Wednesday, 22 June 2022

[lima puluh enam] a short note

Let's walk our own path for now, while hoping that one day we will have a quick stop at the same traffic light, spending time together while waiting on the green light to continue walking on our own path again, till the next traffic light, until no traffic light anymore.


..if that's okay..

Sunday, 8 May 2022

[lima puluh lima] ternyata kita belum

Terkadang kita kira kita sudah ramah, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka tidak peduli pada orang lain.

Terkadang kita kira kita sudah baik hati, ternyata kita belum. Kita mungkin masih berharap dibalas atas kebaikan itu.

Terkadang kita kira kita sudah tenang, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sering panik dalam menghadapi masalah.

Terkadang kita kira kita sudah sabar, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sering marah terhadap hal-hal kecil.

Terkadang kita kira kita sudah jujur, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka berbohong untuk hal-hal kecil, atau kepada diri sendiri.

Terkadang kita kira kita sudah rendah hati, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka menyombongkan hal-hal yang tidak perlu.

Terkadang kita kira kita sudah belajar banyak, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka sok tahu untuk hal-hal yang kita belum tau.

Terkadang kita kira kita sudah tidak egois, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka melakukan hal-hal yang menguntungkan diri sendiri tanpa memedulikan orang lain.

Terkadang kita kira kita sudah ikhlas, ternyata kita belum. Kita mungkin masih menyimpan dendam atau membawa beban-beban yang kita kira sudah kita lepaskan.

Terkadang kita kira kita sudah bijaksana, ternyata kita belum. Kita mungkin belum melihat dari sudut-sudut pandang yang lain.

Terkadang kita kira kita sudah tidak melekat, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sulit melepaskan hal-hal yang sebenarnya bukan milik kita yang sesungguhnya.


Beberapa dari sekian banyak nya 'terkadang kita kira kita sudah ...., ternyata kita belum' dalam hidup kita ini. Semuanya hanya asumsi kita, perkiraan kita bahwa kita sudah baik sempurna, tapi ternyata kita belum. Bukan berarti kita tidak sama sekali, tetapi kita belum sepenuhnya.

What we think we have become are sometimes just the trick of your mind, ego, and pride (kilesa). We are just tricked by our own mind. In fact, we will never be freed from all those things before we end this (endless) cycle of life.

Terkadang, ketika kita berpikir kita sudah, di saat itu jugalah kita harus memeriksa kembali, apakah kita benar-benar sudah atau mungkin saja itu cuma justifikasi diri, untuk merasa diri lebih baik dan bukan untuk menjadikan diri lebih baik. Just always look inside yourself (myself) all over again.


This is a note to myself.


*Gotcha, unintentionally, 2 posts in a row heheee*

See you at [lima puluh enam],

Cheers, and always be good,

Em 🙆


Saturday, 7 May 2022

[lima puluh empat] it is here and now

Hello again everyone, hope you all are doing very well...

happy belated birthday to me anyway hahahaaa 

I thought I could make it one post every month hahhaaa I was planning to make one on the last day of April, but couldn't make it wkwkwkw but it's okay, mungkin akan posting dua biji bulan ini hahaaa demi memenuhi target 1 post per bulan. Sebenarnya bukan target juga sih, cuma ya mungkin biar tiap bulan ada spare waktu buat menulis, because loadwork gets crazier hahaaa so yaa begitulah ya gesss..

Jadi, topik cerita-cerita hari ini sebenarnya adalah hal yang sudah familiar mungkin yaa, saya cukup yakin banyak dari kita yang sudah pernah dengar, atau sudah tau, begitupun dengan saya, tapi untuk mengaplikasikannya sepertinya sulit yaa hahaa

So, in my case, it always starts with anxiety attack coming from nowhere, but definitely in a hard situation, like in a very tiring, stressful situation. Contohnya kayak kerjaan yang banyak atau lagi deadline tapi banyak masalah menyertainya wwwkwk, atau yang paling sering ketika berada di kereta. Perjalanan yang panjang, banyak orang, capek, panas, kebingungan, menunggu, semuanya yang bisa bikin seperti panik, sesak napas. At that very very short moment, it was horrible. Tapi, selalu ingat untuk kembali ke saat ini dan di sini. One step at a time. Magically, it always works. 

Why panic? Karena pikirannya sudah ke mana-mana. Berpikir perjalanannya akan lama sekali mau cepat-cepat sampai, nanti di stasiun akan desak-desakan, cuaca panas sudah capek maunya langsung rebahan di ruang ber-AC. Pikiran-pikiran itu yang bikin panik, karena kenyataannya yang dialami saat itu adalah memang masih dalam perjalanan, belum bisa sampai di tujuan, belum bisa rebahan, gitu. Jadi, satu-satunya solusi memang mengembalikan pikiran ke situasi yang sedang di alami, here and now. Satu per satu, karena sekarang lagi di kereta (misalnya) ya nikmati saja perjalanannya, karena sesuatu yang ditunggu akan terasa lebih lama. Karena jika terus terbawa dengan pikiran-pikiran yang sulit tadi, maka detak jantung semakin tinggi jadinya semakin panik karena ingin buru-buru. Begitupun dengan pekerjaan, pikirkan saja apa yang bisa dikerjakan saat ini, adapun masalah-masalah yang muncul adalah sesuatu yang wajar karena saya sedang bekerja.

Not going to write for too long.

Tapi kadang-kadang hal-hal kecil seperti itu rasanya penting untuk di-note, diingat selalu. Banyak-banyak hal karena terjadi dan berubah begitu cepat dapat menimbulkan kepanikan-kepanikan kecil. Ketika kita belajar untuk kembali ke tempat ini dan saat ini, kita tau kalau kepanikan itu tidak akan membawa kita kemana-mana karena we cannot do anything about the future. And what we can really do is think about what we can do here and now, that's all that matters. By thinking and doing that way, it will make things much better.

So, I think that is for today and for this post. 

For myself, keep doing good things and keep practicing! I really need you to do this Em :)

All the best for you guys,

I'll see you at [lima puluh lima],

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 8 March 2022

[lima puluh tiga] hening pengganti bising

Terkadang, kita tidak selalu membutuhkan bising, karena tanpa disadari, kita juga butuh hening


Halo teman-teman semua, semoga sehat-sehat selalu yaaa hehee

Kali ini cuma mau sharing sedikit aja tentang apa yang dialami baru-baru saja wkwkwk mungkin sudah beberapa kali, tapi karena ini baru saja dilewati jadi mungkin paling ingat ya hahaaa

Jadi, kebiasaan saya itu suka mendengarkan musik, sambil kerja, sambil main game, sebelum tidur, biasanya spotify saya nyala terus tuh. Tidak selalu musik juga sih, biasanya podcasts juga atau youtube intinya selalu ada background sound dari aktivitas yang saya lakukan. Mungkin teman-teman lain juga punya kebiasaan yang sama ya hahaaa. Kemudian, hingga suatu hari saya sepertinya sudah capek dengan lagu-lagu itu hahaaaa mungkin bukan capek juga ya, tapi bosan, trus mau cari lagu yang lain juga kurang suka, pokoknya berada di kondisi yang bosan dan capek, tapi dengar lagu, nonton, ataupun main game itu sama sekali tidak membantu.

Kalau sudah seperti itu, maka saya selalu bilang sama diri saya 'sepertinya butuh meditasi ini', pokoknya kalau pikirannya sudah kacau, impulsif, dan tidak bisa dikontrol. Misalnya kalau lagi pengen makan ini itu dan berlangsung dalam beberapa hari maka itu tandanya sudah impulsif (parameter untuk saya wkwkw). Jadi, kalau sudah begitu tandanya sudah lama tidak latihan meditasi hahhaaa sejujurnya saya masih agak malas meditasi, tapi masih berusaha untuk giat sih, tapi ya begitulah 

Jadi, setelah hari itu, I took a day off to everything, kecuali pekerjaan ya. Jadi, no music, no films, no games, no social media. Instead, kerja (karena working days hahaa), meditating, reading books, sama tidur. Setelah itu, rasanya lebih baik.

Saya bilang begini bukan berarti saya bilang kita lebih baik tidak dengar musik ya atau tidak nonton film atau tidak main game. Nooo, bukan sama sekali. Pointnya adalah harus tau porsinya masing-masing. Mungkin kemarin-kemarin saya tidak berjeda, jadi habis kerja, main game, habis itu nonton, habis itu dengar lagu, begitu terus berhari-hari bahkan mungkin berbulan-bulan. Jadi ya memang jangan ditiru ya hahaaa what I really mean is kadang-kadang kita butuh hening, kalau bosan tidak selamanya bisa hilang dengan hiburan. Kadang-kadang cukup duduk diam, amati diri kita, sekitar kita. Seperti kita sudah terlalu lama lari, kita sudah tidak lihat lagi apa yang sudah kita lewati, kita tidak lihat lagi tangan kita, kaki kita, tubuh kita ini seperti apa. Jadi kita butuh berhenti sejenak untuk melihat. Kira-kira begitu.

Meskipun kemungkinan besar 'kebodohan' saya ini bisa terulang lagi ke depannya (kalau lengah kan hahaaa), tapi setidaknya ini jadi pelajaran dan jadi referensi lah kira-kira, bahwa memang berhenti itu perlu, hening itu kadang-kadang kita butuhkan sekali. Hidup ini sudah bising sekali, sosial media, pekerjaan, hiburan tidak habis-habisnya. Tubuh dan pikiran ini butuh istirahat juga, butuh diam, butuh untuk put everything to places. Kalau bagi saya pribadi, dengan meditasi. Kalau untuk teman-teman mungkin ada cara lain untuk ber-'hening'.

Intinya begitulah wkwkk biasanya kita (saya) tidak sadar dan lupa bahwa in order to be content, itu tidak selalu dengan hal-hal eksternal, ternyata itu tidak begitu penting, yang penting itu internal ini, kondisi tubuh, hati, pikiran, yang harus juga diistirahatkan dan dijaga. 

Ternyata berhening itu juga kebutuhan.

Begitu aja yaa obrolan iseng kali ini, kalau ada ide menarik lain baru dishare lagi kkww

Semoga sehat selalu, aman sentosa,

Sampai ketemu di [lima puluh empat],

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 16 February 2022

[lima puluh dua] another step (2)

 ... towards another traffic light.


Hallo semuaaaa hahaaa setelah sekian lama baru ngepost lagi wkwkw

Awalnya mau buat another step (1) pas viva trus another step (2) pas wisuda terus bikin lagi mungkin another step (3) pas apaa gitu hahaaaa sok-sokan betuuuul sodaraa-sodaraa! Tau-taunya buntu ndak tau apa mau ditulis hahahaa waktu wisuda ndak kepikiran mau nulis apa, pas pulang apalagi, bingung cuma nulis sedikit yang diposting sebelumnya hahahaaa

Ya begitulah namanya juga rencana yah hahaaa I dont think I am a good writer, I am not even a writer, I mean I just write when I want to hahaa jadi maklumlah yaa daripada dipaksa baru nda bagus hasilnya khaan hehee

Okay, so hari ini memutuskan menulis tentang kehidupan yang baru saja setelah selesai kuliah, hitung-hitung juga another new step wkwkwk

Setelah leha-leha sekitar sebulan, sekarang waktunya masuk kerja hahaa

So here I am, menjalani rutinitas baru yang kupikir harusnya betah yaa hahaa I always think dari dulu sampai sekarang, office working is kinda job that I will enjoy. But, we dont know if we dont try. So, finger crossed! Semoga betah di pekerjaan yang sekarang wkwkw

But, talking about dream job, this is actually what I wish for. Working in a company that I want since I was in the university. Trus jenis pekerjaannya juga lumayan challenging dan in line dengan yang sudah dipelajari selama ini. Selain itu, bisa kerja dengan rutinitas tertentu juga sepertinya jadi sesuatu yang saya pikir cocok untuk saya. Harapannya tentu selain bisa bekerja, juga bisa belajar dan berdaya, dan punya waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang saya senangi. That's it, sudah cukup senang saya hahaaa

Anyway, taking things aside, this is another step towards another traffic light. Entah siapa yang akan ditemui di sepanjang jalan ini sampai lampu merah berikutnya. Sebuah analogi yang menurut saya sangat bagus dan ini yang saya ingat sampai sekarang. Hidup itu kayak kita berhenti di lampu merah. Orang-orang yang kita temui bisa jadi akan mengambil arah yang sama tapi bisa juga berbeda. Pada akhirnya kita akan menjalani jalan kita masing-masing entah ada orang yang sejalan ataupun tidak. Dan kehidupan ini sebentar layaknya berhenti di lampu merah. Jadi, begitulah I am trying to see every step that I need to take as another traffic light stop, kita bertemu, kita berpisah, waktunya singkat, so use it wisely.

Gitulah yaaa, ndada banget isinya postingan ini hahaaa

Intinya apapun yg kita jalani semoga bisa dijalani dengan hati yang senang dan ikhlas, semoga selalu ada kebaikan-kebaikan di dalamnya. 

Semangat guysss, maybe another step (3) akan ada tapi ndatau kapan jadi mungkin pakai judul lain lebih bagus ya hahaha jadi beban juga ya klo ada nomer-nomernya wkwkw

All the best.

Sampai ketemu di [lima puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆 (ini kagak ada versi ceweknya yaa hmmm) 


Sunday, 9 January 2022

[lima puluh satu] hidup susah itu enak juga!

karena pelaut hebat tak pernah lahir dari laut yang tenang

-hivi! - jatuh, bangkit kembali!-


Hello semua, glad to meet you all again kwkwkwk 

So, jujurly (elaaah -_- wkwk), topik ini sudah lama bertengger di draft tapi sekarang ternyata baru bisa dirampungkan heheee biasalaaahhh..

Recalling my childhood, I finally realize that I am really grateful for the hardships that I had (of course not all are hardships yee banyak juga senang2nya hahaaa) during that time. Hardships itu maksudnya kayak tidak semua hal yang saya inginkan pada waktu kecil itu dapat diperoleh dengan mudah, bahkan untuk beberapa hal tidak bisa didapatkan sama sekali karena berbagai keterbatasan. Not to blame anyone, apalagi orangtua, tidak. Tapi semua orang pasti punya keterbatasan mungkin aspeknya saja yang berbeda, dan waktu saya kecil, keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki orang tua membuat kita, saya, anak-anaknya, harus belajar beberapa hal penting yang pada akhirnya, ketika sudah besar sekarang, menyadari kalau itu ternyata berguna untuk menjalani kehidupan yang fana ini wkwkww

Falling down always causes more pain that flying high. (((of kors)))

Iya, jadi begitu yaa wkwkk jika dilihat dari satu sisi mungkin saya kurang beruntung karena waktu saya kecil, orang tua masih merintis juga, jadi banyak keterbatasan gitu, tapi kebutuhan primernya cukup. Bahkan, banyak pengalaman2 kayak waktu sekolah sampai kuliah itu saya sempat kerja sambilan jadi lumayan dapat duit. Dan dari situ saya banyak belajar kalau mau dapat sesuatu itu harus usaha dulu, cari duit itu tidak gampang. Klise memang, tapi begitu memang kenyataannya. Hal-hal kecil remeh temeh, bahkan misalnya se remeh cuci piring sendiri sesudah makan, itu bisa jadi sesuatu loh ketika kita besar, apalagi ketika tinggal jauh dari orang tua. Dulu, di rumah pun fasilitas tidak mewah, secukupnya saja, jadi bisa dibilang sudah terbiasa dengan kondisi hidup apapun. 

Tidak bermaksud mengatakan bahwa semua orang kecilnya harus susah. Atau kalau waktu kecil hidup nyaman itu salah, tidak. Baguslah kalau dari kecil sudah hidup nyaman, harus bersyukur itu hahahaa tapi, kalau misalnya hidup kita sekarang ataupun dulu masih banyak keterbatasannya, maka rasa syukur itu mestinya tetap selalu dihadirkan. 

Saya bisa bayangkan mungkin kalau usaha-usaha dan kerja-kerja yang kecil receh remeh dan temeh itu tidak saya lakukan, maka ketika saya besar sekarang mungkin lebih banyak kesulitan yang saya lalui. Mungkin saya tidak bisa hidup merantau, mungkin saya tidak berani kemana-mana sendiri, mungkin saya tidak bisa mengurus diri saya sendiri.

Karena, seperti bahasa asing yang di tengah itu, selalu, selalu, dan selalu lebih mudah berpindah dari hidup susah ke hidup nyaman daripada dari hidup nyaman ke hidup susah apalagi kalau dari dulu tidak pernah susah. Selalu lebih mudah beradaptasi ke tempat yang lebih enak daripada ke tempat yang lebih sulit. 

Jadi, what I want to say here, is kalau sekarang ataupun dulunya ada yang hidupnya masih banyak keterbatasan, masih harus usaha sendiri, tidak usah disesali atau tidak usah merutuki nasib, harusnya disyukuri, bersyukur diberi kesempatan belajar hal-hal yang tidak semua orang bisa alami di kehidupannya. Everything happened for a reason, ambil pelajarannya, jangan sia-siakan kesempatannya. Itulah kenapa judul kali ini adalah hidup susah itu enak juga, karena ternyata di balik kesusahan itu, banyak hal-hal hebat yang bisa kita pelajari yang bisa membuat hidup kita tidak susah lagi ataupun bisa membuat kita baik-baik saja dalam kondisi apapun, susah ataupun senang. Dan juga, kalau dulu atau sekarang hidupnya sudah nyaman, harus lebih bersyukur lagi, tapi harus ekstra waspada dan bersiap supaya jika suatu saat (jangan sampai) dihadapkan pada kondisi sulit yang kita tidak pernah alami sebelumnya, kita siap dan mampu menghadapinya. Karena sebenarnya, hidup dalam kondisi apapun, selalu bisa belajar untuk bersiap menghadapi kondisi apapun, bukan begitu?

Inti dari segala inti, tidak ada hidup yang sempurna (sempurna susahnya ataupun sempurna senangnya), jadi apapun kesusahan yang dimiliki saat ini, sekecil apapun, lihatlah sebagai suatu kesempatan untuk belajar, memperoleh suatu hal yang langka yang mungkin tidak semua orang alami.

Jadi begitu deh ya ngalor ngidul (baru tau ternyata ini artinya ke utara dan ke selatan dalam bahasa jawa hahhahaaa), semoga ada faedahnya

Sampai jumpa di [lima puluh dua]

Btw, selamat tahun baru 2022!!!!

Cheers,

Em 🙆


Wednesday, 22 December 2021

[lima puluh] Objektif sampai di mana?

Bukankah objektivitas adalah sekumpulan subjektivitas yang sejenis?


Draft ini sudah lama mendekam di list postingan tapi tidak pernah dieksekusi heheee entah kenapa, ide nya ada, tapi sepertinya belum mantap wkwkwk

Anyway, sapa-sapa dululah, apa kabar teman-teman? Semoga sehat selalu ya, physically and mentally pastinya. 

Setelah dipikir-pikir, mungkin beberapa tulisan membutuhkan ide yang matang terlebih dahulu lalu ditulis. Tapi mungkin ada juga yang ditulis dulu supaya menjadi mantap hehehe so I will take the latter for this one. 

Bicara tentang objektif-subjektif, sebenarnya ini masalah sudut pandang ya. Karena saya tidak ada kajian literasi, hanya berdasarkan apa yang saya lihat dan saya alami, so this one will just be a general insight and information, bukan teori ataupun sesuatu yang mutlak kebenarannya. 

Pertanyaan dari judul ini sebenarnya muncul karena saya berpikir sebenarnya objektif itu seperti apa, apakah ada penilaian atau pandangan yang objektif sepenuhnya? Ketika seseorang menilai orang lain, bagaimanakah penilaian yang objektif itu?

Kalau subjektif kan kita tahu merupakan pandangan atau opini pribadi. Biasa juga diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak general, tidak untuk semua orang atau tidak adil. Contohnya, di suatu kontes nyanyi, seorang juri memberi penilaian yang tinggi karena pesertanya good looking misalnya. Padahal sebenarnya yang harus dinilai kan, kualitas suaranya. Nah, pertanyaan berikutnya suara yang bagus itu seperti apa sih? Hm, mungkin yang nadanya tepat, artikulasi lirik bagus, dan seterusnya (saya gak tahu saya bukan penyanyi hahahaa).

Ya kurang lebih seperti itu,

Saya mengkaji dengan bertanya ke diri saya seperti itu. Kemudian, apa kesimpulan yang saya dapat?

Saya lalu berpikir, oh mungkin objektivitas itu didasarkan pada beberapa poin, di antaranya mungkin adalah sasaran/target/tempat yang tepat, terukur dan ada standar umum yang disetujui bersama. Jadi, misalnya dari contoh tadi, objektivitas itu ketika menilai berdasarkan apa yang harus dinilai dan mengabaikan faktor lain. Jadi, kalau lomba nyanyi ya suaranya yang dinilai. Kalau ujian ya hasil kerja nya yang dinilai. Tidak memasukkan faktor-faktor kepentingan atau sentimen pribadi. Kemudian, sesuatu yang terukur sehingga menjadi standar. Misalnya suara bagus kalau nada nya tepat, nah nada yang tepat kan bisa diukur ya, bunyinya bisa diukur melalui instrumen musik dan seterusnya. Nah, untuk bagian yang disetujui bersama, di situlah saya rasa ada part subjektivitasnya. Karena pandangan orang sama, maka terbentuklah sebuah pandangan objektif.

Nah selanjutnya, 

Apakah penilaian itu bisa sepenuhnya objektif? Menurut saya, at some point, ketika penilaian objektif sudah dilakukan dan tidak menemukan kesimpupan akhir, maka di situlah subjektivitas bekerja. Misalnya, dari 2 kandidat hanya akan dipilih 1 orang. Secara kualitas mungkin keduanya sama, tapi mungkin salah satu nya punya hal lain yang disukai oleh penilai maka dialah yang terpilih. Jadi, menurut saya di waktu tertentu memang tidak mungkin untuk memberi penilaian secara objektif sepenuhnya, selain itu background orang dalam menilai pun beda-beda. So maybe everyone just try to be as close as possible to the fairness. 

Itu saja kira-kira, tidak ada kesimpulannya ini gaes wkwkwk mon maap yak heheee. Hanya ingin menyampaikan apa yang ada di dalam kepala saja.

Sekian dulu ya. Semoga ada faedahnya :)

Sampai ketemu di [lima puluh satu],

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️




Monday, 20 December 2021

[empat puluh sembilan] see you when I see you again, Belfast!

After 2 years and a half, it's finally time to go home. Honestly, I never expect that it will be this sad, really. I would say I've been through a lot of come and go in this life. And I can even say I've gone through the hardest one, losing my loved ones. And that's why it comes to me that there would never be something as sad as those things. However, here I am, really sad of leaving Belfast with all the memories there. 

Ya jadi begitulah,

Setelah melihat-lihat kembali, wah kok ini levelnya sudah mirip kedukaan yah hahaaa ya mungkin masih 1 2 level di bawahnya. Tapi, getting your tears down on airplane adalah sesuatu buat saya wkkkww atau waktu liat postingan terus berkacaa-kaca hhhaa sepertinya baru kali ini. Anyway, hal yang mirip pernah juga terjadi waktu saya selesai KKN beberapa tahun lalu. Saya pun sepertinya menyadari kalau living together with someone you never or barely know before can bring some kind of attachment of you to them. Waktu KKN, saya tinggal dengan 9 teman yang sebelumnya tidak pernah saya kenal selama 2 bulan. Dan pada akhir masa KKN itu, rasanya memang sedih sekali. A key point that I think made me feeling so sad is because I don't know if I will ever experience the same thing again in the future. KKN tidak dua kali, kalau ke Belfast? Who knows, tapi kecil kemungkinan bisa ke sana lagi. S2 juga tidak dua kali yaa wkkwkw So, mungkin begitu ya. Really, it was so so sad at that/this moment.

One thing, special mention for Kak Qoni, my room mate. Apa-apa selalu sama-sama. I think you are the most reason that made this leaving day so difficult. Apalagi 1 tahun terakhir yang betul-betul sama-sama setiap hari. Those things that I might never experience again. Thank you for everything Kak, I know you'll be just fine, same as me. We'll be okay and let's see each other again in the future :)

Take things aside, I realise that attachment is really human's weakness. Masih melekat. That's why it's so sad when you need to let something go, apalagi kalau banyak memori indah di situ. It's okay, the process is on going, things are still improving.

All in all, thank you Belfast, you are not only a place now, you're home. 

I'll see you when I see you again :)

Hope to come back one day.


Sampai ketemu di [lima puluh]

Cheers,

at quarantine, Em 🙆