Monday, 30 November 2020

[tiga puluh lima] Repot!

Repot! Repot! 

Kenapa orang tidak ingin direpotkan? Kenapa hayoo? Wkwkwk apakah kalian juga tidak mau direpotkan?

Hahaaa mungkin akan jadi postingan yang cukup kontroversial, mungkin bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk saya nanti mungkin 5 atau 10 tahun kemudian kalau saya baca lagi, mungkin saya akan pikir dasar anak ingusan belum tau susahnya hidup! Hhahaa mungkin demikian, tapi mungkin juga tidak, mungkin saya tetap memiliki pemikiran yang sama dan cukup senang bisa menulis ini saat ini. Who knows, and who cares?

Anyway, semakin ke sini, banyak hal yang terjadi yang membuat saya jadi berpikir sendiri, kenapa kadang-kadang kita sulit untuk mengeluarkan energi lebih untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, padahal kita sebenarnya mampu? Kenapa kita selalu membawa nama 'repot'?

Mungkin iya, kalau kita sedang sibuk, kita bisa menolak, atau  menawarkan di lain waktu. Tapi kadang kala kita tidak benar-benar sibuk, bukan begitu? Kadang kala kita melihat diri kita sibuk tapi sebenarnya tidak sedemikian kok.

Mungkin hanya saya yang berpikir seperti ini. This is also notetomyself, to think more, to find the answer, or maybe it has no answer. Who knows?

Tapi ya, begitulah. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya. Kenapa? Mungkin ada yang tau jawabannya?


Sampai ketemu di [tiga puluh enam],

Cheers,

Em 🙆

Thursday, 15 October 2020

[tiga puluh empat] the overrated mental health issues

disclaimer: tulisan ini bukan berarti menganggap remeh isu mental health yang sangat penting untuk kita sebagai manusia, selain itu, ini hanya semata-mata opini saya pribadi. Terima kasih :)

Halo.. haloo.. semuanyaaaa..

Yap, mungkin postingan kali ini cukup kontroversial yaaa hahahhaaa, tapi saya hanya ingin mengutarakan pendapat saja tanpa berniat untuk menyinggung pihak mana pun, so let's start..

Jadi belakangan ini, issue mental health sedang marak-maraknya diperbincangkan dan disosialisasikan. Menarik sekali, bahwa hal yang tidak menjadi prioritas bahkan tidak ada di zaman kakek nenek kita atau bahkan orang tua kita malah menjadi hal yang penting untuk manusia di zaman kita sekarang. Sangat setuju, bahwa kesehatan itu bukan hanya fisik, tapi sehat secara mental juga tidak kalah penting, bahkan mungkin jauh lebih penting. Orang mungkin bisa saja sakit secara fisik, tapi sakit nya itu mungkin bisa lebih ringan jika mentalnya sehat. Jadi, mental health merupakan suatu concern yang penting dan sangat tepat jika sering disosialisasikan di zaman sekarang ini. Khususnya di zaman sekarang ini, semua perubahan terjadi begitu cepat, ditambah lagi kondisi pandemi ini, orang-orang banyak yang lebih mudah stres dan lain-lain. Oleh karena itu, saya sangat sependapat bahwa sangat penting untuk menjaga mental heatlh kita sebagai seorang manusia jika ingin tetap waras dan produktif.

However kkwkwkw

Unfortunately .... hehhee..

Ya, akan tetapi, yang sering terjadi bahwa, ketika sesuatu digaungkan terlalu kencang, kadang-kadang malah menjadi berlebihan alias overrated. Menurut saya pribadi (sekali lagi, menurut saya pribadi wkwk) mental health issues ini sudah mulai mengarah ke overrated, mirip pada kasus passion (mungkin bisa dibahas lain kali) wkwkkw semua orang men'dewa'kan passsion dalam kehidupan ini. Mirip dengan itu, mental health juga seperti sudah mulai melenceng dari apa yang seharusnya. Banyak diskusi-diskusi atau pandangan-pandangan yang melihat bahwa kesehatan mental itu adalah segalanya.

Hati-hati..

Menurut saya, mental health atau kesehatan mental itu agak mirip-mirip dengan hak asasi. Namanya juga hak asasi atau hak dasar, maka setiap orang bisa memperjuangkan hak tersebut. Akan tetapi, poin pentingnya di sini adalah janganlah kita menuntut hak kita tapi merampas hak orang lain. Setiap orang punya hak untuk hidup tapi bukan berarti mencuri itu dibolehkan. Mengapa? Karena semua orang juga punya hak untuk hidup aman. Maybe not a good example, tapi simpelnya seperti itu, ilmu saya masih terbatas hahahaaa. Sekarang mari kita lihat dengan kesehatan mental. Masalah kesehatan mental ini luas sekali ya, dan karena saya bukan expert, saya coba memberi contoh dan pandangan secara umum saja, yang sering saya alami. Jadi, misalnya kayak kalau kita lagi stres, lagi bete, malas ngomong atau gak mau ketemu orang-orang, gak papa untuk diam. Di satu sisi benar, tapi di sisi lain jangan sampai itu menjadi 'excuse' untuk pukul rata semua kondisi. Orang ramah dengan kita, tapi kitanya ketus, kan dia jadi heran. Atau, mungkin ada orang yang juga mengalami hal yang sama bahkan lebih buruk kondisinya dari kita, kita tidak tahu, trus kita misalnya menyinggung dia karena kita tidak bisa mengontrol perkataan kita. Trus, kita bilang 'kan saya tidak tahu? saya lagi banyak masalah'. Lha, kan dianya juga tidak tahu anda sedang banyak masalah? Orang dia juga lagi banyak masalah wkwkwkw kira-kira begitu yaa. Ya, memang tidak bisa dipungkiri juga bahwa mungkin kadar toleransi stres masing-masing orang berbeda. Tapi, let's not make any 'pembenaran' untuk diri kita di sini dengan menutup mata dengan kondisi orang lain. At least, for me personally, it's not how it works.

Penting untuk tetap waras, tapi melakukan segala cara untuk tetap waras pun sepertinya kurang bijaksana. Kita hidup saling terkoneksi satu dengan yang lain, bukan cuma kita, bukan. Lagipula, apakah kita bisa waras kalau kita mengorbankan hak orang lain untuk waras juga? And, some people say 'kadang-kadang kita perlu masa bodoh dengan orang lain'. Ya, setuju, cukup setuju, tapi masa bodoh dengan tidak merugikan orang lain. Masa bodoh dengan orang lain bukan berarti melalaikan tanggung jawab kita. Misalnya atas nama kesehatan mental, jadi mogok kerja wkwkk jangan yaaa hahahaa itu namanya bukan mental health, itu lebih ke 'I can't handle this, I quit' which is not for the sake of your mental health. Jadi, yaa harus lebih cermat dan jeli lah dalam memelihara mental health kita sendiri. 

Saya berpikiran seperti ini sekali lagi bukan berarti saya menganggap mental health tidak penting atau mental saya sudah sangat healthy wkwk bukan sama sekali. Saya juga masih sering miss dan lose, hanya saja mungkin saya hanya melihat dari aspek yang berbeda kali ini. 

Lanjoot,

In brief, the overrated mental health issues is not the concerned mental health issues. How do you know if you have overrated your mental health? You are the one and only who know it. Sekali lagi ya, menurut hemat saya, dengan menanggapi masalah kesehatan mental dengan terlalu berlebihan yang ujung-ujungnya ternyata memberikan porsi yang jauh lebih besar untuk ego kita sendiri, maka hal itu bukanlah kesehatan mental yang sesungguhnya yang dimaksud, bukanlah masalah kesehatan mental untuk tujuan yang baik.

Saya percaya sekali, bahwa isu kesehatan mental ini penting, penting untuk menjaga bukan hanya fisik tapi juga mental. Mental health ini sangat tricky dan fragile sekali teman-teman, sangat tipis dan mudah pecah wkwkkw Jadi, jika mental kita sehat ketika mental orang lain sakit atau dengan kata lain, gegara kita ingin sehat secara mental maka kita menyakiti mental orang lain, maka saya kira, ada sesuatu yang janggal dan salah di sana. 

Untuk teman-teman yang sudah membaca sampai akhir, terima kasih banyak. Mungkin setelah membaca ini, banyak yang berpikir ini seperti menganggap remeh mental health sendiri atau bagaimana, tapi coba diresapi dan direnungi dahulu. Satu hal bahwa, sejauh mana kita membawa isu mental health ini, apakah kita berlebihan menanggapinya atau sudah wajar dan sesuai porsinya, sekali lagi, hanya kita sendiri yang tahu. Bagaimana cara kita tahu? Yaitu dengan diam, merenung, berpikir. Tidak menolak, hanya melihat, selama ini kita gimana sih, apakah kita merenggut mental health orang untuk kesehatan mental kita sendiri? Tidak semudah itu memang, kita bukan manusia super yang bisa mengontrol setiap titik emosi kita, yang selalu harus menjaga perasaan orang lain. Bukan, bukan seperti itu. Kita ini manusia biasa, tidak luput dari khilaf dan salah. Hanya saja, ketika kita mulai menyadari, kita bisa lebih aware dengan diri kita dan dengan orang lain, dengan begitu kita bisa punya lebih banyak pilihan dalam menanggapi sesuatu termasuk kesehatan mental kita. Ini memang seperti omong kosong, tapi coba dulu, pelan-pelan kita bisa melihat dengan lebih jelas dari sebelumnya.

Mungkin, kali ini segini dulu, semoga bisa memberi insight yang baru yang tidak menyesatkan. Hopefully. Terima kasih semua.

Sampai ketemu di [tiga puluh lima],

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 8 September 2020

[tiga puluh tiga] what is it about being good?

virtue is its own reward

-Marcus Tullius Cicero-

Halohalohalo semuanya! :)

Ini tidak akan panjang gais kayaknya, tapi sepertinya akan sedikit tajam hahahaa

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berpikir tentang balas budi. Bukan Budi dalam buku pelajaran bahasa Indonesia yaa (krik krik wkwkwk). Anyway, kata orang tua kita, jadi orang harus tau balas budi. Ada juga yang mengatakan utang budi dibawa mati. Nah, utang budi itu apa? Kenapa utang budi menjadi sangat berharga dan tak ternilai harganya? Kalau menurut hemat saya, karena budi atau jasa itu nilainya tidak bisa dibandingkan dengan materi. Ketika ada seseorang meminjamkan kita uang 1 juta rupiah di saat kita sedang susah-susahnya membutuhkan uang, maka mungkin suatu hari kita bisa membayar kembali uang senilai 1 juta rupiah bahkan beserta bunganya. Tetapi, yang tidak bisa kita balas adalah niat baik orang tersebut yang sudah mau menyisihkan uangnya untuk membantu kita. Niat itu yang menjadi tak ternilai harganya dan mungkin karena itulah dikatakan bahwa utang budi dibawa mati.

Lalu, saya menjadi berpikir bahwa, jika seseorang berbuat kebaikan kepada orang lain 'hanya' karena ingin balas budi, hmmm bagaimana ya? Hingga pernah terbesit bahwa kalau memang melakukan kebaikan 'hanya' karena ingin balas budi maka sebaiknya tidak usah dilakukan.

Eits, tapi, saya pun terus berpikir dan berpikir. 

Sebenarnya, apapun motifnya, berbuat baik adalah berbuat baik, kebaikan tetaplah kebaikan. Tetapi menurut saya alangkah lebih baiknya jika ketika kita berbuat baik tidak 'hanya' karena 'sebatas' ingin balas budi. Satu pertanyaan, jika orang tersebut tidak punya budi  kepada kita (tidak pernah menolong kita, dsb), akankah kita tetap berbuat baik atau menolong orang tersebut saat dia susah? Silahkan dijawab sendiri. Tapi, maksud saya intinya ada di sini, seharusnya ada budi atau tidak ada budi, kita tetap bisa berbuat baik, gitu loh wkwkwk. Disclaimer sedikit, ini bukan bermaksud mengajar, menggurui, menyinggung, dan lain sebagainya. Ini cuma akan menjadi pengingat untuk saya, siapatau suatu hari pikiran saya berubah atau ada hal lain yang mengusik, mungkin saya bisa kembali membaca ini dan berpikir dan merenung kembali.

Other than that, let me have some words here, and then I will leave it to you, guys :)

Being good is not a transaction. You cannot make it as an excuse to expect people to do the same way as you do to them. It does not necessarily mean that when you do good to someone, then you have to get that 'good' back either from the same person or from other people. It is not how it works. It is a transaction, not a virtue. Being good is just good, just it is. Being good means you are able to train yourself to let go of the things that are not meant to be for you. In this case, letting go means that even if you don't get that 'good' back, it doesn't matter because it is not meant to be yours. When you do good and you have a bad day, that's not a problem anymore because you do good not because you want to have a good day. You do good just because you just want to be a good person. So, if you have a bad day after doing something good, you will know and realise and have a good understanding that it has nothing to do with the good deed you did before and you will stop thinking that it is not fair because of the bad things after doing something good. 

Being good is not that I have to be paid back for what I did. However, karma does exist. You don't have to ask for good things after you do good because one day it will automatically come to you even if you don't wish. That also happens with bad things. You harvest what you sow. That's why you don't have to expect to get something because the expectation will ruin all your good deeds. It is not pure anymore. 

Berbuat baik tidak mengharap, tidak meminta, tidak menuntut, pun tidak membayar. Berbuat baiklah karena, pertama, orang tersebut membutuhkan bantuan, kedua, kesadaran sendiri bahwa menjadi baik itu baik, menjadi baik itu membuat kita bahagia, kebaikan memberikan kebahagian di level yang berbeda.

Mungkin begitulah kira-kira guys, sekali lagi ini hanya opini pribadi saja, hanya bermaksud menulis keresahan pribadi. Semoga berkenan.

Stay good :)

Sampai ketemu di [tiga puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 6 September 2020

[tiga puluh dua] the invisible things

apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada

saya aja, 2020 wkwkw  

The ceiling has fallen, 4 September 2020

Sebuah fenomena langka yang menurut saya harus saya ingat baik-baik hahahaaa. Seumur-umur belum pernah saya mengalami hal yang demikian, plafon kamar yang tiba-tiba runtuh. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, tetangga saya, saat itu hujan dan angin memang sedang kencang-kencangnya, lalu tiba-tiba atapnya jeblok, jatuh. Mungkin saat itu dia juga merasakan yang saya rasakan hahhahaaa. Dari situ, kemudian saya jadi berpikir. 

Pertama, siap tidak siap, kita harus selalu siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Bukan cuma plafon runtuh, rejeki runtuh pun harus siap wkwkwk. Setiap malam saya tidur menghadap plafon itu, tapi tidak pernah saya berpikir kalau plafonnya bakal jeblok hahhaa. Banyak hal yang terjadi di hidup kita yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Dan, itu wajar-wajar saja. Kita saja yang kadang-kadang kaget terlalu lama untuk hal-hal yang sebenarnya kita sudah tau. Tidak ada yang bisa diprediksi secara pasti, bukan?

Kemudian, terlepas dari plafon runtuh itu, yang sempat saya pikirkan belakangan adalah sama seperti yang saya kutip di bagian awal, apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada. Belum tentu ketika saya tidak pernah menemui atau mengalami sesuatu bukan berarti hal tersebut tidak ada.

Sebuah frasa 'masa sih' dalam sebuah pertanyaan semestinya selalu mendapatkan jawaban 'ya'. Entah hanya saya, atau mungkin banyak orang sering berpikir misalnya 'masa sih ada orang yang bisa kepikiran plafon di atasnya akan runtuh?' atau 'masa sih ada orang yang tidak punya idola?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah marah?' atau juga 'masa sih ada orang yang tidak pernah pikirkan dirinya sendiri?'. Setelah dipikir-pikir, entah benar atau tidak hahaa, tapi saya rasa jawabannya ya bisa jadi ada. Kalau selama ini saya selalu bertemu orang yang suka marah bukan berarti semua orang di dunia ini suka marah. Dunia ini tidak sesempit apa yang kita kira. Dunia ini terlalu luas dengan terlalu banyak jenis-jenis manusia yang hidup di dalamnya, belum lagi makhluk lain wkwkkw

Makanya, kita tidak boleh cepat menarik kesimpulan hanya dengan melihat dari satu sisi. Semua kemungkinan bisa terjadi, tapi kita tentu harus siap dan tau bahwa kemungkinan itu ada. Terlalu sederhana jika kita hanya sependapat dan meyakini apa yang ada dalam pikiran kita, padahal di luar sana ada begitu banyak hal yang tidak kita pikirkan atau bayangkan sebelumnya.

Kali ini saya menulisnya singkat, tapi coba jika teman-teman sempat membaca ini, coba dilihat kembali apakah kita sering demikian, berkesimpulan sesuai apa yang kita lihat dan tau. 

Selalu siaga.

Salam sehat selalu.

Sampai ketemu di [tiga puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆


Tuesday, 11 August 2020

[tiga puluh satu] Belajar Melepas ...

santai mko, dunia ji ini ...

- anak makassar jaman entahlah wkwkwk -

Halo lagi teman-teman, semoga selalu dalam keadaan sehat yaa, masih pandemi nih sudah masuk bulan ke 6, tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dalam kondisi pandemi ini yaa, tetap semangat maju terus! Apalagi ini bulan Agustus kan, bulan kemerdekaan, harus semangat dong! Wkwkkw

Kali ini, saya mau tanya, seberapa sering kita kehilangan? Entah dari kehilangan barang remeh temeh sampai kehilangan orang yang paling disayang?

Saya sendiri woww sudah tidak terhitung kehilangan yang saya alami selama hidup ini wkwk mulai dari kehilangan pulpen sampai kehilangan anggota keluarga yang disayangi. Baru-baru ini, laptop saya tiba-tiba rusak dan ternyata harus direset, padahal awalnya saya berpikir harus diperbaiki atau malah harus beli baru, tapi ternyata bisa diperbaiki asal direset ulang. Otomatis tidak romantis, aplikasi dan beberapa data (untungnya bukan yang krusial) harus hilang dong. Sempat juga beberapa tahun lalu, kehilangan HP, juga otomatis tidak romantis, kartu sim nya hilang, kartu memori nya hilang, foto-foto hilang semua dong. Yang paling aneh, saya pernah kehilangan tas di rumah saya sendiri beserta isinya, ada buku, kalkulator, dan dompet kalau tidak salah ingat tapi untungnya KTP dan kartu penting lainnya tidak di dompet itu. Apanya yang aneh? Anehnya adalah, tas itu hilang di dalam rumah dan barang berharga lain seperti laptop, HP tidak hilang padahal ada di ruangan yang sama. Saya sampai bingung, apa saya tidak sadar terus saya buang tas saya ya? Hahahaaa

But, then, so what? Kalau bahasa Makassarnya, jadi kenapa mi? wkwkkww

Yang ingin saya katakan adalah santai mi dunia ji ini hahhaaaa 

Maksudnya adalah tidak ada yang selama-lamanya. Ketika saya mereset laptop saya (ini baru saja kemarin ketika saya menulis ini), saya jadi kepikiran dan mengingatkan diri saya kembali kalau oh iya ya, suatu hari bisa loh barang itu rusak, kayak laptop ini, tidak saya duga-duga sebelumnya, karena terakhir saya pakai masih bagus eh tiba-tiba harus direset. Saya jadi mikir dan kembali belajar dan mengingatkan diri saya, kalau ini mah hal lumrah, bisa terjadi pada barang apa saja dan orang mana saja. Saya jadi 'diingatkan' oleh laptop ini kalau saya tuh harus tau betul kalau suatu hari barang lain juga mungkin akan mengalami hal yang sama, wajar saja, tidak usah terlalu merasa bagaimana, tidak usah terlalu sedih. Hari itu, saya belajar dari laptop saya, terima kasih laptop hahhahaaa jangan begitu lagi ya, kalau begitu lagi, nanti saya berterima kasih lagi wkwkkw

Barang hilang itu biasa, mari belajar merelakan. Jangan melekat. Nanti kita kayak tikus, kena lem, ga bisa lepas, lalu mati, sia-sia wkwkkw. Seringkali ketika kita kehilangan sesuatu itu nyeseknya sampai lamaaaaaa sekaliiii, mungkin karena barang kesayangan ya yang diperoleh dengan jerih payah misalnya. Ketika pulpen kita hilang, duh, bisa sampai berhari-hari galaunya. Pulpen saya kemana ya terakhir saya taruh dimana ya, terakhir siapa yang pinjam ya? Pusing dah tuh pikirannya kemana-mana padahal kan masih punya pulpen lain. Mungkin saja pulpen kita menjadi amal untuk orang lain yang membutuhkan. Pulpen itu sudah jadi manfaat besar untuk orang lain. Mungkin hehehee. Karena di otak dan pikiran kita, kita melihat barang itu sebagai punya kita, milik kita, punyaku, milikku, tanpa sedikitpun berpikir bahwa barang ini juga bisa hilang. Kita kadang-kadang kurang paham betul bahwa nothing lasts forever, really, nothing. Kita tahu tapi tidak betul-betul paham. Singkatnya, kita kadang terlalu melekat, kita kurang melepas ...

Anyway, ini bukan berarti bahwa oh kalau gitu gak apa-apa dong kalau barang kita hilang kan memang tidak ada yang selamanya, jadi taroh saja sembarangan barang-barangnya. Hahahaaa bukan begitu juga dong kakak, kan ada namanya tanggung jawab, amanah. Ya, tetap harus bertanggung jawab dong dengan yang kita punya, harus dijaga, dirawat sebaik-baiknya. Tapi, ada hal yang berada di luar kontrol kita. Dan ketika kita sudah  melakukan yang sebaik-baiknya, tetapi barangnya tetap hilang, itulah yang saya maksud. Ketika semua sudah terjadi, apa yang harus dilakukan? Itu yang penting. Malahan, karena kita tau bahwa suatu hari barang (di sini saya contohinnya barang aja ya, tapi orang juga bisa loh wkwkwk) ini akan pergi, akan hilang, akan rusak, akan diambil, atau akan tidak terpakai lagi, maka kita harus menggunakan waktu yang singkat ini untuk menjaga, memakai, memanfaatkan, memelihara apa yang kita punya sekarang. Sehingga, ketika waktunya tiba, barang itu hilang, pergi, rusak, kita tidak kaget lagi, tidak nyesek lagi, karena kita tau memang semua akan pergi pada waktunya dan kita tau selama ini kita tidak menyia-nyiakannya.

Melekat itu agak berbahaya sebenarnya gais, kadang-kadang kita tidak sadar. Kayak lem tikus atau lem alteco atau lem korea gitu hahhaaa, lengket, susah lepas, sekalinya lepas, malah luka. Kita itu sering begitu, tanpa sadar. Sudut pandang kita dibutakan dengan apa yang kita punya sekarang. Mungkin karena sudah terlalu nyaman, sampai lupa. Nyaman dengan punya HP, ketika hilang atau rusak, bingung. Ya, memang kadang-kadang kita perlu mengingatkan diri sendiri kalau ini cuma barang loh, suatu hari bisa rusak atau hilang. Kalau misalnya terjadi saya akan bagaimana ya? Bukan bermaksud meminta-minta supaya barangnya hilang hahahaa tapi upaya pencegahan aja. Sedia payung sebelum hujan (kalau tidak naik mobil) wkwkwk. 

Saya lupa waktu jaman kapan mungkin waktu kuliah kali ya atau SMA ya hahhaaa kalau ada orang yang berlebihan dengan sesuatu atau berlebihan dengan yang ia miliki, maka pasti akan muncul kalimat ini 'santai mko, dunia ji ini' (artinya: santai aja, ini cuma dunia) wkwkw. Lucu juga menurut saya, tapi ada benarnya. Memang benar, bahwa ini cuma dunia, tidak selamanya, tidak kekal. Benda, hewan, manusia, perasaan, peristiwa, semuanya datang dan pergi bergantian. Whoever you are, you have no idea on how to keep something forever. Cepat atau lambat, sekarang atau  nanti, ketika tiba waktunya semua akan pergi dan yang lain akan datang. 

Ya, begitu saja siklusnya, datang, pergi, hilang, tumbuh, berganti, selalu, demikian.

Saya yakin, kita, teman-teman semua yang membaca ini pasti lah sudah familiar, sudah tau, sudah hafal di luar kepala kalau tidak ada yang abadi. Ada barang yang hilang, ada orang pergi, lumrah. Kita tidak selamanya ditinggalkan, bisa jadi kita saling meninggalkan. Kita juga bisa jadi orang yang pergi, jadi orang yang hilang. Jadi, ya biasa aja. Memang itu wajar terjadi dan bagian dari proses kehidupan. Jadi, kalau sudah tau, kenapa masih sering sedih yang mendalam? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Coba tanya-tanya sama diri sendiri, seperti di postingan sebelumnya wkwkk. Seberapa melekatnya kita, seberapa melepasnya kita, hanya kita sendiri yang tau.

Kita manusia, wajar sedih ketika ada yang hilang, wajar senang ketika ada yang datang (umumnya demikian, pun tidak semuanya). Tapi ketika kita tau pakemnya, tau basic dari semuanya, kita tidak akan terlarut, terhanyut dan terbawa, karena kita tau, kita paham, kita sadar betul. Ya, begitulah kira-kira. 

Jadi santai mi saja teman-teman wkwkkww 

Ada yang hilang, ada yang datang, semuanya, ketika sudah waktunya.

Saya juga masih belajar, mari kita sama-sama belajar untuk tidak terlalu melekat :)

Semoga ada faedahnya ya. Sampai sini dulu.

Sampai ketemu di [tiga puluh dua]

Cheers,

Em 🙆

[tiga puluh] Talk to yourself!

Self contemplation is the best way to fall for your ownself

-Priyal Agrawal-


Hello again! Hope you are all doing well there!!

Hmm, a question, have you ever talked to yourself??

But, wait, don't do this very often because people may think you are a lil bit 'pongoro'? wkkwkwww

I'm joking huehehehee

Jaaaadiii, kali ini, saya mau nulis terkait self-talk atau self contemplation atau berbicara dengan diri sendiri, yang saya gak tau apakah banyak yang sudah familiar dengan ini atau sudah sering melakukan ini. Saya pribadi melakukan ini cukup sering mungkin karena saya orangnya lebih introvert dan agak susah ngobrol dengan orang lain, jadi saya lebih sering membahas apa yang ada dalam pikiran saya dengan diri saya sendiri. Sounds weird? Entahlah kwkkwww

I'm not talking about whether it is weird or not, but I found it useful, so I'm just trying to share ... Let's get started ...

Nah, ngomong dengan diri sendiri atau bisa dibilang merenung atau mungkin berkontemplasi. Menurut saya pribadi, dengan berbicara dengan diri sendiri sangat membantu dalam banyak hal. Termasuk ketika saya sedang menulis blog ini, saya sedang berbicara, berdiskusi, dan berdebat dengan diri saya sendiri.

If you never do this, then you should try it someday. I am sure, it helps, at least for me, but I hope for you, too ...

Apa yang terjadi ketika kita berbicara dengan diri kita sendiri?

Ketika kita punya suatu ide, suatu pemikiran, suatu pendapat, suatu emosi, atau apapun itu bentuk pikiran yang muncul di pikiran kita, berbicaralah dahulu kepada diri sendiri. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mengontrol diri kita. Itu yang pertama. Contoh simpel, misalnya ketika sedang jengkel kepada orang, kita bisa bilang ke diri kita bahwa kita sekarang sedang jengkel. Nah, dengan berkata demikian, bagian dari diri kita yang lain akan merespon.  Di sini, bukan berarti kita punya banyak diri yaa hahaa tapi kita pasti punya pemikiran lain yang muncul setelah satu pemikiran muncul. Nah, pemikiran pengikut ini atau yang saya sebut sebagai 'respon' yang mungkin kadang-kadang kita sering abai jika kita tergesa-gesa. Responnya ini menurut saya tergantung latihan kita dan kepribadian kita seperti apa. Bisa jadi kita menanyakan balik ke diri kita mengapa kita jengkel? Atau mungkin kita malah mendukung rasa jengkel itu, atau mungkin mengatakan bahwa tidak perlu jengkel. Banyak kemungkinan. Tentu, lebih baik kalau kita bisa mengontrol ke hal yang positif atau yang lebih baik. Tapi, ketika kita mengangkat suatu argumen ke diri kita sendiri, kita punya waktu lebih panjang sebelum menentukan suatu tindakan yang mungkin saja bisa merugikan kita ataupun orang lain. Dengan demikian, kita bisa lebih mengontrol tindakan yang kita ambil. Jadinya, kita tidak tergesa-gesa dan menyesal. Contoh lain, ketika kita ingin mengungkapkan sesuatu, nah kita bisa berdiskusi dulu dengan diri kita, berpikir lagi, menyelami lagi, kira-kira yang mau saya sampaikan ini menyakiti orang gak ya? Kira-kira berguna tidak ya? Kira-kira sudah sopan belum ya? Ya, kurang lebih begitulah, untuk yang pertama ini, menurut saya sangat membantu untuk mengontrol apa yang kita lakukan, karena kita seolah-olah seperti mengulur waktu dengan mengolah pikiran kita.

Lalu, selanjutnya itu adalah memperkaya perspektif akan suatu hal. Jadi, mirip contoh kasus seperti di atas. Dengan berbicara atau berdiskusi dengan diri kita, sebut saja kontemplasi diri, kita belajar melihat dari berbagai sudut pandang. Secara tidak langsung, bisa mengolah cara berpikir kritis kita. Ya, karena otomatis kita akan berdebat dengan diri sendiri. Namanya saja berdebat pasti kadang-kadang bisa berlawanan pendapat. Okay, jadi begitu ya hehee kita bisa melihat apa yang kita rasakan atau pikirkan dari berbagai sudut pandang dan bisa melihat lebih jauh ke depan. Ketika kita bisa memberikan waktu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, otak kita, pikiran kita akan punya kesempatan mengeksplor lebih banyak, sehingga keputusan yang kita ambil bisa dibilang sudah melewati beberapa seleksi gitu.

Kemudian berikutnya yaitu kita bisa lebih mengenal diri sendiri. Kita bisa tahu perspektif apa yang kita ambil, sudut pandang mana yang kita amati, bagaimana pola pikir kita, bagaimana respon kita terhadap suatu hal. Dengan sering-sering kontemplasi diri, kita kurang lebih bisa introspeksi, menyeleksi apa yang baik dan buruk dan ujung-ujungnya bisa upgrade diri. Kita pun juga akan lebih terbuka untuk dikritisi oleh diri kita sendiri. Tapi apakah benar begitu? Bukankah kita punya ego? Nah, ketika kita berusaha berbicara dengan diri kita sendiri, maka jangan maksa juga wkkwkw turunkanlah egonya sedikit, ketika kita punya suatu pemikiran yang mungkin kita kurang setuju, maka pemikiran itu jangan ditolak, tapi lihat dan amati kenapa kita bisa berpikir begitu. Dan apakah itu benar atau tidak? Dampaknya baik atau tidak? Dengan begitu, kita bisa pelan-pelan belajar. Ibaratnya, kalau kita saja tidak mau mendengar diri sendiri, bagaimana bisa kita dengar orang lain? wkwkwkw

Mohon maaf ya ini mungkin yang saya sampaikan agak berat mungkin hehehee atau penjabarannya kurang jelas. Intinya, dengan berbicara dengan diri sendiri bukan berarti kita tidak bisa cerita atau curhat ke orang lain. Tentu bisa, kita selalu butuh orang lain, tidak mungkin tidak. Tapi, dengan sesekali meluangkan waktu untuk kontemplasi diri, menurut saya, kita bisa jadi lebih tenang, terkontrol, lebih mengenal diri sendiri dan juga kita bisa belajar lebih banyak tentu dari diri kita sendiri juga. 

Kadang-kadang yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan kita itu adalah diri kita sendiri bukan orang lain.

Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu perlu, asalkan jangan sambil tertawa tanpa sebab nanti dikira apa gitu wkwkkwkk

Sekian dulu ya teman-teman, sekali lagi ini opini saya saja, semoga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat karena kita semua sama-sama belajar dan sama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih baik, bukan? hehehe

Stay safe semuanya, jaga diri kita untuk kita dan orang lain :)

Sampai ketemu di [tiga puluh satu]

Cheers,

Em🙆


Tuesday, 4 August 2020

[dua puluh sembilan] gone too soon

Good things come in good time
-Wiz Khalifa-

Halo guys, welcome back! Hope you are doing well wherever you are!

Kali ini cuma pengen cerita saja, bahwa saya adalah orang yang cukup percaya dengan ungkapan 'semua ada waktunya'. I do. Apapun itu, selama kita masih mau dan terus berusaha, maka segala sesuatu akan tiba atau terjadi pada waktunya. 

Tapi...

Apa yang terjadi ketika waktunya belum tiba tetapi waktu yang lain sudah berakhir?
Apa yang terjadi ketika dua waktu tidak saling bersilangan?

Kita hidup saling bergantungan satu sama lain, we do need other people, to help us, to cheer us up, to answer our question, or even just to stand beside us in silence. What happen if you have a question but the answer has run out of time? Or what happen when you realize something but the time is over?

Cukup mengawang-awang ya hahahahaa

Contoh sederhana, jika kita diberikan laptop ketika usia kita misalnya masih SMP, mungkin kita cuma tau memakainya untuk main game, mengetik, atau pekerjaan microsoft office lainnya. Tapi, ketika kita mungkin sudah kuliah kita tau bahwa sebenarnya laptop kita bisa lebih dari itu, bisa buat photoshop, bikin video, dan untuk kreativitas lainnya. Tapi, bagaimana jika saat kita kuliah , laptop kita sudah tidak bisa dipakai??

Get a brand new laptop!

Good answer! Betul sekali, beli laptop yang baru, masalah selesai.

Pertanyannya, bagaimana jika saat kita kuliah, semua perusahaan pembuat laptop sudah tutup??

There must be another smarter device than laptop!

Again, good answer! Pasti ada teknologi yang lebih canggih daripada laptop, bukan? Wkwkwkw

This is the thing that keep going on my mind lately, banyak yang 'sudah tidak sempat lagi', in many cases. Meskipun, in a positive way, saya juga tetap yakin bahwa akan ada kesempatan-kesempatan lainnya mungkin di masa depan, atau ada hal lain yang bisa menggantikan. Atau, mungkin juga jawaban itu akan muncul dalam bentuk lainnya, sama seperti alat yang lebih canggih dari laptop itu.

I don't know.

It's just many things have gone too soon, bukan karena ketika ada tidak dimanfaatkan dengan baik, tetapi pada waktu itu memang waktu nya belum tiba. But no need to regret, yang terjadi ya terjadilah wkkkw

Just use your time, wisely! 

See you at [tiga puluh] uyeaa wkwkw

Cheers,
Em 🙆

Friday, 17 July 2020

[dua puluh delapan] SAYA TERLALU BANYAK .....

lagi males pake quote hahhaaa langsung aja yee ...

Halo semuanyaaaa, semoga sehat-sehat selalu yaaa, COVID-19 belum sepenuhnya hilang, mari kita jaga diri masing-masing untuk orang-orang di sekitar kita juga.

Beberapa waktu belakangan ini, saya berpikir-pikir tentang apa yang sudah saya 'dapatkan' dan saya sampai di satu titik bahwa mungkin saya sudah 'kebal'. Eits, kebal bukan berarti saya berpuas diri yaa tapi mungkin karena paparan berulang maka menjadi seperti tidak mempan atau bosan, mungkin? My bad for not being able to explain clearly -_-" mungkin penjabaran di bawah bisa memberikan secercah cahaya terang wkwkw *apasii

Jadi, mungkin, saya sudah terlalu banyak nonton drama serial, nonton film, baca novel, ikut seminar, ikut webinar, dengar podcast, nonton utub, liat instagram. Mungkin sudah terlalu banyak. Su-dah ter-la-lu ba-nyak. 

Saya bukan a big fan of drama korea atau drama apapun, saya butuh waktu untuk mengumpulkan niat untuk menonton suatu serial. Ya, saya lebih memilih main game candy crush wkwkwk. Tapi, saya mulai nonton drama itu khususnya korea dan mandarin mungkin waktu kuliah sampai sekarang, tapi tetap saja picky, tidak mengikuti tren, nonton jika mau nonton saja. Dari semua yang sudah saya nonton, saya selalu tiba di titik ketika dramanya sudah selesai, saya masih memikirkan kelanjutan dari ceritanya seolah-olah itu terjadi di dunia nyata. Adapula drama yang karena menurut saya sangat bagusnya, maka terus teringat-ingat setelah selesai menonton. Begitu juga dengan film, agak pilih-pilih, tapi efeknya mungkin tidak sehebat kalau nonton drama, tidak sampai kepikiran terus. Dalam kasus film dan drama ini, saya mengamati diri saya selalu terjadi hal yang berulang. Pokoknya, setiap selesai menonton pasti terus terngiang berhari-hari, seperti saya itu mau menjadi bagian dari cerita hahahaa meskipun saya tau itu cuma cerita fiksi yang belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi hmm bisa jadi sih. Mungkin teman-teman juga mengalami hal yang sama dengan saya? Atau cuma saya yang seperti itu? Hahahaa mungkin saya aneh wkwk

Terus, saya pertama kali mengikuti seminar motivasi kayaknya SMA, tapi saya tidak mudeng dengan isi seminarnya, karena mungkin lebih ditujukan untuk orang tua. Yang berikutnya saya ikuti waktu masih kuliah. Setelah mengikuti seminar itu, rasanya termotivasi sekali, bersemangat dan berapi-api. Angan-angan muncul di dalam pikiran, mau seperti ini, seperti itu, seperti yang disampaikan si narasumber itu. Mau menjadi sukses seperti dia, terkenal seperti dia dan seterusnya. Belakangan ini, seminar diganti dengan webinar, diganti dengan podcast atau video youtube yang bisa diakses gratis. Saya pertama kali dengar podcast sejak lulus kuliah sampai sekarang. Menurut saya, banyak yang bisa dipelajari dari podcast, entah ilmu baru atau sesuatu yang sebenarnya kita sudah tahu hanya tidak sadar bahwa hal itu ada. Tapi setelah mendengar, kita seperti disadarkan bahwa oh iya ya benar juga saya. Some kind like that. 

Anyway, entah mungkin cuma saya atau kalian juga (mungkin kalian bosan karena sering sekali saya menulis ini hahahaa). Karena terlalu banyaknya tadi, saya akhirnya tidak lagi menjadi sangat termotivasi atau berapi-api setiap mengikuti seminar atau menonton utub atau mendengar podcast. Kalau film atau drama masih sering heheee. Nah, mengapa demikian? Karena saya akhirnya merasa bahwa there is nothing to do with all of those. Instead, myself is the key. Mungkin agak absurd atau susah dipahami, maksudnya adalah saya melihat semua semuanya itu dari sudut pandang yang baru. 

Contoh paling dekat, setiap saya mendengar podcast, yang saya lihat itu bukan bahwa saya ingin menjadi seperti itu. Bukan. Atau saya akan bekerja keras sama seperti yang ia lakukan.  Bukan juga. Ini yang saya katakan 'kebal' tadi. Karena mungkin sudah terlalu banyak. Saya belajar bahwa saya adalah saya (apasih ini hahahaa). Saya melihat bahwa setiap orang memiliki episode kehidupannya sendiri, sukses gagalnya sendiri. 

Kalau ada orang yang sukses karena pernah gagal terpuruk. Maka saya mungkin tidak harus seperti itu. Saya mungkin tidak perlu sampai terpuruk cukup gagal saja sebelum sukses. Atau juga, saya mungkin harus lebih terpuruk dulu dan ketimpa tangga sebelum menjadi sukses. Tidak ada satupun yang bisa menjadi patokan. Karena saya mendengar, menonton begitu banyak cerita (of course, which I will do more), dan tidak ada yang sama, tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah. Ada orang yang memiliki planning rapi detail sampai 10 tahun ke depan, sukses. Ada pula orang yang hidup hanya untuk hari ini, masalah besok biarlah menjadi milik esok hari, toh berhasil juga. 

Nah, jadi, at some point, saya belajar bahwa kita punya hidup kita masing-masing, yang sangat masing-masing, mungkin bisa dibilang istimewa. Tidak salah belajar dari orang lain, malah bagus. Yang mungkin agak keliru (in my personal opinion), ketika kita terinspirasi, termotivasi sampai menjadikan sesuatu sebagai patokan, sebagai kebenaran yang dimana kita harus menjadi seperti itu. Padahal, we never know what future holds. Hati-hati kecewa. Jangan lupa, hidup kita adalah kita. Tidak mesti menjadi orang lain.

Learn as much as you can, and be a better person than you were. As your life is the most for you and the rest for other people. 

Ini hanya sharing, sepintas lalu muncul di ingatan saya. Bisa jadi perspektif ini akan berubah seiring waktu wkwkkw. Who knows. Sekali lagi, just sharing. It is okay if you agree, disagree, or have other opinion :)

Udah ya, pusing nakke wkwkwk
Semoga berfaedah.

Sampai ketemu selanjutnya di [dua puluh sembilan]!

Cheers,
Em 🙆