedua pun sama. Benar kita harus baik sama orang, tapi ketika kita baik tapi kita ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik, mungkin kita harus berpikir ulang. Seperti kita memberi bantuan ke orang lain, tapi bantuan itu malah dipakai untuk hal-hal yang buruk. Tentu kita jadi berpikir ulang kan ya. Jadi, memang perlu bijaksana.

Tidak bersikap baik bukan berarti bersikap jahat. Tidak seperti itu. Karena hampir semua hal dalam hidup ini adalah spektrum. Tidak bisa terlalu cepat menyimpulkan, ini hitam atau ini putih. We should go deep into something and define in which spectrum it should be. This will make thimgs more understandable, applicable, and make more sense. Intinya adalah bijaksana, jangan cepat mengambil kesimpulan, it will always be a win-win solution or option.

Kira-kira begitu yaaa, this is not a good one, but I will let it be released.

Sampai ketemu lagi di [seratus tiga],

Have a good day.

Cheers,

Em 🙆

Saturday, 13 September 2025

[seratus satu] Question to mom (1) : Have you ever woke up late?

Hello everyone!

This is a new series of my posts, yang dinamakan "Question to mom". Random aja sih kepikiran buat nambah-nambahin "series" kayak gini hahahhaa

Ini gara-gara pernah suatu hari kakak ipar saya cerita kalau pagi itu dia tuh terlambat bangun dan jadinya si bocil ponakan saya telat juga dan buru-buru siap-siap ke sekolah wkwkkw terus saya pun jadi kepikiran kan ya, dulu tuh mamak saya pernah telat gak yah, dan mungkin ada pertanyaan-pertanyaan lain yg I wish I could ask. So, mungkin menarik juga buat dikulik lewat tulisan. 

And then, after a crazy week becoz encok saya tiba-tiba kambuh entah kenapa, writing about mom feels like "good", because when you're not feeling well, you seems to miss your parents wkwkwk

A disclaimer that pertanyaan-pertanyaan yg muncul ini sifatnya hanya berandai-andai, I also don't know whether I will ask her if she were here. So, it's just kind of a release for me to write this things down, and also, as usual, it's gonna be a reflection when I become a mom someday :)

--

Okay, let's go back to the topique, telat bangun, ya pastii kita semua pasti pernah telat bangun ya, entah karena mungkin kecapean, atau tidurnya telat, atau ketiduran saat tidur untuk kedua kalinya (lima menit lagi deh, trus jadi 1 jam wkwkw). 

Apakah mama saya pernah telat bangun? Kira-kira apa yang dirasakan ketika telat bangun itu? Rasa bersalahkah atau apa? Apa yang dilakukan setelahnya? Bagaimana respon orang rumah ketika itu terjadi?

Seingatan saya, mama saya sepertinya pernah bangun telat tapi masih bisa diselamatkan wkwkwk karena tidak berdampak misalnya ke anaknya yang jadi bolos sekolah atau tidak ada sarapan di meja makan.

Life do changes when you become a mom. Karena tindakan seorang ibu bisa berdampak ke keluarga, anak-anak. Pada akhirnya seorang ibu pun adalah manusia biasa. Even you woke up late, you're still an amazing mom.

Why do I want to ask this question? Hanya mau dengar ceritanya saja, siapatau ada cerita lucu ye kan wkwkkw

At the end, this is gonna be an unanswered question, sama seperti pertanyaan susulan lainnya.

Happy weekend everyone, and mom, I always miss you :))

See you at [seratus dua]

Cheers,

Em 🙆




Wednesday, 27 August 2025

[seratus] don't be a waste

Kita pasti sudah familiar, dalam sebuah proses pembuatan sesuatu, pasti selalu ada lebihan yang dibuat. Sebuah pabrik roti, kalau ada pemesanan roti 100 buah, mungkin akan buat 110 buah. Begitupun, di industri farmasi, jika permintaan 500 kg, mungkin akan dilebihkan 550 kg. Saya yakin, hal ini juga terjadi di kondisi-kondisi lain, bahkan yang lebih sederhana. Contoh lain, ketika kita membuat hajatan, tamu 80 orang, maka makanan yang kita pesan mungkin 100 paket. 

Kenapa dilebihkan? Ya, untuk mengantisipasi, jaga-jaga kalau-kalau ada yang rusak, atau kalau-kalau tidak cukup.  

Dalam suatu proses produksi ada yang dinamakan yield. Yield berarti perolehan kembali. Input 100, output 90, maka yield 90%. Input 100, output 100, maka yield 100%. Yield 100% itu jaraaang sekali bisa dicapai. Entah ada yang rusak, ada yang error, salah produksi, nyangkut di mesin, nyangkut sana dan sini, yang membuat tidak semua yang masuk bisa keluar.

Analogi seperti ini juga ada di kehidupan sehari-hari. Seringkali, kekurangan untuk mencapai yield 100% itu adalah semua pemakluman. Dari 100 kue yang dibuat (intermezzo, 100 mulu daritadi wkwkwk soalnya angka paling gampang dan sempurna hehe), *lanjut* ndak apa-apa kalau 10 nya jelek. Dari 500 karyawan, performa outstanding hanya 480 orang, 20 nya tidak maksimal, still 480 out of 500 is considerably amazing tho. Saya tidak mengatakan bahwa yield 90% itu hal yang buruk ya. It's acceptable, tapi point nya bukan di situ. 

Mungkin ini agak membingungkan, tapi yang ingin saya highlight adalah dalam hidup ini, apapun role kita, jadilah output. Jadilah orang yang memenuhi yield itu, jika yield nya 90% jadilah bagian dari 90% itu, jangan jadi yang 10%. Jadilah roti yang mengembang, jadilah produk yang dikemas dan lulus QC, jadilah granul yang lolos dari ayakan. Jangan menjadi yang nyangkut di mesin (inti post ini cuma ada di paragraf ini WKWKWK).

Entah kenapa hari ini, hal ini sangat berkesan untuk saya. 

Kadang-kadang ada yang yasudahlah begini-begini saja, tidak apa-apa seadanya. Atau kadang-kadang saya dalam kondisi malas dan tidak well-performed. And this makes me think, don't be a waste. Just don't. Jangan jadi bagian yang dimaklumi, jangan jadi bagian yang tidak terambil. Tapi jadilah bagian dari yield itu. Begitulah ya kira-kira. A small reflection di akhir bulan (di tengah-tengah kebingungan dan keterheran-heranan melihat kondisi negara ini). 

Wadidaw I never expected this will be my one-hundred post hahhaa padahal banyak draft yang nanggung tapi entah kenapa kayaknya ini lagi pas buat ditulis. Hopefully, a right post at the right time. 

Congratulations to me for achieving the hundredth post! Yuhuuu

I'll see you around, at [seratus satu] hehee

Cheers,

Em 🙆