gentong yang kena kepala, bukan karena dipukul pun, tetap sakit
After all this time, it takes me back to realize that wisdom is the highest. Kata highest ini sengaja dipilih untuk menggambarkan yang paling paling paling. Kebijaksanaan adalah yang terpenting, yang teratas, kalau bisa segalanya, kubilang dialah segalanya.
Setelah beberapa kejadian sehari-hari, membuat saya berpikir (memang naknya suka berpikir hahaaa makanya banyak pikiran *eh wkwkw) kalau ternyata ada satu hal di atas kebaikan, satu hal di atas semua yang baik-baik, itulah dia kebijaksanaan.
Bijaksana, gampang bilangnya, susah menjadinya.
Bijaksana itu kayak apa yah, penstabil, yang membuat kita tidak menyimpang terlalu ke kanan, tidak terlalu ke kiri, di tengah, stabil.
Orang baik, bisa jadi jahat, kalau tidak bijaksana.
Sebuah fenomena menarik yang saya amati belakangan (sebelumnya juga sudah pernah, cuma baru kepikiran aja hahaha), adalah suatu hal yang dilakukan tanpa niat jahat, bisa jadi output nya menyakiti orang lain. Menarik kan? Selama ini saya (atau banyak dari kita) berpikir, selama kita berbuat baik, aman lah barang-barang. Tidak usah berpikir kata orang, selama kita baik, gas saja.
Apakah salah? Tidak juga.
Saya punya sebuah cerita. Fiksi tapi hehe
Sebut saja mbak Bubu (ga ada ide nama hahaa), ia baru saja membeli sebuah mobil baru, terus tetangganya ini baru kena pemutusan hubungan kerja. Di satu sisi, karena mbak Bubu ini sangat senang dan bangga dengan mobil barunya, dia jadi suka dan sering beraktivitas dengan mobil barunya di depan rumah. Biasalah euforia punya mobil baru pada umumnya, apalagi hasil jerih payah sendiri. Rajin di lap, suka di nyalain di depan rumah, dan sering dibicarakan ketika ada tetangga yang lewat. Namun, di sisi lain, ternyata tetangga mbak Bubu ini (sebut saja mas Dudu) menjadi sedih, sedikit iri, dan terganggu dengan aktivitas mbak Bubu itu.
Ladies and gentlemen, saya bukan penulis cerita yang baik, mungkin cerita di atas tidak netral dan kurang representatif. Tapi, ..
Dari cerita di atas, apakah mbak Bubu ini salah? tidak, dia hanya sedang menikmati hasil jerih payahnya selama ini, tidak ada niat jahat sama sekali. Lantas, apakah mas Dudu ini salah? tidak juga, ia hanya sedang berada di kondisi yang membuatnya merasa demikian.
Tidak ada yang salah, hanya memang kondisi nya demikian.
Tapi, kadang saya berpikir, di beberapa situasi, saya berada di kondisi mbak Bubu itu, senang yang mungkin berlebihan hingga membuat orang-orang di sekitar saya mungkin merasa tidak nyaman, entah dengan alasan apapun itu. Sehingga, mungkin benar, perlu kebijaksanaan di segala kondisi. Sekali lagi tidak salah, tapi apa salahnya kalau kita (re: saya) mencoba melihat dan memahami sudut pandang orang lain.
Counter argument: tapi mas Dudu harusnya juga bisa ngerti dong orang lain?! Lho, ya betul, kalau kita berada di posisi mas Dudu kita juga harusnya bijaksana dan bisa memahami orang lain.
Tapi, kita tidak bisa menjadi dua pihak sekaligus, kita akan berada di salah satu pihak. Dan, rasanya, lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di posisi yang nyaman.
Coba bayangkan, lebih mudah mana, kamu habis gajian dan kamu diminta memahami temanmu yang moody, atau kamu habis diputusin pacar lalu diminta memahami temanmu yang moody?
Pasti akan lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di pihak yang 'lebih diuntungkan'. At that point, mengalah sedikit won't hurt. Dan, dalam hal ini, menurut saya, awal mula kebijaksanaan bisa timbul adalah rasa empati. Bisa memahami, menaruh kaki ini di sepatu orang lain, meskipun tidak bisa cocok dan pas, tapi minimal kita bisa rasakan, sepatu dia tuh gimana sih. Alas sepatunya tipis kah, bahannya kasar kah, tali sepatu nya kuat tidak. Dengan memahami orang lain, kita bisa lebih mengontrol diri dan menghindari sesuatu yang berlebihan. Senang berlebihan, excited berlebihan, pamer berlebihan, tampil berlebihan. It's not a mistake to feel happy, excited, confident, but when it's too much, it's something that you should aware of.
Perumpamaan lain ketika kita melempar batu ke arah acak, tidak ada niat jahat, tapi ketika batu itu mengenai orang lain, apapun niatnya, tetap saja rasanya sakit wkwkwkw
Ya begitulah, ini refleksi juga sih, kadang-kadang lupa itu manusiawi, tapi mawas diri itu mutlak untuk seorang manusia. Jadi, harus selalu awas biar gak los aja hehehe
Akan ada rasa bahagia yang berbeda, ketika pengendalian diri kita membuat orang lain nyaman dan bahagia.
This post is quite serious, but I think this is real serious tho :))
See you at [seratus], (wow sudah 99 ges wkwkw)
Cheers,
Em 🙆
No comments:
Post a Comment