lagi males pake quote hahhaaa langsung aja yee ...
Halo semuanyaaaa, semoga sehat-sehat selalu yaaa, COVID-19 belum sepenuhnya hilang, mari kita jaga diri masing-masing untuk orang-orang di sekitar kita juga.
Beberapa waktu belakangan ini, saya berpikir-pikir tentang apa yang sudah saya 'dapatkan' dan saya sampai di satu titik bahwa mungkin saya sudah 'kebal'. Eits, kebal bukan berarti saya berpuas diri yaa tapi mungkin karena paparan berulang maka menjadi seperti tidak mempan atau bosan, mungkin? My bad for not being able to explain clearly -_-" mungkin penjabaran di bawah bisa memberikan secercah cahaya terang wkwkw *apasii
Jadi, mungkin, saya sudah terlalu banyak nonton drama serial, nonton film, baca novel, ikut seminar, ikut webinar, dengar podcast, nonton utub, liat instagram. Mungkin sudah terlalu banyak. Su-dah ter-la-lu ba-nyak.
Saya bukan a big fan of drama korea atau drama apapun, saya butuh waktu untuk mengumpulkan niat untuk menonton suatu serial. Ya, saya lebih memilih main game candy crush wkwkwk. Tapi, saya mulai nonton drama itu khususnya korea dan mandarin mungkin waktu kuliah sampai sekarang, tapi tetap saja picky, tidak mengikuti tren, nonton jika mau nonton saja. Dari semua yang sudah saya nonton, saya selalu tiba di titik ketika dramanya sudah selesai, saya masih memikirkan kelanjutan dari ceritanya seolah-olah itu terjadi di dunia nyata. Adapula drama yang karena menurut saya sangat bagusnya, maka terus teringat-ingat setelah selesai menonton. Begitu juga dengan film, agak pilih-pilih, tapi efeknya mungkin tidak sehebat kalau nonton drama, tidak sampai kepikiran terus. Dalam kasus film dan drama ini, saya mengamati diri saya selalu terjadi hal yang berulang. Pokoknya, setiap selesai menonton pasti terus terngiang berhari-hari, seperti saya itu mau menjadi bagian dari cerita hahahaa meskipun saya tau itu cuma cerita fiksi yang belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi hmm bisa jadi sih. Mungkin teman-teman juga mengalami hal yang sama dengan saya? Atau cuma saya yang seperti itu? Hahahaa mungkin saya aneh wkwk
Terus, saya pertama kali mengikuti seminar motivasi kayaknya SMA, tapi saya tidak mudeng dengan isi seminarnya, karena mungkin lebih ditujukan untuk orang tua. Yang berikutnya saya ikuti waktu masih kuliah. Setelah mengikuti seminar itu, rasanya termotivasi sekali, bersemangat dan berapi-api. Angan-angan muncul di dalam pikiran, mau seperti ini, seperti itu, seperti yang disampaikan si narasumber itu. Mau menjadi sukses seperti dia, terkenal seperti dia dan seterusnya. Belakangan ini, seminar diganti dengan webinar, diganti dengan podcast atau video youtube yang bisa diakses gratis. Saya pertama kali dengar podcast sejak lulus kuliah sampai sekarang. Menurut saya, banyak yang bisa dipelajari dari podcast, entah ilmu baru atau sesuatu yang sebenarnya kita sudah tahu hanya tidak sadar bahwa hal itu ada. Tapi setelah mendengar, kita seperti disadarkan bahwa oh iya ya benar juga saya. Some kind like that.
Anyway, entah mungkin cuma saya atau kalian juga (mungkin kalian bosan karena sering sekali saya menulis ini hahahaa). Karena terlalu banyaknya tadi, saya akhirnya tidak lagi menjadi sangat termotivasi atau berapi-api setiap mengikuti seminar atau menonton utub atau mendengar podcast. Kalau film atau drama masih sering heheee. Nah, mengapa demikian? Karena saya akhirnya merasa bahwa there is nothing to do with all of those. Instead, myself is the key. Mungkin agak absurd atau susah dipahami, maksudnya adalah saya melihat semua semuanya itu dari sudut pandang yang baru.
Contoh paling dekat, setiap saya mendengar podcast, yang saya lihat itu bukan bahwa saya ingin menjadi seperti itu. Bukan. Atau saya akan bekerja keras sama seperti yang ia lakukan. Bukan juga. Ini yang saya katakan 'kebal' tadi. Karena mungkin sudah terlalu banyak. Saya belajar bahwa saya adalah saya (apasih ini hahahaa). Saya melihat bahwa setiap orang memiliki episode kehidupannya sendiri, sukses gagalnya sendiri.
Kalau ada orang yang sukses karena pernah gagal terpuruk. Maka saya mungkin tidak harus seperti itu. Saya mungkin tidak perlu sampai terpuruk cukup gagal saja sebelum sukses. Atau juga, saya mungkin harus lebih terpuruk dulu dan ketimpa tangga sebelum menjadi sukses. Tidak ada satupun yang bisa menjadi patokan. Karena saya mendengar, menonton begitu banyak cerita (of course, which I will do more), dan tidak ada yang sama, tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah. Ada orang yang memiliki planning rapi detail sampai 10 tahun ke depan, sukses. Ada pula orang yang hidup hanya untuk hari ini, masalah besok biarlah menjadi milik esok hari, toh berhasil juga.
Nah, jadi, at some point, saya belajar bahwa kita punya hidup kita masing-masing, yang sangat masing-masing, mungkin bisa dibilang istimewa. Tidak salah belajar dari orang lain, malah bagus. Yang mungkin agak keliru (in my personal opinion), ketika kita terinspirasi, termotivasi sampai menjadikan sesuatu sebagai patokan, sebagai kebenaran yang dimana kita harus menjadi seperti itu. Padahal, we never know what future holds. Hati-hati kecewa. Jangan lupa, hidup kita adalah kita. Tidak mesti menjadi orang lain.
Learn as much as you can, and be a better person than you were. As your life is the most for you and the rest for other people.
Ini hanya sharing, sepintas lalu muncul di ingatan saya. Bisa jadi perspektif ini akan berubah seiring waktu wkwkkw. Who knows. Sekali lagi, just sharing. It is okay if you agree, disagree, or have other opinion :)
Udah ya, pusing nakke wkwkwk
Semoga berfaedah.
Sampai ketemu selanjutnya di [dua puluh sembilan]!
Cheers,
Em 🙆
No comments:
Post a Comment