Wednesday, 22 December 2021

[lima puluh] Objektif sampai di mana?

Bukankah objektivitas adalah sekumpulan subjektivitas yang sejenis?


Draft ini sudah lama mendekam di list postingan tapi tidak pernah dieksekusi heheee entah kenapa, ide nya ada, tapi sepertinya belum mantap wkwkwk

Anyway, sapa-sapa dululah, apa kabar teman-teman? Semoga sehat selalu ya, physically and mentally pastinya. 

Setelah dipikir-pikir, mungkin beberapa tulisan membutuhkan ide yang matang terlebih dahulu lalu ditulis. Tapi mungkin ada juga yang ditulis dulu supaya menjadi mantap hehehe so I will take the latter for this one. 

Bicara tentang objektif-subjektif, sebenarnya ini masalah sudut pandang ya. Karena saya tidak ada kajian literasi, hanya berdasarkan apa yang saya lihat dan saya alami, so this one will just be a general insight and information, bukan teori ataupun sesuatu yang mutlak kebenarannya. 

Pertanyaan dari judul ini sebenarnya muncul karena saya berpikir sebenarnya objektif itu seperti apa, apakah ada penilaian atau pandangan yang objektif sepenuhnya? Ketika seseorang menilai orang lain, bagaimanakah penilaian yang objektif itu?

Kalau subjektif kan kita tahu merupakan pandangan atau opini pribadi. Biasa juga diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak general, tidak untuk semua orang atau tidak adil. Contohnya, di suatu kontes nyanyi, seorang juri memberi penilaian yang tinggi karena pesertanya good looking misalnya. Padahal sebenarnya yang harus dinilai kan, kualitas suaranya. Nah, pertanyaan berikutnya suara yang bagus itu seperti apa sih? Hm, mungkin yang nadanya tepat, artikulasi lirik bagus, dan seterusnya (saya gak tahu saya bukan penyanyi hahahaa).

Ya kurang lebih seperti itu,

Saya mengkaji dengan bertanya ke diri saya seperti itu. Kemudian, apa kesimpulan yang saya dapat?

Saya lalu berpikir, oh mungkin objektivitas itu didasarkan pada beberapa poin, di antaranya mungkin adalah sasaran/target/tempat yang tepat, terukur dan ada standar umum yang disetujui bersama. Jadi, misalnya dari contoh tadi, objektivitas itu ketika menilai berdasarkan apa yang harus dinilai dan mengabaikan faktor lain. Jadi, kalau lomba nyanyi ya suaranya yang dinilai. Kalau ujian ya hasil kerja nya yang dinilai. Tidak memasukkan faktor-faktor kepentingan atau sentimen pribadi. Kemudian, sesuatu yang terukur sehingga menjadi standar. Misalnya suara bagus kalau nada nya tepat, nah nada yang tepat kan bisa diukur ya, bunyinya bisa diukur melalui instrumen musik dan seterusnya. Nah, untuk bagian yang disetujui bersama, di situlah saya rasa ada part subjektivitasnya. Karena pandangan orang sama, maka terbentuklah sebuah pandangan objektif.

Nah selanjutnya, 

Apakah penilaian itu bisa sepenuhnya objektif? Menurut saya, at some point, ketika penilaian objektif sudah dilakukan dan tidak menemukan kesimpupan akhir, maka di situlah subjektivitas bekerja. Misalnya, dari 2 kandidat hanya akan dipilih 1 orang. Secara kualitas mungkin keduanya sama, tapi mungkin salah satu nya punya hal lain yang disukai oleh penilai maka dialah yang terpilih. Jadi, menurut saya di waktu tertentu memang tidak mungkin untuk memberi penilaian secara objektif sepenuhnya, selain itu background orang dalam menilai pun beda-beda. So maybe everyone just try to be as close as possible to the fairness. 

Itu saja kira-kira, tidak ada kesimpulannya ini gaes wkwkwk mon maap yak heheee. Hanya ingin menyampaikan apa yang ada di dalam kepala saja.

Sekian dulu ya. Semoga ada faedahnya :)

Sampai ketemu di [lima puluh satu],

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️




Monday, 20 December 2021

[empat puluh sembilan] see you when I see you again, Belfast!

After 2 years and a half, it's finally time to go home. Honestly, I never expect that it will be this sad, really. I would say I've been through a lot of come and go in this life. And I can even say I've gone through the hardest one, losing my loved ones. And that's why it comes to me that there would never be something as sad as those things. However, here I am, really sad of leaving Belfast with all the memories there. 

Ya jadi begitulah,

Setelah melihat-lihat kembali, wah kok ini levelnya sudah mirip kedukaan yah hahaaa ya mungkin masih 1 2 level di bawahnya. Tapi, getting your tears down on airplane adalah sesuatu buat saya wkkkww atau waktu liat postingan terus berkacaa-kaca hhhaa sepertinya baru kali ini. Anyway, hal yang mirip pernah juga terjadi waktu saya selesai KKN beberapa tahun lalu. Saya pun sepertinya menyadari kalau living together with someone you never or barely know before can bring some kind of attachment of you to them. Waktu KKN, saya tinggal dengan 9 teman yang sebelumnya tidak pernah saya kenal selama 2 bulan. Dan pada akhir masa KKN itu, rasanya memang sedih sekali. A key point that I think made me feeling so sad is because I don't know if I will ever experience the same thing again in the future. KKN tidak dua kali, kalau ke Belfast? Who knows, tapi kecil kemungkinan bisa ke sana lagi. S2 juga tidak dua kali yaa wkkwkw So, mungkin begitu ya. Really, it was so so sad at that/this moment.

One thing, special mention for Kak Qoni, my room mate. Apa-apa selalu sama-sama. I think you are the most reason that made this leaving day so difficult. Apalagi 1 tahun terakhir yang betul-betul sama-sama setiap hari. Those things that I might never experience again. Thank you for everything Kak, I know you'll be just fine, same as me. We'll be okay and let's see each other again in the future :)

Take things aside, I realise that attachment is really human's weakness. Masih melekat. That's why it's so sad when you need to let something go, apalagi kalau banyak memori indah di situ. It's okay, the process is on going, things are still improving.

All in all, thank you Belfast, you are not only a place now, you're home. 

I'll see you when I see you again :)

Hope to come back one day.


Sampai ketemu di [lima puluh]

Cheers,

at quarantine, Em 🙆

Sunday, 10 October 2021

[empat puluh delapan] orang dewasa

Hello, lama sekaliii sejak terakhir ngepost wkwkk 

Agak sibuk alias malas hahahaaa 

Yak, jadi hari ini mau cuap-cuap soal being an adult, atau orang dewasa. Ada yang bilang di atas 17 tahun, 18 tahun, 21 tahun, atau 23 tahun? Yah itulah yaa, it means that I am ... an adult wkwkwkw

What is it like being an adult?

Masih ingat waktu masih kecil dulu, mungkin TK SD, apa sih yang kita pikirkan? Hari ini main apa, main di mana, main sama siapa, atau paling berat apa ya, kerjain PR mungkin? Atau waktu dimarahin orang tua karena nakal wkwkkw kayaknya hidup itu seasik itu yaaa

And then, here we are, beranjak dewasa, mulai banyak yang dipikirkan, mulai dari pelajaran matematika yang mulai sulit, pelajaran fisika kimia biologi yang mulai bikin puyeng, konflik-konflik persahabatan yang mulai muncul ye kaan, konflik cinta monyet wkwkkwkw sampai masalah karir dan kehidupan.

Orang bilang ketika dewasa, ego kita mulai berkurang, tapi yang mungkin terjadi, ego itu selalu ada, hanya bentuk nya yang berbeda. Mungkin dulu kita masih merasa pendapat kita paling benar, kalau sekarang kita bisa menerima pendapat orang lain, tapi kita mungkin ingin diacknowledge ketika kita bisa menerima pendapat orang lain. Kadang-kadang seperti itu bukan? Di satu sisi, kita butuh kepastian hidup, tapi di sisi lain, kita juga tahu semuanya selalu berubah.

Mungkin kita rindu masa kecil kita, ketika tidak perlu berpikir terlalu banyak. It was so much fun wkwkkw. Mungkin karena itu orang dewasa juga kadang-kadang butuh main, biar refreshing heheee.

Being an adult is sometimes hard. You need to deal with a lot of things, yet need to keep your mind clear. 

But that's life. Everyone has their own struggle, don't they?

No more to say because don't know what to say, need to think a little bit more on this wkwkwkw


Sampai ketemu di [empat puluh sembilan]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 18 August 2021

[empat puluh tujuh] refleksi proklamasi

Indonesia Raya, Merdeka Merdeka

Hiduplah Indonesia Raya ...


Tujuh puluh enam tahun yang lalu, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang untuk pertama kali, ketika bendera merah putih dikibarkan untuk pertama kali, saat itulah menandai lahirnya sebuah negara berdaulat yaitu Indonesia.

Hari ini, 17 Agustus 2021, kita kembali memperingati hari kemerdekaan Indonesia, hari dimana rakyat Indonesia sudah terbebas dari penjajah, hari dimana rakyat Indonesia memulai lembar kehidupan yang baru, yang lebih baik. Sudah lebih dari tiga per empat abad, negara ini merdeka, pertanyaan nya adalah apakah kita sekarang sudah benar-benar merdeka? apakah dalam rentang waktu kemerdekaan ini kehidupan masyarakat jauh lebih baik?

Menurut saya, setiap ada hal yang diperingati, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah merenung, refleksi, introspeksi. Khususnya kita-kita generasi muda ini, sepertinya berkarya saja tidak cukup, penting juga untuk sesekali melihat ke dalam. Tentunya di hari kemerdekaan ini, kita semua mengharapkan hal-hal yang baik untuk negara kita tercinta. Ingin Indonesia lebih baik, lebih makmur, lebih maju, dan lebih-lebih lainnya. Tapi, untuk mewujudkan semua itu bukan hal yang mudah. Bagi pejabat-pejabat yang sekarang memegang peranan penting mungkin  juga punya harapan yang sama, tapi tidak banyak juga dari mereka yang melakukan kelalaian. 

Saya sering berpikir apa yang salah ya, apakah sistemnya, atau manusianya. Sistem nya oke tapi kalau manusia nya belum siap? Atau manusianya sudah siap tapi sistemnya amburadul?

Sampai sekarang, saya pun tidak tau jawaban benarnya apa. 

Sejauh ini, saya masih pada keyakinan 'lihatlah ke dalam'. Saya tidak bisa mengubah sistem, tapi saya bisa mengubah diri saya, apa yang harus saya lakukan. Menurut saya cukup penting bahwa di momentum ini, kita semua membangun kembali kesadaran kita. Kalau pejabat sekarang banyak yang korupsi, maka yang kita lakukan sekarang adalah bercita-cita jika suatu hari kita ada di posisi tersebut maka kita tidak akan melakukannya. Kenapa? Karena kita sadar betul tanggung jawab dan amanah kita. Kita sadar betul apa yang benar apa yang salah untuk dilakukan. Kita tahu dan sadar, yang mana saat ini saya pikir banyak orang yang tidak memiliki hal ini. Kita bisa kok, dari segi kemampuan intelektual, kreativitas, bisalah kita, netijen Indonesia kreativitasnya luar biasa. Kita hanya kadang-kadang kurang sadar (mungkin). Kalau semua orang sadar posisi, sadar hak, sadar kewajiban, sadar tugas, sadar tanggung jawab, saya pikir semua harusnya baik-baik saja.

Yah, tulisan saya amburadul hahaha sama amburadulnya kalau ditanya tentang negara kita. Kadang-kadang cuma bisa geleng-geleng, kok bisa ya hahahaa

Tapi di samping semua kekurangannya, Indonesia tetaplah Indonesia, negara, tempat lahir, kampung halaman yang kita cintai dan banggakan. Saya pribadi bangga sekali menjadi orang Indonesia, tumbuh besar dengan berbagai keragaman agama, budaya, suku, bahasa, tapi tetap bisa hidup harmonis, selaras, dan berdampingan. Sesuatu yang langka dan mungkin tidak ada di negara lain. Bangga sekali.

Semoga kita-kita ini, generasi muda bangsa ini, lima, sepuluh, lima belas tahun ke depan, bisa membawa Indonesia lebih baik, lebih maju. Saya yakin kita tidak kalah bersaing dengan negara lain. Kita bisa liat banyak prestasi di luar sana. Kita juga bisa kok. Yang terpenting adalah kita bangun kembali kesadaran dan kecintaan kita dengan nilai-nilai luhur yang sudah ada. Pancasila itu fundamental tapi kadang-kadang kita lupa penerapannya. Sesempurna apapun sebuah sistem, jika sumber daya manusia nya belum siap maka sama saja, tidak akan memberikan hasil yang signifikan. Maka, sungguh baiknya jika kita belajar banyak agar kita sudah siap bukan hanya dari segi intelektual tapi dari segi emosional, akhlak, moralitas, pola pikir, soft skills. Masa depan yang cerah itu menanti, kawan. Semangat dan selamat berkontribusi di bidang masing-masing :)

Cukuplah ya sepertinya wkwkwkk ngalor ngidul 

Dirgahayu Indonesiaku yang ke-76, Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

Tetaplah kuat di sana, rakyatmu sedang berjuang, tetaplah membersamai, masa depan cerah itu ada menanti di depan sana :)

Semangat ya teman-teman untuk Indonesia yang lebih baik

Damn! I love Indonesia!!! Merdeka!

Sampai ketemu di [empat puluh delapan]

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 10 August 2021

[empat puluh enam] this is us - this is Kevin, Kate and Randall (3)

Love like Jack, strong like Rebecca, charm like Kevin, dream like Kate, and forgive like Randall

-this is us-

Halo halo halo semuaaa, semoga sehat-sehat selalu yaaa

Jadi, setelah sebelumnya cerita tentang mamak bapaknya, sekarang kita cerita tentang anak-anaknyaa..

Seru kali laaaah cerita tentang ketiga anak ini, mereka disebut Big Three! Jadi, sebenarnya Rebecca itu hamil anak kembar tiga tapi sayangnya anak ketiganya tidak bisa lahir dengan selamat. Lalu, pada hari yang sama ada seorang anak yang dibuang dan dibawa ke rumah sakit yang keranjangnya kebetulan bersebelahan dengan keranjang Kevin dan Kate. Lalu, Jack dan Rebecca akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak itu, sehingga mereka tetap punya 3 anak.

Jadi, banyak ya isu-isu yang diangkat dalam film ini, salah satunya diversity. Randall adalah anak berkulit hitam yang diadopsi oleh keluarga kulit putih. Di sini kita bisa melihat bagaimana Randall merasa berbeda dibanding saudara-saudaranya dan bagaimana dia berusaha mencari jati dirinya, mencari orang tua kandungnya. Menarik sekali melihat bagaimana konflik yang muncul dari perbedaan ini, kayak Jack dan Rebecca tidak ingin memperlakukan Randall secara berbeda padahal memang sebenarnya Randall ini berbeda. Ada treatment-treatment yang dilakukan orang-orang berkulit hitam yang tidak dilakukan orang berkulit putih, misalnya alat cukur yang sesuai, penggunaan sun screen, dll. Intinya adalah perbedaan itu ada tapi bukan berarti harus ada perpecahan karena perbedaan. Di sini juga bisa dilihat bagaimana Kevin dan Kate itu sayang dengan Randall seperti saudara mereka sendiri.

Selain diversity, ada pula isu-isu lain yang diwakilkan oleh masing-masing anak ini. Kevin dengan isu ketergantungan alkohol, Kate dengan isu berat badan berlebih, dan Randall dengan isu kecemasan. Menurut saya, isu-isu ini hadir di kehidupan kita sehari-hari dan kita bisa banyak belajar dari film ini. Banyak hal menarik dan indah yang bikin kita terharu dari kelakuan tiga bersaudara ini. Tak bisa dipungkiri banyak konflik, khususnya antara Kevin dan Randall. Tapi, at some point, they still need each other, and noone knows themselves better than each other. Mungkin mereka bisa berbeda pendapat, bertengkar, tapi pada akhirnya mereka saling membutuhkan satu sama lain. That's just what siblings do.

I will not put too much words in here. I will put one part of the stories that really open my eyes.

Jadi, saya lupa di season berapa dan episode berapa, intinya di scene Kevin masuk rehabilitasi gegara kecanduan alkohol dan pihak rehabilitasi memanggil semua keluarganya untuk ngobrol untuk mencari kenapa sih Kevin ini bisa kecanduan, ya semacam itulah. And boom! saat itu terkuaklah semua perasaan yang dipendam. Jadi Kevin ini merasa sejak kecil dia itu tidak diperhatikan. Ya, wajar, kalau ktia nonton filmnya, sangat terlihat bahwa Jack sangat perhatian kepada Kate, pokoknya kayak si bapaknya ini perhatian sekali dengan Kate. Sedangkan Rebecca sangat dekat dengan Randall apalagi setelah Jack meninggal. Jadi, Kevin ini merasa sejak kecil dia itu tidak diperhatikan dan tidak ada yang bisa dia banggakan begitu dibandingkan Randall dan Kate. Sampai ketika Rebecca cerita ke Kevin ini, jadi dulu waktu mereka pertama kali masuk sekolah, Randall dan Kate itu  nangis-nangis tidak mau masuk ke kelas. Sedangkan, Kevin dengan berani berjalan sendiri masuk ke kelasnya. Kata Rebecca, pada saat itu mereka sebagai orangtua ini tau kalau Kevin itu anak paling kuat, so they didn't put too much effort in him. 

Jadi, kita bisa liat di sini ada dua sudut pandang yang berbeda. Dari Kevin yang merasa dia tidak diperhatikan dan di sisi orangtuanya yang melihat bahwa oh anaknya ini anak yang kuat sehingga tidak perlu special treatment, which is mereka pasti bangga dengan anaknya. Jadi bagaimana ya, kayak ironi bahwa kadang-kadang sebagai anak kita tidak paham dengan sudut pandang orangtua, begitu juga dengan orangtua kadang-kadang apa yang mereka maksudkan tidak bisa tersampaikan dengan baik ke si anak.

Selain itu, di film ini juga kita liat bagaimana keberhasilan Jack dan Rebecca sebagai orang tua terlepas dari semua kekurangan, yang paling keren adalah Kevin, Kate, dan Randall melihat orang tua mereka sebagai orang tua yang luar biasa yang bahkan mereka pikir they cannot be parents like their parents. And at the end of the day, family comes first, always.

That's the Big Three - Kevin Pearson, Kate Pearson, and Randall Pearson

Other than that, I think there is no such beautiful siblings and family story rathen than this wkwkkw teman-teman bisa nonton, and let me know, but for me, sedih senang lucu haru bangga bahagia ada semua di film ini. Keren lah wkwkkw banyak pelajaran yang bisa diambil. I cannot remember everything in the story but I cannot forget my feeling when I watched it.

Am waiting for season finale yuhuuuuu

Gitu ajalah ya bacotan saya hahahaha

Sampai ketemu di [empat puluh tujuh],

Cheers,

Em 🙆

Monday, 28 June 2021

[empat puluh lima] this is us - this is Jack and Rebecca (2)

'I am thankful for my family. I am thankful that we're all safe and there's no one in the world that I'd rather be too hot or too cold with'

-Jack Pearson-

Halooooo halo semuaaaa

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, kali ini saya mau cerita tentang tokoh Jack Pearson dan Rebecca Pearson di serial This Is Us. Tentunya ini pandangan super subjektif saya dengan tokoh ini yaaa wkwkkw

Jadi, di film ini, Jack Pearson adalah seorang suami dan seorang ayah dari 3 orang anak kembar. Sedangkan, Rebecca Pearson adalah istri nya atau ibu dari anak-anak mereka (pastinya) wkwk. 

I will start with Jack,

Intinya Jack ini adalah sosok yang suami-able dan bapak-able banget. Di beberapa review dikatakan kalau Jack ini Dream Dad karena memang dalam cerita ini Jack adalah seorang yang bisa melakukan apa saja dan mengorbankan apa saja untuk keluarganya, untuk istri dan anak-anaknya. Menurut saya pribadi, banyak hal yang bisa dipelajari dari si Jack ini. Saya akan share beberapa yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Salah satu scene yang paling menarik adalah ketika Jack ini mencuci piring. Kenapa menarik? wkwkw Jadi ceritanya saat itu Jack sedang makan malam bersama ibunya di rumah salah satu teman ibunya. Terus setelah makan malam, ibunya dan temannya pergi keluar, jadi tinggallah si Jack ini di rumah. Tak berapa lama, Rebecca ternyata menyusul ke rumah itu untuk ketemu Jack. Terus, Jacknya bilang ke Rebecca kalau dia mau beberes dulu karena habis makan. Jadilah dia mencuci piring. Btw Rebecca itu nanti jadi istrinya si Jack ini. Nah, saat itu Rebecca ini kaget karena kok ada ya cowok yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga karena ayahnya Rebecca ini tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sementara bagi Jack sendiri mengerjakan pekerjaan rumah adalah hal yang biasa-biasa saja. Di sini terlihat kalau latar belakang keluarga yang berbeda membuat persepsi yang berbeda.

Trus, dari Jack juga saya belajar kalau bukan lingkungan kita yang menentukan kita, tapi kita sendiri. Jadi Jack mempunyai hubungan yang kurang baik dengan ayahnya karena ayahnya sering KDRT dengan ibunya jadi dia sangat benci dengan ayahnya. Tapi ketika dia menjadi seorang ayah, dia berjanji kalau dia tidak akan menjadi ayah seperti ayahnya. Dan benar ketika dia jadi ayah, dia adalah ayah yang hampir sempurna. Diceritakan juga kalau demi keluarganya dia rela mengubur mimpinya untuk membangun sebuah usaha meskipun dia tidak terlalu suka dengan pekerjaannya saat ini. Karena dia tau kalau besar risiko untuk membuka suatu usaha. Jadi, kayak tanggung jawab seorang ayah benar-benar ditunjukkan dari tokoh Jack ini. Nah, dari sini saya berpikir kalau latar belakang keluarga yang kurang baik belum tentu membentuk seseorang menjadi kurang baik juga. Bisa jadi dia mau mematahkan hal-hal yang tidak baik itu di kehidupannya. Jadi, ya tergantung masing-masing.

Satu lagi, sosok Jack Pearson dalam cerita ini adalah orang yang bisa membuat sesuatu yang berkesan dalam keluarganya, menciptakan tradisi-tradisi baru yang saking berkesannya sehingga diteruskan oleh anak-anaknya di keluarganya masing-masing. It is really interesting how Jack Pearson creating something special in the family which make the whole family think that they are special and extraordinary. Membuat tradisi thanksgiving, ulang tahun, nonton football, natal. Menarik sih wkwkw. Salah satunya yaitu tradisi thanksgiving, ketika mereka terjebak di tengah perjalanan menuju rumah ibunya Rebecca karena ban mobil mereka pecah. Terus mereka menginap di salah satu penginapan aneh tanpa makanan. Jadi, yang dilakukan oleh Jack adalah membeli cemilan seadanya dari sang pemilik penginapan dan membeli sebuah topi. Lalu, dia berperan menjadi tokoh Pilgrim Rick yang akhirnya menjadi ikon Thanksgiving keluarga ini dari tahun ke tahun hingga menurun ke anak-anak mereka. I can't explain it in detail, tapi bagaimana Jack bisa mengubah malam yang menyedihkan itu menjadi malam yang menyenangkan dan tentunya berkesan untuk keluarga mereka adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Only Jack can do it.

Oh iya, di balik semua kesempurnaannya, Jack is still human. Dia seorang alcohol addict karena sepertinya turunan dari ayahnya yang juga seorang alcohol addict. Akan tetapi, karena dia begitu sayang dengan keluarganya, he works so hard to stay sober. At the end of the day, Jack is a family man, dream dad.

Let's move to Rebecca,

You can see a lot of love in her, but also pain. Dalam filmnya, Rebecca ini menyimpan sebuah rahasia yang besar yang akhirnya terkuak 37 tahun kemudian. Di samping itu, Rebecca menjadi single mom karena Jacknya meninggal ceritanya. Rebecca jadi sosok yang penting dalam film ini, dan kita bisa belajar banyak dari Rebecca sebagai orang tua. And when I watched this film, I can think like oh ini loh ternyata sudut pandangnya orang tua, gitu wkwkkww Same as Jack, we can take a lot to learn from Rebecca, here we go. 

Jadi, Rebecca ini berasal dari keluarga yang cukup 'mampu', tapi dia berani untuk keluar dari zona nyamannya untuk bersama dengan Jack, yang bisa dibilang tidak berasal dari status sosial yang sama. Bisa dilihat ketika ayahnya si Rebecca ini mengajak Jack makan di sebuah restoran, Jack menyewa jas untuk dipakai ke acara tersebut. However, keputusan Rebecca ternyata tepat dan berakhir manis. Dia ternyata tidak melihat laki-laki hanya dari 'luar'nya saja, tapi bagaimana sikap dan tanggung jawabnya Jack won her heart wkwk

Terus, she can give up on things for her loved ones. Jadi, di ceritanya ini awalnya Rebecca ini ndak mau punya anak. Sebaliknya si Jack mau punya anak. Tapi, pada akhirnya Rebecca nya jadi mau dan terbukti ternyata setelah dia jadi ibu dia benar-benar menjadi ibu yang baik. Terus juga, setelah punya anak, dia memilih untuk tidak berkarir lagi. So, she chose the family as  her priority. That's her choice. But I am still amazed wkwk kenapa? karena mengurus 3 anak kembar tidak mudah hahahaa

The last one, you can see a lot of love, yet lots of pain. Dari Rebecca ini kita bisa lihat bagaimana sikapnya kepada ketiga anak kembarnya itu kadang-kadang di luar kontrol dia. Apa yang dia maksud, apa yang dia mau, apa yang dia lakukan, dan apa dampak dari apa yang dia lakukan kadang-kadang tidak mudah. Dalam film ini, bukan hanya Rebecca, tapi Jack juga, di satu sudut pandang kita melihat bahwa kadang-kadang mereka tidak berlaku adil ke anak-anaknya. Tapi, di sisi lain kita juga dikasih liat bahwa there is nothing they can do with it. Jadi, kayak dilematis lah begitu. Terus, being a single mom is not easy, ketika dia harus membesarkan anak-anaknya di usia-usia puber which is 17 tahun, belum lagi proses grieving mereka masing-masing. She kept a lot of things inside her :') and I think that's what mostly moms do.

I know this is not a good writing hahahaa dan mungkin ini kayak 0.01% dari Jack dalam film. Tapi pokoknya menarik sekali lah hahhahaa intinya Jack adalah dream Dad, rasanya semua orang mau punya bapak kayak Jack. Sayang istri, sayang anak-anak, baik hati, bertanggung jawab, tegas tapi tidak galak. He is the most favorite person in the family. Sayangnya, Jack harus meninggal ketika usia anak-anaknya 17 tahun yang berarti Jack tidak hadir dalam plot cerita dengan latar belakang waktu saat ini. Akan tetapi, semua kejadian yang berlangsung saat ini selalu berkaitan dengan Jack karena dalam 17 tahun kehidupan anak-anaknya, Jack meninggalkan kesan yang begitu kuat. Sebaliknya, Rebecca menjadi pemeran utama dalam film ini, dia terus baik di latar waktu masa lalu maupun masa sekarang. Mungkin tidak seperti Jack, Rebecca is not the most favorite person in the family. Banyak konflik antara anak-anaknya dengan Rebecca, however, at some point, we can see the pure heart of Rebecca, yang sedihnya selama ini anak-anaknya tidak melihat sisi itu sampai akhirnya mereka baru sadar ketika mereka dewasa.

That's Jack Pearson and Rebecca Pearson.

Sampai ketemu di [empat puluh enam]

Cheers,

Em 🙆

[empat puluh empat] this is us (1)

Hello semuaaaaaa ..

I think I will get back to spare some of my time watching movies, reading books, and playing games. Although I have to admit that I spent most of the time playing games hahhaa candy crush hahahhaa agak game aholic mmg saya huhuuu dan mungkin akan sy share beberapa film atau buku yang menarik, hmm let's see wkwkwk

Anywayy, kali ini, sy mau cerita sedikit tentang salah satu serial drama judulnya adalah This Is Us. Ini adalah drama keluarga Amerika Serikat yang menjadi salah satu favorit saya sejauh ini karena ceritanya yang cukup relate dengan pengalaman saya pribadi. Saat menonton film ini, saya jadi sadar kalau ternyata sebuah film itu menjadi bagus kalau kita relate atau punya pengalaman emosional yang mirip dengan cerita tersebut. Nah, sharing dikit, saya nonton ini di AmazonPrimeVideo kebetulan karena langganan Amazon juga. Awalnya saya tidak tertarik nonton ini karena sudah sampai season 5 yang berarti harus saya kejar dari season 1 hahahaa, tapi karena sering muncul di home page jadi sy tertarik dengan judulnya. Karena menurut saya seperti nya ada sesuatu dalam film ini sampai judulnya adalah this is us, seolah-olah kayak mau nunjukin kalau iniloh kita hahaaa daaan akhirnya memang filmnya bagus pemirsaaaah, emosional sekali huhuhuu banyak juga pelajaran yang bisa saya dapat dari film ini wkwkkw 

Saya cerita dikit sinopsisnya ya hahahaa

Jadi, ini cerita tentang Pearson's family, sebuah keluarga berkulit putih di USA tepatnya di Pittsborough, sepasang suami istri yang memiliki 3 orang anak kembar alias triplets. Konflik utamanya di sini bermula ketika istrinya hamil kembar 3, tetapi ternyata salah satu anak mereka tidak dapat lahir dengan selamat. Akan tetapi, di hari yang sama ada seorang bayi berkulit hitam yang ditemukan di kantor pemadam kebakaran lalu dibawa ke rumah sakit yang sama di tempat sang istri itu melahirkan. Singkat cerita, pasangan suami istri ini akhirnya mengadopsi bayi berkulit hitam itu sehingga mereka tetap pulang dari rumah sakit membawa 3 orang anak kembar. 

Secara umum, tidak ada konflik khusus misalnya ada pembunuhan yang mau dipecahkan, tidak ada. Jadi hanya konflik keseharian layaknya kita hidup sehari-sehari. Konflik keluarga, tentang perbedaan ras, trust issue, diskriminasi, mental health, body shaming, gender issue, ya cukup banyak konflik2 yang diangkat. Alurnya juga menarik. Saya sendiri belum pernah nonton drama yang alur nya maju mundur. Tapi, bukan hanya itu yang menariknya adalah bagaimana si pembuat film ini bisa menceritakan alur maju dan mundur dengan menarik satu benang merah atau momentum atau peristiwa yang sama yang terjadi di masa sekarang dan masa lalu. Jadi, overall ceritanya ini totalnya ada 4 generasi bahkan bisa lebih di beberapa episode, karena plot ceritanya itu saat sekarang ini 2021, 40 tahun yang lalu yaitu saat bayi kembar 3 ini lahir, dan saat pasangan suami istri ini masih muda. Jadi ada beberapa latar belakang waktu yang berbeda. Tapi ceritanya sungguh menarik. Sekarang saya lagi menunggu season 6 yang katanya akan tayang tahun depan yang juga menjadi season finaleeee, wowowowowwww hahahaa *overexcited sayaaa

Tapi secara keseluruhan banyak pelajaran dan refleksi yang bisa saya petik dari film ini sih. Dan mungkin untuk postingan berikutnya saya akan menceritakan beberapa tokoh utama dalam film ini, yang pasti adalah pasangan suami istri Jack dan Rebecca, serta ketiga anak mereka yaitu Kevin, Kate dan Randall. Kalau sempat mungkin tokoh lain juga akan saya ceritakan wkkwkww

Intinya filmnya seru sekali, a very heart-warming film, silahkan teman-teman nonton kalau berminat. Kayaknya sih ada juga di channel NBC.

Segini dulu untuk kali ini, takut kepanjangan, tapi postingan berikutnya saya akan cerita tentang Jack, sang ayah. Postingan ini hanya untuk saya sharing-sharing saja hahahaha mumpung ada waktu luang.

Btw, sehat-sehat ya teman-teman semua, stay safe!

Sampai ketemu di [empat puluh lima]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 23 June 2021

[empat puluh tiga] you never fail me

even at the lowest point, you are the one who never leave your side

-not too good quote-

 

Beberapa waktu lalu seperti yang sudah saya sampaikan di postingan sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan ujian akhir dalam studi saya. Kurang lebih seminggu sebelum ujian tersebut saya cukup khawatir dan takut, takut kalau tidak bisa jawab, takut kalau gagal, takut kalau tidak lulus, banyaklah pokoknya. Tapi ternyata ketika ujiannya berlangsung, saya bisa melaluinya dengan cukup baik.

Pun kemarin baru saja saya mendapatkan vaksin covid. Sebelum vaksin cukup banyak yang saya pikirkan. Bagaimana ya kalau nanti sakit setelah vaksin, nanti demam ga bisa beraktivitas siapa yang mau mengurusi, bagaimana kalau ada komplikasi, bagaimana kalau setiba di tempat vaksin nya ternyata saya ditolak karena alasan ini dan itu. Tapi ternyata pas vaksin baik-baik saja, tidak ada efek samping apa-apa. Nyeri dikit tapi ya okelah masih bisa jungkir balik hahhahaa 

You never fail me.

You adalah saya dan me juga adalah saya. Hehehehe. You must think that you should stop reading nonsense stuff like this hahahaa 😅

Dalam hal ini, saya cuma mau bilang kalau kadang-kadang kita meragukan diri kita sendiri, padahal sebenarnya kita bisa kok. Bahkan di saat kita meragukan diri kita sendiri, diri kita sendiri tetap berusaha melakukan yang terbaik supaya tidak mengecewakan. 

Agak aneh.

Memang.

Mungkin.

Tapi coba kita pikir-pikir, pasti kita seringkali seperti ini, kalah sebelum bertarung, mundur sebelum mencoba. Padahal di satu sisi kita tau kalau kita pasti bisa, tapi tetap saja kita ragu. Hmmm..

Namun, tidak bisa dipungkiri juga, kekhawatiran-kekhawatiran kecil memang diperlukan untuk membuat kita tetap siaga dan tetap memijak kaki. Yang perlu dihindari adalah kekhawatiran yang berlebihan. Takarannya seperti apa? Kita sendiri yang tau.

So, mungkin tidak ada salahnya kita mengucapkan terima kasih ke diri kita sendiri untuk hal-hal yang mungkin kita pikir akan sulit kita lewati, tapi ternyata bisa dilewati dengan baik. Mengapresiasi diri sendiri pun ada baiknya, tetap dalam kadar yang pas dan sesuai, sebagai tanda syukur dan terima kasih karena meskipun di satu sisi kita ragu, tapi di sisi lain kita berusaha sekeras mungkin untuk bisa berhasil. And, we made it. Congratulations :)

Trus, trus, bagaimana kalau kita gagal?

Tetap, terima kasih karena sudah berusaha. Di sisi lain, hidup tidak selamanya berhasil terus. Kadang menang kadang kalah, kadang di atas kadang di bawah. It's okay. Maafkanlah. At the end of the day, you have tried. At least, you didnt fail yourself for not trying, which is sometimes enough. Berdamailah dan berterima kasih lah :)

See you at [empat puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 20 June 2021

[empat puluh dua] another step (1)

tidak akan pernah ada kata cukup untuk hal-hal yang bisa kita sombongkan, tapi akan selalu ada kata cukup untuk hal-hal yang ingin kita syukuri

-got from somewhere-

 

Hello everyone, glad to post something again, after quite a long time

Hope y'all safe and well

So this is a kind of appreciation post...

Really grateful to be able to achieve another milestone in life and I would like to sincerely thank everyone who has helped me during all this time. Those people who keep supporting and encouraging me through this journey. This is absolutely not a work of one as it will never be a work of only one. I owe tons of thanks to all of you. You know who you are. 

So, I just would say I don't have any words to describe how grateful I am, just it. Too cheesy, maybe, but yaah who cares wwkwkwkwk

Jadi begitu teman-teman yah hahhahaa sangat bersyukuuuuuur sekaliiii sudah sampai ke tahap ini. Tapi selain itu, ada sebuah refleksi juga yang muncul di pikiran ini. Singkat cerita, dua hari yang lalu saya sudah menyelesaikan ujian tesis saya dan dinyatakan lulus dengan gelar yang baru. Kemudian, banyak teman-teman memberi ucapan selamat. Sebuah hal yang wajar dan sangat sangat saya syukuri atas apresiasi yang diberikan tersebut (even it feels like too much for me wkwkw too much dalam arti sangat terhura begitu huhuuu). 

The condition is...

Jadi, orang-orang banyak memberi selamat dengan kata-kata 'well done, you did great, well deserved' dan kata-kata selamat lainnya. Sebagai orang yang tidak tau merespons hal-hal demikian, saya tentu jawab dengan 'thank you'. Tapi, seringkali dalam hati saya berkata kalau 'ah ini belum apa-apa banyak orang yang lebih bagus dari ini' to get my feet on the ground. 

Don't get me wrong, please, I try to bring this in the most suitable phrases hahaaa

Maksudnya adalah banyak sekali hal yang muncul dalam pikiran saya ketika saya mendapat ucapan demikian atau katakanlah (dalam tanda kutip) dipuji. Di satu sisi, saya senang dan bersyukur dengan apresiasi dari apa yang saya kerjakan. Tapi di sisi lain, ketika saya memilih merespon (dalam hati) dengan 'iya sih tapi ini belum ada apa-apanya orang lain masih banyak yang lebih baik dari ini'. Terus saya jadi mikir kok saya seperti orang yang tidak puas atau tidak bersyukur yah? Apa memang begitukah atau bagaimana kah seharusnya? Tapi saya jadi berpikir lagi tapi kan respon saya begitu supaya saya tidak takabur dan tidak berhenti begitu untuk berusaha, biar tetap jadi motivasi bahwa oh masih ada loh yang di depan situ yang bisa dicapai yang lebih baik yang lebih bisa bermanfaat. Karena kalau hanya menerima mentah-mentah 'well done, well deserved' itu kayaknya apa ya seperti ya sudah, ini sudah didapat, selesai. 

Hope you got what I mean,

Hingga ketika berpikir dan berpikir, kayaknya memang dua-dua nya perlu, sama seperti kalimat di awal sekali dari postingan ini. Kalau kita mau melihat kata 'cukup', as in the 'well done, well deserved', untuk menjadikan kita sombong dan berhenti, saya rasa tidak pernah ada kata 'cukup'. Dengan kata lain, di atas langit masih ada langit, apa sih yang mau disombongkan. Tetapi sebaliknya, kalau kita mau melihat kata 'cukup' untuk menjadikan kita bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, maka selalu ada kata 'cukup', sekurang apapun itu, pasti ada kata 'cukup' untuk kita bisa bersyukur. Tidak muluk-muluk.

Jadi, kesimpulannya, saya banyak belajar dari apa yang sudah saya jalani sejauh ini. Khususnya untuk studi selama 2 tahun ini, semua adalah proses. Milestone ini pun hanyalah bagian dari proses. Cukup untuk disyukuri dan direnungi dengan sederhana. Ibarat sebuah perjalanan, ini hanyalah sebuah lampu merah, boleh beristirahat sebentar, melihat-lihat sekitar untuk sementara waktu. Tapi ketika lampunya sudah hijau maka life must still go on karena perjalanan di depan sana masih panjang. So, after all these things, I will personally take this as a part of process, a part of life journey, always.

Merasa cukup dengan yang diperoleh saat ini untuk disyukuri tapi bukan untuk berhenti karena pastinya di depan sana banyak hal yang bisa dicapai yang tentunya untuk kebaikan.

So, to end this post, saya terima kasih kepada semuanya, tidak pernah cukup kata terima kasih saya untuk semua yang sudah saya terima sejauh ini, tapi saya bersyukur banyak sekali orang-orang baik yang sudah mau membantu dan menolong dan mendukung sampai sekarang ini. Semoga kebaikan akan kembali kepada teman-teman semua di waktu dan kondisi yang tepat dan mendukung. 

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

I think there will be another part with the same title :)

Anyway this post has nothing to do with you who read this or anyone else. This is just simply a reminder for myself. This is a bad-written post I guess hahahaa. Just a bit if I want to reflect on several things.

Alright, me signing out, 

Sampai ketemu di [empat puluh tiga],

Cheers,

Em 🙆 

Tuesday, 18 May 2021

[empat puluh satu] Good or bad, who knows?

 the future we create, the future we can predict


Hello semuaaa!! Masih suasana lebaran nih wkkwkkw 

Selamat lebaran buat yang merayakan, mohon maaf lahir batin 

Another post! yeaaa, salah satu post yang sudah lama mangkrak di draft wkkwkw sudah kepikiran dari lama tapi gak tau mau tulis apa dan gimana sampai sekarang akhirnya nulis juga hehee

Ada satu ungkapan yang mungkin familiar yaitu 'apa yang keliatan baik, belum tentu baik, dan apa yang keliatan buruk, belum tentu buruk'. Benar, benar sekali. Karena tidak jarang kita sudah terlalu cepat menghakimi sesuatu yang terjadi di kehidupan kita tepat sesaat setelah kita mengalaminya. Terlalu cepat, terlalu gegabah. 

Mungkin di kebanyakan kasus kita sering berprasangka buruk terhadap sesuatu, yang menurut orang-orang tentu kurang baik. Tapi, apakah berprasangka baik adalah selalu baik? Hmm, tergantung. Sebenarnya keduanya tergantung ya, entah itu prasangka buruk atau baik. Yang cenderung kurang tepat itu jika setelah berprasangka itu kita lalu menutup semua kemungkinan lainnya dengan menganggap prasangka kita lah yang benar dan terjadi.

Hm, gimana gimana? wkwkkw

Iya, jadi, ketika sesuatu terjadi, mungkin naluri manusia kali yah, kita jadi langsung men-judge baik atau buruk, lalu berhenti di sana. Di sinilah celahnya sebenarnya. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah tau masa depan akan seperti apa. Kita tidak pernah tau apa yang kita judge sebagai baik atau buruk ini akan membawa kita kemana.

Kembali ke yang tadi, ketika kita berprasangka buruk akan sesuatu, contohnya kita sudah berencana pergi jalan-jalan dengan keluarga, terus karena sesuatu hal jalan-jalannya batal. Kita jadi bete dong. Ternyata gak lama hujan deras turun. Nah kan, untung juga gak jadi pergi, karena kalau jadi mungkin bisa kehujanan. Jadi, ketika kita hanya melihat apa yang terjadi di depan kita saja lalu langsung bereaksi secara keras mungkin itu yang akan buat kita pusing sendiri, karena emosi kita mudah sekali dimainkan di sana, marah, kesal, bete. Padahal sebenarnya, kalau kita mau berpikir bahwa tidak apa-apa mungkin bisa pergi lain kali atau mungkin ada hal lain yang juga seru dikerjakan di rumah. Maksudnya, secara manusiawi pastilah kita sedih karena apa yang direncanakan tidak berjalan semestinya. Tapi, jangan tutup kemungkinan lain. Coba perluas pandangan kita, supaya tidak sempit gitu loh hahhahaaa. Iya, karena rasanya lucu-lucu alias malu juga kalau kita sudah marah-marah gak jelas eh trus ternyata yang kita kesalkan ternyata menjadi berkah. Malu ga malu ga? Ya malu lah masa ga hahhahahhaa

Pun demikian, ketika berprasangka baik, jangan terlena. Ingat juga bahwa segala sesuatu itu naik dan tuurn. Hidup ini roda cuy, kadang di atas kadang di bawah, kadang baik kadang buruk. Sama dengan berprasangka buruk tadi, berprasangka baik pun tidak boleh menutup kemungkinan-kemungkinan yang lain. Seandainya cerita di atas kita balik, kita jadi pergi jalan-jalan tapi pas sampai tempatnya tutup atau penuh jadi kita ga bisa masuk (misalnyaaa). Seringkan kejadian mirip seperti ini. Jadi, tidak boleh juga terlalu senang atau terlena wkwkwwk 

Persis seperti judul masa depan yang kita rencanakan sekarang tetap adalah masa depan yang tidak bisa kita prediksi atau pastikan. Jadi, boleh banget berencana, tapi jangan ngoyo gitu loh, baik buruknya, terjadi tidaknya rencana kita, apa pun itulah yang terjadi tidak berhenti sampai di situ saja, pasti ada lagi yang terjadi berikutnya berikutnya berikutnya. 

Sama juga ketika kita ditegur atau dimarahi atau dipuji. Yah, you name it lah kalau kita menerima perkataan dari orang lain. Kadang kita dimarahi kita lihat sebagai sesuatu yang buruk padahal sebenarnya orang itu menegur untuk kebaikan kita. Kadang kita dipuji kita senang sekali padahal mungkin orang itu ada maksud yang lain, mau minjem duit misalnya hahahhaaa Inipun kalau ditarik lagi akan panjang lagi ke depan. Mungkin orangnya beneran muji ya mungkin saja. Makanya tidak perlu terlalu berlebihan menanggapi. Dipuji ya terima kasih, lalu introspeksi, ditegur juga terima kasih, lalu introspeksi, sama saja. Kalau minjem duit ya dikasih kalau punya duitnya, kalau ga mau kasih ya gak papa juga hahahaha

Yah begitulah yaaa wkkwkw

Segala sesuatu yang terlalu itu tetap kurang baik. Terlalu senang, terlalu sedih, terlalu bahagia, terlalu kesal, dan terlalu terlalu lainnya. Jadi ya steady sajalah, biasa saja, santai saja, tenang-tenang saja.

Jadi begitu ya, intinya yang pertama tidak boleh langsung menjudge dan menutup kemungkinan lainnya karena baik atau buruk, siapa yang tau? Ga ada. Kita akan tau ketika hal itu terjadi. Dan ketika kita sudah mati-matian menjudge sesuatu yang ternyata bisa berefek kebalikannya, malu loh kita wkkwkw Yang kedua, selalu waspada atau siap atau sadar gitu kalau ga mungkin semuanya baik atau semuanya buruk. Jadi, kita syukuri jalani saja apa yang terjadi. Di sisi lain karena baik dan buruk itu relatif sebaiknya juga untuk memijakkan kaki baik-baik ke bumi supaya pikiran emosi tetap berpijak jadi menanggapi apa-apa tidak berujung ke hal-hal yang merugikan kita sendiri.

Gitu ya gitu yaaaa hahahhaaa

Sudah dulu yaa semoga bergunaa semogaaa hahhaaa

Sampai ketemu di [empat puluh dua]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 5 May 2021

[empat puluh] hari ulang tahun

And in the end, it's not the years in your life that count; it's the life in your years

-Abraham Lincoln-


Hola everyone! Teteup sehat yaa semuanyaaa!!


So, I have just had my birthday yesterday *yeaaa* hahhahaa 

Actually, bukan tentang itu, tapi ada hal yang menarik sih, ga penting sih ya tapi menarik hahahaa

Jadi, coba bayangkan dalam setahun ada 366 hari maksimalnya, we spend the whole year, going through day by day, but there is one day in that whole year which we notice carefully that the day is different to other days. That's our birthday.

Menarik aja sih menurut saya, seolah-olah ketika kita melewati suatu perjalanan kita sudah sasar dari jauh bahwa 'oh itu tuh di situ'. Seperti itu kurang lebih. Sementara, bagi orang lain, hari itu biasa saja, tidak ada kesan apa-apa. 

Tidak penting yah? Iya memang hahahaa

Apa pelajaran yang bisa diambil? Tidak ada. Hahahhaa

No no, I just think that it's interesting how this small particular thing is really personalised to each of us, to each individual. Hari yang kita rasakan spesial, belum tentu loh spesial bagi orang lain. Berangkat dari hal kecil ini saja yang sudah sangat personal, subjektif, bagaimana dengan hal-hal lain yang lebih besar. Pendapat, sudut pandang, tindakan, pola pikir. Kemudian, bagaimana perasaan kita yang mengubah dan membentuk kesan pada sesuatu. Semua hari dalam setahun hanyalah hari, biasa saja. Tapi, karena ada kesan di dalamnya maka itu yang membuat hari itu menjadi istimewa. Bukan hanya ulang tahun, hari-hari lainnya, hari jadi, hari raya, hari peringatan, dan lain-lain. Jadi, most of the things in life are neutral, hanya karena perasaan kita, pikiran kita, pengalaman kita, yang mengubah hal-hal itu punya kesan tersendiri. Jadi, bukan tentang hari nya, tapi tentang kita nya. This thing can be applied in many things in life. Ini dasar dari banyak hal yang terjadi. Semua kembali kepada kita, diri kita sendiri.

Demikian lah kira-kira refleksi hari ini hahhaaa

Trying not to be too serious, but just try to see a little thing which might be important hehehee


Last but not least, happy birthday to me *yesterday* hehee

And note to myself,

Tetaplah hidup bahagia, tenang, damai, seimbang, dan penuh kesadaran

Tetaplah berjuang dan berlatih dengan penuh semangat hingga mencapai tujuan di sana :)


Thank you everyone,

Sampai ketemu di [empat puluh satu]

Cheers,

Em 🙆

Friday, 12 March 2021

[tiga puluh sembilan] Berbahagia setelah kehilangan. Gimana gimana??

 Hantaman keras adalah pelajaran berharga

-eug-

 

Produktif, produktif euyyy wkwkw padahal lagi gabut aja.. Semoga teman-teman tetap sehat dan produktif (seperti saya) tapi tidak gabut (juga seperti saya) hehehehee


11 tahun lalu, pertama kali saya kehilangan orang dalam circle terdekat saya setelah 15 tahun hidup saya. Setelah 15 tahun hidup tanpa pernah hadir dan melihat rumah duka itu seperti apa, so itu pertama kali. 1 tahun setelahnya, kehilangan kedua saya, terberat rasanya, saat itu saya masih 16 tahun. Lalu, satu setengah tahun yang lalu, kehilangan yang sama beratnya, kalau kata ter- tidak hanya untuk satu hal saja, maka untuk dua kehilangan saya ini, sepuluh tahun dan satu setengah tahun yang lalu adalah yang terberat. 

Lalu apa?

Sering saya merenung dan berpikir, seberapa jauh saya mengikhlaskan, seberapa jauh saya menyesali, dan seberapa jauh saya belajar dari kehilangan tersebut. Seberapa jauh saya mengikhlaskan adalah seberapa banyak hal yang saya syukuri telah saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya menyesali adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya belajar adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan dulu dan saya lakukan itu sekarang. Hingga di satu titik dimana saya berpikir dan saya syukuri adalah bahwa meskipun ada hal-hal yang saya sesali, tapi untungnya masih lebih banyak hal yang membuat saya mengikhlaskan. 

Apa yang sebenarnya dirasakan ketika kita kehilangan? Khususnya kehilangan orang terdekat

Sedih. Sesak mungkin lebih tepat. Rasa sesaknya sama, masih jelas di ingatan saya. Tapi ya, lumrah lah ya. Semua orang juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi semua adalah temporary, sesaat. Setelah itu life must still go on. Kita harus tetap melihat ke depan. 

Lalu apa yang dimaksud berbahagia setelah kehilangan? Seperti judul di atas wkwkw

Sering sekali ya kalau lagi gabut alias gak ngapa-ngapain sering aja gitu kepikiran ketiga hal di atas tadi, seberapa jauh saya mengikhlaskan, menyesali, dan belajar. Dan ketika saya belajar, di situlah 'berbahagia setelah kehilangan' bisa dimunculkan. Saya jadi tau bahwa ada loh hal-hal yang mungkin saya sesali 'kenapa ya tidak saya lakukan dulu' (sebelum saya kehilangan), bisa saya lakukan sekarang yang membuat saya bahagia. Hal ini semacam menghindari adanya penyesalan berikutnya hahahaaaa Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ya memang ada hal-hal yang dulu memang tidak bisa kita lakukan, mungkin karena keterbatasan kondisi atau hal lainnya, ya semacam memang gak bisa aja dilakukan pada saat itu. Dan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk melakukan itu.

Setelah mengalami beberapa kehilangan, kita (saya) juga menjadi lebih belajar. Mungkin ada hal-hal yang dulu kita 'take for granted', kita anggap sebagai hal yang remeh, tapi sebenarnya itu hal-hal berharga yang baru kita sadari sekarang. Makanya, ketika kita sadari itu, kita lebih menghargai hal itu sekarang, kita jadi lebih bahagia, kita lebih 'fulfilled' untuk hal-hal yang kita lakukan dan yang kita alami. Selain itu, kalau teman-teman baca postingan saya yang judulnya 'gone too soon', mungkin juga ada hal-hal yang seperti itu, mungkin hal-hal yang kita sesali itu memang tidak terjadi dulu karena memang belum waktunya sama seperti yang saya tulis di situ. Jadi, mungkin tidak perlu terlalu disesali, yang penting untuk selalu belajar. 

Jadi, berbahagia setelah kehilangan berbeda dengan berbahagia karena kehilangan atau berbahagia atas kehilangan. Menurut saya pribadi, mungkin 'berbahagia setelah kehilangan' adalah bentuk 'penebusan rasa penyesalan' (mungkin terlalu berlebihan hahahaha) atau bentuk 'upgrading atau naik kelas' atau apa ya cara kita lebih menghargai waktu mungkin, sehingga kita lebih bahagia. I lost for words hhahaa kagak tau apa kata yang tepat guis ckckkck mungkin seperti ini, lebih ke perasaan yang 'wah akhirnya saya bisa melakukan hal ini ya, hal yang mungkin seharusnya saya lakukan dulu, untung masih sempat saya lakukan sekarang, dan saya bahagia karena sudah melakukannya dan juga bahagia untuk dampak yang terjadi atas hal yang saya lakukan itu'. Kurang lebih bahagia seperti itu. 

Don't know hahhaaa demikian yang bisa saya bagikan kali ini, sangat personal kali ini sepertinya, entah semua orang merasakan nya juga apa cuma saya saja. Tapi intinya selalu ada yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Apalagi dari suatu hal yang sungguh berat, pasti ada pelajaran besar di baliknya. Bagi saya, kehilangan adalah hantaman terbesar sejauh ini dan dari itu banyak sekali hal yang saya pelajari, untuk saya terhadap diri saya sendiri dan untuk saya terhadap orang lain di sekitar saya. 

Jadi begitulah ya..

Semoga berguna hehee

Sampai ketemu di [empat puluh]

Cheers,

Em 🙆

[tiga puluh delapan] totem pro parte, pars pro toto

Semua untuk satu, satu untuk semua

-(kayak) jargon tipi wkwk-

 

Demikianlah kiranya yang cukup sering kita dengar, bahkan kita lakukan. Sadar tidak sadar, tapi ya memang demikian. Agak bias ya judulnya hahahaa.. Anyway, sebelum lanjut, seperti biasa, semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, tenteram dan bahagia ya

Alright, 

Secara sadar atau tidak sadar, kita sering melakukan salah satu diantara keduanya ini (bahkan kedua-duanya), yaitu menjadikan sesuatu (satu) hal sebagai patokan atau mewakili semuanyaa dan/atau menjadikan sesuatu yang umum ke satu hal tertentu alias men-general-kan alias memukul rata. Agak ribet ye wkwkkw

Contohnyaaa biar kagak pusing kita hahaha

Contoh paling gampang mungkin kalau kita ketemu seseorang, karena ini yang sering kita temui sehari-hari bertemu orang yang berbeda-beda. Nah, misalnya kita ketemu seseorang dari negara tertentu, (kalau sebut suku atau negaranya nanti dibilang rasis hahahaa), dia adalah orang pertama dari negara tersebut yang kita temui, sebelumnya kita belum pernah ketemu orang negara tersebut. Ternyata, orang itu pelit. Berangkat dari pertemuan itu, saat lain waktu kita bertemu orang dari negara yang sama, seperti sudah terpatri di otak kita 'wah pelit ni pasti' wkwkwk itu untuk yang satu untuk semua.. Padahal ya belum tentu orang itu pelit juga khaan hahhaaa

Kalau yang semua untuk satu itu misalnya gini, kita ketemu seseorang dari negara Indonesia, karena saya juga dari Indonesia, maka di pikiran saya, pasti bisa bahasa Indonesia dong, karena semua orang Indonesia harusnya dan pastinya tau bahasa Indonesia. Tapi ternyata, orang itu ga bisa bahasa Indonesia dong, meskipun dia orang Indonesia, KTP Indonesia. Hm, okaii..

Saya sendiri sering sekali seperti itu, men-general-kan semua orang karena satu orang dan menganggap satu orang itu sama dengan semua orang lainnya. Dari kejadian-kejadian kecil itu, saya jadi berpikir bahwa sebenarnya pikiran kita sendiri yang  membentuk citra orang lain, bukannya orang tersebut. Kita sendiri yang sok tau menjudge setiap orang dari hal-hal yang kita alami sebelumnya, Padahal, setiap orang itu berbeda, setiap perjumpaan atau setiap hal yang kita alami, meskipun identik, tapi tidak sepenuhnya sama dan tidak semestinya kita menghakimi duluan sebelum benar-benar mengalaminya. Kenapa begitu? Soalnya, tidak jarang sikap kita itu ditentukan oleh apa yang sudah kita judge kepada orang lain. Misalnya, ke orang yang kita sangka pelit itu, orangnya belum ngapa-ngapain kita sudah tidak ramah karena di otak kita dia ni pelit nii, malas aku. Padahal kan ya belum tentu juga wkwkkwwk

Jadi gitu ya, 

Gak panjang-panjang lah kali ini, hanya sebagai pengingat buat saya saja, biar ingat dan belajar untuk tidak menentukan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, biar gak kaget juga hahhaaa

Jadi benar kata orang bahwa don't judge the book by its cover, mungkin saja dari 10 cover yang ilustrasinya jelek, 8 ceritanya tidak menarik, 2 ceritanya menarik. Kasian yang 2 buku ini, kasian juga kitanya yang tidak membaca cerita yang bagus hanya karena kita sudah misjudge dari covernya.

Meskipun menarik tidaknya suatu buku juga relatif ya (eh gimana)

Ya udah ya wkwkkw

Sampai ketemu di [tiga puluh sembilan]

Stay safe!

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 28 February 2021

[tiga puluh tujuh] it is what it is

Hello everyone,

Semoga semua selalu dalam keadaan sehat ya, entah kapan pandemi ini berakhir, dan rasanya semakin ke sini semakin banyak kenalan atau keluarga yang sudah terinfeksi covid. Yaaahhh, begitulah, hidup tidak bisa diprediksi, intinya semoga semua dalam keadaan yang baik dan sehat. 

It seems like it has been a very looooongg time and yet I don't know what to write here hahaa I really want to write about this thing, but just don't know to make it up into a good writing. So, whatever, just try wkwkkw

Sejujurnya, covid memberi pelajaran besar bagi kita manusia. Mungkin, sebenarnya dari printilan-printilan kecil dalam hidup kita pun kita dapat mengambil pelajaran yang sama, tetapi karena dampaknya yang tidak 'begitu' terasa, kita kerapkali abai *baku banget bu kek kanebo kering wkwkkw Iya, kita jadi sering bodo amat gitu, tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan apa yang sebenarnya mestinya bisa kita ambil menjadi pelajaran. 

Pertanyaannya adalah, pelajaran apakah itu???

Mungkin berbeda tiap orang, tapi kalau untuk saya pribadi, mungkin pernah saya bahas di postingan sebelumnya tentang covid mengajarkan kita tentang ketidakpastian hidup, tapi selain itu, bagi saya, covid juga mengajak saya untuk melihat sesuatu sebagaimana mestinya. To see everything as it is, yang menurut saya pribadi, bisa menolong dalam berbagai situasi yang sedang saya hadapi. 

Cobalah sesekali, lihat lah apa yang kita rasakan sebagaimana adanya. Dalam kasus ini, bedakan lihat dan bereaksi. Ketika kita melihat, kita tidak bereaksi apa-apa, kita hanya benar-benar melihat, karena apa reaksi kita adalah tahap selanjutnya. Yang kadang kita lakukan adalah melewatkan step melihat ini dan langsung bereaksi saat itu juga. Padahal, tanpa kita sadari, proses melihat yang sebenar-benarnya ini berkontribusi besaar sekaliiii dalam menentukan apa reaksi kita.

Contoh, saat kita sedang marah, coba jangan dulu nyerocos atau ngomel wkwkkw, coba kita lihat, apa yang kita rasakan saat kita sedang marah atau ketika kita mulai akan marah, misalnya kepala kita jadi panas? otak kita langsung mau ngomel? jadi sesak? apalagi ya? beda-beda tiap orang, tapi kita pasti tau bagaimana kalau kita sedang marah. Sama seperti kita mau nangis, mungkin hidung kita mulai cekit-cekit (hahhaa bahasa apa ini), pipi rasanya panas, mata memerah. Atau ketika kita lagi stres, nah ini mungkin lebih sering kita alami, kita jadi tidak nafsu makan, malas gerak, tidak mau melakukan apa-apa, dan lain-lainnya.

Intinya semacam itu, kita amati apa yang kita alami. Nah, apa pentingnya?

Kalau dari yang saya alami, dengan mengamati, saya jadi bisa punya glosarium tersendiri untuk diri saya, jadi saya tau betul saya sedang kenapa. Terus kenapa? Saya jadi bisa lebih mengontrol, tidak begitu terlarut, bisa memutuskan reaksi apa yang harus saya lakukan dengan lebih baik. Tidak ma'garambang (alias tidak sembrono wkwkw). 

Biasanya misalnya ketika sedang mengamati kalau kita lagi marah, kita tidak jadi mengomel, marahnya nanti redam sendiri setelah diamati, takut dia mungkin wkkwkw bcanda sis, setidaknya, kita (saya) bisa jadi lebih tenang dan mengontrol semuanya.

Apakah selalu demikian? Tentuuuuu tidak wkwkk Kadang-kadang lolos juga sih, tapi setidaknya tidak selalu atau tidak sering-sering dan bisa cepat sadar, oh lupa ni mengamati ni, gitu wkwkkw

Lebih dari itu lagi, ada lagi tahapan setelah mengamati itu menelisik, baru bereaksi, jadi tahapannya nambah lagi, cuma mungkin lain kali lah ya di tulisan berikutnya, biar saya mikir dulu kata-kata yang benarnya (apa pernah kali ya dibahas sebelumnya wkwk). Jadi semakin banyak tahap yang kita lalui sebelum bereaksi, semakin matang reaksi yang kita berikan which is semakin besar kemungkinan salah dan merugikan orang lainnya. 

Another question, apakah kalau kita mengamati berarti kita akan tinggal dalam kondisi itu? Kalau menurut saya, tidak.

Misalnya, kita sedang stres, apakah dengan hanya mengamati, oh saya lagi stres, kita akan tetap tinggal di sana? Kalau saya, tidak demikian. Dengan mengamati benar-benar, kita paham dan kita menerima, tapi bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa untuk move on dari stres tersebut. Yang ada adalah kita menghadapi, bukan lari. Kita lihat lekat-lekat, benar-benar, apa yang kita alami. Tapi, dalam diri, jauh di dalam hati kita ada semangat untuk kita move on. Kenapa? Karena kita tahu, kita sadar, apa yang kita alami, kita tau kalau kita sekarang sedang stres, kita juga tau  kalau kita terus-terus begini maka tidak bagus juga karena aktivitas kita terganggu, baik itu aktivitas fisik maupun biologis tubuh kita. Ketika kita mengamati, nalar kita berjalan, kita lihat dan tau apa kondisi kita sekarang. Saya tidak mengatakan bahwa kondisi stres adalah kondisi yang salah atau kondisi yang tidak semestinya, karena stres itu sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi. Stres, marah, sedih, senang, gembira, excited, lelah itu semua hal yang sangat manusiawi dan wajar, namanya juga kehidupan pasti adalah masalahnya. Tapi, berlarut-larut dalam kondisi stres juga bukan sesuatu yang sehat. Jadi, menurut saya semua hal-hal di atas itu (melihat apa yang kita alami dan move on dari yang kita alami) akan terintegrasi ketika kita melihat baik-baik apa yang kita alami. 

Next, bagaimana kalau kita sudah berusaha keluar dari stres tapi kita masih stres?

Sama, amati kembali, oh berarti usaha saya masih belum bisa ya, ya sudah, tidak apa-apa setidaknya sudah berusaha. Amati kembali, oh saya masih begini, saya masih begitu. Tidak apa-apa ya, besok kita usaha lagi. Semua berubah, begitu juga dengan stres ini pasti nanti berakhir. Terima saja, atau bahasa lainnya telan saja hahahaaa Tapi, memang begitu, setelah itu kita pasti tau apa ya kira-kira yang bisa kita lakukan, biasanya sih, kalau kita sudah bisa menerima otomatis kita sudah terlepas dengan sendirinya. Bagaimana ya membahasakannya hahhahaa

Jadi, coba belajar melihat sesuatu sebagaimana mestinya, lihat lah marah sebagai marah, dia hanya sebuah ekspresi, sebuah perasaan. Stres pun demikian, itu kondisi tubuh, kondisi pikiran. Tidak perlu terlalu ditindaklanjuti, atau diberikan reaksi yang terlalu berlebihan karena nanti efeknya jadi panjang. Santai saja, pelan-pelan. Amati, lihat, kenali, sadari. Begitu saja. 

Oke guys? Cukup panjang sudah ini hahahahaa

Semoga bisa dipahami oleh nalar dan bisa bermanfaat yaaaah. Sekali lagi, ini opini dan pengalaman pribadi, masing-masing orang bisa beda. Kita hanya perlu mengenali diri kita sendiri :)

Sehat-sehat selalu teman-teman.

Sampai ketemu di [tiga puluh delapan],

Cheers,

Em 🙆

Friday, 1 January 2021

[tiga puluh enam] 2021 yang penuh harapan!

Selamat tahun baru!!!

Halo semuanyaa, tak terasa kita sudah memasuki tahun yang baru yaitu tahun 2021, dekade yang baru juga. Rasanya turbo sekali yaa hahhaaa banyak yang bilang seperti setelah Maret langsung lompat ke Desember wkkwkw

Hari ini cuma mau ngebacot tentang apa yang kira-kira bisa disimak dan diambil pelajarannya dari tahun 2020 yang begitu berkesan bagi semua makhluk dunia, benar-benar satu dunia. Kinda reflection maybe heheheee

Jujur saja, bagi saya pribadi, 2020 benar-benar mengajarkan kita banyak hal, membukakan mata kita untuk hal-hal yang tidak kita sadari sebelumnya.

2020 mengajarkan tentang ritme. Bahwa ada kalanya kita berlari kencang, ada kalanya kita berjalan. Bahwa ada kalanya kita menginjak gas yang cukup dalam, ada kalanya kita harus mengerem. Bahwa ada kalanya kita terbang melaju, ada kalanya kita berpijak. Ada kalanya kita perlu berhenti. Walau sejenak. Secara drastis, hidup kita berubah di tahun 2020, hampir 180 derajat. Yas, gara-gara virus Corona, Covid-19. Menurut saya, di tahun 2020, kita benar-benar diajak untuk berhenti, beristirahat sejenak sehingga kita bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kehidupan ini.

2020 mengajarkan tentang kemanusiaan. Manusia hidup untuk manusia lainnya. Saat pandemi terjadi yang menghantam rata semua negara di dunia. Tidak mungkin lagi untuk mengkotak-kotakkan satu negara dengan lainnya. Kita jadi membantu untuk alasan kemanusiaan. Covid menyerang tanpa pandang bulu dan itu yang membuat kita melihat bahwa di atas segalanya, we are just human. Di sini juga, orang tergerak untuk saling membantu, karena semua orang kesusahan, kalangan atas, menengah, bawah, semuanya. This is about humanity. Kita diajak untuk tidak lupa memanusiakan manusia, memelihara kedermawanan dan kemurahan hati, membangkitkan kembali gotong royong yang menjadi identitas kita Indonesia.

2020 mengajarkan tentang kesehatan. Harta berlimpah tapi jatuh sakit juga menjadi tidak berguna. Mungkin karena zaman sudah begitu berkembang. Teknologi begitu canggih. Kita kadang-kadang lupa dengan kehidupan yang semestinya. Gaya hidup yang tidak sehat mungkin dijalankan oleh kebanyakan orang. Karena covid kita diajak kembali untuk hidup lebih sehat, hidup lebih bersih, hidup lebih baik. Kita diajak kembali bahwa olahraga itu penting, makanan sehat dan bersih itu penting. Tanpa kesehatan yang prima, kita bukan apa-apa.

2020 mengajarkan tentang alam. Suatu pencapaian yang luar biasa ketika kualitas udara di kota-kota besar menjadi jauh lebih baik karena lockdown atau PSBB (di Indonesia). Mungkin, Bumi kita sudah cukup lelah selama ini. Dan di tahun 2020 ini, kita memberi kesempatan bagi alam untuk recovery kembali. Mungkin kita sudah terlalu banyak mengeksploitasi alam, maka dari itu, kita diajak untuk lebih peduli dengan alam, karena sudah semestinya kita hidup selaras karena kita saling membutuhkan untuk hidup.

2020 mengajarkan tentang waktu. Seperti yang saya katakan di awal, tahun 2020 terasa begitu cepat. Tapi, hari-hari yang kita lewati rasanya begitu lambat. Di sisi lain, banyak yang melihat 'waktu' dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Orang-orang jadi lebih menghargai waktu dengan orang-orang yang dikasihi, keluarga, teman, sahabat, dll. Ketika kita berlari terlalu kencang kadang-kadang kita lupa dengan sekitar. Dengan berhenti sejenak, kita jadi punya waktu untuk melihat bahwa banyak hal berharga yang ada di sekitar, hanya kadang-kadang kita lupa.

Terakhir,

2020 mengajarkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Banyak berita kehilangan. Banyak sekali. Yang saya lihat di sini adalah bahwa kita ini begitu rapuh dan rentan. Kita tidak punya kendali sama sekali dengan apa yang akan terjadi. I don't know how to explain this, tapi di sini saya benar-benar belajar bahwa kita harus belajar menerima apapun yang terjadi, dengan hati yang besar, lapang dan ikhlas. Karena, at the end of the day, we have no power on what will happen. Dengan menerima, kita bisa jadi lebih waras dan berdamai dalam menghadapi kondisi apapun. Atau dengan kata lain, kita dilatih menjadi lebih adaptif dengan perubahan. Dengan menerima, kita bisa menerima perubahan, tidak denial, tidak tersiksa, pun juga tidak lengah.

2020 was tough and challenging, but, it is what it is. I thank 2020 for all the valuable lessons. 2020 is history in human life. Not too bad tough, karena di balik banyaknya tantangan di tahun ini, tentu banyak juga kan ya hal-hal positif dan menyenangkan yang bisa kita alami. Seperti, punya waktu lebih banyak dengan keluarga, bisa punya waktu istirahat lebih banyak, bisa melatih kreativitas, bisa tau yang namanya Zoom meeting! Hahahaaaa

Untuk 2021, tentu kita semua berharap bisa jauh lebih baik dari 2020 hahaaa of course! Semoga semua bisa menjadi normal kembali, semua diberikan kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan dan semua hal-hal yang baik.

Tapi,

Ada satu hal yang menurut saya lebih penting. Dengan banyaknya pelajaran hidup yang kita peroleh selama 2020, semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Whatever 2021 will bring, hopefully we are able to accept it wholeheartedly. Apapun yang terjadi di 2021, baik dan buruknya, kita sudah belajar di 2020 bahwa inilah realitas kehidupan yang harus diterima. Kan sudah belajar, ya gak? WKWKWKW 

Semoga bisa menjadi lebih damai dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Tak lupa, an act of kindness means a lot dalam situasi seperti ini. So, tetap jangan lupa berbuat baik!

Hmm, this writing is not very good I think hahahaa cause it feels like I can't find the right words to express what I really feel and think. But, this is what I got, secara garis besar seperti ini. Semoga bacotan saya ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua yaaks wkwkwk

Happy new year guys! Wishing everyone a better 2021! Bring it on! Keep going! *tiupterompeeet*


Sampai ketemu di [tiga puluh tujuh]

Cheers,

Em 🙆