Thursday, 5 March 2020

[tujuh belas] J E D A

Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna bila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?
 -Dee Lestari-

Hello guys, gimana pendahuluan kali ini? Mantep gak tuh hahahahaa 


Apa kabar teman-teman semuaa? Semoga sehat selalu yaa, sekarang lagi marak-maraknya virus Corona beserta semua keunikan keanehan yang mengikutinya, seperti orang pada berebut makanan instan lah, nimbun masker lah, macam-macam lah. Kadang-kadang ngerasa lucu juga, sedih juga, kok bisa gitu ya di tengah-tengah musibah kek gini masih aja ada orang-orang yang tanggung jawab sosialnya gak ada. Semoga kita bukan salah satu dari orang-orang itu, jika pun iya, cepat-cepatlah bertobat wkwkwk


Hmm, yahh udah sekip sebulan nih gaes hahahaa maafkan dakuuu *gak ada yang nunggu juga sih ya hahaaa

So, what am I going to talk today?
As clear as the title, yap, tentang jeda. Sering sekali pastinya kita sekip untuk hal ini.
Terlalu sibuk, terlalu fokus, terlalu kencang, terlalu hectic sampai lupa, lupa berhenti sejenak.


Mungkin teman-teman pernah dalam hidup ini, entah itu pekerjaan, studi atau apapun itu merasa seperti (I don't know if this is the right word) antara bingung dan lelah dan panik. Saya gak tau cara mendeskripsikannya hahahaaa intinya hal-hal yang biasa saya rasakan ketika saya stuck dalam suatu hal atau ketika saya memiliki terlalu banyak hal di kepala saya yang harus dilakukan. Semacam pace nya tuh cepat bangett, kek naik F1, puyeng hahaaaa Gak tau apa smua orang merasakan itu atau tidak tapi ya semacam itulah, kemampuan deskripsi saya cuma sampai di sana pemirsa hahaaa

Nah, ketika berada di posisi itu apa yang harus kita lakukan?
Biasanya kita malah makin ngegas gitu kan, makin mikir dan makin panik. Itu rasanya kayak makin banyak yang berlarian di otak kita, makin puyeng gak sih hahhaaa


Ibarat sedang mengendarai mobil nih, kalo kita ngerasa laju mobil kita udah cukup kencang ya jangan makin digas dong ya, mestinya direm kan. Sama juga ketika kita sedang panik atau hectic banget, what we should do adalah berjeda, diam sejenak. Diam sejenak gak akan merusak apa yang sudah dikerjakan atau direncanakan malah bisa memperjelas semuanya. Ibarat air keruh, kalau makin diaduk makin keruh tuh, tapi kalo didiemin nanti pelan-pelan akan jernih (ibarat mulu nih kali ini wkwk). Yes, sama aja dengan kita, pikiran kita. Kalau makin diaduk-aduk makin puyeng dah tuh.


Kalau untuk saya pribadi nih, kadang-kadang saya namakan step back atau keluar dari tubuh (hantu kali ye hehehe). Jadi semacam kita mencoba untuk berhenti sejenak, diam, lalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang di luar kita. Jadi kayak kita melihat diri kita sendiri gitu, tapi dari luar. Moga-moga dapet maksud saya yaa heheee


Nah, menurut pengalaman pribadi, dengan melakukan hal itu, saya bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jelas dan bisa memetakan kembali apa yang sedang terjadi. Kalau dikata mirip benang kusut, maka kita harus keluar dulu dari tengah-tengah kekusutan itu, melihat benang itu secara keseluruhan, menelaah ujung pangkal benang itu arahnya kemana, yang terlilit yang mana, barulah setelah itu kita bisa tau oh bagian ini yang harus dilepas, sampai akhirnya benang itu menjadi lurus dan rapi kembali.


Quite similar dengan kejadian hidup kita sehari-hari, kalau kita ngerasa pace nya cepet banget nih, atau semacam tensi kita tinggi banget atau kayak senggol bacok gitu hahaa mungkin ada baiknya untuk berhenti sejenak, jangan makin digas, malah bahaya bisa nabrak cuy wkwkw


Ketika kita mundur selangkah atau kita keluar dari sudut pandang kita sendiri, kita bisa melihat secara lebih jelas kita sekarang ada dimana. Oh iya, kalau temen-temen pendengar podcast, maka saya saranin denger podcast Thirty Days of Lunch, narasumber nya dan topiknya keren-keren banget. Nah, ada satu episode dengan Yasa Singgih (silahkan searching kalau gak tau beliau), ada yang menarik ketika dia bilang bahwa kebanyakan orang tuh bukan gak tau tujuannya ke mana, tapi mereka gak tau sekarang ada di mana. Menurutku, that's really true. Kadang-kadang kita gak tau kita sudah ada di mana sekarang, padahal dengan mengetahui kita sekarang di mana, kita bisa mengetahui apa yang sudah kita lakukan dan apa yang harus kita lakukan ke depannya untuk sampai di tujuan sana.

Balik ke yang tadi, ketika kita diam sejenak, berjeda, step back, atau keluar dari tubuh kita (you name it apapun itu namanya hahaaa) kita bener-bener bisa melihat gambaran besarnya. Hal ini akan sangat membantu mengurangi kehectican dan kepanikan. Karena kadang-kadang ketika terlalu banyak hal yang harus dilakukan kita bingung harus mengerjakan yang mana dan memulai dari mana. Kita jadi kayak 'duh harus ngapain nih banyak banget mulai dari yang mana dulu nih'. When it happened, duduk, diam, tarik napas, hentikan semua yang berlarian di otak kita, just like freeze the time. Habis itu, tarik sudut pandang kita keluar, ibarat lampu sorot akan menyorot semua apa yang harus dikerjakan. Nah saat itu lah kita lihat baik-baik dan mulai analisa. Dengan melihat broad view nya, kita tau oh ini yang harus dikerjakan duluan, baru setelah itu mengerjakan yang itu, dan seterusnya. Secara otomatis, kepanikan akan hilang karena kita sudah tau apa yang harus dilakukan dan kita sudah punya gambaran yang jelas akan seperti apa ke depannya.


For me personally, it really helps sih, jadi kayak bisa lebih waras aja, lebih tenang dan terarah. So, we do need a space to calm down, butuh jeda sodara-sodara wkwkkw

Jadi mungkin sekian dulu bacotan dari saya semoga ada guna nya ya hahaaa

Kesimpulannya semua di dunia ini perlu jeda ya gaes, kecuali hestek! wkwkwkw

See ya at [delapan belas]

Cheers,
Em 🙆

No comments:

Post a Comment