Monday, 30 November 2020

[tiga puluh lima] Repot!

Repot! Repot! 

Kenapa orang tidak ingin direpotkan? Kenapa hayoo? Wkwkwk apakah kalian juga tidak mau direpotkan?

Hahaaa mungkin akan jadi postingan yang cukup kontroversial, mungkin bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk saya nanti mungkin 5 atau 10 tahun kemudian kalau saya baca lagi, mungkin saya akan pikir dasar anak ingusan belum tau susahnya hidup! Hhahaa mungkin demikian, tapi mungkin juga tidak, mungkin saya tetap memiliki pemikiran yang sama dan cukup senang bisa menulis ini saat ini. Who knows, and who cares?

Anyway, semakin ke sini, banyak hal yang terjadi yang membuat saya jadi berpikir sendiri, kenapa kadang-kadang kita sulit untuk mengeluarkan energi lebih untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, padahal kita sebenarnya mampu? Kenapa kita selalu membawa nama 'repot'?

Mungkin iya, kalau kita sedang sibuk, kita bisa menolak, atau  menawarkan di lain waktu. Tapi kadang kala kita tidak benar-benar sibuk, bukan begitu? Kadang kala kita melihat diri kita sibuk tapi sebenarnya tidak sedemikian kok.

Mungkin hanya saya yang berpikir seperti ini. This is also notetomyself, to think more, to find the answer, or maybe it has no answer. Who knows?

Tapi ya, begitulah. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya. Kenapa? Mungkin ada yang tau jawabannya?


Sampai ketemu di [tiga puluh enam],

Cheers,

Em 🙆

Thursday, 15 October 2020

[tiga puluh empat] the overrated mental health issues

disclaimer: tulisan ini bukan berarti menganggap remeh isu mental health yang sangat penting untuk kita sebagai manusia, selain itu, ini hanya semata-mata opini saya pribadi. Terima kasih :)

Halo.. haloo.. semuanyaaaa..

Yap, mungkin postingan kali ini cukup kontroversial yaaa hahahhaaa, tapi saya hanya ingin mengutarakan pendapat saja tanpa berniat untuk menyinggung pihak mana pun, so let's start..

Jadi belakangan ini, issue mental health sedang marak-maraknya diperbincangkan dan disosialisasikan. Menarik sekali, bahwa hal yang tidak menjadi prioritas bahkan tidak ada di zaman kakek nenek kita atau bahkan orang tua kita malah menjadi hal yang penting untuk manusia di zaman kita sekarang. Sangat setuju, bahwa kesehatan itu bukan hanya fisik, tapi sehat secara mental juga tidak kalah penting, bahkan mungkin jauh lebih penting. Orang mungkin bisa saja sakit secara fisik, tapi sakit nya itu mungkin bisa lebih ringan jika mentalnya sehat. Jadi, mental health merupakan suatu concern yang penting dan sangat tepat jika sering disosialisasikan di zaman sekarang ini. Khususnya di zaman sekarang ini, semua perubahan terjadi begitu cepat, ditambah lagi kondisi pandemi ini, orang-orang banyak yang lebih mudah stres dan lain-lain. Oleh karena itu, saya sangat sependapat bahwa sangat penting untuk menjaga mental heatlh kita sebagai seorang manusia jika ingin tetap waras dan produktif.

However kkwkwkw

Unfortunately .... hehhee..

Ya, akan tetapi, yang sering terjadi bahwa, ketika sesuatu digaungkan terlalu kencang, kadang-kadang malah menjadi berlebihan alias overrated. Menurut saya pribadi (sekali lagi, menurut saya pribadi wkwk) mental health issues ini sudah mulai mengarah ke overrated, mirip pada kasus passion (mungkin bisa dibahas lain kali) wkwkkw semua orang men'dewa'kan passsion dalam kehidupan ini. Mirip dengan itu, mental health juga seperti sudah mulai melenceng dari apa yang seharusnya. Banyak diskusi-diskusi atau pandangan-pandangan yang melihat bahwa kesehatan mental itu adalah segalanya.

Hati-hati..

Menurut saya, mental health atau kesehatan mental itu agak mirip-mirip dengan hak asasi. Namanya juga hak asasi atau hak dasar, maka setiap orang bisa memperjuangkan hak tersebut. Akan tetapi, poin pentingnya di sini adalah janganlah kita menuntut hak kita tapi merampas hak orang lain. Setiap orang punya hak untuk hidup tapi bukan berarti mencuri itu dibolehkan. Mengapa? Karena semua orang juga punya hak untuk hidup aman. Maybe not a good example, tapi simpelnya seperti itu, ilmu saya masih terbatas hahahaaa. Sekarang mari kita lihat dengan kesehatan mental. Masalah kesehatan mental ini luas sekali ya, dan karena saya bukan expert, saya coba memberi contoh dan pandangan secara umum saja, yang sering saya alami. Jadi, misalnya kayak kalau kita lagi stres, lagi bete, malas ngomong atau gak mau ketemu orang-orang, gak papa untuk diam. Di satu sisi benar, tapi di sisi lain jangan sampai itu menjadi 'excuse' untuk pukul rata semua kondisi. Orang ramah dengan kita, tapi kitanya ketus, kan dia jadi heran. Atau, mungkin ada orang yang juga mengalami hal yang sama bahkan lebih buruk kondisinya dari kita, kita tidak tahu, trus kita misalnya menyinggung dia karena kita tidak bisa mengontrol perkataan kita. Trus, kita bilang 'kan saya tidak tahu? saya lagi banyak masalah'. Lha, kan dianya juga tidak tahu anda sedang banyak masalah? Orang dia juga lagi banyak masalah wkwkwkw kira-kira begitu yaa. Ya, memang tidak bisa dipungkiri juga bahwa mungkin kadar toleransi stres masing-masing orang berbeda. Tapi, let's not make any 'pembenaran' untuk diri kita di sini dengan menutup mata dengan kondisi orang lain. At least, for me personally, it's not how it works.

Penting untuk tetap waras, tapi melakukan segala cara untuk tetap waras pun sepertinya kurang bijaksana. Kita hidup saling terkoneksi satu dengan yang lain, bukan cuma kita, bukan. Lagipula, apakah kita bisa waras kalau kita mengorbankan hak orang lain untuk waras juga? And, some people say 'kadang-kadang kita perlu masa bodoh dengan orang lain'. Ya, setuju, cukup setuju, tapi masa bodoh dengan tidak merugikan orang lain. Masa bodoh dengan orang lain bukan berarti melalaikan tanggung jawab kita. Misalnya atas nama kesehatan mental, jadi mogok kerja wkwkk jangan yaaa hahahaa itu namanya bukan mental health, itu lebih ke 'I can't handle this, I quit' which is not for the sake of your mental health. Jadi, yaa harus lebih cermat dan jeli lah dalam memelihara mental health kita sendiri. 

Saya berpikiran seperti ini sekali lagi bukan berarti saya menganggap mental health tidak penting atau mental saya sudah sangat healthy wkwk bukan sama sekali. Saya juga masih sering miss dan lose, hanya saja mungkin saya hanya melihat dari aspek yang berbeda kali ini. 

Lanjoot,

In brief, the overrated mental health issues is not the concerned mental health issues. How do you know if you have overrated your mental health? You are the one and only who know it. Sekali lagi ya, menurut hemat saya, dengan menanggapi masalah kesehatan mental dengan terlalu berlebihan yang ujung-ujungnya ternyata memberikan porsi yang jauh lebih besar untuk ego kita sendiri, maka hal itu bukanlah kesehatan mental yang sesungguhnya yang dimaksud, bukanlah masalah kesehatan mental untuk tujuan yang baik.

Saya percaya sekali, bahwa isu kesehatan mental ini penting, penting untuk menjaga bukan hanya fisik tapi juga mental. Mental health ini sangat tricky dan fragile sekali teman-teman, sangat tipis dan mudah pecah wkwkkw Jadi, jika mental kita sehat ketika mental orang lain sakit atau dengan kata lain, gegara kita ingin sehat secara mental maka kita menyakiti mental orang lain, maka saya kira, ada sesuatu yang janggal dan salah di sana. 

Untuk teman-teman yang sudah membaca sampai akhir, terima kasih banyak. Mungkin setelah membaca ini, banyak yang berpikir ini seperti menganggap remeh mental health sendiri atau bagaimana, tapi coba diresapi dan direnungi dahulu. Satu hal bahwa, sejauh mana kita membawa isu mental health ini, apakah kita berlebihan menanggapinya atau sudah wajar dan sesuai porsinya, sekali lagi, hanya kita sendiri yang tahu. Bagaimana cara kita tahu? Yaitu dengan diam, merenung, berpikir. Tidak menolak, hanya melihat, selama ini kita gimana sih, apakah kita merenggut mental health orang untuk kesehatan mental kita sendiri? Tidak semudah itu memang, kita bukan manusia super yang bisa mengontrol setiap titik emosi kita, yang selalu harus menjaga perasaan orang lain. Bukan, bukan seperti itu. Kita ini manusia biasa, tidak luput dari khilaf dan salah. Hanya saja, ketika kita mulai menyadari, kita bisa lebih aware dengan diri kita dan dengan orang lain, dengan begitu kita bisa punya lebih banyak pilihan dalam menanggapi sesuatu termasuk kesehatan mental kita. Ini memang seperti omong kosong, tapi coba dulu, pelan-pelan kita bisa melihat dengan lebih jelas dari sebelumnya.

Mungkin, kali ini segini dulu, semoga bisa memberi insight yang baru yang tidak menyesatkan. Hopefully. Terima kasih semua.

Sampai ketemu di [tiga puluh lima],

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 8 September 2020

[tiga puluh tiga] what is it about being good?

virtue is its own reward

-Marcus Tullius Cicero-

Halohalohalo semuanya! :)

Ini tidak akan panjang gais kayaknya, tapi sepertinya akan sedikit tajam hahahaa

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berpikir tentang balas budi. Bukan Budi dalam buku pelajaran bahasa Indonesia yaa (krik krik wkwkwk). Anyway, kata orang tua kita, jadi orang harus tau balas budi. Ada juga yang mengatakan utang budi dibawa mati. Nah, utang budi itu apa? Kenapa utang budi menjadi sangat berharga dan tak ternilai harganya? Kalau menurut hemat saya, karena budi atau jasa itu nilainya tidak bisa dibandingkan dengan materi. Ketika ada seseorang meminjamkan kita uang 1 juta rupiah di saat kita sedang susah-susahnya membutuhkan uang, maka mungkin suatu hari kita bisa membayar kembali uang senilai 1 juta rupiah bahkan beserta bunganya. Tetapi, yang tidak bisa kita balas adalah niat baik orang tersebut yang sudah mau menyisihkan uangnya untuk membantu kita. Niat itu yang menjadi tak ternilai harganya dan mungkin karena itulah dikatakan bahwa utang budi dibawa mati.

Lalu, saya menjadi berpikir bahwa, jika seseorang berbuat kebaikan kepada orang lain 'hanya' karena ingin balas budi, hmmm bagaimana ya? Hingga pernah terbesit bahwa kalau memang melakukan kebaikan 'hanya' karena ingin balas budi maka sebaiknya tidak usah dilakukan.

Eits, tapi, saya pun terus berpikir dan berpikir. 

Sebenarnya, apapun motifnya, berbuat baik adalah berbuat baik, kebaikan tetaplah kebaikan. Tetapi menurut saya alangkah lebih baiknya jika ketika kita berbuat baik tidak 'hanya' karena 'sebatas' ingin balas budi. Satu pertanyaan, jika orang tersebut tidak punya budi  kepada kita (tidak pernah menolong kita, dsb), akankah kita tetap berbuat baik atau menolong orang tersebut saat dia susah? Silahkan dijawab sendiri. Tapi, maksud saya intinya ada di sini, seharusnya ada budi atau tidak ada budi, kita tetap bisa berbuat baik, gitu loh wkwkwk. Disclaimer sedikit, ini bukan bermaksud mengajar, menggurui, menyinggung, dan lain sebagainya. Ini cuma akan menjadi pengingat untuk saya, siapatau suatu hari pikiran saya berubah atau ada hal lain yang mengusik, mungkin saya bisa kembali membaca ini dan berpikir dan merenung kembali.

Other than that, let me have some words here, and then I will leave it to you, guys :)

Being good is not a transaction. You cannot make it as an excuse to expect people to do the same way as you do to them. It does not necessarily mean that when you do good to someone, then you have to get that 'good' back either from the same person or from other people. It is not how it works. It is a transaction, not a virtue. Being good is just good, just it is. Being good means you are able to train yourself to let go of the things that are not meant to be for you. In this case, letting go means that even if you don't get that 'good' back, it doesn't matter because it is not meant to be yours. When you do good and you have a bad day, that's not a problem anymore because you do good not because you want to have a good day. You do good just because you just want to be a good person. So, if you have a bad day after doing something good, you will know and realise and have a good understanding that it has nothing to do with the good deed you did before and you will stop thinking that it is not fair because of the bad things after doing something good. 

Being good is not that I have to be paid back for what I did. However, karma does exist. You don't have to ask for good things after you do good because one day it will automatically come to you even if you don't wish. That also happens with bad things. You harvest what you sow. That's why you don't have to expect to get something because the expectation will ruin all your good deeds. It is not pure anymore. 

Berbuat baik tidak mengharap, tidak meminta, tidak menuntut, pun tidak membayar. Berbuat baiklah karena, pertama, orang tersebut membutuhkan bantuan, kedua, kesadaran sendiri bahwa menjadi baik itu baik, menjadi baik itu membuat kita bahagia, kebaikan memberikan kebahagian di level yang berbeda.

Mungkin begitulah kira-kira guys, sekali lagi ini hanya opini pribadi saja, hanya bermaksud menulis keresahan pribadi. Semoga berkenan.

Stay good :)

Sampai ketemu di [tiga puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 6 September 2020

[tiga puluh dua] the invisible things

apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada

saya aja, 2020 wkwkw  

The ceiling has fallen, 4 September 2020

Sebuah fenomena langka yang menurut saya harus saya ingat baik-baik hahahaaa. Seumur-umur belum pernah saya mengalami hal yang demikian, plafon kamar yang tiba-tiba runtuh. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, tetangga saya, saat itu hujan dan angin memang sedang kencang-kencangnya, lalu tiba-tiba atapnya jeblok, jatuh. Mungkin saat itu dia juga merasakan yang saya rasakan hahhahaaa. Dari situ, kemudian saya jadi berpikir. 

Pertama, siap tidak siap, kita harus selalu siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Bukan cuma plafon runtuh, rejeki runtuh pun harus siap wkwkwk. Setiap malam saya tidur menghadap plafon itu, tapi tidak pernah saya berpikir kalau plafonnya bakal jeblok hahhaa. Banyak hal yang terjadi di hidup kita yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Dan, itu wajar-wajar saja. Kita saja yang kadang-kadang kaget terlalu lama untuk hal-hal yang sebenarnya kita sudah tau. Tidak ada yang bisa diprediksi secara pasti, bukan?

Kemudian, terlepas dari plafon runtuh itu, yang sempat saya pikirkan belakangan adalah sama seperti yang saya kutip di bagian awal, apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada. Belum tentu ketika saya tidak pernah menemui atau mengalami sesuatu bukan berarti hal tersebut tidak ada.

Sebuah frasa 'masa sih' dalam sebuah pertanyaan semestinya selalu mendapatkan jawaban 'ya'. Entah hanya saya, atau mungkin banyak orang sering berpikir misalnya 'masa sih ada orang yang bisa kepikiran plafon di atasnya akan runtuh?' atau 'masa sih ada orang yang tidak punya idola?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah marah?' atau juga 'masa sih ada orang yang tidak pernah pikirkan dirinya sendiri?'. Setelah dipikir-pikir, entah benar atau tidak hahaa, tapi saya rasa jawabannya ya bisa jadi ada. Kalau selama ini saya selalu bertemu orang yang suka marah bukan berarti semua orang di dunia ini suka marah. Dunia ini tidak sesempit apa yang kita kira. Dunia ini terlalu luas dengan terlalu banyak jenis-jenis manusia yang hidup di dalamnya, belum lagi makhluk lain wkwkkw

Makanya, kita tidak boleh cepat menarik kesimpulan hanya dengan melihat dari satu sisi. Semua kemungkinan bisa terjadi, tapi kita tentu harus siap dan tau bahwa kemungkinan itu ada. Terlalu sederhana jika kita hanya sependapat dan meyakini apa yang ada dalam pikiran kita, padahal di luar sana ada begitu banyak hal yang tidak kita pikirkan atau bayangkan sebelumnya.

Kali ini saya menulisnya singkat, tapi coba jika teman-teman sempat membaca ini, coba dilihat kembali apakah kita sering demikian, berkesimpulan sesuai apa yang kita lihat dan tau. 

Selalu siaga.

Salam sehat selalu.

Sampai ketemu di [tiga puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆


Tuesday, 11 August 2020

[tiga puluh satu] Belajar Melepas ...

santai mko, dunia ji ini ...

- anak makassar jaman entahlah wkwkwk -

Halo lagi teman-teman, semoga selalu dalam keadaan sehat yaa, masih pandemi nih sudah masuk bulan ke 6, tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dalam kondisi pandemi ini yaa, tetap semangat maju terus! Apalagi ini bulan Agustus kan, bulan kemerdekaan, harus semangat dong! Wkwkkw

Kali ini, saya mau tanya, seberapa sering kita kehilangan? Entah dari kehilangan barang remeh temeh sampai kehilangan orang yang paling disayang?

Saya sendiri woww sudah tidak terhitung kehilangan yang saya alami selama hidup ini wkwk mulai dari kehilangan pulpen sampai kehilangan anggota keluarga yang disayangi. Baru-baru ini, laptop saya tiba-tiba rusak dan ternyata harus direset, padahal awalnya saya berpikir harus diperbaiki atau malah harus beli baru, tapi ternyata bisa diperbaiki asal direset ulang. Otomatis tidak romantis, aplikasi dan beberapa data (untungnya bukan yang krusial) harus hilang dong. Sempat juga beberapa tahun lalu, kehilangan HP, juga otomatis tidak romantis, kartu sim nya hilang, kartu memori nya hilang, foto-foto hilang semua dong. Yang paling aneh, saya pernah kehilangan tas di rumah saya sendiri beserta isinya, ada buku, kalkulator, dan dompet kalau tidak salah ingat tapi untungnya KTP dan kartu penting lainnya tidak di dompet itu. Apanya yang aneh? Anehnya adalah, tas itu hilang di dalam rumah dan barang berharga lain seperti laptop, HP tidak hilang padahal ada di ruangan yang sama. Saya sampai bingung, apa saya tidak sadar terus saya buang tas saya ya? Hahahaaa

But, then, so what? Kalau bahasa Makassarnya, jadi kenapa mi? wkwkkww

Yang ingin saya katakan adalah santai mi dunia ji ini hahhaaaa 

Maksudnya adalah tidak ada yang selama-lamanya. Ketika saya mereset laptop saya (ini baru saja kemarin ketika saya menulis ini), saya jadi kepikiran dan mengingatkan diri saya kembali kalau oh iya ya, suatu hari bisa loh barang itu rusak, kayak laptop ini, tidak saya duga-duga sebelumnya, karena terakhir saya pakai masih bagus eh tiba-tiba harus direset. Saya jadi mikir dan kembali belajar dan mengingatkan diri saya, kalau ini mah hal lumrah, bisa terjadi pada barang apa saja dan orang mana saja. Saya jadi 'diingatkan' oleh laptop ini kalau saya tuh harus tau betul kalau suatu hari barang lain juga mungkin akan mengalami hal yang sama, wajar saja, tidak usah terlalu merasa bagaimana, tidak usah terlalu sedih. Hari itu, saya belajar dari laptop saya, terima kasih laptop hahhahaaa jangan begitu lagi ya, kalau begitu lagi, nanti saya berterima kasih lagi wkwkkw

Barang hilang itu biasa, mari belajar merelakan. Jangan melekat. Nanti kita kayak tikus, kena lem, ga bisa lepas, lalu mati, sia-sia wkwkkw. Seringkali ketika kita kehilangan sesuatu itu nyeseknya sampai lamaaaaaa sekaliiii, mungkin karena barang kesayangan ya yang diperoleh dengan jerih payah misalnya. Ketika pulpen kita hilang, duh, bisa sampai berhari-hari galaunya. Pulpen saya kemana ya terakhir saya taruh dimana ya, terakhir siapa yang pinjam ya? Pusing dah tuh pikirannya kemana-mana padahal kan masih punya pulpen lain. Mungkin saja pulpen kita menjadi amal untuk orang lain yang membutuhkan. Pulpen itu sudah jadi manfaat besar untuk orang lain. Mungkin hehehee. Karena di otak dan pikiran kita, kita melihat barang itu sebagai punya kita, milik kita, punyaku, milikku, tanpa sedikitpun berpikir bahwa barang ini juga bisa hilang. Kita kadang-kadang kurang paham betul bahwa nothing lasts forever, really, nothing. Kita tahu tapi tidak betul-betul paham. Singkatnya, kita kadang terlalu melekat, kita kurang melepas ...

Anyway, ini bukan berarti bahwa oh kalau gitu gak apa-apa dong kalau barang kita hilang kan memang tidak ada yang selamanya, jadi taroh saja sembarangan barang-barangnya. Hahahaaa bukan begitu juga dong kakak, kan ada namanya tanggung jawab, amanah. Ya, tetap harus bertanggung jawab dong dengan yang kita punya, harus dijaga, dirawat sebaik-baiknya. Tapi, ada hal yang berada di luar kontrol kita. Dan ketika kita sudah  melakukan yang sebaik-baiknya, tetapi barangnya tetap hilang, itulah yang saya maksud. Ketika semua sudah terjadi, apa yang harus dilakukan? Itu yang penting. Malahan, karena kita tau bahwa suatu hari barang (di sini saya contohinnya barang aja ya, tapi orang juga bisa loh wkwkwk) ini akan pergi, akan hilang, akan rusak, akan diambil, atau akan tidak terpakai lagi, maka kita harus menggunakan waktu yang singkat ini untuk menjaga, memakai, memanfaatkan, memelihara apa yang kita punya sekarang. Sehingga, ketika waktunya tiba, barang itu hilang, pergi, rusak, kita tidak kaget lagi, tidak nyesek lagi, karena kita tau memang semua akan pergi pada waktunya dan kita tau selama ini kita tidak menyia-nyiakannya.

Melekat itu agak berbahaya sebenarnya gais, kadang-kadang kita tidak sadar. Kayak lem tikus atau lem alteco atau lem korea gitu hahhaaa, lengket, susah lepas, sekalinya lepas, malah luka. Kita itu sering begitu, tanpa sadar. Sudut pandang kita dibutakan dengan apa yang kita punya sekarang. Mungkin karena sudah terlalu nyaman, sampai lupa. Nyaman dengan punya HP, ketika hilang atau rusak, bingung. Ya, memang kadang-kadang kita perlu mengingatkan diri sendiri kalau ini cuma barang loh, suatu hari bisa rusak atau hilang. Kalau misalnya terjadi saya akan bagaimana ya? Bukan bermaksud meminta-minta supaya barangnya hilang hahahaa tapi upaya pencegahan aja. Sedia payung sebelum hujan (kalau tidak naik mobil) wkwkwk. 

Saya lupa waktu jaman kapan mungkin waktu kuliah kali ya atau SMA ya hahhaaa kalau ada orang yang berlebihan dengan sesuatu atau berlebihan dengan yang ia miliki, maka pasti akan muncul kalimat ini 'santai mko, dunia ji ini' (artinya: santai aja, ini cuma dunia) wkwkw. Lucu juga menurut saya, tapi ada benarnya. Memang benar, bahwa ini cuma dunia, tidak selamanya, tidak kekal. Benda, hewan, manusia, perasaan, peristiwa, semuanya datang dan pergi bergantian. Whoever you are, you have no idea on how to keep something forever. Cepat atau lambat, sekarang atau  nanti, ketika tiba waktunya semua akan pergi dan yang lain akan datang. 

Ya, begitu saja siklusnya, datang, pergi, hilang, tumbuh, berganti, selalu, demikian.

Saya yakin, kita, teman-teman semua yang membaca ini pasti lah sudah familiar, sudah tau, sudah hafal di luar kepala kalau tidak ada yang abadi. Ada barang yang hilang, ada orang pergi, lumrah. Kita tidak selamanya ditinggalkan, bisa jadi kita saling meninggalkan. Kita juga bisa jadi orang yang pergi, jadi orang yang hilang. Jadi, ya biasa aja. Memang itu wajar terjadi dan bagian dari proses kehidupan. Jadi, kalau sudah tau, kenapa masih sering sedih yang mendalam? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Coba tanya-tanya sama diri sendiri, seperti di postingan sebelumnya wkwkk. Seberapa melekatnya kita, seberapa melepasnya kita, hanya kita sendiri yang tau.

Kita manusia, wajar sedih ketika ada yang hilang, wajar senang ketika ada yang datang (umumnya demikian, pun tidak semuanya). Tapi ketika kita tau pakemnya, tau basic dari semuanya, kita tidak akan terlarut, terhanyut dan terbawa, karena kita tau, kita paham, kita sadar betul. Ya, begitulah kira-kira. 

Jadi santai mi saja teman-teman wkwkkww 

Ada yang hilang, ada yang datang, semuanya, ketika sudah waktunya.

Saya juga masih belajar, mari kita sama-sama belajar untuk tidak terlalu melekat :)

Semoga ada faedahnya ya. Sampai sini dulu.

Sampai ketemu di [tiga puluh dua]

Cheers,

Em 🙆

[tiga puluh] Talk to yourself!

Self contemplation is the best way to fall for your ownself

-Priyal Agrawal-


Hello again! Hope you are all doing well there!!

Hmm, a question, have you ever talked to yourself??

But, wait, don't do this very often because people may think you are a lil bit 'pongoro'? wkkwkwww

I'm joking huehehehee

Jaaaadiii, kali ini, saya mau nulis terkait self-talk atau self contemplation atau berbicara dengan diri sendiri, yang saya gak tau apakah banyak yang sudah familiar dengan ini atau sudah sering melakukan ini. Saya pribadi melakukan ini cukup sering mungkin karena saya orangnya lebih introvert dan agak susah ngobrol dengan orang lain, jadi saya lebih sering membahas apa yang ada dalam pikiran saya dengan diri saya sendiri. Sounds weird? Entahlah kwkkwww

I'm not talking about whether it is weird or not, but I found it useful, so I'm just trying to share ... Let's get started ...

Nah, ngomong dengan diri sendiri atau bisa dibilang merenung atau mungkin berkontemplasi. Menurut saya pribadi, dengan berbicara dengan diri sendiri sangat membantu dalam banyak hal. Termasuk ketika saya sedang menulis blog ini, saya sedang berbicara, berdiskusi, dan berdebat dengan diri saya sendiri.

If you never do this, then you should try it someday. I am sure, it helps, at least for me, but I hope for you, too ...

Apa yang terjadi ketika kita berbicara dengan diri kita sendiri?

Ketika kita punya suatu ide, suatu pemikiran, suatu pendapat, suatu emosi, atau apapun itu bentuk pikiran yang muncul di pikiran kita, berbicaralah dahulu kepada diri sendiri. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mengontrol diri kita. Itu yang pertama. Contoh simpel, misalnya ketika sedang jengkel kepada orang, kita bisa bilang ke diri kita bahwa kita sekarang sedang jengkel. Nah, dengan berkata demikian, bagian dari diri kita yang lain akan merespon.  Di sini, bukan berarti kita punya banyak diri yaa hahaa tapi kita pasti punya pemikiran lain yang muncul setelah satu pemikiran muncul. Nah, pemikiran pengikut ini atau yang saya sebut sebagai 'respon' yang mungkin kadang-kadang kita sering abai jika kita tergesa-gesa. Responnya ini menurut saya tergantung latihan kita dan kepribadian kita seperti apa. Bisa jadi kita menanyakan balik ke diri kita mengapa kita jengkel? Atau mungkin kita malah mendukung rasa jengkel itu, atau mungkin mengatakan bahwa tidak perlu jengkel. Banyak kemungkinan. Tentu, lebih baik kalau kita bisa mengontrol ke hal yang positif atau yang lebih baik. Tapi, ketika kita mengangkat suatu argumen ke diri kita sendiri, kita punya waktu lebih panjang sebelum menentukan suatu tindakan yang mungkin saja bisa merugikan kita ataupun orang lain. Dengan demikian, kita bisa lebih mengontrol tindakan yang kita ambil. Jadinya, kita tidak tergesa-gesa dan menyesal. Contoh lain, ketika kita ingin mengungkapkan sesuatu, nah kita bisa berdiskusi dulu dengan diri kita, berpikir lagi, menyelami lagi, kira-kira yang mau saya sampaikan ini menyakiti orang gak ya? Kira-kira berguna tidak ya? Kira-kira sudah sopan belum ya? Ya, kurang lebih begitulah, untuk yang pertama ini, menurut saya sangat membantu untuk mengontrol apa yang kita lakukan, karena kita seolah-olah seperti mengulur waktu dengan mengolah pikiran kita.

Lalu, selanjutnya itu adalah memperkaya perspektif akan suatu hal. Jadi, mirip contoh kasus seperti di atas. Dengan berbicara atau berdiskusi dengan diri kita, sebut saja kontemplasi diri, kita belajar melihat dari berbagai sudut pandang. Secara tidak langsung, bisa mengolah cara berpikir kritis kita. Ya, karena otomatis kita akan berdebat dengan diri sendiri. Namanya saja berdebat pasti kadang-kadang bisa berlawanan pendapat. Okay, jadi begitu ya hehee kita bisa melihat apa yang kita rasakan atau pikirkan dari berbagai sudut pandang dan bisa melihat lebih jauh ke depan. Ketika kita bisa memberikan waktu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, otak kita, pikiran kita akan punya kesempatan mengeksplor lebih banyak, sehingga keputusan yang kita ambil bisa dibilang sudah melewati beberapa seleksi gitu.

Kemudian berikutnya yaitu kita bisa lebih mengenal diri sendiri. Kita bisa tahu perspektif apa yang kita ambil, sudut pandang mana yang kita amati, bagaimana pola pikir kita, bagaimana respon kita terhadap suatu hal. Dengan sering-sering kontemplasi diri, kita kurang lebih bisa introspeksi, menyeleksi apa yang baik dan buruk dan ujung-ujungnya bisa upgrade diri. Kita pun juga akan lebih terbuka untuk dikritisi oleh diri kita sendiri. Tapi apakah benar begitu? Bukankah kita punya ego? Nah, ketika kita berusaha berbicara dengan diri kita sendiri, maka jangan maksa juga wkkwkw turunkanlah egonya sedikit, ketika kita punya suatu pemikiran yang mungkin kita kurang setuju, maka pemikiran itu jangan ditolak, tapi lihat dan amati kenapa kita bisa berpikir begitu. Dan apakah itu benar atau tidak? Dampaknya baik atau tidak? Dengan begitu, kita bisa pelan-pelan belajar. Ibaratnya, kalau kita saja tidak mau mendengar diri sendiri, bagaimana bisa kita dengar orang lain? wkwkwkw

Mohon maaf ya ini mungkin yang saya sampaikan agak berat mungkin hehehee atau penjabarannya kurang jelas. Intinya, dengan berbicara dengan diri sendiri bukan berarti kita tidak bisa cerita atau curhat ke orang lain. Tentu bisa, kita selalu butuh orang lain, tidak mungkin tidak. Tapi, dengan sesekali meluangkan waktu untuk kontemplasi diri, menurut saya, kita bisa jadi lebih tenang, terkontrol, lebih mengenal diri sendiri dan juga kita bisa belajar lebih banyak tentu dari diri kita sendiri juga. 

Kadang-kadang yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan kita itu adalah diri kita sendiri bukan orang lain.

Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu perlu, asalkan jangan sambil tertawa tanpa sebab nanti dikira apa gitu wkwkkwkk

Sekian dulu ya teman-teman, sekali lagi ini opini saya saja, semoga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat karena kita semua sama-sama belajar dan sama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih baik, bukan? hehehe

Stay safe semuanya, jaga diri kita untuk kita dan orang lain :)

Sampai ketemu di [tiga puluh satu]

Cheers,

Em🙆


Tuesday, 4 August 2020

[dua puluh sembilan] gone too soon

Good things come in good time
-Wiz Khalifa-

Halo guys, welcome back! Hope you are doing well wherever you are!

Kali ini cuma pengen cerita saja, bahwa saya adalah orang yang cukup percaya dengan ungkapan 'semua ada waktunya'. I do. Apapun itu, selama kita masih mau dan terus berusaha, maka segala sesuatu akan tiba atau terjadi pada waktunya. 

Tapi...

Apa yang terjadi ketika waktunya belum tiba tetapi waktu yang lain sudah berakhir?
Apa yang terjadi ketika dua waktu tidak saling bersilangan?

Kita hidup saling bergantungan satu sama lain, we do need other people, to help us, to cheer us up, to answer our question, or even just to stand beside us in silence. What happen if you have a question but the answer has run out of time? Or what happen when you realize something but the time is over?

Cukup mengawang-awang ya hahahahaa

Contoh sederhana, jika kita diberikan laptop ketika usia kita misalnya masih SMP, mungkin kita cuma tau memakainya untuk main game, mengetik, atau pekerjaan microsoft office lainnya. Tapi, ketika kita mungkin sudah kuliah kita tau bahwa sebenarnya laptop kita bisa lebih dari itu, bisa buat photoshop, bikin video, dan untuk kreativitas lainnya. Tapi, bagaimana jika saat kita kuliah , laptop kita sudah tidak bisa dipakai??

Get a brand new laptop!

Good answer! Betul sekali, beli laptop yang baru, masalah selesai.

Pertanyannya, bagaimana jika saat kita kuliah, semua perusahaan pembuat laptop sudah tutup??

There must be another smarter device than laptop!

Again, good answer! Pasti ada teknologi yang lebih canggih daripada laptop, bukan? Wkwkwkw

This is the thing that keep going on my mind lately, banyak yang 'sudah tidak sempat lagi', in many cases. Meskipun, in a positive way, saya juga tetap yakin bahwa akan ada kesempatan-kesempatan lainnya mungkin di masa depan, atau ada hal lain yang bisa menggantikan. Atau, mungkin juga jawaban itu akan muncul dalam bentuk lainnya, sama seperti alat yang lebih canggih dari laptop itu.

I don't know.

It's just many things have gone too soon, bukan karena ketika ada tidak dimanfaatkan dengan baik, tetapi pada waktu itu memang waktu nya belum tiba. But no need to regret, yang terjadi ya terjadilah wkkkw

Just use your time, wisely! 

See you at [tiga puluh] uyeaa wkwkw

Cheers,
Em 🙆

Friday, 17 July 2020

[dua puluh delapan] SAYA TERLALU BANYAK .....

lagi males pake quote hahhaaa langsung aja yee ...

Halo semuanyaaaa, semoga sehat-sehat selalu yaaa, COVID-19 belum sepenuhnya hilang, mari kita jaga diri masing-masing untuk orang-orang di sekitar kita juga.

Beberapa waktu belakangan ini, saya berpikir-pikir tentang apa yang sudah saya 'dapatkan' dan saya sampai di satu titik bahwa mungkin saya sudah 'kebal'. Eits, kebal bukan berarti saya berpuas diri yaa tapi mungkin karena paparan berulang maka menjadi seperti tidak mempan atau bosan, mungkin? My bad for not being able to explain clearly -_-" mungkin penjabaran di bawah bisa memberikan secercah cahaya terang wkwkw *apasii

Jadi, mungkin, saya sudah terlalu banyak nonton drama serial, nonton film, baca novel, ikut seminar, ikut webinar, dengar podcast, nonton utub, liat instagram. Mungkin sudah terlalu banyak. Su-dah ter-la-lu ba-nyak. 

Saya bukan a big fan of drama korea atau drama apapun, saya butuh waktu untuk mengumpulkan niat untuk menonton suatu serial. Ya, saya lebih memilih main game candy crush wkwkwk. Tapi, saya mulai nonton drama itu khususnya korea dan mandarin mungkin waktu kuliah sampai sekarang, tapi tetap saja picky, tidak mengikuti tren, nonton jika mau nonton saja. Dari semua yang sudah saya nonton, saya selalu tiba di titik ketika dramanya sudah selesai, saya masih memikirkan kelanjutan dari ceritanya seolah-olah itu terjadi di dunia nyata. Adapula drama yang karena menurut saya sangat bagusnya, maka terus teringat-ingat setelah selesai menonton. Begitu juga dengan film, agak pilih-pilih, tapi efeknya mungkin tidak sehebat kalau nonton drama, tidak sampai kepikiran terus. Dalam kasus film dan drama ini, saya mengamati diri saya selalu terjadi hal yang berulang. Pokoknya, setiap selesai menonton pasti terus terngiang berhari-hari, seperti saya itu mau menjadi bagian dari cerita hahahaa meskipun saya tau itu cuma cerita fiksi yang belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi hmm bisa jadi sih. Mungkin teman-teman juga mengalami hal yang sama dengan saya? Atau cuma saya yang seperti itu? Hahahaa mungkin saya aneh wkwk

Terus, saya pertama kali mengikuti seminar motivasi kayaknya SMA, tapi saya tidak mudeng dengan isi seminarnya, karena mungkin lebih ditujukan untuk orang tua. Yang berikutnya saya ikuti waktu masih kuliah. Setelah mengikuti seminar itu, rasanya termotivasi sekali, bersemangat dan berapi-api. Angan-angan muncul di dalam pikiran, mau seperti ini, seperti itu, seperti yang disampaikan si narasumber itu. Mau menjadi sukses seperti dia, terkenal seperti dia dan seterusnya. Belakangan ini, seminar diganti dengan webinar, diganti dengan podcast atau video youtube yang bisa diakses gratis. Saya pertama kali dengar podcast sejak lulus kuliah sampai sekarang. Menurut saya, banyak yang bisa dipelajari dari podcast, entah ilmu baru atau sesuatu yang sebenarnya kita sudah tahu hanya tidak sadar bahwa hal itu ada. Tapi setelah mendengar, kita seperti disadarkan bahwa oh iya ya benar juga saya. Some kind like that. 

Anyway, entah mungkin cuma saya atau kalian juga (mungkin kalian bosan karena sering sekali saya menulis ini hahahaa). Karena terlalu banyaknya tadi, saya akhirnya tidak lagi menjadi sangat termotivasi atau berapi-api setiap mengikuti seminar atau menonton utub atau mendengar podcast. Kalau film atau drama masih sering heheee. Nah, mengapa demikian? Karena saya akhirnya merasa bahwa there is nothing to do with all of those. Instead, myself is the key. Mungkin agak absurd atau susah dipahami, maksudnya adalah saya melihat semua semuanya itu dari sudut pandang yang baru. 

Contoh paling dekat, setiap saya mendengar podcast, yang saya lihat itu bukan bahwa saya ingin menjadi seperti itu. Bukan. Atau saya akan bekerja keras sama seperti yang ia lakukan.  Bukan juga. Ini yang saya katakan 'kebal' tadi. Karena mungkin sudah terlalu banyak. Saya belajar bahwa saya adalah saya (apasih ini hahahaa). Saya melihat bahwa setiap orang memiliki episode kehidupannya sendiri, sukses gagalnya sendiri. 

Kalau ada orang yang sukses karena pernah gagal terpuruk. Maka saya mungkin tidak harus seperti itu. Saya mungkin tidak perlu sampai terpuruk cukup gagal saja sebelum sukses. Atau juga, saya mungkin harus lebih terpuruk dulu dan ketimpa tangga sebelum menjadi sukses. Tidak ada satupun yang bisa menjadi patokan. Karena saya mendengar, menonton begitu banyak cerita (of course, which I will do more), dan tidak ada yang sama, tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah. Ada orang yang memiliki planning rapi detail sampai 10 tahun ke depan, sukses. Ada pula orang yang hidup hanya untuk hari ini, masalah besok biarlah menjadi milik esok hari, toh berhasil juga. 

Nah, jadi, at some point, saya belajar bahwa kita punya hidup kita masing-masing, yang sangat masing-masing, mungkin bisa dibilang istimewa. Tidak salah belajar dari orang lain, malah bagus. Yang mungkin agak keliru (in my personal opinion), ketika kita terinspirasi, termotivasi sampai menjadikan sesuatu sebagai patokan, sebagai kebenaran yang dimana kita harus menjadi seperti itu. Padahal, we never know what future holds. Hati-hati kecewa. Jangan lupa, hidup kita adalah kita. Tidak mesti menjadi orang lain.

Learn as much as you can, and be a better person than you were. As your life is the most for you and the rest for other people. 

Ini hanya sharing, sepintas lalu muncul di ingatan saya. Bisa jadi perspektif ini akan berubah seiring waktu wkwkkw. Who knows. Sekali lagi, just sharing. It is okay if you agree, disagree, or have other opinion :)

Udah ya, pusing nakke wkwkwk
Semoga berfaedah.

Sampai ketemu selanjutnya di [dua puluh sembilan]!

Cheers,
Em 🙆

Monday, 6 July 2020

[dua puluh tujuh] Hidup dalam Ketidakpastian

uncertainty is certain
-gua, wkwkwk-

Halo teman-teman semuanyaaa.. 
Apakah sudah kembali beraktivitas seperti biasa atau masih ada yang work from home? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semoga sudah terbiasa dengan keadaan yaa guys wwkkw

Jadi, menurut saya, kita harus berterima kasih kepada corona, si biangnya COVID-19. Di satu sisi memang tidak bisa dipungkiri kalau COVID ini membawa begitu banyak duka, kerugian, kesedihan bagi banyak orang. Tapi di sisi lain, selalu ada yang bisa disyukuri, dan itulah yang ingin saya cerita-cerita kali ini, singkat aja sih hehee

Sebelum corona ini, pernahkah kita berpikir pandemi sedemikian akan terjadi? Pernah tidak kita berpikir kalau ada waktu dimana kita sama sekali tidak bisa keluar rumah? Pernah tidak kita berpikir kalau ada waktu dimana hidup menjadi sangat terbatas? Pernah tidak kita berpikir kalau persoalan makan bersama dengan teman-teman menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan? Pernah tidak kita berpikir kalau pergi dari satu tempat ke tempat lain bisa menjadi sesuatu yang ribet? Mungkin tidak heheee

Saya pertama kali tau tentang corona itu di akhir Desember 2019 dan saat itu saya menanggapinya tidak dengan serius. Saya merasa kasus ini mungkin akan berakhir seperti kasus SARS, tidak begitu berdampak bagi Indonesia dan di tempat saya sekarang berada. Bahkan, saya masih sempat berjalan-jalan dengan teman saya di bulan Januari. Semua masih seperti biasanya. Saya tidak pernah berpikir corona akan menyebar sedemikian rupa hingga menjadi pandemi seperti sekarang ini.

Sebelum wabah corona, kita melihat hari esok, masa depan, dengan penuh keyakinan, seolah-olah semua rencana akan berjalan sebagaimana mestinya. Rencana liburan, rencana usaha, rencana pernikahan, rencana lainnya. Saya juga demikian wkkwkw semua rencana sudah ada dalam kepala saya, tapi sekarang ya mau diapa wkwkkw

Corona tiba-tiba datang dan membuat kita harus mengingat kembali bahwa semua ini tidak pasti. Hari esok itu tidak pasti. Masa depan itu tidak pasti. Dengan adanya pandemi ini, kita menjadi sadar dan lebih aware bahwa hidup kita ini penuh dengan ketidakpastian, kita harus selalu waspada dan harus selalu siap sedia untuk semua kemungkinan-kemungkinan.

Sekarang, kita bisa banyak belajar. Hidup di masa pandemi ini bisa menjadi pengalaman berharga kita sebagai manusia untuk selalu ingat bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal dan pasti, tidak ada yang selamanya. Hidup terlalu dinamis, selalu tidak pasti. 

Ya, mau bilang itu aja sih hahahaaa selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian atau peristiwa (old quote hahaa but damn trueeee)
Semoga kita selalu introspeksi dan refleksi diri.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa hidup lebih baik dari sebelumnya.

Sampai ketemu di [dua puluh delapan]

Cheers,
Em 🙆

Sunday, 28 June 2020

[dua puluh enam] mau ke mana kah kamu?

Hello kawan semua wkwkk

Ketemu lagi yaa, tidak terasa sudah yang ke dua puluh enam nih wkwkw setahun setengah hasilnya dua puluh enam pieces, mayanlah yaaa wkwkwk

Ini lagi mau cerita-cerita soal hal yang sering dialami orang di persimpangan atau bahasa kerennya quarter life crisis. Masa di mana pertanyaan itu banyaaaaak sekali, sebanyak pertanyaan pacar posesif kalau lagi tidak bareng-bareng wkwkwk

Mau ke mana? Mau ngapain? Dua pertanyaan besar dan utama yang sering kita tanyakan ke diri kita sendiri. Pertanyaan tambahan, udah sampai mana? Udah ngapain aja? Makin tambah puyeng gak tuh hahahaaa

Kata orang, quarter life crisis itu banyak mendera manusia-manusia di usia 20an, ya mungkin 20-30 yaa, boleh dibilang di masa jaya-jayanya, di masa produktif-produktifnya, di masa yang paling maksimal buat mengeksplor semua yang bisa dieksplor. Punya tenaga? Punya. Punya waktu? Punya. Punya duit? Hmmm pertanyaan yang sulit hahahaaa setidaknya ada lah, cukuplah gitu kan ya. Jadi memang di masa-masa ini boleh dibilang mungkin the peak of the journey. Peak dalam arti apa yaaa, I'm in this condition btw, peak dalam artian di sini lah waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan sebanyak-banyaknya. Yak, kind of that lah. Jadi, dalam masa ini kita sering ada di persimpangan, bingung dan bertanya, hidup sudah sejauh ini, tujuannya mau kemana? Hidup tuh ngapain sih? Buat apa sih kita hidup? Those kind of question to find the answer of life purpose. 

Jawaban singkatnya, you do you. (Langsung saya ditappe' alias digeplak hahahaa karena jawaban yang tidak solutif). Okayy, markicob! Mari kita coba kulik lebih dalam hehheee

You guys must be familiar with ikigai. Go grab some books about this and read wkwkkww I'm not an expert though, tapi tahu dikit-dikit lah. Coba yaa, singkat aja. Jadi, ikigai itu adalah irisan dari 4 hal (modelnya kayak diagram Venn kalau masih ingat hehehee) yang katanya menjadi alasan untuk kita bangun tiap pagi dan melanjutkan hidup. Jadi, bisa dibilang kalau ikigai itu adalah alasan kita untuk tetap hidup, yang mana bisa juga menjadi tujuan hidup. Setidaknya menjawab pertanyaan mau ngapain tadi. Apa 4 hal itu? Pertama, apa yang kita suka (what you love). Kedua, apa yang kita mahir (what you are good at). Ketiga, apa yang dunia atau masyarakat butuhkan (what the world needs). Keempat, apa yang bisa dihargai dengan uang (what you can be paid for). Secara singkat, kalau keempat hal ini bisa kita temukan jawabannya dan irisannya, so congratulations, that's the answer!

Kalau saya ditanya, mungkin saya juga belum tahu pasti ya apakah saya sudah betul-betul tahu life purpose saya apa. Tapi saya cukup yakin kalau gambaran besarnya sudah ada hanya saja belum detail, hmmmm.

Kalau diingat-ingat lagi dan setelah membaca, melihat yang ada sekarang ini, menurut saya, ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan untuk menjawab ini (seandainya yang ikigai tadi cukup sulit atau rumit).

Ibaratnya gini, kita sedang naik mobil, kalau kita gak tau mau kemana, kita tidak tau mau jalan lewat mana. Tapi juga, kalau kita tidak tau ini jalan apa, kita tidak tau jalan ini akan membawa ke mana. Bingung gak tuh? Hahahhaaa pertanyaan mau ke mana dan mau  ngapain adalah dua hal yang saling berkaitan, yang mana pendekatannya bisa dari salah satunya. Ini akan berkaitan dengan ikigai juga sih nantinya.

Contoh, untuk pendekatan pertama, mau ke mana? Di sini, tujuannya yang harus diketahui lebih dahulu. Kita ini mau hidup kita bagaimana nanti, mau dibawa kemana, mau sukses kah, mau kaya kah, mau terkenal kah, mau apa terserah, boleh detil, boleh gambaran besarnya. Setelah diketahui, maka kita akan mulai bisa mencanangkan atau merencanakan jalannya mau lewat mana. Sama seperti kita mau ke tempat A, kita sudah tau tuh kalau bisa lewat jalan X, Y, atau Z (maafkeun contohnya tidak real wkwkww).

Sedangkan, untuk pendekatan yang kedua, jalan lewat mana? Ini kebalikan dari yang di atas. Nah, di sini, kita lebih melihat ke yang sekarang kita jalani, kita sukanya apa, tertarik di bidang apa, berbakat atau memiliki kemampuan di mana. Setelah itu, kita bisa menganalisa kira-kira yang kita jalani sekarang, ujungnya nanti akan kemana. Sama seperti kita mau lewat jalan X, kita tau jalan ini akan membawa kepada A, B atau C, nah tinggal dipilih kira-kira yang mana yang cocok.

Yah, sebenarnya ini dari kita aja sih lebih cocok yang mana kira-kira, it's really a personal thing. Kalau untuk saya, semua tujuan hidup itu mestinya adalah baik. Jadi apapun itu, it must be a good one, I think. Kalau misalnya kalian merasa kalian belum tau 'mau ke mana?', menurut saya no need to worry too much, anda sudah punya kok, cuma mungkin belum reveal atau belum yakin aja. Seiring berjalannya waktu, banyaknya proses yang dilewati, you will know. Read more references may help hahahhaaaa

Selama kita masih punya semangat untuk bangun tiap pagi dan melakukan sesuatu yang baik, I think, you're on the right track, nearly there! If not, go find one suits you :)

Anyway, menurut saya, tujuan hidup orang itu cenderung berubah seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan setelah dilewatinya berbagai proses kehidupan. Tujuan seorang pemuda yang berusia 25 tahun akan cenderung berbeda dengan tujuan seorang ayah yang punya anak berusia 13 tahun misalnya (saya bilangnya 'cenderung' karena gak bisa mastiin juga tiap orang beda-beda wkwkwkw). Tapi, kalau tujuannya dari awal itu sudah grande (luas) dan relevan untuk kapan saja maka mungkin saja tidak akan berubah, hanya objeknya saja yang berubah tapi masih dalam tujuan yang sama tadi. 

Yaaaaak, mungkin segini dulu tentang tujuan hidup which all of these above are purely my personal opinion. I'm not really sure tho if I have one wkwkwkkw pokoknya begitulah yaa, selamat berjuang masing-masing dari kalian. The one thing I am sure is being good, always.

Saran saya, untuk yang begini-beginian bisa baca buku atau dengar podcast atau nonton youtube maybe. I recommend you to listen to podcast Thirty Days of Lunch khususnya episode dengan mas Ivandeva (your kepala will meledak kalau dengar ini wkwkw cus!) atau ada juga beberapa episode lainnya yang berkaitan dengan ikigai, passion or life purpose. My friend recommended me to read Ikigai (yang sampulnya warna biru muda), you can try it too! Di saat teknologi seperti sekarang ini, tidak begitu sulit lagi untuk mencari banyak pengetahuan dan wawasan. Kembali lagi, you do you, okeeeh? wkwkw

Dah yaa, sampai ketemu di [dua puluh tujuh],
All the best, guys!!

Cheers,
Em 🙆

Tuesday, 16 June 2020

[dua puluh lima] menjadi orang biasa

Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
-Ir. Soekarno-

Halo semuanyaa,
Semoga selalu dalam keadaan sehat :)

Kali ini, mau bahas tentang cita-cita, kind of life goals. 
Beberapa waktu lalu, sempat ditanya oleh seorang teman tentang karir dan pekerjaan. Saya sendiri belum punya pengalaman kerja yang bisa diandalkan. Pengalaman kerja cuma seminggu hehehe dan pernah magang 2 bulan. Sisanya side job, kerja sambilan sambil sekolah. 
Singkat cerita, setelah tanya-tanya dan ngobrol, dia mengatakan bahwa dia belum tahu mau kerja di mana sementara teman-teman yang lain sepertinya sudah punya rencana untuk masa depan. 

Sepintas lalu, saya pun jadi teringat bagaimana kita dari kecil sampai lulus sekolah mungkin hampir selalu didoktrin atau mendengar nasehat-nasehat seperti dua kalimat paling awal. Kita selalu dihimbau oleh entah itu orangtua, guru atau siapapun untuk bermimpi setinggi-tingginya. Itu tidak salah memang, malah bisa jadi motivasi mungkin. Semua orangtua pasti mau yang terbaik buat anaknya bukan? Wkwkwkk

Tapi at some points, saya jadi berpikir bagaimana dengan orang yang tidak memiliki mimpi yang 'tinggi'. Ya memang, tinggi itu relatif, mungkin ada yang menerjemahkan sebagai sukses? terkenal? kaya? terpandang? terpelajar? ya, apapun itulah. Tapi sepengetahuan saya (mungkin pengetahuan saya kurang hahahaaa), mimpi yang tinggi identik dengan yang sifat-sifat yang saya sebutkan tadi.

Kembali ke topik yang awal, saya tidak tahu pasti, tapi kalau ada orang yang merasa aneh karena tidak memiliki mimpi yang tinggi, come on, go ahead! Tidak perlu terlalu memikirkan opini khalayak umum. Kalau ada orang yang bermimpi menjadi presiden maka tidak apa-apa juga jika ada yang bermimpi menjadi karyawan biasa. Kalau ada yang bermimpi menjadi pengusaha kaya raya terkenal maka tidak apa-apa juga jika ada yang bermimpi menjadi ibu rumah tangga biasa. Sama kok tingginya, take it easy hehhehe

Lha jadi gak perlu bermimpi tinggi-tinggi dong? Ya you do you, mungkin tinggi menurut saya beda dengan tinggi menurut anda. Misalnya ada orang yang bermimpi cukup jadi karyawan yang kerja 9 to 5, gaji gak perlu segede gaban yang penting bisa hidup cukup. That's fine. Ada orang juga yang bermimpi wah harus jadi pengusaha sukses omzet 5 M per bulan. That's fine as well. 

I don't know if you can relate, tapi maksudnya adalah, jika kita punya mimpi yang sederhana that's fine, gak ada yang salah kok. 

Jika teman-teman pernah membaca cerita yang berseliweran di sosial media, tentang seorang anak yang tidak terlalu pandai secara akademik, tetapi selalu baik hati membantu temannya jika kesusahan. Dan ketika ditanya, cita-citanya apa, dia menjawab kalau dia ingin menjadi orang yang selalu bertepuk tangan untuk kesuksesan temannya. She even doesn't want to be a superstar! But that's okay! Saya sendiri waktu baca cerita itu jadi gimana ya, cukup terenyuh, tapi jadi mikir juga bahwa menjadi seseorang yang 'tak terlihat' pun tak apa-apa, sama sekali tidak mengurangi value seseorang. Saya jadi bisa melihat kalau memang semua ada perannya masing-masing. Kalau semua orang mau jadi guru, gurunya jadi? Banyak! Hahaaa, I mean, siapa yang mau jadi murid gitu wkwkkww

Sejauh ini, mungkin karena main saya kurang jauh atau gimana, saya masih jarang melihat kasus-kasus mem'bully' cita-cita sih, gak tau kalau ada di luar sana, tapi mudah-mudahan tidak ada dan tidak perlu sampai ada. Setiap orang berhak untuk cita-citanya sendiri terlepas dari doktrin, tekanan, paksaan siapapun. Tidak perlu juga adu tinggi-tinggian untuk masalah cita-cita. Semua orang punya kapasitas dan kenyamanan masing-masing.

Ada orang yang ingin tinggal di rumah besar bak istana, tapi ada juga yang senang-senang saja tinggal di apartemen yang sedang-sedang saja. Ada orang yang ingin naik mobil paling mahal, tapi ada juga yang naik motor pun sudah cukup. Tidak ada yang salah, setiap orang punya ukurannya masing-masing untuk kehidupan dan masa depan masing-masing.

Cuma mau bilang, apapun cita-cita kita (saya dan kalian yang membaca), tidak ada yang salah, tinggi itu relatif bagi tiap orang, tidak perlu terpengaruh apalagi ikut-ikutan. 

Bagi saya pribadi, cita-cita apapun itu, yang penting bisa bermanfaat untuk orang lain.
Mungkin parameter kalian berbeda, ya gak apa-apa juga, gak mesti sama lah semua orang tuu hahhahaha

Tidak ada yang salah menjadi orang 'biasa', toh semuanya hanya manusia biasa wkwkwkw

I don't know if this could bring new insight, but I hope so.
Anyway, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca :))

Sampai ketemu di [dua puluh enam] ya,

Cheers,
Em 🙆

Saturday, 13 June 2020

[dua puluh empat] Apakah hanya mata yang melihat?

Mengapa muncul istilah 'kalau jalan pakai mata?!' atau 'matanya ditaruh dimana?!'
Apakah orang kalau berjalan matanya tertutup? Wkwkwk 
Tentu tidak bukan? Hahahaa

Ada satu pengalaman yang mungkin teman-teman juga pernah mengalami nya meskipun dalam kasus yang berbeda.
Berhubung dalam rangka COVID-19 ini, kampus saya memberlakukan sistem one way, jadi 1 pintu hanya boleh digunakan untuk keluar atau masuk. Di depan pintu sudah tertempel tanda larangan yang besar berwarna merah dan bertuliskan 'Do not enter'. Akan tetapi, entah mengapa, mungkin karena masih terbawa kebiasaan sebelumnya, saya masuk lewat pintu tersebut, lalu teman saya memberitahu bahwa saya masuk di pintu yang salah. 

Setelah itu, waktu melintas kali berikutnya saya coba perhatikan pintunya, ada kok tandanya besar sekali tertempel di sana, tapi kok saya gak ngeh ya dengan tanda itu? Hahhaaa

Lalu, saya jadi berpikir dan merasa lucu sendiri, mixed feeling, lucu, aneh, merasa bego, tapi kagum juga. 
Kenapa kagum? Kagum karena begitu hebat dan begitu cepatnya pikiran, indera, dan alam bawah sadar kita bekerja sedemikian rupa.
Kenapa merasa bego? Karena ternyata ada hal yang sering sekali hilang atau luput ketika saya melakukan sesuatu yang membuat saya menjadi bego, menjadi tidak melihat apa yang seharusnya dilihat.

Inilah yang menjadi jawaban apakah hanya mata yang melihat. Maka jawabannya adalah tentuu tidakkk. Apakah ini hal yang baru untuk teman-teman? Kalau sudah tau sebelumnya, sudahi saja membacanya wkwkkwk mungkin kita sudah tau cuma kurang ngeh aja, kurang sadar gituu.

Jadi, selain mata, kita butuh perhatian, bahasa daerahnya awareness huehehee, jadi mesti waspada gitu lho. Contoh tadi waktu salah masuk pintu itu, mungkin perhatian saya lagi gak di situ, pikirannya lagi kemana-mana, ditambah lagi alam bawah sadar yang sudah menjadi kebiasaan masuk dan keluar lewat pintu itu, maka ketika ada perubahan ditambah kesadaran dan perhatian sedang tidak di sana dan di saat itu, segede apapun simbol di depan mata, kalau pikirannya sedang kemana-mana ya gak akan ngerti juga kalau di situ ada tanda larangan masuk gitu. 

Mungkin kita sering tidak sadar, bahwa kebanyakan yang kita lakukan itu karena alam bawah sadar saja tanpa adanya perhatian di sana, tidak ada kewaspadaan di sana, kurang fokuslah gitu. Jadi meskipun ada mata kalau gak ada perhatian sama aja gitu. Mirip kayak naruh kacamata di atas kepala, trus kacamatanya dicariin mulu wkwkwk karena waktu naruh kacamata di atas kepala tuh kita gak sadar, pikiran lagi kemana-mana, maka otak kita tidak betul-betul merekam hal itu karena dimana pikiran terpusat di situ memorinya akan lebih kuat. Ya gak sih? Hehehe

Mungkin teguran 'matanya ditaruh dimana' mesti diganti jadi 'pikiran perhatianmu lagi kemana' wkwkwkw

Jadi, perhatian apalagi kewaspadaan itu penting ya, karena bukan hanya mata tapi semua indera yang bekerja tanpa perhatian atau kewaspadaan itu tidak ada artinya. 

Kalau saya sering bilang, harus sadar!

Sampai ketemu di [dua puluh lima]

Cheers,
Em 🙆

Monday, 4 May 2020

[dua puluh tiga] corak jejak perak

In the end, it is not the years in your life that count, it's the life in your years
-Abraham Lincoln-

Mengulang tanggal yang dijadikan sebagai tanggal pertama kalinya kepala menyentuh udara yang ke-dua-puluh-lima-kalinya. Perak, kata orang. Seperempat, kata orang. Ya, itulah.

Ia mungkin spesial (pakai telor?) atau mungkin biasa saja atauu mungkin juga sama saja dengan hari yang lain, apakah hari biasa atau seperti tahun baru atau lebaran.

Mungkin ini adalah sebuah milestone, bagi sebagian orang. Bagi saya, sayapun ingin menjadikan dua puluh lima ini sebagai milestone yang penting, yang masih menjadi misteri.

Sebenarnya saya pun tak tahu mau menuliskan apa hahahaa ya kali nanti esok-esok bisa diedit. Yang jelas hari ini adalah gerbang memasuki masa perak itu.

Dua puluh empat sebelumnya sudah memberi banyak corak, dari belajar merangkak, belajar menulis, belajar mengetik, hingga sekarang belajar melihat dan menerima semua seperti sebagaimana adanya.

Sebenarnya tak ingin banyak selebrasi, inginnya lebih banyak refleksi, introspeksi dan kontemplasi.
Sebenarnya tak ingin banyak gaya, inginnya lebih banyak berupaya dan berdaya.

Apapun itu, semoga si perak ini senantiasa menjadi pengingat saya untuk lebih banyak melihat ke dalam diri, lebih banyak berkontribusi dan membawa manfaat.

Saya kiranya demikian.

Terima kasih perak minus one, selamat datang si perak, mari berjuang kembali, karena sekali lagi kata Ernest Prakasa, hidup bukan soal durasi, tapi soal kontribusi. Saya jadi ingat pesan yang pernah saya dengar 'Don't leave a place without a legacy'.

See ya at [dua puluh empat]
Cheers,
Em 🙆

Wednesday, 15 April 2020

[dua puluh dua] PRIVILEGE adalah KITA

The privilege of a lifetime is being who you are
-Joseph Campbell-

Hai hai teman-teman semua, 
Masih dalam suasana stay at home ya wkwkwk semoga selalu sehat dimanapun berada


Jadi kali ini saya mau sharing tentang PRIVILEGE, yep yep, kayaknya ini sempet ngehits deh beberapa waktu lalu yaa. Orang-orang pada ngomongin orang yang punya privilege dan orang yang ga punya privilege. Jadi bagi yang belum familiar, privilege adalah suatu istilah hukum, tapi di sini saya ngomong privilege dalam konteks pembicaraan awam aja yaa yaitu sebuah 'keistimewaan' yang dimiliki seseorang (mungkin tidak semua orang) yang bisa berdampak ke aspek-aspek kehidupannya. Ya, kira-kira kayak gitulah yaa, hak istimewa lah pokoknya.

Nah, kali ini saya pengen melihat privilege ini dari suatu sisi yang berbeda, let's go ..

Jadi, menurut saya, fun fact tentang privilege ini adalah kita secara ramai-ramai menyebut sesuatu itu sebagai privilege ketika sudah ada sesuatu yang terjadi setelahnya. Contohnya mungkin yang baru kemarin cukup banyak dibicarakan yaitu Putri Tanjung yang diangkat menjadi staf khusus Presiden. Setelah itu, banyak yang ngomong bahwa dia bisa mendapatkan posisi itu karena punya 'privilege' dari bapaknya yang adalah Chairul Tanjung yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Nah setelah mikir, saya jadi bertanya-tanya, seandainya Putri Tanjung tidak menjadi pengusaha, tidak dikenal, dan tidak menjadi staf khusus apakah menjadi seorang anak Chairul Tanjung masih menjadi sebuah 'privilege'? Apakah orang-orang tetap akan ramai membicarakan privilege sebagai seorang anak dari Chairul Tanjung? 

Saya ga tau ya, mungkin ada yang sependapat ataupun tidak, yang saya pikirkan adalah kita tuh nyebut-nyebut 'privilege' setelah sesuatu sudah terjadi. Dan parahnya lagi, sering meng-kambing hitam-kan privilege itu dan mengesampingkan hal-hal lain yang mungkin lebih penting dari privilege itu sendiri (maap ya kata-katanya ngulang-ngulang hahahaaa)

Masih dengan contoh tadi, dari perspektif kita, orang luar yang bukan Putri Tanjung, kita mungkin akan berpikiran 'enak ya jadi anaknya Chairul Tanjung, punya privilege bisa jadi stafsus' (contohnya demikian). Kita menjadikan si 'privilege' itu sebagai excuse atau alasan yang negatif aja gitu menurutku. Kita selalu melihat orang yang sukses atau orang yang berhasil itu karena dia punya 'privilege' yang seolah-olah kita ga punya misalnya dia anak orang kaya lah, dia pintar lah, dia anaknya si X lah, dia cantik lah dan masih banyak lagi. Mata kita hanya tertuju pada 'privilege' dan menutup mata untuk usaha-usaha keras yang sudah orang itu lakukan di balik semua pencapaiannya.

Bagi Putri Tanjung, mungkin menjadi seorang anak Chairul Tanjung itu bukan privilege. Mungkin dia juga lelah berada di bayang-bayang bapaknya. Mungkin dia juga mau usahanya diakui tanpa ada embel-embel orang tuanya. Who knows. Ini hanya tebak-tebakan saya saja hehehee

Tapi, intinya adalah jangan melihat privilege sebagai sesuatu yang buruk gitu. Karena seringkali privilege meninggalkan kesan buruk yang seperti 'jalan pintas'. Jangan juga merasa kalau diri kita tidak punya privilege dan tidak bisa melakukan apa-apa. 

Semua orang punya privilege, karena privilege itu kita yang ciptakan sendiri, konsep yang kita bentuk di pikiran kita. PRIVILEGE adalah KITA, sama seperti judul topik kali ini wkwkkww

Nah, kok bisa??

Saya coba kasih contoh ya, 
Seorang anak yang orang tuanya kaya, dia punya privilege, karena orang tuanya mampu, dia bisa dapat modal dari orang tuanya dengan mudah lalu memulai usaha
Seorang anak orang tuanya kurang mampu, dia juga punya privilege, karena dia punya semangat dan motivasi yang berbeda dari orang-orang lain, dia punya privilege untuk bisa bangkit dan membuat perubahan, mungkin dia juga akan memulai usaha

Kedua contoh di atas ada terjadi di dunia nyata. Semua orang punya peluang untuk menjadi apa yang dia  mau, karena sekali lagi semua orang punya privilege kok. Bisa lahir jadi manusia aja privilege loh. Memang saat lahir kita tidak bisa memilih, tapi setelah kita lahir kita bisa memilih jalan apa, usaha apa yang kita tempuh. Menjadi diri kita sendiri itu sebuah privilege yang orang lain tidak punya. Being you is a super privilege, you are the privilege! wkwkwk. 

Jadi, untuk orang-orang yang mungkin masih melihat pencapaian orang lain karena privilege, sudahlah, cukup yaa wkwwkk, anda, saya, kita masing-masing punya privilege kok, so stop making excuses. Menurut saya, privilege tidak lebih hanya sekedar konsep kelebihan-kekurangan sebagai manusia yang mana semua orang punya. Nobody is perfect. Yang penting niat dan usaha, jangan lupa berdoa juga. Okeh okeh? Wkwkwk

Jadi, sekali lagi privilege adalah kita hehee

Sekian dulu yaa, semoga bermanfaat, maafkan jika ada kesalahan
Stay safe, stay sane, stay home :)

See ya at [dua puluh tiga]
Cheers,
Em 🙆

Tuesday, 7 April 2020

[dua puluh satu] apo[take care]

From research to healthcare : Your pharmacist is at your service

Apoteker. Apo-take care. Wkwkwk. Agak slengean maksa gitu ya hahaahaaa

Halo semuanya, semoga semua dalam keadaan sehat ya, kita masih dalam kondisi yang sekarang ini, masih berjuang melewati badai corona ini wkwk 
Ya, hampir seluruh negara di dunia mengalaminya, mari berjuang bersama-sama. Just make this time at its best. Semoga cepat berakhir.

Wokey, kali ini topik bahasan saya mungkin agak sedikit rada kontroversial hahaaa jadi sebelumnya saya mau bilang (mungkin sudah beberapa kali di beberapa post) bahwa yang saya tulis hanyalah opini pribadi saya berdasarkan pemikiran dan pengalaman saya, jadi mungkin jika ada yang keliru mohon dimaafkan hehee

So, yap, apoteker, salah satu profesi yang bergelut di bidang kesehatan yang mungkin belum banyak dikenali dengan baik oleh masyarakat luas. I want to talk about this because I come from this basic, of course, I am a (proud) pharmacist. Jadi, dari sejak zaman kuliah sampai lulus profesi sampai sekarang masih studi lagi, begitu banyak opini-opini tentang profesi kefarmasian ini. Profesi yang mungkin kepopulerannya masih kurang dibandingkan dokter atau perawat, which is sometimes kita dipanggil 'dok' di rumah sakit heheee for me personally, it's fine since they don't have any idea about our role. Okay, nanti akan saya bahas sedikit sedikit wkwkwk sedikit aja tapi hahahaaa

Yang pertama, salah satu kelemahan dari profesi apoteker kita adalah belum ada aturan perundang-undangan yang mengatur tentang profesi kefarmasian. Setau saya peraturan tertinggi yaitu PP No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian (mohon maaf guys, hafalan saya kurang baik begitu juga pemahaman saya soal hukum wkwk jika ada kesalahan bisa disampaikan, saya dengan senang hati akan mengubah hehee). Jadi, memang belum ada peraturan setara UU seperti yang dimiliki profesi kesehatan lainnya. Jujur saja, saya tidak terlalu paham tentang hukum tapi menurut hemat saya, berhubung profesi apoteker sangat erat kaitannya dengan pasien yang artinya menyangkut nyawa seseorang, juga berkaitan dengan kode etik maka dengan adanya peraturan yang levelnya cukup 'tinggi' setidaknya lebih menjamin peran profesi itu sendiri. Untuk case ini, sudah banyak sepertinya yang meng-gaung-gaungkan. Kalau dari saya tentu harapannya dari legislatif bisa segera mencanangkan atau mungkin kita perlu beberapa rekan sejawat apoteker untuk duduk di kursi legislatif untuk memperjuangkan ini hehehee. Saya tidak bisa berkomentar banyak sih tentang ini, tapi ya harapannya, bukan cuma profesi apoteker saja tapi profesi lain yang memang perlu peraturan yang melatarbelakangi profesi itu sebaiknya bisa segera dicanangkan oleh legislatif kita.

Berikutnya, pendapat tentang profesi apoteker yang sering kadang dipandang sebelah mata oleh profesi kesehatan lain ataupun oleh masyarakat. Sejauh ini, saya punya pandangan tersendiri untuk hal ini, yang mungkin tidak se-ekstrim orang-orang pada umumnya which I dont know it's good or bad. Kalau dari saya pribadi, semua pasti ada sebabnya. Dulu peran apoteker yang diketahui masyarakat hanya 'penjual obat', tapi ternyata di balik itu banyak sekali peran apoteker yang tidak diketahui masyarakat. Mungkin ibarat film, hanya sedikit orang yang tau peran produser itu apa yang padahal perannya penting lho dalam produksi sebuah film. Nah, balik ke yang tadi, sekarang ini peran apoteker mulai bergeser, bukan berpindah tapi bertambah, dari yang tadi hanya sekedar 'menjual' obat bertambah menjadi mengedukasi masyarakat tentang obat, menganalisis terapi seorang pasien khususnya pada pasien dengan penyakit komplikasi yang mengonsumsi banyak obat-obatan (polifarmasi). Meskipun, sampai sekarang profesi apoteker belum sampai pada tahap membantu dokter memutuskan terapi yang diberikan which might be visible in the future, mungkin beberapa tahun lagi. Bukan hanya itu, peran apoteker di industri juga tidak kasat mata oleh masyarakat, belum lagi peran apoteker di bidang penelitian yang masyarakat kita lebih buta lagi tentang itu. Jadi, menurut saya, tidak perlu terlalu menanggapi untuk menjadi 'setara' dengan dokter dalam hal kepopuleran di tengah masyarakat. Semua punya porsinya masing-masing yang mungkin saat ini kita apoteker masih merintis citra atau peran itu. Semua butuh waktu, suatu hari saya yakin kok kalau dokter dan apoteker dapat berkolaborasi dalam memutuskan terapi yang tepat untuk pasien, sama seperti kolaborasi dokter dan perawat dalam merawat pasien. Yang perlu diketahui juga adalah bahwa peran apoteker yang begitu luas ini mungkin kadang-kadang cukup membiaskan peran yang diemban. Seperti kalimat pembuka tulisan ini, from research to healthcare, jadi dari hulu (penelitian) hingga hilir (ke pasien), ada peran apoteker di sana. Yang mungkin kasat mata oleh masyarakat atau profesi kesehatan lain adalah bagian hilirnya, bukan hulunya. Namun, menurut saya, semua ada posisinya semua ada tempatnya, untuk apoteker yang memang bekerja di hulu (penelitian ataupun industri) maka they are the 'behind the scene' heroes. Tidak bisa memang menyamakan ketenaran aktor dan sutradara apalagi produser. Begitulah memang posisinya. Jadi, inti yang dari pendapat saya ini, saya yakin semua profesi kesehatan dan profesi apapun punya porsi peran masing-masing, semua punya tujuan sama mendukung bidang masing-masing dengan peran masing-masing. Jadi kurang elok sepertinya membandingkan satu profesi dan profesi lainnya. Yang terpenting adalah selalu memberikan pengabdian terbaik dalam peran yang digeluti. Untuk apoteker yang bergerak di hulu, lakukan yang terbaik, hasilkan penemuan-penemuan obat mutakhir. Untuk apoteker yang bergerak di hilir, lakukan yang terbaik, berikan pelayanan terbaik untuk pasien dan masyarakat. Dan untuk semuanya lakukan kolaborasi terbaik saling menghargai dengan semua profesi kesehatan.

Yang terakhir, kali ini tiga topik ini saja ya yang saya bahas hahahaaa
Belakangan ini ada peraturan baru ya tentang gelar apoteker yang semula disematkan di belakang nama sekarang dipindahkan ke depan. Saya sebenarnya setuju-setuju saja dimanapun gelar itu disematkan, karena menurut saya bukan gelar yang terpenting tapi peran. Tidak masalah gelar dipindahkan ke depan, mungkin agar lebih dikenal oleh masyarakat yang mana tidak ada salahnya. Hanya saja, menurut saya, jangan menjadikan gelar sebagai trigger, karena menurut hemat saya sekali lagi, dimanapun gelar itu disematkan, tanpa gelarpun, jika apa yang kita lakukan bisa berdampak ke orang lain, maka people will look at us as we are, orang-orang akan tau bahwa oh inilah apoteker dengan semua perannya yang begitu bermanfaat di tengah masyarakat. Sekali lagi, bukan berarti gelar tidak penting, gelar penting sebagaimana kita meraihnya dengan penuh perjuangan keringat, air mata bahkan darah mungkin, tapi sekali lagi juga itu bukan yang utama. Gelar tanpa peran tidak ada artinya. Maka dari itu, sama seperti poin kedua tadi, kita mungkin sekarang masih merintis, jadi intinya act first lah, sisanya akan senantiasa mengikuti.

Eh, ada lagi ternyata yang mau saya 'curhat' sedikit wkwkw ada satu pengalaman yang membuat saya pribadi cukup kecewa ketika ada pihak yang menurut saya mestinya menjadi wadah bersatunya apoteker tetapi memberi respon yang kurang mengenakkan. Dari pertanyaan yang saya ajukan, jawaban yang saya tangkap saat itu adalah apoteker yang berkarir di industri farmasi tidak dihitung sebagai pekerjaan kefarmasian. Saya tidak tahu, mungkin parameternya dari definisi di PP mungkin. Tapi menurut saya itu cukup diskriminatif, mungkin saja sekarang sudah berubah, mudah-mudahan. Tapi harapan saya dimanapun seorang apoteker berperan, sudah semestinya peran itu 'terhitung' sebagai peran yang 'nyata'. Yah, begitulah, kurang detil memang hahaa takut misleading dan misunderstanding. Tapi saya yakin kok semua ini masih berproses. Saya pun tidak mau berkritik terlalu banyak, toh saya juga belum berperan apa-apa, but I would like to say that I will do my best wherever I will be in the future as a pharmacist.

Oke, cukup panjang yaaa
Sebagai penutup, seperti judulnya apo[take care], apoteker seharusnya men-take care pasiennya, baik itu dari hulu maupun dari hilir. Tujuan kita sama kok. Yuk bareng-bareng mengambil peran. Act now, give the best one.

Untuk teman-teman sejawat apoteker yang mungkin membaca, jika ada yang keliru silahkan disampaikan. Tetap semangat dalam mengabdi :)

Semoga bermanfaat ya semoga memberi insight, kalaupun tidak, tidak apa-apa juga wkwk terima kasih sudah membaca

See ya at [dua puluh dua]
Cheers,
Em 🙆