Friday, 23 August 2019

[sebelas] Perisai Pujian

Menang tidak terbang, kalah tidak patah 
- Agus Harimurti Yudhoyono -
Hello again teman-teman semua hehee 
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat :)

Topik hari ini cukup membingungkan bukan? 
Hahahaa mengapa pujian memerlukan perisai, bukankah pujian adalah suatu hal yang baik dan bahkan dinantikan oleh banyak orang? Bukankah  malah hujatan yang memerlukan perisai sebagaimana hujatan apalagi dihujat oleh netizen kadang-kadang cukup menyakitkan dan menyeramkan? Wkwkwk

Ya, jadi dari beberapa pengalaman dan pemikiran ternyata pujian itu kadang-kadang jauh lebih 'berbahaya' daripada hujatan, termasuk hujatan netizen yang lagi naik daun sekarang ini wkwkw

Ketika kita dihujat, dikritik, atau dicela, itu mungkin menyakitkan. Hm, bukan mungkin, tapi pasti yaa. Tetapi, setelah itu menurut saya kita bisa recovery dengan cepat. Dari sekian banyak hujatan, celaan, kritikan pedas yang terpedaaas sekalipun kita pasti bisa (baik itu dengan mudah ataupun membutuhkan beberapa waktu) untuk bangkit dan belajar dari semua hujatan-hujatan itu. Bahkan kadang-kadang celaan yang paling menyakitkan malah menjadi motivasi paling mujarab untuk 'comeback stronger'. Motivasi untuk membuktikan bahwa 'mereka salah' dan 'kita bisa' begitu besar begitu nyata ketika kita menerima hal-hal yang kurang menyenangkan. 

Jadi ketika teman-teman dihujat apalagi oleh netijen wkwkk no need to feel bad, cukup buktikan bahwa mereka itu salah hehee

Nah, bagaimana kabarnya jika yang kita terima adalah puja puji yang membawa kita terbang ke langit ke 7? Hahahahaa apakah reaksi kita sama seperti saat menerima hujatan? 

Oo, tentu tidak dong yaa, toh kita menerima pujian, apa yang mesti dipusingkan? Bukankah pujian itu bagus? 

Yap, tentu psikologis kita akan berbeda. Semua orang pasti akan senang dipuji yang berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu baik dan disukai oleh orang lain. Lalu mengapa perlu perisai seperti judul topik kali ini? Ya, analogi nya seperti ini, ketika kita 'dibanting' kita pasti jatuh ke tanah, lantai, terserah apa intinya jatuh ke bawah, sedangkan ketika kita 'diterbangkan' kadang-kadang kita lupa dimana seharusnya kaki kita berpijak. 

Kira-kira seperti itulah mengapa kita tetap perlu perisai saat menerima pujian. Perisai di sini bukan berarti kita menolak pujian yang datang kepada kita. Tetapi perisai di sini berarti melindungi kita dari kata-kata manis pujian yang membuat kita lupa atau takabur dengan semuanya.

Kembali ke masalah psikologis, ketika kita sedih kita pasti mencari cara untuk menjadi bahagia kembali, tetapi ketika kita senang kita berusaha mempertahankan kondisi bahagia itu. Demikian juga ketika kita dihujat kita berusaha bangkit membuktikan diri kita. Tetapi ketika dipuja puji sangat mungkin kita terlalu senang terlalu bahagia sampai lupa diri.

Kita menjadi lupa kalau hidup ini dinamika, mungkin hari ini kita di atas tapi besok belum tentu. Kalau kita terus menganggap diri kita paling baik hanya karena sekalimat pujian maka bisa jadi celaka. Apalagi kalau sampai merasa diri paling benar, paling hebat, dan apalah orang lain, maka kita sangat perlu perisai itu.

Perisai yang akan membelokkan sudut pandang kita, membuat reaksi kita menjadi sama seperti ketika menerima hujatan. Membuat motivasi yang sama berlipat ganda untuk tetap menjadi yang baik, yang disenangi orang lain. 

Ya, kira-kira seperti itulah perisai pujian ini wkkww tentunya bukan berarti saya yang menulis ini sudah mampu menangkal pujian dengan bijaksana seperti yang diuraikan di atas yaa hahhaaa saya pun masih belajar wkkw

Oleh karena itu, semoga dengan sharing ini bisa bermanfaat menjadi pengingat untuk saya dan teman-teman yang sudah menyempatkan waktu membaca hehhee

Seperti yang saya kutip dari kata-kata Mas AHY di akun instagramnya, 'menang tidak terbang, kalah tidak patah' jadi pujian pun tidak membuat kita terbang, celaan tidak membuat kita patah. Tidak perlu lupa diri jika mendapat pujian, tidak perlu patah semangat ketika dicela. Tetap yakini apa yang diusahakan, tetap usahakan yang terbaik.

Sekian dulu,

See ya at [dua belas]

Cheers,
Em 🙆

Sunday, 4 August 2019

[sepuluh] Disappointment or Surprise ?

Don't expect too much, because that too much can hurt you so much
- Anonim -
Hi guys, apa kabar kalian? Semoga selalu baik ya hehee
Kali ini, kita akan membahas tentang 'harapan'. Bakal seru nih hahaaa begitu banyak opini yang muncul tentang 'harapan' ini. Kata orang harapan itu yang membuat kita hidup, membuat kita semangat, tapi kadang-kadang harapan itu juga membuat sakit hati, membuat putus asa.

Jadi harus bagaimana? Menggantungkan harapan, salah, tidak berharap, salah juga.

Pernahkah kalian ketika uang bulanan kalian sudah menipis dan ketika kalian sedang mencuci celana kalian tiba-tiba "Apa ya ini? Waah 50ribuu". Ah, saya yakin hampir semua orang mengalami hal ini. Bagaimana rasanya? Wah, seperti dapat durian runtuh hahhaaa seperti lagi haus-hausnya terus dapat air dingin segelas wkwkkw

Pernahkah kalian jalan-jalan ke supermarket atau toko, terus ngeliat sebuah makanan kemasan yang sungguh menarik perhatian. "Wihh, pasti enak nih", lalu dibelilah makanan itu, dibawa pulang. Waduh, ternyata zonk guys. Ternyata rasanya tidak se-"enak" kemasannya. Duh, apes.

Kedua hal di atas ataupun kejadian serupa lainnya sering, sungguh sering kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejadian pertama adalah surprise, karena kita tidak berharap. Ketika hal itu terjadi, tidak pernah terbersit di pikiran kita bahwa akan ada uang yang terselip. Malah, kadang-kadang ketika kita berharap malah uangnya gak ada wkwkwk. Sementara kejadian kedua adalah disappointment, karena di pikiran ini sudah ada gambaran harapan rasa yang enak lezat. Ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, ya udeh kecewa pemirsah. 

Kalau boleh memilih, yang mana yang kalian pilih? Ya pastilah gak ada yang mau kecewa kan. Jadi, apakah kita tidak boleh berharap? Kan nanti kecewa? 

Bagaimana???

Kalau menurut saya, berdasarkan yang pernah dialami dan yang sering direfleksikan, berharap itu boleh, as hope makes us alive, harapan yang bikin kita lebih semangat. Yang tidak boleh adalah memaksakan harapan menjadi kenyataan. Ya semacam expect too much gitu loh hahaaa. 
Lho, kalau begitu untuk apa berharap? Bukankah semua orang pasti ingin harapannya menjadi kenyataan?
Ya benar, ibaratnya pemain bola ngapain tendang bola kalau gak pengen gol kan. Tapi guys, kenyataannya adalah tidak semua harapan kita bisa menjadi kenyataan. Hal ini lah yang harus kita ingat dan pahami sehingga ketika yang terjadi tidak sesuai harapan maka kita akan tetap baik-baik saja karena kita tahu betul harapan tinggal harapan dan kenyataan yang saat ini terjadi.

Oh iya, kadang pula rasa kecewa itu semakin menjadi-jadi karena perspektif otak kita mengatakan bahwa peristiwa yang kita harapkan adalah yang terbaik. Jadi ketika kenyataan tidak sesuai harapan kita seolah terdoktrin bahwa yang sedang terjadi adalah hal yang buruk, hanya semata-mata karena tidak sesuai harapan kita.
Tentunya tidak seperti itu bukan? Tidak selamanya yang tampak buruk adalah buruk, dan tampak baik adalah baik. More than that, sometimes we don't even see that what is happened right now is a good thing, and maybe the best. We never know, so never judge.

Ya, jadi begitulah ya guys hahaaa mudah-mudahan ada faedahnya. Maka, berharap itu boleh-boleh saja apalagi kalau bisa menjadi motivasi kan bagus ya khan wkwkwk asal jangan terlena dan harus selalu ingat kalau harapan dan kenyataan tidak selalu sejalan. Expectation is okay, but expect too much, that too much is a problem.

See ya at [sebelas]
Cheers from thousand miles away from home :)
Em 🙆

Friday, 21 June 2019

[sembilan] the more you give, the more you receive

"the more you give, the more you receive"
Anonim

Akhirnya keluar juga setelah sekian lama hihii ..
Entah mengapa kemaren-kemaren rasanya belum punya ide yang pas buat nulis tentang topik ini. Sekarang baru muncul idenya. Yuks!

Guys, mungkin kalian sudah familiar dengan kalimat di atas 'the more you give, the more you receive'. Bagi saya sendiri, kalimat ini menjadi salah satu prinsip hidup yang mengingatkan bahwa apa yang dilakukan tidak semata-mata untuk diri sendiri, tetapi harusnya bermanfaat bagi orang lain pula. Oh iya, pernah suatu hari saya dan teman saya memiliki sebuah percakapan singkat seperti ini. "Hei, kamu itu kadang-kadang terlalu baik sampai sering dimanfaatkan oleh orang lain.", kata teman saya. Saya tahu saat itu kami hanya berbincang ringan sehingga saya pun nyeletuk "Ya tidak apa-apa, setidaknya saya masih bisa bermanfaat untuk orang lain hahahaa." Kadang-kadang kita hanya melihat sesuatu dari satu sisi dan mungkin kelihatannya buruk, tapi ketika kita mencoba melihat dari sisi yang lain, yang lebih unik, maka mungkin kelihatannya menjadi lebih baik. Ya, kenyataannya memang seperti itu bukan? Atau bukan? Hehehee

Nah, pola pikir manusia memang kadang-kadang menjengkelkan, hmmm, hanya mau untungnya saja, mau enaknya saja. Saya yakin ketika ditanya "Pilih yang mana, dikasih uang 100 juta atau harus mengeluarkan uang 100 juta" maka sebagian besar orang akan memilih dikasih uang 100 juta. Yes, most people want to receive many and sometimes forget to give more. Kita tidak berpikir jauh bahwa ketika kita mengeluarkan uang 100 juta bukankah artinya uang yang kita miliki lebih dari itu? Bahkan mungkin saja jauh lebih banyak dari itu? 

Manusia memang penuh perhitungan. Selalu menghitung kira-kira berapa keuntungan yang diperoleh jika mengeluarkan sekian banyak. Menghitung berapa balasan yang diterima jika memberikan sekian jumlah. Mungkin kita terlalu sering belajar matematika sampai lupa belajar biologi. Kita terlalu tekun belajar penjumlahan dan perkalian sampai lupa bahwa buah mangga hanya bisa dipetik dari pohon yang tumbuh dari biji atau bibit mangga. 

Bukankah alam sudah mengajarkan semuanya? Memang kadang-kadang manusia itu kurang peka. Wkwkwk. 

Karma does exist, hukum alam berjalan sebagaimana adanya secara universal. The more you give, the more you receive adalah salah satu kalimat yang mencerminkan hal ini. Ketika kita ragu untuk memberi, ketika kita segan untuk membantu, ingatlah kalimat ini kawan. Semua itu akan kembali kepada kita, tak akan salah, tak akan meleset, tak akan terlambat, tak juga terlalu cepat. 

Belum lama ini, saya seolah dijitak oleh teman saya sendiri hehee ia ingin memberi saya sesuatu, namun karena saya merasa segan saya pun menolaknya dengan tujuan yang baik. Setelah dipikir kembali ternyata saya menutup kesempatannya untuk memberi. Ah, dasar aku. Maaf ya, I should not do that. Saya pun berpikir mungkin saja pemberian itu merupakan hasil dari pemberian saya kepada orang lain dahulu kala. Oleh karena itu, saya pun seharusnya memberinya kesempatan untuk 'menanam' kebaikan melalui niat baiknya memberikan sesuatu kepada saya.

Not going to long, saya pribadi sangat yakin apapun yang terjadi, apapun yang saya terima tidak lain tidak bukan adalah hasil dari apa yang pernah saya perbuat sebelumnya. Semakin banyak yang kita berikan (secara ikhlas tentunya), maka semakin banyak pula yang akan kembali kepada kita. Eits, tentunya harus yang baik-baik yaa hehee 

Salam kebaikan :)
See ya at [sepuluh]

Em 🙆

Saturday, 11 May 2019

[delapan] Mengerti atau Dimengerti?

"The noblest pleasure is the joy of understanding"
- Leonardo da Vinci -

Hmm cukup menarique wkwkwk
Bicara soal mengerti, dimengerti, memahami, dipahami adalah hal yang cukup sensitif dan menyentil ego. Ya iya, most people want to be understood and very less people really want to understand. Apakah ini wajar? Kadang-kadang banyak yang bilang 'ah itu mah wajar semua orang ingin dimengerti'. Benarkah demikian? Pernahkah kita menelisik lebih jauh ke dalam diri dan batin kita permasalahan mengerti dan dimengerti ini? Mungkin dari luar cukup simpel tapi sesungguhnya banyak hal yang tersembunyi dan cukup complicated.

Mengerti dalam hal ini bukan hanya berbicara tentang mengerti orang lain tetapi juga mengerti lingkungan di sekitar kita.  Ketika kita dihadapkan pada suatu situasi yang berbeda dengan yang ada pada otak dan hati kita, saat itulah ego dan nurani ini beradu. Saya pribadi cukup yakin bahwa tiap orang dilahirkan dengan ego dan nurani. Ego berperan pada pemikiran untuk kepentingan dan kenyamanan diri sendiri sedangkan nurani berperan pada pemikiran yang luhur dan baik, yang kadang-kadang pula berarti apa yang nyaman untuk diri kita belum tentu baik wkwk. Kembali ke situasi yang berbeda tadi, saat itu, ego ini akan berpikir bagaimana untuk membuat segala sesuatunya sesuai dengan yang kita inginkan, yang bisa membuat kita nyaman, sebaliknya nurani akan berpikir untuk bisa beradaptasi dan memahami dengan perbedaan itu. Hanya saja, tahukah teman-teman, nurani ini kurang lebih sama wujudnya dengan orang-orang baik yang cenderung tenggelam suaranya dibandingkan orang-orang yang berkoar-koar tanpa ada niatan baik sedikitpun. Terkadang, tanpa sadar, kita ini tidak mendengarkan sang nurani itu, kita mengabaikannya. Pada saat itulah, kita ingin dimengerti. Masih berlanjut, kita pun masih merasa baik-baik saja dengan rasa ingin dimengerti itu, yang lebih parah adalah kita malah kadang berdalih dengan pasrah bahwa memang beginilah adanya, tidak bisa diubah. 

Kadang-kadang lucu memang 'hooman' ini (hooman biar kekinian hahaha),  magernya kadang-kadang sampai ke hati wkkwkw. Bukannya gak bisa diubah sih, kitanya saja yang biasanya malas untuk berubah, malas untuk berusaha berubah. Mengerti termasuk bagian dari berubah. Ketika kita mencoba untuk mengerti, kita berusaha untuk berubah, mengubah pandangan kita terhadap sesuatu entah itu lingkungan atau orang, mengubah hati kita dari yang tadinya susah untuk mengalah menjadi mau mengalah dan menyesuaikan diri, mengubah ego kita yang tadi 1000% menjadi 50% mungkin hehee, mengubah diri kita menjadi lebih baik.

Coba bayangkan ketika ada 4 orang berada di satu ruangan dengan minuman kesukaan yang berbeda-beda, ada yang suka teh manis, teh tawar, teh susu, dan lemon tea. Mereka sedang kehausan dan hanya terdapat 1 buah gelas (anggap aja gelasnya gede bisa buat berempat ya hehehehe) yang berisi teh. Ketika semua ingin dimengerti maka mereka akan bertengkar tidak jelas hanya untuk sebuah rasa teh. Tetapi ketika semua bisa saling mengerti maka rasa haus mereka mungkin bisa segera hilang karena mereka mau menyesuaikan dengan 1 rasa teh.
Begitulah kadang-kadang kekerasan hati kita untuk mau dimengerti bisa berujung pada sesuatu yang kurang baik. Belum tentu orang bisa mengerti kita. Kadang-kadang kita malah menyalahkan orang lain, 'dia sih gak bisa ngertiin aku'. Ketika mengatakan demikian, sempatkah kita berpikir bagaimana dengan kita sendiri? Kadang kita lupa, dasar kita! Wkwkw.

Sulit memang gaes, ngetik mah gampang yah hahaa, tapi adakah hasil tanpa usaha? Memang tak ada manusia yang sempurna, kita pun tidak mungkin bisa setiap saat setiap waktu 100% dalam kondisi mengerti orang lain. Tapi, kita bisa belajar, berusaha untuk melihat lebih jauh ke dalam hati kita, sedikit lebih mendengarkan sang nurani dan mengecilkan volume ego, sebelum memutuskan ingin dimengerti. Ketika kita bisa mengerti orang lain, mengerti keadaan lingkungan sekitar kita maka tidak ada salahnya untuk menyesuaikan diri. Tidak ada salahnya memperkaya diri dengan hal-hal baru, keluar dari comfort zone, mungkin saja kita bisa menemukan comfort zone yang lain yang lebih menarik ketika kita mencoba mengerti dan memahami, mungkin saja kita menjadi lebih lega dan bahagia ketika melihat orang lain bahagia jika kita bisa mengerti dirinya. Kita tak pernah tahu. Tak selamanya yang kita inginkan bisa terjadi, tapi tak selamanya juga yang kita inginkan tidak bisa kita raih.

Selamat berjuang untuk menjadi lebih baik, telisiklah lebih jauh ke dalam hati, banyak hal yang bisa kita pelajari tapi kita belum menyadarinya.

Serius amat ya hahahaa ini hanya sharing ya teman-teman berdasarkan pemikiran dan pengalaman pribadi. Semoga bisa memberi manfaat :))

See ya at [sembilan]
Em 🙆

Sunday, 31 March 2019

[tujuh] Hidup Tidak Se-Kuantitatif Itu, Uncle!

"And as I like to tell the C students ... You, too, can be president."
- George W. Bush -

Pada suatu sore ada seorang uncle yang kebetulan kantornya berada di sebelah rumah saya. Hampir setiap hari belio datang ke rumah untuk sekedar jajan kue dan bercengkerama dengan papa saya. Dan saat itu, kebetulan saya yang sedang jaga warung dan terjadilah percakapan berikut
Uncle : Kalau IPK tinggi itu berapa ya?
Me : Hm, paling tinggi 4,0
Uncle : Artinya pintar ya kalau IPK nya tinggi, bagus masa depannya
Me : Hehehe

After that, saya langsung mikir, I get to write this on my blog, this is a misconception hohooo
Yap, cara berpikir yang, hm, menurut saya cukup sempit dengan "menerawang" masa depan berdasarkan prestasi akademik semasa sekolah. I am not saying that education is not important, NO, education is so crucial for someone's future. Tapi, ada hal lain yang perlu dilihat selain "nilai" yang tertera pada ijazah. I want to say that "hidup tidak sekuantitatif itu". We cannot measure life using numbers. Fiuhh ..

Let's see the reality, gak semua orang sukses punya latar belakang pendidikan yang mulus. Contohnya Steve Jobs yang drop out dari kampusnya, atau Mark Zuckerburg bosnya Facebook yang lebih memilih Facebook nya daripada kuliahnya. Eits, tunggu dulu, mereka adalah contoh tokoh-tokoh sukses yang tidak menyelesaikan pendidikan formalnya. Tapi, tentu banyak juga di luar sana orang yang hidupnya kesusahan karena tidak menyelesaikan pendidikan formalnya. Ada, banyak. Jadi, pendidikan saja bukanlah penentu kesuksesan seseorang.Kesuksesan seseorang ditentukan oleh banyaknya faktor selain pendidikan, seperti karakter, soft skill, dan attitude contohnya yang mana hal-hal ini tidak diperoleh secara langsung di bangku sekolahan. 

Saya jadi teringat perkataan salah satu dosen saya, "Kalau kuliah, jangan main-main, jangan menggunakan tameng bahwa Steve Jobs yang putus kuliah saja bisa sukses, karena kalian bukan Steve Jobs, dan kalian tidak tahu apa yang dia telah lakukan saat dia memilih berhenti kuliah. Kalau kalian saat ini tidak sedang melakukan apa-apa, maka belajarlah yang baik". Saya setuju dengan dosen saya ini. Di zaman seperti sekarang ini, punya latar belakang pendidikan yang baik saja kadang susah mencari pekerjaan apalagi yang tidak punya. But, I don't deny for those who can survive and success without educational background, that's great, really. Tapi untuk kita atau kalian yang merasa masih bisa sekolah maka tempuhlah pendidikan itu dengan baik. Belajarlah bukan untuk nilai tetapi untuk ilmu, carilah pengalaman sebanyak mungkin semasa sekolah, asahlah soft skill yang bisa diperoleh semasa sekolah, bentuklah karakter terbaik mu semasa sekolah. 

Jadi, kesuksesan bukan tentang nilai kita di ijazah. Itu bukan yang paling penting. Hal yang lebih penting adalah ilmu yang kita punya, karakter yang kita miliki, soft skill yang kita kuasai, attitude yang kita biasakan, yang mana semuanya itu sangat bisa kita peroleh saat kita menempuh pendidikan. 

Teruslah belajar untuk suksesmu, karena hidup bukan sekuantitatif nilai di ijazahmu, belajarlah untuk ilmu bukan untuk nilai.

Semangat, dari yang masih dan terus belajar,
See ya at [delapan]
Em 🙆

Friday, 29 March 2019

[enam] Bersyukurlah!

Ketika kamu sudah jarang berkumpul dengan teman-temanmu karena kesibukan masing-masing
Bersyukurlah, kesuksesan semakin dekat dengan kalian

Ketika kamu mengeluh karena tugas kuliah yang begitu banyak
Bersyukurlah, kamu sedang ditempa untuk menjadi lebih kuat

Ketika kamu kecewa karena temanmu ingkar janji
Bersyukurlah, kamu sedang belajar bersabar

Ketika kamu belum punya kendaraan, dan harus berjalan kaki kemana-mana
Bersyukurlah, kamu punya kesempatan untuk menjadi lebih sehat

Ketika temanmu meminjam uangmu dan lupa mengembalikannya
Bersyukurlah, kamu sedang belajar memberi dan melepaskan

Ketika kamu putus dengan pacarmu,
Bersyukurlah, kamu dijauhkan dari orang yang salah

Ketika kamu sakit,
Bersyukurlah, kamu ada kesempatan beristirahat

Ketika atap rumahmu bocor, 
Bersyukurlah, kamu masih lebih beruntung dibandingkan orang-orang yang tak memiliki rumah untuk berteduh

Ketika gajimu masih sedikit,
Bersyukurlah, kamu masih bisa belajar berhemat, banyak orang yang menginginkan bekerja sepertimu

Ketika kamu mengomel karena dibangunkan di pagi hari
Bersyukurlah, karena kamu masih bisa bangun pagi dengan sehat

Ketahuilah bahwa begitu banyak hal yang dapat kita syukuri dalam hidup ini, sekalipun itu hal yang kita anggap buruk. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda, selalu ada pelajaran yang bisa diambil dalam suatu peristiwa. Bersyukurlah karena ada begitu banyak orang yang hidup dalam keadaan kurang beruntung daripada kita. 

Hidup akan lebih bahagia jika kita bersyukur.

See you at [tujuh],
Em 🙆

Saturday, 9 March 2019

[lima] #MulaiAjaDulu

Success is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.
-Winston S. Churchill-
Hello!!
Kali ini pengen ngambil promo tagline dari salah satu toko online yang terkemuka di Indonesia dan belakangan ini sering banget kita lihat iklannya di TV, #MulaiAjaDulu (taulah ya toko online mana hehee gak endorse lho)

So, it's simple, very simple, but those words are so damn trueee. Banyak orang yang bilang fase paling sulit dalam ngelakuin sesuatu adalah memulainya. That's it. Kita semua pasti pernah mengalaminya kan, contoh paling kecil deh, mandi. Apa sih susahnya mandi? Semua juga bisa, nyiram-nyiram badan doang, sabunin, bilas, udah. Tapi kadang-kadang mau mandi aja susah banget, apanya yang susah? Yaa yang pertama pastinya kemageran kita, buat beranjak dari kasur ke kamar mandi nya yang susah. Mulai geraknya yang susah. Yang kedua mungkin kalau airnya lagi gak ngalir kali ya gimana mau mandi hehee

But, ya that's the point, kita terlalu sering memiliki ketakutan-ketakutan untuk hal-hal yang masih belum pasti (dan juga kemalasan biasanyaa) padahal kans untuk sukses dan berhasil itu selalu ada. Be positive guys. Misalnya nih, pengen bisnis tapi takut rugi, takut gak ada pasar, atau pengen sehat tapi bilangnya sibuk gak sempet olahraga, gak ada yang masakin jadi makannya gak sehat, atau mau belajar nulis tapi takut gak ada yang baca, takut jelek, dll. 

We have too much fear here that makes us forget that successful is there waiting for us. 

So, it's simply, #MulaiAjaDulu, just start it. Oh iya tapi di sini bukan berarti "hantam lurus" ya, semacam maju aja gitu tanpa persiapan dan senjata hahaa wah bisa berabe nih. Memulai di sini berarti bahwa kita mulai beranjak untuk melakukan kegiatan kita yang besar dengan hal-hal yang kecil-kecil (macam nyicil gitu) dengan pikiran sepositif mungkin. Kita bisa mulai dari mempersiapkan, mempertimbangkan, menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan, dan seterusnya sampai yang kecil-kecil tadi menjadi suatu yang besar. Pokoknya gitu lah ya hahahaa

Jadi, saya nulis ini buat ngajak diri saya sendiri dan kalian semua untuk #MulaiAjaDulu dengan rencana-rencana kita. Sukses bukan akhir, gagal bukan mati. Semua adalah proses. Rencana-rencana besar ditentukan oleh satu langkah pertama dan langkah-langkah kecil berikutnya yang kita ambil. Stay positive, your success is already there. 

Cheers, see ya at [enam]
Em 🙆

Saturday, 2 March 2019

[empat] Komunikasi

Good communication is the bridge between confusion and clarity
- Nat Turner -

Ketika pikiran tak mampu dibaca
Ketika sorot mata tak mampu diartikan
Ketika raut wajah tak mampu ditebak
Saat itulah, kata mengambil peran

Komunikasi menjadi penting dalam suatu hubungan
Entah itu keluarga, persahabatan, apalagi hubungan untuk masa depan
Tanpa komunikasi bagai perselisihan
Hanya diam tanpa lisan

Apapun itu, meskipun sulit dan pahit
Tanpa jarum, benang takkan terjahit
Tanpa kata, kondisi akan berbelit
Bicaralah, agar tiada curiga terbesit 


Dah, itu aja heheee dah bisa ya jadi kayak presenter gitu hohooo 😎😂
Cuma mau bilang kalau komunikasi itu penting dalam semua tahap kehidupan ini, 
karena manusia bukan dewa atau Tuhan yang bisa membaca pikiran
Sekian

Cheers, sampai bertemu di [lima]
Em 🙆