Sunday, 8 September 2019

[dua belas] Your Assumptions Do Kill You!

Your assumption, and the truth, dine at totally separate tables
- J Michael Straczynski -
Halo semuanyaa .. I hope this blog finds you well :)
Feels so good to write again hehee

Kali ini topiknya mengenai hal yang menurutku paling sering dilakukan oleh manusia, ya istilahnya cukup manusiawi lah sebagaimana kita tuh punya akal untuk berpikir jadi setiap orang pasti pernah bahkan sering untuk 'berasumsi', ya gak?

Ketika ada sesuatu yang terjadi, maka secara otomatis pikiran kita membentuk banyak asumsi-asumsi yang bisa jadi benar, bisa jadi juga salah, who knows?
So, apakah berasumsi itu salah ? Tentuuuuu saja tidak wkwk
Asumsi itu sebenarnya merupakan cara kita bernalar terhadap suatu hal yang sedang terjadi, pikiran kita mencoba membentuk kemungkinan-kemungkinan yang bersesuaian dengan kejadian tersebut. Akan tetapi, sadar gak sadar, kadang-kadang pikiran atau hati kita masih sulit membedakan antara asumsi dan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Mungkin kita pikir kita ini cenayang ya hhahaa bisa membaca pikiran orang wkwkkw. Nah, hal inilah yang sering menimbulkan masalah.

Coba deh diingat-ingat kembali, seberapa sering kita berasumsi, seberapa banyak kita termakan oleh asumsi kita sendiri yang ujung-ujungnya menimbulkan masalah yang merugikan kita sendiri? 

Contoh sederhana,
Misalnya nih kita lagi buat kue, anggaplah kita ini masih amatiran gitu yaa tapi kalo buat kue bisalah hahaaa. Setelah kuenya jadi, eh ternyata jadinya lumayan banyak, gak mungkin dihabisin sendiri kan? Jadilah kita bungkusin dikit buat tetangga yang baru sebulan tinggal di sebelah rumah, yakali bisa diendorse *eh wkwkk 
Nah, setelah dari rumah tetangga, pulanglah kita. Gak lama setelah itu, gak sengaja nengok di jendela, eh si tetangga itu ngasih tempat kue yang tadi kita kasihin beserta isinya ke orang lain. 
Ketika melihat itu, kira-kira apa yang muncul di pikiran kita?

"Kurang asem nih tetangga, masa kue yang aku kasih malah dikasih ke orang lain? Huh, gak menghargai pemberian orang", "Lho kok kuenya malah dikasih orang lain? Gak tau apa kalau buat kue itu susah?", "Waduh, parah nih tetangga, lain kali gak bakal aku kasih lagi", "Dasar tetangga baru aja udah belagu", "Hm, mungkin orang itu pengemis kali ya jadi dikasihin tapi kok  mesti kasih kue yang barusan aku kasih sih"

Apa masih ada lagi asumsi lain? Hahahaa saya yakin, pikiran-pikiran semacam itu pastii akan muncul di otak kita. Bahkan lebih banyak dan lebih variatif dari yang di atas. 

Kita lanjut ceritanya ya,
Nah, setelah kejadian itu, kita pasti akan merasa gak enak ketika bertemu tetangga kita, senyum jadi gak ikhlas, jadi malas menyapa, berujung ke hubungan yang mungkin jadi kurang harmonis dengan si tetangga itu.

Asumsi yang kita bangun dalam pikiran tadi membuat banyak perubahan sikap, perubahan cara pandang terhadap orang lain. 
Nah, pertanyaannya adalah, apakah asumsi kita itu benar? Apakah memang tetangga kita itu kurang asem? Hahahaa silahkan jawab sendiri ya, coba cek ke tetangganya wkkwkw

Mungkin aja nih ya, tetangga kita itu jadi bingung, "Ni orang ngapa yakk, kemaren baek banget ngasihin kue, kok hari ini senyum aja ogah-ogahan". Bisa jadi demikian kawan-kawan hehhee

Yang menjadi refleksi dari contoh di atas adalah bahwa kita tuh jangan kemakan dengan asumsi sebelum ngecek kebenarannya. Berasumsi boleh-boleh saja, itu mengasah otak kita melihat segala kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi sekali lagi, asumsi itu gak nyata gaes, seperti quote di awal bahwa asumsi dan kenyataan itu totally gak ada di meja yang sama, jadi jangan menjadikan asumsi sebagai pembenaran atau kebenaran palsu. 

Ya, kita mesti ngecek dulu kebenarannya seperti apa, kalau kayak contoh tadi, kita bisa nanya ke tetangga kita kayak "Kue yang kemaren enak gak Bu? Soalnya masih belajar nih Bu hehee butuh masukan dari orang lain kali aja masih banyak kekurangan". Nah, bisa saja dengan bertanya demikian tetangga kita akan cerita hal yang sebenarnya terjadi itu seperti "Oh iya enak banget, makasih loh ya, cuma kebetulan di rumah saya cuma berdua sama suami, anak-anak lagi pada liburan ke rumah neneknya, jadi takut kuenya gak habis saya kasihin sebagian ke bawahan suami saya yang kebetulan berkunjung ke rumah, katanya kuenya enak banget, dia kirain saya yang buat, padahal saya mah gak bisa masak hahhaa bisalah saya belajar sama kamu".

Nah, kan gaes, gimana? Bisa aja kita tuh udah berprasangka buruk sama orang lain gara-gara asumsi kita sendiri. Ya, meskipun di atas itu cuma contoh tapi setidaknya banyak hal yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari yang mirip seperti itu.

Asumsi-asumsi yang kita bangun (yang kebanyakan adalah asumsi negatif) otomatis akan membuat sikap kita berubah karena kita yakin dengan asumsi itu dan menganggapnya sebagai kebenaran tanpa kroscek terlebih dahulu dengan apa yang terjadi.
Kebayang gak sih, orang lain yang gak tau apa-apa tentang asumsi kita terus jadi korban dari perubahan sikap kita. Mereka pasti bingung kan, "Kesambet apa nih orang kok tiba-tiba sikapnya berubah gitu" padahal mereka gak ngapa-ngapain, kitanya aja emang yang jadi aneh gara-gara pikiran kita sendiri. Dasar aku wkwkkkw 

Kalau ditarik lagi jauh ke depan, gara-gara setitik asumsi maka bisa rusak semua ke depannya hahahaaa hubungan dengan orang lain bisa terganggu, perubahan sikap kita bisa menimbulkan asumsi-asumsi di pikiran orang lain yang gak ada ujungnya, dan masalah-masalah lainnya yang of course merugikan kita. Yuk, pikiran dikondisikan kembali untuk lebih bijak menyikapi suatu masalah dan mengantisipasi asumsi hasil nalar kita sendiri.

Dah cukup panjang nih ya wkkw
Jadi, udah yaa, cukup sudah membangun dan mempercayai asumsi-asumsi yang muncul di pikiran kita, sekali lagi gak apa-apa berasumsi tapi yaa ayo di kroscek dulu kebenarannya sesuai apa ndak. 

Kuulang judulnya ya "your assumptions do kill you!"
Sekian, all the best for us in everything we do :)

See ya at [tiga belas]
Cheers,
Em 🙆

No comments:

Post a Comment