Monday, 28 June 2021

[empat puluh lima] this is us - this is Jack and Rebecca (2)

'I am thankful for my family. I am thankful that we're all safe and there's no one in the world that I'd rather be too hot or too cold with'

-Jack Pearson-

Halooooo halo semuaaaa

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, kali ini saya mau cerita tentang tokoh Jack Pearson dan Rebecca Pearson di serial This Is Us. Tentunya ini pandangan super subjektif saya dengan tokoh ini yaaa wkwkkw

Jadi, di film ini, Jack Pearson adalah seorang suami dan seorang ayah dari 3 orang anak kembar. Sedangkan, Rebecca Pearson adalah istri nya atau ibu dari anak-anak mereka (pastinya) wkwk. 

I will start with Jack,

Intinya Jack ini adalah sosok yang suami-able dan bapak-able banget. Di beberapa review dikatakan kalau Jack ini Dream Dad karena memang dalam cerita ini Jack adalah seorang yang bisa melakukan apa saja dan mengorbankan apa saja untuk keluarganya, untuk istri dan anak-anaknya. Menurut saya pribadi, banyak hal yang bisa dipelajari dari si Jack ini. Saya akan share beberapa yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Salah satu scene yang paling menarik adalah ketika Jack ini mencuci piring. Kenapa menarik? wkwkw Jadi ceritanya saat itu Jack sedang makan malam bersama ibunya di rumah salah satu teman ibunya. Terus setelah makan malam, ibunya dan temannya pergi keluar, jadi tinggallah si Jack ini di rumah. Tak berapa lama, Rebecca ternyata menyusul ke rumah itu untuk ketemu Jack. Terus, Jacknya bilang ke Rebecca kalau dia mau beberes dulu karena habis makan. Jadilah dia mencuci piring. Btw Rebecca itu nanti jadi istrinya si Jack ini. Nah, saat itu Rebecca ini kaget karena kok ada ya cowok yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga karena ayahnya Rebecca ini tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sementara bagi Jack sendiri mengerjakan pekerjaan rumah adalah hal yang biasa-biasa saja. Di sini terlihat kalau latar belakang keluarga yang berbeda membuat persepsi yang berbeda.

Trus, dari Jack juga saya belajar kalau bukan lingkungan kita yang menentukan kita, tapi kita sendiri. Jadi Jack mempunyai hubungan yang kurang baik dengan ayahnya karena ayahnya sering KDRT dengan ibunya jadi dia sangat benci dengan ayahnya. Tapi ketika dia menjadi seorang ayah, dia berjanji kalau dia tidak akan menjadi ayah seperti ayahnya. Dan benar ketika dia jadi ayah, dia adalah ayah yang hampir sempurna. Diceritakan juga kalau demi keluarganya dia rela mengubur mimpinya untuk membangun sebuah usaha meskipun dia tidak terlalu suka dengan pekerjaannya saat ini. Karena dia tau kalau besar risiko untuk membuka suatu usaha. Jadi, kayak tanggung jawab seorang ayah benar-benar ditunjukkan dari tokoh Jack ini. Nah, dari sini saya berpikir kalau latar belakang keluarga yang kurang baik belum tentu membentuk seseorang menjadi kurang baik juga. Bisa jadi dia mau mematahkan hal-hal yang tidak baik itu di kehidupannya. Jadi, ya tergantung masing-masing.

Satu lagi, sosok Jack Pearson dalam cerita ini adalah orang yang bisa membuat sesuatu yang berkesan dalam keluarganya, menciptakan tradisi-tradisi baru yang saking berkesannya sehingga diteruskan oleh anak-anaknya di keluarganya masing-masing. It is really interesting how Jack Pearson creating something special in the family which make the whole family think that they are special and extraordinary. Membuat tradisi thanksgiving, ulang tahun, nonton football, natal. Menarik sih wkwkw. Salah satunya yaitu tradisi thanksgiving, ketika mereka terjebak di tengah perjalanan menuju rumah ibunya Rebecca karena ban mobil mereka pecah. Terus mereka menginap di salah satu penginapan aneh tanpa makanan. Jadi, yang dilakukan oleh Jack adalah membeli cemilan seadanya dari sang pemilik penginapan dan membeli sebuah topi. Lalu, dia berperan menjadi tokoh Pilgrim Rick yang akhirnya menjadi ikon Thanksgiving keluarga ini dari tahun ke tahun hingga menurun ke anak-anak mereka. I can't explain it in detail, tapi bagaimana Jack bisa mengubah malam yang menyedihkan itu menjadi malam yang menyenangkan dan tentunya berkesan untuk keluarga mereka adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Only Jack can do it.

Oh iya, di balik semua kesempurnaannya, Jack is still human. Dia seorang alcohol addict karena sepertinya turunan dari ayahnya yang juga seorang alcohol addict. Akan tetapi, karena dia begitu sayang dengan keluarganya, he works so hard to stay sober. At the end of the day, Jack is a family man, dream dad.

Let's move to Rebecca,

You can see a lot of love in her, but also pain. Dalam filmnya, Rebecca ini menyimpan sebuah rahasia yang besar yang akhirnya terkuak 37 tahun kemudian. Di samping itu, Rebecca menjadi single mom karena Jacknya meninggal ceritanya. Rebecca jadi sosok yang penting dalam film ini, dan kita bisa belajar banyak dari Rebecca sebagai orang tua. And when I watched this film, I can think like oh ini loh ternyata sudut pandangnya orang tua, gitu wkwkkww Same as Jack, we can take a lot to learn from Rebecca, here we go. 

Jadi, Rebecca ini berasal dari keluarga yang cukup 'mampu', tapi dia berani untuk keluar dari zona nyamannya untuk bersama dengan Jack, yang bisa dibilang tidak berasal dari status sosial yang sama. Bisa dilihat ketika ayahnya si Rebecca ini mengajak Jack makan di sebuah restoran, Jack menyewa jas untuk dipakai ke acara tersebut. However, keputusan Rebecca ternyata tepat dan berakhir manis. Dia ternyata tidak melihat laki-laki hanya dari 'luar'nya saja, tapi bagaimana sikap dan tanggung jawabnya Jack won her heart wkwk

Terus, she can give up on things for her loved ones. Jadi, di ceritanya ini awalnya Rebecca ini ndak mau punya anak. Sebaliknya si Jack mau punya anak. Tapi, pada akhirnya Rebecca nya jadi mau dan terbukti ternyata setelah dia jadi ibu dia benar-benar menjadi ibu yang baik. Terus juga, setelah punya anak, dia memilih untuk tidak berkarir lagi. So, she chose the family as  her priority. That's her choice. But I am still amazed wkwk kenapa? karena mengurus 3 anak kembar tidak mudah hahahaa

The last one, you can see a lot of love, yet lots of pain. Dari Rebecca ini kita bisa lihat bagaimana sikapnya kepada ketiga anak kembarnya itu kadang-kadang di luar kontrol dia. Apa yang dia maksud, apa yang dia mau, apa yang dia lakukan, dan apa dampak dari apa yang dia lakukan kadang-kadang tidak mudah. Dalam film ini, bukan hanya Rebecca, tapi Jack juga, di satu sudut pandang kita melihat bahwa kadang-kadang mereka tidak berlaku adil ke anak-anaknya. Tapi, di sisi lain kita juga dikasih liat bahwa there is nothing they can do with it. Jadi, kayak dilematis lah begitu. Terus, being a single mom is not easy, ketika dia harus membesarkan anak-anaknya di usia-usia puber which is 17 tahun, belum lagi proses grieving mereka masing-masing. She kept a lot of things inside her :') and I think that's what mostly moms do.

I know this is not a good writing hahahaa dan mungkin ini kayak 0.01% dari Jack dalam film. Tapi pokoknya menarik sekali lah hahhahaa intinya Jack adalah dream Dad, rasanya semua orang mau punya bapak kayak Jack. Sayang istri, sayang anak-anak, baik hati, bertanggung jawab, tegas tapi tidak galak. He is the most favorite person in the family. Sayangnya, Jack harus meninggal ketika usia anak-anaknya 17 tahun yang berarti Jack tidak hadir dalam plot cerita dengan latar belakang waktu saat ini. Akan tetapi, semua kejadian yang berlangsung saat ini selalu berkaitan dengan Jack karena dalam 17 tahun kehidupan anak-anaknya, Jack meninggalkan kesan yang begitu kuat. Sebaliknya, Rebecca menjadi pemeran utama dalam film ini, dia terus baik di latar waktu masa lalu maupun masa sekarang. Mungkin tidak seperti Jack, Rebecca is not the most favorite person in the family. Banyak konflik antara anak-anaknya dengan Rebecca, however, at some point, we can see the pure heart of Rebecca, yang sedihnya selama ini anak-anaknya tidak melihat sisi itu sampai akhirnya mereka baru sadar ketika mereka dewasa.

That's Jack Pearson and Rebecca Pearson.

Sampai ketemu di [empat puluh enam]

Cheers,

Em 🙆

No comments:

Post a Comment