Friday, 12 March 2021

[tiga puluh delapan] totem pro parte, pars pro toto

Semua untuk satu, satu untuk semua

-(kayak) jargon tipi wkwk-

 

Demikianlah kiranya yang cukup sering kita dengar, bahkan kita lakukan. Sadar tidak sadar, tapi ya memang demikian. Agak bias ya judulnya hahahaa.. Anyway, sebelum lanjut, seperti biasa, semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, tenteram dan bahagia ya

Alright, 

Secara sadar atau tidak sadar, kita sering melakukan salah satu diantara keduanya ini (bahkan kedua-duanya), yaitu menjadikan sesuatu (satu) hal sebagai patokan atau mewakili semuanyaa dan/atau menjadikan sesuatu yang umum ke satu hal tertentu alias men-general-kan alias memukul rata. Agak ribet ye wkwkkw

Contohnyaaa biar kagak pusing kita hahaha

Contoh paling gampang mungkin kalau kita ketemu seseorang, karena ini yang sering kita temui sehari-hari bertemu orang yang berbeda-beda. Nah, misalnya kita ketemu seseorang dari negara tertentu, (kalau sebut suku atau negaranya nanti dibilang rasis hahahaa), dia adalah orang pertama dari negara tersebut yang kita temui, sebelumnya kita belum pernah ketemu orang negara tersebut. Ternyata, orang itu pelit. Berangkat dari pertemuan itu, saat lain waktu kita bertemu orang dari negara yang sama, seperti sudah terpatri di otak kita 'wah pelit ni pasti' wkwkwk itu untuk yang satu untuk semua.. Padahal ya belum tentu orang itu pelit juga khaan hahhaaa

Kalau yang semua untuk satu itu misalnya gini, kita ketemu seseorang dari negara Indonesia, karena saya juga dari Indonesia, maka di pikiran saya, pasti bisa bahasa Indonesia dong, karena semua orang Indonesia harusnya dan pastinya tau bahasa Indonesia. Tapi ternyata, orang itu ga bisa bahasa Indonesia dong, meskipun dia orang Indonesia, KTP Indonesia. Hm, okaii..

Saya sendiri sering sekali seperti itu, men-general-kan semua orang karena satu orang dan menganggap satu orang itu sama dengan semua orang lainnya. Dari kejadian-kejadian kecil itu, saya jadi berpikir bahwa sebenarnya pikiran kita sendiri yang  membentuk citra orang lain, bukannya orang tersebut. Kita sendiri yang sok tau menjudge setiap orang dari hal-hal yang kita alami sebelumnya, Padahal, setiap orang itu berbeda, setiap perjumpaan atau setiap hal yang kita alami, meskipun identik, tapi tidak sepenuhnya sama dan tidak semestinya kita menghakimi duluan sebelum benar-benar mengalaminya. Kenapa begitu? Soalnya, tidak jarang sikap kita itu ditentukan oleh apa yang sudah kita judge kepada orang lain. Misalnya, ke orang yang kita sangka pelit itu, orangnya belum ngapa-ngapain kita sudah tidak ramah karena di otak kita dia ni pelit nii, malas aku. Padahal kan ya belum tentu juga wkwkkwwk

Jadi gitu ya, 

Gak panjang-panjang lah kali ini, hanya sebagai pengingat buat saya saja, biar ingat dan belajar untuk tidak menentukan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, biar gak kaget juga hahhaaa

Jadi benar kata orang bahwa don't judge the book by its cover, mungkin saja dari 10 cover yang ilustrasinya jelek, 8 ceritanya tidak menarik, 2 ceritanya menarik. Kasian yang 2 buku ini, kasian juga kitanya yang tidak membaca cerita yang bagus hanya karena kita sudah misjudge dari covernya.

Meskipun menarik tidaknya suatu buku juga relatif ya (eh gimana)

Ya udah ya wkwkkw

Sampai ketemu di [tiga puluh sembilan]

Stay safe!

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 28 February 2021

[tiga puluh tujuh] it is what it is

Hello everyone,

Semoga semua selalu dalam keadaan sehat ya, entah kapan pandemi ini berakhir, dan rasanya semakin ke sini semakin banyak kenalan atau keluarga yang sudah terinfeksi covid. Yaaahhh, begitulah, hidup tidak bisa diprediksi, intinya semoga semua dalam keadaan yang baik dan sehat. 

It seems like it has been a very looooongg time and yet I don't know what to write here hahaa I really want to write about this thing, but just don't know to make it up into a good writing. So, whatever, just try wkwkkw

Sejujurnya, covid memberi pelajaran besar bagi kita manusia. Mungkin, sebenarnya dari printilan-printilan kecil dalam hidup kita pun kita dapat mengambil pelajaran yang sama, tetapi karena dampaknya yang tidak 'begitu' terasa, kita kerapkali abai *baku banget bu kek kanebo kering wkwkkw Iya, kita jadi sering bodo amat gitu, tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan apa yang sebenarnya mestinya bisa kita ambil menjadi pelajaran. 

Pertanyaannya adalah, pelajaran apakah itu???

Mungkin berbeda tiap orang, tapi kalau untuk saya pribadi, mungkin pernah saya bahas di postingan sebelumnya tentang covid mengajarkan kita tentang ketidakpastian hidup, tapi selain itu, bagi saya, covid juga mengajak saya untuk melihat sesuatu sebagaimana mestinya. To see everything as it is, yang menurut saya pribadi, bisa menolong dalam berbagai situasi yang sedang saya hadapi. 

Cobalah sesekali, lihat lah apa yang kita rasakan sebagaimana adanya. Dalam kasus ini, bedakan lihat dan bereaksi. Ketika kita melihat, kita tidak bereaksi apa-apa, kita hanya benar-benar melihat, karena apa reaksi kita adalah tahap selanjutnya. Yang kadang kita lakukan adalah melewatkan step melihat ini dan langsung bereaksi saat itu juga. Padahal, tanpa kita sadari, proses melihat yang sebenar-benarnya ini berkontribusi besaar sekaliiii dalam menentukan apa reaksi kita.

Contoh, saat kita sedang marah, coba jangan dulu nyerocos atau ngomel wkwkkw, coba kita lihat, apa yang kita rasakan saat kita sedang marah atau ketika kita mulai akan marah, misalnya kepala kita jadi panas? otak kita langsung mau ngomel? jadi sesak? apalagi ya? beda-beda tiap orang, tapi kita pasti tau bagaimana kalau kita sedang marah. Sama seperti kita mau nangis, mungkin hidung kita mulai cekit-cekit (hahhaa bahasa apa ini), pipi rasanya panas, mata memerah. Atau ketika kita lagi stres, nah ini mungkin lebih sering kita alami, kita jadi tidak nafsu makan, malas gerak, tidak mau melakukan apa-apa, dan lain-lainnya.

Intinya semacam itu, kita amati apa yang kita alami. Nah, apa pentingnya?

Kalau dari yang saya alami, dengan mengamati, saya jadi bisa punya glosarium tersendiri untuk diri saya, jadi saya tau betul saya sedang kenapa. Terus kenapa? Saya jadi bisa lebih mengontrol, tidak begitu terlarut, bisa memutuskan reaksi apa yang harus saya lakukan dengan lebih baik. Tidak ma'garambang (alias tidak sembrono wkwkw). 

Biasanya misalnya ketika sedang mengamati kalau kita lagi marah, kita tidak jadi mengomel, marahnya nanti redam sendiri setelah diamati, takut dia mungkin wkkwkw bcanda sis, setidaknya, kita (saya) bisa jadi lebih tenang dan mengontrol semuanya.

Apakah selalu demikian? Tentuuuuu tidak wkwkk Kadang-kadang lolos juga sih, tapi setidaknya tidak selalu atau tidak sering-sering dan bisa cepat sadar, oh lupa ni mengamati ni, gitu wkwkkw

Lebih dari itu lagi, ada lagi tahapan setelah mengamati itu menelisik, baru bereaksi, jadi tahapannya nambah lagi, cuma mungkin lain kali lah ya di tulisan berikutnya, biar saya mikir dulu kata-kata yang benarnya (apa pernah kali ya dibahas sebelumnya wkwk). Jadi semakin banyak tahap yang kita lalui sebelum bereaksi, semakin matang reaksi yang kita berikan which is semakin besar kemungkinan salah dan merugikan orang lainnya. 

Another question, apakah kalau kita mengamati berarti kita akan tinggal dalam kondisi itu? Kalau menurut saya, tidak.

Misalnya, kita sedang stres, apakah dengan hanya mengamati, oh saya lagi stres, kita akan tetap tinggal di sana? Kalau saya, tidak demikian. Dengan mengamati benar-benar, kita paham dan kita menerima, tapi bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa untuk move on dari stres tersebut. Yang ada adalah kita menghadapi, bukan lari. Kita lihat lekat-lekat, benar-benar, apa yang kita alami. Tapi, dalam diri, jauh di dalam hati kita ada semangat untuk kita move on. Kenapa? Karena kita tahu, kita sadar, apa yang kita alami, kita tau kalau kita sekarang sedang stres, kita juga tau  kalau kita terus-terus begini maka tidak bagus juga karena aktivitas kita terganggu, baik itu aktivitas fisik maupun biologis tubuh kita. Ketika kita mengamati, nalar kita berjalan, kita lihat dan tau apa kondisi kita sekarang. Saya tidak mengatakan bahwa kondisi stres adalah kondisi yang salah atau kondisi yang tidak semestinya, karena stres itu sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi. Stres, marah, sedih, senang, gembira, excited, lelah itu semua hal yang sangat manusiawi dan wajar, namanya juga kehidupan pasti adalah masalahnya. Tapi, berlarut-larut dalam kondisi stres juga bukan sesuatu yang sehat. Jadi, menurut saya semua hal-hal di atas itu (melihat apa yang kita alami dan move on dari yang kita alami) akan terintegrasi ketika kita melihat baik-baik apa yang kita alami. 

Next, bagaimana kalau kita sudah berusaha keluar dari stres tapi kita masih stres?

Sama, amati kembali, oh berarti usaha saya masih belum bisa ya, ya sudah, tidak apa-apa setidaknya sudah berusaha. Amati kembali, oh saya masih begini, saya masih begitu. Tidak apa-apa ya, besok kita usaha lagi. Semua berubah, begitu juga dengan stres ini pasti nanti berakhir. Terima saja, atau bahasa lainnya telan saja hahahaaa Tapi, memang begitu, setelah itu kita pasti tau apa ya kira-kira yang bisa kita lakukan, biasanya sih, kalau kita sudah bisa menerima otomatis kita sudah terlepas dengan sendirinya. Bagaimana ya membahasakannya hahhahaa

Jadi, coba belajar melihat sesuatu sebagaimana mestinya, lihat lah marah sebagai marah, dia hanya sebuah ekspresi, sebuah perasaan. Stres pun demikian, itu kondisi tubuh, kondisi pikiran. Tidak perlu terlalu ditindaklanjuti, atau diberikan reaksi yang terlalu berlebihan karena nanti efeknya jadi panjang. Santai saja, pelan-pelan. Amati, lihat, kenali, sadari. Begitu saja. 

Oke guys? Cukup panjang sudah ini hahahahaa

Semoga bisa dipahami oleh nalar dan bisa bermanfaat yaaaah. Sekali lagi, ini opini dan pengalaman pribadi, masing-masing orang bisa beda. Kita hanya perlu mengenali diri kita sendiri :)

Sehat-sehat selalu teman-teman.

Sampai ketemu di [tiga puluh delapan],

Cheers,

Em 🙆

Friday, 1 January 2021

[tiga puluh enam] 2021 yang penuh harapan!

Selamat tahun baru!!!

Halo semuanyaa, tak terasa kita sudah memasuki tahun yang baru yaitu tahun 2021, dekade yang baru juga. Rasanya turbo sekali yaa hahhaaa banyak yang bilang seperti setelah Maret langsung lompat ke Desember wkkwkw

Hari ini cuma mau ngebacot tentang apa yang kira-kira bisa disimak dan diambil pelajarannya dari tahun 2020 yang begitu berkesan bagi semua makhluk dunia, benar-benar satu dunia. Kinda reflection maybe heheheee

Jujur saja, bagi saya pribadi, 2020 benar-benar mengajarkan kita banyak hal, membukakan mata kita untuk hal-hal yang tidak kita sadari sebelumnya.

2020 mengajarkan tentang ritme. Bahwa ada kalanya kita berlari kencang, ada kalanya kita berjalan. Bahwa ada kalanya kita menginjak gas yang cukup dalam, ada kalanya kita harus mengerem. Bahwa ada kalanya kita terbang melaju, ada kalanya kita berpijak. Ada kalanya kita perlu berhenti. Walau sejenak. Secara drastis, hidup kita berubah di tahun 2020, hampir 180 derajat. Yas, gara-gara virus Corona, Covid-19. Menurut saya, di tahun 2020, kita benar-benar diajak untuk berhenti, beristirahat sejenak sehingga kita bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kehidupan ini.

2020 mengajarkan tentang kemanusiaan. Manusia hidup untuk manusia lainnya. Saat pandemi terjadi yang menghantam rata semua negara di dunia. Tidak mungkin lagi untuk mengkotak-kotakkan satu negara dengan lainnya. Kita jadi membantu untuk alasan kemanusiaan. Covid menyerang tanpa pandang bulu dan itu yang membuat kita melihat bahwa di atas segalanya, we are just human. Di sini juga, orang tergerak untuk saling membantu, karena semua orang kesusahan, kalangan atas, menengah, bawah, semuanya. This is about humanity. Kita diajak untuk tidak lupa memanusiakan manusia, memelihara kedermawanan dan kemurahan hati, membangkitkan kembali gotong royong yang menjadi identitas kita Indonesia.

2020 mengajarkan tentang kesehatan. Harta berlimpah tapi jatuh sakit juga menjadi tidak berguna. Mungkin karena zaman sudah begitu berkembang. Teknologi begitu canggih. Kita kadang-kadang lupa dengan kehidupan yang semestinya. Gaya hidup yang tidak sehat mungkin dijalankan oleh kebanyakan orang. Karena covid kita diajak kembali untuk hidup lebih sehat, hidup lebih bersih, hidup lebih baik. Kita diajak kembali bahwa olahraga itu penting, makanan sehat dan bersih itu penting. Tanpa kesehatan yang prima, kita bukan apa-apa.

2020 mengajarkan tentang alam. Suatu pencapaian yang luar biasa ketika kualitas udara di kota-kota besar menjadi jauh lebih baik karena lockdown atau PSBB (di Indonesia). Mungkin, Bumi kita sudah cukup lelah selama ini. Dan di tahun 2020 ini, kita memberi kesempatan bagi alam untuk recovery kembali. Mungkin kita sudah terlalu banyak mengeksploitasi alam, maka dari itu, kita diajak untuk lebih peduli dengan alam, karena sudah semestinya kita hidup selaras karena kita saling membutuhkan untuk hidup.

2020 mengajarkan tentang waktu. Seperti yang saya katakan di awal, tahun 2020 terasa begitu cepat. Tapi, hari-hari yang kita lewati rasanya begitu lambat. Di sisi lain, banyak yang melihat 'waktu' dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Orang-orang jadi lebih menghargai waktu dengan orang-orang yang dikasihi, keluarga, teman, sahabat, dll. Ketika kita berlari terlalu kencang kadang-kadang kita lupa dengan sekitar. Dengan berhenti sejenak, kita jadi punya waktu untuk melihat bahwa banyak hal berharga yang ada di sekitar, hanya kadang-kadang kita lupa.

Terakhir,

2020 mengajarkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Banyak berita kehilangan. Banyak sekali. Yang saya lihat di sini adalah bahwa kita ini begitu rapuh dan rentan. Kita tidak punya kendali sama sekali dengan apa yang akan terjadi. I don't know how to explain this, tapi di sini saya benar-benar belajar bahwa kita harus belajar menerima apapun yang terjadi, dengan hati yang besar, lapang dan ikhlas. Karena, at the end of the day, we have no power on what will happen. Dengan menerima, kita bisa jadi lebih waras dan berdamai dalam menghadapi kondisi apapun. Atau dengan kata lain, kita dilatih menjadi lebih adaptif dengan perubahan. Dengan menerima, kita bisa menerima perubahan, tidak denial, tidak tersiksa, pun juga tidak lengah.

2020 was tough and challenging, but, it is what it is. I thank 2020 for all the valuable lessons. 2020 is history in human life. Not too bad tough, karena di balik banyaknya tantangan di tahun ini, tentu banyak juga kan ya hal-hal positif dan menyenangkan yang bisa kita alami. Seperti, punya waktu lebih banyak dengan keluarga, bisa punya waktu istirahat lebih banyak, bisa melatih kreativitas, bisa tau yang namanya Zoom meeting! Hahahaaaa

Untuk 2021, tentu kita semua berharap bisa jauh lebih baik dari 2020 hahaaa of course! Semoga semua bisa menjadi normal kembali, semua diberikan kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan dan semua hal-hal yang baik.

Tapi,

Ada satu hal yang menurut saya lebih penting. Dengan banyaknya pelajaran hidup yang kita peroleh selama 2020, semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Whatever 2021 will bring, hopefully we are able to accept it wholeheartedly. Apapun yang terjadi di 2021, baik dan buruknya, kita sudah belajar di 2020 bahwa inilah realitas kehidupan yang harus diterima. Kan sudah belajar, ya gak? WKWKWKW 

Semoga bisa menjadi lebih damai dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Tak lupa, an act of kindness means a lot dalam situasi seperti ini. So, tetap jangan lupa berbuat baik!

Hmm, this writing is not very good I think hahahaa cause it feels like I can't find the right words to express what I really feel and think. But, this is what I got, secara garis besar seperti ini. Semoga bacotan saya ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua yaaks wkwkwk

Happy new year guys! Wishing everyone a better 2021! Bring it on! Keep going! *tiupterompeeet*


Sampai ketemu di [tiga puluh tujuh]

Cheers,

Em 🙆

Monday, 30 November 2020

[tiga puluh lima] Repot!

Repot! Repot! 

Kenapa orang tidak ingin direpotkan? Kenapa hayoo? Wkwkwk apakah kalian juga tidak mau direpotkan?

Hahaaa mungkin akan jadi postingan yang cukup kontroversial, mungkin bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk saya nanti mungkin 5 atau 10 tahun kemudian kalau saya baca lagi, mungkin saya akan pikir dasar anak ingusan belum tau susahnya hidup! Hhahaa mungkin demikian, tapi mungkin juga tidak, mungkin saya tetap memiliki pemikiran yang sama dan cukup senang bisa menulis ini saat ini. Who knows, and who cares?

Anyway, semakin ke sini, banyak hal yang terjadi yang membuat saya jadi berpikir sendiri, kenapa kadang-kadang kita sulit untuk mengeluarkan energi lebih untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, padahal kita sebenarnya mampu? Kenapa kita selalu membawa nama 'repot'?

Mungkin iya, kalau kita sedang sibuk, kita bisa menolak, atau  menawarkan di lain waktu. Tapi kadang kala kita tidak benar-benar sibuk, bukan begitu? Kadang kala kita melihat diri kita sibuk tapi sebenarnya tidak sedemikian kok.

Mungkin hanya saya yang berpikir seperti ini. This is also notetomyself, to think more, to find the answer, or maybe it has no answer. Who knows?

Tapi ya, begitulah. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya. Kenapa? Mungkin ada yang tau jawabannya?


Sampai ketemu di [tiga puluh enam],

Cheers,

Em 🙆

Thursday, 15 October 2020

[tiga puluh empat] the overrated mental health issues

disclaimer: tulisan ini bukan berarti menganggap remeh isu mental health yang sangat penting untuk kita sebagai manusia, selain itu, ini hanya semata-mata opini saya pribadi. Terima kasih :)

Halo.. haloo.. semuanyaaaa..

Yap, mungkin postingan kali ini cukup kontroversial yaaa hahahhaaa, tapi saya hanya ingin mengutarakan pendapat saja tanpa berniat untuk menyinggung pihak mana pun, so let's start..

Jadi belakangan ini, issue mental health sedang marak-maraknya diperbincangkan dan disosialisasikan. Menarik sekali, bahwa hal yang tidak menjadi prioritas bahkan tidak ada di zaman kakek nenek kita atau bahkan orang tua kita malah menjadi hal yang penting untuk manusia di zaman kita sekarang. Sangat setuju, bahwa kesehatan itu bukan hanya fisik, tapi sehat secara mental juga tidak kalah penting, bahkan mungkin jauh lebih penting. Orang mungkin bisa saja sakit secara fisik, tapi sakit nya itu mungkin bisa lebih ringan jika mentalnya sehat. Jadi, mental health merupakan suatu concern yang penting dan sangat tepat jika sering disosialisasikan di zaman sekarang ini. Khususnya di zaman sekarang ini, semua perubahan terjadi begitu cepat, ditambah lagi kondisi pandemi ini, orang-orang banyak yang lebih mudah stres dan lain-lain. Oleh karena itu, saya sangat sependapat bahwa sangat penting untuk menjaga mental heatlh kita sebagai seorang manusia jika ingin tetap waras dan produktif.

However kkwkwkw

Unfortunately .... hehhee..

Ya, akan tetapi, yang sering terjadi bahwa, ketika sesuatu digaungkan terlalu kencang, kadang-kadang malah menjadi berlebihan alias overrated. Menurut saya pribadi (sekali lagi, menurut saya pribadi wkwk) mental health issues ini sudah mulai mengarah ke overrated, mirip pada kasus passion (mungkin bisa dibahas lain kali) wkwkkw semua orang men'dewa'kan passsion dalam kehidupan ini. Mirip dengan itu, mental health juga seperti sudah mulai melenceng dari apa yang seharusnya. Banyak diskusi-diskusi atau pandangan-pandangan yang melihat bahwa kesehatan mental itu adalah segalanya.

Hati-hati..

Menurut saya, mental health atau kesehatan mental itu agak mirip-mirip dengan hak asasi. Namanya juga hak asasi atau hak dasar, maka setiap orang bisa memperjuangkan hak tersebut. Akan tetapi, poin pentingnya di sini adalah janganlah kita menuntut hak kita tapi merampas hak orang lain. Setiap orang punya hak untuk hidup tapi bukan berarti mencuri itu dibolehkan. Mengapa? Karena semua orang juga punya hak untuk hidup aman. Maybe not a good example, tapi simpelnya seperti itu, ilmu saya masih terbatas hahahaaa. Sekarang mari kita lihat dengan kesehatan mental. Masalah kesehatan mental ini luas sekali ya, dan karena saya bukan expert, saya coba memberi contoh dan pandangan secara umum saja, yang sering saya alami. Jadi, misalnya kayak kalau kita lagi stres, lagi bete, malas ngomong atau gak mau ketemu orang-orang, gak papa untuk diam. Di satu sisi benar, tapi di sisi lain jangan sampai itu menjadi 'excuse' untuk pukul rata semua kondisi. Orang ramah dengan kita, tapi kitanya ketus, kan dia jadi heran. Atau, mungkin ada orang yang juga mengalami hal yang sama bahkan lebih buruk kondisinya dari kita, kita tidak tahu, trus kita misalnya menyinggung dia karena kita tidak bisa mengontrol perkataan kita. Trus, kita bilang 'kan saya tidak tahu? saya lagi banyak masalah'. Lha, kan dianya juga tidak tahu anda sedang banyak masalah? Orang dia juga lagi banyak masalah wkwkwkw kira-kira begitu yaa. Ya, memang tidak bisa dipungkiri juga bahwa mungkin kadar toleransi stres masing-masing orang berbeda. Tapi, let's not make any 'pembenaran' untuk diri kita di sini dengan menutup mata dengan kondisi orang lain. At least, for me personally, it's not how it works.

Penting untuk tetap waras, tapi melakukan segala cara untuk tetap waras pun sepertinya kurang bijaksana. Kita hidup saling terkoneksi satu dengan yang lain, bukan cuma kita, bukan. Lagipula, apakah kita bisa waras kalau kita mengorbankan hak orang lain untuk waras juga? And, some people say 'kadang-kadang kita perlu masa bodoh dengan orang lain'. Ya, setuju, cukup setuju, tapi masa bodoh dengan tidak merugikan orang lain. Masa bodoh dengan orang lain bukan berarti melalaikan tanggung jawab kita. Misalnya atas nama kesehatan mental, jadi mogok kerja wkwkk jangan yaaa hahahaa itu namanya bukan mental health, itu lebih ke 'I can't handle this, I quit' which is not for the sake of your mental health. Jadi, yaa harus lebih cermat dan jeli lah dalam memelihara mental health kita sendiri. 

Saya berpikiran seperti ini sekali lagi bukan berarti saya menganggap mental health tidak penting atau mental saya sudah sangat healthy wkwk bukan sama sekali. Saya juga masih sering miss dan lose, hanya saja mungkin saya hanya melihat dari aspek yang berbeda kali ini. 

Lanjoot,

In brief, the overrated mental health issues is not the concerned mental health issues. How do you know if you have overrated your mental health? You are the one and only who know it. Sekali lagi ya, menurut hemat saya, dengan menanggapi masalah kesehatan mental dengan terlalu berlebihan yang ujung-ujungnya ternyata memberikan porsi yang jauh lebih besar untuk ego kita sendiri, maka hal itu bukanlah kesehatan mental yang sesungguhnya yang dimaksud, bukanlah masalah kesehatan mental untuk tujuan yang baik.

Saya percaya sekali, bahwa isu kesehatan mental ini penting, penting untuk menjaga bukan hanya fisik tapi juga mental. Mental health ini sangat tricky dan fragile sekali teman-teman, sangat tipis dan mudah pecah wkwkkw Jadi, jika mental kita sehat ketika mental orang lain sakit atau dengan kata lain, gegara kita ingin sehat secara mental maka kita menyakiti mental orang lain, maka saya kira, ada sesuatu yang janggal dan salah di sana. 

Untuk teman-teman yang sudah membaca sampai akhir, terima kasih banyak. Mungkin setelah membaca ini, banyak yang berpikir ini seperti menganggap remeh mental health sendiri atau bagaimana, tapi coba diresapi dan direnungi dahulu. Satu hal bahwa, sejauh mana kita membawa isu mental health ini, apakah kita berlebihan menanggapinya atau sudah wajar dan sesuai porsinya, sekali lagi, hanya kita sendiri yang tahu. Bagaimana cara kita tahu? Yaitu dengan diam, merenung, berpikir. Tidak menolak, hanya melihat, selama ini kita gimana sih, apakah kita merenggut mental health orang untuk kesehatan mental kita sendiri? Tidak semudah itu memang, kita bukan manusia super yang bisa mengontrol setiap titik emosi kita, yang selalu harus menjaga perasaan orang lain. Bukan, bukan seperti itu. Kita ini manusia biasa, tidak luput dari khilaf dan salah. Hanya saja, ketika kita mulai menyadari, kita bisa lebih aware dengan diri kita dan dengan orang lain, dengan begitu kita bisa punya lebih banyak pilihan dalam menanggapi sesuatu termasuk kesehatan mental kita. Ini memang seperti omong kosong, tapi coba dulu, pelan-pelan kita bisa melihat dengan lebih jelas dari sebelumnya.

Mungkin, kali ini segini dulu, semoga bisa memberi insight yang baru yang tidak menyesatkan. Hopefully. Terima kasih semua.

Sampai ketemu di [tiga puluh lima],

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 8 September 2020

[tiga puluh tiga] what is it about being good?

virtue is its own reward

-Marcus Tullius Cicero-

Halohalohalo semuanya! :)

Ini tidak akan panjang gais kayaknya, tapi sepertinya akan sedikit tajam hahahaa

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berpikir tentang balas budi. Bukan Budi dalam buku pelajaran bahasa Indonesia yaa (krik krik wkwkwk). Anyway, kata orang tua kita, jadi orang harus tau balas budi. Ada juga yang mengatakan utang budi dibawa mati. Nah, utang budi itu apa? Kenapa utang budi menjadi sangat berharga dan tak ternilai harganya? Kalau menurut hemat saya, karena budi atau jasa itu nilainya tidak bisa dibandingkan dengan materi. Ketika ada seseorang meminjamkan kita uang 1 juta rupiah di saat kita sedang susah-susahnya membutuhkan uang, maka mungkin suatu hari kita bisa membayar kembali uang senilai 1 juta rupiah bahkan beserta bunganya. Tetapi, yang tidak bisa kita balas adalah niat baik orang tersebut yang sudah mau menyisihkan uangnya untuk membantu kita. Niat itu yang menjadi tak ternilai harganya dan mungkin karena itulah dikatakan bahwa utang budi dibawa mati.

Lalu, saya menjadi berpikir bahwa, jika seseorang berbuat kebaikan kepada orang lain 'hanya' karena ingin balas budi, hmmm bagaimana ya? Hingga pernah terbesit bahwa kalau memang melakukan kebaikan 'hanya' karena ingin balas budi maka sebaiknya tidak usah dilakukan.

Eits, tapi, saya pun terus berpikir dan berpikir. 

Sebenarnya, apapun motifnya, berbuat baik adalah berbuat baik, kebaikan tetaplah kebaikan. Tetapi menurut saya alangkah lebih baiknya jika ketika kita berbuat baik tidak 'hanya' karena 'sebatas' ingin balas budi. Satu pertanyaan, jika orang tersebut tidak punya budi  kepada kita (tidak pernah menolong kita, dsb), akankah kita tetap berbuat baik atau menolong orang tersebut saat dia susah? Silahkan dijawab sendiri. Tapi, maksud saya intinya ada di sini, seharusnya ada budi atau tidak ada budi, kita tetap bisa berbuat baik, gitu loh wkwkwk. Disclaimer sedikit, ini bukan bermaksud mengajar, menggurui, menyinggung, dan lain sebagainya. Ini cuma akan menjadi pengingat untuk saya, siapatau suatu hari pikiran saya berubah atau ada hal lain yang mengusik, mungkin saya bisa kembali membaca ini dan berpikir dan merenung kembali.

Other than that, let me have some words here, and then I will leave it to you, guys :)

Being good is not a transaction. You cannot make it as an excuse to expect people to do the same way as you do to them. It does not necessarily mean that when you do good to someone, then you have to get that 'good' back either from the same person or from other people. It is not how it works. It is a transaction, not a virtue. Being good is just good, just it is. Being good means you are able to train yourself to let go of the things that are not meant to be for you. In this case, letting go means that even if you don't get that 'good' back, it doesn't matter because it is not meant to be yours. When you do good and you have a bad day, that's not a problem anymore because you do good not because you want to have a good day. You do good just because you just want to be a good person. So, if you have a bad day after doing something good, you will know and realise and have a good understanding that it has nothing to do with the good deed you did before and you will stop thinking that it is not fair because of the bad things after doing something good. 

Being good is not that I have to be paid back for what I did. However, karma does exist. You don't have to ask for good things after you do good because one day it will automatically come to you even if you don't wish. That also happens with bad things. You harvest what you sow. That's why you don't have to expect to get something because the expectation will ruin all your good deeds. It is not pure anymore. 

Berbuat baik tidak mengharap, tidak meminta, tidak menuntut, pun tidak membayar. Berbuat baiklah karena, pertama, orang tersebut membutuhkan bantuan, kedua, kesadaran sendiri bahwa menjadi baik itu baik, menjadi baik itu membuat kita bahagia, kebaikan memberikan kebahagian di level yang berbeda.

Mungkin begitulah kira-kira guys, sekali lagi ini hanya opini pribadi saja, hanya bermaksud menulis keresahan pribadi. Semoga berkenan.

Stay good :)

Sampai ketemu di [tiga puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 6 September 2020

[tiga puluh dua] the invisible things

apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada

saya aja, 2020 wkwkw  

The ceiling has fallen, 4 September 2020

Sebuah fenomena langka yang menurut saya harus saya ingat baik-baik hahahaaa. Seumur-umur belum pernah saya mengalami hal yang demikian, plafon kamar yang tiba-tiba runtuh. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, tetangga saya, saat itu hujan dan angin memang sedang kencang-kencangnya, lalu tiba-tiba atapnya jeblok, jatuh. Mungkin saat itu dia juga merasakan yang saya rasakan hahhahaaa. Dari situ, kemudian saya jadi berpikir. 

Pertama, siap tidak siap, kita harus selalu siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Bukan cuma plafon runtuh, rejeki runtuh pun harus siap wkwkwk. Setiap malam saya tidur menghadap plafon itu, tapi tidak pernah saya berpikir kalau plafonnya bakal jeblok hahhaa. Banyak hal yang terjadi di hidup kita yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Dan, itu wajar-wajar saja. Kita saja yang kadang-kadang kaget terlalu lama untuk hal-hal yang sebenarnya kita sudah tau. Tidak ada yang bisa diprediksi secara pasti, bukan?

Kemudian, terlepas dari plafon runtuh itu, yang sempat saya pikirkan belakangan adalah sama seperti yang saya kutip di bagian awal, apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada. Belum tentu ketika saya tidak pernah menemui atau mengalami sesuatu bukan berarti hal tersebut tidak ada.

Sebuah frasa 'masa sih' dalam sebuah pertanyaan semestinya selalu mendapatkan jawaban 'ya'. Entah hanya saya, atau mungkin banyak orang sering berpikir misalnya 'masa sih ada orang yang bisa kepikiran plafon di atasnya akan runtuh?' atau 'masa sih ada orang yang tidak punya idola?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah marah?' atau juga 'masa sih ada orang yang tidak pernah pikirkan dirinya sendiri?'. Setelah dipikir-pikir, entah benar atau tidak hahaa, tapi saya rasa jawabannya ya bisa jadi ada. Kalau selama ini saya selalu bertemu orang yang suka marah bukan berarti semua orang di dunia ini suka marah. Dunia ini tidak sesempit apa yang kita kira. Dunia ini terlalu luas dengan terlalu banyak jenis-jenis manusia yang hidup di dalamnya, belum lagi makhluk lain wkwkkw

Makanya, kita tidak boleh cepat menarik kesimpulan hanya dengan melihat dari satu sisi. Semua kemungkinan bisa terjadi, tapi kita tentu harus siap dan tau bahwa kemungkinan itu ada. Terlalu sederhana jika kita hanya sependapat dan meyakini apa yang ada dalam pikiran kita, padahal di luar sana ada begitu banyak hal yang tidak kita pikirkan atau bayangkan sebelumnya.

Kali ini saya menulisnya singkat, tapi coba jika teman-teman sempat membaca ini, coba dilihat kembali apakah kita sering demikian, berkesimpulan sesuai apa yang kita lihat dan tau. 

Selalu siaga.

Salam sehat selalu.

Sampai ketemu di [tiga puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆


Tuesday, 11 August 2020

[tiga puluh satu] Belajar Melepas ...

santai mko, dunia ji ini ...

- anak makassar jaman entahlah wkwkwk -

Halo lagi teman-teman, semoga selalu dalam keadaan sehat yaa, masih pandemi nih sudah masuk bulan ke 6, tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dalam kondisi pandemi ini yaa, tetap semangat maju terus! Apalagi ini bulan Agustus kan, bulan kemerdekaan, harus semangat dong! Wkwkkw

Kali ini, saya mau tanya, seberapa sering kita kehilangan? Entah dari kehilangan barang remeh temeh sampai kehilangan orang yang paling disayang?

Saya sendiri woww sudah tidak terhitung kehilangan yang saya alami selama hidup ini wkwk mulai dari kehilangan pulpen sampai kehilangan anggota keluarga yang disayangi. Baru-baru ini, laptop saya tiba-tiba rusak dan ternyata harus direset, padahal awalnya saya berpikir harus diperbaiki atau malah harus beli baru, tapi ternyata bisa diperbaiki asal direset ulang. Otomatis tidak romantis, aplikasi dan beberapa data (untungnya bukan yang krusial) harus hilang dong. Sempat juga beberapa tahun lalu, kehilangan HP, juga otomatis tidak romantis, kartu sim nya hilang, kartu memori nya hilang, foto-foto hilang semua dong. Yang paling aneh, saya pernah kehilangan tas di rumah saya sendiri beserta isinya, ada buku, kalkulator, dan dompet kalau tidak salah ingat tapi untungnya KTP dan kartu penting lainnya tidak di dompet itu. Apanya yang aneh? Anehnya adalah, tas itu hilang di dalam rumah dan barang berharga lain seperti laptop, HP tidak hilang padahal ada di ruangan yang sama. Saya sampai bingung, apa saya tidak sadar terus saya buang tas saya ya? Hahahaaa

But, then, so what? Kalau bahasa Makassarnya, jadi kenapa mi? wkwkkww

Yang ingin saya katakan adalah santai mi dunia ji ini hahhaaaa 

Maksudnya adalah tidak ada yang selama-lamanya. Ketika saya mereset laptop saya (ini baru saja kemarin ketika saya menulis ini), saya jadi kepikiran dan mengingatkan diri saya kembali kalau oh iya ya, suatu hari bisa loh barang itu rusak, kayak laptop ini, tidak saya duga-duga sebelumnya, karena terakhir saya pakai masih bagus eh tiba-tiba harus direset. Saya jadi mikir dan kembali belajar dan mengingatkan diri saya, kalau ini mah hal lumrah, bisa terjadi pada barang apa saja dan orang mana saja. Saya jadi 'diingatkan' oleh laptop ini kalau saya tuh harus tau betul kalau suatu hari barang lain juga mungkin akan mengalami hal yang sama, wajar saja, tidak usah terlalu merasa bagaimana, tidak usah terlalu sedih. Hari itu, saya belajar dari laptop saya, terima kasih laptop hahhahaaa jangan begitu lagi ya, kalau begitu lagi, nanti saya berterima kasih lagi wkwkkw

Barang hilang itu biasa, mari belajar merelakan. Jangan melekat. Nanti kita kayak tikus, kena lem, ga bisa lepas, lalu mati, sia-sia wkwkkw. Seringkali ketika kita kehilangan sesuatu itu nyeseknya sampai lamaaaaaa sekaliiii, mungkin karena barang kesayangan ya yang diperoleh dengan jerih payah misalnya. Ketika pulpen kita hilang, duh, bisa sampai berhari-hari galaunya. Pulpen saya kemana ya terakhir saya taruh dimana ya, terakhir siapa yang pinjam ya? Pusing dah tuh pikirannya kemana-mana padahal kan masih punya pulpen lain. Mungkin saja pulpen kita menjadi amal untuk orang lain yang membutuhkan. Pulpen itu sudah jadi manfaat besar untuk orang lain. Mungkin hehehee. Karena di otak dan pikiran kita, kita melihat barang itu sebagai punya kita, milik kita, punyaku, milikku, tanpa sedikitpun berpikir bahwa barang ini juga bisa hilang. Kita kadang-kadang kurang paham betul bahwa nothing lasts forever, really, nothing. Kita tahu tapi tidak betul-betul paham. Singkatnya, kita kadang terlalu melekat, kita kurang melepas ...

Anyway, ini bukan berarti bahwa oh kalau gitu gak apa-apa dong kalau barang kita hilang kan memang tidak ada yang selamanya, jadi taroh saja sembarangan barang-barangnya. Hahahaaa bukan begitu juga dong kakak, kan ada namanya tanggung jawab, amanah. Ya, tetap harus bertanggung jawab dong dengan yang kita punya, harus dijaga, dirawat sebaik-baiknya. Tapi, ada hal yang berada di luar kontrol kita. Dan ketika kita sudah  melakukan yang sebaik-baiknya, tetapi barangnya tetap hilang, itulah yang saya maksud. Ketika semua sudah terjadi, apa yang harus dilakukan? Itu yang penting. Malahan, karena kita tau bahwa suatu hari barang (di sini saya contohinnya barang aja ya, tapi orang juga bisa loh wkwkwk) ini akan pergi, akan hilang, akan rusak, akan diambil, atau akan tidak terpakai lagi, maka kita harus menggunakan waktu yang singkat ini untuk menjaga, memakai, memanfaatkan, memelihara apa yang kita punya sekarang. Sehingga, ketika waktunya tiba, barang itu hilang, pergi, rusak, kita tidak kaget lagi, tidak nyesek lagi, karena kita tau memang semua akan pergi pada waktunya dan kita tau selama ini kita tidak menyia-nyiakannya.

Melekat itu agak berbahaya sebenarnya gais, kadang-kadang kita tidak sadar. Kayak lem tikus atau lem alteco atau lem korea gitu hahhaaa, lengket, susah lepas, sekalinya lepas, malah luka. Kita itu sering begitu, tanpa sadar. Sudut pandang kita dibutakan dengan apa yang kita punya sekarang. Mungkin karena sudah terlalu nyaman, sampai lupa. Nyaman dengan punya HP, ketika hilang atau rusak, bingung. Ya, memang kadang-kadang kita perlu mengingatkan diri sendiri kalau ini cuma barang loh, suatu hari bisa rusak atau hilang. Kalau misalnya terjadi saya akan bagaimana ya? Bukan bermaksud meminta-minta supaya barangnya hilang hahahaa tapi upaya pencegahan aja. Sedia payung sebelum hujan (kalau tidak naik mobil) wkwkwk. 

Saya lupa waktu jaman kapan mungkin waktu kuliah kali ya atau SMA ya hahhaaa kalau ada orang yang berlebihan dengan sesuatu atau berlebihan dengan yang ia miliki, maka pasti akan muncul kalimat ini 'santai mko, dunia ji ini' (artinya: santai aja, ini cuma dunia) wkwkw. Lucu juga menurut saya, tapi ada benarnya. Memang benar, bahwa ini cuma dunia, tidak selamanya, tidak kekal. Benda, hewan, manusia, perasaan, peristiwa, semuanya datang dan pergi bergantian. Whoever you are, you have no idea on how to keep something forever. Cepat atau lambat, sekarang atau  nanti, ketika tiba waktunya semua akan pergi dan yang lain akan datang. 

Ya, begitu saja siklusnya, datang, pergi, hilang, tumbuh, berganti, selalu, demikian.

Saya yakin, kita, teman-teman semua yang membaca ini pasti lah sudah familiar, sudah tau, sudah hafal di luar kepala kalau tidak ada yang abadi. Ada barang yang hilang, ada orang pergi, lumrah. Kita tidak selamanya ditinggalkan, bisa jadi kita saling meninggalkan. Kita juga bisa jadi orang yang pergi, jadi orang yang hilang. Jadi, ya biasa aja. Memang itu wajar terjadi dan bagian dari proses kehidupan. Jadi, kalau sudah tau, kenapa masih sering sedih yang mendalam? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Coba tanya-tanya sama diri sendiri, seperti di postingan sebelumnya wkwkk. Seberapa melekatnya kita, seberapa melepasnya kita, hanya kita sendiri yang tau.

Kita manusia, wajar sedih ketika ada yang hilang, wajar senang ketika ada yang datang (umumnya demikian, pun tidak semuanya). Tapi ketika kita tau pakemnya, tau basic dari semuanya, kita tidak akan terlarut, terhanyut dan terbawa, karena kita tau, kita paham, kita sadar betul. Ya, begitulah kira-kira. 

Jadi santai mi saja teman-teman wkwkkww 

Ada yang hilang, ada yang datang, semuanya, ketika sudah waktunya.

Saya juga masih belajar, mari kita sama-sama belajar untuk tidak terlalu melekat :)

Semoga ada faedahnya ya. Sampai sini dulu.

Sampai ketemu di [tiga puluh dua]

Cheers,

Em 🙆