Monday, 20 December 2021

[empat puluh sembilan] see you when I see you again, Belfast!

After 2 years and a half, it's finally time to go home. Honestly, I never expect that it will be this sad, really. I would say I've been through a lot of come and go in this life. And I can even say I've gone through the hardest one, losing my loved ones. And that's why it comes to me that there would never be something as sad as those things. However, here I am, really sad of leaving Belfast with all the memories there. 

Ya jadi begitulah,

Setelah melihat-lihat kembali, wah kok ini levelnya sudah mirip kedukaan yah hahaaa ya mungkin masih 1 2 level di bawahnya. Tapi, getting your tears down on airplane adalah sesuatu buat saya wkkkww atau waktu liat postingan terus berkacaa-kaca hhhaa sepertinya baru kali ini. Anyway, hal yang mirip pernah juga terjadi waktu saya selesai KKN beberapa tahun lalu. Saya pun sepertinya menyadari kalau living together with someone you never or barely know before can bring some kind of attachment of you to them. Waktu KKN, saya tinggal dengan 9 teman yang sebelumnya tidak pernah saya kenal selama 2 bulan. Dan pada akhir masa KKN itu, rasanya memang sedih sekali. A key point that I think made me feeling so sad is because I don't know if I will ever experience the same thing again in the future. KKN tidak dua kali, kalau ke Belfast? Who knows, tapi kecil kemungkinan bisa ke sana lagi. S2 juga tidak dua kali yaa wkkwkw So, mungkin begitu ya. Really, it was so so sad at that/this moment.

One thing, special mention for Kak Qoni, my room mate. Apa-apa selalu sama-sama. I think you are the most reason that made this leaving day so difficult. Apalagi 1 tahun terakhir yang betul-betul sama-sama setiap hari. Those things that I might never experience again. Thank you for everything Kak, I know you'll be just fine, same as me. We'll be okay and let's see each other again in the future :)

Take things aside, I realise that attachment is really human's weakness. Masih melekat. That's why it's so sad when you need to let something go, apalagi kalau banyak memori indah di situ. It's okay, the process is on going, things are still improving.

All in all, thank you Belfast, you are not only a place now, you're home. 

I'll see you when I see you again :)

Hope to come back one day.


Sampai ketemu di [lima puluh]

Cheers,

at quarantine, Em 🙆

Sunday, 10 October 2021

[empat puluh delapan] orang dewasa

Hello, lama sekaliii sejak terakhir ngepost wkwkk 

Agak sibuk alias malas hahahaaa 

Yak, jadi hari ini mau cuap-cuap soal being an adult, atau orang dewasa. Ada yang bilang di atas 17 tahun, 18 tahun, 21 tahun, atau 23 tahun? Yah itulah yaa, it means that I am ... an adult wkwkwkw

What is it like being an adult?

Masih ingat waktu masih kecil dulu, mungkin TK SD, apa sih yang kita pikirkan? Hari ini main apa, main di mana, main sama siapa, atau paling berat apa ya, kerjain PR mungkin? Atau waktu dimarahin orang tua karena nakal wkwkkw kayaknya hidup itu seasik itu yaaa

And then, here we are, beranjak dewasa, mulai banyak yang dipikirkan, mulai dari pelajaran matematika yang mulai sulit, pelajaran fisika kimia biologi yang mulai bikin puyeng, konflik-konflik persahabatan yang mulai muncul ye kaan, konflik cinta monyet wkwkkwkw sampai masalah karir dan kehidupan.

Orang bilang ketika dewasa, ego kita mulai berkurang, tapi yang mungkin terjadi, ego itu selalu ada, hanya bentuk nya yang berbeda. Mungkin dulu kita masih merasa pendapat kita paling benar, kalau sekarang kita bisa menerima pendapat orang lain, tapi kita mungkin ingin diacknowledge ketika kita bisa menerima pendapat orang lain. Kadang-kadang seperti itu bukan? Di satu sisi, kita butuh kepastian hidup, tapi di sisi lain, kita juga tahu semuanya selalu berubah.

Mungkin kita rindu masa kecil kita, ketika tidak perlu berpikir terlalu banyak. It was so much fun wkwkkw. Mungkin karena itu orang dewasa juga kadang-kadang butuh main, biar refreshing heheee.

Being an adult is sometimes hard. You need to deal with a lot of things, yet need to keep your mind clear. 

But that's life. Everyone has their own struggle, don't they?

No more to say because don't know what to say, need to think a little bit more on this wkwkwkw


Sampai ketemu di [empat puluh sembilan]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 18 August 2021

[empat puluh tujuh] refleksi proklamasi

Indonesia Raya, Merdeka Merdeka

Hiduplah Indonesia Raya ...


Tujuh puluh enam tahun yang lalu, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang untuk pertama kali, ketika bendera merah putih dikibarkan untuk pertama kali, saat itulah menandai lahirnya sebuah negara berdaulat yaitu Indonesia.

Hari ini, 17 Agustus 2021, kita kembali memperingati hari kemerdekaan Indonesia, hari dimana rakyat Indonesia sudah terbebas dari penjajah, hari dimana rakyat Indonesia memulai lembar kehidupan yang baru, yang lebih baik. Sudah lebih dari tiga per empat abad, negara ini merdeka, pertanyaan nya adalah apakah kita sekarang sudah benar-benar merdeka? apakah dalam rentang waktu kemerdekaan ini kehidupan masyarakat jauh lebih baik?

Menurut saya, setiap ada hal yang diperingati, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah merenung, refleksi, introspeksi. Khususnya kita-kita generasi muda ini, sepertinya berkarya saja tidak cukup, penting juga untuk sesekali melihat ke dalam. Tentunya di hari kemerdekaan ini, kita semua mengharapkan hal-hal yang baik untuk negara kita tercinta. Ingin Indonesia lebih baik, lebih makmur, lebih maju, dan lebih-lebih lainnya. Tapi, untuk mewujudkan semua itu bukan hal yang mudah. Bagi pejabat-pejabat yang sekarang memegang peranan penting mungkin  juga punya harapan yang sama, tapi tidak banyak juga dari mereka yang melakukan kelalaian. 

Saya sering berpikir apa yang salah ya, apakah sistemnya, atau manusianya. Sistem nya oke tapi kalau manusia nya belum siap? Atau manusianya sudah siap tapi sistemnya amburadul?

Sampai sekarang, saya pun tidak tau jawaban benarnya apa. 

Sejauh ini, saya masih pada keyakinan 'lihatlah ke dalam'. Saya tidak bisa mengubah sistem, tapi saya bisa mengubah diri saya, apa yang harus saya lakukan. Menurut saya cukup penting bahwa di momentum ini, kita semua membangun kembali kesadaran kita. Kalau pejabat sekarang banyak yang korupsi, maka yang kita lakukan sekarang adalah bercita-cita jika suatu hari kita ada di posisi tersebut maka kita tidak akan melakukannya. Kenapa? Karena kita sadar betul tanggung jawab dan amanah kita. Kita sadar betul apa yang benar apa yang salah untuk dilakukan. Kita tahu dan sadar, yang mana saat ini saya pikir banyak orang yang tidak memiliki hal ini. Kita bisa kok, dari segi kemampuan intelektual, kreativitas, bisalah kita, netijen Indonesia kreativitasnya luar biasa. Kita hanya kadang-kadang kurang sadar (mungkin). Kalau semua orang sadar posisi, sadar hak, sadar kewajiban, sadar tugas, sadar tanggung jawab, saya pikir semua harusnya baik-baik saja.

Yah, tulisan saya amburadul hahaha sama amburadulnya kalau ditanya tentang negara kita. Kadang-kadang cuma bisa geleng-geleng, kok bisa ya hahahaa

Tapi di samping semua kekurangannya, Indonesia tetaplah Indonesia, negara, tempat lahir, kampung halaman yang kita cintai dan banggakan. Saya pribadi bangga sekali menjadi orang Indonesia, tumbuh besar dengan berbagai keragaman agama, budaya, suku, bahasa, tapi tetap bisa hidup harmonis, selaras, dan berdampingan. Sesuatu yang langka dan mungkin tidak ada di negara lain. Bangga sekali.

Semoga kita-kita ini, generasi muda bangsa ini, lima, sepuluh, lima belas tahun ke depan, bisa membawa Indonesia lebih baik, lebih maju. Saya yakin kita tidak kalah bersaing dengan negara lain. Kita bisa liat banyak prestasi di luar sana. Kita juga bisa kok. Yang terpenting adalah kita bangun kembali kesadaran dan kecintaan kita dengan nilai-nilai luhur yang sudah ada. Pancasila itu fundamental tapi kadang-kadang kita lupa penerapannya. Sesempurna apapun sebuah sistem, jika sumber daya manusia nya belum siap maka sama saja, tidak akan memberikan hasil yang signifikan. Maka, sungguh baiknya jika kita belajar banyak agar kita sudah siap bukan hanya dari segi intelektual tapi dari segi emosional, akhlak, moralitas, pola pikir, soft skills. Masa depan yang cerah itu menanti, kawan. Semangat dan selamat berkontribusi di bidang masing-masing :)

Cukuplah ya sepertinya wkwkwkk ngalor ngidul 

Dirgahayu Indonesiaku yang ke-76, Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

Tetaplah kuat di sana, rakyatmu sedang berjuang, tetaplah membersamai, masa depan cerah itu ada menanti di depan sana :)

Semangat ya teman-teman untuk Indonesia yang lebih baik

Damn! I love Indonesia!!! Merdeka!

Sampai ketemu di [empat puluh delapan]

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 10 August 2021

[empat puluh enam] this is us - this is Kevin, Kate and Randall (3)

Love like Jack, strong like Rebecca, charm like Kevin, dream like Kate, and forgive like Randall

-this is us-

Halo halo halo semuaaa, semoga sehat-sehat selalu yaaa

Jadi, setelah sebelumnya cerita tentang mamak bapaknya, sekarang kita cerita tentang anak-anaknyaa..

Seru kali laaaah cerita tentang ketiga anak ini, mereka disebut Big Three! Jadi, sebenarnya Rebecca itu hamil anak kembar tiga tapi sayangnya anak ketiganya tidak bisa lahir dengan selamat. Lalu, pada hari yang sama ada seorang anak yang dibuang dan dibawa ke rumah sakit yang keranjangnya kebetulan bersebelahan dengan keranjang Kevin dan Kate. Lalu, Jack dan Rebecca akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak itu, sehingga mereka tetap punya 3 anak.

Jadi, banyak ya isu-isu yang diangkat dalam film ini, salah satunya diversity. Randall adalah anak berkulit hitam yang diadopsi oleh keluarga kulit putih. Di sini kita bisa melihat bagaimana Randall merasa berbeda dibanding saudara-saudaranya dan bagaimana dia berusaha mencari jati dirinya, mencari orang tua kandungnya. Menarik sekali melihat bagaimana konflik yang muncul dari perbedaan ini, kayak Jack dan Rebecca tidak ingin memperlakukan Randall secara berbeda padahal memang sebenarnya Randall ini berbeda. Ada treatment-treatment yang dilakukan orang-orang berkulit hitam yang tidak dilakukan orang berkulit putih, misalnya alat cukur yang sesuai, penggunaan sun screen, dll. Intinya adalah perbedaan itu ada tapi bukan berarti harus ada perpecahan karena perbedaan. Di sini juga bisa dilihat bagaimana Kevin dan Kate itu sayang dengan Randall seperti saudara mereka sendiri.

Selain diversity, ada pula isu-isu lain yang diwakilkan oleh masing-masing anak ini. Kevin dengan isu ketergantungan alkohol, Kate dengan isu berat badan berlebih, dan Randall dengan isu kecemasan. Menurut saya, isu-isu ini hadir di kehidupan kita sehari-hari dan kita bisa banyak belajar dari film ini. Banyak hal menarik dan indah yang bikin kita terharu dari kelakuan tiga bersaudara ini. Tak bisa dipungkiri banyak konflik, khususnya antara Kevin dan Randall. Tapi, at some point, they still need each other, and noone knows themselves better than each other. Mungkin mereka bisa berbeda pendapat, bertengkar, tapi pada akhirnya mereka saling membutuhkan satu sama lain. That's just what siblings do.

I will not put too much words in here. I will put one part of the stories that really open my eyes.

Jadi, saya lupa di season berapa dan episode berapa, intinya di scene Kevin masuk rehabilitasi gegara kecanduan alkohol dan pihak rehabilitasi memanggil semua keluarganya untuk ngobrol untuk mencari kenapa sih Kevin ini bisa kecanduan, ya semacam itulah. And boom! saat itu terkuaklah semua perasaan yang dipendam. Jadi Kevin ini merasa sejak kecil dia itu tidak diperhatikan. Ya, wajar, kalau ktia nonton filmnya, sangat terlihat bahwa Jack sangat perhatian kepada Kate, pokoknya kayak si bapaknya ini perhatian sekali dengan Kate. Sedangkan Rebecca sangat dekat dengan Randall apalagi setelah Jack meninggal. Jadi, Kevin ini merasa sejak kecil dia itu tidak diperhatikan dan tidak ada yang bisa dia banggakan begitu dibandingkan Randall dan Kate. Sampai ketika Rebecca cerita ke Kevin ini, jadi dulu waktu mereka pertama kali masuk sekolah, Randall dan Kate itu  nangis-nangis tidak mau masuk ke kelas. Sedangkan, Kevin dengan berani berjalan sendiri masuk ke kelasnya. Kata Rebecca, pada saat itu mereka sebagai orangtua ini tau kalau Kevin itu anak paling kuat, so they didn't put too much effort in him. 

Jadi, kita bisa liat di sini ada dua sudut pandang yang berbeda. Dari Kevin yang merasa dia tidak diperhatikan dan di sisi orangtuanya yang melihat bahwa oh anaknya ini anak yang kuat sehingga tidak perlu special treatment, which is mereka pasti bangga dengan anaknya. Jadi bagaimana ya, kayak ironi bahwa kadang-kadang sebagai anak kita tidak paham dengan sudut pandang orangtua, begitu juga dengan orangtua kadang-kadang apa yang mereka maksudkan tidak bisa tersampaikan dengan baik ke si anak.

Selain itu, di film ini juga kita liat bagaimana keberhasilan Jack dan Rebecca sebagai orang tua terlepas dari semua kekurangan, yang paling keren adalah Kevin, Kate, dan Randall melihat orang tua mereka sebagai orang tua yang luar biasa yang bahkan mereka pikir they cannot be parents like their parents. And at the end of the day, family comes first, always.

That's the Big Three - Kevin Pearson, Kate Pearson, and Randall Pearson

Other than that, I think there is no such beautiful siblings and family story rathen than this wkwkkw teman-teman bisa nonton, and let me know, but for me, sedih senang lucu haru bangga bahagia ada semua di film ini. Keren lah wkwkkw banyak pelajaran yang bisa diambil. I cannot remember everything in the story but I cannot forget my feeling when I watched it.

Am waiting for season finale yuhuuuuu

Gitu ajalah ya bacotan saya hahahaha

Sampai ketemu di [empat puluh tujuh],

Cheers,

Em 🙆

Monday, 28 June 2021

[empat puluh lima] this is us - this is Jack and Rebecca (2)

'I am thankful for my family. I am thankful that we're all safe and there's no one in the world that I'd rather be too hot or too cold with'

-Jack Pearson-

Halooooo halo semuaaaa

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, kali ini saya mau cerita tentang tokoh Jack Pearson dan Rebecca Pearson di serial This Is Us. Tentunya ini pandangan super subjektif saya dengan tokoh ini yaaa wkwkkw

Jadi, di film ini, Jack Pearson adalah seorang suami dan seorang ayah dari 3 orang anak kembar. Sedangkan, Rebecca Pearson adalah istri nya atau ibu dari anak-anak mereka (pastinya) wkwk. 

I will start with Jack,

Intinya Jack ini adalah sosok yang suami-able dan bapak-able banget. Di beberapa review dikatakan kalau Jack ini Dream Dad karena memang dalam cerita ini Jack adalah seorang yang bisa melakukan apa saja dan mengorbankan apa saja untuk keluarganya, untuk istri dan anak-anaknya. Menurut saya pribadi, banyak hal yang bisa dipelajari dari si Jack ini. Saya akan share beberapa yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Salah satu scene yang paling menarik adalah ketika Jack ini mencuci piring. Kenapa menarik? wkwkw Jadi ceritanya saat itu Jack sedang makan malam bersama ibunya di rumah salah satu teman ibunya. Terus setelah makan malam, ibunya dan temannya pergi keluar, jadi tinggallah si Jack ini di rumah. Tak berapa lama, Rebecca ternyata menyusul ke rumah itu untuk ketemu Jack. Terus, Jacknya bilang ke Rebecca kalau dia mau beberes dulu karena habis makan. Jadilah dia mencuci piring. Btw Rebecca itu nanti jadi istrinya si Jack ini. Nah, saat itu Rebecca ini kaget karena kok ada ya cowok yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga karena ayahnya Rebecca ini tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sementara bagi Jack sendiri mengerjakan pekerjaan rumah adalah hal yang biasa-biasa saja. Di sini terlihat kalau latar belakang keluarga yang berbeda membuat persepsi yang berbeda.

Trus, dari Jack juga saya belajar kalau bukan lingkungan kita yang menentukan kita, tapi kita sendiri. Jadi Jack mempunyai hubungan yang kurang baik dengan ayahnya karena ayahnya sering KDRT dengan ibunya jadi dia sangat benci dengan ayahnya. Tapi ketika dia menjadi seorang ayah, dia berjanji kalau dia tidak akan menjadi ayah seperti ayahnya. Dan benar ketika dia jadi ayah, dia adalah ayah yang hampir sempurna. Diceritakan juga kalau demi keluarganya dia rela mengubur mimpinya untuk membangun sebuah usaha meskipun dia tidak terlalu suka dengan pekerjaannya saat ini. Karena dia tau kalau besar risiko untuk membuka suatu usaha. Jadi, kayak tanggung jawab seorang ayah benar-benar ditunjukkan dari tokoh Jack ini. Nah, dari sini saya berpikir kalau latar belakang keluarga yang kurang baik belum tentu membentuk seseorang menjadi kurang baik juga. Bisa jadi dia mau mematahkan hal-hal yang tidak baik itu di kehidupannya. Jadi, ya tergantung masing-masing.

Satu lagi, sosok Jack Pearson dalam cerita ini adalah orang yang bisa membuat sesuatu yang berkesan dalam keluarganya, menciptakan tradisi-tradisi baru yang saking berkesannya sehingga diteruskan oleh anak-anaknya di keluarganya masing-masing. It is really interesting how Jack Pearson creating something special in the family which make the whole family think that they are special and extraordinary. Membuat tradisi thanksgiving, ulang tahun, nonton football, natal. Menarik sih wkwkw. Salah satunya yaitu tradisi thanksgiving, ketika mereka terjebak di tengah perjalanan menuju rumah ibunya Rebecca karena ban mobil mereka pecah. Terus mereka menginap di salah satu penginapan aneh tanpa makanan. Jadi, yang dilakukan oleh Jack adalah membeli cemilan seadanya dari sang pemilik penginapan dan membeli sebuah topi. Lalu, dia berperan menjadi tokoh Pilgrim Rick yang akhirnya menjadi ikon Thanksgiving keluarga ini dari tahun ke tahun hingga menurun ke anak-anak mereka. I can't explain it in detail, tapi bagaimana Jack bisa mengubah malam yang menyedihkan itu menjadi malam yang menyenangkan dan tentunya berkesan untuk keluarga mereka adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Only Jack can do it.

Oh iya, di balik semua kesempurnaannya, Jack is still human. Dia seorang alcohol addict karena sepertinya turunan dari ayahnya yang juga seorang alcohol addict. Akan tetapi, karena dia begitu sayang dengan keluarganya, he works so hard to stay sober. At the end of the day, Jack is a family man, dream dad.

Let's move to Rebecca,

You can see a lot of love in her, but also pain. Dalam filmnya, Rebecca ini menyimpan sebuah rahasia yang besar yang akhirnya terkuak 37 tahun kemudian. Di samping itu, Rebecca menjadi single mom karena Jacknya meninggal ceritanya. Rebecca jadi sosok yang penting dalam film ini, dan kita bisa belajar banyak dari Rebecca sebagai orang tua. And when I watched this film, I can think like oh ini loh ternyata sudut pandangnya orang tua, gitu wkwkkww Same as Jack, we can take a lot to learn from Rebecca, here we go. 

Jadi, Rebecca ini berasal dari keluarga yang cukup 'mampu', tapi dia berani untuk keluar dari zona nyamannya untuk bersama dengan Jack, yang bisa dibilang tidak berasal dari status sosial yang sama. Bisa dilihat ketika ayahnya si Rebecca ini mengajak Jack makan di sebuah restoran, Jack menyewa jas untuk dipakai ke acara tersebut. However, keputusan Rebecca ternyata tepat dan berakhir manis. Dia ternyata tidak melihat laki-laki hanya dari 'luar'nya saja, tapi bagaimana sikap dan tanggung jawabnya Jack won her heart wkwk

Terus, she can give up on things for her loved ones. Jadi, di ceritanya ini awalnya Rebecca ini ndak mau punya anak. Sebaliknya si Jack mau punya anak. Tapi, pada akhirnya Rebecca nya jadi mau dan terbukti ternyata setelah dia jadi ibu dia benar-benar menjadi ibu yang baik. Terus juga, setelah punya anak, dia memilih untuk tidak berkarir lagi. So, she chose the family as  her priority. That's her choice. But I am still amazed wkwk kenapa? karena mengurus 3 anak kembar tidak mudah hahahaa

The last one, you can see a lot of love, yet lots of pain. Dari Rebecca ini kita bisa lihat bagaimana sikapnya kepada ketiga anak kembarnya itu kadang-kadang di luar kontrol dia. Apa yang dia maksud, apa yang dia mau, apa yang dia lakukan, dan apa dampak dari apa yang dia lakukan kadang-kadang tidak mudah. Dalam film ini, bukan hanya Rebecca, tapi Jack juga, di satu sudut pandang kita melihat bahwa kadang-kadang mereka tidak berlaku adil ke anak-anaknya. Tapi, di sisi lain kita juga dikasih liat bahwa there is nothing they can do with it. Jadi, kayak dilematis lah begitu. Terus, being a single mom is not easy, ketika dia harus membesarkan anak-anaknya di usia-usia puber which is 17 tahun, belum lagi proses grieving mereka masing-masing. She kept a lot of things inside her :') and I think that's what mostly moms do.

I know this is not a good writing hahahaa dan mungkin ini kayak 0.01% dari Jack dalam film. Tapi pokoknya menarik sekali lah hahhahaa intinya Jack adalah dream Dad, rasanya semua orang mau punya bapak kayak Jack. Sayang istri, sayang anak-anak, baik hati, bertanggung jawab, tegas tapi tidak galak. He is the most favorite person in the family. Sayangnya, Jack harus meninggal ketika usia anak-anaknya 17 tahun yang berarti Jack tidak hadir dalam plot cerita dengan latar belakang waktu saat ini. Akan tetapi, semua kejadian yang berlangsung saat ini selalu berkaitan dengan Jack karena dalam 17 tahun kehidupan anak-anaknya, Jack meninggalkan kesan yang begitu kuat. Sebaliknya, Rebecca menjadi pemeran utama dalam film ini, dia terus baik di latar waktu masa lalu maupun masa sekarang. Mungkin tidak seperti Jack, Rebecca is not the most favorite person in the family. Banyak konflik antara anak-anaknya dengan Rebecca, however, at some point, we can see the pure heart of Rebecca, yang sedihnya selama ini anak-anaknya tidak melihat sisi itu sampai akhirnya mereka baru sadar ketika mereka dewasa.

That's Jack Pearson and Rebecca Pearson.

Sampai ketemu di [empat puluh enam]

Cheers,

Em 🙆

[empat puluh empat] this is us (1)

Hello semuaaaaaa ..

I think I will get back to spare some of my time watching movies, reading books, and playing games. Although I have to admit that I spent most of the time playing games hahhaa candy crush hahahhaa agak game aholic mmg saya huhuuu dan mungkin akan sy share beberapa film atau buku yang menarik, hmm let's see wkwkwk

Anywayy, kali ini, sy mau cerita sedikit tentang salah satu serial drama judulnya adalah This Is Us. Ini adalah drama keluarga Amerika Serikat yang menjadi salah satu favorit saya sejauh ini karena ceritanya yang cukup relate dengan pengalaman saya pribadi. Saat menonton film ini, saya jadi sadar kalau ternyata sebuah film itu menjadi bagus kalau kita relate atau punya pengalaman emosional yang mirip dengan cerita tersebut. Nah, sharing dikit, saya nonton ini di AmazonPrimeVideo kebetulan karena langganan Amazon juga. Awalnya saya tidak tertarik nonton ini karena sudah sampai season 5 yang berarti harus saya kejar dari season 1 hahahaa, tapi karena sering muncul di home page jadi sy tertarik dengan judulnya. Karena menurut saya seperti nya ada sesuatu dalam film ini sampai judulnya adalah this is us, seolah-olah kayak mau nunjukin kalau iniloh kita hahaaa daaan akhirnya memang filmnya bagus pemirsaaaah, emosional sekali huhuhuu banyak juga pelajaran yang bisa saya dapat dari film ini wkwkkw 

Saya cerita dikit sinopsisnya ya hahahaa

Jadi, ini cerita tentang Pearson's family, sebuah keluarga berkulit putih di USA tepatnya di Pittsborough, sepasang suami istri yang memiliki 3 orang anak kembar alias triplets. Konflik utamanya di sini bermula ketika istrinya hamil kembar 3, tetapi ternyata salah satu anak mereka tidak dapat lahir dengan selamat. Akan tetapi, di hari yang sama ada seorang bayi berkulit hitam yang ditemukan di kantor pemadam kebakaran lalu dibawa ke rumah sakit yang sama di tempat sang istri itu melahirkan. Singkat cerita, pasangan suami istri ini akhirnya mengadopsi bayi berkulit hitam itu sehingga mereka tetap pulang dari rumah sakit membawa 3 orang anak kembar. 

Secara umum, tidak ada konflik khusus misalnya ada pembunuhan yang mau dipecahkan, tidak ada. Jadi hanya konflik keseharian layaknya kita hidup sehari-sehari. Konflik keluarga, tentang perbedaan ras, trust issue, diskriminasi, mental health, body shaming, gender issue, ya cukup banyak konflik2 yang diangkat. Alurnya juga menarik. Saya sendiri belum pernah nonton drama yang alur nya maju mundur. Tapi, bukan hanya itu yang menariknya adalah bagaimana si pembuat film ini bisa menceritakan alur maju dan mundur dengan menarik satu benang merah atau momentum atau peristiwa yang sama yang terjadi di masa sekarang dan masa lalu. Jadi, overall ceritanya ini totalnya ada 4 generasi bahkan bisa lebih di beberapa episode, karena plot ceritanya itu saat sekarang ini 2021, 40 tahun yang lalu yaitu saat bayi kembar 3 ini lahir, dan saat pasangan suami istri ini masih muda. Jadi ada beberapa latar belakang waktu yang berbeda. Tapi ceritanya sungguh menarik. Sekarang saya lagi menunggu season 6 yang katanya akan tayang tahun depan yang juga menjadi season finaleeee, wowowowowwww hahahaa *overexcited sayaaa

Tapi secara keseluruhan banyak pelajaran dan refleksi yang bisa saya petik dari film ini sih. Dan mungkin untuk postingan berikutnya saya akan menceritakan beberapa tokoh utama dalam film ini, yang pasti adalah pasangan suami istri Jack dan Rebecca, serta ketiga anak mereka yaitu Kevin, Kate dan Randall. Kalau sempat mungkin tokoh lain juga akan saya ceritakan wkkwkww

Intinya filmnya seru sekali, a very heart-warming film, silahkan teman-teman nonton kalau berminat. Kayaknya sih ada juga di channel NBC.

Segini dulu untuk kali ini, takut kepanjangan, tapi postingan berikutnya saya akan cerita tentang Jack, sang ayah. Postingan ini hanya untuk saya sharing-sharing saja hahahaha mumpung ada waktu luang.

Btw, sehat-sehat ya teman-teman semua, stay safe!

Sampai ketemu di [empat puluh lima]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 23 June 2021

[empat puluh tiga] you never fail me

even at the lowest point, you are the one who never leave your side

-not too good quote-

 

Beberapa waktu lalu seperti yang sudah saya sampaikan di postingan sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan ujian akhir dalam studi saya. Kurang lebih seminggu sebelum ujian tersebut saya cukup khawatir dan takut, takut kalau tidak bisa jawab, takut kalau gagal, takut kalau tidak lulus, banyaklah pokoknya. Tapi ternyata ketika ujiannya berlangsung, saya bisa melaluinya dengan cukup baik.

Pun kemarin baru saja saya mendapatkan vaksin covid. Sebelum vaksin cukup banyak yang saya pikirkan. Bagaimana ya kalau nanti sakit setelah vaksin, nanti demam ga bisa beraktivitas siapa yang mau mengurusi, bagaimana kalau ada komplikasi, bagaimana kalau setiba di tempat vaksin nya ternyata saya ditolak karena alasan ini dan itu. Tapi ternyata pas vaksin baik-baik saja, tidak ada efek samping apa-apa. Nyeri dikit tapi ya okelah masih bisa jungkir balik hahhahaa 

You never fail me.

You adalah saya dan me juga adalah saya. Hehehehe. You must think that you should stop reading nonsense stuff like this hahahaa 😅

Dalam hal ini, saya cuma mau bilang kalau kadang-kadang kita meragukan diri kita sendiri, padahal sebenarnya kita bisa kok. Bahkan di saat kita meragukan diri kita sendiri, diri kita sendiri tetap berusaha melakukan yang terbaik supaya tidak mengecewakan. 

Agak aneh.

Memang.

Mungkin.

Tapi coba kita pikir-pikir, pasti kita seringkali seperti ini, kalah sebelum bertarung, mundur sebelum mencoba. Padahal di satu sisi kita tau kalau kita pasti bisa, tapi tetap saja kita ragu. Hmmm..

Namun, tidak bisa dipungkiri juga, kekhawatiran-kekhawatiran kecil memang diperlukan untuk membuat kita tetap siaga dan tetap memijak kaki. Yang perlu dihindari adalah kekhawatiran yang berlebihan. Takarannya seperti apa? Kita sendiri yang tau.

So, mungkin tidak ada salahnya kita mengucapkan terima kasih ke diri kita sendiri untuk hal-hal yang mungkin kita pikir akan sulit kita lewati, tapi ternyata bisa dilewati dengan baik. Mengapresiasi diri sendiri pun ada baiknya, tetap dalam kadar yang pas dan sesuai, sebagai tanda syukur dan terima kasih karena meskipun di satu sisi kita ragu, tapi di sisi lain kita berusaha sekeras mungkin untuk bisa berhasil. And, we made it. Congratulations :)

Trus, trus, bagaimana kalau kita gagal?

Tetap, terima kasih karena sudah berusaha. Di sisi lain, hidup tidak selamanya berhasil terus. Kadang menang kadang kalah, kadang di atas kadang di bawah. It's okay. Maafkanlah. At the end of the day, you have tried. At least, you didnt fail yourself for not trying, which is sometimes enough. Berdamailah dan berterima kasih lah :)

See you at [empat puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 20 June 2021

[empat puluh dua] another step (1)

tidak akan pernah ada kata cukup untuk hal-hal yang bisa kita sombongkan, tapi akan selalu ada kata cukup untuk hal-hal yang ingin kita syukuri

-got from somewhere-

 

Hello everyone, glad to post something again, after quite a long time

Hope y'all safe and well

So this is a kind of appreciation post...

Really grateful to be able to achieve another milestone in life and I would like to sincerely thank everyone who has helped me during all this time. Those people who keep supporting and encouraging me through this journey. This is absolutely not a work of one as it will never be a work of only one. I owe tons of thanks to all of you. You know who you are. 

So, I just would say I don't have any words to describe how grateful I am, just it. Too cheesy, maybe, but yaah who cares wwkwkwkwk

Jadi begitu teman-teman yah hahhahaa sangat bersyukuuuuuur sekaliiii sudah sampai ke tahap ini. Tapi selain itu, ada sebuah refleksi juga yang muncul di pikiran ini. Singkat cerita, dua hari yang lalu saya sudah menyelesaikan ujian tesis saya dan dinyatakan lulus dengan gelar yang baru. Kemudian, banyak teman-teman memberi ucapan selamat. Sebuah hal yang wajar dan sangat sangat saya syukuri atas apresiasi yang diberikan tersebut (even it feels like too much for me wkwkw too much dalam arti sangat terhura begitu huhuuu). 

The condition is...

Jadi, orang-orang banyak memberi selamat dengan kata-kata 'well done, you did great, well deserved' dan kata-kata selamat lainnya. Sebagai orang yang tidak tau merespons hal-hal demikian, saya tentu jawab dengan 'thank you'. Tapi, seringkali dalam hati saya berkata kalau 'ah ini belum apa-apa banyak orang yang lebih bagus dari ini' to get my feet on the ground. 

Don't get me wrong, please, I try to bring this in the most suitable phrases hahaaa

Maksudnya adalah banyak sekali hal yang muncul dalam pikiran saya ketika saya mendapat ucapan demikian atau katakanlah (dalam tanda kutip) dipuji. Di satu sisi, saya senang dan bersyukur dengan apresiasi dari apa yang saya kerjakan. Tapi di sisi lain, ketika saya memilih merespon (dalam hati) dengan 'iya sih tapi ini belum ada apa-apanya orang lain masih banyak yang lebih baik dari ini'. Terus saya jadi mikir kok saya seperti orang yang tidak puas atau tidak bersyukur yah? Apa memang begitukah atau bagaimana kah seharusnya? Tapi saya jadi berpikir lagi tapi kan respon saya begitu supaya saya tidak takabur dan tidak berhenti begitu untuk berusaha, biar tetap jadi motivasi bahwa oh masih ada loh yang di depan situ yang bisa dicapai yang lebih baik yang lebih bisa bermanfaat. Karena kalau hanya menerima mentah-mentah 'well done, well deserved' itu kayaknya apa ya seperti ya sudah, ini sudah didapat, selesai. 

Hope you got what I mean,

Hingga ketika berpikir dan berpikir, kayaknya memang dua-dua nya perlu, sama seperti kalimat di awal sekali dari postingan ini. Kalau kita mau melihat kata 'cukup', as in the 'well done, well deserved', untuk menjadikan kita sombong dan berhenti, saya rasa tidak pernah ada kata 'cukup'. Dengan kata lain, di atas langit masih ada langit, apa sih yang mau disombongkan. Tetapi sebaliknya, kalau kita mau melihat kata 'cukup' untuk menjadikan kita bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, maka selalu ada kata 'cukup', sekurang apapun itu, pasti ada kata 'cukup' untuk kita bisa bersyukur. Tidak muluk-muluk.

Jadi, kesimpulannya, saya banyak belajar dari apa yang sudah saya jalani sejauh ini. Khususnya untuk studi selama 2 tahun ini, semua adalah proses. Milestone ini pun hanyalah bagian dari proses. Cukup untuk disyukuri dan direnungi dengan sederhana. Ibarat sebuah perjalanan, ini hanyalah sebuah lampu merah, boleh beristirahat sebentar, melihat-lihat sekitar untuk sementara waktu. Tapi ketika lampunya sudah hijau maka life must still go on karena perjalanan di depan sana masih panjang. So, after all these things, I will personally take this as a part of process, a part of life journey, always.

Merasa cukup dengan yang diperoleh saat ini untuk disyukuri tapi bukan untuk berhenti karena pastinya di depan sana banyak hal yang bisa dicapai yang tentunya untuk kebaikan.

So, to end this post, saya terima kasih kepada semuanya, tidak pernah cukup kata terima kasih saya untuk semua yang sudah saya terima sejauh ini, tapi saya bersyukur banyak sekali orang-orang baik yang sudah mau membantu dan menolong dan mendukung sampai sekarang ini. Semoga kebaikan akan kembali kepada teman-teman semua di waktu dan kondisi yang tepat dan mendukung. 

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

I think there will be another part with the same title :)

Anyway this post has nothing to do with you who read this or anyone else. This is just simply a reminder for myself. This is a bad-written post I guess hahahaa. Just a bit if I want to reflect on several things.

Alright, me signing out, 

Sampai ketemu di [empat puluh tiga],

Cheers,

Em 🙆