Monday, 28 June 2021

[empat puluh empat] this is us (1)

Hello semuaaaaaa ..

I think I will get back to spare some of my time watching movies, reading books, and playing games. Although I have to admit that I spent most of the time playing games hahhaa candy crush hahahhaa agak game aholic mmg saya huhuuu dan mungkin akan sy share beberapa film atau buku yang menarik, hmm let's see wkwkwk

Anywayy, kali ini, sy mau cerita sedikit tentang salah satu serial drama judulnya adalah This Is Us. Ini adalah drama keluarga Amerika Serikat yang menjadi salah satu favorit saya sejauh ini karena ceritanya yang cukup relate dengan pengalaman saya pribadi. Saat menonton film ini, saya jadi sadar kalau ternyata sebuah film itu menjadi bagus kalau kita relate atau punya pengalaman emosional yang mirip dengan cerita tersebut. Nah, sharing dikit, saya nonton ini di AmazonPrimeVideo kebetulan karena langganan Amazon juga. Awalnya saya tidak tertarik nonton ini karena sudah sampai season 5 yang berarti harus saya kejar dari season 1 hahahaa, tapi karena sering muncul di home page jadi sy tertarik dengan judulnya. Karena menurut saya seperti nya ada sesuatu dalam film ini sampai judulnya adalah this is us, seolah-olah kayak mau nunjukin kalau iniloh kita hahaaa daaan akhirnya memang filmnya bagus pemirsaaaah, emosional sekali huhuhuu banyak juga pelajaran yang bisa saya dapat dari film ini wkwkkw 

Saya cerita dikit sinopsisnya ya hahahaa

Jadi, ini cerita tentang Pearson's family, sebuah keluarga berkulit putih di USA tepatnya di Pittsborough, sepasang suami istri yang memiliki 3 orang anak kembar alias triplets. Konflik utamanya di sini bermula ketika istrinya hamil kembar 3, tetapi ternyata salah satu anak mereka tidak dapat lahir dengan selamat. Akan tetapi, di hari yang sama ada seorang bayi berkulit hitam yang ditemukan di kantor pemadam kebakaran lalu dibawa ke rumah sakit yang sama di tempat sang istri itu melahirkan. Singkat cerita, pasangan suami istri ini akhirnya mengadopsi bayi berkulit hitam itu sehingga mereka tetap pulang dari rumah sakit membawa 3 orang anak kembar. 

Secara umum, tidak ada konflik khusus misalnya ada pembunuhan yang mau dipecahkan, tidak ada. Jadi hanya konflik keseharian layaknya kita hidup sehari-sehari. Konflik keluarga, tentang perbedaan ras, trust issue, diskriminasi, mental health, body shaming, gender issue, ya cukup banyak konflik2 yang diangkat. Alurnya juga menarik. Saya sendiri belum pernah nonton drama yang alur nya maju mundur. Tapi, bukan hanya itu yang menariknya adalah bagaimana si pembuat film ini bisa menceritakan alur maju dan mundur dengan menarik satu benang merah atau momentum atau peristiwa yang sama yang terjadi di masa sekarang dan masa lalu. Jadi, overall ceritanya ini totalnya ada 4 generasi bahkan bisa lebih di beberapa episode, karena plot ceritanya itu saat sekarang ini 2021, 40 tahun yang lalu yaitu saat bayi kembar 3 ini lahir, dan saat pasangan suami istri ini masih muda. Jadi ada beberapa latar belakang waktu yang berbeda. Tapi ceritanya sungguh menarik. Sekarang saya lagi menunggu season 6 yang katanya akan tayang tahun depan yang juga menjadi season finaleeee, wowowowowwww hahahaa *overexcited sayaaa

Tapi secara keseluruhan banyak pelajaran dan refleksi yang bisa saya petik dari film ini sih. Dan mungkin untuk postingan berikutnya saya akan menceritakan beberapa tokoh utama dalam film ini, yang pasti adalah pasangan suami istri Jack dan Rebecca, serta ketiga anak mereka yaitu Kevin, Kate dan Randall. Kalau sempat mungkin tokoh lain juga akan saya ceritakan wkkwkww

Intinya filmnya seru sekali, a very heart-warming film, silahkan teman-teman nonton kalau berminat. Kayaknya sih ada juga di channel NBC.

Segini dulu untuk kali ini, takut kepanjangan, tapi postingan berikutnya saya akan cerita tentang Jack, sang ayah. Postingan ini hanya untuk saya sharing-sharing saja hahahaha mumpung ada waktu luang.

Btw, sehat-sehat ya teman-teman semua, stay safe!

Sampai ketemu di [empat puluh lima]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 23 June 2021

[empat puluh tiga] you never fail me

even at the lowest point, you are the one who never leave your side

-not too good quote-

 

Beberapa waktu lalu seperti yang sudah saya sampaikan di postingan sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan ujian akhir dalam studi saya. Kurang lebih seminggu sebelum ujian tersebut saya cukup khawatir dan takut, takut kalau tidak bisa jawab, takut kalau gagal, takut kalau tidak lulus, banyaklah pokoknya. Tapi ternyata ketika ujiannya berlangsung, saya bisa melaluinya dengan cukup baik.

Pun kemarin baru saja saya mendapatkan vaksin covid. Sebelum vaksin cukup banyak yang saya pikirkan. Bagaimana ya kalau nanti sakit setelah vaksin, nanti demam ga bisa beraktivitas siapa yang mau mengurusi, bagaimana kalau ada komplikasi, bagaimana kalau setiba di tempat vaksin nya ternyata saya ditolak karena alasan ini dan itu. Tapi ternyata pas vaksin baik-baik saja, tidak ada efek samping apa-apa. Nyeri dikit tapi ya okelah masih bisa jungkir balik hahhahaa 

You never fail me.

You adalah saya dan me juga adalah saya. Hehehehe. You must think that you should stop reading nonsense stuff like this hahahaa 😅

Dalam hal ini, saya cuma mau bilang kalau kadang-kadang kita meragukan diri kita sendiri, padahal sebenarnya kita bisa kok. Bahkan di saat kita meragukan diri kita sendiri, diri kita sendiri tetap berusaha melakukan yang terbaik supaya tidak mengecewakan. 

Agak aneh.

Memang.

Mungkin.

Tapi coba kita pikir-pikir, pasti kita seringkali seperti ini, kalah sebelum bertarung, mundur sebelum mencoba. Padahal di satu sisi kita tau kalau kita pasti bisa, tapi tetap saja kita ragu. Hmmm..

Namun, tidak bisa dipungkiri juga, kekhawatiran-kekhawatiran kecil memang diperlukan untuk membuat kita tetap siaga dan tetap memijak kaki. Yang perlu dihindari adalah kekhawatiran yang berlebihan. Takarannya seperti apa? Kita sendiri yang tau.

So, mungkin tidak ada salahnya kita mengucapkan terima kasih ke diri kita sendiri untuk hal-hal yang mungkin kita pikir akan sulit kita lewati, tapi ternyata bisa dilewati dengan baik. Mengapresiasi diri sendiri pun ada baiknya, tetap dalam kadar yang pas dan sesuai, sebagai tanda syukur dan terima kasih karena meskipun di satu sisi kita ragu, tapi di sisi lain kita berusaha sekeras mungkin untuk bisa berhasil. And, we made it. Congratulations :)

Trus, trus, bagaimana kalau kita gagal?

Tetap, terima kasih karena sudah berusaha. Di sisi lain, hidup tidak selamanya berhasil terus. Kadang menang kadang kalah, kadang di atas kadang di bawah. It's okay. Maafkanlah. At the end of the day, you have tried. At least, you didnt fail yourself for not trying, which is sometimes enough. Berdamailah dan berterima kasih lah :)

See you at [empat puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 20 June 2021

[empat puluh dua] another step (1)

tidak akan pernah ada kata cukup untuk hal-hal yang bisa kita sombongkan, tapi akan selalu ada kata cukup untuk hal-hal yang ingin kita syukuri

-got from somewhere-

 

Hello everyone, glad to post something again, after quite a long time

Hope y'all safe and well

So this is a kind of appreciation post...

Really grateful to be able to achieve another milestone in life and I would like to sincerely thank everyone who has helped me during all this time. Those people who keep supporting and encouraging me through this journey. This is absolutely not a work of one as it will never be a work of only one. I owe tons of thanks to all of you. You know who you are. 

So, I just would say I don't have any words to describe how grateful I am, just it. Too cheesy, maybe, but yaah who cares wwkwkwkwk

Jadi begitu teman-teman yah hahhahaa sangat bersyukuuuuuur sekaliiii sudah sampai ke tahap ini. Tapi selain itu, ada sebuah refleksi juga yang muncul di pikiran ini. Singkat cerita, dua hari yang lalu saya sudah menyelesaikan ujian tesis saya dan dinyatakan lulus dengan gelar yang baru. Kemudian, banyak teman-teman memberi ucapan selamat. Sebuah hal yang wajar dan sangat sangat saya syukuri atas apresiasi yang diberikan tersebut (even it feels like too much for me wkwkw too much dalam arti sangat terhura begitu huhuuu). 

The condition is...

Jadi, orang-orang banyak memberi selamat dengan kata-kata 'well done, you did great, well deserved' dan kata-kata selamat lainnya. Sebagai orang yang tidak tau merespons hal-hal demikian, saya tentu jawab dengan 'thank you'. Tapi, seringkali dalam hati saya berkata kalau 'ah ini belum apa-apa banyak orang yang lebih bagus dari ini' to get my feet on the ground. 

Don't get me wrong, please, I try to bring this in the most suitable phrases hahaaa

Maksudnya adalah banyak sekali hal yang muncul dalam pikiran saya ketika saya mendapat ucapan demikian atau katakanlah (dalam tanda kutip) dipuji. Di satu sisi, saya senang dan bersyukur dengan apresiasi dari apa yang saya kerjakan. Tapi di sisi lain, ketika saya memilih merespon (dalam hati) dengan 'iya sih tapi ini belum ada apa-apanya orang lain masih banyak yang lebih baik dari ini'. Terus saya jadi mikir kok saya seperti orang yang tidak puas atau tidak bersyukur yah? Apa memang begitukah atau bagaimana kah seharusnya? Tapi saya jadi berpikir lagi tapi kan respon saya begitu supaya saya tidak takabur dan tidak berhenti begitu untuk berusaha, biar tetap jadi motivasi bahwa oh masih ada loh yang di depan situ yang bisa dicapai yang lebih baik yang lebih bisa bermanfaat. Karena kalau hanya menerima mentah-mentah 'well done, well deserved' itu kayaknya apa ya seperti ya sudah, ini sudah didapat, selesai. 

Hope you got what I mean,

Hingga ketika berpikir dan berpikir, kayaknya memang dua-dua nya perlu, sama seperti kalimat di awal sekali dari postingan ini. Kalau kita mau melihat kata 'cukup', as in the 'well done, well deserved', untuk menjadikan kita sombong dan berhenti, saya rasa tidak pernah ada kata 'cukup'. Dengan kata lain, di atas langit masih ada langit, apa sih yang mau disombongkan. Tetapi sebaliknya, kalau kita mau melihat kata 'cukup' untuk menjadikan kita bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, maka selalu ada kata 'cukup', sekurang apapun itu, pasti ada kata 'cukup' untuk kita bisa bersyukur. Tidak muluk-muluk.

Jadi, kesimpulannya, saya banyak belajar dari apa yang sudah saya jalani sejauh ini. Khususnya untuk studi selama 2 tahun ini, semua adalah proses. Milestone ini pun hanyalah bagian dari proses. Cukup untuk disyukuri dan direnungi dengan sederhana. Ibarat sebuah perjalanan, ini hanyalah sebuah lampu merah, boleh beristirahat sebentar, melihat-lihat sekitar untuk sementara waktu. Tapi ketika lampunya sudah hijau maka life must still go on karena perjalanan di depan sana masih panjang. So, after all these things, I will personally take this as a part of process, a part of life journey, always.

Merasa cukup dengan yang diperoleh saat ini untuk disyukuri tapi bukan untuk berhenti karena pastinya di depan sana banyak hal yang bisa dicapai yang tentunya untuk kebaikan.

So, to end this post, saya terima kasih kepada semuanya, tidak pernah cukup kata terima kasih saya untuk semua yang sudah saya terima sejauh ini, tapi saya bersyukur banyak sekali orang-orang baik yang sudah mau membantu dan menolong dan mendukung sampai sekarang ini. Semoga kebaikan akan kembali kepada teman-teman semua di waktu dan kondisi yang tepat dan mendukung. 

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

I think there will be another part with the same title :)

Anyway this post has nothing to do with you who read this or anyone else. This is just simply a reminder for myself. This is a bad-written post I guess hahahaa. Just a bit if I want to reflect on several things.

Alright, me signing out, 

Sampai ketemu di [empat puluh tiga],

Cheers,

Em 🙆 

Tuesday, 18 May 2021

[empat puluh satu] Good or bad, who knows?

 the future we create, the future we can predict


Hello semuaaa!! Masih suasana lebaran nih wkkwkkw 

Selamat lebaran buat yang merayakan, mohon maaf lahir batin 

Another post! yeaaa, salah satu post yang sudah lama mangkrak di draft wkkwkw sudah kepikiran dari lama tapi gak tau mau tulis apa dan gimana sampai sekarang akhirnya nulis juga hehee

Ada satu ungkapan yang mungkin familiar yaitu 'apa yang keliatan baik, belum tentu baik, dan apa yang keliatan buruk, belum tentu buruk'. Benar, benar sekali. Karena tidak jarang kita sudah terlalu cepat menghakimi sesuatu yang terjadi di kehidupan kita tepat sesaat setelah kita mengalaminya. Terlalu cepat, terlalu gegabah. 

Mungkin di kebanyakan kasus kita sering berprasangka buruk terhadap sesuatu, yang menurut orang-orang tentu kurang baik. Tapi, apakah berprasangka baik adalah selalu baik? Hmm, tergantung. Sebenarnya keduanya tergantung ya, entah itu prasangka buruk atau baik. Yang cenderung kurang tepat itu jika setelah berprasangka itu kita lalu menutup semua kemungkinan lainnya dengan menganggap prasangka kita lah yang benar dan terjadi.

Hm, gimana gimana? wkwkkw

Iya, jadi, ketika sesuatu terjadi, mungkin naluri manusia kali yah, kita jadi langsung men-judge baik atau buruk, lalu berhenti di sana. Di sinilah celahnya sebenarnya. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah tau masa depan akan seperti apa. Kita tidak pernah tau apa yang kita judge sebagai baik atau buruk ini akan membawa kita kemana.

Kembali ke yang tadi, ketika kita berprasangka buruk akan sesuatu, contohnya kita sudah berencana pergi jalan-jalan dengan keluarga, terus karena sesuatu hal jalan-jalannya batal. Kita jadi bete dong. Ternyata gak lama hujan deras turun. Nah kan, untung juga gak jadi pergi, karena kalau jadi mungkin bisa kehujanan. Jadi, ketika kita hanya melihat apa yang terjadi di depan kita saja lalu langsung bereaksi secara keras mungkin itu yang akan buat kita pusing sendiri, karena emosi kita mudah sekali dimainkan di sana, marah, kesal, bete. Padahal sebenarnya, kalau kita mau berpikir bahwa tidak apa-apa mungkin bisa pergi lain kali atau mungkin ada hal lain yang juga seru dikerjakan di rumah. Maksudnya, secara manusiawi pastilah kita sedih karena apa yang direncanakan tidak berjalan semestinya. Tapi, jangan tutup kemungkinan lain. Coba perluas pandangan kita, supaya tidak sempit gitu loh hahhahaaa. Iya, karena rasanya lucu-lucu alias malu juga kalau kita sudah marah-marah gak jelas eh trus ternyata yang kita kesalkan ternyata menjadi berkah. Malu ga malu ga? Ya malu lah masa ga hahhahahhaa

Pun demikian, ketika berprasangka baik, jangan terlena. Ingat juga bahwa segala sesuatu itu naik dan tuurn. Hidup ini roda cuy, kadang di atas kadang di bawah, kadang baik kadang buruk. Sama dengan berprasangka buruk tadi, berprasangka baik pun tidak boleh menutup kemungkinan-kemungkinan yang lain. Seandainya cerita di atas kita balik, kita jadi pergi jalan-jalan tapi pas sampai tempatnya tutup atau penuh jadi kita ga bisa masuk (misalnyaaa). Seringkan kejadian mirip seperti ini. Jadi, tidak boleh juga terlalu senang atau terlena wkwkwwk 

Persis seperti judul masa depan yang kita rencanakan sekarang tetap adalah masa depan yang tidak bisa kita prediksi atau pastikan. Jadi, boleh banget berencana, tapi jangan ngoyo gitu loh, baik buruknya, terjadi tidaknya rencana kita, apa pun itulah yang terjadi tidak berhenti sampai di situ saja, pasti ada lagi yang terjadi berikutnya berikutnya berikutnya. 

Sama juga ketika kita ditegur atau dimarahi atau dipuji. Yah, you name it lah kalau kita menerima perkataan dari orang lain. Kadang kita dimarahi kita lihat sebagai sesuatu yang buruk padahal sebenarnya orang itu menegur untuk kebaikan kita. Kadang kita dipuji kita senang sekali padahal mungkin orang itu ada maksud yang lain, mau minjem duit misalnya hahahhaaa Inipun kalau ditarik lagi akan panjang lagi ke depan. Mungkin orangnya beneran muji ya mungkin saja. Makanya tidak perlu terlalu berlebihan menanggapi. Dipuji ya terima kasih, lalu introspeksi, ditegur juga terima kasih, lalu introspeksi, sama saja. Kalau minjem duit ya dikasih kalau punya duitnya, kalau ga mau kasih ya gak papa juga hahahaha

Yah begitulah yaaa wkkwkw

Segala sesuatu yang terlalu itu tetap kurang baik. Terlalu senang, terlalu sedih, terlalu bahagia, terlalu kesal, dan terlalu terlalu lainnya. Jadi ya steady sajalah, biasa saja, santai saja, tenang-tenang saja.

Jadi begitu ya, intinya yang pertama tidak boleh langsung menjudge dan menutup kemungkinan lainnya karena baik atau buruk, siapa yang tau? Ga ada. Kita akan tau ketika hal itu terjadi. Dan ketika kita sudah mati-matian menjudge sesuatu yang ternyata bisa berefek kebalikannya, malu loh kita wkkwkw Yang kedua, selalu waspada atau siap atau sadar gitu kalau ga mungkin semuanya baik atau semuanya buruk. Jadi, kita syukuri jalani saja apa yang terjadi. Di sisi lain karena baik dan buruk itu relatif sebaiknya juga untuk memijakkan kaki baik-baik ke bumi supaya pikiran emosi tetap berpijak jadi menanggapi apa-apa tidak berujung ke hal-hal yang merugikan kita sendiri.

Gitu ya gitu yaaaa hahahhaaa

Sudah dulu yaa semoga bergunaa semogaaa hahhaaa

Sampai ketemu di [empat puluh dua]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 5 May 2021

[empat puluh] hari ulang tahun

And in the end, it's not the years in your life that count; it's the life in your years

-Abraham Lincoln-


Hola everyone! Teteup sehat yaa semuanyaaa!!


So, I have just had my birthday yesterday *yeaaa* hahhahaa 

Actually, bukan tentang itu, tapi ada hal yang menarik sih, ga penting sih ya tapi menarik hahahaa

Jadi, coba bayangkan dalam setahun ada 366 hari maksimalnya, we spend the whole year, going through day by day, but there is one day in that whole year which we notice carefully that the day is different to other days. That's our birthday.

Menarik aja sih menurut saya, seolah-olah ketika kita melewati suatu perjalanan kita sudah sasar dari jauh bahwa 'oh itu tuh di situ'. Seperti itu kurang lebih. Sementara, bagi orang lain, hari itu biasa saja, tidak ada kesan apa-apa. 

Tidak penting yah? Iya memang hahahaa

Apa pelajaran yang bisa diambil? Tidak ada. Hahahhaa

No no, I just think that it's interesting how this small particular thing is really personalised to each of us, to each individual. Hari yang kita rasakan spesial, belum tentu loh spesial bagi orang lain. Berangkat dari hal kecil ini saja yang sudah sangat personal, subjektif, bagaimana dengan hal-hal lain yang lebih besar. Pendapat, sudut pandang, tindakan, pola pikir. Kemudian, bagaimana perasaan kita yang mengubah dan membentuk kesan pada sesuatu. Semua hari dalam setahun hanyalah hari, biasa saja. Tapi, karena ada kesan di dalamnya maka itu yang membuat hari itu menjadi istimewa. Bukan hanya ulang tahun, hari-hari lainnya, hari jadi, hari raya, hari peringatan, dan lain-lain. Jadi, most of the things in life are neutral, hanya karena perasaan kita, pikiran kita, pengalaman kita, yang mengubah hal-hal itu punya kesan tersendiri. Jadi, bukan tentang hari nya, tapi tentang kita nya. This thing can be applied in many things in life. Ini dasar dari banyak hal yang terjadi. Semua kembali kepada kita, diri kita sendiri.

Demikian lah kira-kira refleksi hari ini hahhaaa

Trying not to be too serious, but just try to see a little thing which might be important hehehee


Last but not least, happy birthday to me *yesterday* hehee

And note to myself,

Tetaplah hidup bahagia, tenang, damai, seimbang, dan penuh kesadaran

Tetaplah berjuang dan berlatih dengan penuh semangat hingga mencapai tujuan di sana :)


Thank you everyone,

Sampai ketemu di [empat puluh satu]

Cheers,

Em 🙆

Friday, 12 March 2021

[tiga puluh sembilan] Berbahagia setelah kehilangan. Gimana gimana??

 Hantaman keras adalah pelajaran berharga

-eug-

 

Produktif, produktif euyyy wkwkw padahal lagi gabut aja.. Semoga teman-teman tetap sehat dan produktif (seperti saya) tapi tidak gabut (juga seperti saya) hehehehee


11 tahun lalu, pertama kali saya kehilangan orang dalam circle terdekat saya setelah 15 tahun hidup saya. Setelah 15 tahun hidup tanpa pernah hadir dan melihat rumah duka itu seperti apa, so itu pertama kali. 1 tahun setelahnya, kehilangan kedua saya, terberat rasanya, saat itu saya masih 16 tahun. Lalu, satu setengah tahun yang lalu, kehilangan yang sama beratnya, kalau kata ter- tidak hanya untuk satu hal saja, maka untuk dua kehilangan saya ini, sepuluh tahun dan satu setengah tahun yang lalu adalah yang terberat. 

Lalu apa?

Sering saya merenung dan berpikir, seberapa jauh saya mengikhlaskan, seberapa jauh saya menyesali, dan seberapa jauh saya belajar dari kehilangan tersebut. Seberapa jauh saya mengikhlaskan adalah seberapa banyak hal yang saya syukuri telah saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya menyesali adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya belajar adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan dulu dan saya lakukan itu sekarang. Hingga di satu titik dimana saya berpikir dan saya syukuri adalah bahwa meskipun ada hal-hal yang saya sesali, tapi untungnya masih lebih banyak hal yang membuat saya mengikhlaskan. 

Apa yang sebenarnya dirasakan ketika kita kehilangan? Khususnya kehilangan orang terdekat

Sedih. Sesak mungkin lebih tepat. Rasa sesaknya sama, masih jelas di ingatan saya. Tapi ya, lumrah lah ya. Semua orang juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi semua adalah temporary, sesaat. Setelah itu life must still go on. Kita harus tetap melihat ke depan. 

Lalu apa yang dimaksud berbahagia setelah kehilangan? Seperti judul di atas wkwkw

Sering sekali ya kalau lagi gabut alias gak ngapa-ngapain sering aja gitu kepikiran ketiga hal di atas tadi, seberapa jauh saya mengikhlaskan, menyesali, dan belajar. Dan ketika saya belajar, di situlah 'berbahagia setelah kehilangan' bisa dimunculkan. Saya jadi tau bahwa ada loh hal-hal yang mungkin saya sesali 'kenapa ya tidak saya lakukan dulu' (sebelum saya kehilangan), bisa saya lakukan sekarang yang membuat saya bahagia. Hal ini semacam menghindari adanya penyesalan berikutnya hahahaaaa Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ya memang ada hal-hal yang dulu memang tidak bisa kita lakukan, mungkin karena keterbatasan kondisi atau hal lainnya, ya semacam memang gak bisa aja dilakukan pada saat itu. Dan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk melakukan itu.

Setelah mengalami beberapa kehilangan, kita (saya) juga menjadi lebih belajar. Mungkin ada hal-hal yang dulu kita 'take for granted', kita anggap sebagai hal yang remeh, tapi sebenarnya itu hal-hal berharga yang baru kita sadari sekarang. Makanya, ketika kita sadari itu, kita lebih menghargai hal itu sekarang, kita jadi lebih bahagia, kita lebih 'fulfilled' untuk hal-hal yang kita lakukan dan yang kita alami. Selain itu, kalau teman-teman baca postingan saya yang judulnya 'gone too soon', mungkin juga ada hal-hal yang seperti itu, mungkin hal-hal yang kita sesali itu memang tidak terjadi dulu karena memang belum waktunya sama seperti yang saya tulis di situ. Jadi, mungkin tidak perlu terlalu disesali, yang penting untuk selalu belajar. 

Jadi, berbahagia setelah kehilangan berbeda dengan berbahagia karena kehilangan atau berbahagia atas kehilangan. Menurut saya pribadi, mungkin 'berbahagia setelah kehilangan' adalah bentuk 'penebusan rasa penyesalan' (mungkin terlalu berlebihan hahahaha) atau bentuk 'upgrading atau naik kelas' atau apa ya cara kita lebih menghargai waktu mungkin, sehingga kita lebih bahagia. I lost for words hhahaa kagak tau apa kata yang tepat guis ckckkck mungkin seperti ini, lebih ke perasaan yang 'wah akhirnya saya bisa melakukan hal ini ya, hal yang mungkin seharusnya saya lakukan dulu, untung masih sempat saya lakukan sekarang, dan saya bahagia karena sudah melakukannya dan juga bahagia untuk dampak yang terjadi atas hal yang saya lakukan itu'. Kurang lebih bahagia seperti itu. 

Don't know hahhaaa demikian yang bisa saya bagikan kali ini, sangat personal kali ini sepertinya, entah semua orang merasakan nya juga apa cuma saya saja. Tapi intinya selalu ada yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Apalagi dari suatu hal yang sungguh berat, pasti ada pelajaran besar di baliknya. Bagi saya, kehilangan adalah hantaman terbesar sejauh ini dan dari itu banyak sekali hal yang saya pelajari, untuk saya terhadap diri saya sendiri dan untuk saya terhadap orang lain di sekitar saya. 

Jadi begitulah ya..

Semoga berguna hehee

Sampai ketemu di [empat puluh]

Cheers,

Em 🙆

[tiga puluh delapan] totem pro parte, pars pro toto

Semua untuk satu, satu untuk semua

-(kayak) jargon tipi wkwk-

 

Demikianlah kiranya yang cukup sering kita dengar, bahkan kita lakukan. Sadar tidak sadar, tapi ya memang demikian. Agak bias ya judulnya hahahaa.. Anyway, sebelum lanjut, seperti biasa, semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, tenteram dan bahagia ya

Alright, 

Secara sadar atau tidak sadar, kita sering melakukan salah satu diantara keduanya ini (bahkan kedua-duanya), yaitu menjadikan sesuatu (satu) hal sebagai patokan atau mewakili semuanyaa dan/atau menjadikan sesuatu yang umum ke satu hal tertentu alias men-general-kan alias memukul rata. Agak ribet ye wkwkkw

Contohnyaaa biar kagak pusing kita hahaha

Contoh paling gampang mungkin kalau kita ketemu seseorang, karena ini yang sering kita temui sehari-hari bertemu orang yang berbeda-beda. Nah, misalnya kita ketemu seseorang dari negara tertentu, (kalau sebut suku atau negaranya nanti dibilang rasis hahahaa), dia adalah orang pertama dari negara tersebut yang kita temui, sebelumnya kita belum pernah ketemu orang negara tersebut. Ternyata, orang itu pelit. Berangkat dari pertemuan itu, saat lain waktu kita bertemu orang dari negara yang sama, seperti sudah terpatri di otak kita 'wah pelit ni pasti' wkwkwk itu untuk yang satu untuk semua.. Padahal ya belum tentu orang itu pelit juga khaan hahhaaa

Kalau yang semua untuk satu itu misalnya gini, kita ketemu seseorang dari negara Indonesia, karena saya juga dari Indonesia, maka di pikiran saya, pasti bisa bahasa Indonesia dong, karena semua orang Indonesia harusnya dan pastinya tau bahasa Indonesia. Tapi ternyata, orang itu ga bisa bahasa Indonesia dong, meskipun dia orang Indonesia, KTP Indonesia. Hm, okaii..

Saya sendiri sering sekali seperti itu, men-general-kan semua orang karena satu orang dan menganggap satu orang itu sama dengan semua orang lainnya. Dari kejadian-kejadian kecil itu, saya jadi berpikir bahwa sebenarnya pikiran kita sendiri yang  membentuk citra orang lain, bukannya orang tersebut. Kita sendiri yang sok tau menjudge setiap orang dari hal-hal yang kita alami sebelumnya, Padahal, setiap orang itu berbeda, setiap perjumpaan atau setiap hal yang kita alami, meskipun identik, tapi tidak sepenuhnya sama dan tidak semestinya kita menghakimi duluan sebelum benar-benar mengalaminya. Kenapa begitu? Soalnya, tidak jarang sikap kita itu ditentukan oleh apa yang sudah kita judge kepada orang lain. Misalnya, ke orang yang kita sangka pelit itu, orangnya belum ngapa-ngapain kita sudah tidak ramah karena di otak kita dia ni pelit nii, malas aku. Padahal kan ya belum tentu juga wkwkkwwk

Jadi gitu ya, 

Gak panjang-panjang lah kali ini, hanya sebagai pengingat buat saya saja, biar ingat dan belajar untuk tidak menentukan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, biar gak kaget juga hahhaaa

Jadi benar kata orang bahwa don't judge the book by its cover, mungkin saja dari 10 cover yang ilustrasinya jelek, 8 ceritanya tidak menarik, 2 ceritanya menarik. Kasian yang 2 buku ini, kasian juga kitanya yang tidak membaca cerita yang bagus hanya karena kita sudah misjudge dari covernya.

Meskipun menarik tidaknya suatu buku juga relatif ya (eh gimana)

Ya udah ya wkwkkw

Sampai ketemu di [tiga puluh sembilan]

Stay safe!

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 28 February 2021

[tiga puluh tujuh] it is what it is

Hello everyone,

Semoga semua selalu dalam keadaan sehat ya, entah kapan pandemi ini berakhir, dan rasanya semakin ke sini semakin banyak kenalan atau keluarga yang sudah terinfeksi covid. Yaaahhh, begitulah, hidup tidak bisa diprediksi, intinya semoga semua dalam keadaan yang baik dan sehat. 

It seems like it has been a very looooongg time and yet I don't know what to write here hahaa I really want to write about this thing, but just don't know to make it up into a good writing. So, whatever, just try wkwkkw

Sejujurnya, covid memberi pelajaran besar bagi kita manusia. Mungkin, sebenarnya dari printilan-printilan kecil dalam hidup kita pun kita dapat mengambil pelajaran yang sama, tetapi karena dampaknya yang tidak 'begitu' terasa, kita kerapkali abai *baku banget bu kek kanebo kering wkwkkw Iya, kita jadi sering bodo amat gitu, tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan apa yang sebenarnya mestinya bisa kita ambil menjadi pelajaran. 

Pertanyaannya adalah, pelajaran apakah itu???

Mungkin berbeda tiap orang, tapi kalau untuk saya pribadi, mungkin pernah saya bahas di postingan sebelumnya tentang covid mengajarkan kita tentang ketidakpastian hidup, tapi selain itu, bagi saya, covid juga mengajak saya untuk melihat sesuatu sebagaimana mestinya. To see everything as it is, yang menurut saya pribadi, bisa menolong dalam berbagai situasi yang sedang saya hadapi. 

Cobalah sesekali, lihat lah apa yang kita rasakan sebagaimana adanya. Dalam kasus ini, bedakan lihat dan bereaksi. Ketika kita melihat, kita tidak bereaksi apa-apa, kita hanya benar-benar melihat, karena apa reaksi kita adalah tahap selanjutnya. Yang kadang kita lakukan adalah melewatkan step melihat ini dan langsung bereaksi saat itu juga. Padahal, tanpa kita sadari, proses melihat yang sebenar-benarnya ini berkontribusi besaar sekaliiii dalam menentukan apa reaksi kita.

Contoh, saat kita sedang marah, coba jangan dulu nyerocos atau ngomel wkwkkw, coba kita lihat, apa yang kita rasakan saat kita sedang marah atau ketika kita mulai akan marah, misalnya kepala kita jadi panas? otak kita langsung mau ngomel? jadi sesak? apalagi ya? beda-beda tiap orang, tapi kita pasti tau bagaimana kalau kita sedang marah. Sama seperti kita mau nangis, mungkin hidung kita mulai cekit-cekit (hahhaa bahasa apa ini), pipi rasanya panas, mata memerah. Atau ketika kita lagi stres, nah ini mungkin lebih sering kita alami, kita jadi tidak nafsu makan, malas gerak, tidak mau melakukan apa-apa, dan lain-lainnya.

Intinya semacam itu, kita amati apa yang kita alami. Nah, apa pentingnya?

Kalau dari yang saya alami, dengan mengamati, saya jadi bisa punya glosarium tersendiri untuk diri saya, jadi saya tau betul saya sedang kenapa. Terus kenapa? Saya jadi bisa lebih mengontrol, tidak begitu terlarut, bisa memutuskan reaksi apa yang harus saya lakukan dengan lebih baik. Tidak ma'garambang (alias tidak sembrono wkwkw). 

Biasanya misalnya ketika sedang mengamati kalau kita lagi marah, kita tidak jadi mengomel, marahnya nanti redam sendiri setelah diamati, takut dia mungkin wkkwkw bcanda sis, setidaknya, kita (saya) bisa jadi lebih tenang dan mengontrol semuanya.

Apakah selalu demikian? Tentuuuuu tidak wkwkk Kadang-kadang lolos juga sih, tapi setidaknya tidak selalu atau tidak sering-sering dan bisa cepat sadar, oh lupa ni mengamati ni, gitu wkwkkw

Lebih dari itu lagi, ada lagi tahapan setelah mengamati itu menelisik, baru bereaksi, jadi tahapannya nambah lagi, cuma mungkin lain kali lah ya di tulisan berikutnya, biar saya mikir dulu kata-kata yang benarnya (apa pernah kali ya dibahas sebelumnya wkwk). Jadi semakin banyak tahap yang kita lalui sebelum bereaksi, semakin matang reaksi yang kita berikan which is semakin besar kemungkinan salah dan merugikan orang lainnya. 

Another question, apakah kalau kita mengamati berarti kita akan tinggal dalam kondisi itu? Kalau menurut saya, tidak.

Misalnya, kita sedang stres, apakah dengan hanya mengamati, oh saya lagi stres, kita akan tetap tinggal di sana? Kalau saya, tidak demikian. Dengan mengamati benar-benar, kita paham dan kita menerima, tapi bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa untuk move on dari stres tersebut. Yang ada adalah kita menghadapi, bukan lari. Kita lihat lekat-lekat, benar-benar, apa yang kita alami. Tapi, dalam diri, jauh di dalam hati kita ada semangat untuk kita move on. Kenapa? Karena kita tahu, kita sadar, apa yang kita alami, kita tau kalau kita sekarang sedang stres, kita juga tau  kalau kita terus-terus begini maka tidak bagus juga karena aktivitas kita terganggu, baik itu aktivitas fisik maupun biologis tubuh kita. Ketika kita mengamati, nalar kita berjalan, kita lihat dan tau apa kondisi kita sekarang. Saya tidak mengatakan bahwa kondisi stres adalah kondisi yang salah atau kondisi yang tidak semestinya, karena stres itu sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi. Stres, marah, sedih, senang, gembira, excited, lelah itu semua hal yang sangat manusiawi dan wajar, namanya juga kehidupan pasti adalah masalahnya. Tapi, berlarut-larut dalam kondisi stres juga bukan sesuatu yang sehat. Jadi, menurut saya semua hal-hal di atas itu (melihat apa yang kita alami dan move on dari yang kita alami) akan terintegrasi ketika kita melihat baik-baik apa yang kita alami. 

Next, bagaimana kalau kita sudah berusaha keluar dari stres tapi kita masih stres?

Sama, amati kembali, oh berarti usaha saya masih belum bisa ya, ya sudah, tidak apa-apa setidaknya sudah berusaha. Amati kembali, oh saya masih begini, saya masih begitu. Tidak apa-apa ya, besok kita usaha lagi. Semua berubah, begitu juga dengan stres ini pasti nanti berakhir. Terima saja, atau bahasa lainnya telan saja hahahaaa Tapi, memang begitu, setelah itu kita pasti tau apa ya kira-kira yang bisa kita lakukan, biasanya sih, kalau kita sudah bisa menerima otomatis kita sudah terlepas dengan sendirinya. Bagaimana ya membahasakannya hahhahaa

Jadi, coba belajar melihat sesuatu sebagaimana mestinya, lihat lah marah sebagai marah, dia hanya sebuah ekspresi, sebuah perasaan. Stres pun demikian, itu kondisi tubuh, kondisi pikiran. Tidak perlu terlalu ditindaklanjuti, atau diberikan reaksi yang terlalu berlebihan karena nanti efeknya jadi panjang. Santai saja, pelan-pelan. Amati, lihat, kenali, sadari. Begitu saja. 

Oke guys? Cukup panjang sudah ini hahahahaa

Semoga bisa dipahami oleh nalar dan bisa bermanfaat yaaaah. Sekali lagi, ini opini dan pengalaman pribadi, masing-masing orang bisa beda. Kita hanya perlu mengenali diri kita sendiri :)

Sehat-sehat selalu teman-teman.

Sampai ketemu di [tiga puluh delapan],

Cheers,

Em 🙆