Tuesday, 11 August 2020

[tiga puluh] Talk to yourself!

Self contemplation is the best way to fall for your ownself

-Priyal Agrawal-


Hello again! Hope you are all doing well there!!

Hmm, a question, have you ever talked to yourself??

But, wait, don't do this very often because people may think you are a lil bit 'pongoro'? wkkwkwww

I'm joking huehehehee

Jaaaadiii, kali ini, saya mau nulis terkait self-talk atau self contemplation atau berbicara dengan diri sendiri, yang saya gak tau apakah banyak yang sudah familiar dengan ini atau sudah sering melakukan ini. Saya pribadi melakukan ini cukup sering mungkin karena saya orangnya lebih introvert dan agak susah ngobrol dengan orang lain, jadi saya lebih sering membahas apa yang ada dalam pikiran saya dengan diri saya sendiri. Sounds weird? Entahlah kwkkwww

I'm not talking about whether it is weird or not, but I found it useful, so I'm just trying to share ... Let's get started ...

Nah, ngomong dengan diri sendiri atau bisa dibilang merenung atau mungkin berkontemplasi. Menurut saya pribadi, dengan berbicara dengan diri sendiri sangat membantu dalam banyak hal. Termasuk ketika saya sedang menulis blog ini, saya sedang berbicara, berdiskusi, dan berdebat dengan diri saya sendiri.

If you never do this, then you should try it someday. I am sure, it helps, at least for me, but I hope for you, too ...

Apa yang terjadi ketika kita berbicara dengan diri kita sendiri?

Ketika kita punya suatu ide, suatu pemikiran, suatu pendapat, suatu emosi, atau apapun itu bentuk pikiran yang muncul di pikiran kita, berbicaralah dahulu kepada diri sendiri. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mengontrol diri kita. Itu yang pertama. Contoh simpel, misalnya ketika sedang jengkel kepada orang, kita bisa bilang ke diri kita bahwa kita sekarang sedang jengkel. Nah, dengan berkata demikian, bagian dari diri kita yang lain akan merespon.  Di sini, bukan berarti kita punya banyak diri yaa hahaa tapi kita pasti punya pemikiran lain yang muncul setelah satu pemikiran muncul. Nah, pemikiran pengikut ini atau yang saya sebut sebagai 'respon' yang mungkin kadang-kadang kita sering abai jika kita tergesa-gesa. Responnya ini menurut saya tergantung latihan kita dan kepribadian kita seperti apa. Bisa jadi kita menanyakan balik ke diri kita mengapa kita jengkel? Atau mungkin kita malah mendukung rasa jengkel itu, atau mungkin mengatakan bahwa tidak perlu jengkel. Banyak kemungkinan. Tentu, lebih baik kalau kita bisa mengontrol ke hal yang positif atau yang lebih baik. Tapi, ketika kita mengangkat suatu argumen ke diri kita sendiri, kita punya waktu lebih panjang sebelum menentukan suatu tindakan yang mungkin saja bisa merugikan kita ataupun orang lain. Dengan demikian, kita bisa lebih mengontrol tindakan yang kita ambil. Jadinya, kita tidak tergesa-gesa dan menyesal. Contoh lain, ketika kita ingin mengungkapkan sesuatu, nah kita bisa berdiskusi dulu dengan diri kita, berpikir lagi, menyelami lagi, kira-kira yang mau saya sampaikan ini menyakiti orang gak ya? Kira-kira berguna tidak ya? Kira-kira sudah sopan belum ya? Ya, kurang lebih begitulah, untuk yang pertama ini, menurut saya sangat membantu untuk mengontrol apa yang kita lakukan, karena kita seolah-olah seperti mengulur waktu dengan mengolah pikiran kita.

Lalu, selanjutnya itu adalah memperkaya perspektif akan suatu hal. Jadi, mirip contoh kasus seperti di atas. Dengan berbicara atau berdiskusi dengan diri kita, sebut saja kontemplasi diri, kita belajar melihat dari berbagai sudut pandang. Secara tidak langsung, bisa mengolah cara berpikir kritis kita. Ya, karena otomatis kita akan berdebat dengan diri sendiri. Namanya saja berdebat pasti kadang-kadang bisa berlawanan pendapat. Okay, jadi begitu ya hehee kita bisa melihat apa yang kita rasakan atau pikirkan dari berbagai sudut pandang dan bisa melihat lebih jauh ke depan. Ketika kita bisa memberikan waktu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, otak kita, pikiran kita akan punya kesempatan mengeksplor lebih banyak, sehingga keputusan yang kita ambil bisa dibilang sudah melewati beberapa seleksi gitu.

Kemudian berikutnya yaitu kita bisa lebih mengenal diri sendiri. Kita bisa tahu perspektif apa yang kita ambil, sudut pandang mana yang kita amati, bagaimana pola pikir kita, bagaimana respon kita terhadap suatu hal. Dengan sering-sering kontemplasi diri, kita kurang lebih bisa introspeksi, menyeleksi apa yang baik dan buruk dan ujung-ujungnya bisa upgrade diri. Kita pun juga akan lebih terbuka untuk dikritisi oleh diri kita sendiri. Tapi apakah benar begitu? Bukankah kita punya ego? Nah, ketika kita berusaha berbicara dengan diri kita sendiri, maka jangan maksa juga wkkwkw turunkanlah egonya sedikit, ketika kita punya suatu pemikiran yang mungkin kita kurang setuju, maka pemikiran itu jangan ditolak, tapi lihat dan amati kenapa kita bisa berpikir begitu. Dan apakah itu benar atau tidak? Dampaknya baik atau tidak? Dengan begitu, kita bisa pelan-pelan belajar. Ibaratnya, kalau kita saja tidak mau mendengar diri sendiri, bagaimana bisa kita dengar orang lain? wkwkwkw

Mohon maaf ya ini mungkin yang saya sampaikan agak berat mungkin hehehee atau penjabarannya kurang jelas. Intinya, dengan berbicara dengan diri sendiri bukan berarti kita tidak bisa cerita atau curhat ke orang lain. Tentu bisa, kita selalu butuh orang lain, tidak mungkin tidak. Tapi, dengan sesekali meluangkan waktu untuk kontemplasi diri, menurut saya, kita bisa jadi lebih tenang, terkontrol, lebih mengenal diri sendiri dan juga kita bisa belajar lebih banyak tentu dari diri kita sendiri juga. 

Kadang-kadang yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan kita itu adalah diri kita sendiri bukan orang lain.

Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu perlu, asalkan jangan sambil tertawa tanpa sebab nanti dikira apa gitu wkwkkwkk

Sekian dulu ya teman-teman, sekali lagi ini opini saya saja, semoga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat karena kita semua sama-sama belajar dan sama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih baik, bukan? hehehe

Stay safe semuanya, jaga diri kita untuk kita dan orang lain :)

Sampai ketemu di [tiga puluh satu]

Cheers,

Em🙆


Tuesday, 4 August 2020

[dua puluh sembilan] gone too soon

Good things come in good time
-Wiz Khalifa-

Halo guys, welcome back! Hope you are doing well wherever you are!

Kali ini cuma pengen cerita saja, bahwa saya adalah orang yang cukup percaya dengan ungkapan 'semua ada waktunya'. I do. Apapun itu, selama kita masih mau dan terus berusaha, maka segala sesuatu akan tiba atau terjadi pada waktunya. 

Tapi...

Apa yang terjadi ketika waktunya belum tiba tetapi waktu yang lain sudah berakhir?
Apa yang terjadi ketika dua waktu tidak saling bersilangan?

Kita hidup saling bergantungan satu sama lain, we do need other people, to help us, to cheer us up, to answer our question, or even just to stand beside us in silence. What happen if you have a question but the answer has run out of time? Or what happen when you realize something but the time is over?

Cukup mengawang-awang ya hahahahaa

Contoh sederhana, jika kita diberikan laptop ketika usia kita misalnya masih SMP, mungkin kita cuma tau memakainya untuk main game, mengetik, atau pekerjaan microsoft office lainnya. Tapi, ketika kita mungkin sudah kuliah kita tau bahwa sebenarnya laptop kita bisa lebih dari itu, bisa buat photoshop, bikin video, dan untuk kreativitas lainnya. Tapi, bagaimana jika saat kita kuliah , laptop kita sudah tidak bisa dipakai??

Get a brand new laptop!

Good answer! Betul sekali, beli laptop yang baru, masalah selesai.

Pertanyannya, bagaimana jika saat kita kuliah, semua perusahaan pembuat laptop sudah tutup??

There must be another smarter device than laptop!

Again, good answer! Pasti ada teknologi yang lebih canggih daripada laptop, bukan? Wkwkwkw

This is the thing that keep going on my mind lately, banyak yang 'sudah tidak sempat lagi', in many cases. Meskipun, in a positive way, saya juga tetap yakin bahwa akan ada kesempatan-kesempatan lainnya mungkin di masa depan, atau ada hal lain yang bisa menggantikan. Atau, mungkin juga jawaban itu akan muncul dalam bentuk lainnya, sama seperti alat yang lebih canggih dari laptop itu.

I don't know.

It's just many things have gone too soon, bukan karena ketika ada tidak dimanfaatkan dengan baik, tetapi pada waktu itu memang waktu nya belum tiba. But no need to regret, yang terjadi ya terjadilah wkkkw

Just use your time, wisely! 

See you at [tiga puluh] uyeaa wkwkw

Cheers,
Em 🙆

Friday, 17 July 2020

[dua puluh delapan] SAYA TERLALU BANYAK .....

lagi males pake quote hahhaaa langsung aja yee ...

Halo semuanyaaaa, semoga sehat-sehat selalu yaaa, COVID-19 belum sepenuhnya hilang, mari kita jaga diri masing-masing untuk orang-orang di sekitar kita juga.

Beberapa waktu belakangan ini, saya berpikir-pikir tentang apa yang sudah saya 'dapatkan' dan saya sampai di satu titik bahwa mungkin saya sudah 'kebal'. Eits, kebal bukan berarti saya berpuas diri yaa tapi mungkin karena paparan berulang maka menjadi seperti tidak mempan atau bosan, mungkin? My bad for not being able to explain clearly -_-" mungkin penjabaran di bawah bisa memberikan secercah cahaya terang wkwkw *apasii

Jadi, mungkin, saya sudah terlalu banyak nonton drama serial, nonton film, baca novel, ikut seminar, ikut webinar, dengar podcast, nonton utub, liat instagram. Mungkin sudah terlalu banyak. Su-dah ter-la-lu ba-nyak. 

Saya bukan a big fan of drama korea atau drama apapun, saya butuh waktu untuk mengumpulkan niat untuk menonton suatu serial. Ya, saya lebih memilih main game candy crush wkwkwk. Tapi, saya mulai nonton drama itu khususnya korea dan mandarin mungkin waktu kuliah sampai sekarang, tapi tetap saja picky, tidak mengikuti tren, nonton jika mau nonton saja. Dari semua yang sudah saya nonton, saya selalu tiba di titik ketika dramanya sudah selesai, saya masih memikirkan kelanjutan dari ceritanya seolah-olah itu terjadi di dunia nyata. Adapula drama yang karena menurut saya sangat bagusnya, maka terus teringat-ingat setelah selesai menonton. Begitu juga dengan film, agak pilih-pilih, tapi efeknya mungkin tidak sehebat kalau nonton drama, tidak sampai kepikiran terus. Dalam kasus film dan drama ini, saya mengamati diri saya selalu terjadi hal yang berulang. Pokoknya, setiap selesai menonton pasti terus terngiang berhari-hari, seperti saya itu mau menjadi bagian dari cerita hahahaa meskipun saya tau itu cuma cerita fiksi yang belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi hmm bisa jadi sih. Mungkin teman-teman juga mengalami hal yang sama dengan saya? Atau cuma saya yang seperti itu? Hahahaa mungkin saya aneh wkwk

Terus, saya pertama kali mengikuti seminar motivasi kayaknya SMA, tapi saya tidak mudeng dengan isi seminarnya, karena mungkin lebih ditujukan untuk orang tua. Yang berikutnya saya ikuti waktu masih kuliah. Setelah mengikuti seminar itu, rasanya termotivasi sekali, bersemangat dan berapi-api. Angan-angan muncul di dalam pikiran, mau seperti ini, seperti itu, seperti yang disampaikan si narasumber itu. Mau menjadi sukses seperti dia, terkenal seperti dia dan seterusnya. Belakangan ini, seminar diganti dengan webinar, diganti dengan podcast atau video youtube yang bisa diakses gratis. Saya pertama kali dengar podcast sejak lulus kuliah sampai sekarang. Menurut saya, banyak yang bisa dipelajari dari podcast, entah ilmu baru atau sesuatu yang sebenarnya kita sudah tahu hanya tidak sadar bahwa hal itu ada. Tapi setelah mendengar, kita seperti disadarkan bahwa oh iya ya benar juga saya. Some kind like that. 

Anyway, entah mungkin cuma saya atau kalian juga (mungkin kalian bosan karena sering sekali saya menulis ini hahahaa). Karena terlalu banyaknya tadi, saya akhirnya tidak lagi menjadi sangat termotivasi atau berapi-api setiap mengikuti seminar atau menonton utub atau mendengar podcast. Kalau film atau drama masih sering heheee. Nah, mengapa demikian? Karena saya akhirnya merasa bahwa there is nothing to do with all of those. Instead, myself is the key. Mungkin agak absurd atau susah dipahami, maksudnya adalah saya melihat semua semuanya itu dari sudut pandang yang baru. 

Contoh paling dekat, setiap saya mendengar podcast, yang saya lihat itu bukan bahwa saya ingin menjadi seperti itu. Bukan. Atau saya akan bekerja keras sama seperti yang ia lakukan.  Bukan juga. Ini yang saya katakan 'kebal' tadi. Karena mungkin sudah terlalu banyak. Saya belajar bahwa saya adalah saya (apasih ini hahahaa). Saya melihat bahwa setiap orang memiliki episode kehidupannya sendiri, sukses gagalnya sendiri. 

Kalau ada orang yang sukses karena pernah gagal terpuruk. Maka saya mungkin tidak harus seperti itu. Saya mungkin tidak perlu sampai terpuruk cukup gagal saja sebelum sukses. Atau juga, saya mungkin harus lebih terpuruk dulu dan ketimpa tangga sebelum menjadi sukses. Tidak ada satupun yang bisa menjadi patokan. Karena saya mendengar, menonton begitu banyak cerita (of course, which I will do more), dan tidak ada yang sama, tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah. Ada orang yang memiliki planning rapi detail sampai 10 tahun ke depan, sukses. Ada pula orang yang hidup hanya untuk hari ini, masalah besok biarlah menjadi milik esok hari, toh berhasil juga. 

Nah, jadi, at some point, saya belajar bahwa kita punya hidup kita masing-masing, yang sangat masing-masing, mungkin bisa dibilang istimewa. Tidak salah belajar dari orang lain, malah bagus. Yang mungkin agak keliru (in my personal opinion), ketika kita terinspirasi, termotivasi sampai menjadikan sesuatu sebagai patokan, sebagai kebenaran yang dimana kita harus menjadi seperti itu. Padahal, we never know what future holds. Hati-hati kecewa. Jangan lupa, hidup kita adalah kita. Tidak mesti menjadi orang lain.

Learn as much as you can, and be a better person than you were. As your life is the most for you and the rest for other people. 

Ini hanya sharing, sepintas lalu muncul di ingatan saya. Bisa jadi perspektif ini akan berubah seiring waktu wkwkkw. Who knows. Sekali lagi, just sharing. It is okay if you agree, disagree, or have other opinion :)

Udah ya, pusing nakke wkwkwk
Semoga berfaedah.

Sampai ketemu selanjutnya di [dua puluh sembilan]!

Cheers,
Em 🙆

Monday, 6 July 2020

[dua puluh tujuh] Hidup dalam Ketidakpastian

uncertainty is certain
-gua, wkwkwk-

Halo teman-teman semuanyaaa.. 
Apakah sudah kembali beraktivitas seperti biasa atau masih ada yang work from home? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semoga sudah terbiasa dengan keadaan yaa guys wwkkw

Jadi, menurut saya, kita harus berterima kasih kepada corona, si biangnya COVID-19. Di satu sisi memang tidak bisa dipungkiri kalau COVID ini membawa begitu banyak duka, kerugian, kesedihan bagi banyak orang. Tapi di sisi lain, selalu ada yang bisa disyukuri, dan itulah yang ingin saya cerita-cerita kali ini, singkat aja sih hehee

Sebelum corona ini, pernahkah kita berpikir pandemi sedemikian akan terjadi? Pernah tidak kita berpikir kalau ada waktu dimana kita sama sekali tidak bisa keluar rumah? Pernah tidak kita berpikir kalau ada waktu dimana hidup menjadi sangat terbatas? Pernah tidak kita berpikir kalau persoalan makan bersama dengan teman-teman menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan? Pernah tidak kita berpikir kalau pergi dari satu tempat ke tempat lain bisa menjadi sesuatu yang ribet? Mungkin tidak heheee

Saya pertama kali tau tentang corona itu di akhir Desember 2019 dan saat itu saya menanggapinya tidak dengan serius. Saya merasa kasus ini mungkin akan berakhir seperti kasus SARS, tidak begitu berdampak bagi Indonesia dan di tempat saya sekarang berada. Bahkan, saya masih sempat berjalan-jalan dengan teman saya di bulan Januari. Semua masih seperti biasanya. Saya tidak pernah berpikir corona akan menyebar sedemikian rupa hingga menjadi pandemi seperti sekarang ini.

Sebelum wabah corona, kita melihat hari esok, masa depan, dengan penuh keyakinan, seolah-olah semua rencana akan berjalan sebagaimana mestinya. Rencana liburan, rencana usaha, rencana pernikahan, rencana lainnya. Saya juga demikian wkkwkw semua rencana sudah ada dalam kepala saya, tapi sekarang ya mau diapa wkwkkw

Corona tiba-tiba datang dan membuat kita harus mengingat kembali bahwa semua ini tidak pasti. Hari esok itu tidak pasti. Masa depan itu tidak pasti. Dengan adanya pandemi ini, kita menjadi sadar dan lebih aware bahwa hidup kita ini penuh dengan ketidakpastian, kita harus selalu waspada dan harus selalu siap sedia untuk semua kemungkinan-kemungkinan.

Sekarang, kita bisa banyak belajar. Hidup di masa pandemi ini bisa menjadi pengalaman berharga kita sebagai manusia untuk selalu ingat bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal dan pasti, tidak ada yang selamanya. Hidup terlalu dinamis, selalu tidak pasti. 

Ya, mau bilang itu aja sih hahahaaa selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian atau peristiwa (old quote hahaa but damn trueeee)
Semoga kita selalu introspeksi dan refleksi diri.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa hidup lebih baik dari sebelumnya.

Sampai ketemu di [dua puluh delapan]

Cheers,
Em 🙆

Sunday, 28 June 2020

[dua puluh enam] mau ke mana kah kamu?

Hello kawan semua wkwkk

Ketemu lagi yaa, tidak terasa sudah yang ke dua puluh enam nih wkwkw setahun setengah hasilnya dua puluh enam pieces, mayanlah yaaa wkwkwk

Ini lagi mau cerita-cerita soal hal yang sering dialami orang di persimpangan atau bahasa kerennya quarter life crisis. Masa di mana pertanyaan itu banyaaaaak sekali, sebanyak pertanyaan pacar posesif kalau lagi tidak bareng-bareng wkwkwk

Mau ke mana? Mau ngapain? Dua pertanyaan besar dan utama yang sering kita tanyakan ke diri kita sendiri. Pertanyaan tambahan, udah sampai mana? Udah ngapain aja? Makin tambah puyeng gak tuh hahahaaa

Kata orang, quarter life crisis itu banyak mendera manusia-manusia di usia 20an, ya mungkin 20-30 yaa, boleh dibilang di masa jaya-jayanya, di masa produktif-produktifnya, di masa yang paling maksimal buat mengeksplor semua yang bisa dieksplor. Punya tenaga? Punya. Punya waktu? Punya. Punya duit? Hmmm pertanyaan yang sulit hahahaaa setidaknya ada lah, cukuplah gitu kan ya. Jadi memang di masa-masa ini boleh dibilang mungkin the peak of the journey. Peak dalam arti apa yaaa, I'm in this condition btw, peak dalam artian di sini lah waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan sebanyak-banyaknya. Yak, kind of that lah. Jadi, dalam masa ini kita sering ada di persimpangan, bingung dan bertanya, hidup sudah sejauh ini, tujuannya mau kemana? Hidup tuh ngapain sih? Buat apa sih kita hidup? Those kind of question to find the answer of life purpose. 

Jawaban singkatnya, you do you. (Langsung saya ditappe' alias digeplak hahahaa karena jawaban yang tidak solutif). Okayy, markicob! Mari kita coba kulik lebih dalam hehheee

You guys must be familiar with ikigai. Go grab some books about this and read wkwkkww I'm not an expert though, tapi tahu dikit-dikit lah. Coba yaa, singkat aja. Jadi, ikigai itu adalah irisan dari 4 hal (modelnya kayak diagram Venn kalau masih ingat hehehee) yang katanya menjadi alasan untuk kita bangun tiap pagi dan melanjutkan hidup. Jadi, bisa dibilang kalau ikigai itu adalah alasan kita untuk tetap hidup, yang mana bisa juga menjadi tujuan hidup. Setidaknya menjawab pertanyaan mau ngapain tadi. Apa 4 hal itu? Pertama, apa yang kita suka (what you love). Kedua, apa yang kita mahir (what you are good at). Ketiga, apa yang dunia atau masyarakat butuhkan (what the world needs). Keempat, apa yang bisa dihargai dengan uang (what you can be paid for). Secara singkat, kalau keempat hal ini bisa kita temukan jawabannya dan irisannya, so congratulations, that's the answer!

Kalau saya ditanya, mungkin saya juga belum tahu pasti ya apakah saya sudah betul-betul tahu life purpose saya apa. Tapi saya cukup yakin kalau gambaran besarnya sudah ada hanya saja belum detail, hmmmm.

Kalau diingat-ingat lagi dan setelah membaca, melihat yang ada sekarang ini, menurut saya, ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan untuk menjawab ini (seandainya yang ikigai tadi cukup sulit atau rumit).

Ibaratnya gini, kita sedang naik mobil, kalau kita gak tau mau kemana, kita tidak tau mau jalan lewat mana. Tapi juga, kalau kita tidak tau ini jalan apa, kita tidak tau jalan ini akan membawa ke mana. Bingung gak tuh? Hahahhaaa pertanyaan mau ke mana dan mau  ngapain adalah dua hal yang saling berkaitan, yang mana pendekatannya bisa dari salah satunya. Ini akan berkaitan dengan ikigai juga sih nantinya.

Contoh, untuk pendekatan pertama, mau ke mana? Di sini, tujuannya yang harus diketahui lebih dahulu. Kita ini mau hidup kita bagaimana nanti, mau dibawa kemana, mau sukses kah, mau kaya kah, mau terkenal kah, mau apa terserah, boleh detil, boleh gambaran besarnya. Setelah diketahui, maka kita akan mulai bisa mencanangkan atau merencanakan jalannya mau lewat mana. Sama seperti kita mau ke tempat A, kita sudah tau tuh kalau bisa lewat jalan X, Y, atau Z (maafkeun contohnya tidak real wkwkww).

Sedangkan, untuk pendekatan yang kedua, jalan lewat mana? Ini kebalikan dari yang di atas. Nah, di sini, kita lebih melihat ke yang sekarang kita jalani, kita sukanya apa, tertarik di bidang apa, berbakat atau memiliki kemampuan di mana. Setelah itu, kita bisa menganalisa kira-kira yang kita jalani sekarang, ujungnya nanti akan kemana. Sama seperti kita mau lewat jalan X, kita tau jalan ini akan membawa kepada A, B atau C, nah tinggal dipilih kira-kira yang mana yang cocok.

Yah, sebenarnya ini dari kita aja sih lebih cocok yang mana kira-kira, it's really a personal thing. Kalau untuk saya, semua tujuan hidup itu mestinya adalah baik. Jadi apapun itu, it must be a good one, I think. Kalau misalnya kalian merasa kalian belum tau 'mau ke mana?', menurut saya no need to worry too much, anda sudah punya kok, cuma mungkin belum reveal atau belum yakin aja. Seiring berjalannya waktu, banyaknya proses yang dilewati, you will know. Read more references may help hahahhaaaa

Selama kita masih punya semangat untuk bangun tiap pagi dan melakukan sesuatu yang baik, I think, you're on the right track, nearly there! If not, go find one suits you :)

Anyway, menurut saya, tujuan hidup orang itu cenderung berubah seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan setelah dilewatinya berbagai proses kehidupan. Tujuan seorang pemuda yang berusia 25 tahun akan cenderung berbeda dengan tujuan seorang ayah yang punya anak berusia 13 tahun misalnya (saya bilangnya 'cenderung' karena gak bisa mastiin juga tiap orang beda-beda wkwkwkw). Tapi, kalau tujuannya dari awal itu sudah grande (luas) dan relevan untuk kapan saja maka mungkin saja tidak akan berubah, hanya objeknya saja yang berubah tapi masih dalam tujuan yang sama tadi. 

Yaaaaak, mungkin segini dulu tentang tujuan hidup which all of these above are purely my personal opinion. I'm not really sure tho if I have one wkwkwkkw pokoknya begitulah yaa, selamat berjuang masing-masing dari kalian. The one thing I am sure is being good, always.

Saran saya, untuk yang begini-beginian bisa baca buku atau dengar podcast atau nonton youtube maybe. I recommend you to listen to podcast Thirty Days of Lunch khususnya episode dengan mas Ivandeva (your kepala will meledak kalau dengar ini wkwkw cus!) atau ada juga beberapa episode lainnya yang berkaitan dengan ikigai, passion or life purpose. My friend recommended me to read Ikigai (yang sampulnya warna biru muda), you can try it too! Di saat teknologi seperti sekarang ini, tidak begitu sulit lagi untuk mencari banyak pengetahuan dan wawasan. Kembali lagi, you do you, okeeeh? wkwkw

Dah yaa, sampai ketemu di [dua puluh tujuh],
All the best, guys!!

Cheers,
Em 🙆

Tuesday, 16 June 2020

[dua puluh lima] menjadi orang biasa

Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
-Ir. Soekarno-

Halo semuanyaa,
Semoga selalu dalam keadaan sehat :)

Kali ini, mau bahas tentang cita-cita, kind of life goals. 
Beberapa waktu lalu, sempat ditanya oleh seorang teman tentang karir dan pekerjaan. Saya sendiri belum punya pengalaman kerja yang bisa diandalkan. Pengalaman kerja cuma seminggu hehehe dan pernah magang 2 bulan. Sisanya side job, kerja sambilan sambil sekolah. 
Singkat cerita, setelah tanya-tanya dan ngobrol, dia mengatakan bahwa dia belum tahu mau kerja di mana sementara teman-teman yang lain sepertinya sudah punya rencana untuk masa depan. 

Sepintas lalu, saya pun jadi teringat bagaimana kita dari kecil sampai lulus sekolah mungkin hampir selalu didoktrin atau mendengar nasehat-nasehat seperti dua kalimat paling awal. Kita selalu dihimbau oleh entah itu orangtua, guru atau siapapun untuk bermimpi setinggi-tingginya. Itu tidak salah memang, malah bisa jadi motivasi mungkin. Semua orangtua pasti mau yang terbaik buat anaknya bukan? Wkwkwkk

Tapi at some points, saya jadi berpikir bagaimana dengan orang yang tidak memiliki mimpi yang 'tinggi'. Ya memang, tinggi itu relatif, mungkin ada yang menerjemahkan sebagai sukses? terkenal? kaya? terpandang? terpelajar? ya, apapun itulah. Tapi sepengetahuan saya (mungkin pengetahuan saya kurang hahahaaa), mimpi yang tinggi identik dengan yang sifat-sifat yang saya sebutkan tadi.

Kembali ke topik yang awal, saya tidak tahu pasti, tapi kalau ada orang yang merasa aneh karena tidak memiliki mimpi yang tinggi, come on, go ahead! Tidak perlu terlalu memikirkan opini khalayak umum. Kalau ada orang yang bermimpi menjadi presiden maka tidak apa-apa juga jika ada yang bermimpi menjadi karyawan biasa. Kalau ada yang bermimpi menjadi pengusaha kaya raya terkenal maka tidak apa-apa juga jika ada yang bermimpi menjadi ibu rumah tangga biasa. Sama kok tingginya, take it easy hehhehe

Lha jadi gak perlu bermimpi tinggi-tinggi dong? Ya you do you, mungkin tinggi menurut saya beda dengan tinggi menurut anda. Misalnya ada orang yang bermimpi cukup jadi karyawan yang kerja 9 to 5, gaji gak perlu segede gaban yang penting bisa hidup cukup. That's fine. Ada orang juga yang bermimpi wah harus jadi pengusaha sukses omzet 5 M per bulan. That's fine as well. 

I don't know if you can relate, tapi maksudnya adalah, jika kita punya mimpi yang sederhana that's fine, gak ada yang salah kok. 

Jika teman-teman pernah membaca cerita yang berseliweran di sosial media, tentang seorang anak yang tidak terlalu pandai secara akademik, tetapi selalu baik hati membantu temannya jika kesusahan. Dan ketika ditanya, cita-citanya apa, dia menjawab kalau dia ingin menjadi orang yang selalu bertepuk tangan untuk kesuksesan temannya. She even doesn't want to be a superstar! But that's okay! Saya sendiri waktu baca cerita itu jadi gimana ya, cukup terenyuh, tapi jadi mikir juga bahwa menjadi seseorang yang 'tak terlihat' pun tak apa-apa, sama sekali tidak mengurangi value seseorang. Saya jadi bisa melihat kalau memang semua ada perannya masing-masing. Kalau semua orang mau jadi guru, gurunya jadi? Banyak! Hahaaa, I mean, siapa yang mau jadi murid gitu wkwkkww

Sejauh ini, mungkin karena main saya kurang jauh atau gimana, saya masih jarang melihat kasus-kasus mem'bully' cita-cita sih, gak tau kalau ada di luar sana, tapi mudah-mudahan tidak ada dan tidak perlu sampai ada. Setiap orang berhak untuk cita-citanya sendiri terlepas dari doktrin, tekanan, paksaan siapapun. Tidak perlu juga adu tinggi-tinggian untuk masalah cita-cita. Semua orang punya kapasitas dan kenyamanan masing-masing.

Ada orang yang ingin tinggal di rumah besar bak istana, tapi ada juga yang senang-senang saja tinggal di apartemen yang sedang-sedang saja. Ada orang yang ingin naik mobil paling mahal, tapi ada juga yang naik motor pun sudah cukup. Tidak ada yang salah, setiap orang punya ukurannya masing-masing untuk kehidupan dan masa depan masing-masing.

Cuma mau bilang, apapun cita-cita kita (saya dan kalian yang membaca), tidak ada yang salah, tinggi itu relatif bagi tiap orang, tidak perlu terpengaruh apalagi ikut-ikutan. 

Bagi saya pribadi, cita-cita apapun itu, yang penting bisa bermanfaat untuk orang lain.
Mungkin parameter kalian berbeda, ya gak apa-apa juga, gak mesti sama lah semua orang tuu hahhahaha

Tidak ada yang salah menjadi orang 'biasa', toh semuanya hanya manusia biasa wkwkwkw

I don't know if this could bring new insight, but I hope so.
Anyway, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca :))

Sampai ketemu di [dua puluh enam] ya,

Cheers,
Em 🙆

Saturday, 13 June 2020

[dua puluh empat] Apakah hanya mata yang melihat?

Mengapa muncul istilah 'kalau jalan pakai mata?!' atau 'matanya ditaruh dimana?!'
Apakah orang kalau berjalan matanya tertutup? Wkwkwk 
Tentu tidak bukan? Hahahaa

Ada satu pengalaman yang mungkin teman-teman juga pernah mengalami nya meskipun dalam kasus yang berbeda.
Berhubung dalam rangka COVID-19 ini, kampus saya memberlakukan sistem one way, jadi 1 pintu hanya boleh digunakan untuk keluar atau masuk. Di depan pintu sudah tertempel tanda larangan yang besar berwarna merah dan bertuliskan 'Do not enter'. Akan tetapi, entah mengapa, mungkin karena masih terbawa kebiasaan sebelumnya, saya masuk lewat pintu tersebut, lalu teman saya memberitahu bahwa saya masuk di pintu yang salah. 

Setelah itu, waktu melintas kali berikutnya saya coba perhatikan pintunya, ada kok tandanya besar sekali tertempel di sana, tapi kok saya gak ngeh ya dengan tanda itu? Hahhaaa

Lalu, saya jadi berpikir dan merasa lucu sendiri, mixed feeling, lucu, aneh, merasa bego, tapi kagum juga. 
Kenapa kagum? Kagum karena begitu hebat dan begitu cepatnya pikiran, indera, dan alam bawah sadar kita bekerja sedemikian rupa.
Kenapa merasa bego? Karena ternyata ada hal yang sering sekali hilang atau luput ketika saya melakukan sesuatu yang membuat saya menjadi bego, menjadi tidak melihat apa yang seharusnya dilihat.

Inilah yang menjadi jawaban apakah hanya mata yang melihat. Maka jawabannya adalah tentuu tidakkk. Apakah ini hal yang baru untuk teman-teman? Kalau sudah tau sebelumnya, sudahi saja membacanya wkwkkwk mungkin kita sudah tau cuma kurang ngeh aja, kurang sadar gituu.

Jadi, selain mata, kita butuh perhatian, bahasa daerahnya awareness huehehee, jadi mesti waspada gitu lho. Contoh tadi waktu salah masuk pintu itu, mungkin perhatian saya lagi gak di situ, pikirannya lagi kemana-mana, ditambah lagi alam bawah sadar yang sudah menjadi kebiasaan masuk dan keluar lewat pintu itu, maka ketika ada perubahan ditambah kesadaran dan perhatian sedang tidak di sana dan di saat itu, segede apapun simbol di depan mata, kalau pikirannya sedang kemana-mana ya gak akan ngerti juga kalau di situ ada tanda larangan masuk gitu. 

Mungkin kita sering tidak sadar, bahwa kebanyakan yang kita lakukan itu karena alam bawah sadar saja tanpa adanya perhatian di sana, tidak ada kewaspadaan di sana, kurang fokuslah gitu. Jadi meskipun ada mata kalau gak ada perhatian sama aja gitu. Mirip kayak naruh kacamata di atas kepala, trus kacamatanya dicariin mulu wkwkwk karena waktu naruh kacamata di atas kepala tuh kita gak sadar, pikiran lagi kemana-mana, maka otak kita tidak betul-betul merekam hal itu karena dimana pikiran terpusat di situ memorinya akan lebih kuat. Ya gak sih? Hehehe

Mungkin teguran 'matanya ditaruh dimana' mesti diganti jadi 'pikiran perhatianmu lagi kemana' wkwkwkw

Jadi, perhatian apalagi kewaspadaan itu penting ya, karena bukan hanya mata tapi semua indera yang bekerja tanpa perhatian atau kewaspadaan itu tidak ada artinya. 

Kalau saya sering bilang, harus sadar!

Sampai ketemu di [dua puluh lima]

Cheers,
Em 🙆

Monday, 4 May 2020

[dua puluh tiga] corak jejak perak

In the end, it is not the years in your life that count, it's the life in your years
-Abraham Lincoln-

Mengulang tanggal yang dijadikan sebagai tanggal pertama kalinya kepala menyentuh udara yang ke-dua-puluh-lima-kalinya. Perak, kata orang. Seperempat, kata orang. Ya, itulah.

Ia mungkin spesial (pakai telor?) atau mungkin biasa saja atauu mungkin juga sama saja dengan hari yang lain, apakah hari biasa atau seperti tahun baru atau lebaran.

Mungkin ini adalah sebuah milestone, bagi sebagian orang. Bagi saya, sayapun ingin menjadikan dua puluh lima ini sebagai milestone yang penting, yang masih menjadi misteri.

Sebenarnya saya pun tak tahu mau menuliskan apa hahahaa ya kali nanti esok-esok bisa diedit. Yang jelas hari ini adalah gerbang memasuki masa perak itu.

Dua puluh empat sebelumnya sudah memberi banyak corak, dari belajar merangkak, belajar menulis, belajar mengetik, hingga sekarang belajar melihat dan menerima semua seperti sebagaimana adanya.

Sebenarnya tak ingin banyak selebrasi, inginnya lebih banyak refleksi, introspeksi dan kontemplasi.
Sebenarnya tak ingin banyak gaya, inginnya lebih banyak berupaya dan berdaya.

Apapun itu, semoga si perak ini senantiasa menjadi pengingat saya untuk lebih banyak melihat ke dalam diri, lebih banyak berkontribusi dan membawa manfaat.

Saya kiranya demikian.

Terima kasih perak minus one, selamat datang si perak, mari berjuang kembali, karena sekali lagi kata Ernest Prakasa, hidup bukan soal durasi, tapi soal kontribusi. Saya jadi ingat pesan yang pernah saya dengar 'Don't leave a place without a legacy'.

See ya at [dua puluh empat]
Cheers,
Em 🙆