Sunday, 23 August 2026

[seratus enam belas] There is nothing happened in one night

Hello again everyone, I am back

So, suatu hari, di sebuah retreat, saya melihat seseorang yang sangat khusyuk bermeditasi. Tingkah laku dan gerak geriknya selama retreat juga sangat tenang. Dan sayapun membatin "wah keren sekali yaa orang bisa begitu, sementara saya masih suka gelisah dan susah duduk tenang".

Kemudian, beberapa waktu lalu, saya tidak sengaja menemukan sosial media orang tersebut, dan saya jadi mengerti mengapa dia menjadi seperti sekarang (mungkin tidak sepenuhnya mengerti sih ya karena gak kenal langsung wkkwwkw tapi somehow I got it). Dia menjadi seperti sekarang karena dia sudah lama bermeditasi, bahkan dari kecil kebiasaan itu sudah dimunculkan. 

Dari sepotong pengalaman ini, sayapun berkesimpulan bahwa apapun yang terjadi hari ini, itu bukan perkara yang dikerjakan dalam semalam, tapi hasil dari usaha dalam jangka waktu yang lama. 

Kita lihat orang yang pandai berbicara di depan umum, pasti sudah melalui itu berkali-kali. Orang yang sangat sabar, pasti sudah melatih kesabarannya dari jangka waktu yang lama. Orang yang pandai di suatu keahlian pasti sudah berlatih dalam jangka waktu lama. So, there is no such thing happened in one night. Semua pasti sudah melalui proses yang panjang.

Take home lesson nya bagi saya pribadi, kalau saya ingin seperti orang itu, saya juga harus berlatih dari sekarang. Supaya mungkin di kehidupan berikutnya, saya bisa menjadi seperti dia. Dan ini berlaku untuk banyak hal. Jika ingin mahir dan pandai di suatu hal, lakukanlah berulang. Akan gagal, akan sulit, tapi ya itulah namanya berproses. Karena tidak ada sesuatu yang instan. Tidak ada yang terjadi tanpa usaha. We, ourselves, must work on it. 

Kali ini tulisannya pendek dulu yaa. Tapi, hal ini bagi saya pribadi cukup "bunyi" dan jadi motivasi buat saya kalau tetap harus semangat, tidak ada yang gratis (termasuk MBG). Kita semua harus berusaha, berupaya, dan berjuang.

Begitulah ya wkkwkkw semoga bermanfaat

Dan buat warga wargi Indonesia yang baca ini juga, we are not okay as a citizen. Kita tetap semangat, semoga keadaan segera membaik. Dan buat pemerintah, pleasee, introspeksi, lakukan perbaikan, capek kami ini :(

Dah ya, sampai ketemu di [seratus tujuh belas],

Cheers,

Em πŸ™†

Sunday, 5 July 2026

[seratus lima belas] semakin rekat, semakin berat

Hello guys, I am back! Ternyata keskip bulan Juni yak hehhee

Its okay, mari kita lanjutkan saja, lesgoo

Pernah dak guys kalian menempelkan selotip ke kulit kalian? Terus bandingkan kalau yang ditempelkan itu selotip luka atau selotip medis yang ditempelkan setelah kita disuntik.

Yang mana yang lebih sakit?

Sudah pasti yang selotip medis ya (saya yakin kali ini kita kompak, ya teman-teman, haahhaa). Kenapa? karena dia lebih nempel, apalagi klo yg dipake waxing wkwkwk sakit banget tuhh

Nah ini yang menarik sih menurutku, beberapa kali, ketika mau melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan, sesuatu itu akan terasa lebih berat. 

In my case, misalnya habit berolahraga, habit meditasi, atau habit atthasila (yang Buddhis mungkin familiar dengan ini ya). Rasanya tuh berat sekali untuk memulai habit-habit itu. Lalu saya berpikir, hmmm kenapa demikian ya. Sampai ke suatu ide bahwa mirip seperti selotip itu, semakin berat sesuatu itu kita lakukan, artinya kita semakin menempel atau melekat pada kebiasaan yang sebaliknya.

Jadi, ketika kita sudah terlalu nyaman dengan yang kita alami (case yang sama berlaku untuk yang kita sukai, sayangi, cintai, dan lain sebagainya), tentu akan semakin sulit untuk melepas atau mengubahnya. 

What I think is, ketika rasanya itu semakin berat, itu sejenis alarm, artinya oh kita sudah terlalu melekat nih (which we shouldn't). The bad news is we are too attached, the good news is the more we attach, the more we need to loose it a little bit, and the time is there, you can still do it. 

Jadi, misalnya kalau sudah lama ga olahraga dan rasanya berat untuk memulai, oh artinya ini saatnya untuk pergi olahraga lagi, karena sudah terlalu nyaman malas-malasan yang mana kita tau itu gak bagus buat kesehatan. Artinya itulah alarm untuk memulai, bukannya mengikuti rasa malas yang ada. Apakah mudah? Tentu tidak hahhahahahaa ya ampun susah sekaliii. Tapi ya mau gimana lagi ya, secara teori kita tau mana yang baik mana yang buruk, tapi aplikasinya memang susah nya minta ampun hahhaa. At least ketika kita tau bahwa oh ini saya sudah terlalu melekat nih, itu bisa jadi motivasi untuk kita mulai try a new better habit. Intinya mulai dulu aja nanti gimana kelanjutannya baru diliat lagi. 

Kira-kira begitulah ya, not too long for this time. 

Semoga bisa jadi refleksi untuk terus memulai hal-hal baik hehehehe

Welcome July semoga banyak hal-hal baik.

Sampai ketemu di [seratus enam belas],

Cheers,

Em πŸ™†


Sunday, 31 May 2026

[seratus empat belas] Vesakh Reflection

Hari ini adalah hari Waisak. Di Indonesia, inilah satu-satunya hari raya agama Buddha yang merupakan hari libur. Jadi sebenarnya ada 4 hari raya agama Buddha, tapi saat ini yang diberikan hari libur baru satu, yaitu Waisak, yang memang adalah hari raya yang "utama". Tapi sebenarnya hari Waisak itu (menurut saya) bukan dirayakan (celebrate) tapi diperingati (ga tau apa bahasa engresnya). Hari Waisak memperingati tiga peristiwa agung, yaitu pertama, kelahiran Pangeran Siddharta, kedua, Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Sempurna (menjadi Buddha), dan ketiga, Sang Buddha mangkat (mahaparinibbana). 

So, instead of celebrating, hari Waisak lebih mengarahkan umat Buddha untuk refleksi, mengingat kembali tiga momen agung untuk mendorong latihan dan meningkatkan keyakinan. 

Kali ini saya bukan ingin bercerita secara spesifik tentang hari raya Waisak nya, tapi lebih ke agama Buddha tuh gimana sih. Kenapa mau bahas ini, karena menurut sependek pengetahuan saya, hal ini kurang gaung, bahkan di antara umat Buddha sendiri.

Jadi, hari ini feel happy and grateful di tengah kesakitan pinggang ini, alhamdulillah sudah membaik, jadi bisa ikut kegiatan dari pagi sampai soree, meskipun pake bala bantuan bantal untuk sanggahan duduk wkwkkwk tapi ya begitulah momen setahun sekali ini bisa diikuti (because pernah beberapa kali sy dak ikut puja bakti Waisak gegara adalah pokoknya hahaaa tapi wktu itu jadi berpikir bisa gitu ya, klo mmg ga ada kesempatannya, ga bisa lho puja bakti meskipun mau). 

Oke lanjut, tapi ceramah (Dhammasakaccha dan Dhammadesana) hari ini itu cukup berkesan dan menyentil dan sekedar mengingatkan kita sebagai umat Buddha #iziin. Tagline nya adalah "Engkau sendiri lah yang harus berusaha, Para Tathagata hanya menunjukkan jalan". Menurutku ini sangat apa yaa, sangat dalam (?). Susah saya menjelaskan. Tapi, what I mean is, di dalam agama Buddha, keyakinan dan pemahaman saja tidak cukup. Bukan tidak perlu ya, tetap perlu dan penting, tapi tidak cukup. You have to practice. You must. In order to reach the spiritual goal. 

Ada satu perumpamaan yang Bhante sampaikan, ketika kita ingin menyeberangi sebuah pulau dari pulau sini ke pulau sana, kita tidak pernah "meminta" atau "menyuruh" pulau sana untuk mendatangi/mendekati kita. Tapi, apa yang kita lakukan, kita berusaha menyeberang ke sana, entah bikin jembatan, entah pakai perahu. But we are the ones who get there. Bukan kita yang didatangi, tapi kita yang ke sana. So, that's how Buddhism works, you need to get there, to reach the ultimate freedom and happiness. 

And I think this is the uniqueness of Buddhism.

Sang Buddha sudah menunjukkan jalan lewat Ajaran-Nya, tinggal kita inilah yang berjuang. Tadi juga diingatkan untuk meditasi. Satu-satunya cara mencapai tujuan luhur itu lewat meditasi, pengembangan batin, supaya pikiran ini lebih terkendali dan jernih dan mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan.

Ya begitulah ya.
Yang mau saya highlight adalah dalam agama Buddha sangat menekankan pada praktik yang didasari pembelajaran. Jadi, mau belajar sampai manapun tapi kalau tidak praktik, rasanya percuma. Akan berputar-putar terus di siklus lahir-mati ini.

This post is a Vesakh reflection for myself, dan mungkin buat teman-teman yang beresonansi juga. Sebagai pengingat bahwa heyy praktek wkwkkwk jangan malas-malas belajar, jangan malas-malas meditasi supaya bisa terbebas sesungguhnya. Biar waras di dunia dan bisa terbebas sepenuhnya hehhehe

Begitu saja kira-kira.

Lately tulisanku agak kureng yah huhuuu 
Nanti coba kita garap lagi ya, kek buntu euyy wkwkkw 

Selamat Waisak ya semua yang merayakan, semoga menjadi momen untuk refleksi dan menjadi lebih baik dalam praktik Dhamma. Tetap berjuang :)

I'll see you at [seratus lima belas]

Cheers,
Em πŸ™†

Saturday, 30 May 2026

[seratus tiga belas] sakit pinggang

Sakitnya di pinggang, kata dokternya sciatica, itu berjuta rasanya wkwkkw

Kalo sakit emang pusing yaa, apalagi klo sakit fisik kyk powerless bettt khususnya untuk orang-orang yang merantau, yang tinggal sendiri, atau mobilisasi aktif pasti berasa susaaah sekalii.

Kalau tidak sakit pinggang, tidak akan ngeh kalo naik tangga itu betul-betul ditopang sama otot pinggul, otot bokong, sama otot paha. Sesederhana naik tangga yang bocil 2 tahun bisa lakukan.

Kalau tidak sakit pinggang, gak ngeh klo aktivitas duduk berdiri jalan itu tidak "semudah" itu, padahal kalau sehari-hari itu pasti sepele sekali

Kalau tidak sakit pinggang, gak ngeh klo tidur bolak balik susah karena pinggangnya gak bisa diangkat wkkkwkwk luar biasa hahahhaa

Ya begitulah yaa, memang priviles orang sakit itu menghargai kesehatan dan banyak-banyak bersyukur wkkwkwkw

Jadi ya jalani saja dan tetap berusaha cepat sembuh hehhee udumsss

Seperti kata Sang Buddha, yang meskipun sy ga bilang kata Sang Buddha, orang-orang pasti setuju

Δ€rogyaparamā lābhā

Kesehatan adalah keuntungan terbesar

Begitu saja lah ya cuap-cuapnya

Salam olahraga dan salam sehat

Sampai ketemu di [seratus empat belas]

Cheers,

Em πŸ™†

Monday, 4 May 2026

[seratus dua belas] continuing the tradition

welkam welkam welkam to the new step plus one heheee

seperti judulnya just continuing the tradition of writing a post on my birthday, just try to do some small reflections and see what I can do

Satu hal yang saya kurang senangi tentang ulang tahun adalah ketika ulang tahun saya jatohnya di hari kerja wkwkkw entah kenapa kyk males aja, lebih senang kalau ulang tahunnya ituu di weekend atau hari libur. Ini adalah ulang tahun ke-5 yg saya rayakan sejak saya bekerja, dan ini kedua kalinya ulang tahun saya jatuh di hari kerja. Kepengenannya kalau cutinya udah banyakk mau cuti saja pas ulang tahun haahhaaa entah kenapa ya, cuma kyk betapa bahagianya klo pas ulang tahun kita bisa menghabiskan waktu tanpa memikirkan pekerjaan sementara waktu, bisa melakukan apapun yang kita mau. Tahun ini ulang tahun saya hari Senin, berarti harus nunggu 4 tahun lagi baru bisa ketemu weekend wkwkwk

Karena hari ini hari kerja dan tentunya saya masuk kerja (sebagai warga misqueen cuti), jadi saya menjalani hari ini seperti hari yang normal pada umumnya. Bangun pagi, siap-siap, ke kantor, buka laptop, bekerja, diskusi, urus ini dan itu, pulang kantor, mandi, cuci baju, buka laptop, beresin kamar wkkwwkw ya di sela-sela itu ada nerima ucapan dan paket dari kawan-kawan. Tapi, rasanya lucu juga ya, mungkin begini ya kehidupan orang dewasa (yoi udah tiga puluh satu ges) wkkwkww life must go on, tetap kerja dan tetap melanjutkan hidup. 

Personally, I do make my birthday a special day, not externally, but internally. I often take the time to contemplate or reflect, and take that moment to do things that I'd love to. Tahun ini rasanya tetap spesial tapi agak sedikit beda hahaaa kalau tahun-tahun sebelumnya, karena weekend, jadi bisa bangun lebih siang, merenung, kumpul sama teman-teman, makan, dll. Kali ini lebih "normal" but it's still good tho, berasa banget jadi dewasanya, toami rammang hahahhaa no candle, no songs, no photos, tenang masih ada makanan enak hahahaa still grateful for reaching this point, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Oh iya, dapat banyak kado nih tahun ini, dari orang lain yang dikenal maupun tidak dikenal, dan dari diri sendiri

Yang paling gong adalah dompet yang hilang bisa kembali wkkkww betul-betul karma baik berbuah di waktu yang tepat, setelah sempat sakit kepala mikir urus-urus kartu yang hilang, sempat mikir apes bener jelang ulang tahunn, tapiiii syukur alhamdulillah bisa balik, mepet hari ultah pulak, terima kasih orang baikkk wkkwkw

Terus, sempat ikut retreat meditasi juga, jadi so so beyond grateful, ada kesempatan melatih diri, meskipun masih awut-awutan ya meditasinya tapi semoga tetap semangat hahahaa semoga bisa konsisten lagi berlatih sehari-hari

Kado dari keluarga, kerabat, teman-teman tentunya spesial semuanya yaaa makasih teman-teman saya yang tidak pernah absen setiap tahunnya, semuanya means a lot

Apalagi yaaaa

Hm wishesnya akan selalu sama sih, semoga jadi lebih baik terus, semakin bajik, semakin bijaksana, semakin sabar, semakin sadar, semakin sehat, semangat terusss, keep going in this middle path, you'll see bright there

Dan seperti kata Bernadya dalam lagunya kita buat menyenangkan (baru hari ini saya merasa lagu ini bagus hahahaa), because the time is priceless and unpredictable, mari kita buat menyenangkan :)

Happy birthday to me, the path ahead is still unknown, but let's make ourselves ready

Makk anakmu hari ini ulang tahun heheee 

Sampai ketemu di seratus tiga belas.

Cheers,

Em πŸ™†

Monday, 13 April 2026

[seratus sebelas] it's this self

Di postingan ini saya mau cerita sedikit saja,
Kalau teman-teman yang kebetulan membaca ini merasa dirinya "terlabel" dengan istilah introvert, mungkin akan relate. Ya, orang-orang introvert cenderung lebih mudah kehabisan energi ketika berada di tempat-tempat yang ramai. Sehingga, mereka berusaha untuk menghindari tempat ramai tersebut. Alasannya bermacam-macam, ada yang bikin pusing, ada yang bingung harus ngapain kalau ramai, merasa dilihat oleh orang-orang dan lain sebagainya. 
Sayapun mengalami hal yang demikian.

Karena pekerjaan sehari-hari saya di office, duduk depan laptop selama berjam-jam, maka frekuensi bergerak itu sangat sedikit. Lalu, teman saya mengajak saya untuk mendaftar ke gym. Sebagai orang yang introvert ini, saya selalu berusaha menghindari. Tidak berminat. Malas ke tempat ramai, nanti dilihat orang, nanti kikuk ga tau mau ngapain, nanti mau pakai alat tapi orang lagi pakai males nunggu. Combo introvert dan gak enakan. 

Hingga tibalah bulan ini, saya mulai berpikir dan berpikir, lalu memutuskan ayo deh coba aja daftar. Gak apa-apa mungkin jangka pendek, asal terbentuk dulu habitnya. 

Lalu ada hari di mana saya berangkat sendiri ke tempat gym (biasanya bareng teman). Suasana nya pagi itu memang tidak terlalu ramai. Kemudian, ada pemikiran yang muncul di benak saya. 

Saya yang belum siap dengan keramaian ini. 

Tidak ada yang salah dengan gym ini. Namanya tempat umum ya pasti ramai. 
Sekilas, mungkin point of view ini tidak terlihat berbeda. Tapi bagi saya ini cukup memberikan pov yang baru. Saya juga bingung menjelaskannya hahhaaa
Tapi, pastinya sebelumnya, saya melihat gym itu sebagai tempat yang tidak akan saya kunjungi. Ada rasa tidak suka, menghindar, menolak. Tapi, ketika pov nya diubah, saya lah yang belum siap. Rasanya seperti lebih lunak. Bukan juga berarti saya tiba-tiba jadi suka dengan keadaan ramai, tentu tidak demikian hahhaaa. Tapi, setidaknya, rasa penolakan itu sudah jauh lebih redup. Jadi, kayak ya udah tempat ini mungkin memang ramai, ya cari aja waktu yang tidak ramai. Tidak perlu ada rasa enggan. Bingung sih ngejelasinnya tapi begitulah.

Mungkin selama ini saya cukup terkungkung dengan pov itu, melihat sesuatu yang tidak saya senangi sebagai penolakan. (Tidak secara langsung), tapi rasanya kayak tempat itu yang salah. Kesannya seperti itu. Padahal, mungkin saya sih yang belum siap dengan kondisi itu, tidak apaa-apa, kita embrace. 

Begitu saja lah ya hahahahaa
This note mungkin sulit dipahami, tapi ya buat saya dulu sajalah biar ingat wkkwkw

Sampai jumpa di [seratus dua belas],
Cheers,
Em πŸ™†

Saturday, 11 April 2026

[seratus sepuluh] we're running in a sliced timeline of life

Hello, again, everyonee 

So actually, judul ini sudah jadi draft sejak tengah tahun lalu, lupa juga saat itu mikirin apa sampai bisa tulis judul ini. Trus, minggu lalu ketika mengikuti sebuah event, ada satu pembicara yang membicarakan satu hal yang membuat saya teringat lagi dengan judul ini. Dia bilang (tidak exact, tapi kurang lebih) "Kita semua (re: semua orang) menjalani hidup kita masing-masing. Di kehidupan ini, kita bertemu dengan orang tua, keluarga, teman, pasangan, anak, dan orang-orang lain yang datang dan pergi di kehidupan kita. Tapi, pada akhirnya, sejak kita lahir sampai nanti kita meninggal, hanya kita seorang yang menjalani hidup kita sendiri."

Menurut saya, hal ini sangat reflektif ya, bahwa semua orang yang kita temui adalah orang-orang yang kebetulan jalan hidupnya beririsan dengan kita. Ibaratnya, ada seseorang mau pergi ke suatu tempat, lalu ia mengambil jalan A. Nah, di jalan A dia bertemu dengan orang-orang yang berada di jalan yang sama itu. Mereka berkenalan, ngobrol, bertukar pikiran, dan lain-lain. Sampai tiba di persimpangan, ternyata mereka akan mengambil jalan yang berbeda, kemudian berpisah. Lalu, di ruas jalan berikutnya, ia bertemu lagi dengan orang-orang lain (ada orang baru dan ada juga orang yang mengambil jalan yang sama sebelumnya). 

Dan seperti itulah kehidupan kita ini. People come and go. Kita pun, di kehidupan orang lain, seperti itu, hanyalah orang yang datang dan pergi ketika waktunya tiba. 

Mungkin saat ini kita ketemu orang-orang dengan arah jalan yang sama sehingga kita bisa berjalan berbarengan, tapi mungkin ada waktunya arah itu sudah tidak lagi sama sehingga harus berpisah. 

At the end of the day, we are all alone. 

Seems like pathetic ya? Wkwkwwkk

The bad thing is we have limited time. The good thing is we have limited time. Funny.

Tapi memang begitu adanya. Waktu yang terbatas adalah hal yang baik dan hal yang buruk. Selagi masih ada waktu, manfaatkanlah dengan baik. Create good things, good memories. So, when the time comes, no more regret left. 

Semoga kita semua bisa menggunakan waktu yang ada dengan baik, dengan orang-orang yang sejalan dengan kita, hingga tiba saatnya kita (mungkin) harus berjalan sendiri, dan pada akhirnya pun akan menjalani kehidupan ini sendiri secara sepenuhnya.

I'll see you at [seratus sebelas]

Cheers,

Em πŸ™†



Monday, 23 March 2026

[seratus sembilan] hidup itu soal pilihan

lagi tidak punya quotes, unfortunately

Setelah melalui kehidupan selama 3 dekade ini, belakangan baru benar-benar menyadari kalau ternyata cara orang menjalani hidup ini sangat bervariasi alias sangat berbeda-beda. Yang ekstrim ada, yang biasa-biasa saja ada, yang lemes juga ada. 
And at the end of the day, semua itu tentang apa pilihan yang kita ambil, tentunya diikuti dengan konsekuensinya (both good and bad).

Saya menyadari orang-orang bisa punya pilihan yang berbeda, karena pilihan orang-orang kadangkala berbeda dengan pilihan saya ataupun berbeda dengan pilihan orang-orang lain yang pernah saya lihat.

Saya pun bisa membayangkan ketika misalnya ada 10 orang yang diberikan uang dengan jumlah yang besar, katakanlah 10 juta. Saya yakin mungkin di atas 80% dari 10 orang itu pasti akan memiliki pilihan yang berbeda. Mungkin ada yang mau berlibur, ada yang mau belanja sembako, ada yang mau belanja baju baru, ada yang mau ditabung, ada yang mau sedekah, ada yang mau beli saham, ada yang mau beli emas, ada yang mau dipake sekolah. Banyak macamlah. 
Tentunya pilihan-pilihan ini pasti ada alasan di belakangnya. Latar belakang yang berbeda, pengalaman hidup yang berbeda, tujuan hidup yang berbeda akan menghasilkan pilihan-pilihan yang berbeda juga. 

Pilihan ini bukan soal benar dan salah. Tapi apakah kita siap menjalani pilihan itu dengan konsekuensinya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. 

Hanya saja, memang sulit untuk menalar ketika kita memiliki pilihan yang berbeda dengan orang lain. Namun, kembali lagi, perbedaan pilihan itu terjadi karena perbedaan latar belakang, perbedaan prinsip, atau perbedaan tujuan. Jadi wajar saja kalau orang akan memilih pilihan yang berbeda. Kitapun tentunya tidak harus memilih hal yang sama dengan orang lain, begitupun sebaliknya.

Tapi, mungkin, untuk memudahkan kehidupan, ada baiknya jika kita berjalan dengan orang yang kita tau akan memilih hal yang sama dengan kita. Mungkin tidak semua hal, tapi di kebanyakan hal. Agar kita tidak perlu berselisih atas pilihan yang berbeda, pun tidak perlu menalar kenapa harus ada perbedaan.

I'll see you again at [seratus sepuluh], while re-organizing my mind and brain connection in writing.

Cheers,
Em πŸ™†

Saturday, 28 February 2026

[seratus delapan] what a planner can't plan

a whole package on Saturday morning!

Setelah sebulan akhirnya ada bahan buat nulis juga, an expected one. Tepat di hari terakhir di bulan Februari juga, ya setidak nya bulan ini ada tulisan lah ya hhehe

Pagi ini jadi salah satu pagi yang sangat tidak diduga-duga. 

Sebagai gambaran awal, saya adalah seorang yang menyusun rencana, a planner. Jadi selalu pasti diplanning dengan baik. Sebagai contoh, sebelum traveling ke mana-mana, pasti 1 atau 2 hari sebelumnya.

Nah, hari ini juga begitu.

Dari jauh-jauh hari sudah pesan tiket, sudah mengajukan cuti, packing, sudah pesan kendaraan ke bandara, aman as usual. Pagi-pagi bangun, siap-siap, langsung jalan. Berhubung tidak bisa check-in online, maka berangkat lebih awal untuk check-in on-site di counter. Pas mbak-mbaknya cek paspor, ternyata ED pasporku kurang dari 6 bulan. And then, tidak dikasih check-in. Waduh, mulai panik tuh kan. Trus, manager di counternya itu bilang bahwa ada unit imigrasi di bandara yang bisa mengurus percepatan pembuatan paspor, express langsung jadi di hari itu. 

Terus, saya langsung lah ke sana, untung masih pagi. Lari-lari sedikit di pagi hari. Ternyata pas ke sana, mas-masnya bilang sistemnya lagi down jadi tidak bisa cetak. Makin panik. Terus, duduklah saya dan menunggu dan mulai mencari-mencari di internet dimana ya bisa bikin paspor. 

Singkat cerita, tidak jadi berangkat. Akan coba peruntungan di hari Senin.

Waktu duduk menunggu, semakin berpikir. Memang, pasti ada hal-hal yang tidak bisa kontrol di dunia ini. Sebaik apapun kita berencana (meskipun yang kali ini kurang baik ya karena saya kurang riset huhuuuu, sudah sempat ada feeling tapi diabaikan karena masih yakin masih bisa terpakai kok paspornya karena masih belum ED). Tapi ya sudahlah, sudah tidak bisa apa-apa juga. 

Dari kejadian hari ini, ada beberapa kesimpulan yang mungkin sudah pernah kutulis juga di postingan sebelumnya. 

Yang pertama, ketika ada satu hal yang tidak diinginkan terjadi, yang paling sedih pasti yang mengalaminya. Jadi ketika kita tidak berada di posisi orang yang mengalaminya, kita bisa coba untuk lebih memahami orang tersebut.  

Kedua, how we act or react conclude who we are. Mau marah, mau kesal, mau panik, mau menyesal, mau tenang, mau menerima, cara kita bereaksi terhadap sesuatu menunjukkan kita sebenarnya. Awalnya agak shock dan susah menerima, tapi lama-lama ya sudah pasrah saja. 

Ketiga, selalu ada possibility yang terjadi itu di luar yang kita ekspektasikan atau rencanakan, yang mana begitulah kehidupan. Jadi ya siap-siaplah setiap saat.

Begitulah cerita darderdor hari ini. Akan jadi pelajaran yang diingat sepanjang masa :))

Have a good weekend. 

Cheers,

Em πŸ™†

Saturday, 10 January 2026

[seratus tujuh] satu januari

wkwkwk maap yaa agak kocak karena judulnya 1 Januari tapi ga di post tanggal 1, dan bukan postingan pertama juga di tahun 2026

btw ini mau nulis singkat saja, pengalaman dan pemikiran waktu tahun baru kemarin. 

As a disclaimer bahwa saya bukan yang merayakan tahun baru, jadi mungkin cerita saya ini kurang relate untuk teman-teman yang merayakan tahun baru bersama keluarga atau orang-orang terdekat ya. 

Tahun baru selalu jadi momen yang spesial untuk semua orang di dunia, tapi tidak semua orang merayakannya. Tidak semua orang menantikan pergantian tahun di jam 12 malam, tidak semua orang membakar kembang api, tidak semua orang berkumpul dengan keluarga di malam pergantian tahun, tidak semua orang makan bersama atau barbekyuan di malam pergantian tahun. Tidak semua orang mengunjungi saudara atau keluarga di tahun baru.

Nah, tahun baru kemarin, saya sih tidur aja ya di kosan wkkwkw gak kemana-mana, pas malam taun baru juga cuma menghabiskan waktu dengan nonton dan makan snack, mirip seperti menikmati hari libur lainnya. Terus, tanggal 2 itu udah masuk kerja lagi, dan karena gak ambil cuti, jadi ya tetap masuk saja seperti biasa. Waktu ke kantor, jalanan sudah mulai ramai, toko-toko, warung-warung sudah mulai buka. Sudah banyak orang yang beraktivitas seperti biasa. Lalu, sepintas lalu muncul di pikiran saya "betapa cepatnya tahun baru itu berlalu". Padahal baru kemarin loh tahun baru, hari libur, tapi hari ini orang beraktivitas normal seolah-olah kemarin itu kayak hari biasa aja bukan tahun baru hahaaa

Sekelibat pemikiran itu agak menggelitik saya sih sejujurnya. Saya jadi merasa kayak gila sih sebegitunya ya. Secepat itu sesuatu bisa berlalu, dan se-"sepele" itu. Gak tau ya "sepele" itu kata yang tepat atau bukan, tapi maksudnya tuh kayak ya udah tahun baru sambil lalu, sehari setelahnya orang menjalani kehidupan nyata nya lagi, gak ada sisa-sisa "hura-hura" tahun baru. (atau mungkin di tempat saya saja ya yang begitu HAHAHAA)

Ya pokoknya begitulah, saya jadi refleksi kembali soal "impermanence". Apapun itu akan berlalu, tidak kekal, bahkan bisa berlalu secepat itu. Secepat tahun baru yang merupakan sebuah perayaan spesial. Tapi, rayakanlah suatu momen sesingkat apapun itu, rayakanlah karena itu singkat, hayati dan nikmatilah karena itu singkat :)

That's all guys. Selamat tahun baru sekali lagi (baru 10 hari pertama wkwkkw) semoga kalian, kita semua bahagia selalu.

I'll see you at [seratus delapan],

Cheers,

Em πŸ™†

[seratus enam] it is about sweeping

it is bad to be the one sweeping other's litter; but it is much worse to be the one who litter

Hello again everyone, and happy new year 2026!

masuk minggu pertama 2026, bagaimana kabar kawan2 semua? wkwkwkw minggu lalu mau nulis tapi kyk nda ketemu moodnya *elah alasaaann hahhhaa, jadi ya sudah nulisnya sekarang, mumpung lagi ada topik juga

anw, semoga tahun ini aman, tentram, sehat-sehat semua, best wishes khususnya buat kita2 yang WNI huehehehe

actually this week is akinda off for me, kyk hadeuh hadeuh padahal baru minggu pertama hahahaha and there's one moment that I felt like 'betapa bodohnya diriku ini and why did I do that one silly mistake'. Dan, karena itu banyak orang terdampak yang harus "menyapu". To be honest, I feel really bad.

Dalam kehidupan ini, baik pekerjaan atau yang bukan pekerjaan, kita pasti pernah "menanggung" kesalahan orang lain. Orang lain berbuat salah, tapi kita harus memperbaiki nya. Ketika itu terjadi beberapa kali, ada rasa kesal yang muncul. Kayak, kenapa sih kita harus kena dampaknya. Yang salah siapa, yang menanggung siapa. Yang keliru siapa, yang dimarahin siapa.. Yang numpahin siapa, yang ngepel siapa. Dan sejenisnya.

Dunia memang berputar guys. Sampai di suatu titik sayalah itu, saya lah yang menumpahkan minuman itu. 

You know what, rasa kesal nya berlipat-lipat ganda. Bercampur sih, rasa jengkel, rasa bersalah, rasa menyesal juga. Dan itu sangat tidak enak. Rasanya kyk cuma mau menghilang saja atau memutar waktu. yang mana dua-duanya sudah pasti ndak mungkin *kyk lebay tapi memang begitu hahaa

Di waktu kita menjadi orang yang "menanggung" kesalahan orang lain, rasa yang muncul mungkin cuma kesal saja, jengkel. But, at least, you did the right thing and you don't feel sorry about that, you feel proud. Tapi ketika kita tau kalau kita lah yang menjadi penyebabnya, rasanya aduh kayak feel bad, really bad, kadang-kadang sampai meragukan diri sendiri (lebay mode). Mungkin ini mirip seperti ketika suatu tim kalah atau seorang atlet kalah, mungkin kita fansnya kesal dan sedih, tapi si pemain pasti tidak kalah sedih dan kecewa. Kecewanya sama diri sendiri lagi. 

Ngomong-ngomong soal kesalahan, kadang-kadang kita memang tidak tau bahwa itu adalah sebuah kesalahan sampai itu terjadi. Dan saya nemu sebuah quote di thread tulisnya gini "forgive yourself for not knowing earlier what only time could teach". Lalu saya berpikir mungkin hal ini juga salah satunya. Ketika kita melakukan kesalahan yang kita tidak tau atau kita tidak bermaksud, mungkin kita harus belajar memaafkan diri sendiri. Meskipun di sisi lain, kita juga sadar mungkin itu kesalahan yang cukup besar, yang dampaknya ke banyak orang. Honestly, I don't know. Kita tidak pernah tau yang terjadi sekarang, yang terlihat buruk, apakah memang benar-benar buruk, atau mungkin di masa depan hal ini akan menjadi hal baik yang perlu disyukuri. Good or bad, right or wrong, I don't know.

Yah begitulah.

Kesimpulannya ada dua. Yang pertama, untuk saya, masih mencerna pengalaman membuat kebodohan ini dan jadinya sedang belajar harus bersikap bagaimana terhadap diri saya sendiri. Yang kedua, untuk semuanya, kalau kita yang jadi "tukang sapu", kesal lah secukupnya, dan percayalah it's way far far better than being the one who cause it happen.  

Oke, itu dulu saja yah curhatan saya hahaaa

Sampai ketemu di [seratus tujuh]

Cheers,

Em πŸ™†

Tuesday, 9 December 2025

[seratus lima] the imagination of a toddler

Hello guys, 

So, sekarang saya lagi menunggu pesawat pulang ke Jakarta, tapi karena pesawatnya masih lama jadi saya yang harusnya mengerjakan pekerjaan lain tapi belum ada ide jadi melipir nulis dulu ah hahahaaa

Kepulangan kali ini singkat sekali rasanya, cuma 4 hari. Tapi, selama 4 hari itupun, tiap hari saya main dengan keponakan ku yang ucul wkwkwk biasanya misalnya selama pulang seminggu cuma ketemu 4 atau 5 hari, tapi kali ini literally setiap hari hahaha and as she is growing bigger, she understands everything dan mengerti oh ini kuku (tante) nya datang. Meskipun shy shy cat awalnya, tapi lama-lama ikrib juga heheee

Nah melanjutkan tadi, as she is getting bigger now, sudah 4 tahun, dia sudah mulai mengerti mau main apa, suka karakter tertentu, dan sudah bisa request main ini main itu, request gambar ini gambar itu. 

Dan kuku nya ini si sok bisa gambar hahahhaha jadi kutawarkan lahhh

πŸ™†: mau gambar apa? sini kuku gambarkan

πŸ‘§: rumi demon hunter

πŸ™†: (bingung dak taupun itu apa hahhhaa) yang mana itu? kuku nda tau, kuku cari dulu nah di google

πŸ‘§: iyaa 

Setelah searching ketemu lah gambar si rumi demon hunter ini, entah kenapa si bocil ini suka sekali demon hunter, terus ada 3 karakternya kayak anime begitu, susah pun bentukannya krna kayak orang, bukan hewan macam doraemon hahahaa

Tapi ya sudahlah, terlanjur sudah menawarkan dan nampaknya masih bisa ji digambarkan, jadi kugambarlah, nah pas di tengah-tengah gambar, agak jelek kan kurasa jadi kubilanglah begini

πŸ™†: aihh jelek ini, kuku nda bisa gambar

πŸ‘§: mana liat? bagus ji ini kuku, bagus ji

πŸ™†: (dalam hati "wkwkkwkw")

Di saat itu juga mikir, anak-anak itu sederhana sekali ya yang mereka mau, meskipun gambarnya jelek tapi ndak protes, malah bilang sudah bagus, dan dia happy sekali digambarkan, and I'm so happy see her happy hahahhaa. Then, dia lanjut warnai, dan kuminta dia tulis namanya si karakter (hitung-hitung doi lagi belajar nulis). 

Terus, imajinasi nya anak-anak itu betul-betul tanpa batas. Tidak heran kalau misal anak-anak itu gambar orang cuma kotak-kotak, tapi apa yang mereka lihat gambar itu hidup dan bergerak seperti di pikirannya mereka, sangat amazing dan sangat menyenangkan. Anak-anak nda selalu butuh gambar yang perfect, mereka bisa mengimajinasikan gambar yang biasa-biasa aja itu jadi gambar yang bagus menarik seperti yang mereka bayangkan. Padahal saya kek aduh gambar apa ini hahahaa hancur bettt, tapi ternyata si bocilnya sudah hepi sekali.

Jadi amazed aja begituu hahahhaa karena ternyata biar gambar yg kita buat tidak sempurna tapi mereka sudah senang karena mau digambarkan, terus juga melihat itu jadi kayak kita juga dulu begitu mungkin ya tapi sekarang sudah sebesar ini, banyak yang berubah, tapi seru ya dulu jadi anak-anak. Mungkin kadang-kadang kita perlu jadi kayak kita yang anak-anak dulu, berimajinasi dan happy dengan sesuatu yang sederhana wkwkkww

Sebagai informasi yang tidak penting, ini gambar yang kugambarkan (bukan saat percakapan di atas, ini sudah gambar kedua kali tapi ya kurang lebih kyk begini modelnya HAHHAA). Kuku gambar, doi warnai dan tulis nama karakternya.


Stay happy yaa kiddosss!!!
I'll see you soon again hehehe

See you at [seratus enam]
Cheers,
Em πŸ™†

Sunday, 23 November 2025

[seratus empat] semua orang adalah orang

every person is a human being

Hello guys, tidak terasa sudah penghujung November, sedikit lagi kita akan menyambut tahun yang baruuu yuhuuu

So, hari ini mau nulis nulis dulu sedikit wkwkkww

Kebanyakan topik yang saya tulis di blog ini muncul randomly dari momentum-momentum kecil, yang tiba-tiba memberi kesan tersendiri terus memunculkan pemikiran-pemikiran random wkwkwk, nah yang ini termasuk salah satunya.

Jadi, beberapa waktu lalu, saya habis menghadiri salah satu presentasi dari seseorang yang posisinya cukup tinggi di kantor, and I admire her so much, kyk kerennya ini ibuu kwkwkw

Nah, singkat cerita (wkwkwk singkat memang ji ini postingan HAHHA), ada satu momen yang membuat saya menyadari sesuatu. Saat presentasi itu, menurut pandangan subjektif mata saya (jadi ini klaim sepihak ygy, saya ndaktau ibunya merasakan apa saat itu), ibunya terlihat cukup gugup, kelihatan dari cara beliau menyampaikan materinya (however, the meeting ended very well). Ini hanya sebuah momen kecil dari presentasi dan diskusi selama kurang lebih 3-4 jam itu. Kebetulan waktu itu pesertanya juga ada dari eksternal dan ada yang bertanya-bertanya gitulah. Jadi memang tense nya beda ya hahahaa. Di momen yang sangat singkat itu, saya melihat sisi "manusia" nya ibu ini. Saya jadi berpikir, wah ibu ini, yang pastinya dikagumi banyak orang, bisa juga ada gugupnya di depan khalayak. 

Then, what's next?

Sejujurnya saya juga masih bingung mendeskripsikan apa yang saya rasakan waktu itu, belum nemu kata-kata yang pas. Tapi, setelah berpikir beberapa hari sebelum menulis ini, mungkin saya akan lihat dari 2 point of view. Yang pertama, dari sisi sebagai ibu ini, bahwa bagaimana pun seseorang, sehebat apa pun dia, dia adalah seorang manusia, yang pasti tidak lepas dari sifat-sifat manusia yang tidak sempurna dan sangat wajar. Misalnya gugup, atau ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, which are normal. Setelah kejadian itu, bukan berarti kekaguman saya berkurang, tapi saya malah jadi rispek dan bisa mengerti memahami dan memaklumi sisi "kemanusiaan" ibu ini. Jadi, kayak siapapun itu, lihatlah dia sebagai seorang manusia, dia bukan orang yang sempurna, jadi kalau ada kesalahan minor 1 2 ya itu wajar dan tidak menganulir hal-hal hebat yang pernah ia buat. Yang pov kedua adalah mungkin pelajaran yang bisa saya ambil, bahwa saya juga manusia. Apalagi posisi saya masih jauh di bawah ibu itu ya, memang mesti banyak belajar. Dan bahwa, doing a mistake itu tidak apa-apa loh. Memang itu manusiawi. Orang sehebat itu aja bisa melakukan kesalahan kecil dan orang lain pasti bisa memaklumi. Jadi kalau kita melakukan kesalahan kecil, itu tidak apa-apa, bisa dijadikan pelajaran, dan orang-orang yang tau kita, pasti akan memaklumi, karena itu bukan kesengajaan, itu hanya memang sisi manusia kita saja, tidak sempurna dan tidak akan pernah.

Ya kira-kira begitulah yaaa hahahaa semoga nyampe apa yang mau saya sampaikan. Karena kita juga manusia, mari kita memanusiakan sesama manusia. Termasuk di dalamnya tidak over ekspektasi dan tidak under estimate. Secukupnya saja. 

That's it. And I'll see you at [seratus lima],

Cheers,

Em πŸ™†


Saturday, 1 November 2025

[seratus tiga] the matter of winning

Winning is for everyone, but not every time

Hello everyone, welcome Novemberrr yuhuwww

Ternyata postingannya keskip di Oktober yak wkwkw

Kali ini nulisnya pas di jalan wkwkwk

Oke lesgoo, kali ini mau menulis terkait hal-hal yang kadang kita dapatkan, kadang tidak kita tidak dapatkan. Just a short one, tapi kayak lagi ngena huehehe.

I, sometimes, think that in some aspects of life,  I can win, but in another aspect, I lost. This most likely happen to others, too.  

Then, this thought just came yesterday, that, maybe, in every game in this life, sometimes you win, sometimes you lose. If people say not everyone can win, I would say that winning is for everyone, but not every time. This is kind of a little bit optimistic, you can win any games, if you try, but it is not possible to win every time. Even Valentino Rossi can be defeated.

It is okay to lose. You can win, maybe, next time, even no one knows when the next time is. And the plot twist maybe, lose is win, who knows.

Ya begitulah, hehe.

See you at [seratus empat],

Enjoy the rest of 2025, two months to go :))

Cheers,

Em πŸ™†πŸ»‍♀️

Sunday, 14 September 2025

[seratus dua] jika tidak hitam, maka belum tentu selalu putih

Life is not as clear as black or white

Hitam dan putih adalah warna yang mutlak. Hitam adalah ketiadaan cahaya sedangkan putih ada sumber dari segala warna ketika disinari oleh cahaya. Tetapi, hidup tidak sesederhana definisi kedua warna tersebut. 

Tidak jarang, kita melihat sesuatu di kehidupan ini hanya sebatas hitam dan putih. Contohnya "kita tuh ga perlu lah dengar kata orang lain tentang kita". Kadang, kesan yang kita ambil adalah "oh iyaa, ga perlu kita dengar kata orang lain, suka-suka gue aja lah". This is not how this world works, right? Tidak mendengarkan kata orang lain, bukan berarti bisa berbuat sesuka hati kita. This is too unemphatetic. Atau contoh lain "kita tuh harus selalu baik sama orang", yang ditangkap adalah "oke apapun yang terjadi, kita harus baik, di kondisi apapun harus tetap baik". Hmmmm, gimana ya, kan gak bener juga yaa jadinyaa..

*disclaimer a little bit: I don't really like those two examples, but my brain is not braining right now, but if I wait until my brain braining again, maybe this will be a draft forever wkwwkk so hope you understand and get my point and can find your own examples that fit better hehee

Lanjut,

Jadi seperti itu guys, ada hal yang harus dipertimbangkan dalam menyerap suatu informasi termasuk di dalamnya insight ataupun nasihat. Ada satu kata kunci yang bisa membuat kita tidak melihat sesuatu secara hitam dan putih, I think it is called "wisdom". Ya, dengan kebijaksanaan, kita bisa mengerti batasan suatu hal, bukan ekstrim kiri atau kanan, tapi bisa saja di tengah-tengah, tidak terlalu kiri, tidak pula terlalu kanan. 

Di contoh yang pertama, mungkin benar kita tidak usah mendengarkan kata-kata orang lain, kalau itu ternyata hanya bersifat subjektif, tidak benar, atau tidak berdampak langsung ke orang lain. Misal orang yang mengomentari penampilan orang lain. Masalah penampilan ya kembali ke orang memakai ya, senyamannya, kalau di Indonesia, harus memperhatikan norma-norma juga misalnya. Tapi, kalau ada orang yang mengomentari etos kerja kita, yang mana sifatnya kritik membangun, mungkin bisa dipertimbangkan. Apalagi untuk kebaikan atau improvement kita juga. Jadi, tidak semua ditolak, tapi tidak semua juga diserap, nanti bisa gila.

Di contoh yang kedua pun sama. Benar kita harus baik sama orang, tapi ketika kita baik tapi kita ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik, mungkin kita harus berpikir ulang. Seperti kita memberi bantuan ke orang lain, tapi bantuan itu malah dipakai untuk hal-hal yang buruk. Tentu kita jadi berpikir ulang kan ya. Jadi, memang perlu bijaksana.

Tidak bersikap baik bukan berarti bersikap jahat. Tidak seperti itu. Karena hampir semua hal dalam hidup ini adalah spektrum. Tidak bisa terlalu cepat menyimpulkan, ini hitam atau ini putih. We should go deep into something and define in which spectrum it should be. This will make thimgs more understandable, applicable, and make more sense. Intinya adalah bijaksana, jangan cepat mengambil kesimpulan, it will always be a win-win solution or option.

Kira-kira begitu yaaa, this is not a good one, but I will let it be released.

Sampai ketemu lagi di [seratus tiga],

Have a good day.

Cheers,

Em πŸ™†

Saturday, 13 September 2025

[seratus satu] Question to mom (1) : Have you ever woke up late?

Hello everyone!

This is a new series of my posts, yang dinamakan "Question to mom". Random aja sih kepikiran buat nambah-nambahin "series" kayak gini hahahhaa

Ini gara-gara pernah suatu hari kakak ipar saya cerita kalau pagi itu dia tuh terlambat bangun dan jadinya si bocil ponakan saya telat juga dan buru-buru siap-siap ke sekolah wkwkkw terus saya pun jadi kepikiran kan ya, dulu tuh mamak saya pernah telat gak yah, dan mungkin ada pertanyaan-pertanyaan lain yg I wish I could ask. So, mungkin menarik juga buat dikulik lewat tulisan. 

And then, after a crazy week becoz encok saya tiba-tiba kambuh entah kenapa, writing about mom feels like "good", because when you're not feeling well, you seems to miss your parents wkwkwk

A disclaimer that pertanyaan-pertanyaan yg muncul ini sifatnya hanya berandai-andai, I also don't know whether I will ask her if she were here. So, it's just kind of a release for me to write this things down, and also, as usual, it's gonna be a reflection when I become a mom someday :)

--

Okay, let's go back to the topique, telat bangun, ya pastii kita semua pasti pernah telat bangun ya, entah karena mungkin kecapean, atau tidurnya telat, atau ketiduran saat tidur untuk kedua kalinya (lima menit lagi deh, trus jadi 1 jam wkwkw). 

Apakah mama saya pernah telat bangun? Kira-kira apa yang dirasakan ketika telat bangun itu? Rasa bersalahkah atau apa? Apa yang dilakukan setelahnya? Bagaimana respon orang rumah ketika itu terjadi?

Seingatan saya, mama saya sepertinya pernah bangun telat tapi masih bisa diselamatkan wkwkwk karena tidak berdampak misalnya ke anaknya yang jadi bolos sekolah atau tidak ada sarapan di meja makan.

Life do changes when you become a mom. Karena tindakan seorang ibu bisa berdampak ke keluarga, anak-anak. Pada akhirnya seorang ibu pun adalah manusia biasa. Even you woke up late, you're still an amazing mom.

Why do I want to ask this question? Hanya mau dengar ceritanya saja, siapatau ada cerita lucu ye kan wkwkkw

At the end, this is gonna be an unanswered question, sama seperti pertanyaan susulan lainnya.

Happy weekend everyone, and mom, I always miss you :))

See you at [seratus dua]

Cheers,

Em πŸ™†




Wednesday, 27 August 2025

[seratus] don't be a waste

Kita pasti sudah familiar, dalam sebuah proses pembuatan sesuatu, pasti selalu ada lebihan yang dibuat. Sebuah pabrik roti, kalau ada pemesanan roti 100 buah, mungkin akan buat 110 buah. Begitupun, di industri farmasi, jika permintaan 500 kg, mungkin akan dilebihkan 550 kg. Saya yakin, hal ini juga terjadi di kondisi-kondisi lain, bahkan yang lebih sederhana. Contoh lain, ketika kita membuat hajatan, tamu 80 orang, maka makanan yang kita pesan mungkin 100 paket. 

Kenapa dilebihkan? Ya, untuk mengantisipasi, jaga-jaga kalau-kalau ada yang rusak, atau kalau-kalau tidak cukup.  

Dalam suatu proses produksi ada yang dinamakan yield. Yield berarti perolehan kembali. Input 100, output 90, maka yield 90%. Input 100, output 100, maka yield 100%. Yield 100% itu jaraaang sekali bisa dicapai. Entah ada yang rusak, ada yang error, salah produksi, nyangkut di mesin, nyangkut sana dan sini, yang membuat tidak semua yang masuk bisa keluar.

Analogi seperti ini juga ada di kehidupan sehari-hari. Seringkali, kekurangan untuk mencapai yield 100% itu adalah semua pemakluman. Dari 100 kue yang dibuat (intermezzo, 100 mulu daritadi wkwkwk soalnya angka paling gampang dan sempurna hehe), *lanjut* ndak apa-apa kalau 10 nya jelek. Dari 500 karyawan, performa outstanding hanya 480 orang, 20 nya tidak maksimal, still 480 out of 500 is considerably amazing tho. Saya tidak mengatakan bahwa yield 90% itu hal yang buruk ya. It's acceptable, tapi point nya bukan di situ. 

Mungkin ini agak membingungkan, tapi yang ingin saya highlight adalah dalam hidup ini, apapun role kita, jadilah output. Jadilah orang yang memenuhi yield itu, jika yield nya 90% jadilah bagian dari 90% itu, jangan jadi yang 10%. Jadilah roti yang mengembang, jadilah produk yang dikemas dan lulus QC, jadilah granul yang lolos dari ayakan. Jangan menjadi yang nyangkut di mesin (inti post ini cuma ada di paragraf ini WKWKWK).

Entah kenapa hari ini, hal ini sangat berkesan untuk saya. 

Kadang-kadang ada yang yasudahlah begini-begini saja, tidak apa-apa seadanya. Atau kadang-kadang saya dalam kondisi malas dan tidak well-performed. And this makes me think, don't be a waste. Just don't. Jangan jadi bagian yang dimaklumi, jangan jadi bagian yang tidak terambil. Tapi jadilah bagian dari yield itu. Begitulah ya kira-kira. A small reflection di akhir bulan (di tengah-tengah kebingungan dan keterheran-heranan melihat kondisi negara ini). 

Wadidaw I never expected this will be my one-hundred post hahhaa padahal banyak draft yang nanggung tapi entah kenapa kayaknya ini lagi pas buat ditulis. Hopefully, a right post at the right time. 

Congratulations to me for achieving the hundredth post! Yuhuuu

I'll see you around, at [seratus satu] hehee

Cheers,

Em πŸ™†

Friday, 25 July 2025

[sembilan puluh sembilan] luka yang tidak sengaja, adalah luka

gentong yang kena kepala, bukan karena dipukul pun, tetap sakit

After all this time, it takes me back to realize that wisdom is the highest. Kata highest ini sengaja dipilih untuk menggambarkan yang paling paling paling. Kebijaksanaan adalah yang terpenting, yang teratas, kalau bisa segalanya, kubilang dialah segalanya.

Setelah beberapa kejadian sehari-hari, membuat saya berpikir (memang naknya suka berpikir hahaaa makanya banyak pikiran *eh wkwkw) kalau ternyata ada satu hal di atas kebaikan, satu hal di atas semua yang baik-baik, itulah dia kebijaksanaan.

Bijaksana, gampang bilangnya, susah menjadinya. 

Bijaksana itu kayak apa yah, penstabil, yang membuat kita tidak menyimpang terlalu ke kanan, tidak terlalu ke kiri, di tengah, stabil.

Orang baik, bisa jadi jahat, kalau tidak bijaksana.

Sebuah fenomena menarik yang saya amati belakangan (sebelumnya juga sudah pernah, cuma baru kepikiran aja hahaha), adalah suatu hal yang dilakukan tanpa niat jahat, bisa jadi output nya menyakiti orang lain. Menarik kan? Selama ini saya (atau banyak dari kita) berpikir, selama kita berbuat baik, aman lah barang-barang. Tidak usah berpikir kata orang, selama kita baik, gas saja. 

Apakah salah? Tidak juga. 

Saya punya sebuah cerita. Fiksi tapi hehe

Sebut saja mbak Bubu (ga ada ide nama hahaa), ia baru saja membeli sebuah mobil baru, terus tetangganya ini baru kena pemutusan hubungan kerja. Di satu sisi, karena mbak Bubu ini sangat senang dan bangga dengan mobil barunya, dia jadi suka dan sering beraktivitas dengan mobil barunya di depan rumah. Biasalah euforia punya mobil baru pada umumnya, apalagi hasil jerih payah sendiri. Rajin di lap, suka di nyalain di depan rumah, dan sering dibicarakan ketika ada tetangga yang lewat. Namun, di sisi lain, ternyata tetangga mbak Bubu ini (sebut saja mas Dudu) menjadi sedih, sedikit iri, dan terganggu dengan aktivitas mbak Bubu itu.

Ladies and gentlemen, saya bukan penulis cerita yang baik, mungkin cerita di atas tidak netral dan kurang representatif. Tapi, ..

Dari cerita di atas, apakah mbak Bubu ini salah? tidak, dia hanya sedang menikmati hasil jerih payahnya selama ini, tidak ada niat jahat sama sekali. Lantas, apakah mas Dudu ini salah? tidak juga, ia hanya sedang berada di kondisi yang membuatnya merasa demikian. 

Tidak ada yang salah, hanya memang kondisi nya demikian.

Tapi, kadang saya berpikir, di beberapa situasi, saya berada di kondisi mbak Bubu itu, senang yang mungkin berlebihan hingga membuat orang-orang di sekitar saya mungkin merasa tidak nyaman, entah dengan alasan apapun itu. Sehingga, mungkin benar, perlu kebijaksanaan di segala kondisi. Sekali lagi tidak salah, tapi apa salahnya kalau kita (re: saya) mencoba melihat dan memahami sudut pandang orang lain. 

Counter argument: tapi mas Dudu harusnya juga bisa ngerti dong orang lain?! Lho, ya betul, kalau kita berada di posisi mas Dudu kita juga harusnya bijaksana dan bisa memahami orang lain.

Tapi, kita tidak bisa menjadi dua pihak sekaligus, kita akan berada di salah satu pihak. Dan, rasanya, lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di posisi yang nyaman.

Coba bayangkan, lebih mudah mana, kamu habis gajian dan kamu diminta memahami temanmu yang moody, atau kamu habis diputusin pacar lalu diminta memahami temanmu yang moody?

Pasti akan lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di pihak yang 'lebih diuntungkan'. At that point, mengalah sedikit won't hurt. Dan, dalam hal ini, menurut saya, awal mula kebijaksanaan bisa timbul adalah rasa empati. Bisa memahami, menaruh kaki ini di sepatu orang lain, meskipun tidak bisa cocok dan pas, tapi minimal kita bisa rasakan, sepatu dia tuh gimana sih. Alas sepatunya tipis kah, bahannya kasar kah, tali sepatu nya kuat tidak. Dengan memahami orang lain, kita bisa lebih mengontrol diri dan menghindari sesuatu yang berlebihan. Senang berlebihan, excited berlebihan, pamer berlebihan, tampil berlebihan. It's not a mistake to feel happy, excited, confident, but when it's too much, it's something that you should aware of. 

Perumpamaan lain ketika kita melempar batu ke arah acak, tidak ada niat jahat, tapi ketika batu itu mengenai orang lain, apapun niatnya, tetap saja rasanya sakit wkwkwkw

Ya begitulah, ini refleksi juga sih, kadang-kadang lupa itu manusiawi, tapi mawas diri itu mutlak untuk seorang manusia. Jadi, harus selalu awas biar gak los aja hehehe

Akan ada rasa bahagia yang berbeda, ketika pengendalian diri kita membuat orang lain nyaman dan bahagia.

This post is quite serious, but I think this is real serious tho :))

See you at [seratus], (wow sudah 99 ges wkwkw)

Cheers,

Em πŸ™†

Friday, 4 July 2025

[sembilan puluh delapan] kesempatan (mungkin) tidak datang dua kali

Me is back again hehehee

Kali ini ndak mau tulis panjang-panjang, yang pendek-pendek saja hahaa

Jadi, kali ini mau bercerita sedikit tentang 'kesempatan'. Ada yang bilang kesempatan itu tidak datang dua kali, tapi ada juga orang yang bilang akan selalu ada kesempatan kedua 

Menurut saya, bisa dua-duanya wkwkwkkw

Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi adalah setiap kesempatan belum tentu datang dua kali. Bahkan ketika you have all the things in the world, you still can miss the one and only opportunity that comes to you. 

Mungkin teman-teman pernah mengalami, karena saya pernah hehee, ingin mengikuti suatu acara, sangat ingin, sudah ditunggu-tunggu jauh-jauh hari, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, ternyata eh ternyata, pas hari H ada halangan tertentu yang membuat kita tidak bisa mengikuti acara itu. 

Singkat. 

Tapi kalau dipikir-pikir kembali, betapa berharganya suatu kesempatan itu. Meskipun kadang-kadang suka disepelekan. 

Merasakan bahwa wah bisa gitu ya, kita mau dan sudah merencanakan semuanya tapi sekejap hilang. Hal ini sering saya rasakan ketika saya ingin mengikuti atau menghadiri suatu kegiatan tapi karena beberapa alasan yang tidak bisa ditinggalkan, jadinya saya tidak ikut. 

Sebaliknya, ketika saya menghadiri suatu kegiatan, sekelibat terpikir wah beruntung nya saya, saya bisa hadir di sini, ketika orang lain, mungkin mau tapi tidak bisa. 

Kesempatan dan jodoh berkerabat erat ya nampaknya hehhee

Jadi begitu ya guys, yang mau saya bilang adalah kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa kesempatan yang kita ambil itu kesempatan yang berharga sekali yang mungkin tidak datang kedua kalinya. Dan untuk semua kesempatan yang datang, pastikanlah bahwa tidak ada yang kita lewatkan dengan sia-sia. Mungkin karena itulah kata orang, bersiaplah selalu, agar ketika kesempatan itu datang, momen itu datang, you'll grab it fast. Di sisi lain, ketika sudah diusahakan tapi memang bukan jodohnya, berarti memang bukan untuk kita. 

Just to remember how precious it is for one opportunity in life ..

Agak kureng ya tulisan ini, tapi ya sudahlah ya pemanasan lagi setelah off 1 bulan haahhaa

I'll see you at [sembilan puluh sembilan] then.

Cheers,

Em πŸ™†

Monday, 12 May 2025

[sembilan puluh tujuh] maybe the point is just choosing to stay ..

maybe the point is just choosing to stay, no matter what.

this is gonna be a short one.

Pagi ini karena libur, saya dan seorang teman pergi berolahraga pagi, jalan pagi sih lebih tepatnya hehehee sepanjang jalan kami banyak bercerita, topiknya beragam apa saja, dari yang viral di sosial media, aktivitas kemarin apa saja, sampai cerita random yang muncul karena melihat sesuatu di jalan. Seru. Kemudian, ketika di jalan pulang, ada momen di mana ceritanya habis atau mungkin juga sudah lelah, lalu kami diam-diam saja sambil melihat handphone masing-masing atau melihat ke arah kaca jendela mobil yang kami tumpangi

Sebagai seorang yang cukup peka (malah kadang-kadang terlalu peka menurut saya hmmm), suasana hening itu kadang-kadang membuat menjadi canggung. Kemudian, saya jadi berandai-andai, apakah karena ada momen diam-diaman ini berarti saya dan teman saya tidak akrab atau tidak cocok? nampaknya tidak juga. Apakah saya jadi tidak berteman lagi dengan dia? nampaknya tidak mungkin juga. Karena, sepertinya, seorang teman yang baik adalah teman yang tetap ada seperti apapun kondisi teman dan pertemanannya. (Disclaimer: we're not talking about criminals, toxic, and other "clearly need to avoid" things).

Kita berteman untuk berteman. 

Begitupun di hubungan lainnya.

Saya mencoba mengambil sebuah kesimpulan adalah, mungkin, kunci dalam semua hubungan yang bertahan itu adalah orang-orang di dalamnya memilih untuk tetap tinggal, apapun keadaannya. Kadang keadaannya buruk, kadang keadaannya baik, kadang keadaannya seru, kadang keadaannya awkward, kadang kita lelah, kadang mereka lelah, kadang kita excited, kadang mereka excited. Just be there, accept, compromise, understand. Nothing lasts forever. 

Stay as long as you can ..

See you at [sembilan puluh delapan]

Cheers,

EmπŸ™†