Tuesday, 11 August 2020

[tiga puluh] Talk to yourself!

Self contemplation is the best way to fall for your ownself

-Priyal Agrawal-


Hello again! Hope you are all doing well there!!

Hmm, a question, have you ever talked to yourself??

But, wait, don't do this very often because people may think you are a lil bit 'pongoro'? wkkwkwww

I'm joking huehehehee

Jaaaadiii, kali ini, saya mau nulis terkait self-talk atau self contemplation atau berbicara dengan diri sendiri, yang saya gak tau apakah banyak yang sudah familiar dengan ini atau sudah sering melakukan ini. Saya pribadi melakukan ini cukup sering mungkin karena saya orangnya lebih introvert dan agak susah ngobrol dengan orang lain, jadi saya lebih sering membahas apa yang ada dalam pikiran saya dengan diri saya sendiri. Sounds weird? Entahlah kwkkwww

I'm not talking about whether it is weird or not, but I found it useful, so I'm just trying to share ... Let's get started ...

Nah, ngomong dengan diri sendiri atau bisa dibilang merenung atau mungkin berkontemplasi. Menurut saya pribadi, dengan berbicara dengan diri sendiri sangat membantu dalam banyak hal. Termasuk ketika saya sedang menulis blog ini, saya sedang berbicara, berdiskusi, dan berdebat dengan diri saya sendiri.

If you never do this, then you should try it someday. I am sure, it helps, at least for me, but I hope for you, too ...

Apa yang terjadi ketika kita berbicara dengan diri kita sendiri?

Ketika kita punya suatu ide, suatu pemikiran, suatu pendapat, suatu emosi, atau apapun itu bentuk pikiran yang muncul di pikiran kita, berbicaralah dahulu kepada diri sendiri. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mengontrol diri kita. Itu yang pertama. Contoh simpel, misalnya ketika sedang jengkel kepada orang, kita bisa bilang ke diri kita bahwa kita sekarang sedang jengkel. Nah, dengan berkata demikian, bagian dari diri kita yang lain akan merespon.  Di sini, bukan berarti kita punya banyak diri yaa hahaa tapi kita pasti punya pemikiran lain yang muncul setelah satu pemikiran muncul. Nah, pemikiran pengikut ini atau yang saya sebut sebagai 'respon' yang mungkin kadang-kadang kita sering abai jika kita tergesa-gesa. Responnya ini menurut saya tergantung latihan kita dan kepribadian kita seperti apa. Bisa jadi kita menanyakan balik ke diri kita mengapa kita jengkel? Atau mungkin kita malah mendukung rasa jengkel itu, atau mungkin mengatakan bahwa tidak perlu jengkel. Banyak kemungkinan. Tentu, lebih baik kalau kita bisa mengontrol ke hal yang positif atau yang lebih baik. Tapi, ketika kita mengangkat suatu argumen ke diri kita sendiri, kita punya waktu lebih panjang sebelum menentukan suatu tindakan yang mungkin saja bisa merugikan kita ataupun orang lain. Dengan demikian, kita bisa lebih mengontrol tindakan yang kita ambil. Jadinya, kita tidak tergesa-gesa dan menyesal. Contoh lain, ketika kita ingin mengungkapkan sesuatu, nah kita bisa berdiskusi dulu dengan diri kita, berpikir lagi, menyelami lagi, kira-kira yang mau saya sampaikan ini menyakiti orang gak ya? Kira-kira berguna tidak ya? Kira-kira sudah sopan belum ya? Ya, kurang lebih begitulah, untuk yang pertama ini, menurut saya sangat membantu untuk mengontrol apa yang kita lakukan, karena kita seolah-olah seperti mengulur waktu dengan mengolah pikiran kita.

Lalu, selanjutnya itu adalah memperkaya perspektif akan suatu hal. Jadi, mirip contoh kasus seperti di atas. Dengan berbicara atau berdiskusi dengan diri kita, sebut saja kontemplasi diri, kita belajar melihat dari berbagai sudut pandang. Secara tidak langsung, bisa mengolah cara berpikir kritis kita. Ya, karena otomatis kita akan berdebat dengan diri sendiri. Namanya saja berdebat pasti kadang-kadang bisa berlawanan pendapat. Okay, jadi begitu ya hehee kita bisa melihat apa yang kita rasakan atau pikirkan dari berbagai sudut pandang dan bisa melihat lebih jauh ke depan. Ketika kita bisa memberikan waktu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, otak kita, pikiran kita akan punya kesempatan mengeksplor lebih banyak, sehingga keputusan yang kita ambil bisa dibilang sudah melewati beberapa seleksi gitu.

Kemudian berikutnya yaitu kita bisa lebih mengenal diri sendiri. Kita bisa tahu perspektif apa yang kita ambil, sudut pandang mana yang kita amati, bagaimana pola pikir kita, bagaimana respon kita terhadap suatu hal. Dengan sering-sering kontemplasi diri, kita kurang lebih bisa introspeksi, menyeleksi apa yang baik dan buruk dan ujung-ujungnya bisa upgrade diri. Kita pun juga akan lebih terbuka untuk dikritisi oleh diri kita sendiri. Tapi apakah benar begitu? Bukankah kita punya ego? Nah, ketika kita berusaha berbicara dengan diri kita sendiri, maka jangan maksa juga wkkwkw turunkanlah egonya sedikit, ketika kita punya suatu pemikiran yang mungkin kita kurang setuju, maka pemikiran itu jangan ditolak, tapi lihat dan amati kenapa kita bisa berpikir begitu. Dan apakah itu benar atau tidak? Dampaknya baik atau tidak? Dengan begitu, kita bisa pelan-pelan belajar. Ibaratnya, kalau kita saja tidak mau mendengar diri sendiri, bagaimana bisa kita dengar orang lain? wkwkwkw

Mohon maaf ya ini mungkin yang saya sampaikan agak berat mungkin hehehee atau penjabarannya kurang jelas. Intinya, dengan berbicara dengan diri sendiri bukan berarti kita tidak bisa cerita atau curhat ke orang lain. Tentu bisa, kita selalu butuh orang lain, tidak mungkin tidak. Tapi, dengan sesekali meluangkan waktu untuk kontemplasi diri, menurut saya, kita bisa jadi lebih tenang, terkontrol, lebih mengenal diri sendiri dan juga kita bisa belajar lebih banyak tentu dari diri kita sendiri juga. 

Kadang-kadang yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan kita itu adalah diri kita sendiri bukan orang lain.

Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu perlu, asalkan jangan sambil tertawa tanpa sebab nanti dikira apa gitu wkwkkwkk

Sekian dulu ya teman-teman, sekali lagi ini opini saya saja, semoga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat karena kita semua sama-sama belajar dan sama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih baik, bukan? hehehe

Stay safe semuanya, jaga diri kita untuk kita dan orang lain :)

Sampai ketemu di [tiga puluh satu]

Cheers,

Em🙆


No comments:

Post a Comment