Wednesday, 16 February 2022

[lima puluh dua] another step (2)

 ... towards another traffic light.


Hallo semuaaaa hahaaa setelah sekian lama baru ngepost lagi wkwkw

Awalnya mau buat another step (1) pas viva trus another step (2) pas wisuda terus bikin lagi mungkin another step (3) pas apaa gitu hahaaaa sok-sokan betuuuul sodaraa-sodaraa! Tau-taunya buntu ndak tau apa mau ditulis hahahaa waktu wisuda ndak kepikiran mau nulis apa, pas pulang apalagi, bingung cuma nulis sedikit yang diposting sebelumnya hahahaaa

Ya begitulah namanya juga rencana yah hahaaa I dont think I am a good writer, I am not even a writer, I mean I just write when I want to hahaa jadi maklumlah yaa daripada dipaksa baru nda bagus hasilnya khaan hehee

Okay, so hari ini memutuskan menulis tentang kehidupan yang baru saja setelah selesai kuliah, hitung-hitung juga another new step wkwkwk

Setelah leha-leha sekitar sebulan, sekarang waktunya masuk kerja hahaa

So here I am, menjalani rutinitas baru yang kupikir harusnya betah yaa hahaa I always think dari dulu sampai sekarang, office working is kinda job that I will enjoy. But, we dont know if we dont try. So, finger crossed! Semoga betah di pekerjaan yang sekarang wkwkw

But, talking about dream job, this is actually what I wish for. Working in a company that I want since I was in the university. Trus jenis pekerjaannya juga lumayan challenging dan in line dengan yang sudah dipelajari selama ini. Selain itu, bisa kerja dengan rutinitas tertentu juga sepertinya jadi sesuatu yang saya pikir cocok untuk saya. Harapannya tentu selain bisa bekerja, juga bisa belajar dan berdaya, dan punya waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang saya senangi. That's it, sudah cukup senang saya hahaaa

Anyway, taking things aside, this is another step towards another traffic light. Entah siapa yang akan ditemui di sepanjang jalan ini sampai lampu merah berikutnya. Sebuah analogi yang menurut saya sangat bagus dan ini yang saya ingat sampai sekarang. Hidup itu kayak kita berhenti di lampu merah. Orang-orang yang kita temui bisa jadi akan mengambil arah yang sama tapi bisa juga berbeda. Pada akhirnya kita akan menjalani jalan kita masing-masing entah ada orang yang sejalan ataupun tidak. Dan kehidupan ini sebentar layaknya berhenti di lampu merah. Jadi, begitulah I am trying to see every step that I need to take as another traffic light stop, kita bertemu, kita berpisah, waktunya singkat, so use it wisely.

Gitulah yaaa, ndada banget isinya postingan ini hahaaa

Intinya apapun yg kita jalani semoga bisa dijalani dengan hati yang senang dan ikhlas, semoga selalu ada kebaikan-kebaikan di dalamnya. 

Semangat guysss, maybe another step (3) akan ada tapi ndatau kapan jadi mungkin pakai judul lain lebih bagus ya hahaha jadi beban juga ya klo ada nomer-nomernya wkwkw

All the best.

Sampai ketemu di [lima puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆 (ini kagak ada versi ceweknya yaa hmmm) 


Sunday, 9 January 2022

[lima puluh satu] hidup susah itu enak juga!

karena pelaut hebat tak pernah lahir dari laut yang tenang

-hivi! - jatuh, bangkit kembali!-


Hello semua, glad to meet you all again kwkwkwk 

So, jujurly (elaaah -_- wkwk), topik ini sudah lama bertengger di draft tapi sekarang ternyata baru bisa dirampungkan heheee biasalaaahhh..

Recalling my childhood, I finally realize that I am really grateful for the hardships that I had (of course not all are hardships yee banyak juga senang2nya hahaaa) during that time. Hardships itu maksudnya kayak tidak semua hal yang saya inginkan pada waktu kecil itu dapat diperoleh dengan mudah, bahkan untuk beberapa hal tidak bisa didapatkan sama sekali karena berbagai keterbatasan. Not to blame anyone, apalagi orangtua, tidak. Tapi semua orang pasti punya keterbatasan mungkin aspeknya saja yang berbeda, dan waktu saya kecil, keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki orang tua membuat kita, saya, anak-anaknya, harus belajar beberapa hal penting yang pada akhirnya, ketika sudah besar sekarang, menyadari kalau itu ternyata berguna untuk menjalani kehidupan yang fana ini wkwkww

Falling down always causes more pain that flying high. (((of kors)))

Iya, jadi begitu yaa wkwkk jika dilihat dari satu sisi mungkin saya kurang beruntung karena waktu saya kecil, orang tua masih merintis juga, jadi banyak keterbatasan gitu, tapi kebutuhan primernya cukup. Bahkan, banyak pengalaman2 kayak waktu sekolah sampai kuliah itu saya sempat kerja sambilan jadi lumayan dapat duit. Dan dari situ saya banyak belajar kalau mau dapat sesuatu itu harus usaha dulu, cari duit itu tidak gampang. Klise memang, tapi begitu memang kenyataannya. Hal-hal kecil remeh temeh, bahkan misalnya se remeh cuci piring sendiri sesudah makan, itu bisa jadi sesuatu loh ketika kita besar, apalagi ketika tinggal jauh dari orang tua. Dulu, di rumah pun fasilitas tidak mewah, secukupnya saja, jadi bisa dibilang sudah terbiasa dengan kondisi hidup apapun. 

Tidak bermaksud mengatakan bahwa semua orang kecilnya harus susah. Atau kalau waktu kecil hidup nyaman itu salah, tidak. Baguslah kalau dari kecil sudah hidup nyaman, harus bersyukur itu hahahaa tapi, kalau misalnya hidup kita sekarang ataupun dulu masih banyak keterbatasannya, maka rasa syukur itu mestinya tetap selalu dihadirkan. 

Saya bisa bayangkan mungkin kalau usaha-usaha dan kerja-kerja yang kecil receh remeh dan temeh itu tidak saya lakukan, maka ketika saya besar sekarang mungkin lebih banyak kesulitan yang saya lalui. Mungkin saya tidak bisa hidup merantau, mungkin saya tidak berani kemana-mana sendiri, mungkin saya tidak bisa mengurus diri saya sendiri.

Karena, seperti bahasa asing yang di tengah itu, selalu, selalu, dan selalu lebih mudah berpindah dari hidup susah ke hidup nyaman daripada dari hidup nyaman ke hidup susah apalagi kalau dari dulu tidak pernah susah. Selalu lebih mudah beradaptasi ke tempat yang lebih enak daripada ke tempat yang lebih sulit. 

Jadi, what I want to say here, is kalau sekarang ataupun dulunya ada yang hidupnya masih banyak keterbatasan, masih harus usaha sendiri, tidak usah disesali atau tidak usah merutuki nasib, harusnya disyukuri, bersyukur diberi kesempatan belajar hal-hal yang tidak semua orang bisa alami di kehidupannya. Everything happened for a reason, ambil pelajarannya, jangan sia-siakan kesempatannya. Itulah kenapa judul kali ini adalah hidup susah itu enak juga, karena ternyata di balik kesusahan itu, banyak hal-hal hebat yang bisa kita pelajari yang bisa membuat hidup kita tidak susah lagi ataupun bisa membuat kita baik-baik saja dalam kondisi apapun, susah ataupun senang. Dan juga, kalau dulu atau sekarang hidupnya sudah nyaman, harus lebih bersyukur lagi, tapi harus ekstra waspada dan bersiap supaya jika suatu saat (jangan sampai) dihadapkan pada kondisi sulit yang kita tidak pernah alami sebelumnya, kita siap dan mampu menghadapinya. Karena sebenarnya, hidup dalam kondisi apapun, selalu bisa belajar untuk bersiap menghadapi kondisi apapun, bukan begitu?

Inti dari segala inti, tidak ada hidup yang sempurna (sempurna susahnya ataupun sempurna senangnya), jadi apapun kesusahan yang dimiliki saat ini, sekecil apapun, lihatlah sebagai suatu kesempatan untuk belajar, memperoleh suatu hal yang langka yang mungkin tidak semua orang alami.

Jadi begitu deh ya ngalor ngidul (baru tau ternyata ini artinya ke utara dan ke selatan dalam bahasa jawa hahhahaaa), semoga ada faedahnya

Sampai jumpa di [lima puluh dua]

Btw, selamat tahun baru 2022!!!!

Cheers,

Em 🙆


Wednesday, 22 December 2021

[lima puluh] Objektif sampai di mana?

Bukankah objektivitas adalah sekumpulan subjektivitas yang sejenis?


Draft ini sudah lama mendekam di list postingan tapi tidak pernah dieksekusi heheee entah kenapa, ide nya ada, tapi sepertinya belum mantap wkwkwk

Anyway, sapa-sapa dululah, apa kabar teman-teman? Semoga sehat selalu ya, physically and mentally pastinya. 

Setelah dipikir-pikir, mungkin beberapa tulisan membutuhkan ide yang matang terlebih dahulu lalu ditulis. Tapi mungkin ada juga yang ditulis dulu supaya menjadi mantap hehehe so I will take the latter for this one. 

Bicara tentang objektif-subjektif, sebenarnya ini masalah sudut pandang ya. Karena saya tidak ada kajian literasi, hanya berdasarkan apa yang saya lihat dan saya alami, so this one will just be a general insight and information, bukan teori ataupun sesuatu yang mutlak kebenarannya. 

Pertanyaan dari judul ini sebenarnya muncul karena saya berpikir sebenarnya objektif itu seperti apa, apakah ada penilaian atau pandangan yang objektif sepenuhnya? Ketika seseorang menilai orang lain, bagaimanakah penilaian yang objektif itu?

Kalau subjektif kan kita tahu merupakan pandangan atau opini pribadi. Biasa juga diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak general, tidak untuk semua orang atau tidak adil. Contohnya, di suatu kontes nyanyi, seorang juri memberi penilaian yang tinggi karena pesertanya good looking misalnya. Padahal sebenarnya yang harus dinilai kan, kualitas suaranya. Nah, pertanyaan berikutnya suara yang bagus itu seperti apa sih? Hm, mungkin yang nadanya tepat, artikulasi lirik bagus, dan seterusnya (saya gak tahu saya bukan penyanyi hahahaa).

Ya kurang lebih seperti itu,

Saya mengkaji dengan bertanya ke diri saya seperti itu. Kemudian, apa kesimpulan yang saya dapat?

Saya lalu berpikir, oh mungkin objektivitas itu didasarkan pada beberapa poin, di antaranya mungkin adalah sasaran/target/tempat yang tepat, terukur dan ada standar umum yang disetujui bersama. Jadi, misalnya dari contoh tadi, objektivitas itu ketika menilai berdasarkan apa yang harus dinilai dan mengabaikan faktor lain. Jadi, kalau lomba nyanyi ya suaranya yang dinilai. Kalau ujian ya hasil kerja nya yang dinilai. Tidak memasukkan faktor-faktor kepentingan atau sentimen pribadi. Kemudian, sesuatu yang terukur sehingga menjadi standar. Misalnya suara bagus kalau nada nya tepat, nah nada yang tepat kan bisa diukur ya, bunyinya bisa diukur melalui instrumen musik dan seterusnya. Nah, untuk bagian yang disetujui bersama, di situlah saya rasa ada part subjektivitasnya. Karena pandangan orang sama, maka terbentuklah sebuah pandangan objektif.

Nah selanjutnya, 

Apakah penilaian itu bisa sepenuhnya objektif? Menurut saya, at some point, ketika penilaian objektif sudah dilakukan dan tidak menemukan kesimpupan akhir, maka di situlah subjektivitas bekerja. Misalnya, dari 2 kandidat hanya akan dipilih 1 orang. Secara kualitas mungkin keduanya sama, tapi mungkin salah satu nya punya hal lain yang disukai oleh penilai maka dialah yang terpilih. Jadi, menurut saya di waktu tertentu memang tidak mungkin untuk memberi penilaian secara objektif sepenuhnya, selain itu background orang dalam menilai pun beda-beda. So maybe everyone just try to be as close as possible to the fairness. 

Itu saja kira-kira, tidak ada kesimpulannya ini gaes wkwkwk mon maap yak heheee. Hanya ingin menyampaikan apa yang ada di dalam kepala saja.

Sekian dulu ya. Semoga ada faedahnya :)

Sampai ketemu di [lima puluh satu],

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️




Monday, 20 December 2021

[empat puluh sembilan] see you when I see you again, Belfast!

After 2 years and a half, it's finally time to go home. Honestly, I never expect that it will be this sad, really. I would say I've been through a lot of come and go in this life. And I can even say I've gone through the hardest one, losing my loved ones. And that's why it comes to me that there would never be something as sad as those things. However, here I am, really sad of leaving Belfast with all the memories there. 

Ya jadi begitulah,

Setelah melihat-lihat kembali, wah kok ini levelnya sudah mirip kedukaan yah hahaaa ya mungkin masih 1 2 level di bawahnya. Tapi, getting your tears down on airplane adalah sesuatu buat saya wkkkww atau waktu liat postingan terus berkacaa-kaca hhhaa sepertinya baru kali ini. Anyway, hal yang mirip pernah juga terjadi waktu saya selesai KKN beberapa tahun lalu. Saya pun sepertinya menyadari kalau living together with someone you never or barely know before can bring some kind of attachment of you to them. Waktu KKN, saya tinggal dengan 9 teman yang sebelumnya tidak pernah saya kenal selama 2 bulan. Dan pada akhir masa KKN itu, rasanya memang sedih sekali. A key point that I think made me feeling so sad is because I don't know if I will ever experience the same thing again in the future. KKN tidak dua kali, kalau ke Belfast? Who knows, tapi kecil kemungkinan bisa ke sana lagi. S2 juga tidak dua kali yaa wkkwkw So, mungkin begitu ya. Really, it was so so sad at that/this moment.

One thing, special mention for Kak Qoni, my room mate. Apa-apa selalu sama-sama. I think you are the most reason that made this leaving day so difficult. Apalagi 1 tahun terakhir yang betul-betul sama-sama setiap hari. Those things that I might never experience again. Thank you for everything Kak, I know you'll be just fine, same as me. We'll be okay and let's see each other again in the future :)

Take things aside, I realise that attachment is really human's weakness. Masih melekat. That's why it's so sad when you need to let something go, apalagi kalau banyak memori indah di situ. It's okay, the process is on going, things are still improving.

All in all, thank you Belfast, you are not only a place now, you're home. 

I'll see you when I see you again :)

Hope to come back one day.


Sampai ketemu di [lima puluh]

Cheers,

at quarantine, Em 🙆

Sunday, 10 October 2021

[empat puluh delapan] orang dewasa

Hello, lama sekaliii sejak terakhir ngepost wkwkk 

Agak sibuk alias malas hahahaaa 

Yak, jadi hari ini mau cuap-cuap soal being an adult, atau orang dewasa. Ada yang bilang di atas 17 tahun, 18 tahun, 21 tahun, atau 23 tahun? Yah itulah yaa, it means that I am ... an adult wkwkwkw

What is it like being an adult?

Masih ingat waktu masih kecil dulu, mungkin TK SD, apa sih yang kita pikirkan? Hari ini main apa, main di mana, main sama siapa, atau paling berat apa ya, kerjain PR mungkin? Atau waktu dimarahin orang tua karena nakal wkwkkw kayaknya hidup itu seasik itu yaaa

And then, here we are, beranjak dewasa, mulai banyak yang dipikirkan, mulai dari pelajaran matematika yang mulai sulit, pelajaran fisika kimia biologi yang mulai bikin puyeng, konflik-konflik persahabatan yang mulai muncul ye kaan, konflik cinta monyet wkwkkwkw sampai masalah karir dan kehidupan.

Orang bilang ketika dewasa, ego kita mulai berkurang, tapi yang mungkin terjadi, ego itu selalu ada, hanya bentuk nya yang berbeda. Mungkin dulu kita masih merasa pendapat kita paling benar, kalau sekarang kita bisa menerima pendapat orang lain, tapi kita mungkin ingin diacknowledge ketika kita bisa menerima pendapat orang lain. Kadang-kadang seperti itu bukan? Di satu sisi, kita butuh kepastian hidup, tapi di sisi lain, kita juga tahu semuanya selalu berubah.

Mungkin kita rindu masa kecil kita, ketika tidak perlu berpikir terlalu banyak. It was so much fun wkwkkw. Mungkin karena itu orang dewasa juga kadang-kadang butuh main, biar refreshing heheee.

Being an adult is sometimes hard. You need to deal with a lot of things, yet need to keep your mind clear. 

But that's life. Everyone has their own struggle, don't they?

No more to say because don't know what to say, need to think a little bit more on this wkwkwkw


Sampai ketemu di [empat puluh sembilan]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 18 August 2021

[empat puluh tujuh] refleksi proklamasi

Indonesia Raya, Merdeka Merdeka

Hiduplah Indonesia Raya ...


Tujuh puluh enam tahun yang lalu, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang untuk pertama kali, ketika bendera merah putih dikibarkan untuk pertama kali, saat itulah menandai lahirnya sebuah negara berdaulat yaitu Indonesia.

Hari ini, 17 Agustus 2021, kita kembali memperingati hari kemerdekaan Indonesia, hari dimana rakyat Indonesia sudah terbebas dari penjajah, hari dimana rakyat Indonesia memulai lembar kehidupan yang baru, yang lebih baik. Sudah lebih dari tiga per empat abad, negara ini merdeka, pertanyaan nya adalah apakah kita sekarang sudah benar-benar merdeka? apakah dalam rentang waktu kemerdekaan ini kehidupan masyarakat jauh lebih baik?

Menurut saya, setiap ada hal yang diperingati, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah merenung, refleksi, introspeksi. Khususnya kita-kita generasi muda ini, sepertinya berkarya saja tidak cukup, penting juga untuk sesekali melihat ke dalam. Tentunya di hari kemerdekaan ini, kita semua mengharapkan hal-hal yang baik untuk negara kita tercinta. Ingin Indonesia lebih baik, lebih makmur, lebih maju, dan lebih-lebih lainnya. Tapi, untuk mewujudkan semua itu bukan hal yang mudah. Bagi pejabat-pejabat yang sekarang memegang peranan penting mungkin  juga punya harapan yang sama, tapi tidak banyak juga dari mereka yang melakukan kelalaian. 

Saya sering berpikir apa yang salah ya, apakah sistemnya, atau manusianya. Sistem nya oke tapi kalau manusia nya belum siap? Atau manusianya sudah siap tapi sistemnya amburadul?

Sampai sekarang, saya pun tidak tau jawaban benarnya apa. 

Sejauh ini, saya masih pada keyakinan 'lihatlah ke dalam'. Saya tidak bisa mengubah sistem, tapi saya bisa mengubah diri saya, apa yang harus saya lakukan. Menurut saya cukup penting bahwa di momentum ini, kita semua membangun kembali kesadaran kita. Kalau pejabat sekarang banyak yang korupsi, maka yang kita lakukan sekarang adalah bercita-cita jika suatu hari kita ada di posisi tersebut maka kita tidak akan melakukannya. Kenapa? Karena kita sadar betul tanggung jawab dan amanah kita. Kita sadar betul apa yang benar apa yang salah untuk dilakukan. Kita tahu dan sadar, yang mana saat ini saya pikir banyak orang yang tidak memiliki hal ini. Kita bisa kok, dari segi kemampuan intelektual, kreativitas, bisalah kita, netijen Indonesia kreativitasnya luar biasa. Kita hanya kadang-kadang kurang sadar (mungkin). Kalau semua orang sadar posisi, sadar hak, sadar kewajiban, sadar tugas, sadar tanggung jawab, saya pikir semua harusnya baik-baik saja.

Yah, tulisan saya amburadul hahaha sama amburadulnya kalau ditanya tentang negara kita. Kadang-kadang cuma bisa geleng-geleng, kok bisa ya hahahaa

Tapi di samping semua kekurangannya, Indonesia tetaplah Indonesia, negara, tempat lahir, kampung halaman yang kita cintai dan banggakan. Saya pribadi bangga sekali menjadi orang Indonesia, tumbuh besar dengan berbagai keragaman agama, budaya, suku, bahasa, tapi tetap bisa hidup harmonis, selaras, dan berdampingan. Sesuatu yang langka dan mungkin tidak ada di negara lain. Bangga sekali.

Semoga kita-kita ini, generasi muda bangsa ini, lima, sepuluh, lima belas tahun ke depan, bisa membawa Indonesia lebih baik, lebih maju. Saya yakin kita tidak kalah bersaing dengan negara lain. Kita bisa liat banyak prestasi di luar sana. Kita juga bisa kok. Yang terpenting adalah kita bangun kembali kesadaran dan kecintaan kita dengan nilai-nilai luhur yang sudah ada. Pancasila itu fundamental tapi kadang-kadang kita lupa penerapannya. Sesempurna apapun sebuah sistem, jika sumber daya manusia nya belum siap maka sama saja, tidak akan memberikan hasil yang signifikan. Maka, sungguh baiknya jika kita belajar banyak agar kita sudah siap bukan hanya dari segi intelektual tapi dari segi emosional, akhlak, moralitas, pola pikir, soft skills. Masa depan yang cerah itu menanti, kawan. Semangat dan selamat berkontribusi di bidang masing-masing :)

Cukuplah ya sepertinya wkwkwkk ngalor ngidul 

Dirgahayu Indonesiaku yang ke-76, Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

Tetaplah kuat di sana, rakyatmu sedang berjuang, tetaplah membersamai, masa depan cerah itu ada menanti di depan sana :)

Semangat ya teman-teman untuk Indonesia yang lebih baik

Damn! I love Indonesia!!! Merdeka!

Sampai ketemu di [empat puluh delapan]

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 10 August 2021

[empat puluh enam] this is us - this is Kevin, Kate and Randall (3)

Love like Jack, strong like Rebecca, charm like Kevin, dream like Kate, and forgive like Randall

-this is us-

Halo halo halo semuaaa, semoga sehat-sehat selalu yaaa

Jadi, setelah sebelumnya cerita tentang mamak bapaknya, sekarang kita cerita tentang anak-anaknyaa..

Seru kali laaaah cerita tentang ketiga anak ini, mereka disebut Big Three! Jadi, sebenarnya Rebecca itu hamil anak kembar tiga tapi sayangnya anak ketiganya tidak bisa lahir dengan selamat. Lalu, pada hari yang sama ada seorang anak yang dibuang dan dibawa ke rumah sakit yang keranjangnya kebetulan bersebelahan dengan keranjang Kevin dan Kate. Lalu, Jack dan Rebecca akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak itu, sehingga mereka tetap punya 3 anak.

Jadi, banyak ya isu-isu yang diangkat dalam film ini, salah satunya diversity. Randall adalah anak berkulit hitam yang diadopsi oleh keluarga kulit putih. Di sini kita bisa melihat bagaimana Randall merasa berbeda dibanding saudara-saudaranya dan bagaimana dia berusaha mencari jati dirinya, mencari orang tua kandungnya. Menarik sekali melihat bagaimana konflik yang muncul dari perbedaan ini, kayak Jack dan Rebecca tidak ingin memperlakukan Randall secara berbeda padahal memang sebenarnya Randall ini berbeda. Ada treatment-treatment yang dilakukan orang-orang berkulit hitam yang tidak dilakukan orang berkulit putih, misalnya alat cukur yang sesuai, penggunaan sun screen, dll. Intinya adalah perbedaan itu ada tapi bukan berarti harus ada perpecahan karena perbedaan. Di sini juga bisa dilihat bagaimana Kevin dan Kate itu sayang dengan Randall seperti saudara mereka sendiri.

Selain diversity, ada pula isu-isu lain yang diwakilkan oleh masing-masing anak ini. Kevin dengan isu ketergantungan alkohol, Kate dengan isu berat badan berlebih, dan Randall dengan isu kecemasan. Menurut saya, isu-isu ini hadir di kehidupan kita sehari-hari dan kita bisa banyak belajar dari film ini. Banyak hal menarik dan indah yang bikin kita terharu dari kelakuan tiga bersaudara ini. Tak bisa dipungkiri banyak konflik, khususnya antara Kevin dan Randall. Tapi, at some point, they still need each other, and noone knows themselves better than each other. Mungkin mereka bisa berbeda pendapat, bertengkar, tapi pada akhirnya mereka saling membutuhkan satu sama lain. That's just what siblings do.

I will not put too much words in here. I will put one part of the stories that really open my eyes.

Jadi, saya lupa di season berapa dan episode berapa, intinya di scene Kevin masuk rehabilitasi gegara kecanduan alkohol dan pihak rehabilitasi memanggil semua keluarganya untuk ngobrol untuk mencari kenapa sih Kevin ini bisa kecanduan, ya semacam itulah. And boom! saat itu terkuaklah semua perasaan yang dipendam. Jadi Kevin ini merasa sejak kecil dia itu tidak diperhatikan. Ya, wajar, kalau ktia nonton filmnya, sangat terlihat bahwa Jack sangat perhatian kepada Kate, pokoknya kayak si bapaknya ini perhatian sekali dengan Kate. Sedangkan Rebecca sangat dekat dengan Randall apalagi setelah Jack meninggal. Jadi, Kevin ini merasa sejak kecil dia itu tidak diperhatikan dan tidak ada yang bisa dia banggakan begitu dibandingkan Randall dan Kate. Sampai ketika Rebecca cerita ke Kevin ini, jadi dulu waktu mereka pertama kali masuk sekolah, Randall dan Kate itu  nangis-nangis tidak mau masuk ke kelas. Sedangkan, Kevin dengan berani berjalan sendiri masuk ke kelasnya. Kata Rebecca, pada saat itu mereka sebagai orangtua ini tau kalau Kevin itu anak paling kuat, so they didn't put too much effort in him. 

Jadi, kita bisa liat di sini ada dua sudut pandang yang berbeda. Dari Kevin yang merasa dia tidak diperhatikan dan di sisi orangtuanya yang melihat bahwa oh anaknya ini anak yang kuat sehingga tidak perlu special treatment, which is mereka pasti bangga dengan anaknya. Jadi bagaimana ya, kayak ironi bahwa kadang-kadang sebagai anak kita tidak paham dengan sudut pandang orangtua, begitu juga dengan orangtua kadang-kadang apa yang mereka maksudkan tidak bisa tersampaikan dengan baik ke si anak.

Selain itu, di film ini juga kita liat bagaimana keberhasilan Jack dan Rebecca sebagai orang tua terlepas dari semua kekurangan, yang paling keren adalah Kevin, Kate, dan Randall melihat orang tua mereka sebagai orang tua yang luar biasa yang bahkan mereka pikir they cannot be parents like their parents. And at the end of the day, family comes first, always.

That's the Big Three - Kevin Pearson, Kate Pearson, and Randall Pearson

Other than that, I think there is no such beautiful siblings and family story rathen than this wkwkkw teman-teman bisa nonton, and let me know, but for me, sedih senang lucu haru bangga bahagia ada semua di film ini. Keren lah wkwkkw banyak pelajaran yang bisa diambil. I cannot remember everything in the story but I cannot forget my feeling when I watched it.

Am waiting for season finale yuhuuuuu

Gitu ajalah ya bacotan saya hahahaha

Sampai ketemu di [empat puluh tujuh],

Cheers,

Em 🙆

Monday, 28 June 2021

[empat puluh lima] this is us - this is Jack and Rebecca (2)

'I am thankful for my family. I am thankful that we're all safe and there's no one in the world that I'd rather be too hot or too cold with'

-Jack Pearson-

Halooooo halo semuaaaa

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, kali ini saya mau cerita tentang tokoh Jack Pearson dan Rebecca Pearson di serial This Is Us. Tentunya ini pandangan super subjektif saya dengan tokoh ini yaaa wkwkkw

Jadi, di film ini, Jack Pearson adalah seorang suami dan seorang ayah dari 3 orang anak kembar. Sedangkan, Rebecca Pearson adalah istri nya atau ibu dari anak-anak mereka (pastinya) wkwk. 

I will start with Jack,

Intinya Jack ini adalah sosok yang suami-able dan bapak-able banget. Di beberapa review dikatakan kalau Jack ini Dream Dad karena memang dalam cerita ini Jack adalah seorang yang bisa melakukan apa saja dan mengorbankan apa saja untuk keluarganya, untuk istri dan anak-anaknya. Menurut saya pribadi, banyak hal yang bisa dipelajari dari si Jack ini. Saya akan share beberapa yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Salah satu scene yang paling menarik adalah ketika Jack ini mencuci piring. Kenapa menarik? wkwkw Jadi ceritanya saat itu Jack sedang makan malam bersama ibunya di rumah salah satu teman ibunya. Terus setelah makan malam, ibunya dan temannya pergi keluar, jadi tinggallah si Jack ini di rumah. Tak berapa lama, Rebecca ternyata menyusul ke rumah itu untuk ketemu Jack. Terus, Jacknya bilang ke Rebecca kalau dia mau beberes dulu karena habis makan. Jadilah dia mencuci piring. Btw Rebecca itu nanti jadi istrinya si Jack ini. Nah, saat itu Rebecca ini kaget karena kok ada ya cowok yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga karena ayahnya Rebecca ini tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sementara bagi Jack sendiri mengerjakan pekerjaan rumah adalah hal yang biasa-biasa saja. Di sini terlihat kalau latar belakang keluarga yang berbeda membuat persepsi yang berbeda.

Trus, dari Jack juga saya belajar kalau bukan lingkungan kita yang menentukan kita, tapi kita sendiri. Jadi Jack mempunyai hubungan yang kurang baik dengan ayahnya karena ayahnya sering KDRT dengan ibunya jadi dia sangat benci dengan ayahnya. Tapi ketika dia menjadi seorang ayah, dia berjanji kalau dia tidak akan menjadi ayah seperti ayahnya. Dan benar ketika dia jadi ayah, dia adalah ayah yang hampir sempurna. Diceritakan juga kalau demi keluarganya dia rela mengubur mimpinya untuk membangun sebuah usaha meskipun dia tidak terlalu suka dengan pekerjaannya saat ini. Karena dia tau kalau besar risiko untuk membuka suatu usaha. Jadi, kayak tanggung jawab seorang ayah benar-benar ditunjukkan dari tokoh Jack ini. Nah, dari sini saya berpikir kalau latar belakang keluarga yang kurang baik belum tentu membentuk seseorang menjadi kurang baik juga. Bisa jadi dia mau mematahkan hal-hal yang tidak baik itu di kehidupannya. Jadi, ya tergantung masing-masing.

Satu lagi, sosok Jack Pearson dalam cerita ini adalah orang yang bisa membuat sesuatu yang berkesan dalam keluarganya, menciptakan tradisi-tradisi baru yang saking berkesannya sehingga diteruskan oleh anak-anaknya di keluarganya masing-masing. It is really interesting how Jack Pearson creating something special in the family which make the whole family think that they are special and extraordinary. Membuat tradisi thanksgiving, ulang tahun, nonton football, natal. Menarik sih wkwkw. Salah satunya yaitu tradisi thanksgiving, ketika mereka terjebak di tengah perjalanan menuju rumah ibunya Rebecca karena ban mobil mereka pecah. Terus mereka menginap di salah satu penginapan aneh tanpa makanan. Jadi, yang dilakukan oleh Jack adalah membeli cemilan seadanya dari sang pemilik penginapan dan membeli sebuah topi. Lalu, dia berperan menjadi tokoh Pilgrim Rick yang akhirnya menjadi ikon Thanksgiving keluarga ini dari tahun ke tahun hingga menurun ke anak-anak mereka. I can't explain it in detail, tapi bagaimana Jack bisa mengubah malam yang menyedihkan itu menjadi malam yang menyenangkan dan tentunya berkesan untuk keluarga mereka adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Only Jack can do it.

Oh iya, di balik semua kesempurnaannya, Jack is still human. Dia seorang alcohol addict karena sepertinya turunan dari ayahnya yang juga seorang alcohol addict. Akan tetapi, karena dia begitu sayang dengan keluarganya, he works so hard to stay sober. At the end of the day, Jack is a family man, dream dad.

Let's move to Rebecca,

You can see a lot of love in her, but also pain. Dalam filmnya, Rebecca ini menyimpan sebuah rahasia yang besar yang akhirnya terkuak 37 tahun kemudian. Di samping itu, Rebecca menjadi single mom karena Jacknya meninggal ceritanya. Rebecca jadi sosok yang penting dalam film ini, dan kita bisa belajar banyak dari Rebecca sebagai orang tua. And when I watched this film, I can think like oh ini loh ternyata sudut pandangnya orang tua, gitu wkwkkww Same as Jack, we can take a lot to learn from Rebecca, here we go. 

Jadi, Rebecca ini berasal dari keluarga yang cukup 'mampu', tapi dia berani untuk keluar dari zona nyamannya untuk bersama dengan Jack, yang bisa dibilang tidak berasal dari status sosial yang sama. Bisa dilihat ketika ayahnya si Rebecca ini mengajak Jack makan di sebuah restoran, Jack menyewa jas untuk dipakai ke acara tersebut. However, keputusan Rebecca ternyata tepat dan berakhir manis. Dia ternyata tidak melihat laki-laki hanya dari 'luar'nya saja, tapi bagaimana sikap dan tanggung jawabnya Jack won her heart wkwk

Terus, she can give up on things for her loved ones. Jadi, di ceritanya ini awalnya Rebecca ini ndak mau punya anak. Sebaliknya si Jack mau punya anak. Tapi, pada akhirnya Rebecca nya jadi mau dan terbukti ternyata setelah dia jadi ibu dia benar-benar menjadi ibu yang baik. Terus juga, setelah punya anak, dia memilih untuk tidak berkarir lagi. So, she chose the family as  her priority. That's her choice. But I am still amazed wkwk kenapa? karena mengurus 3 anak kembar tidak mudah hahahaa

The last one, you can see a lot of love, yet lots of pain. Dari Rebecca ini kita bisa lihat bagaimana sikapnya kepada ketiga anak kembarnya itu kadang-kadang di luar kontrol dia. Apa yang dia maksud, apa yang dia mau, apa yang dia lakukan, dan apa dampak dari apa yang dia lakukan kadang-kadang tidak mudah. Dalam film ini, bukan hanya Rebecca, tapi Jack juga, di satu sudut pandang kita melihat bahwa kadang-kadang mereka tidak berlaku adil ke anak-anaknya. Tapi, di sisi lain kita juga dikasih liat bahwa there is nothing they can do with it. Jadi, kayak dilematis lah begitu. Terus, being a single mom is not easy, ketika dia harus membesarkan anak-anaknya di usia-usia puber which is 17 tahun, belum lagi proses grieving mereka masing-masing. She kept a lot of things inside her :') and I think that's what mostly moms do.

I know this is not a good writing hahahaa dan mungkin ini kayak 0.01% dari Jack dalam film. Tapi pokoknya menarik sekali lah hahhahaa intinya Jack adalah dream Dad, rasanya semua orang mau punya bapak kayak Jack. Sayang istri, sayang anak-anak, baik hati, bertanggung jawab, tegas tapi tidak galak. He is the most favorite person in the family. Sayangnya, Jack harus meninggal ketika usia anak-anaknya 17 tahun yang berarti Jack tidak hadir dalam plot cerita dengan latar belakang waktu saat ini. Akan tetapi, semua kejadian yang berlangsung saat ini selalu berkaitan dengan Jack karena dalam 17 tahun kehidupan anak-anaknya, Jack meninggalkan kesan yang begitu kuat. Sebaliknya, Rebecca menjadi pemeran utama dalam film ini, dia terus baik di latar waktu masa lalu maupun masa sekarang. Mungkin tidak seperti Jack, Rebecca is not the most favorite person in the family. Banyak konflik antara anak-anaknya dengan Rebecca, however, at some point, we can see the pure heart of Rebecca, yang sedihnya selama ini anak-anaknya tidak melihat sisi itu sampai akhirnya mereka baru sadar ketika mereka dewasa.

That's Jack Pearson and Rebecca Pearson.

Sampai ketemu di [empat puluh enam]

Cheers,

Em 🙆