Thursday, 26 March 2020

[dua puluh] GO.TONG RO.YONG

Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.
-Ir. Soekarno-

Halo teman-teman semua, apa kabar? Apakah #masihdirumahaja? Hehehe
Semoga masih pada sehat semua yaa, buat teman-teman yang masih harus kerja, salut untuk kalian, tenaga kesehatan, polisi, ojek online, ataupun pekerjaan lainnya yang gak bisa work from home. Tetap jaga kesehatan ya.

Beberapa waktu belakangan ini, kita semua memang mengalami masa-masa yang sulit, menurutku sulit sekali. Seumur-umur hidupku dari lahir sampai sekarang, I think this is the hardest part for our country, even for the world. Demo-demo pilkada, rusuh-rusuh pilpres tidak sebanding dengan penyebaran corona ini. Waktu flu burung pun rasanya tidak seekstrem ini.

Saya nulis ini dengan harapan one day tulisan ini mengingatkan kembali dengan nilai gotong royong yang sudah menjadi budaya kita, orang Indonesia. 

Jadi, mungkin saat ini sudah sekitar 1 minggu ya kita direkomendasikan untuk social distancing. Ada yang baik-baik saja, ada yang usahanya sepi, ada yang kewalahan ngurus pasien, ada yang pusing mikirin karyawan. Banyaklah pokoknya. Dan saya yakin bahwa satu koentji yang diperlukan adalah saling bantu satu yang lainnya. Menurut hemat saya, memang bahwa kita akan bisa melewati ini semua jika dan hanya jika kita sama-sama berjuang dan berusaha.

Beberapa hari belakangan banyak banget donasi-donasi yang dibuka oleh teman-teman di sosial media. Banyak banget, ada yang bantu membelikan abang ojol makanan, ikut membantu usaha UMKM dengan membeli dagangannya, buka donasi untuk APD tenaga kesehatan, buka donasi sembako untuk orang-orang yang membutuhkan, ada juga yang buat video edukasi di sosial media. I just feel that yes, that is exactly we need. Harus saling bantu. Harus dipahami bahwa lock down bukan pilihan untuk Indonesia. Imho, social distancing 1 minggu aja banyak orang yang kesusahan secara ekonomi. Jadi, gimana kalo mau lockdown hingga waktu yang tidak ditentukan? Bisa demo kali orang atau rusuh, which will make the condition worse. Jadi memang harus dihargai upaya pemerintah untuk tidak memilih jalan itu.

So, other way that we can do is to help each other. Gotong royong, itulah budaya kita men!

Kalau bisa dibilang, inilah ujian yang sebenarnya, di kondisi seperti inilah seharusnya kita bantu apa yang bisa kita bantu, sekecil apapun, even stay di rumah, rebahan, itu udah ngebantu buat ngurangin penyebaran corona ini, ngebantu meringankan beban tenaga kesehatan kita yang sekarang sudah kewalahan. So, ayok, mari, kita bantu sebisa mungkin.

Untuk teman-teman yang dana daruratnya aman bahkan lebih, untuk yang usahanya masih stabil, untuk yang rejekinya berlebih, ayok sama-sama bantu yang membutuhkan. Yok bisa yok, semangat. Yakin deh kalo kita gak akan jatuh miskin karena berbagi. Kita pasti bisa melewati ini semua jika kita saling bantu. Di garis finish nanti kita akan berangkulan dan tersenyum bersama, bangga kalau kita pernah mengukir sejarah yang membuktikan kalau bangsa kita ini kuat, bisa melewati semua ini sama-sama.

Gotong royong adalah budaya Bangsa Indonesia

Stay safe everyone,

See ya at [dua puluh satu]
Em 🙆

Friday, 20 March 2020

[sembilan belas] Semua Hanya Sebatas Rencana

Man proposes, God disposes
Halo semua, bagaimana kabar teman-teman di tengah situasi yang tidak pasti ini?
Semoga semua selalu dalam keadaan sehat ya, jangan lupa jaga kebersihan, di rumah aja jika tidak ada sesuatu yang mendesak untuk keluar rumah. Anda, kita mungkin kuat melawan virus, tapi keluarga, orang-orang disekitar kita belum tentu. So, prevention is way better than cure.

Jadi, saat ini dunia sedang digemparkan dengan penyebaran virus Corona (COVID-19), sebenarnya sejak akhir Desember 2019 ya, tapi saat ini sudah ditetapkan oleh WHO sebagai pandemik global, which means sesuatu yang serius yang dihadapi oleh hampir semua negara di dunia. So, stay safe everyone, we shall get through this together, this too shall pass.

Anyway, I'm not gonna talk about corona, tapi sesuai judul di atas, kali ini bakal ngebahas tentang rencana. Dalam hidup ini, ada sesuatu yang berjalan sesuai rencana, ada pula yang tidak, sama sekali bertolak belakang ataupun agak menyeleweng sedikit dari apa yang sudah direncanakan hehheee

Personally, too many things in my life happened as surprises, which means tidak sesuai rencana wkwkwk ikut lomba hasilnya gak sesuai rencana, wisuda sarjana gak sesuai rencana, masih banyak lagi lah wkwkkw nanti jadi curhat hahahaa

Mungkin sama seperti sekarang, banyak yang sudah berencana mau jalan-jalan ke sini, mau bikin event ini, mau ikut konser itu, tapi karena masalah virus corona ini, maka semua batal. Akhirnya stay at home aja wkwkwk 

Pertanyaannya, are we okay with that? Bagaimana cara kita melihat sesuatu yang tidak berjalan sesuai apa yang sudah direncanakan?

If you ask me, I'll answer 'pasrah aja' wkwk
Kalau kata orang Makassar 'mau mi diapa' hahaha

I am that kind of pasrah person, really (sungguh tak solutif ya hahaa)

Okay, the thing is how to deal with the unplanned situation.
Sebenernya ini rada-rada mirip dengan ekspektasi sih, karena saat kita berencana ya pastinya kita berharap it comes to real.

First thing first, harus bisa menerima dulu. For all circumstances, acceptance is primary, yet the hardest one. Bagaimana bisa menerima? Nah, supaya kita bisa menerima, tentunya kita harus tahu dulu apa yang sedang terjadi beserta apa sebabnya. Ketika tahu pun bisa jadi belum bisa menerima, apalagi belum atau tidak tahu. Jadi, sebenarnya ketika kita tahu, logika kita lebih bisa mengolah informasi yang ujung-ujungnya kita jadi bisa menerima. Intinya kita bisa tahu alur logika berpikirnya gitu lah. Ketika kita sudah bisa menerima kita bisa jadi lebih waras lah. As this is the hardest part, jadi setelah kita sudah bisa melewati tahap ini, sisanya akan menjadi lebih mudah. Karena sepertinya, dasarnya manusia itu memang agak sulit menerima kenyataan apalagi yang tidak sesuai harapan atau rencana. So, this is the biggest task for human, yet the most important. Kita sama-sama harus belajar untuk ini gaes wkkwk

Kedua, see the positive side. Semua hal, apapun itu, pasti ada negatif dan positifnya. When things happen, it happen. Jadi ketika sesuatu sudah terjadi kita udah ga bisa mengubah yang sudah lewat. Maka dari itu, agar tidak menambah keruwetan dan meningkatkan kesyukuran, kita bisa coba melihat sisi positif dari segala sesuatu. Selalu pasti ada sisi positifnya, selalu, ingat ya se-la-lu kwkwk. Jadi, menurut saya sendiri, ketika kita bisa melihat sisi positif dari suatu hal, kita bisa lebih bersyukur, dan kadang-kadang bisa tertawa juga. Jadi kita bisa kayak mikir 'oh ternyata bisa juga ya kayak gini', 'oh ternyata asik juga ya begini'. Intinya ada yang bisa disyukuri gitu lho teman-teman wkwkwkw jadi gitu ya. Selain itu, kita juga bisa jadi lebih kreatif dan cepat tanggap ketika yang terjadi tidak sesuai rencana lho. Karena otomatis otak kita akan segera berpikir apa yang bisa kita lakukan di kondisi tersebut, iye gak wkwkwk. Oh ya, intinya adalah percaya aja bahwa ini yang terbaik meskipun tidak sesuai dengan rencana. Semua ada waktunya. So, believe in something good in recent situation.

Lanjoooot,
Ketiga adalah membuat rencana berikutnya hahhaa jadi jangan setop ya pemirsa. Semua rencana adalah pengarah. Tanpa rencana artinya tanpa arah. Kejadian atau gak kejadian itu urusan belakangan, urusan Yang Kuasa. Seperti di awal, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Jadi, dengan yang terjadi sekarang, kita bisa mulai merencanakan apa yang akan dilakukan saat ini ataupun berikutnya. So, the show must go on, life must go on. Ketika rencana ini gak terjadi kembali ke 'first thing first' tadi ya hahaa jadi alurnya 1-2-3-repeat wkwkwkw

In general, ketika yang terjadi tidak sesuai rencana awal, ga usah sedih, ga usah merutuki kenyataan yah, ingat selalu ada yang baik, selalu ada yang positif, selalu ada yang bisa disyukuri dan diusahakan. Masih bisa hidup aja udah syukur ya kan hahhaaa. Karena begitulah hidup, kalau semua yang direncanakan terjadi kan jadinya gak seru gitu ya mirip seperti kita nonton film tapi udah spoiler, udah ketahuan endingnya. Jadinya gak seru dong. Jadi namanya hidup memang perlu surprise biar seru gitu loh wkwkwk

Oke guys, semoga bermanfaat yaa, meskipun ini bahasannya agak general, maklum masih amatiran, deeper talk mungkin akan dibuat lain kali dengan topik yang lebih spesifik mungkin (?)

Anyway, dalam kondisi sekarang ini yang tidak pasti dengan wabah virus corona yang dihadapi hampir semua negara di dunia, jangan lupa jaga kebersihan, jaga hati, jaga nurani, tetap waras, tetap stay di rumah kalau gak ada keperluan penting. Yang bisa kerja dari rumah, sebaiknya kerja dari rumah aja, di sini juga dilatih kedisiplinan dan tanggung jawab kita. Ketika ga di kantor, ga diatur oleh jam kerja, ga diawasi secara langsung sama atasan kita, apakah kita masih bisa komitmen, konsisten dan juga produktif dalam bekerja? Ask yourself. You do you. Ini tantangan untuk kita untuk menjadi satu level lebih baik, lebih disiplin, lebih responsible, lebih kreatif, lebih peka dengan sekitar (positive side dari social distancing akibat corona hehee).

Sekali lagi, sudah banyak juga yang menyuarakan di luar sana kalau ini bukan cuma untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Di sini kita dilatih untuk peduli, gak usah panic buying, tetap jaga rasa kemanusiaan, ingat kita ini semua manusia, jangan lupa memanusiakan manusia lainnya. Be aware, care, mindful!

Semoga kita semua senantiasa dilimpahkan kesehatan.

See ya at [dua puluh]
Cheers,
Em 🙆 

Wednesday, 11 March 2020

[delapan belas] the CUPAW INTROVERT

Solitude matters, and for some people, it's the air they breathe 
-Susan Cain-

Hello again!! 
Lagi produktif, asoyyy, hahaaaa produktif apa pengangguran? wkwkwkw
Yah, cuma lagi nemu waktu dan topik yang pas aja gitu hahaa

Alright, it's always been interesting to talk about psychology thing hahaa
Ya, we'll talk about this but it won't be that long maybe (but don't know), karena saya bukanlah ahlinya, jadi cuma pengen sharing saja apa yang pernah dialami dan apa yang pernah dibaca, mostly pengalaman pribadi sih hehee. Anyway, sekali lagi ini cuma opini saya semata ya guys, ada yang sama berarti saya ada temannya, kalau gak sama pun bukan berarti ada yang salah, all is well, soalnya kepribadian itu juga bukan cuma introvert atau ekstrovert kok ada faktor-faktor lain yang mungkin even sesama introvert bisa berbeda, namanya juga manusia, berbeda-beda dan unik, ye khan wkwkwk


Well, kepribadian seseorang akan selalu menarik untuk diketahui lebih jauh, apakah cuma saya atau anda-anda semua juga mempunya minat dan ketertarikan yang sama? Kalau buat saya, kalo ngomongin tentang psikologi seperti karakter, perilaku, cara berinteraksi, dan semacamnya pasti selalu tertarik untuk tau, meskipun ujung-ujungnya gak ambil major psikologi juga sih hahaa

Jadi teman-teman, I am an introvert, judulnya ini the cupaw (re: cupu) introvert. Nah, kenapa bikin judul model begini, adalah karena beberapa waktu lalu saya sempet berada di posisi yang membuat saya berpikir 'wah cupu bangeet sih introvert ini' which is me. Yah, semacam berpikir kalau saya ini ekstrovert mungkin saya gak akan secupu itu. Tapi, saya gak pernah loh nyesel kayak kok saya introvert banget sih, nooo, I am happy for being an introvert, really. Dari banyak kali tes kepribadian (dari yang online sampe yang beneran) hasilnya pasti menunjukkan 80-90% introvertnya. 

Oh iya, kalau ada teman-teman yang tau 16 personalities yang ada tes nya online itu, nah itu ada tes benerannya namanya MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Tesnya agak beda dengan yang online itu tapi nanti hasil akhirnya mirip, jadi ada kategori ekstrovertion (E) - introvertion (I), intuitive (N) - sensing (S), feeling (F) - thinking (T), dan judgement (J) - perception (P). Yah, silahkan baca sendiri ya yang ini, saya belum terlalu paham juga soalnya, mungkin nanti kalau udah lebih banyak baca baru bisa buat tulisan lagi tentang itu ya hehhee

Okay, kembali ke laptop guys, 
kalau misalnya kalian introvert, kira-kira apasih yang menurut kalian paling 'signature' banget dari kalian sebagai seorang introvert? Yang paling, duh gue banget iniiii
Kalau saya nih, yang paling-paling signature, ibaratnya makan nasi padang gak ada sambelnya (nyambung ga ya hahaha), adalah susah memulai percakapan apalagi ketika masuk dalam suatu kelompok besar. Susah bet dah sumpah! Dari pengalaman beberapa kali masuk dalam sebuah kelompok baru, misalnya masuk SMP, SMA, kuliah, atau bahkan kerja, saya itu mungkin butuh 1 - 2 bulan hanya untuk beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang terdekat misalnya teman duduk di kelas atau yang duduknya deket atau kalau waktu itu pernah magang saya dekatnya dengan kakak yang duduk dekat saya. And then, butuh sekitar 1 - 2 tahun untuk benar-benar dekat dengan orang lain. Lama gak tuh -_-

Sampai kadang-kadang saya merasa bahwa mungkin orang lain berpikir saya ini sombong kali yaa hahaaaa atau kuper atau gimana gitu, padahal gak, cuma suka salting aja kalau tiba-tiba nimbrung gitu hahaaa gak berani keroyokan men, beraninya one-on-one wkwkw ya, jadi lebih mudah untuk ngobrol itu kalau personal, pendekatannya pun menjadi lebih mudah, mungkin karena memang si introvertnya lebih nyaman gitu kali ya, agak gimana gitu rasanya untuk langsung masuk di tempat yang orangnya banyak. Suka bingung, aneh.

Beberapa orang bilang bahwa bersosialisasi itu pilihan, tidak bergantung apakah introvert atau ekstrovert. So far, saya cukup setuju, mungkin bagi introvert energinya aja yang butuh lebih banyak kalau mesti masuk dalam kelompok yang langsung gede gitu. Tapi untuk saya pribadi saya gak ada masalah ketika mesti berkenalan dengan orang baru yang penting personally gitu, cuma mungkin agak krik-krik kali ya, mungkin karena tadi itu susah membuka pembicaraan, susah mencari topik aja kali yaa.

At that stage, saya jadi kadang-kadang suka mikir aja, mungkin kalau jadi ekstrovert seru kali ya, mungkin lebih mudah buat masuk dalam suatu kelompok, lebih mudah get in aja gitu (hayooo ekstrovert mana suaranya hahaaa apa benar seperti itu wkwkkw). Tapi, saya juga tau kok bahwa dengan seperti ini pun tetap memungkinkan untuk bersosialisasi, sekali lagi itu adalah pilihan, mungkin saya cuma gak nyaman aja untuk memilih pilihan itu, mungkin one day bakal nemu cara yang pas to get in a group of people kali ya.

Tapi, adalah hal yang berbeda ketika berbicara di depan orang banyak, mungkin karena konteksnya beda kali ya dengan ngobrol di tengah-tengah orang banyak. I feel lumayan tidak terganggu ketika harus berbicara di depan orang banyak. Oh iya mungkin karena satu arah gitu ya dan kita udah punya topiknya dan cukup percaya diri buat deliver apa yang mau kita sampaikan. 

Panjang juga yah curcol ane ckckkc 
No, no, it's just sharing, I mean, pada sisi ini, saya merasa 'cupu'nya seorang introvert. Meskipun yakin kok saya, bahwa introvert juga punya sisi strongnya, jadi ga cuma cupu. Semuanya juga pasti punya kok ya.

I really enjoy for being who I am. Lebih suka main game sendiri, lebih suka di rumah, kalau keluar paling cuma sama temen yang itu-itu aja yang udah deket. Rechargenya lebih affordable kali ya hahahahaa cukup di rumah main game, baca buku gitu, tidurrr hahaaa udah deh.

Sungguh tak berfaedah guys, jika anda sudah membaca sampai di sini apakah ada point yang anda dapatkan? Hahahaaa 

Untuk kalian yang introvert, you are awesome as you are, just enjoy being you, semua orang punya cara masing-masing kok untuk menjalani hidup ini. Buat temen-temen ekstrovert, jangan bingung kalau liat temennya yang introvert, bukannya ansos atau sombong, emang gitu kok anaknya, kasian hahahaa tapi kalau udah dideketin personally dan kalian bisa buka topik, kita bakal nyaut kok sebagai introvert hahahaa we just have no idea how to start a conversation which mostly ended in awkwardness hahahaa

Udah dulu ya, mungkin topik ini gak ada manfaatnya (ampun dah) hahaaa
Sampai jumpa di berikutnya
See ya at [sembilan belas]

Cheers,
Em 🙆

Thursday, 5 March 2020

[tujuh belas] J E D A

Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna bila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?
 -Dee Lestari-

Hello guys, gimana pendahuluan kali ini? Mantep gak tuh hahahahaa 


Apa kabar teman-teman semuaa? Semoga sehat selalu yaa, sekarang lagi marak-maraknya virus Corona beserta semua keunikan keanehan yang mengikutinya, seperti orang pada berebut makanan instan lah, nimbun masker lah, macam-macam lah. Kadang-kadang ngerasa lucu juga, sedih juga, kok bisa gitu ya di tengah-tengah musibah kek gini masih aja ada orang-orang yang tanggung jawab sosialnya gak ada. Semoga kita bukan salah satu dari orang-orang itu, jika pun iya, cepat-cepatlah bertobat wkwkwk


Hmm, yahh udah sekip sebulan nih gaes hahahaa maafkan dakuuu *gak ada yang nunggu juga sih ya hahaaa

So, what am I going to talk today?
As clear as the title, yap, tentang jeda. Sering sekali pastinya kita sekip untuk hal ini.
Terlalu sibuk, terlalu fokus, terlalu kencang, terlalu hectic sampai lupa, lupa berhenti sejenak.


Mungkin teman-teman pernah dalam hidup ini, entah itu pekerjaan, studi atau apapun itu merasa seperti (I don't know if this is the right word) antara bingung dan lelah dan panik. Saya gak tau cara mendeskripsikannya hahahaaa intinya hal-hal yang biasa saya rasakan ketika saya stuck dalam suatu hal atau ketika saya memiliki terlalu banyak hal di kepala saya yang harus dilakukan. Semacam pace nya tuh cepat bangett, kek naik F1, puyeng hahaaaa Gak tau apa smua orang merasakan itu atau tidak tapi ya semacam itulah, kemampuan deskripsi saya cuma sampai di sana pemirsa hahaaa

Nah, ketika berada di posisi itu apa yang harus kita lakukan?
Biasanya kita malah makin ngegas gitu kan, makin mikir dan makin panik. Itu rasanya kayak makin banyak yang berlarian di otak kita, makin puyeng gak sih hahhaaa


Ibarat sedang mengendarai mobil nih, kalo kita ngerasa laju mobil kita udah cukup kencang ya jangan makin digas dong ya, mestinya direm kan. Sama juga ketika kita sedang panik atau hectic banget, what we should do adalah berjeda, diam sejenak. Diam sejenak gak akan merusak apa yang sudah dikerjakan atau direncanakan malah bisa memperjelas semuanya. Ibarat air keruh, kalau makin diaduk makin keruh tuh, tapi kalo didiemin nanti pelan-pelan akan jernih (ibarat mulu nih kali ini wkwk). Yes, sama aja dengan kita, pikiran kita. Kalau makin diaduk-aduk makin puyeng dah tuh.


Kalau untuk saya pribadi nih, kadang-kadang saya namakan step back atau keluar dari tubuh (hantu kali ye hehehe). Jadi semacam kita mencoba untuk berhenti sejenak, diam, lalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang di luar kita. Jadi kayak kita melihat diri kita sendiri gitu, tapi dari luar. Moga-moga dapet maksud saya yaa heheee


Nah, menurut pengalaman pribadi, dengan melakukan hal itu, saya bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jelas dan bisa memetakan kembali apa yang sedang terjadi. Kalau dikata mirip benang kusut, maka kita harus keluar dulu dari tengah-tengah kekusutan itu, melihat benang itu secara keseluruhan, menelaah ujung pangkal benang itu arahnya kemana, yang terlilit yang mana, barulah setelah itu kita bisa tau oh bagian ini yang harus dilepas, sampai akhirnya benang itu menjadi lurus dan rapi kembali.


Quite similar dengan kejadian hidup kita sehari-hari, kalau kita ngerasa pace nya cepet banget nih, atau semacam tensi kita tinggi banget atau kayak senggol bacok gitu hahaa mungkin ada baiknya untuk berhenti sejenak, jangan makin digas, malah bahaya bisa nabrak cuy wkwkw


Ketika kita mundur selangkah atau kita keluar dari sudut pandang kita sendiri, kita bisa melihat secara lebih jelas kita sekarang ada dimana. Oh iya, kalau temen-temen pendengar podcast, maka saya saranin denger podcast Thirty Days of Lunch, narasumber nya dan topiknya keren-keren banget. Nah, ada satu episode dengan Yasa Singgih (silahkan searching kalau gak tau beliau), ada yang menarik ketika dia bilang bahwa kebanyakan orang tuh bukan gak tau tujuannya ke mana, tapi mereka gak tau sekarang ada di mana. Menurutku, that's really true. Kadang-kadang kita gak tau kita sudah ada di mana sekarang, padahal dengan mengetahui kita sekarang di mana, kita bisa mengetahui apa yang sudah kita lakukan dan apa yang harus kita lakukan ke depannya untuk sampai di tujuan sana.

Balik ke yang tadi, ketika kita diam sejenak, berjeda, step back, atau keluar dari tubuh kita (you name it apapun itu namanya hahaaa) kita bener-bener bisa melihat gambaran besarnya. Hal ini akan sangat membantu mengurangi kehectican dan kepanikan. Karena kadang-kadang ketika terlalu banyak hal yang harus dilakukan kita bingung harus mengerjakan yang mana dan memulai dari mana. Kita jadi kayak 'duh harus ngapain nih banyak banget mulai dari yang mana dulu nih'. When it happened, duduk, diam, tarik napas, hentikan semua yang berlarian di otak kita, just like freeze the time. Habis itu, tarik sudut pandang kita keluar, ibarat lampu sorot akan menyorot semua apa yang harus dikerjakan. Nah saat itu lah kita lihat baik-baik dan mulai analisa. Dengan melihat broad view nya, kita tau oh ini yang harus dikerjakan duluan, baru setelah itu mengerjakan yang itu, dan seterusnya. Secara otomatis, kepanikan akan hilang karena kita sudah tau apa yang harus dilakukan dan kita sudah punya gambaran yang jelas akan seperti apa ke depannya.


For me personally, it really helps sih, jadi kayak bisa lebih waras aja, lebih tenang dan terarah. So, we do need a space to calm down, butuh jeda sodara-sodara wkwkkw

Jadi mungkin sekian dulu bacotan dari saya semoga ada guna nya ya hahaaa

Kesimpulannya semua di dunia ini perlu jeda ya gaes, kecuali hestek! wkwkwkw

See ya at [delapan belas]

Cheers,
Em 🙆

Saturday, 25 January 2020

[enam belas] selalu ada yang terakhir

If there is a beginning, then there will be an end


Tribute to my beloved mom and grandma

Selamat tahun baru Imlek ya untuk teman-teman yang merayakan xD

Mau ngomongin apapun, semua yang berawal pasti akan berakhir. Klise.
Everything with a start will end.


Eight years four months, 2012 was the last year I celebrated Chinese New Year with my mom. The last year that she was still strong enough to walk, to sit, to get in a car. 

Almost seven months, 2019 was the last year I celebrated Chinese New Year with my grandma. The last year that she was still strong enough to sit, to smile, not to stand, a little bit to talk, a very small sound came up from her mouth.

These two women had brought so many things in my life.

Those two years, the years, no one knew before, would be the last time to celebrate Chinese New Year with them.

I still remember the new shirt my mom wore that day, a simple red shirt. Red, the symbol of happiness. She was healthy that morning, excited to visit the family. No one knew, six months after that she completed her journey in this world. To be honest, nothing is worse than losing someone you love but at that time, one thing we can be thankful for was that she had ended the suffering from cancer. 

I also still remember my grandma's smile on the Chinese New Year last year. She was very excited that day, full of smile, had the strength to talk with people (even with a very small sound), sat almost half-day (a thing that she was not able to do a few months before). She even remembered that she had to give the children the 'angpao'. No one knew, four months later she finished her journey in this world. At that time, the thing we can be thankful for was that she did not suffer from the application of NGT tube (she used this for two months). 

You know what, I learned a lot from all these things. Everything has an end. Everything will end, definitely.

Before the time comes, make sure to spend it well. 

I am quite grateful and thankful, I am not saying I did not do mistakes. I did, a lot. The thing is that I had done what I should have done. Life must go on.

I miss you so much, I love you always, mom and grandma
I wish you always be happy wherever you are now

See you in the next chapter of life


See ya at [tujuh belas]
Cheers,
Em 🙆

Wednesday, 1 January 2020

[lima belas] If you're happy, I'm happy too!

Be just as enthusiastic about the success of others as you are about your own
- Christian D. Larson -

Happy New Year All !! Say goodbye with a smile to 2019, and say hello with a bigger smile to 2020
Are you ready?? Wkwkwk
Selamat tahun baru ya teman-teman semua, tentunya kita semua berharap yang lebih baik untuk tahun 2020 ini, bagi yang udah punya daftar resolusi semoga bisa tercapai semua yaa hehee yang belum buat resolusi juga tetap semangat menjalani hidup yang lebih baik yaa di tahun depan 


Sebenarnya pergantian hari dari 31 Desember ke 1 Januari tak ada bedanya dengan pergantian hari lainnya, Selasa ke Rabu sama seperti pergantian hari Selasa ke Rabu yang sebelumnya. Hanya saja, perhitungan astronomi membuatnya berbeda, perhitungan revolusi Bumi yang membuatnya berbeda. 1 tahun berarti Bumi kembali ke titik awal dalam mengitari matahari. Ya, perkembangan ilmu pengetahuan. Tapi tahun baru bisa dijadikan momentum, untuk lebih baik dari sebelumnya. Meskipun, hendaknya setiap hari pun seperti itu. Semangat guys wkwkw

Kali ini, tidak ada kaitannya dengan tahun baru hehee
Mungkin teman-teman masih ingat, waktu kecil kita diajarkan banyak hal oleh orang tua kita. Kalau ada yang butuh bantuan, ditolongin. Kalau mau minta sesuatu harus bilang 'tolong'. Kalau buat salah harus minta maaaf. Kalau dikasih sesuatu harus bilang 'terima kasih'. 

Tapi ada hal yang mungkin beberapa atau sebagian besar (tidak semua ya) dari kita luput dari pengajaran itu. Yaitu, turut merasa bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Tapi, kita kan diajar untuk memberikan selamat kepada orang yang sedang sukses atau bahagia? Ya benar, tapi kadang-kadang ucapan selamat itu tidak diikuti rasa bahagia yang sesungguhnya dari dalam hati.

Susah liat orang senang, senang lihat orang susah.
Ungkapan yang umum sekali kita dengarkan. Jangan sampai kita demikian.

Memang sulit, apalagi mungkin rival atau orang yang sering dibanding-bandingkan dengan kita meraih suatu kesuksesan. Mungkin tanpa sadar kita sering iri atau malah merasa rendah diri, minder. Atau kadang pula malah berprasangka buruk. Jangan-jangan .....

Ini lebih sulit sepertinya daripada meminta maaf atau mengucapkan terima kasih.
Tapi ini adalah hal yang perlu kita latih dan kembangkan. Ketika ada orang lain yang sukses, apalagi itu pesaing kita, ikutlah berbahagia, ucapkan selamat dan jangan lupa jadikan motivasi. 

Bukan kah rasa iri atau rendah diri itu bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih positif yaitu motivasi?
Jika orang lain bisa, maka kita juga pasti bisa. 
Ketika ada orang yang lebih baik dari kita, maka kita harus akui itu. Tapi bukan berarti kita menyerah. Kita juga pasti bisa kok, asal kita berusaha.

Ikut merasa bahagia ketika orang lain bahagia akan membuat hati kita menjadi lega, lebih lapang sepertinya. Suatu tanda kebesaran hati yang mungkin tak semua orang miliki.

Jadi gitu yah guys wkkw
Ini adalah sharing dari perspektif saya pribadi, juga sebagai pengingat untuk saya pribadi. Jika ada kesalahan maka mohon dimaafkan heehee
Semoga bisa menjadi pengingat kita bersama.

Selamat tahun baru !!!

See ya at [enam belas]
Cheers,
Em 🙆

Friday, 20 December 2019

[empat belas] Melawan Hukum Newton (?)

It is not possible to shut everyone's mouth, to close everyone's eyes, or to change everyone's attitude but it is always possible to control your heart and mind
-Anonim-

Hello again guys ...
Udah lama juga ya gak update lagi hahaaa maafkeun ketidakkonsistenan saya dikarenakan beberapa hal hahaa 

Jadi hari ini kita mau belajar fisika dulu yaa hahaa ya kagaklah ya ..
Apakah teman-teman masih ingat Hukum Newton III yang bunyinya F aksi = - F reaksi?
Banyak orang berpikir seperti ini 'sikapku ditentukan oleh sikapmu kepadaku', quite make sense. Jika orang baik pada kita, kita juga baik pada  mereka. Kalau orang jahatin kita, mungkin kita bisa lebih jahat lagi sama mereka.

But, another perspective may come. Kenapa kita harus selalu bergantung pada orang lain? Bukankah kita bisa menentukan sikap kita sendiri?

Banyak hal, sakit hati, kecewa, marah, senang, sedih kemungkinan besar dikarenakan dari sikap orang lain kepada kita. 

Jika dipikir-pikir lagi, cukup aneh bukan?

Kita tidak bisa mengontrol orang lain, tidak bisa mengontrol semua orang di dunia ini, tidak bisa menentukan sikap orang lain, lalu mengapa kita harus bergantung kepada itu semua?
Biarlah kita mengontrol apa yang ada dalam teritori kita, dalam kemampuan dan kesanggupan kita yaitu diri kita sendiri.

Contoh kasus, banyak sih sebenarnya yang sering terjadi di kehidupan kita setiap harinya, misalnya karena orang jahat sama kita, kita jadi membalas jahat sama orang tersebut. Di satu sisi mungkin ini hal wajar, tapi itu adalah pilihan. Tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada kita adalah satu pilihan yang sangat mungkin untuk dilakukan, tentu dengan semua tantangannya. 

Contoh lain, orang yang nyinyir kepada kita yang akhirnya membuat kita sedih atau marah. Menutup mulut orang-orang nyinyir itu hampir tidak mungkin bisa kita lakukan, mengubah pola pikir orang, sikap orang, kebiasaan orang bukan hal yang gampang. Ya kali kita bisa mengubah hati semua orang wkwkwk, tapi kita punya hak sepenuhnya untuk memilih untuk diri kita. Memilih merasa sedih, memilih merasa marah, memilih untuk ikhlas, memilih untuk bahagia, memilih untuk menghargai kerja keras diri sendiri, memilih untuk tetap baik-baik saja. Semua adalah pilihan kawan-kawan sekalian.

You do you.

Hari ini ada orang yang tidak ramah kepada kita, tidak baik kepada kita, tidak masalah. Uang 100 ribu rupiah tidak akan menjadi 100 ribu rupiah dengan sanjungan orang, tidak akan kehilangan nilai 100 ribu rupiahnya karena diinjak-injak. Uang seribu rupiah tidak akan menjadi 100 ribu meskipun saya meneriaki uang itu 'kamu 100 ribu, kamu 100 ribu'. Orang gila kali saya ini hahahaa

Begitupun kita, kita tidak akan menjadi lebih baik hanya karena didengung-dengungkan pujian, disanjung-sanjung setinggi langit. Pun bukan berarti kita buruk jika kita dihina, dimaki ataupun diremehkan. 

Kita ingin menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu pilihan kita, keputusan kita sendiri, tidak ada urusan dengan orang lain.

Untuk hal-hal seperti ini, mungkin kita sudah lumrah dengan ilmunya, sudah tau, sudah sering lihat dan dengar. Tapi, aplikasinya mungkin belum. Masih sulit, masih gimana gitu ya hahahaa

Mulailah belajar, saya masih belajar, kita sama-sama belajar.
Belajar mengendalikan diri, mengendalikan hati, mengendalikan pikiran. 

Biarlah orang lain juga melakukan pekerjaan mereka sendiri, mengendalikan diri, hati, dan pikiran mereka masing-masing. Biarlah setiap orang belajar, karena semua dimulai dari diri sendiri.

Jadi, dalam hal ini, mon maap nih ya mbah Newton yang kuhormati dan kufavoritkan ilmunya selama masa sekolah bahkan sampai sekarang ini, F reaksi tidak harus selalu besarnya sama dengan F aksi (dengan arah berlawanan). Tidak selamanya pukul dibalas dengan pukul, maki dibalas dengan maki.
Kita masih bisa belajar lebih bijak, lebih baik. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri. Lebih berdamai dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain. 

Jika kita bisa mengendalikan hati dan pikiran kita, maka sudah pasti, kelegaan itu ada, kemandirian (ketidaktergantungan) itu ada, dan kebahagiaan itu ada. 

See ya at [lima belas]
Cheers,
Em 🙆

Sunday, 3 November 2019

[tiga belas] Waktu adalah Rasa

Time is not measured by clocks, but by moments
- Anonymous -
Halo teman-teman semua,
Finally, I come back after about 2 months hehee yup, blog ke tiga belas wkwk
Kali ini kita akan bahas tentang waktu, quite familiar, quite common topic, but let's see ..

I bet you guys, all of you, semua teman-teman yang baca ini pasti pernah merasakan ini, termasuk saya '1 jam serasa 1 menit', '5 menit terasa 5 jam', atau mungkin kalian pernah berpikir seperti 'duh, ini 10 menit terlama dalam hidup gue' iya gak sih?

Kalau kita ingat kembali waktu belajar fisika pas sekolah dulu, waktu adalah suatu besaran, bisa diukur mungkin dengan detik, menit, hari, tahun dan seterusnya. Kalau kita menghabiskan waktu 15 menit untuk menghabiskan semangkuk bakso maka meski di luar angkasa pun kita juga akan tetap menghabiskan waktu 15 menit. 15 menit adalah 15 menit, you can count it.

The other thing is, waktu tidak sesederhana itu, karena lebih seringnya kita mengukur waktu dengan perasaan. Membaca buku pelajaran selama 1 jam beda rasa lamanya dengan membaca novel 1 jam. Menghabiskan waktu dengan teman atau dengan pacar akan selalu terasa lebih cepat dibandingkan menghabiskan waktu belajar di kelas, meskipun dengan durasi yang sama. 

Waktu senantiasa demikian, dipengaruhi oleh perasaan.

Waktu adalah sesuatu yang mutlak, itulah mengapa stopwatch diciptakan. Tapi lebih dari itu waktu sangat relatif, karena perasaan manusia itu ada dan nyata. Mutlak tapi relatif, hmm cukup menarik.

Pertanyaannya, pernah kah kita benar-benar merasakan waktu? 

Setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda-beda ketika ditanya '1 jam itu seperti apa?'. Karena setiap orang akan menjawab sesuai pengalaman 1 jam nya masing-masing. Tak bisa dibandingkan 1 jam seorang dan orang lain.

Karena waktu adalah rasa, seringkali perasaan terlalu jauh terlibat dalam masalah waktu. Mungkin tidak dialami semua orang, tetapi cukup sering kita mengomel, ngedumel, dan kategori sejenisnya untuk sesuatu hal yang berkaitan dengan waktu. 

Mungkin kita perlu belajar melihat waktu yang sebenarnya, mungkin perlu belajar mendengar detak jarum jam.

Mungkin topik kali ini agak kurang penting atau kurang relate dengan banyak orang, tetapi ada hal lain yang menurut saya bisa saya amati dari diri saya sendiri ataupun dari orang lain bahwa untuk sesuatu yang indah, nyaman, bahagia, waktu bukan menjadi masalah tapi untuk hal yang tidak nyaman, waktu bisa jadi menjadi masalah. Menonton drama korea dari pagi sampai pagi bukan masalah, bermain game sepanjang hari bukan masalah, tetapi belajar 1 jam saja menjadi masalah, mendengarkan orang berbicara selama 30 menit bisa jadi juga adalah masalah. 

Maka dari itu, mungkin kita perlu lebih adil dengan waktu, lebih merasakan waktu, merasakan 15 menit sebagai 15 menit, merasakan 2 jam sebagai 2 jam.

Agak absurd memang hahhaa mohon maaf 

Mungkin inti dari topik ini yang ingin saya sampaikan kurang tersampaikan, tetapi ya begitulah, jika nanti ada kesempatan dan bisa mendeskripsikan dengan lebih baik topiknya akan saya tulis lagi hehhee

Memang tak bisa dipungkiri, waktu lebih banyak diukur dengan rasa, but don't let the feeling takes all away. Kadang kita harus menerima untuk menunggu 15 menit, untuk mendengarkan 1 jam, untuk duduk diam 30 menit. 

If you get what I mean wkwkwk

Anyway, terima kasih teman-teman yang sudah membaca blog saya ini yang masih banyak kekurangannya, semoga bisa memberi insight positif. If you have any idea to discuss or any suggestions, feel free to drop in email at emilia.utomo@gmail.com, I'd be more than happy to share, thank you!

Sampai jumpa di [empat belas],
Cheers,
Em 🙆