Thursday, 14 September 2023

[tujuh puluh sembilan] too much fear, too much I, me, myself

Once one said to the Teacher "I want happiness" and the Teacher answered "Firstly, remove 'want' and then remove 'I', and all you got is 'happiness'."

This post will be one personal advice for myself, as quite lot of things happened lately, so yaaa

Being a thinker may be good, but think too much might not be so good (obviously bring no good at all). It was the thinking too much that I mostly do lately, which unconsciously (but realizing after that) uplift the I in me, the ego, the more familiar word.    

Before or after doing one thing, or, before or after saying one thing, and then makes me think 'what people will think about this, about me', 'did I just make a mess because of what I did or what I said?', 'people will notice me because of this (both good and bad ways)', 'why did I think this way?', 'is it real or do I have hidden agenda?' and some other things similar to these. Further, these thoughts might be appear to justify or to clarify or to confirm, sometimes just can't differentiate. Just bingung sometimes.

It might be some forms of over worried or fear? Afraid of me thinking this or that, afraid of people thinking this or that, and another one is afraid if what I do is not a sincere one, like for real? or just to feed the me inside. Have no idea, but one thing that I know, I notice more 'me' in that way of thinking, which is a little bit disturbing. So, maybe it was not only fear or worry, it is most likely because too much I, me, or myself in that thoughts. 

Still trying to figure out wkwkwk ya sudah, you are not (I am not) the center of the world, maybe that's it. 

It's okay. It's okay.

See you at [delapan puluh] then,

Cheers,

Em 🙆


Wednesday, 23 August 2023

[tujuh puluh delapan] focus on the essentials

when a measurement becomes a goal, it ceases to become a good measurement

diambil dari buku Mulai Mengerti (Edward Suhadi)

Hello everyone,

So I think I really need to write this because this is sooooo relatable. Jadi, buku di atas itu adalah salah satu buku yang baguuus sekali, one of my favorites! Dan quote di atas itu adalah quote favorit dalam buku itu. Sangat dekat sekali, dengan mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, langsung saja, karena saya bingung mau pembukaan bagaimana wkwkwk

Dari quote itu, jelas sekali dikatakan bahwa ketika suatu ukuran dijadikan tujuan, maka ia bukan lagi suatu ukuran yang baik. Contoh orang sukses salah satu tandanya adalah punya uang yang banyak. Nah, uang yang banyak ini adalah salah satu ukuran, tapi ketika ia dijadikan satu-satunya tujuan, melakukan apa saja asal mendapatkan uang yang banyak, maka itu jadi keliru. Sama juga, orang sehat salah satu tandanya adalah punya berat badan ideal. Tapi, ketika berat badan dijadikan satu-satunya tujuan, hanya mau kurus saja, terus melakukan apapun, maka jadi keliru juga, bisa jatuh sakit.

So, it is really not about the parameters, it is always about the goal, so focus on the essentials. Fokus di intinya, di tujuannya, fokus pada hal yang mendasar itu. Fokus mencapai tujuan bukan hanya sekedar mencapai angka-angka yang ada dalam parameter-parameter itu. Karena jika angka-angka itu menjadi tujuan, maka semua cara bisa dilakukan, termasuk cara-cara yang buruk, yang pada akhirnya semakin menjauhkan dari tujuan yang sesungguhnya.

Mirip-mirip juga halnya kalau kita berbicara dengan orang lain, atau menyampaikan sesuatu. Tangkaplah atau sampaikanlah maksud dari apa yang disampaikan. Kadang-kadang pertanyaan yang dilontarkan bisa memberikan banyak kemungkinan interpretasi tujuan. Karena, satu tujuan bisa disampaikan dengan banyak jenis pertanyaan. Jadi, penting agar tujuan itu tersampaikan.

Wkwkwkwk ngomong opo iki

Ya pokoknya begitulah, tidak hanya contoh di atas, tapi semua aspek kehidupan juga. Kalau dalam hidup ini, pasti ada yang esensial dan non esensial, fokus lah pada hal yang penting, yang esensial, karena agak sia-sia rasanya menghabiskan waktu pada hal-hal yang kurang penting, membuang-buang tenaga.

So, harus pintar memilah-milah, bijak melihat yang mendasar, esensial, penting. 

Terlepas dari apapun itu yang saya tulis di sini, that very first sentence really hits me hard wkwkwk 

Ngeblank euy mau ngomong apa, tapi kayaknya itu sih intinya fokus pada hal esensial, it makes your life happier dan worth, gitu ajalah yaa hahahaha

Sampai ketemu di [tujuh puluh sembilan]

Cheers,

Em🙆


Thursday, 3 August 2023

[tujuh puluh tujuh] menyebalkan

saat kita jengkel dengan orang lain, bukan tidak mungkin, pada saat yang sama, orang itu juga jengkel dengan dirinya sendiri

Hello again hehee

Sudah biasa ya, draft dibuat duluan tapi dipost belakangan, termasuk yang satu ini hehee

Jadi, kalau diamat-amati kayaknya memang ada periode di mana manusia-manusia di Bumi cenderung menjadi lebih sensitif dan senggol bacok. Contohnya mungkin (kalau pengalaman pribadi saya) di pertengahan tahun. Entah apa alasannya, mungkin karena cuaca semakin panas, atau mungkin, karena kaget tau-tau sudah lewat 7 bulan di tahun 2023 ini, atau mungkin juga, karena pekerjaan, atau teman, keluarga atau masalah pribadi lainnya. Hanya orangnya sendiri yang tau hahahaa

Tapi, ada yang menarik ketika saya sedang di periode waktu yang sangat sensitif tersebut, saya sempat berpikir dua hal, yang pertama yang muncul di kalimat paling pertama di postingan ini. Dan yang kedua, adalah pemikiran bahwa sangat memungkinkan, hampir niscaya, apa yang kita rasakan, juga adalah apa yang orang lain rasakan.

Apakah dengan 2 pemikiran itu saya menjadi tidak sensitif dan jengkelnya langsung hilang? Tentu, tidak. Tetap saja kesal, jengkel, syedi, mixed feeling. Tidak berubah, nama nya juga perasaan, tidak bisa diatur hehee

Tapi, dengan berpikir demikian, mungkin, menurut saya kita bisa menjadi lebih objektif dan tidak buta menanggapi apa yang dirasakan.

Pada pemikiran pertama tadi, saat kita jengkel dengan orang lain, maka mungkin di saat yang sama, orang itu juga jengkel dengan dirinya sendiri. Disclaimer, ini asumsi saya kwkkww. Karena saya cukup sering berpikir seperti ini. Setelah saya mengatakan atau melakukan sesuatu, baru saya berpikir dan sadar wah kayaknya tadi saya menjengkelkan yaa. Tapi, mungkin saat saya melakukan itu, saya tidak kepikiran atau tidak kebayang bahwa itu akan semenjengkelkan itu. Atau pada saat itu, memang kondisinya membuat saya melakukan hal tersebut, hal yang menjengkelkan. Kadang-kadang demikian kan ya. Nah, kalau memang demikian yang terjadi, berarti orang yang menjengkelkan itu sebenarnya tidak berniat untuk menjadi menjengkelkan, you got my point? iya nda sih wkwkwk karena dia pun jengkel dengan dirinya sendiri hahaaaa. Jadi kita bukanlah objek sasaran yang ingin dengan sengaja dibuat marah/kesal/jengkel. Akibatnya, ya sudah, kita cukup berkutat dengan perasaan jengkel kita saja tanpa perlu merembet kemana-mana, cukup jengkel dengan kejadian yang terjadi, dan tidak berlanjut mengasosiasikan ke personal orang tersebut ataupun hal-hal lain yang sebenarnya tidak berkaitan.

Kemudian, pemikiran kedua juga sama sih intinya, sangat memungkinkan apa yang kita rasakan, juga adalah apa yang orang lain rasakan. Dalam arti, saat kita sedang jengkel, mungkin semua orang di dunia ini juga sedang jengkel wkwkw atauu saat kita jengkel, begitu juga orang lain rasakan saat kita yang menjengkelkan. Jadi, kita pun di saat tertentu bisa menjadi semenjengkelkan orang tersebut hahahaa which is pasti (bukan lagi possible). Jadi pemikirannya adalah kita tidak spesial dan bukan kita saja yang merasakan itu. Semua orang bisa merasakan kejengkelan dan kemarahan itu. Dan di saat tertentu bisa jadi kita lah pelakunya, yang membuat orang lain menjadi jengkel. Kesimpulannya juga sama sih dengan yang di atas, karena secara personal tidak ada yang berbeda baik dari kita maupun orang lain, jadinya fokus saja pada perasaan bukan pada orang atau kejadian-kejadian lain yang sesungguhnya tidaklah relevan dengan perasaan kita. 

So, jengkel marah or apapun itu sifatnya alamiah, selama hidup pasti pernah jengkel, pernah marah. Pernah juga pasti membuat orang jengkel, membuat orang marah. Tidak ada yang istimewa, itulah dinamika hidup, naik dan turun, senang dan susah, jengkel dan bahagia. Jika ada waktu dimana kita jengkel, tentu ada juga waktu dimana kita senang dan bahagia. Sealamiah dan sewajar itu.

Take home message: tidak apa-apa jengkel asal tidak merembet kemana-mana hahahaa. Perasaan adalah perasaan, hanya sekedar perasaan, dia bukan kita, bukan juga orang lain. Dia muncul, bertahan, dan berlalu. 

Demikian kira-kira ke-sotoy-an hari ini wkwkwk.

Seproduktif ini di bulan Agustus hahaha awal bulan udah ngepost, baguslah kemarin malas-malas soalnya wkwkwk

Sampai ketemu lagi di [tujuh puluh delapan],

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 26 July 2023

[tujuh puluh enam] seperdua tambah satu

This is actually a reflection on how things have been going for this 7 months in 2023 (this is gonna be very personal tho kwkkw). I really wish that one day I can read this again and find how far I've been going and will continue doing this. Here we go.

So, minggu ini baru saja balik dari mengikuti salah satu kegiatan Buddhis di Candi Borobudur. Beberapa hari sebelum berangkat, sempat kepikiran, wah sudah 7 bulan berlalu di tahun 2023 dan sejauh ini harus bersyukur bahwa progress yang sempat diharapkan dan direncanakan di awal tahun (let's say it resolusi) ternyata berjalan jauuh dari apa yang diperkirakan di awal. This is good, bud! Sesaat berpikir kayak wahhh senang sekali karena beberapa kegiatan yang sama sekali belum pernah diikuti di tahun-tahun sebelumnya (sejak lahir bahkan) akhirnya kesampaian buat ikut. 

Have found one phrase lately "pilihan yang tidak populer atau familiar". Sadar kalau pilihan-pilihan yang mungkin diambil beberapa waktu belakangan mungkin 9 atau 10 tahun terakhir bukanlah pilihan-pilihan yang familiar untuk banyak orang. Tapi, ya namanya juga pilihan kan ya, cukup dan akhirnya semakin yakin kalau it's worth to choose all these.

Tiga hal besar that I remarked hingga ini diposting adalah

Yang pertama, ikut retret meditasi, singkat sekali hanya 3 hari 2 malam, tapi kalau dibandingkan dengan kehidupan 27 tahun yang tidak pernah ikut meditasi, this one is not so bad hehehee was veryyy veryy happy bisa ikuttt latihan, bisa ikut merasakan vibesnya, bisa hening, meskipun pasti banyak juga rintangannya, tapi pokoknya senang bahagia.

Yang kedua, ikut kegiatan ITC, senang sekali juga akhirnya tahun ini kesampaian setelah tahun lalu gagal wkwkkw to be honest, it was like recharging in a magical sacred place Candi Borobudur. Magical sekali sih, sampe terhuraa. Pas beberapa kali dengar ceramah juga terhura sekali, kayak mengena dan sangat sangat sangat reflektif. Dapat kesempatan belajar Dhamma lagi, ya pokoknya senang sekali lah, bahagia. 

Trus yang ketiga, ikut kelas belajar Abhidhamma. Akhirnya ada yang buka kelas dan bisa ikut, kelasnya jangka panjang semoga bisa konsisten belajar terus hehhhee. Sebelumnya sudah pernah ikut juga tapi semacam di youtube begitu jadi kurang intens lah, jdi yang sekarang harapannya bisa lebih nyerap saja di otak kwwkwkw. Sekali lagi, senang bersyukur bahagia.

Kalau ditanya, do these things mean a lot? Jawabannya mungkin tidak juga, tapi cukup meaningful untuk sesuatu yang tidak pernah sebegininya. 

Ketika dilihat kembali secara satu per satu, ini hanyalah bagian dari proses yang dilewati, belum cukup hanya ini, perlu berulang terus menerus, belajar dan berlatih. Tapi setidaknya ini cukup meaningful untuk memulai, ibaratnya kita membangun bata, 1 bata itu bukan satu tembok dan tidak bisa menjadi satu tembok besar, tapi 1 bata ini berguna untuk membangun sebuah tembok, satu per satu disusun ditata menjadi sebuah tembok yang kokoh. Begitupun dengan kegiatan-kegiatan ini, kecil-kecil, satu-satu, tapi satu langkah satu langkah harapannya menjadi lebih dekat dengan tujuan yang luhur itu.

Kalau ditanya, apakah latihannya sudah baik? Ya tidak juga, masih banyak jeleknya, bolongnya, kurangnya. Tapi, mungkin hal-hal kecil di atas bisa menjadi motivasi, ibaratnya kalau lilin sudah redup karena minyaknya sudah mau habis, diisi lagi, biar terang lagi. Mungkin seperti itu. 

So, this post only remarked rasa senang bahagia dan syukur yang begitu besar ketika melihat apa yang sudah dilewati di pertengahan tahun ini. Dengan post ini semoga bisa jadi refleksi kembali suatu hari nanti. It will never be a way back anymore. Tetap dijaga semangatnya ya, belajar belajar belajar, berlatih berlatih berlatih, berjuang!

Semoga semua makhluk berbahagia :)

Sampai ketemu di [tujuh puluh tujuh],

Cheers,
Em🙆

Thursday, 29 June 2023

[tujuh puluh lima] kumpul pertama

'biar mi seadanya mo dulu, kumpul pertama ji dulu' - seorang mahasiswa semester 3 yang lima laporannya dalam seminggu wkwkkww

Halo again semuanya wkwkwk ternyata sudah hampir sebulan ini belum post

Jadi mikir, kadang-kadang ada yang bilang, kalau mau lakukan sesuatu itu baiknya ditarget, misalnya posting tulisan sebulan sekali. Tapi, ada juga yang bilang, wah kalau ditarget seperti itu nanti jadinya terpaksa hanya untuk memenuhi target. Ya, kalau dipikir-pikir (mending nda usah dipikir, eh wkwkwk), dua-duanya benar. Dan, sebenarnya, mereka saling mengkondisikan satu sama lain. Tapi, yang menjadi keliru adalah ketika salah satu statement tersebut dianut dan dipercayai tanpa mempertimbangkan statement yang satunya. Jadi, kalau ada target jadinya kita tidak terlena dengan hal-hal di luar target itu, soalnya kalau sama sekali tidak ada target juga kayak ndak ada motivasi kan. Tapi, kalau semata-mata (nah bagus ni kata "semata-mata" wkwkwk) hanya karena target juga salah, karena jadinya semacam menggugurkan kewajiban saja. Jadi, memang mesti dua-duanya, mesti di tengah. Begitu intermejo nya ya ges wkkkwkw

Okee, sebenarnya draft ini sudah cukup lama ya tersimpan, idenya juga, tapi malas nulisnya hahhaa *dasar

Jadi ini agak mengkorelasikan apa yang pernah ditemui dalam bekerja dengan apa yang saya lakukan saat kuliah wkwkw

Jadi, mau cerita dulu sedikit, dulu waktu kuliah itu kan ada praktikum ya, terus, tiap praktikum itu ada laporannya. Aturan yang berlaku adalah laporan harus dikumpul pertama kali 2 hari setelah praktikum tersebut. Aturan tambahannya, kalau dalam 2 hari itu tidak mengumpulkan laporan maka laporannya dianggap batal atau diberi nilai nol. Jadi, karena mahasiswanya sangat sibuk dan cerdik (hehee), biasanya saat kumpul pertama itu, laporan kami cuma sampul dan menulis ulang apa yang dikerjakan di lab. Belum ada pembahasan sama sekali. Intinya, yang penting kumpul pertama dulu, mau ada isinya atau tidak ada, tidak menjadi soal, itu urusan nanti. Kami hanya menyelamatkan laporan dulu (daripada laporannya batal kan ya wkwkw). Lagipula, selengkap apapun isi laporan itu saat kumpul pertama, seringnya tetap ada pantulan atau revisi yang diberikan, jadi ya tetap akan dikerjakan lagi wkwkwkw. Kakak asisten lab pun nampaknya sudah paham dengan pola tersebut (mungkin mereka juga dulunya begitu, karena laporan bukan cuma 1, dalam seminggu bisa 3 atau 4 bahkan 5 yang harus dikumpulkan). Nantinya, seiring berjalan pengumpulan berikutnya baru kami lengkapi satu per satu, hasil, pembahasan, dan pertanyaan-pertanyaan tambahan dari kakak-kakak asisten untuk melengkapi isi laporan itu. Begitulah sampai akhirnya laporan tersebut ACC dan bisa lanjut ke praktikum berikutnya.

Nah, menilik dari kejadian itu, saat bekerja pun, menurut saya, sedikit banyak bisa mengaplikasikan metode ini, khususnya untuk hal-hal yang menurut saya cukup susah atau butuh waktu untuk menyelesaikan. 

Contoh sederhana mungkin membuat presentasi. Mungkin kita membutuhkan banyak data atau banyak informasi untuk membuatnya jadi presentasi yang bagus. Tapi, kalau di awal mah, mulai aja dulu bikin sampul wkwkkw atau bikin outline. Ya apa sajalah yang bisa dibuat dulu, nanti pelan-pelan baru dilengkapi. Karena kadang-kadang membayangkan saja sudah susah apalagi mengerjakannya. Tapi, kalau tidak dimulai untuk dikerjakan juga tidak akan rampung-rampung. Jadi, kalau dipikir-pikir, prinsip kumpul pertama ini, not bad juga, dan applicable ternyata. Prinsipnya sebenarnya lebih ke mulai aja dulu hahaha karena everything starts with a single step, betul? 

Dengan melakukan itu beberapa kali, jadinya pola yang terbentuk adalah, apapun pekerjaannya, jadinya bisa ditanggapi dengan lebih realistis. Memang banyak pekerjaan tidak bisa diselesaikan dalam semalam, oleh karena itulah, mulailah seawal mungkin, namanya juga pertama, gak mesti sempurna. Sama seperti kalau kata penulis-penulis, draft pertama selalu sampah kwkwkw tapi kalau gak ada draft pertama, gak jadi tuh sebuah buku, skenario, dll nya.

It doesn't have to be perfect at first, you just need to start.

Kira-kira begitu ya gaes, carita kosong ji jadinya sih, tapi ndak apa-apa ji

Baiklah, semoga ada yang bisa dibaca. 

Sampai ketemu di [tujuh puluh enam],

Cheers,

Em 🙆

Thursday, 4 May 2023

[tujuh puluh empat] penanda waktu

Whatever happens, today will always be a special day

Halo semuanya,

Happy birthday to me! Wkwkwkw

Sudah lupa sejak kapan, tapi beberapa tahun belakangan ini, setiap ulang tahun (atau momen ulang tahun) pasti digunakan untuk menulis sesuatu. Anggap saja semacam refleksi (atau resolusi?), ya semacam itulah

Transformasi ulang tahun dari tahun ke tahun, dari dulu waktu kecil, sekolah, kuliah, sampai besar kayak sekarang, selalu membawa kesan tersendiri. Menurut saya, ulang tahun ini agak aneh, setiap dekat hari ulang tahun pasti excited, dan pada hari ulang tahun ini rasanya aneh hahaha mungkin karena hari ini adalah hari biasa saja bagi orang lain, tapi bagi saya agak beda gitu rasanya wkwkkw. Yang anehnya, saya excited tiap ulang tahun, tapi gelisah karena takut diapa-apakan hahhahaa (geer beut dahh).

Saya termasuk orang yang cukup tertutup masalah ulang tahun ini. Tidak mengumumkan, tidak memposting juga kecuali memang ada momen bersama teman-teman. Postingannya pun biasanya bukan di hari ulang tahunnya, tapi ketika menutup hari di malam harinya, keesokan harinya atau bahkan setelahnya wkkww. Bingung juga kenapa, mungkin memang seperti itu. 

Setelah dipikir, ulang tahun ini tidak berbeda dari penanda waktu. Tahun, bulan, hari, jam, menit, detik. Serupa. Ulang tahun sesungguhnya bukan satu hari, tapi hanya satu momen yang menandai kita lahir, ketika udara menyentuh kulit pertama kalinya. Sesingkat itu. Jadi, ulang tahun adalah penanda waktu untuk masing-masing dari kita, penanda durasi lamanya kita sudah hidup, berada di dunia ini.

Ulang tahun akan selalu istimewa bagi pemiliknya, terlepas dari apa yang terjadi hari itu. Ada ucapan tidak ada ucapan, ada perayaan tidak ada perayaan. Tidak berdampak terlalu signifikan. Dia istimewa sebagai penanda waktu yang personal, sama seperti ketika jarum panjang menunjukkan angka dua belas, menunjukkan jam tertentu. 

Masih sama seperti tahun sebelumnya, ulang tahun masih kulihat sebagai momentum yang baik untuk me-refresh kembali tekad. Di depan ada tujuan yang besar, yang memang, masih sangat jauh, entah berapa kehidupan lagi, tapi tak apa, we're on the right track buddy. Keep it up dan berjuang. 

Sampai hari ini masih bersyukur karena selalu bertemu orang-orang yang baik. Couldn't ask for more, I'm truly thankful for that. Buat kalian, you know who you are :)

Happy twenty eight, buddy! 

Semoga dilimpahkan banyak kebaikan-kebaikan yang bisa ditularkan ke orang-orang. Tetap berjuang ya! 

One of my favorite wishes of this year is : semoga semakin bijak dan bajik :)

Sampai ketemu di [tujuh puluh lima],

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 3 May 2023

[tujuh puluh tiga] a piece of puzzle

we are like a piece of puzzle, a part of a very big big puzzle, contributing as a little piece to complete the whole picture in the puzzle

Halo again, 

rasanya lagi pengen nulis ini wkwkkw jadi mari kita bereskan draft ini satu per satu hahaha *padahal ini draft baru wkkwkw

Jadi, berbicara tentang kontribusi atau peran, kadang-kadang dalam apa yang kita kerjakan, kita sering merasa (jika menurut anda tidak, maka ganti kata kita dengan saya hahaha) bahwa kita ini tidak penting. Mungkin di kantor posisi kita tidak terlalu tinggi atau pekerjaan kita tidak berarti apa-apa. Tapi tahukah anda bahwa itu benar? Wkwkwkw bercanda guyss. Pikiran itu wajar saja, manusiawi. Ketika mungkin dalam satu kelompok kita merasa kok kita tidak berkontribusi apa-apa ya, orang lain mungkin mengeluarkan ide-ide yang cemerlang, tapi kita kok buntu. 

Tapi ternyata tidak demikian.

Sekecil apapun, seremeh apapun yang kita kerjakan tetaplah merupakan kontribusi untuk sebuah pekerjaan besar. Tidak mungkin seseorang dapat bekerja seorang diri. 

Dari kita lahir sampai kita selesai nanti, pasti ada bagian kontribusi orang lain dalam hidup kita, dalam apa yang kita lakukan, dalam setiap pencapaian kita.

Sebut saja rumah sakit misalnya. Seorang teman menceritakan ini, lalu saya pikir haa ini adalah cerita yang tepat untuk topik ini hahahaa jika dia baca dia pasti tau kalau ini dia yang menceritakan. Jadi, kadang-kadang orang berpikir kalau peran paling penting dalam rumah sakit itu adalah dokter. Tentu, kalau gak ada dokter, bagaimana bisa disebut rumah sakit, betul tidak? Tapi, kalau kita liat lagi, coba cari pekerjaan yang perannya paliiiiiing kecil dalam rumah sakit. Hmm sebut saja OB atau laundry. Coba bayangkan kalau tidak ada OB betapa terobrak abriknya rumah sakit kan? Tidak ada yang membersihkan. 

Pesannya apa?

Nasi goreng satu kayaknya enak wkwkkw bercanda mulu gaes

Artinya, betapa kecil pun kita merasa peran kita dalam apa yang kita kerjakan, tidak usah khawatir, karena we're working on our own small piece of puzzle. Kita ini sedang menyelesaikan sepotong puzzle kecil. Jika tidak dikerjakan dengan baik, jika potongan itu tidak menempati tempat yang seharusnya, puzzle utuh tidak akan terbentuk. Kerjakan dengan baik, cause we're doing a great big thing here. Jangan merasa kecil dan sepele, jika sesuatu yang kecil bisa dikerjakan dengan baik, dia tetap akan bermanfaat. Dan mungkin, menjadi mula untuk potongan puzzle yang lebih besar.

Sebaliknya, jangan lah kita meremehkan peran atau kontribusi orang lain. Sekecil apapun yang mereka lakukan. Sebuah puzzle besar hanya bisa terselesaikan jika setiap potongan-potongannya dikerjakan dengan baik dan diletakkan di tempat yang tepat.

Jadi begitu ya gaes, kira-kira filosofi puzzle dari pandangan saya yang abal-abal ini hahahaa

Intinya selalu lakukan yang terbaik dan selalu hargai peran atau pekerjaan orang lain (note to maisyelf).

Demikian. Sampai ketemu di [tujuh puluh empat]

Cheers,

Em🙆

Thursday, 27 April 2023

[tujuh puluh dua] sepatu

no matter how you imagine, the feelings will always be different unless you yourself experience it.

Halo lagi semua, hampir sebulan ternyata belum ngepost lagi wkwkw

Kali ini mau cerita-cerita soal penempatan diri dan empati, dimana kedua hal ini erat kaitannya dengan istilah "menempatkan diri pada sepatu orang lain". Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya sulit memang. Memahami kondisi atau situasi orang lain, dimana kita belum pernah merasakan atau mengalami, entah bagaimana membayangkannya, kalau kita belum merasakan langsung tetap saja akan berbeda. Kasus yang sama pun, bisa jadi rasanya berbeda, karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya.

Sebenarnya tidak cuma sepatu sih wkwkwk makanan juga bisa, tapi sepatu mungkin yang paling sering kita dengar, jadi judulnya itu saja hahha 

Menjelaskan apa yang kita rasakan kepada orang lain yang belum pernah berada pada kondisi yang sama, sama seperti menjelaskan rasa coklat kepada orang yang belum pernah memakan coklat. Seberapa deskriptif pun, tidak akan bisa benar-benar menjelaskan rasanya. Rasa manis tapi bukan manis gula. Rasa creamy tapi bukan seperti susu. Susahlah hahahhaa 

Langsung mi saja ke kesimpulan nah hahahaa

Intinya yang saya pikir adalah di satu sisi, ketika ada sesuatu yang terjadi kepada orang lain di sekitar kita, berusahalah menempatkan diri pada sepatu orang itu, berusahalah sedekat mungkin merasakan kondisinya, sedekat semirip mungkin yang kita bisa. Ber-empati. Tujuannya apa? Supaya reaksi kita tidak keliru. Tidak melihat sepatu orang lusuh lalu mengungkapkan kata-kata yang kurang tepat tanpa tahu kenapa sepatu itu lusuh, tanpa tahu kenapa orang mempertahankan sepatu lusuh itu, tanpa tahu bagaimana sih rasanya memakai sepatu yang lusuh itu. Berusahalah lebih bijak. Tidak menyepelekan. Karena we've never been on their shoes. Di sisi lain, ketika kita merasakan sesuatu, dan orang lain tidak bisa memahami dengan baik. Juga pahamilah, terimalah, karena orang lain tidak pernah benar-benar bisa merasakan apa yang kita rasakan. Berdamailah. Kita tau itu dan menerima itu, sehingga hati ini bisa lebih lapang. Tidak merasa bahwa tidak ada orang yang memahami kita, tapi tau bahwa orang-orang sudah berusaha. Ketikapun ada kata-kata yang kurang menyenangkan, ingatlah mungkin mereka tidak tau. Mereka mungkin sudah berusaha and that's enough.

Demikian guysss postingan singkat ini. Sehat-sehat semuaaa.

Sampai ketemu lagi di [tujuh puluh tiga]

Cheers,

Em🙆