Monday, 13 April 2026

[seratus sebelas] it's this self

Di postingan ini saya mau cerita sedikit saja,
Kalau teman-teman yang kebetulan membaca ini merasa dirinya "terlabel" dengan istilah introvert, mungkin akan relate. Ya, orang-orang introvert cenderung lebih mudah kehabisan energi ketika berada di tempat-tempat yang ramai. Sehingga, mereka berusaha untuk menghindari tempat ramai tersebut. Alasannya bermacam-macam, ada yang bikin pusing, ada yang bingung harus ngapain kalau ramai, merasa dilihat oleh orang-orang dan lain sebagainya. 
Sayapun mengalami hal yang demikian.

Karena pekerjaan sehari-hari saya di office, duduk depan laptop selama berjam-jam, maka frekuensi bergerak itu sangat sedikit. Lalu, teman saya mengajak saya untuk mendaftar ke gym. Sebagai orang yang introvert ini, saya selalu berusaha menghindari. Tidak berminat. Malas ke tempat ramai, nanti dilihat orang, nanti kikuk ga tau mau ngapain, nanti mau pakai alat tapi orang lagi pakai males nunggu. Combo introvert dan gak enakan. 

Hingga tibalah bulan ini, saya mulai berpikir dan berpikir, lalu memutuskan ayo deh coba aja daftar. Gak apa-apa mungkin jangka pendek, asal terbentuk dulu habitnya. 

Lalu ada hari di mana saya berangkat sendiri ke tempat gym (biasanya bareng teman). Suasana nya pagi itu memang tidak terlalu ramai. Kemudian, ada pemikiran yang muncul di benak saya. 

Saya yang belum siap dengan keramaian ini. 

Tidak ada yang salah dengan gym ini. Namanya tempat umum ya pasti ramai. 
Sekilas, mungkin point of view ini tidak terlihat berbeda. Tapi bagi saya ini cukup memberikan pov yang baru. Saya juga bingung menjelaskannya hahhaaa
Tapi, pastinya sebelumnya, saya melihat gym itu sebagai tempat yang tidak akan saya kunjungi. Ada rasa tidak suka, menghindar, menolak. Tapi, ketika pov nya diubah, saya lah yang belum siap. Rasanya seperti lebih lunak. Bukan juga berarti saya tiba-tiba jadi suka dengan keadaan ramai, tentu tidak demikian hahhaaa. Tapi, setidaknya, rasa penolakan itu sudah jauh lebih redup. Jadi, kayak ya udah tempat ini mungkin memang ramai, ya cari aja waktu yang tidak ramai. Tidak perlu ada rasa enggan. Bingung sih ngejelasinnya tapi begitulah.

Mungkin selama ini saya cukup terkungkung dengan pov itu, melihat sesuatu yang tidak saya senangi sebagai penolakan. (Tidak secara langsung), tapi rasanya kayak tempat itu yang salah. Kesannya seperti itu. Padahal, mungkin saya sih yang belum siap dengan kondisi itu, tidak apaa-apa, kita embrace. 

Begitu saja lah ya hahahahaa
This note mungkin sulit dipahami, tapi ya buat saya dulu sajalah biar ingat wkkwkw

Sampai jumpa di [seratus dua belas],
Cheers,
Em 🙆

Saturday, 11 April 2026

[seratus sepuluh] we're running in a sliced timeline of life

Hello, again, everyonee 

So actually, judul ini sudah jadi draft sejak tengah tahun lalu, lupa juga saat itu mikirin apa sampai bisa tulis judul ini. Trus, minggu lalu ketika mengikuti sebuah event, ada satu pembicara yang membicarakan satu hal yang membuat saya teringat lagi dengan judul ini. Dia bilang (tidak exact, tapi kurang lebih) "Kita semua (re: semua orang) menjalani hidup kita masing-masing. Di kehidupan ini, kita bertemu dengan orang tua, keluarga, teman, pasangan, anak, dan orang-orang lain yang datang dan pergi di kehidupan kita. Tapi, pada akhirnya, sejak kita lahir sampai nanti kita meninggal, hanya kita seorang yang menjalani hidup kita sendiri."

Menurut saya, hal ini sangat reflektif ya, bahwa semua orang yang kita temui adalah orang-orang yang kebetulan jalan hidupnya beririsan dengan kita. Ibaratnya, ada seseorang mau pergi ke suatu tempat, lalu ia mengambil jalan A. Nah, di jalan A dia bertemu dengan orang-orang yang berada di jalan yang sama itu. Mereka berkenalan, ngobrol, bertukar pikiran, dan lain-lain. Sampai tiba di persimpangan, ternyata mereka akan mengambil jalan yang berbeda, kemudian berpisah. Lalu, di ruas jalan berikutnya, ia bertemu lagi dengan orang-orang lain (ada orang baru dan ada juga orang yang mengambil jalan yang sama sebelumnya). 

Dan seperti itulah kehidupan kita ini. People come and go. Kita pun, di kehidupan orang lain, seperti itu, hanyalah orang yang datang dan pergi ketika waktunya tiba. 

Mungkin saat ini kita ketemu orang-orang dengan arah jalan yang sama sehingga kita bisa berjalan berbarengan, tapi mungkin ada waktunya arah itu sudah tidak lagi sama sehingga harus berpisah. 

At the end of the day, we are all alone. 

Seems like pathetic ya? Wkwkwwkk

The bad thing is we have limited time. The good thing is we have limited time. Funny.

Tapi memang begitu adanya. Waktu yang terbatas adalah hal yang baik dan hal yang buruk. Selagi masih ada waktu, manfaatkanlah dengan baik. Create good things, good memories. So, when the time comes, no more regret left. 

Semoga kita semua bisa menggunakan waktu yang ada dengan baik, dengan orang-orang yang sejalan dengan kita, hingga tiba saatnya kita (mungkin) harus berjalan sendiri, dan pada akhirnya pun akan menjalani kehidupan ini sendiri secara sepenuhnya.

I'll see you at [seratus sebelas]

Cheers,

Em 🙆