Saturday, 10 January 2026

[seratus enam] it is about sweeping

it is bad to be the one sweeping other's litter; but it is much worse to be the one who litter

Hello again everyone, and happy new year 2026!

masuk minggu pertama 2026, bagaimana kabar kawan2 semua? wkwkwkw minggu lalu mau nulis tapi kyk nda ketemu moodnya *elah alasaaann hahhhaa, jadi ya sudah nulisnya sekarang, mumpung lagi ada topik juga

anw, semoga tahun ini aman, tentram, sehat-sehat semua, best wishes khususnya buat kita2 yang WNI huehehehe

actually this week is akinda off for me, kyk hadeuh hadeuh padahal baru minggu pertama hahahaha and there's one moment that I felt like 'betapa bodohnya diriku ini and why did I do that one silly mistake'. Dan, karena itu banyak orang terdampak yang harus "menyapu". To be honest, I feel really bad.

Dalam kehidupan ini, baik pekerjaan atau yang bukan pekerjaan, kita pasti pernah "menanggung" kesalahan orang lain. Orang lain berbuat salah, tapi kita harus memperbaiki nya. Ketika itu terjadi beberapa kali, ada rasa kesal yang muncul. Kayak, kenapa sih kita harus kena dampaknya. Yang salah siapa, yang menanggung siapa. Yang keliru siapa, yang dimarahin siapa.. Yang numpahin siapa, yang ngepel siapa. Dan sejenisnya.

Dunia memang berputar guys. Sampai di suatu titik sayalah itu, saya lah yang menumpahkan minuman itu. 

You know what, rasa kesal nya berlipat-lipat ganda. Bercampur sih, rasa jengkel, rasa bersalah, rasa menyesal juga. Dan itu sangat tidak enak. Rasanya kyk cuma mau menghilang saja atau memutar waktu. yang mana dua-duanya sudah pasti ndak mungkin *kyk lebay tapi memang begitu hahaa

Di waktu kita menjadi orang yang "menanggung" kesalahan orang lain, rasa yang muncul mungkin cuma kesal saja, jengkel. But, at least, you did the right thing and you don't feel sorry about that, you feel proud. Tapi ketika kita tau kalau kita lah yang menjadi penyebabnya, rasanya aduh kayak feel bad, really bad, kadang-kadang sampai meragukan diri sendiri (lebay mode). Mungkin ini mirip seperti ketika suatu tim kalah atau seorang atlet kalah, mungkin kita fansnya kesal dan sedih, tapi si pemain pasti tidak kalah sedih dan kecewa. Kecewanya sama diri sendiri lagi. 

Ngomong-ngomong soal kesalahan, kadang-kadang kita memang tidak tau bahwa itu adalah sebuah kesalahan sampai itu terjadi. Dan saya nemu sebuah quote di thread tulisnya gini "forgive yourself for not knowing earlier what only time could teach". Lalu saya berpikir mungkin hal ini juga salah satunya. Ketika kita melakukan kesalahan yang kita tidak tau atau kita tidak bermaksud, mungkin kita harus belajar memaafkan diri sendiri. Meskipun di sisi lain, kita juga sadar mungkin itu kesalahan yang cukup besar, yang dampaknya ke banyak orang. Honestly, I don't know. Kita tidak pernah tau yang terjadi sekarang, yang terlihat buruk, apakah memang benar-benar buruk, atau mungkin di masa depan hal ini akan menjadi hal baik yang perlu disyukuri. Good or bad, right or wrong, I don't know.

Yah begitulah.

Kesimpulannya ada dua. Yang pertama, untuk saya, masih mencerna pengalaman membuat kebodohan ini dan jadinya sedang belajar harus bersikap bagaimana terhadap diri saya sendiri. Yang kedua, untuk semuanya, kalau kita yang jadi "tukang sapu", kesal lah secukupnya, dan percayalah it's way far far better than being the one who cause it happen.  

Oke, itu dulu saja yah curhatan saya hahaaa

Sampai ketemu di [seratus tujuh]

Cheers,

Em 🙆

No comments:

Post a Comment