Hello everyone,
Semoga semua selalu dalam keadaan sehat ya, entah kapan pandemi ini berakhir, dan rasanya semakin ke sini semakin banyak kenalan atau keluarga yang sudah terinfeksi covid. Yaaahhh, begitulah, hidup tidak bisa diprediksi, intinya semoga semua dalam keadaan yang baik dan sehat.
It seems like it has been a very looooongg time and yet I don't know what to write here hahaa I really want to write about this thing, but just don't know to make it up into a good writing. So, whatever, just try wkwkkw
Sejujurnya, covid memberi pelajaran besar bagi kita manusia. Mungkin, sebenarnya dari printilan-printilan kecil dalam hidup kita pun kita dapat mengambil pelajaran yang sama, tetapi karena dampaknya yang tidak 'begitu' terasa, kita kerapkali abai *baku banget bu kek kanebo kering wkwkkw Iya, kita jadi sering bodo amat gitu, tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan apa yang sebenarnya mestinya bisa kita ambil menjadi pelajaran.
Pertanyaannya adalah, pelajaran apakah itu???
Mungkin berbeda tiap orang, tapi kalau untuk saya pribadi, mungkin pernah saya bahas di postingan sebelumnya tentang covid mengajarkan kita tentang ketidakpastian hidup, tapi selain itu, bagi saya, covid juga mengajak saya untuk melihat sesuatu sebagaimana mestinya. To see everything as it is, yang menurut saya pribadi, bisa menolong dalam berbagai situasi yang sedang saya hadapi.
Cobalah sesekali, lihat lah apa yang kita rasakan sebagaimana adanya. Dalam kasus ini, bedakan lihat dan bereaksi. Ketika kita melihat, kita tidak bereaksi apa-apa, kita hanya benar-benar melihat, karena apa reaksi kita adalah tahap selanjutnya. Yang kadang kita lakukan adalah melewatkan step melihat ini dan langsung bereaksi saat itu juga. Padahal, tanpa kita sadari, proses melihat yang sebenar-benarnya ini berkontribusi besaar sekaliiii dalam menentukan apa reaksi kita.
Contoh, saat kita sedang marah, coba jangan dulu nyerocos atau ngomel wkwkkw, coba kita lihat, apa yang kita rasakan saat kita sedang marah atau ketika kita mulai akan marah, misalnya kepala kita jadi panas? otak kita langsung mau ngomel? jadi sesak? apalagi ya? beda-beda tiap orang, tapi kita pasti tau bagaimana kalau kita sedang marah. Sama seperti kita mau nangis, mungkin hidung kita mulai cekit-cekit (hahhaa bahasa apa ini), pipi rasanya panas, mata memerah. Atau ketika kita lagi stres, nah ini mungkin lebih sering kita alami, kita jadi tidak nafsu makan, malas gerak, tidak mau melakukan apa-apa, dan lain-lainnya.
Intinya semacam itu, kita amati apa yang kita alami. Nah, apa pentingnya?
Kalau dari yang saya alami, dengan mengamati, saya jadi bisa punya glosarium tersendiri untuk diri saya, jadi saya tau betul saya sedang kenapa. Terus kenapa? Saya jadi bisa lebih mengontrol, tidak begitu terlarut, bisa memutuskan reaksi apa yang harus saya lakukan dengan lebih baik. Tidak ma'garambang (alias tidak sembrono wkwkw).
Biasanya misalnya ketika sedang mengamati kalau kita lagi marah, kita tidak jadi mengomel, marahnya nanti redam sendiri setelah diamati, takut dia mungkin wkkwkw bcanda sis, setidaknya, kita (saya) bisa jadi lebih tenang dan mengontrol semuanya.
Apakah selalu demikian? Tentuuuuu tidak wkwkk Kadang-kadang lolos juga sih, tapi setidaknya tidak selalu atau tidak sering-sering dan bisa cepat sadar, oh lupa ni mengamati ni, gitu wkwkkw
Lebih dari itu lagi, ada lagi tahapan setelah mengamati itu menelisik, baru bereaksi, jadi tahapannya nambah lagi, cuma mungkin lain kali lah ya di tulisan berikutnya, biar saya mikir dulu kata-kata yang benarnya (apa pernah kali ya dibahas sebelumnya wkwk). Jadi semakin banyak tahap yang kita lalui sebelum bereaksi, semakin matang reaksi yang kita berikan which is semakin besar kemungkinan salah dan merugikan orang lainnya.
Another question, apakah kalau kita mengamati berarti kita akan tinggal dalam kondisi itu? Kalau menurut saya, tidak.
Misalnya, kita sedang stres, apakah dengan hanya mengamati, oh saya lagi stres, kita akan tetap tinggal di sana? Kalau saya, tidak demikian. Dengan mengamati benar-benar, kita paham dan kita menerima, tapi bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa untuk move on dari stres tersebut. Yang ada adalah kita menghadapi, bukan lari. Kita lihat lekat-lekat, benar-benar, apa yang kita alami. Tapi, dalam diri, jauh di dalam hati kita ada semangat untuk kita move on. Kenapa? Karena kita tahu, kita sadar, apa yang kita alami, kita tau kalau kita sekarang sedang stres, kita juga tau kalau kita terus-terus begini maka tidak bagus juga karena aktivitas kita terganggu, baik itu aktivitas fisik maupun biologis tubuh kita. Ketika kita mengamati, nalar kita berjalan, kita lihat dan tau apa kondisi kita sekarang. Saya tidak mengatakan bahwa kondisi stres adalah kondisi yang salah atau kondisi yang tidak semestinya, karena stres itu sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi. Stres, marah, sedih, senang, gembira, excited, lelah itu semua hal yang sangat manusiawi dan wajar, namanya juga kehidupan pasti adalah masalahnya. Tapi, berlarut-larut dalam kondisi stres juga bukan sesuatu yang sehat. Jadi, menurut saya semua hal-hal di atas itu (melihat apa yang kita alami dan move on dari yang kita alami) akan terintegrasi ketika kita melihat baik-baik apa yang kita alami.
Next, bagaimana kalau kita sudah berusaha keluar dari stres tapi kita masih stres?
Sama, amati kembali, oh berarti usaha saya masih belum bisa ya, ya sudah, tidak apa-apa setidaknya sudah berusaha. Amati kembali, oh saya masih begini, saya masih begitu. Tidak apa-apa ya, besok kita usaha lagi. Semua berubah, begitu juga dengan stres ini pasti nanti berakhir. Terima saja, atau bahasa lainnya telan saja hahahaaa Tapi, memang begitu, setelah itu kita pasti tau apa ya kira-kira yang bisa kita lakukan, biasanya sih, kalau kita sudah bisa menerima otomatis kita sudah terlepas dengan sendirinya. Bagaimana ya membahasakannya hahhahaa
Jadi, coba belajar melihat sesuatu sebagaimana mestinya, lihat lah marah sebagai marah, dia hanya sebuah ekspresi, sebuah perasaan. Stres pun demikian, itu kondisi tubuh, kondisi pikiran. Tidak perlu terlalu ditindaklanjuti, atau diberikan reaksi yang terlalu berlebihan karena nanti efeknya jadi panjang. Santai saja, pelan-pelan. Amati, lihat, kenali, sadari. Begitu saja.
Oke guys? Cukup panjang sudah ini hahahahaa
Semoga bisa dipahami oleh nalar dan bisa bermanfaat yaaaah. Sekali lagi, ini opini dan pengalaman pribadi, masing-masing orang bisa beda. Kita hanya perlu mengenali diri kita sendiri :)
Sehat-sehat selalu teman-teman.
Sampai ketemu di [tiga puluh delapan],
Cheers,
Em 🙆
No comments:
Post a Comment