Sunday, 11 December 2022

[enam puluh enam] happy birthday super boss

wishing you the happiest birthday our super boss

Talking about parents and children relationship, we didn't choose our parents, they didn't choose us as their children either. So, I think it's another unique relationship that exists in this world wkkww

As people say, as we grow bigger, our parents are getting older, too. So, setelah hidup sekian tahun, today I'd like to say some sentences for my beloved boss, the most discipline person ever in the family. He is absolutely not perfect, but he has almost all the good things in life, hard work, persistent, logic, totalitas tanpa batas, and berpegang erat pada prinsip hidup, one of them is honesty. He always said that kalau kita jujur, kemanapun kita akan merasa aman. He also said tidak apa-apa hidup sederhana, yang penting kita tidak punya utang dengan orang lain, kita bisa hidup tenang dan nyaman. Those words are simple yet so true. Oh iya, he doesn't only put it in words, but also in his life. So, I think that's how we, or especially for me, learnt practically from him, not only just listen to what he said, but also see how he put in actions. 

I would say that I am extremely grateful to be in this family. A lot of life lesson learnt until now, like I said not only nasehat-nasehat, but I see it in our daily life. Oh iya, talking about parents too, there is a tendency that the older our parents, the more difficult that children can handle them, which can create some conflict in this unique relationship. However, untungnya, as I said that he is the most discipline person ever, so he know and fully aware on his own health. So, kalau biasanya anak-anak agak membatasi orang tua makan manis dsb khususnya kalau ada diabetes (actually I saw this on my grandma, she loved sweets but she had diabetes, jadi ya begitulah), but in the case of this man, he is fully aware about everything. I think one of his life prinsiple really works yaitu tidak mau menyusahkan orang. That is one thing that I really admire about him. 

Nobody's perfect, he used to get angry easily (sekarang sudah tidak wkwkww), tidak suka menunggu (karena sangat sangat on time), tidak suka ribet, doesn't like mistakes wkwkkw. Introvert man, tidak suka kumpul-kumpul wkkwkww

Don't want to get this longer, life is not easy for him, he didn't get proper education, but how he is able to get his children to higher education (2 kali wisuda for each) is superb. He also said this frequently "We, parents, doesn't have a lot of things to give you guys, but what we can give is education. Education will make your life better". He has gone a lot of things in life, he has reached this point, it's time to slow a little bit, good man. His love for family is not in words, but in actions. 

It's his belated birthday, but I wish him long life, good health, and  happiness. Thank you for everything.

One closing statement, a sentence from him yang menurut saya cukup fenomenal wkwkw "if you have a boyfriend/girlfriend, don't love him/her 100%, but whenever he/she becomes your husband/wife, you must give your family your 100%". Applause wkkwkw

Cheers for my super boss,

See you at [enam puluh tujuh]

Em🙆

Sunday, 4 December 2022

[enam puluh lima] motivasi, inspirasi, dan urgensi

you can be motivated or inspired enough to start something, but you'll never be motivated nor inspired enough to maintain something, you need much more than that

Akhirnya satu draft lama terpost juga kwkwkw

Anyway, nulis ini karena dulu pernah ikut beberapa seminar-seminar motivasi termasuk nonton di metro TV acaranya bung Mario Teguh wkwkwk tapi sekarang ini udah jarang ya ada begitu-begitu, di youtube dah banyak kalau mau nyimak.

Tapi, hari ini bukan mau menulis tentang acara seminar motivasi itu wkwkwk

Jadi, dulu setiap selesai ikut seminar motivasi atau nonton di televisi atau melihat orang yang sukses misalnya, pasti saya jadi semangat, wah saya akan begini, aplikasikan ini dan itu, liat orang pakai metode ini dan berhasil jadi ikut juga, dan lain sebagainya. Tapi, ternyata itu tidak berlangsung lama, begitupun kalau terinspirasi dari orang lain, sama saja. Setelah beberapa waktu semangatnya jadi kendur, tidak bisa konsisten. Begitu terus berulang.

Lama kelamaan menjadi tahu kalau motivasi dan inspirasi itu faktor eksternal dari luar yang mendorong kita melakukan sesuatu, tapi untuk bertahan di track itu tentu butuh yang lebih besar dari itu yaitu faktor internal. Sama seperti yang biasa orang bilang, mustahil untuk mengubah seseorang, kecuali perubahan itu datang dari diri nya sendiri. Tidak ada faktor eksternal apapun yang demikian kuat untuk mengubah seseorang jika dari dalam dirinya tidak ingin perubahan itu terjadi.

Satu hal lain yang mungkin bisa lebih tinggi daripada motivasi atau inspirasi itu menurut saya adalah urgensi, itupun sudut pandang nya harus diubah, yaitu ketika kita memang melihat itu adalah sesuatu yang sangat penting, genting, dan mendesak. Dengan begitu, kita akan sadar dan membuat kita memulai dan bertahan dalam melakukan sesuatu. 

Sejauh ini, masih yakin dengan hal ini, oleh karena itu, faktor internal yang berusaha untuk dibangun (meskipun sulit yee wkwkw) tapi setidaknya diusahakan dulu hahaha caranya mungkin dengan analisa, berpikir, merenung, seperti biasa kwkkwkw melihat ini penting ndak, ini urgen ndak, arahnya ke mana, pengaruhnya ke mana, caranya bagaimana, dan lain-lain, dengan begitu akan lebih terarah dan lebih bisa di-maintain. Selama belum tuntas, maka pasti suatu tindakan sulit dipertahankan.

Begitu kali ya, masih bingung juga sih, sekadar catatan saja, mungkin suatu hari bisa berubah, selain itu juga selalu  mengingatkan untuk melihat ke dalam untuk apapun itu, karena apapun siapapun tidak bisa membuat dorongan yang begitu kuat seperti dorongan dari dalam diri.

Tapi bukan berarti juga motivasi dan inspirasi itu tidak dibutuhkan, itu bisa saja jadi trigger tapi penentunya selalu dari dalam. Motivasi dan inspirasi itu seperti bahan kita untuk mengolah, menganalisa, berpikir. Kalau tidak ada motivasi dan inspirasi dari luar juga kadang-kadang kita bingung kan ya mau mulai dari mana wkwkwk

So we need both, motivasi dan inspirasi itu ibaratnya bahan bakar untuk kendaraan, tapi motor atau mobilnya itu gak mungkin bisa jalan kalau starternya tidak dinyalakan, gasnya tidak dinaikkan. Starter dan gasnya ini harus dari dalam sehingga bisa terus berjalan sampai di seberang wkwkwkwk

Tidak perlu juga menyalahkan faktor luar kalau ada sesuatu yang tidak bisa kita pertahankan usahanya wkkwkw karena memang intinya bukan di situ. Dalam hal inspirasi dari orang lain, mungkin apa yang orang alami belum tentu kita alami, atau memang kita nya saja yang belum cukup trigger dari dalamnya wkwkwkw

Semangat untuk diriku dan semua orang untuk apa yang sedang diusahakan yaaakkkk

Sampai ketemu di [enam puluh enam],

Cheers,
Em🙆 


Friday, 2 December 2022

[enam puluh empat] if Heaven had dial hours

I don't remember precisely, but that one time I saw someone posted this in instagram story: if heaven had dial hours, and suddenly I think that's true :')

Untuk kawan-kawan yang mungkin pernah kehilangan apalagi orang terdekat, pasti relate dengan sepotong kalimat itu. Sejujurnya sampai sekarang masih suka bingung kadang-kadang, when you miss that someone, you must think that hmm it would be great if heaven had dial hours hehehee meskipun itu adalah hal yang tidak mungkin, tapi apa yaa itu sebuah ketidakmungkinan yang sering muncul dalam pikiran.

Sebagai orang biasa, apalagi kalau ada hubungan personal atau keluarga, atau kita sering ngobrol dengan seseorang dan tiba-tiba orang nya gak ada, di beberapa waktu kita pasti berpikir untuk bisa ngobrol kembali, tapi yah memang agak mustahil yak wkwkkw so it's kinda mixed feeling, sedih juga, tapi lucu juga, terus membayangkan excitement nya kalau kita bisa ngobrol lagi seperti dulu.

Yah, begitulah, narasi saya hari ini kurang jelas yak wkwkwk, sejujurnya juga bingung mau tulis apa hahaa bingung mendeskripsikannya, tapi sebenarnya kenapa saya nulis post ini, adalah karena saya yakin kalimat itu pasti keluar dari suatu kerinduan hati yang mendalam (ciaelah hehehe), satu kalimat harapan yang kita tau itu tidak mungkin, tapi disebutkan sebagai penawar, menurut saya mungkin kurang lebih seperti itu. Salah satu hal yang kita ingin sekali lakukan, tapi kita tau tidak bisa, maka keluarlah kalimat seandainya tersebut hehhee

Okay, gak tau mau ngomong apa lagi hahahha 

Sampai ketemu di [enam puluh lima]

Tak terasa sudah Desember yaaa hahhaaa

Cheers,

Em🙆

Sunday, 20 November 2022

[enam puluh tiga] just go

No matter how hard it is, or how struggling you are, if you are gonna do something, just go, just do it. Time will eventually have an answer

Halo teman-teman semua, kembali saya nge-post lagi hehee

Kali ini ingin berceloteh ringan saja, sudah banyak ide-ide tapi hanya tersangkut di draft, jadi yah mari kita eksekusi saja di hari libur ini wkwkwk

Jadi bermula saat saya sudah menyelesaikan suatu pekerjaan, kemudian saya teringat kembali bagaimana saya memulai pekerjaan itu. Kalau kita berbicara tentang suatu hal atau pekerjaan yang harus diselesaikan, tentunya tidak semua hal bisa one-step done yah wkwkw. Sebenarnya, semua hal pasti butuh proses, hanya saja ada yang pendek, panjang, atau bahkan sangat panjang. Kebetulan, saat itu, hal yang saya kerjakan ya lumayanlah prosesnya, kalau saya bilang mungkin agak panjang, tapi karena memang harus diselesaikan jadi mau gak mau kan yahh harus dikerjakan hahhaa. Pada awalnya kayak malas sekalii hehee soalnya banyak step-stepnya kan, bukan cuma masalah banyak stepnya, tapi tiap step itu lumayan lah menantang hahahaa intinya begitu. Tapi, ketika pekerjaannya sudah selesai, saya langsung jadi mikir, wah ternyata bisa juga ya saya selesaikan. Kemudian, teringatlah hal-hal lain yang mirip-mirip seperti itu. Kemudian mikir lagi, wah, ternyata, kuncinya memang ya kerjain aja, daripada kebanyakan mikir, ga dikerja-kerjain kan hhahaa jadi mending memang langsung dikerjain, meskipun mungkin pacenya akan slow tapi ya pelan-pelan pekerjaannya akan selesai. Soalnya, kalau kebanyakan dipikir, kita jadinya melihat semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang padahal belum tentu terjadi. Udah mikirin sulitnya, ribetnya, gagalnya, dan lain sebagainya. Padahal kan peluang nya masih fifty-fifty, dan di atas semuanya, sebagaimanapun pekerjaan itu tetap harus diselesaikan, jadi ga ada gunanya terlalu dipikirkan kesulitannya, gitu.

Sama halnya seperti kita menyusun puzzle. Puzzle paling sulit yang pernah saya buat itu yang 500 pieces, itupun pemberian orang wkwkw kalau kita pertama kali tuang puzzlenya langsung puyeng lah liat 500 biji kecil-kecil beut. Tapi, kalau kita pelan-pelan cari celah, mungkin kerja yang bagian framenya dulu, terus liat dari warna, dan seterusnya, maka pelan-pelan gambarnya akan terbentuk dan puzzlenya akan selesai. 

Saya yakin kita semua pasti pernah mengalami itu, termasuk saya. Maksudnya, hampir semua yang kita kerjakan itu stepnya seperti itu, malas di awal, terus karena harus diselesaikan, jadi ya dikerjakanlah sampai akhirnya selesai. Tapi, kita jarang menotice hal itu, dan itu terus berulang-ulang padahal kita harusnya tau, bahwa pada akhirnya pekerjaan memang harus dikerjakan. Karena membayangkan betapa susahnya suatu pekerjaan tidak berefek terlalu banyaklah yaa hahhahaa. Tidak cuma pekerjaan saja sih, tapi apa saja, misalnya perjalanan, atau even cita-cita. Ada pepatah yang bilang bahwa a long journey starts with a single step, it is damn true. Ga usah mikir seluruh perjalanannya lah, satu langkah aja dulu, ya khaan, karena pada akhirnya waktu juga yang bersama-sama dengan kita menjawab atau menyelesaikan hal itu.

Hahahaa ngemeng opooo iki

Ya begitulah yaaa, seperti biasa sebagai reminder aja buat saya, maklum suka lupa wkwkwkk

Yasudin, semoga kita semua tetap semangat menyelesaikan hal-hal yang harus dikerjakan, karena kalau tidak dkerjakan bagaimana bisa selesai kan. Namanya juga pekerjaan, harus dikerjakan, kalau pekarangan berarti teras rumah.


Sampai ketemu yah di [enam puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 30 October 2022

[enam puluh dua] what does matter doesn't really matter

Hey hey hey, it's been the end of October, yet has posted anything for this month wkwk so this will be the one. 

Jadi, bahasan hari ini itu soal prioritas. Beberapa hari belakangan sempat berpikir hal-hal yang menurut saya penting tapi ternyata setelah bertanya-bertanya, hal-hal tersebut belum tentu penting juga untuk orang lain. And then, fully realised that the things that matter are closely related to one's priority. Sehingga judul di atas menjadi seperti itu. Apa yang penting menurut kita belum tentu penting menurut orang lain. Kenapa bisa? Tentunya pasti banyak hal yang menjadi faktor. Setiap dari kita pasti punya latar belakang yang berbeda, kepribadian yang berbeda, dan kesukaan yang berbeda. Dari ketiga hal itu saja bisa berujung pada banyak nya hal-hal yang berbeda jika berbicara tentang prioritas, tentang apa-apa saja hal yang penting.

Di sisi lain, setelah berpikir juga beberapa waktu lalu, I kinda mislead between what does matter and what is good. Agak rancu sedikit. Jadi, dalam frame berpikir saya, hal-hal yang saya anggap penting adalah hal-hal yang menurut saya baik. Sehingga, agak sedikit mengganggu ketika hal-hal yang saya anggap penting itu tidak dianggap penting oleh orang lain, karena justifikasinya adalah hal itu adalah hal yang baik tapi kenapa menjadi hal yang tidak penting. Padahal, sebenarnya, setelah dipikirkan kembali, penting dan baik itu adalah dua hal yang berbeda. Hal yang baik tetaplah hal yang baik terlepas dari dia penting atau tidak penting. It's kinda value of something. Sedangkan sesuatu yang penting atau mendesak itu menjadi urusan prioritas, urutan. Jadi, di titik itu, cukup bisa memahami, meskipun tak tau juga lah ini benar apa ndak hahahaha intinya, setidaknya tidak terlalu terkekang dengan pola pikir yang kaku. Perbedaan itu lumrah, prioritas itu bisa berbeda, tapi hal-hal yang baik maka biarlah dia tetap menjadi hal yang baik terlepas itu penting atau tidak.

Karena, pernah ada suatu pemikiran, bahwa jika suatu hal itu penting dan baik menurut saya dan tidak penting (tapi belum tentu tidak baik) menurut orang lain, maka tidak ada suatu yang pakem yang bisa dipegang untuk diperjuangkan, karena toh bagi orang lain itu tidak penting, so nothing does really matter. However, I lost the point of goodness. Maka dari itu, kesimpulan yang saya ambil akhirnya adalah bisa jadi tidak ada yang benar-benar penting absolut untuk semua orang di dunia ini. Karena prioritas bisa berbeda. Tapi, jika saya meyakini suatu hal adalah baik, maka terlepas itu penting atau tidak penting, untuk saya ataupun untuk orang lain, maka hal baik itu tetaplah harus dipegang. 

Cause nothing does really matter, what does matter doesn't really matter, what if it's good, even if it doesn't matter, it will be still good, however.

A simpel short note for me as another reminder. 

I'll see you at [enam puluh dua tiga]

Cheers,

Em🙆

Sunday, 18 September 2022

[enam puluh satu] how I met math

Hello guys, 

Hari ini mau share sedikit tentang suatu hal yang baru kepikiran belakangan. Beberapa hari terakhir ini memang cukup sibuk dengan pekerjaan, kemudian di akhir minggu ada tawaran mengajar 2 kelas sekaligus, tapi saya menyanggupinya, mana materinya perlu dibuat, yang berarti hari Jumat malam dan Sabtu saya perlu menyisihkan waktu untuk membuat materi pelajaran. Kemudian saya jadi berpikir, lucu juga ya, kenapa menyanggupi mengajar 2 kelas yang materinya belum ada padahal seminggu ini sudah lumayan kelelahan dengan pekerjaan. And that's what I am trying to figure out the answer here.

As a context, jadi saya sudah menjadi tutor sejak kelas 2 SMA. Jadi, waktu kelas 2 SMA ada tawaran dari seorang guru di sekolah untuk bantu dia mengajar kursus. Memang waktu itu pengajarnya banyak dan beberapa ada yang masih SMA atau kuliah. Jadi, pengalaman pertama saya mengajar adalah di tempat guru saya itu. Mengajar matematika dan juga fisika. Saya mengajar secara kontinu kurang lebih selama 7 tahun dari kelas 2 SMA hingga sebelum sekolah S2. Di selang 7 tahun itu, ada beberapa bulan yang lowong tapi selebihnya saya mengajar. Tak bisa dipungkiri juga kalau dari situ saya dapat uang tambahan wkwkw jadi kalau mau beli apa-apa tidak perlu minta ke orang tua. Kadang-kadang masih minta sih hahaha tapi lebih jarang lah.

Okay, back to the topic, jadi setelah dipikir dan dipikir, I think that math is my comfort zone. Jadi, waktu mengajar pertama kali itu saya masih mengajar matematika dan fisika sampai di tempat terakhir saya mengajar itu saya cuma mengajar matematika. Di satu sisi, dulu nya waktu SMA memang saya mendapat kesempatan ikut olimpiade fisika waktu itu syukurnya bisa sampai nasional meskipun tidak mendapatkan medali. Tapi, entah kenapa saya kurang confident dengan kemampuan fisika saya. Jadi, saya ndak berani untuk mengajar fisika, lebih pede rasanya mengajar matematika, sampai sekarang ini, meskipun ga jago-jago banget juga sih hahaa tapi setidaknya untuk pelajaran sekolah masih okelah, masih banyak yang diingat.

Nah, di sini saya mau share bagaimana saya dulunya bisa belajar matematika yang bisa membuat saya mengingat sampai sekarang dan masih bisa mengajarkan kepada orang lain. I am really thankful for meeting my math teacher. Karena beliau lah, matematika jadi satu pelajaran yang meninggalkan kesan dan pemahaman paling dalam. 

Waktu SD saya pernah beberapa kali mewakili sekolah mengikuti lomba matematika, tapi gak pernah menang wkwkk saya masih ingat, waktu SD itu saya ikut les di sekolah sementara kebanyakan teman saya itu les di luar di guru A, B, C, dst. Saya juga masih ingat bagaimana saya tidak paham bagaimana menghitung perbandingan skala, menghitung luas lingkaran, menghitung keliling lingkaran. Tidak paham saya dan tidak bisa menghafal. That's why biology doesn't work on me, sad. Jadi, saya tidak bisa menghafal rumus, hanya beberapa saja yang bisa saya ingat, dan jika soalnya sudah diutak-atik saya sudah tidak bisa jawab. Alhasil, waktu ujian kelulusan SD, nilai ujian matematika saya di batas rata-rata, kalau tidak salah dapat 5 atau 6, pokoknya udah mepet gak lulus waktu itu. Saya jadi mikir, kok bisa ya nilai matematika saya jelek, padahal saya pernah ikut lomba loh. 

Setelah itu, masuk SMP, saya dikenalkan oleh tetangga saya seorang guru matematika. I have no idea dengan guru ini. Setelah masuk baru tau, ternyata beliau guru yang membina murid-murid yang ikut olimpiade. Wah, di situlah perjuangan (penderitaan) dimulai. Kalau orang bicara titik balik, salah satu titik balik saya itu waktu masuk belajar di situ. Dari yang dulu nya ndak paham matematika sampai yang paham kenapa rumus ini begini kenapa rumus ini begitu. Kenapa saya tadi bilang penderitaan, saya belajar dengan beliau dari saya kelas 1 SMP sampai saya bisa lolos olimpiade tingkat nasional di kelas 2 SMA, sekitar 5 tahun non stop, paling pernah istirahat 1-2 bulan tapi akhirnya kembali lagi belajar di situ. Luar biasa sih peran beliau dalam pendidikan sains saya wkwkwk. Oh iya balik lagi, kenapa saya bilang penderitaan, yang pertama, karena saat itu jam belajarnya itu dari jam 4 sore sampai jam 7 malam (paling cepat), 2 kali seminggu. Bahkan, awal-awal saya itu mulai dari jam setengah 4, biasa pulang jam setengah 8 kwkkw. Selama jam belajar itu, ga boleh main hape, waktu itu handphone juga belum secanggih sekarang sih, pokoknya dilarang main handphone. Selama jam 4-7, yang dilakukan cuma bisa belajar, yaitu kerja soal atau membaca, kalau capek ya liatin orang atau bengong hahahaa. Kemudian, saya masih ingat sekali, ada waktu-waktu di mana dalam 1 hari saya cuma kerjain 1 soal aja selama 3 jam itu. Kemudian, ada juga masa di mana, saya takut kalau saya mau pergi les, takut gak bisa ngerjain soal. Ada juga masa di mana, waktu saya ngerjain 1 soal, tiap saya liatin ke guru saya itu, salah terus jawabannya, jadi karena sistemnya pantul, jadi kalau salah, beliau gak kasih tau jawaban benarnya, kita yang mesti cari tahu dan perbaiki sendiri, sampai beliau bilang 'wah akhirnya benar juga jawabannya'. Waduh, parah sih itu kalau dibayangin lagi, lebih ke malu sih hahahhaa. Ada juga masa di mana setelah pulang les itu kepalanya panas wkwkwk karena disuruh mikir teruus hahhaa. Ada juga yang lucu, jadi dulunya saya memakai kalung dengan liontin Buddha kemana-mana. Suatu hari, saya lupa memakai kalung itu. Di jalan saya sudah berfirasat, aduh saya lupa pakai kalungnya, mudah-mudahan nanti saya tetap bisa kerjain soal wkwkkw udah menganggap kalung itu jimat karena saking takut soalnya sesulit itu hhaaa tapi untung ga ada trauma, karena setelah belajar beberapa waktu di sana, saya jadi lebih banyak paham dan jadi semangat belajar matematika dan fisika (apalagi saat itu, hampir semua orang bilang matematika dan fisika itu susah), tapi ternyata sistem yang diterapkan guru saya itu cocok untuk membuat saya paham. 

Jadi, sistem belajar di sana itu adalah, belajar mandiri, kalau gak tau baru nanya, itupun kalau nanya jawabannya itu dikasih bacaan aja, jadi jatohnya tetap aja belajar sendiri. Setiap masuk satu materi baru kita disuruh baca dulu, liat latihan soalnya, kenapa bisa cara kerjanya seperti itu. Sistem belajar itu yang membuat tidak semua orang betah. Sayapun sempat merasa putus asa kalau saya tidak paham-paham (meskipun kadang-kadang guru nya juga akan menjelaskan pada akhirnya). Tapi, saya cuma bisa bengong dan bertahan. Akhirnya, ada buahnya juga. Beliau memang sangat logis dalam penjelasan matematika, jadi tidak ada hafalan, yang ada adalah pemahaman. Hal ini yang menurut saya pribadi, yang melatih cara berpikir logis dan analitis saya hingga sekarang. Sebagai contoh, kalau teman-teman masih ingat rumus trigonometri sudut rangkap yang biasanya dihafal, dari guru saya itu, dijelaskan bagaimana masing-masing rumus itu bisa muncul, sehingga sampai sekarang saya masih ingat, meskipun saya tidak hafal, tapi saya ingat bagaimana cara rumus itu diturunkan. So, I am truly grateful for being there at that time. I do thank him for being a great teacher during my high school time. 

So, that's how I met math (and physics). Tidak ada hafalan sama sekali. Meskipun level matematika saya gak sampai olimpiade, tapi saya pikir gara-gara guru saya itu, matematika menjadi comfort zone saya. Saya tertarik mengerjakan soal matematika meskipun pada akhirnya saya gak bisa jawab. But, I enjoy how my brain is working on that problem. Dan mengapa saya mengatakan math is my comfort zone, mungkin karena I don't need to work too hard to bring something to people. I don't need to put too much effort, karena saya masih mengingat sebagian besar materi dan bagaimana mempelajari nya dan itulah juga yang saya ajarkan. Di sisi lain juga, mengajar dan membuat bahan ajar matematika mungkin jadi satu bahan refreshing buat saya di samping pekerjaan utama saat ini. 

Jadi, begitulah, kalau ada satu hal yang patut saya syukuri adalah itu tadi, belajar matematika dan fisika dari guru saya itu. Karena beliau lah saya bisa ikut lomba, saya bisa ikut olimpiade, saya bisa dipanggil menjadi pengajar, saya bisa mengajar orang lain, saya bisa berpikir logis dan analitis sampai sekarang, dan saya bisa menjadi saya sekarang, part itu berperan penting. So, thank you Sir, I owe you a lot!

Di sepanjang perjalanan belajar itu, kebanyakan saat masih sekolah, ada juga guru-guru lain yang juga berperan banyak. Jadi, saya ingin ucapkan terima kasih kepada semua guru-guru saya. I owe you all a lot, thank you!!

Semoga masih ada sedikit ilmu yang bisa terus saya alirkan ke orang-orang menjadi kebermanfaatan yang baru. Semoga.

Sharing ini bukan berarti menunjukkan bahwa saya jago banget matematika, gak juga lah, masih banyak orang di luar sana yang lebih hebat. Tapi, yang ingin saya sampaikan bahwa setiap proses yang sulit itu, biasanya buahnya manis, jangan cepat menyerah. Selain itu, setiap orang juga pasti punya comfort zone nya sendiri, hal-hal yang disenangi di luar rutinitas, dan itu perlu to keep us sane.

I share this because I think this one is interesting in my life and I want to keep this story here :)

See you later di [enam puluh dua]

Cheers,

Em🙆

Friday, 16 September 2022

[enam puluh] that day

It was the day, the same day, eleven years ago. It was the day when, I think, I didn't remember days. Until now, sometimes, I am still wondering, why didn't I remember that day. In fact, that was one of the saddest day in my life. However, the images of what happened that day are still clear, until today. It is a little weird that I cannot remember the day. In many previous years, sometimes the day just passed by when I remember when that day was. To be honest, I just recall this day because the date is similar to our house number. Such a coincidence. So, the date is not directly related to the occasion actually. And today, after eleven years, I decided to write this down, after several times of thinking the same problem of why can't I remember the day like any other important days. But, what I am going to write today will not answer that question, I guess, it has no answer. The simplest answer I can think of is just maybe what happened that day took all my attention that I am not able to think about anything else, anything, including the date, the day.

I just want to share a little story, so one day if I forgot (hopefully no), I have something to remind me..

So, actually that day was predictable and finally came. We should have been prepared ourselves for that, however, no matter how hard or how well you prepare, you will never be prepared for that thing, trust me (or not). After a long long fight, maybe 2 - 3 years, we have no other choice, the fight was over. No more fight, no more suffering. 

I can't remember, but, maybe a week or maybe two weeks before that, someone told me to be prepared, for that day. Before that, other people told me the same too. Deep down in my heart, I said to myself why should we treat a person that still alive like she was going to leave us that soon? Isn't it cruel for her? Isn't it like she was unwanted? These question was never asked, yet got no chance to be answered. Time passed by, and that day finally came. I can still remember how strange all the things were, still very clear in my mind, like recalling a movie scene. I was still very young, still in high school, and I think I can not speak up my opinion, maybe even now, if I am in that kind of situation, still can not tell my opinion. It's just so weird. At that night, we had someone to come and see her. That person said, it's time. So, we prepared everything. It was midnight already, I was asked to go to sleep. I was told that he will call me when it's time. It was an early morning, still dawn, it's time, it really is. The oxygen was there, but it was not breath anymore. I woke up to say the last goodbye. Indeed, I didn't say anything. No words came out. In our tradition, we are told to say 'good people walk good path', I cannot think of anything else instead of repeating that sentence, hoping that she really had a good path. I have nothing to wish for. 

It was predictable, it really was. I didn't remember what I was thinking when I went to sleep that night. What I can say is I think my brain did not work at all, completely. It's just happened, I can't think of anything, I can't do anything. I was crying, a little bit. We don't have a big house, just a small one but enough for us. But that day, for two days maybe (see? I can't remember properly), lots of people came to that small house. It was full day and night. I have no time to process everything. But now, I can still remember me looking at myself at that day, you know, like you are being another person to see your own self. One of the sad things that I remember, at the beginning I didn't cry when I deliver her to the funeral, I cried because the person beside me cried, that made me cry. I was crying quite hard that time. The rest was history, we continue our life, our life must go on. It was a great great lost. He said, it must be different, even if she just stayed in bed, she was with us, but now she was not here anymore. Like a table, we had lost one of our legs. That was true. 

After that day, I don't remember how I live, just like normal people, but I believe I have something inside. I lost someone really important. Lots lots lots of things I wish we can do together, but indeed, we can't. Lots of experience, lots of questions, that I should ask to her, but I can't. And, I think, I am today, is made of those little pieces of life events. 

I don't know how to explain myself that day. As I said, the memories are crystal clear, but my feelings, my thoughts, I have no idea until today, can't explain. 


Hey, look at me now, I live a good life, don't I? Hopefully I have something to make you proud. Hopefully you are truly proud of me. We have no proper picture together, technology that day was lame. I can't even remember our very last conversation. It was because we fought together, we have no time for other things, but that's okay, that was the right thing to do. You know, I will always, hopefully, remember your face. Actually, not only your face, but you, all the good things in you :)

I wish you are born in a better place now and let's meet in another life.

I love you in every universe. I love you limitless. And I miss you always.

We missed a lot of experiences that we possibly had. But that's okay, I had 16 years of my life with you, now I already have 11 years without you, maybe I will have more years without you than with you, but you know what, it doesn't matter, I always have you in me, always. I wish one day we cross our path again, until one day we are free. Sadhu.

with love, your little buddy who loves you endlessly,

Em 🙆

Sunday, 14 August 2022

[lima puluh sembilan] silent dream

You know what, I think that I live in a silent dream life, not only me, I'm sure many people out there are doing the same thing, maybe you as well? 

I do have lots of dreams and plans inside my head, but sometimes I don't really feel to say it out loud.

And sometimes, getting a compliment of having a good big dream feels like annoying a little bit, at least for myself, I think.

What I prefer is let it sound as loud as it comes true. Let it stay inside, let it grow inside, let me work so hard to make it sound. 

If it's not meant to be, it will just stay inside, in my head, as a very beautiful dream one can dream of.

On the other hand, sometimes I feel like I want to share all of those dreams and plans and exciting stories going around my head.

Yet, that someone hasn't come, on the way, maybe.

However, here comes a question, would it be the same life I live without the silent dream life?

Or, would it be something new that I haven't think about before? As if when you think that it is either A and B, and you don't really consider that you still have C, D, etc. that you never take into account before.

At some point, when I think of something, think and think, it always comes to one end root, maybe it's all about time. Still using 'maybe', as you know, everything evolve, the way we think also evolve, so our thoughts today might be different to our thoughts few years later. 

It's all about time, maybe I am today not feeling too comfortable to share what I dream of or feeling a bit annoyed for being the center of attention (getting compliments, etc.) which might also be part of my ego that need to be fulfilled. But, maybe as time goes by, I can compensate those things, find a better way to accept and process it in myself. To find an alternative and wiser way in accepting things. Hopefully :)

This post is totally random things written down hahahaa 

See you at [enam puluh] yaaw,

Cheers,

Em🙆

Saturday, 16 July 2022

[lima puluh delapan] the power of who

Sometimes you don't really miss the place, the time, or the situation, but the people. You miss the people who make the place, time, and situation become perfect memories.

Kalimat di atas adalah kalimat yang terbesit di kepala saya dan saya jadikan caption dari salah satu postingan saya pada akhir tahun 2016. Dan setelah beberapa waktu, kalimat itu masih saja begitu benar wkwkwk. That is how big the influence of someone in someone's life, particularly in me. 

Suatu tempat menyisakan cerita karena ada orang di dalamnya. Suatu waktu atau masa pun demikian pasti ada orang yang membuat itu jadi berkesan. Begitupun dengan situasi, kondisi, lagu, atau objek apapun itu.

Kita sangat mungkin merasakan pengalaman berbeda ketika pergi ke suatu tempat yang sama dengan orang yang berbeda. Iya ndak? So, it's not really about the place, it's about the people.

Ketika kita pergi sendiri ke suatu tempat A, kemudian di kesempatan lain kita pergi ke tempat yang sama dengan seseorang ke tempat A juga. Mungkin ketika kita ke tempat A lagi untuk berikutnya, atau ketika kita teringat tempat A kita ingat momen ketika kita pergi dengan orang tersebut. Padahal mungkin sebelumnya ketika pergi ke tempat itu ya biasa-biasa saja, tapi setelah pergi dengan orang tersebut maka meninggalkan kesan tersendiri. Bahkan, kalau kita pergi ke tempat yang tidak menyenangkan, tapi kalau dengan orang tertentu bisa jadi kesannya menjadi menyenangkan. 

I cannot find a good example, but I do always think and feel that way. Intinya adalah, orang mengambil peran yang paling besar dalam suatu memori. Apakah betul? kwkwkw

.. and maybe that's why, when I want to go to some places, the first thing comes to my mind is "with whom will I go there?" wkwkwk

Sekian dan terima gaji hahhaaa

Sampai ketemu di [lima puluh sembilan],

Cheers,

Em🙆

Friday, 15 July 2022

[lima puluh tujuh] perjalanan

there will always be something to learn in every journey...

Dulu sekarang, muda tua, jelek bagus, amatir ahli.. semuanya begitu..

Semua nya berjalan, semua nya berubah..

Pernah ada yang bilang semua orang pernah alay pada masanya, berarti sekarang sudah tidak wkkwkw artinya memang ada fase yang harus dilalui dan harus berubah. Begitu juga dengan blog ini, pola tulisan, pola cerita, isi, apa yang diceritakan, berubah seiring waktu. Postingan instagram kita pun begitu. Kalau kita lihat postingan yang lama, kualitas fotonya masih jelek, captionnya masih (mungkin) alay ehheee, terus kalau edit foto juga editan lama wkwkw kalau foto yang sekarang, kualitas lebih bagus, caption semakin pendek semakin bagus, bisalah dibedakan mana postingan baru mana postingan lama. Dan suatu hari postingan baru kita yang sekarang akan menjadi postingan lama. Semuanya begitu.

Yah, semuanya perjalanan, sekecil apapun hal pasti berubah wkwkkw kita tidak bisa mempertahankan sesuatu sama dari waktu ke waktu, karena apapun berubah, kita pun, sekecil apapun.

Lagi malas euy tulis panjang-panjang hahahhaa

Intinya belajar bahwa semua berubah, bukan hanya sekedar tahu, tapi benar-benar tahu. 

Saya dulu sering berpikir 'oh blog saya ini mau saya buat begini sampai nanti', toh pada akhirnya tidak bisa, pasti ada sesuatu yang entah mungkin bisa diimprove, atau tidak bisa saya pertahankan karena ingin mencoba yang lain. Dan selalu akhirnya mentok ke 'oh iya semua pasti berubah ya'. Jadi begitulah hehhehe dari semua apa yang terjadi, dulu sekarang, di setiap tahap dan proses nya pasti ada sesuatu yang kita ambil, sebelum dia berubah ataupun disadari setelah dia berubah. 

Berubah itu niscaya karena tidak ada suatupun yang bisa bertahan sama dari waktu ke waktu, semua berubah sekecil apapun. That's the truth.

Sampai ketemu di [lima puluh delapan],

Sehat-sehat semua gengs wkwkwkw

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 22 June 2022

[lima puluh enam] a short note

Let's walk our own path for now, while hoping that one day we will have a quick stop at the same traffic light, spending time together while waiting on the green light to continue walking on our own path again, till the next traffic light, until no traffic light anymore.


..if that's okay..

Sunday, 8 May 2022

[lima puluh lima] ternyata kita belum

Terkadang kita kira kita sudah ramah, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka tidak peduli pada orang lain.

Terkadang kita kira kita sudah baik hati, ternyata kita belum. Kita mungkin masih berharap dibalas atas kebaikan itu.

Terkadang kita kira kita sudah tenang, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sering panik dalam menghadapi masalah.

Terkadang kita kira kita sudah sabar, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sering marah terhadap hal-hal kecil.

Terkadang kita kira kita sudah jujur, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka berbohong untuk hal-hal kecil, atau kepada diri sendiri.

Terkadang kita kira kita sudah rendah hati, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka menyombongkan hal-hal yang tidak perlu.

Terkadang kita kira kita sudah belajar banyak, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka sok tahu untuk hal-hal yang kita belum tau.

Terkadang kita kira kita sudah tidak egois, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka melakukan hal-hal yang menguntungkan diri sendiri tanpa memedulikan orang lain.

Terkadang kita kira kita sudah ikhlas, ternyata kita belum. Kita mungkin masih menyimpan dendam atau membawa beban-beban yang kita kira sudah kita lepaskan.

Terkadang kita kira kita sudah bijaksana, ternyata kita belum. Kita mungkin belum melihat dari sudut-sudut pandang yang lain.

Terkadang kita kira kita sudah tidak melekat, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sulit melepaskan hal-hal yang sebenarnya bukan milik kita yang sesungguhnya.


Beberapa dari sekian banyak nya 'terkadang kita kira kita sudah ...., ternyata kita belum' dalam hidup kita ini. Semuanya hanya asumsi kita, perkiraan kita bahwa kita sudah baik sempurna, tapi ternyata kita belum. Bukan berarti kita tidak sama sekali, tetapi kita belum sepenuhnya.

What we think we have become are sometimes just the trick of your mind, ego, and pride (kilesa). We are just tricked by our own mind. In fact, we will never be freed from all those things before we end this (endless) cycle of life.

Terkadang, ketika kita berpikir kita sudah, di saat itu jugalah kita harus memeriksa kembali, apakah kita benar-benar sudah atau mungkin saja itu cuma justifikasi diri, untuk merasa diri lebih baik dan bukan untuk menjadikan diri lebih baik. Just always look inside yourself (myself) all over again.


This is a note to myself.


*Gotcha, unintentionally, 2 posts in a row heheee*

See you at [lima puluh enam],

Cheers, and always be good,

Em 🙆


Saturday, 7 May 2022

[lima puluh empat] it is here and now

Hello again everyone, hope you all are doing very well...

happy belated birthday to me anyway hahahaaa 

I thought I could make it one post every month hahhaaa I was planning to make one on the last day of April, but couldn't make it wkwkwkw but it's okay, mungkin akan posting dua biji bulan ini hahaaa demi memenuhi target 1 post per bulan. Sebenarnya bukan target juga sih, cuma ya mungkin biar tiap bulan ada spare waktu buat menulis, because loadwork gets crazier hahaaa so yaa begitulah ya gesss..

Jadi, topik cerita-cerita hari ini sebenarnya adalah hal yang sudah familiar mungkin yaa, saya cukup yakin banyak dari kita yang sudah pernah dengar, atau sudah tau, begitupun dengan saya, tapi untuk mengaplikasikannya sepertinya sulit yaa hahaa

So, in my case, it always starts with anxiety attack coming from nowhere, but definitely in a hard situation, like in a very tiring, stressful situation. Contohnya kayak kerjaan yang banyak atau lagi deadline tapi banyak masalah menyertainya wwwkwk, atau yang paling sering ketika berada di kereta. Perjalanan yang panjang, banyak orang, capek, panas, kebingungan, menunggu, semuanya yang bisa bikin seperti panik, sesak napas. At that very very short moment, it was horrible. Tapi, selalu ingat untuk kembali ke saat ini dan di sini. One step at a time. Magically, it always works. 

Why panic? Karena pikirannya sudah ke mana-mana. Berpikir perjalanannya akan lama sekali mau cepat-cepat sampai, nanti di stasiun akan desak-desakan, cuaca panas sudah capek maunya langsung rebahan di ruang ber-AC. Pikiran-pikiran itu yang bikin panik, karena kenyataannya yang dialami saat itu adalah memang masih dalam perjalanan, belum bisa sampai di tujuan, belum bisa rebahan, gitu. Jadi, satu-satunya solusi memang mengembalikan pikiran ke situasi yang sedang di alami, here and now. Satu per satu, karena sekarang lagi di kereta (misalnya) ya nikmati saja perjalanannya, karena sesuatu yang ditunggu akan terasa lebih lama. Karena jika terus terbawa dengan pikiran-pikiran yang sulit tadi, maka detak jantung semakin tinggi jadinya semakin panik karena ingin buru-buru. Begitupun dengan pekerjaan, pikirkan saja apa yang bisa dikerjakan saat ini, adapun masalah-masalah yang muncul adalah sesuatu yang wajar karena saya sedang bekerja.

Not going to write for too long.

Tapi kadang-kadang hal-hal kecil seperti itu rasanya penting untuk di-note, diingat selalu. Banyak-banyak hal karena terjadi dan berubah begitu cepat dapat menimbulkan kepanikan-kepanikan kecil. Ketika kita belajar untuk kembali ke tempat ini dan saat ini, kita tau kalau kepanikan itu tidak akan membawa kita kemana-mana karena we cannot do anything about the future. And what we can really do is think about what we can do here and now, that's all that matters. By thinking and doing that way, it will make things much better.

So, I think that is for today and for this post. 

For myself, keep doing good things and keep practicing! I really need you to do this Em :)

All the best for you guys,

I'll see you at [lima puluh lima],

Cheers,

Em 🙆

Tuesday, 8 March 2022

[lima puluh tiga] hening pengganti bising

Terkadang, kita tidak selalu membutuhkan bising, karena tanpa disadari, kita juga butuh hening


Halo teman-teman semua, semoga sehat-sehat selalu yaaa hehee

Kali ini cuma mau sharing sedikit aja tentang apa yang dialami baru-baru saja wkwkwk mungkin sudah beberapa kali, tapi karena ini baru saja dilewati jadi mungkin paling ingat ya hahaaa

Jadi, kebiasaan saya itu suka mendengarkan musik, sambil kerja, sambil main game, sebelum tidur, biasanya spotify saya nyala terus tuh. Tidak selalu musik juga sih, biasanya podcasts juga atau youtube intinya selalu ada background sound dari aktivitas yang saya lakukan. Mungkin teman-teman lain juga punya kebiasaan yang sama ya hahaaa. Kemudian, hingga suatu hari saya sepertinya sudah capek dengan lagu-lagu itu hahaaaa mungkin bukan capek juga ya, tapi bosan, trus mau cari lagu yang lain juga kurang suka, pokoknya berada di kondisi yang bosan dan capek, tapi dengar lagu, nonton, ataupun main game itu sama sekali tidak membantu.

Kalau sudah seperti itu, maka saya selalu bilang sama diri saya 'sepertinya butuh meditasi ini', pokoknya kalau pikirannya sudah kacau, impulsif, dan tidak bisa dikontrol. Misalnya kalau lagi pengen makan ini itu dan berlangsung dalam beberapa hari maka itu tandanya sudah impulsif (parameter untuk saya wkwkw). Jadi, kalau sudah begitu tandanya sudah lama tidak latihan meditasi hahhaaa sejujurnya saya masih agak malas meditasi, tapi masih berusaha untuk giat sih, tapi ya begitulah 

Jadi, setelah hari itu, I took a day off to everything, kecuali pekerjaan ya. Jadi, no music, no films, no games, no social media. Instead, kerja (karena working days hahaa), meditating, reading books, sama tidur. Setelah itu, rasanya lebih baik.

Saya bilang begini bukan berarti saya bilang kita lebih baik tidak dengar musik ya atau tidak nonton film atau tidak main game. Nooo, bukan sama sekali. Pointnya adalah harus tau porsinya masing-masing. Mungkin kemarin-kemarin saya tidak berjeda, jadi habis kerja, main game, habis itu nonton, habis itu dengar lagu, begitu terus berhari-hari bahkan mungkin berbulan-bulan. Jadi ya memang jangan ditiru ya hahaaa what I really mean is kadang-kadang kita butuh hening, kalau bosan tidak selamanya bisa hilang dengan hiburan. Kadang-kadang cukup duduk diam, amati diri kita, sekitar kita. Seperti kita sudah terlalu lama lari, kita sudah tidak lihat lagi apa yang sudah kita lewati, kita tidak lihat lagi tangan kita, kaki kita, tubuh kita ini seperti apa. Jadi kita butuh berhenti sejenak untuk melihat. Kira-kira begitu.

Meskipun kemungkinan besar 'kebodohan' saya ini bisa terulang lagi ke depannya (kalau lengah kan hahaaa), tapi setidaknya ini jadi pelajaran dan jadi referensi lah kira-kira, bahwa memang berhenti itu perlu, hening itu kadang-kadang kita butuhkan sekali. Hidup ini sudah bising sekali, sosial media, pekerjaan, hiburan tidak habis-habisnya. Tubuh dan pikiran ini butuh istirahat juga, butuh diam, butuh untuk put everything to places. Kalau bagi saya pribadi, dengan meditasi. Kalau untuk teman-teman mungkin ada cara lain untuk ber-'hening'.

Intinya begitulah wkwkk biasanya kita (saya) tidak sadar dan lupa bahwa in order to be content, itu tidak selalu dengan hal-hal eksternal, ternyata itu tidak begitu penting, yang penting itu internal ini, kondisi tubuh, hati, pikiran, yang harus juga diistirahatkan dan dijaga. 

Ternyata berhening itu juga kebutuhan.

Begitu aja yaa obrolan iseng kali ini, kalau ada ide menarik lain baru dishare lagi kkww

Semoga sehat selalu, aman sentosa,

Sampai ketemu di [lima puluh empat],

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 16 February 2022

[lima puluh dua] another step (2)

 ... towards another traffic light.


Hallo semuaaaa hahaaa setelah sekian lama baru ngepost lagi wkwkw

Awalnya mau buat another step (1) pas viva trus another step (2) pas wisuda terus bikin lagi mungkin another step (3) pas apaa gitu hahaaaa sok-sokan betuuuul sodaraa-sodaraa! Tau-taunya buntu ndak tau apa mau ditulis hahahaa waktu wisuda ndak kepikiran mau nulis apa, pas pulang apalagi, bingung cuma nulis sedikit yang diposting sebelumnya hahahaaa

Ya begitulah namanya juga rencana yah hahaaa I dont think I am a good writer, I am not even a writer, I mean I just write when I want to hahaa jadi maklumlah yaa daripada dipaksa baru nda bagus hasilnya khaan hehee

Okay, so hari ini memutuskan menulis tentang kehidupan yang baru saja setelah selesai kuliah, hitung-hitung juga another new step wkwkwk

Setelah leha-leha sekitar sebulan, sekarang waktunya masuk kerja hahaa

So here I am, menjalani rutinitas baru yang kupikir harusnya betah yaa hahaa I always think dari dulu sampai sekarang, office working is kinda job that I will enjoy. But, we dont know if we dont try. So, finger crossed! Semoga betah di pekerjaan yang sekarang wkwkw

But, talking about dream job, this is actually what I wish for. Working in a company that I want since I was in the university. Trus jenis pekerjaannya juga lumayan challenging dan in line dengan yang sudah dipelajari selama ini. Selain itu, bisa kerja dengan rutinitas tertentu juga sepertinya jadi sesuatu yang saya pikir cocok untuk saya. Harapannya tentu selain bisa bekerja, juga bisa belajar dan berdaya, dan punya waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang saya senangi. That's it, sudah cukup senang saya hahaaa

Anyway, taking things aside, this is another step towards another traffic light. Entah siapa yang akan ditemui di sepanjang jalan ini sampai lampu merah berikutnya. Sebuah analogi yang menurut saya sangat bagus dan ini yang saya ingat sampai sekarang. Hidup itu kayak kita berhenti di lampu merah. Orang-orang yang kita temui bisa jadi akan mengambil arah yang sama tapi bisa juga berbeda. Pada akhirnya kita akan menjalani jalan kita masing-masing entah ada orang yang sejalan ataupun tidak. Dan kehidupan ini sebentar layaknya berhenti di lampu merah. Jadi, begitulah I am trying to see every step that I need to take as another traffic light stop, kita bertemu, kita berpisah, waktunya singkat, so use it wisely.

Gitulah yaaa, ndada banget isinya postingan ini hahaaa

Intinya apapun yg kita jalani semoga bisa dijalani dengan hati yang senang dan ikhlas, semoga selalu ada kebaikan-kebaikan di dalamnya. 

Semangat guysss, maybe another step (3) akan ada tapi ndatau kapan jadi mungkin pakai judul lain lebih bagus ya hahaha jadi beban juga ya klo ada nomer-nomernya wkwkw

All the best.

Sampai ketemu di [lima puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆 (ini kagak ada versi ceweknya yaa hmmm) 


Sunday, 9 January 2022

[lima puluh satu] hidup susah itu enak juga!

karena pelaut hebat tak pernah lahir dari laut yang tenang

-hivi! - jatuh, bangkit kembali!-


Hello semua, glad to meet you all again kwkwkwk 

So, jujurly (elaaah -_- wkwk), topik ini sudah lama bertengger di draft tapi sekarang ternyata baru bisa dirampungkan heheee biasalaaahhh..

Recalling my childhood, I finally realize that I am really grateful for the hardships that I had (of course not all are hardships yee banyak juga senang2nya hahaaa) during that time. Hardships itu maksudnya kayak tidak semua hal yang saya inginkan pada waktu kecil itu dapat diperoleh dengan mudah, bahkan untuk beberapa hal tidak bisa didapatkan sama sekali karena berbagai keterbatasan. Not to blame anyone, apalagi orangtua, tidak. Tapi semua orang pasti punya keterbatasan mungkin aspeknya saja yang berbeda, dan waktu saya kecil, keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki orang tua membuat kita, saya, anak-anaknya, harus belajar beberapa hal penting yang pada akhirnya, ketika sudah besar sekarang, menyadari kalau itu ternyata berguna untuk menjalani kehidupan yang fana ini wkwkww

Falling down always causes more pain that flying high. (((of kors)))

Iya, jadi begitu yaa wkwkk jika dilihat dari satu sisi mungkin saya kurang beruntung karena waktu saya kecil, orang tua masih merintis juga, jadi banyak keterbatasan gitu, tapi kebutuhan primernya cukup. Bahkan, banyak pengalaman2 kayak waktu sekolah sampai kuliah itu saya sempat kerja sambilan jadi lumayan dapat duit. Dan dari situ saya banyak belajar kalau mau dapat sesuatu itu harus usaha dulu, cari duit itu tidak gampang. Klise memang, tapi begitu memang kenyataannya. Hal-hal kecil remeh temeh, bahkan misalnya se remeh cuci piring sendiri sesudah makan, itu bisa jadi sesuatu loh ketika kita besar, apalagi ketika tinggal jauh dari orang tua. Dulu, di rumah pun fasilitas tidak mewah, secukupnya saja, jadi bisa dibilang sudah terbiasa dengan kondisi hidup apapun. 

Tidak bermaksud mengatakan bahwa semua orang kecilnya harus susah. Atau kalau waktu kecil hidup nyaman itu salah, tidak. Baguslah kalau dari kecil sudah hidup nyaman, harus bersyukur itu hahahaa tapi, kalau misalnya hidup kita sekarang ataupun dulu masih banyak keterbatasannya, maka rasa syukur itu mestinya tetap selalu dihadirkan. 

Saya bisa bayangkan mungkin kalau usaha-usaha dan kerja-kerja yang kecil receh remeh dan temeh itu tidak saya lakukan, maka ketika saya besar sekarang mungkin lebih banyak kesulitan yang saya lalui. Mungkin saya tidak bisa hidup merantau, mungkin saya tidak berani kemana-mana sendiri, mungkin saya tidak bisa mengurus diri saya sendiri.

Karena, seperti bahasa asing yang di tengah itu, selalu, selalu, dan selalu lebih mudah berpindah dari hidup susah ke hidup nyaman daripada dari hidup nyaman ke hidup susah apalagi kalau dari dulu tidak pernah susah. Selalu lebih mudah beradaptasi ke tempat yang lebih enak daripada ke tempat yang lebih sulit. 

Jadi, what I want to say here, is kalau sekarang ataupun dulunya ada yang hidupnya masih banyak keterbatasan, masih harus usaha sendiri, tidak usah disesali atau tidak usah merutuki nasib, harusnya disyukuri, bersyukur diberi kesempatan belajar hal-hal yang tidak semua orang bisa alami di kehidupannya. Everything happened for a reason, ambil pelajarannya, jangan sia-siakan kesempatannya. Itulah kenapa judul kali ini adalah hidup susah itu enak juga, karena ternyata di balik kesusahan itu, banyak hal-hal hebat yang bisa kita pelajari yang bisa membuat hidup kita tidak susah lagi ataupun bisa membuat kita baik-baik saja dalam kondisi apapun, susah ataupun senang. Dan juga, kalau dulu atau sekarang hidupnya sudah nyaman, harus lebih bersyukur lagi, tapi harus ekstra waspada dan bersiap supaya jika suatu saat (jangan sampai) dihadapkan pada kondisi sulit yang kita tidak pernah alami sebelumnya, kita siap dan mampu menghadapinya. Karena sebenarnya, hidup dalam kondisi apapun, selalu bisa belajar untuk bersiap menghadapi kondisi apapun, bukan begitu?

Inti dari segala inti, tidak ada hidup yang sempurna (sempurna susahnya ataupun sempurna senangnya), jadi apapun kesusahan yang dimiliki saat ini, sekecil apapun, lihatlah sebagai suatu kesempatan untuk belajar, memperoleh suatu hal yang langka yang mungkin tidak semua orang alami.

Jadi begitu deh ya ngalor ngidul (baru tau ternyata ini artinya ke utara dan ke selatan dalam bahasa jawa hahhahaaa), semoga ada faedahnya

Sampai jumpa di [lima puluh dua]

Btw, selamat tahun baru 2022!!!!

Cheers,

Em 🙆