Friday, 20 December 2019

[empat belas] Melawan Hukum Newton (?)

It is not possible to shut everyone's mouth, to close everyone's eyes, or to change everyone's attitude but it is always possible to control your heart and mind
-Anonim-

Hello again guys ...
Udah lama juga ya gak update lagi hahaaa maafkeun ketidakkonsistenan saya dikarenakan beberapa hal hahaa 

Jadi hari ini kita mau belajar fisika dulu yaa hahaa ya kagaklah ya ..
Apakah teman-teman masih ingat Hukum Newton III yang bunyinya F aksi = - F reaksi?
Banyak orang berpikir seperti ini 'sikapku ditentukan oleh sikapmu kepadaku', quite make sense. Jika orang baik pada kita, kita juga baik pada  mereka. Kalau orang jahatin kita, mungkin kita bisa lebih jahat lagi sama mereka.

But, another perspective may come. Kenapa kita harus selalu bergantung pada orang lain? Bukankah kita bisa menentukan sikap kita sendiri?

Banyak hal, sakit hati, kecewa, marah, senang, sedih kemungkinan besar dikarenakan dari sikap orang lain kepada kita. 

Jika dipikir-pikir lagi, cukup aneh bukan?

Kita tidak bisa mengontrol orang lain, tidak bisa mengontrol semua orang di dunia ini, tidak bisa menentukan sikap orang lain, lalu mengapa kita harus bergantung kepada itu semua?
Biarlah kita mengontrol apa yang ada dalam teritori kita, dalam kemampuan dan kesanggupan kita yaitu diri kita sendiri.

Contoh kasus, banyak sih sebenarnya yang sering terjadi di kehidupan kita setiap harinya, misalnya karena orang jahat sama kita, kita jadi membalas jahat sama orang tersebut. Di satu sisi mungkin ini hal wajar, tapi itu adalah pilihan. Tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada kita adalah satu pilihan yang sangat mungkin untuk dilakukan, tentu dengan semua tantangannya. 

Contoh lain, orang yang nyinyir kepada kita yang akhirnya membuat kita sedih atau marah. Menutup mulut orang-orang nyinyir itu hampir tidak mungkin bisa kita lakukan, mengubah pola pikir orang, sikap orang, kebiasaan orang bukan hal yang gampang. Ya kali kita bisa mengubah hati semua orang wkwkwk, tapi kita punya hak sepenuhnya untuk memilih untuk diri kita. Memilih merasa sedih, memilih merasa marah, memilih untuk ikhlas, memilih untuk bahagia, memilih untuk menghargai kerja keras diri sendiri, memilih untuk tetap baik-baik saja. Semua adalah pilihan kawan-kawan sekalian.

You do you.

Hari ini ada orang yang tidak ramah kepada kita, tidak baik kepada kita, tidak masalah. Uang 100 ribu rupiah tidak akan menjadi 100 ribu rupiah dengan sanjungan orang, tidak akan kehilangan nilai 100 ribu rupiahnya karena diinjak-injak. Uang seribu rupiah tidak akan menjadi 100 ribu meskipun saya meneriaki uang itu 'kamu 100 ribu, kamu 100 ribu'. Orang gila kali saya ini hahahaa

Begitupun kita, kita tidak akan menjadi lebih baik hanya karena didengung-dengungkan pujian, disanjung-sanjung setinggi langit. Pun bukan berarti kita buruk jika kita dihina, dimaki ataupun diremehkan. 

Kita ingin menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu pilihan kita, keputusan kita sendiri, tidak ada urusan dengan orang lain.

Untuk hal-hal seperti ini, mungkin kita sudah lumrah dengan ilmunya, sudah tau, sudah sering lihat dan dengar. Tapi, aplikasinya mungkin belum. Masih sulit, masih gimana gitu ya hahahaa

Mulailah belajar, saya masih belajar, kita sama-sama belajar.
Belajar mengendalikan diri, mengendalikan hati, mengendalikan pikiran. 

Biarlah orang lain juga melakukan pekerjaan mereka sendiri, mengendalikan diri, hati, dan pikiran mereka masing-masing. Biarlah setiap orang belajar, karena semua dimulai dari diri sendiri.

Jadi, dalam hal ini, mon maap nih ya mbah Newton yang kuhormati dan kufavoritkan ilmunya selama masa sekolah bahkan sampai sekarang ini, F reaksi tidak harus selalu besarnya sama dengan F aksi (dengan arah berlawanan). Tidak selamanya pukul dibalas dengan pukul, maki dibalas dengan maki.
Kita masih bisa belajar lebih bijak, lebih baik. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri. Lebih berdamai dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain. 

Jika kita bisa mengendalikan hati dan pikiran kita, maka sudah pasti, kelegaan itu ada, kemandirian (ketidaktergantungan) itu ada, dan kebahagiaan itu ada. 

See ya at [lima belas]
Cheers,
Em 🙆

Sunday, 3 November 2019

[tiga belas] Waktu adalah Rasa

Time is not measured by clocks, but by moments
- Anonymous -
Halo teman-teman semua,
Finally, I come back after about 2 months hehee yup, blog ke tiga belas wkwk
Kali ini kita akan bahas tentang waktu, quite familiar, quite common topic, but let's see ..

I bet you guys, all of you, semua teman-teman yang baca ini pasti pernah merasakan ini, termasuk saya '1 jam serasa 1 menit', '5 menit terasa 5 jam', atau mungkin kalian pernah berpikir seperti 'duh, ini 10 menit terlama dalam hidup gue' iya gak sih?

Kalau kita ingat kembali waktu belajar fisika pas sekolah dulu, waktu adalah suatu besaran, bisa diukur mungkin dengan detik, menit, hari, tahun dan seterusnya. Kalau kita menghabiskan waktu 15 menit untuk menghabiskan semangkuk bakso maka meski di luar angkasa pun kita juga akan tetap menghabiskan waktu 15 menit. 15 menit adalah 15 menit, you can count it.

The other thing is, waktu tidak sesederhana itu, karena lebih seringnya kita mengukur waktu dengan perasaan. Membaca buku pelajaran selama 1 jam beda rasa lamanya dengan membaca novel 1 jam. Menghabiskan waktu dengan teman atau dengan pacar akan selalu terasa lebih cepat dibandingkan menghabiskan waktu belajar di kelas, meskipun dengan durasi yang sama. 

Waktu senantiasa demikian, dipengaruhi oleh perasaan.

Waktu adalah sesuatu yang mutlak, itulah mengapa stopwatch diciptakan. Tapi lebih dari itu waktu sangat relatif, karena perasaan manusia itu ada dan nyata. Mutlak tapi relatif, hmm cukup menarik.

Pertanyaannya, pernah kah kita benar-benar merasakan waktu? 

Setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda-beda ketika ditanya '1 jam itu seperti apa?'. Karena setiap orang akan menjawab sesuai pengalaman 1 jam nya masing-masing. Tak bisa dibandingkan 1 jam seorang dan orang lain.

Karena waktu adalah rasa, seringkali perasaan terlalu jauh terlibat dalam masalah waktu. Mungkin tidak dialami semua orang, tetapi cukup sering kita mengomel, ngedumel, dan kategori sejenisnya untuk sesuatu hal yang berkaitan dengan waktu. 

Mungkin kita perlu belajar melihat waktu yang sebenarnya, mungkin perlu belajar mendengar detak jarum jam.

Mungkin topik kali ini agak kurang penting atau kurang relate dengan banyak orang, tetapi ada hal lain yang menurut saya bisa saya amati dari diri saya sendiri ataupun dari orang lain bahwa untuk sesuatu yang indah, nyaman, bahagia, waktu bukan menjadi masalah tapi untuk hal yang tidak nyaman, waktu bisa jadi menjadi masalah. Menonton drama korea dari pagi sampai pagi bukan masalah, bermain game sepanjang hari bukan masalah, tetapi belajar 1 jam saja menjadi masalah, mendengarkan orang berbicara selama 30 menit bisa jadi juga adalah masalah. 

Maka dari itu, mungkin kita perlu lebih adil dengan waktu, lebih merasakan waktu, merasakan 15 menit sebagai 15 menit, merasakan 2 jam sebagai 2 jam.

Agak absurd memang hahhaa mohon maaf 

Mungkin inti dari topik ini yang ingin saya sampaikan kurang tersampaikan, tetapi ya begitulah, jika nanti ada kesempatan dan bisa mendeskripsikan dengan lebih baik topiknya akan saya tulis lagi hehhee

Memang tak bisa dipungkiri, waktu lebih banyak diukur dengan rasa, but don't let the feeling takes all away. Kadang kita harus menerima untuk menunggu 15 menit, untuk mendengarkan 1 jam, untuk duduk diam 30 menit. 

If you get what I mean wkwkwk

Anyway, terima kasih teman-teman yang sudah membaca blog saya ini yang masih banyak kekurangannya, semoga bisa memberi insight positif. If you have any idea to discuss or any suggestions, feel free to drop in email at emilia.utomo@gmail.com, I'd be more than happy to share, thank you!

Sampai jumpa di [empat belas],
Cheers,
Em 🙆



Sunday, 8 September 2019

[dua belas] Your Assumptions Do Kill You!

Your assumption, and the truth, dine at totally separate tables
- J Michael Straczynski -
Halo semuanyaa .. I hope this blog finds you well :)
Feels so good to write again hehee

Kali ini topiknya mengenai hal yang menurutku paling sering dilakukan oleh manusia, ya istilahnya cukup manusiawi lah sebagaimana kita tuh punya akal untuk berpikir jadi setiap orang pasti pernah bahkan sering untuk 'berasumsi', ya gak?

Ketika ada sesuatu yang terjadi, maka secara otomatis pikiran kita membentuk banyak asumsi-asumsi yang bisa jadi benar, bisa jadi juga salah, who knows?
So, apakah berasumsi itu salah ? Tentuuuuu saja tidak wkwk
Asumsi itu sebenarnya merupakan cara kita bernalar terhadap suatu hal yang sedang terjadi, pikiran kita mencoba membentuk kemungkinan-kemungkinan yang bersesuaian dengan kejadian tersebut. Akan tetapi, sadar gak sadar, kadang-kadang pikiran atau hati kita masih sulit membedakan antara asumsi dan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Mungkin kita pikir kita ini cenayang ya hhahaa bisa membaca pikiran orang wkwkkw. Nah, hal inilah yang sering menimbulkan masalah.

Coba deh diingat-ingat kembali, seberapa sering kita berasumsi, seberapa banyak kita termakan oleh asumsi kita sendiri yang ujung-ujungnya menimbulkan masalah yang merugikan kita sendiri? 

Contoh sederhana,
Misalnya nih kita lagi buat kue, anggaplah kita ini masih amatiran gitu yaa tapi kalo buat kue bisalah hahaaa. Setelah kuenya jadi, eh ternyata jadinya lumayan banyak, gak mungkin dihabisin sendiri kan? Jadilah kita bungkusin dikit buat tetangga yang baru sebulan tinggal di sebelah rumah, yakali bisa diendorse *eh wkwkk 
Nah, setelah dari rumah tetangga, pulanglah kita. Gak lama setelah itu, gak sengaja nengok di jendela, eh si tetangga itu ngasih tempat kue yang tadi kita kasihin beserta isinya ke orang lain. 
Ketika melihat itu, kira-kira apa yang muncul di pikiran kita?

"Kurang asem nih tetangga, masa kue yang aku kasih malah dikasih ke orang lain? Huh, gak menghargai pemberian orang", "Lho kok kuenya malah dikasih orang lain? Gak tau apa kalau buat kue itu susah?", "Waduh, parah nih tetangga, lain kali gak bakal aku kasih lagi", "Dasar tetangga baru aja udah belagu", "Hm, mungkin orang itu pengemis kali ya jadi dikasihin tapi kok  mesti kasih kue yang barusan aku kasih sih"

Apa masih ada lagi asumsi lain? Hahahaa saya yakin, pikiran-pikiran semacam itu pastii akan muncul di otak kita. Bahkan lebih banyak dan lebih variatif dari yang di atas. 

Kita lanjut ceritanya ya,
Nah, setelah kejadian itu, kita pasti akan merasa gak enak ketika bertemu tetangga kita, senyum jadi gak ikhlas, jadi malas menyapa, berujung ke hubungan yang mungkin jadi kurang harmonis dengan si tetangga itu.

Asumsi yang kita bangun dalam pikiran tadi membuat banyak perubahan sikap, perubahan cara pandang terhadap orang lain. 
Nah, pertanyaannya adalah, apakah asumsi kita itu benar? Apakah memang tetangga kita itu kurang asem? Hahahaa silahkan jawab sendiri ya, coba cek ke tetangganya wkkwkw

Mungkin aja nih ya, tetangga kita itu jadi bingung, "Ni orang ngapa yakk, kemaren baek banget ngasihin kue, kok hari ini senyum aja ogah-ogahan". Bisa jadi demikian kawan-kawan hehhee

Yang menjadi refleksi dari contoh di atas adalah bahwa kita tuh jangan kemakan dengan asumsi sebelum ngecek kebenarannya. Berasumsi boleh-boleh saja, itu mengasah otak kita melihat segala kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi sekali lagi, asumsi itu gak nyata gaes, seperti quote di awal bahwa asumsi dan kenyataan itu totally gak ada di meja yang sama, jadi jangan menjadikan asumsi sebagai pembenaran atau kebenaran palsu. 

Ya, kita mesti ngecek dulu kebenarannya seperti apa, kalau kayak contoh tadi, kita bisa nanya ke tetangga kita kayak "Kue yang kemaren enak gak Bu? Soalnya masih belajar nih Bu hehee butuh masukan dari orang lain kali aja masih banyak kekurangan". Nah, bisa saja dengan bertanya demikian tetangga kita akan cerita hal yang sebenarnya terjadi itu seperti "Oh iya enak banget, makasih loh ya, cuma kebetulan di rumah saya cuma berdua sama suami, anak-anak lagi pada liburan ke rumah neneknya, jadi takut kuenya gak habis saya kasihin sebagian ke bawahan suami saya yang kebetulan berkunjung ke rumah, katanya kuenya enak banget, dia kirain saya yang buat, padahal saya mah gak bisa masak hahhaa bisalah saya belajar sama kamu".

Nah, kan gaes, gimana? Bisa aja kita tuh udah berprasangka buruk sama orang lain gara-gara asumsi kita sendiri. Ya, meskipun di atas itu cuma contoh tapi setidaknya banyak hal yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari yang mirip seperti itu.

Asumsi-asumsi yang kita bangun (yang kebanyakan adalah asumsi negatif) otomatis akan membuat sikap kita berubah karena kita yakin dengan asumsi itu dan menganggapnya sebagai kebenaran tanpa kroscek terlebih dahulu dengan apa yang terjadi.
Kebayang gak sih, orang lain yang gak tau apa-apa tentang asumsi kita terus jadi korban dari perubahan sikap kita. Mereka pasti bingung kan, "Kesambet apa nih orang kok tiba-tiba sikapnya berubah gitu" padahal mereka gak ngapa-ngapain, kitanya aja emang yang jadi aneh gara-gara pikiran kita sendiri. Dasar aku wkwkkkw 

Kalau ditarik lagi jauh ke depan, gara-gara setitik asumsi maka bisa rusak semua ke depannya hahahaaa hubungan dengan orang lain bisa terganggu, perubahan sikap kita bisa menimbulkan asumsi-asumsi di pikiran orang lain yang gak ada ujungnya, dan masalah-masalah lainnya yang of course merugikan kita. Yuk, pikiran dikondisikan kembali untuk lebih bijak menyikapi suatu masalah dan mengantisipasi asumsi hasil nalar kita sendiri.

Dah cukup panjang nih ya wkkw
Jadi, udah yaa, cukup sudah membangun dan mempercayai asumsi-asumsi yang muncul di pikiran kita, sekali lagi gak apa-apa berasumsi tapi yaa ayo di kroscek dulu kebenarannya sesuai apa ndak. 

Kuulang judulnya ya "your assumptions do kill you!"
Sekian, all the best for us in everything we do :)

See ya at [tiga belas]
Cheers,
Em 🙆

Friday, 23 August 2019

[sebelas] Perisai Pujian

Menang tidak terbang, kalah tidak patah 
- Agus Harimurti Yudhoyono -
Hello again teman-teman semua hehee 
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat :)

Topik hari ini cukup membingungkan bukan? 
Hahahaa mengapa pujian memerlukan perisai, bukankah pujian adalah suatu hal yang baik dan bahkan dinantikan oleh banyak orang? Bukankah  malah hujatan yang memerlukan perisai sebagaimana hujatan apalagi dihujat oleh netizen kadang-kadang cukup menyakitkan dan menyeramkan? Wkwkwk

Ya, jadi dari beberapa pengalaman dan pemikiran ternyata pujian itu kadang-kadang jauh lebih 'berbahaya' daripada hujatan, termasuk hujatan netizen yang lagi naik daun sekarang ini wkwkw

Ketika kita dihujat, dikritik, atau dicela, itu mungkin menyakitkan. Hm, bukan mungkin, tapi pasti yaa. Tetapi, setelah itu menurut saya kita bisa recovery dengan cepat. Dari sekian banyak hujatan, celaan, kritikan pedas yang terpedaaas sekalipun kita pasti bisa (baik itu dengan mudah ataupun membutuhkan beberapa waktu) untuk bangkit dan belajar dari semua hujatan-hujatan itu. Bahkan kadang-kadang celaan yang paling menyakitkan malah menjadi motivasi paling mujarab untuk 'comeback stronger'. Motivasi untuk membuktikan bahwa 'mereka salah' dan 'kita bisa' begitu besar begitu nyata ketika kita menerima hal-hal yang kurang menyenangkan. 

Jadi ketika teman-teman dihujat apalagi oleh netijen wkwkk no need to feel bad, cukup buktikan bahwa mereka itu salah hehee

Nah, bagaimana kabarnya jika yang kita terima adalah puja puji yang membawa kita terbang ke langit ke 7? Hahahahaa apakah reaksi kita sama seperti saat menerima hujatan? 

Oo, tentu tidak dong yaa, toh kita menerima pujian, apa yang mesti dipusingkan? Bukankah pujian itu bagus? 

Yap, tentu psikologis kita akan berbeda. Semua orang pasti akan senang dipuji yang berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu baik dan disukai oleh orang lain. Lalu mengapa perlu perisai seperti judul topik kali ini? Ya, analogi nya seperti ini, ketika kita 'dibanting' kita pasti jatuh ke tanah, lantai, terserah apa intinya jatuh ke bawah, sedangkan ketika kita 'diterbangkan' kadang-kadang kita lupa dimana seharusnya kaki kita berpijak. 

Kira-kira seperti itulah mengapa kita tetap perlu perisai saat menerima pujian. Perisai di sini bukan berarti kita menolak pujian yang datang kepada kita. Tetapi perisai di sini berarti melindungi kita dari kata-kata manis pujian yang membuat kita lupa atau takabur dengan semuanya.

Kembali ke masalah psikologis, ketika kita sedih kita pasti mencari cara untuk menjadi bahagia kembali, tetapi ketika kita senang kita berusaha mempertahankan kondisi bahagia itu. Demikian juga ketika kita dihujat kita berusaha bangkit membuktikan diri kita. Tetapi ketika dipuja puji sangat mungkin kita terlalu senang terlalu bahagia sampai lupa diri.

Kita menjadi lupa kalau hidup ini dinamika, mungkin hari ini kita di atas tapi besok belum tentu. Kalau kita terus menganggap diri kita paling baik hanya karena sekalimat pujian maka bisa jadi celaka. Apalagi kalau sampai merasa diri paling benar, paling hebat, dan apalah orang lain, maka kita sangat perlu perisai itu.

Perisai yang akan membelokkan sudut pandang kita, membuat reaksi kita menjadi sama seperti ketika menerima hujatan. Membuat motivasi yang sama berlipat ganda untuk tetap menjadi yang baik, yang disenangi orang lain. 

Ya, kira-kira seperti itulah perisai pujian ini wkkww tentunya bukan berarti saya yang menulis ini sudah mampu menangkal pujian dengan bijaksana seperti yang diuraikan di atas yaa hahhaaa saya pun masih belajar wkkw

Oleh karena itu, semoga dengan sharing ini bisa bermanfaat menjadi pengingat untuk saya dan teman-teman yang sudah menyempatkan waktu membaca hehhee

Seperti yang saya kutip dari kata-kata Mas AHY di akun instagramnya, 'menang tidak terbang, kalah tidak patah' jadi pujian pun tidak membuat kita terbang, celaan tidak membuat kita patah. Tidak perlu lupa diri jika mendapat pujian, tidak perlu patah semangat ketika dicela. Tetap yakini apa yang diusahakan, tetap usahakan yang terbaik.

Sekian dulu,

See ya at [dua belas]

Cheers,
Em 🙆

Sunday, 4 August 2019

[sepuluh] Disappointment or Surprise ?

Don't expect too much, because that too much can hurt you so much
- Anonim -
Hi guys, apa kabar kalian? Semoga selalu baik ya hehee
Kali ini, kita akan membahas tentang 'harapan'. Bakal seru nih hahaaa begitu banyak opini yang muncul tentang 'harapan' ini. Kata orang harapan itu yang membuat kita hidup, membuat kita semangat, tapi kadang-kadang harapan itu juga membuat sakit hati, membuat putus asa.

Jadi harus bagaimana? Menggantungkan harapan, salah, tidak berharap, salah juga.

Pernahkah kalian ketika uang bulanan kalian sudah menipis dan ketika kalian sedang mencuci celana kalian tiba-tiba "Apa ya ini? Waah 50ribuu". Ah, saya yakin hampir semua orang mengalami hal ini. Bagaimana rasanya? Wah, seperti dapat durian runtuh hahhaaa seperti lagi haus-hausnya terus dapat air dingin segelas wkwkkw

Pernahkah kalian jalan-jalan ke supermarket atau toko, terus ngeliat sebuah makanan kemasan yang sungguh menarik perhatian. "Wihh, pasti enak nih", lalu dibelilah makanan itu, dibawa pulang. Waduh, ternyata zonk guys. Ternyata rasanya tidak se-"enak" kemasannya. Duh, apes.

Kedua hal di atas ataupun kejadian serupa lainnya sering, sungguh sering kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejadian pertama adalah surprise, karena kita tidak berharap. Ketika hal itu terjadi, tidak pernah terbersit di pikiran kita bahwa akan ada uang yang terselip. Malah, kadang-kadang ketika kita berharap malah uangnya gak ada wkwkwk. Sementara kejadian kedua adalah disappointment, karena di pikiran ini sudah ada gambaran harapan rasa yang enak lezat. Ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, ya udeh kecewa pemirsah. 

Kalau boleh memilih, yang mana yang kalian pilih? Ya pastilah gak ada yang mau kecewa kan. Jadi, apakah kita tidak boleh berharap? Kan nanti kecewa? 

Bagaimana???

Kalau menurut saya, berdasarkan yang pernah dialami dan yang sering direfleksikan, berharap itu boleh, as hope makes us alive, harapan yang bikin kita lebih semangat. Yang tidak boleh adalah memaksakan harapan menjadi kenyataan. Ya semacam expect too much gitu loh hahaaa. 
Lho, kalau begitu untuk apa berharap? Bukankah semua orang pasti ingin harapannya menjadi kenyataan?
Ya benar, ibaratnya pemain bola ngapain tendang bola kalau gak pengen gol kan. Tapi guys, kenyataannya adalah tidak semua harapan kita bisa menjadi kenyataan. Hal ini lah yang harus kita ingat dan pahami sehingga ketika yang terjadi tidak sesuai harapan maka kita akan tetap baik-baik saja karena kita tahu betul harapan tinggal harapan dan kenyataan yang saat ini terjadi.

Oh iya, kadang pula rasa kecewa itu semakin menjadi-jadi karena perspektif otak kita mengatakan bahwa peristiwa yang kita harapkan adalah yang terbaik. Jadi ketika kenyataan tidak sesuai harapan kita seolah terdoktrin bahwa yang sedang terjadi adalah hal yang buruk, hanya semata-mata karena tidak sesuai harapan kita.
Tentunya tidak seperti itu bukan? Tidak selamanya yang tampak buruk adalah buruk, dan tampak baik adalah baik. More than that, sometimes we don't even see that what is happened right now is a good thing, and maybe the best. We never know, so never judge.

Ya, jadi begitulah ya guys hahaaa mudah-mudahan ada faedahnya. Maka, berharap itu boleh-boleh saja apalagi kalau bisa menjadi motivasi kan bagus ya khan wkwkwk asal jangan terlena dan harus selalu ingat kalau harapan dan kenyataan tidak selalu sejalan. Expectation is okay, but expect too much, that too much is a problem.

See ya at [sebelas]
Cheers from thousand miles away from home :)
Em 🙆

Friday, 21 June 2019

[sembilan] the more you give, the more you receive

"the more you give, the more you receive"
Anonim

Akhirnya keluar juga setelah sekian lama hihii ..
Entah mengapa kemaren-kemaren rasanya belum punya ide yang pas buat nulis tentang topik ini. Sekarang baru muncul idenya. Yuks!

Guys, mungkin kalian sudah familiar dengan kalimat di atas 'the more you give, the more you receive'. Bagi saya sendiri, kalimat ini menjadi salah satu prinsip hidup yang mengingatkan bahwa apa yang dilakukan tidak semata-mata untuk diri sendiri, tetapi harusnya bermanfaat bagi orang lain pula. Oh iya, pernah suatu hari saya dan teman saya memiliki sebuah percakapan singkat seperti ini. "Hei, kamu itu kadang-kadang terlalu baik sampai sering dimanfaatkan oleh orang lain.", kata teman saya. Saya tahu saat itu kami hanya berbincang ringan sehingga saya pun nyeletuk "Ya tidak apa-apa, setidaknya saya masih bisa bermanfaat untuk orang lain hahahaa." Kadang-kadang kita hanya melihat sesuatu dari satu sisi dan mungkin kelihatannya buruk, tapi ketika kita mencoba melihat dari sisi yang lain, yang lebih unik, maka mungkin kelihatannya menjadi lebih baik. Ya, kenyataannya memang seperti itu bukan? Atau bukan? Hehehee

Nah, pola pikir manusia memang kadang-kadang menjengkelkan, hmmm, hanya mau untungnya saja, mau enaknya saja. Saya yakin ketika ditanya "Pilih yang mana, dikasih uang 100 juta atau harus mengeluarkan uang 100 juta" maka sebagian besar orang akan memilih dikasih uang 100 juta. Yes, most people want to receive many and sometimes forget to give more. Kita tidak berpikir jauh bahwa ketika kita mengeluarkan uang 100 juta bukankah artinya uang yang kita miliki lebih dari itu? Bahkan mungkin saja jauh lebih banyak dari itu? 

Manusia memang penuh perhitungan. Selalu menghitung kira-kira berapa keuntungan yang diperoleh jika mengeluarkan sekian banyak. Menghitung berapa balasan yang diterima jika memberikan sekian jumlah. Mungkin kita terlalu sering belajar matematika sampai lupa belajar biologi. Kita terlalu tekun belajar penjumlahan dan perkalian sampai lupa bahwa buah mangga hanya bisa dipetik dari pohon yang tumbuh dari biji atau bibit mangga. 

Bukankah alam sudah mengajarkan semuanya? Memang kadang-kadang manusia itu kurang peka. Wkwkwk. 

Karma does exist, hukum alam berjalan sebagaimana adanya secara universal. The more you give, the more you receive adalah salah satu kalimat yang mencerminkan hal ini. Ketika kita ragu untuk memberi, ketika kita segan untuk membantu, ingatlah kalimat ini kawan. Semua itu akan kembali kepada kita, tak akan salah, tak akan meleset, tak akan terlambat, tak juga terlalu cepat. 

Belum lama ini, saya seolah dijitak oleh teman saya sendiri hehee ia ingin memberi saya sesuatu, namun karena saya merasa segan saya pun menolaknya dengan tujuan yang baik. Setelah dipikir kembali ternyata saya menutup kesempatannya untuk memberi. Ah, dasar aku. Maaf ya, I should not do that. Saya pun berpikir mungkin saja pemberian itu merupakan hasil dari pemberian saya kepada orang lain dahulu kala. Oleh karena itu, saya pun seharusnya memberinya kesempatan untuk 'menanam' kebaikan melalui niat baiknya memberikan sesuatu kepada saya.

Not going to long, saya pribadi sangat yakin apapun yang terjadi, apapun yang saya terima tidak lain tidak bukan adalah hasil dari apa yang pernah saya perbuat sebelumnya. Semakin banyak yang kita berikan (secara ikhlas tentunya), maka semakin banyak pula yang akan kembali kepada kita. Eits, tentunya harus yang baik-baik yaa hehee 

Salam kebaikan :)
See ya at [sepuluh]

Em 🙆

Saturday, 11 May 2019

[delapan] Mengerti atau Dimengerti?

"The noblest pleasure is the joy of understanding"
- Leonardo da Vinci -

Hmm cukup menarique wkwkwk
Bicara soal mengerti, dimengerti, memahami, dipahami adalah hal yang cukup sensitif dan menyentil ego. Ya iya, most people want to be understood and very less people really want to understand. Apakah ini wajar? Kadang-kadang banyak yang bilang 'ah itu mah wajar semua orang ingin dimengerti'. Benarkah demikian? Pernahkah kita menelisik lebih jauh ke dalam diri dan batin kita permasalahan mengerti dan dimengerti ini? Mungkin dari luar cukup simpel tapi sesungguhnya banyak hal yang tersembunyi dan cukup complicated.

Mengerti dalam hal ini bukan hanya berbicara tentang mengerti orang lain tetapi juga mengerti lingkungan di sekitar kita.  Ketika kita dihadapkan pada suatu situasi yang berbeda dengan yang ada pada otak dan hati kita, saat itulah ego dan nurani ini beradu. Saya pribadi cukup yakin bahwa tiap orang dilahirkan dengan ego dan nurani. Ego berperan pada pemikiran untuk kepentingan dan kenyamanan diri sendiri sedangkan nurani berperan pada pemikiran yang luhur dan baik, yang kadang-kadang pula berarti apa yang nyaman untuk diri kita belum tentu baik wkwk. Kembali ke situasi yang berbeda tadi, saat itu, ego ini akan berpikir bagaimana untuk membuat segala sesuatunya sesuai dengan yang kita inginkan, yang bisa membuat kita nyaman, sebaliknya nurani akan berpikir untuk bisa beradaptasi dan memahami dengan perbedaan itu. Hanya saja, tahukah teman-teman, nurani ini kurang lebih sama wujudnya dengan orang-orang baik yang cenderung tenggelam suaranya dibandingkan orang-orang yang berkoar-koar tanpa ada niatan baik sedikitpun. Terkadang, tanpa sadar, kita ini tidak mendengarkan sang nurani itu, kita mengabaikannya. Pada saat itulah, kita ingin dimengerti. Masih berlanjut, kita pun masih merasa baik-baik saja dengan rasa ingin dimengerti itu, yang lebih parah adalah kita malah kadang berdalih dengan pasrah bahwa memang beginilah adanya, tidak bisa diubah. 

Kadang-kadang lucu memang 'hooman' ini (hooman biar kekinian hahaha),  magernya kadang-kadang sampai ke hati wkkwkw. Bukannya gak bisa diubah sih, kitanya saja yang biasanya malas untuk berubah, malas untuk berusaha berubah. Mengerti termasuk bagian dari berubah. Ketika kita mencoba untuk mengerti, kita berusaha untuk berubah, mengubah pandangan kita terhadap sesuatu entah itu lingkungan atau orang, mengubah hati kita dari yang tadinya susah untuk mengalah menjadi mau mengalah dan menyesuaikan diri, mengubah ego kita yang tadi 1000% menjadi 50% mungkin hehee, mengubah diri kita menjadi lebih baik.

Coba bayangkan ketika ada 4 orang berada di satu ruangan dengan minuman kesukaan yang berbeda-beda, ada yang suka teh manis, teh tawar, teh susu, dan lemon tea. Mereka sedang kehausan dan hanya terdapat 1 buah gelas (anggap aja gelasnya gede bisa buat berempat ya hehehehe) yang berisi teh. Ketika semua ingin dimengerti maka mereka akan bertengkar tidak jelas hanya untuk sebuah rasa teh. Tetapi ketika semua bisa saling mengerti maka rasa haus mereka mungkin bisa segera hilang karena mereka mau menyesuaikan dengan 1 rasa teh.
Begitulah kadang-kadang kekerasan hati kita untuk mau dimengerti bisa berujung pada sesuatu yang kurang baik. Belum tentu orang bisa mengerti kita. Kadang-kadang kita malah menyalahkan orang lain, 'dia sih gak bisa ngertiin aku'. Ketika mengatakan demikian, sempatkah kita berpikir bagaimana dengan kita sendiri? Kadang kita lupa, dasar kita! Wkwkw.

Sulit memang gaes, ngetik mah gampang yah hahaa, tapi adakah hasil tanpa usaha? Memang tak ada manusia yang sempurna, kita pun tidak mungkin bisa setiap saat setiap waktu 100% dalam kondisi mengerti orang lain. Tapi, kita bisa belajar, berusaha untuk melihat lebih jauh ke dalam hati kita, sedikit lebih mendengarkan sang nurani dan mengecilkan volume ego, sebelum memutuskan ingin dimengerti. Ketika kita bisa mengerti orang lain, mengerti keadaan lingkungan sekitar kita maka tidak ada salahnya untuk menyesuaikan diri. Tidak ada salahnya memperkaya diri dengan hal-hal baru, keluar dari comfort zone, mungkin saja kita bisa menemukan comfort zone yang lain yang lebih menarik ketika kita mencoba mengerti dan memahami, mungkin saja kita menjadi lebih lega dan bahagia ketika melihat orang lain bahagia jika kita bisa mengerti dirinya. Kita tak pernah tahu. Tak selamanya yang kita inginkan bisa terjadi, tapi tak selamanya juga yang kita inginkan tidak bisa kita raih.

Selamat berjuang untuk menjadi lebih baik, telisiklah lebih jauh ke dalam hati, banyak hal yang bisa kita pelajari tapi kita belum menyadarinya.

Serius amat ya hahahaa ini hanya sharing ya teman-teman berdasarkan pemikiran dan pengalaman pribadi. Semoga bisa memberi manfaat :))

See ya at [sembilan]
Em 🙆

Sunday, 31 March 2019

[tujuh] Hidup Tidak Se-Kuantitatif Itu, Uncle!

"And as I like to tell the C students ... You, too, can be president."
- George W. Bush -

Pada suatu sore ada seorang uncle yang kebetulan kantornya berada di sebelah rumah saya. Hampir setiap hari belio datang ke rumah untuk sekedar jajan kue dan bercengkerama dengan papa saya. Dan saat itu, kebetulan saya yang sedang jaga warung dan terjadilah percakapan berikut
Uncle : Kalau IPK tinggi itu berapa ya?
Me : Hm, paling tinggi 4,0
Uncle : Artinya pintar ya kalau IPK nya tinggi, bagus masa depannya
Me : Hehehe

After that, saya langsung mikir, I get to write this on my blog, this is a misconception hohooo
Yap, cara berpikir yang, hm, menurut saya cukup sempit dengan "menerawang" masa depan berdasarkan prestasi akademik semasa sekolah. I am not saying that education is not important, NO, education is so crucial for someone's future. Tapi, ada hal lain yang perlu dilihat selain "nilai" yang tertera pada ijazah. I want to say that "hidup tidak sekuantitatif itu". We cannot measure life using numbers. Fiuhh ..

Let's see the reality, gak semua orang sukses punya latar belakang pendidikan yang mulus. Contohnya Steve Jobs yang drop out dari kampusnya, atau Mark Zuckerburg bosnya Facebook yang lebih memilih Facebook nya daripada kuliahnya. Eits, tunggu dulu, mereka adalah contoh tokoh-tokoh sukses yang tidak menyelesaikan pendidikan formalnya. Tapi, tentu banyak juga di luar sana orang yang hidupnya kesusahan karena tidak menyelesaikan pendidikan formalnya. Ada, banyak. Jadi, pendidikan saja bukanlah penentu kesuksesan seseorang.Kesuksesan seseorang ditentukan oleh banyaknya faktor selain pendidikan, seperti karakter, soft skill, dan attitude contohnya yang mana hal-hal ini tidak diperoleh secara langsung di bangku sekolahan. 

Saya jadi teringat perkataan salah satu dosen saya, "Kalau kuliah, jangan main-main, jangan menggunakan tameng bahwa Steve Jobs yang putus kuliah saja bisa sukses, karena kalian bukan Steve Jobs, dan kalian tidak tahu apa yang dia telah lakukan saat dia memilih berhenti kuliah. Kalau kalian saat ini tidak sedang melakukan apa-apa, maka belajarlah yang baik". Saya setuju dengan dosen saya ini. Di zaman seperti sekarang ini, punya latar belakang pendidikan yang baik saja kadang susah mencari pekerjaan apalagi yang tidak punya. But, I don't deny for those who can survive and success without educational background, that's great, really. Tapi untuk kita atau kalian yang merasa masih bisa sekolah maka tempuhlah pendidikan itu dengan baik. Belajarlah bukan untuk nilai tetapi untuk ilmu, carilah pengalaman sebanyak mungkin semasa sekolah, asahlah soft skill yang bisa diperoleh semasa sekolah, bentuklah karakter terbaik mu semasa sekolah. 

Jadi, kesuksesan bukan tentang nilai kita di ijazah. Itu bukan yang paling penting. Hal yang lebih penting adalah ilmu yang kita punya, karakter yang kita miliki, soft skill yang kita kuasai, attitude yang kita biasakan, yang mana semuanya itu sangat bisa kita peroleh saat kita menempuh pendidikan. 

Teruslah belajar untuk suksesmu, karena hidup bukan sekuantitatif nilai di ijazahmu, belajarlah untuk ilmu bukan untuk nilai.

Semangat, dari yang masih dan terus belajar,
See ya at [delapan]
Em 🙆

Friday, 29 March 2019

[enam] Bersyukurlah!

Ketika kamu sudah jarang berkumpul dengan teman-temanmu karena kesibukan masing-masing
Bersyukurlah, kesuksesan semakin dekat dengan kalian

Ketika kamu mengeluh karena tugas kuliah yang begitu banyak
Bersyukurlah, kamu sedang ditempa untuk menjadi lebih kuat

Ketika kamu kecewa karena temanmu ingkar janji
Bersyukurlah, kamu sedang belajar bersabar

Ketika kamu belum punya kendaraan, dan harus berjalan kaki kemana-mana
Bersyukurlah, kamu punya kesempatan untuk menjadi lebih sehat

Ketika temanmu meminjam uangmu dan lupa mengembalikannya
Bersyukurlah, kamu sedang belajar memberi dan melepaskan

Ketika kamu putus dengan pacarmu,
Bersyukurlah, kamu dijauhkan dari orang yang salah

Ketika kamu sakit,
Bersyukurlah, kamu ada kesempatan beristirahat

Ketika atap rumahmu bocor, 
Bersyukurlah, kamu masih lebih beruntung dibandingkan orang-orang yang tak memiliki rumah untuk berteduh

Ketika gajimu masih sedikit,
Bersyukurlah, kamu masih bisa belajar berhemat, banyak orang yang menginginkan bekerja sepertimu

Ketika kamu mengomel karena dibangunkan di pagi hari
Bersyukurlah, karena kamu masih bisa bangun pagi dengan sehat

Ketahuilah bahwa begitu banyak hal yang dapat kita syukuri dalam hidup ini, sekalipun itu hal yang kita anggap buruk. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda, selalu ada pelajaran yang bisa diambil dalam suatu peristiwa. Bersyukurlah karena ada begitu banyak orang yang hidup dalam keadaan kurang beruntung daripada kita. 

Hidup akan lebih bahagia jika kita bersyukur.

See you at [tujuh],
Em 🙆

Saturday, 9 March 2019

[lima] #MulaiAjaDulu

Success is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.
-Winston S. Churchill-
Hello!!
Kali ini pengen ngambil promo tagline dari salah satu toko online yang terkemuka di Indonesia dan belakangan ini sering banget kita lihat iklannya di TV, #MulaiAjaDulu (taulah ya toko online mana hehee gak endorse lho)

So, it's simple, very simple, but those words are so damn trueee. Banyak orang yang bilang fase paling sulit dalam ngelakuin sesuatu adalah memulainya. That's it. Kita semua pasti pernah mengalaminya kan, contoh paling kecil deh, mandi. Apa sih susahnya mandi? Semua juga bisa, nyiram-nyiram badan doang, sabunin, bilas, udah. Tapi kadang-kadang mau mandi aja susah banget, apanya yang susah? Yaa yang pertama pastinya kemageran kita, buat beranjak dari kasur ke kamar mandi nya yang susah. Mulai geraknya yang susah. Yang kedua mungkin kalau airnya lagi gak ngalir kali ya gimana mau mandi hehee

But, ya that's the point, kita terlalu sering memiliki ketakutan-ketakutan untuk hal-hal yang masih belum pasti (dan juga kemalasan biasanyaa) padahal kans untuk sukses dan berhasil itu selalu ada. Be positive guys. Misalnya nih, pengen bisnis tapi takut rugi, takut gak ada pasar, atau pengen sehat tapi bilangnya sibuk gak sempet olahraga, gak ada yang masakin jadi makannya gak sehat, atau mau belajar nulis tapi takut gak ada yang baca, takut jelek, dll. 

We have too much fear here that makes us forget that successful is there waiting for us. 

So, it's simply, #MulaiAjaDulu, just start it. Oh iya tapi di sini bukan berarti "hantam lurus" ya, semacam maju aja gitu tanpa persiapan dan senjata hahaa wah bisa berabe nih. Memulai di sini berarti bahwa kita mulai beranjak untuk melakukan kegiatan kita yang besar dengan hal-hal yang kecil-kecil (macam nyicil gitu) dengan pikiran sepositif mungkin. Kita bisa mulai dari mempersiapkan, mempertimbangkan, menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan, dan seterusnya sampai yang kecil-kecil tadi menjadi suatu yang besar. Pokoknya gitu lah ya hahahaa

Jadi, saya nulis ini buat ngajak diri saya sendiri dan kalian semua untuk #MulaiAjaDulu dengan rencana-rencana kita. Sukses bukan akhir, gagal bukan mati. Semua adalah proses. Rencana-rencana besar ditentukan oleh satu langkah pertama dan langkah-langkah kecil berikutnya yang kita ambil. Stay positive, your success is already there. 

Cheers, see ya at [enam]
Em 🙆

Saturday, 2 March 2019

[empat] Komunikasi

Good communication is the bridge between confusion and clarity
- Nat Turner -

Ketika pikiran tak mampu dibaca
Ketika sorot mata tak mampu diartikan
Ketika raut wajah tak mampu ditebak
Saat itulah, kata mengambil peran

Komunikasi menjadi penting dalam suatu hubungan
Entah itu keluarga, persahabatan, apalagi hubungan untuk masa depan
Tanpa komunikasi bagai perselisihan
Hanya diam tanpa lisan

Apapun itu, meskipun sulit dan pahit
Tanpa jarum, benang takkan terjahit
Tanpa kata, kondisi akan berbelit
Bicaralah, agar tiada curiga terbesit 


Dah, itu aja heheee dah bisa ya jadi kayak presenter gitu hohooo 😎😂
Cuma mau bilang kalau komunikasi itu penting dalam semua tahap kehidupan ini, 
karena manusia bukan dewa atau Tuhan yang bisa membaca pikiran
Sekian

Cheers, sampai bertemu di [lima]
Em 🙆

Sunday, 24 February 2019

[tiga] Rindu

Rindu itu berat, kau takkan kuat, biar aku saja.
- Dilan, 1990 -

Salah satu ungkapan yang cukup naik daun belakangan ini, ya siapa lagi kalau bukan Dilan, tokoh novel (dan katanya based on true story) yang terkenal dengan ungkapan-ungkapan puitis nan romantisnya. Udah pada nonton blom film nya? Hahaa lho, kok jadi ngomongin film yaa. Tapi guys, kalau dilihat dari ungkapan si Dilan itu hmm gimana yaa, jadi bingung hahhaa gimana kita bisa halang-halangin orang lain buat rindu sama kita ya dengan alasan beratnya rindu gak akan bisa ditanggung oleh dia? Gimana tuh? Hm, gaklah ya, kalimat itu tuh artinya orang itu akan senantiasa rindu sama kita, meskipun rindu itu berat, dia rela nanggung, gitulah kira-kira menurut diriku yang nilai bahasa Indonesianya kurang bagus semasa sekolah.

Okay, kali ini pengen ngomongin tentang rindu. Ada yang bilang satu-satunya cara mengobati rindu adalah menuntaskannya entah dengan ngomong, ketemu langsung, telepon, video call, apa ajalah yang penting bisa ngomong atau ketemu dengan orang yang dirindukan.  Namun, kadang kala cara ini gak mempan gaes, that's why muncullah ungkapan lain yaitu 'rindu terberat adalah rindu yang terpisahkan karena kematian' (udah lupa kalimat pastinya gimana intinya mirip-mirip gini lah hehehe). 

Yass, I think it's totally right, sejauh apapun jarak yang memisahkan, yang satu di kutub utara dan yang satunya di kutub selatan, tapi selama masih berada di bumi yang sama, everything will be alright, apalagi di zaman digital kayak gini yah, yang jauh mendekat, yang dekat menjauh (eh?), iya maksudnya bisa telponan gitu kan atau video call kalau rindu, beres deh, kalau pengen lebih ekstrem lagi ya langsung terbang buat ketemuan wkwkwk 

Nah, yang menjadi perkara adalah bila 'dunia'nya sudah berbeda. That's exactly what I feel sometimes. Beberapa hari belakangan ini, lagu Supermarket Flowers dari Ed Sheeran adalah lagu yang paliiiing sering kuputar, dengar berulang-ulang. Awalnya cuma suka dengan musiknya, taulah ya lagu-lagu Ed Sheeran hampir semuanya bagus-bagus banget. Sampai suatu hari ketika diriku berada di angkot sambil denger lagu ini, there's one line of the song that makes me feel like what a beautiful song it is! Lirik itu adalah 'you were an angel in the shape of my mum ..' (ntar lirik nya tak tulisin di bawah yaak) Keren banget and it really touch me. Tapi emang bener ya ibu itu malaikat, setujulah ya pasti.

It's been around 7 years for me to feel that kind of 'missing'. (wah, bakal berat nih pembahasan, hehee gak kok, biasa aja, santaii wkwkwk).  Jadi, gimana lah caranya menuntaskan rindu semacam ini, bahkan orangnya saja sudah tak bisa kau temui, hmmm
Jawabannya taulah ya gaes, iya bener, doa. Sebagai orang yang sama-sama beriman, kita taulah kalau doa itu jadi senjata paling bener dah. That's what I do every time I miss her. May you always be happy, mum :') (jadi syahdu gitu ya hahaha)

Halah, postingan kali ini gak berfaedah lagi ya, jangan kayak aku ya gaes, lakukanlah hal yang berfaedah hohohoo

Sebenernya dari postingan ini aku cuma pengen promosiin lagunya Ed Sheeran sih, hahaaa bagus beneran, coba kalian dengarkan. Selain itu, bagi klean klean yang juga merindukan orang yang 'jauh' di sana, percayalah kalau mereka tahu, just do your best here, make them proud.

Gak pengen panjang-panjang lagi, kututup dengan yang ringan-ringan aja yaa

Pakai sabuk cari hiu
Ibuk, I miss youu ...

(mantap kali kan hahhhaaa)

Bye, see ya at [empat]

Em 🙆

Bonus lirik Supermarket Flowers yah 
(Source : Google)

Supermarket Flowers - Ed Sheeran

I took the supermarket flowers from the windowsill
I threw the day old tea from the cup
Packed up the photo album Matthew had made
Memories of a life that's been loved

Took the get well soon cards and stuffed animals
Poured the old ginger beer down the sink
Dad always told me, "don't you cry when you're down"
But mum, there's a tear every time that I blink

Oh I'm in pieces, it's tearing me up, but I know
A heart that's broke is a heart that's been loved

So I'll sing Hallelujah
You were an angel in the shape of my mum
When I fell down you'd be there holding me up
Spread your wings as you go
And when God takes you back we'll say Hallelujah
You're home

I fluffed the pillows, made the beds, stacked the chairs up
Folded your nightgowns neatly in a case
John says he'd drive the put his hand on my cheek 
And wipe a tear from the side of my face

I hope that I see the world as you did cause I know
A life with love is a life that's been lived

So I'll sing Hallelujah
You were an angel in the shape of my mum
When I fell down you'd be there holding me up
Spread your wings as you go
And when God takes you back we'll say Hallelujah
You're home

Hallelujah 
You were an angel in the shape of my mum
You got to see the person I have become
Spread your wing
And I know that when God took you back He said Hallelujah
You're home

Songwriters : Edward Christopher Sheeran / Benjamin Joseph Levin / John McDaid