Hari ini adalah hari Waisak. Di Indonesia, inilah satu-satunya hari raya agama Buddha yang merupakan hari libur. Jadi sebenarnya ada 4 hari raya agama Buddha, tapi saat ini yang diberikan hari libur baru satu, yaitu Waisak, yang memang adalah hari raya yang "utama". Tapi sebenarnya hari Waisak itu (menurut saya) bukan dirayakan (celebrate) tapi diperingati (ga tau apa bahasa engresnya). Hari Waisak memperingati tiga peristiwa agung, yaitu pertama, kelahiran Pangeran Siddharta, kedua, Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Sempurna (menjadi Buddha), dan ketiga, Sang Buddha mangkat (mahaparinibbana).
So, instead of celebrating, hari Waisak lebih mengarahkan umat Buddha untuk refleksi, mengingat kembali tiga momen agung untuk mendorong latihan dan meningkatkan keyakinan.
Kali ini saya bukan ingin bercerita secara spesifik tentang hari raya Waisak nya, tapi lebih ke agama Buddha tuh gimana sih. Kenapa mau bahas ini, karena menurut sependek pengetahuan saya, hal ini kurang gaung, bahkan di antara umat Buddha sendiri.
Jadi, hari ini feel happy and grateful di tengah kesakitan pinggang ini, alhamdulillah sudah membaik, jadi bisa ikut kegiatan dari pagi sampai soree, meskipun pake bala bantuan bantal untuk sanggahan duduk wkwkkwk tapi ya begitulah momen setahun sekali ini bisa diikuti (because pernah beberapa kali sy dak ikut puja bakti Waisak gegara adalah pokoknya hahaaa tapi wktu itu jadi berpikir bisa gitu ya, klo mmg ga ada kesempatannya, ga bisa lho puja bakti meskipun mau).
Oke lanjut, tapi ceramah (Dhammasakaccha dan Dhammadesana) hari ini itu cukup berkesan dan menyentil dan sekedar mengingatkan kita sebagai umat Buddha #iziin. Tagline nya adalah "Engkau sendiri lah yang harus berusaha, Para Tathagata hanya menunjukkan jalan". Menurutku ini sangat apa yaa, sangat dalam (?). Susah saya menjelaskan. Tapi, what I mean is, di dalam agama Buddha, keyakinan dan pemahaman saja tidak cukup. Bukan tidak perlu ya, tetap perlu dan penting, tapi tidak cukup. You have to practice. You must. In order to reach the spiritual goal.
Ada satu perumpamaan yang Bhante sampaikan, ketika kita ingin menyeberangi sebuah pulau dari pulau sini ke pulau sana, kita tidak pernah "meminta" atau "menyuruh" pulau sana untuk mendatangi/mendekati kita. Tapi, apa yang kita lakukan, kita berusaha menyeberang ke sana, entah bikin jembatan, entah pakai perahu. But we are the ones who get there. Bukan kita yang didatangi, tapi kita yang ke sana. So, that's how Buddhism works, you need to get there, to reach the ultimate freedom and happiness.
And I think this is the uniqueness of Buddhism.
Sang Buddha sudah menunjukkan jalan lewat Ajaran-Nya, tinggal kita inilah yang berjuang. Tadi juga diingatkan untuk meditasi. Satu-satunya cara mencapai tujuan luhur itu lewat meditasi, pengembangan batin, supaya pikiran ini lebih terkendali dan jernih dan mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan.
Ya begitulah ya.
Yang mau saya highlight adalah dalam agama Buddha sangat menekankan pada praktik yang didasari pembelajaran. Jadi, mau belajar sampai manapun tapi kalau tidak praktik, rasanya percuma. Akan berputar-putar terus di siklus lahir-mati ini.
This post is a Vesakh reflection for myself, dan mungkin buat teman-teman yang beresonansi juga. Sebagai pengingat bahwa heyy praktek wkwkkwk jangan malas-malas belajar, jangan malas-malas meditasi supaya bisa terbebas sesungguhnya. Biar waras di dunia dan bisa terbebas sepenuhnya hehhehe
Begitu saja kira-kira.
Lately tulisanku agak kureng yah huhuuu
Nanti coba kita garap lagi ya, kek buntu euyy wkwkkw
Selamat Waisak ya semua yang merayakan, semoga menjadi momen untuk refleksi dan menjadi lebih baik dalam praktik Dhamma. Tetap berjuang :)
I'll see you at [seratus lima belas]
Cheers,
Em 🙆
No comments:
Post a Comment