Sunday, 23 November 2025

[seratus empat] semua orang adalah orang

every person is a human being

Hello guys, tidak terasa sudah penghujung November, sedikit lagi kita akan menyambut tahun yang baruuu yuhuuu

So, hari ini mau nulis nulis dulu sedikit wkwkkww

Kebanyakan topik yang saya tulis di blog ini muncul randomly dari momentum-momentum kecil, yang tiba-tiba memberi kesan tersendiri terus memunculkan pemikiran-pemikiran random wkwkwk, nah yang ini termasuk salah satunya.

Jadi, beberapa waktu lalu, saya habis menghadiri salah satu presentasi dari seseorang yang posisinya cukup tinggi di kantor, and I admire her so much, kyk kerennya ini ibuu kwkwkw

Nah, singkat cerita (wkwkwk singkat memang ji ini postingan HAHHA), ada satu momen yang membuat saya menyadari sesuatu. Saat presentasi itu, menurut pandangan subjektif mata saya (jadi ini klaim sepihak ygy, saya ndaktau ibunya merasakan apa saat itu), ibunya terlihat cukup gugup, kelihatan dari cara beliau menyampaikan materinya (however, the meeting ended very well). Ini hanya sebuah momen kecil dari presentasi dan diskusi selama kurang lebih 3-4 jam itu. Kebetulan waktu itu pesertanya juga ada dari eksternal dan ada yang bertanya-bertanya gitulah. Jadi memang tense nya beda ya hahahaa. Di momen yang sangat singkat itu, saya melihat sisi "manusia" nya ibu ini. Saya jadi berpikir, wah ibu ini, yang pastinya dikagumi banyak orang, bisa juga ada gugupnya di depan khalayak. 

Then, what's next?

Sejujurnya saya juga masih bingung mendeskripsikan apa yang saya rasakan waktu itu, belum nemu kata-kata yang pas. Tapi, setelah berpikir beberapa hari sebelum menulis ini, mungkin saya akan lihat dari 2 point of view. Yang pertama, dari sisi sebagai ibu ini, bahwa bagaimana pun seseorang, sehebat apa pun dia, dia adalah seorang manusia, yang pasti tidak lepas dari sifat-sifat manusia yang tidak sempurna dan sangat wajar. Misalnya gugup, atau ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, which are normal. Setelah kejadian itu, bukan berarti kekaguman saya berkurang, tapi saya malah jadi rispek dan bisa mengerti memahami dan memaklumi sisi "kemanusiaan" ibu ini. Jadi, kayak siapapun itu, lihatlah dia sebagai seorang manusia, dia bukan orang yang sempurna, jadi kalau ada kesalahan minor 1 2 ya itu wajar dan tidak menganulir hal-hal hebat yang pernah ia buat. Yang pov kedua adalah mungkin pelajaran yang bisa saya ambil, bahwa saya juga manusia. Apalagi posisi saya masih jauh di bawah ibu itu ya, memang mesti banyak belajar. Dan bahwa, doing a mistake itu tidak apa-apa loh. Memang itu manusiawi. Orang sehebat itu aja bisa melakukan kesalahan kecil dan orang lain pasti bisa memaklumi. Jadi kalau kita melakukan kesalahan kecil, itu tidak apa-apa, bisa dijadikan pelajaran, dan orang-orang yang tau kita, pasti akan memaklumi, karena itu bukan kesengajaan, itu hanya memang sisi manusia kita saja, tidak sempurna dan tidak akan pernah.

Ya kira-kira begitulah yaaa hahahaa semoga nyampe apa yang mau saya sampaikan. Karena kita juga manusia, mari kita memanusiakan sesama manusia. Termasuk di dalamnya tidak over ekspektasi dan tidak under estimate. Secukupnya saja. 

That's it. And I'll see you at [seratus lima],

Cheers,

Em 🙆


Saturday, 1 November 2025

[seratus tiga] the matter of winning

Winning is for everyone, but not every time

Hello everyone, welcome Novemberrr yuhuwww

Ternyata postingannya keskip di Oktober yak wkwkw

Kali ini nulisnya pas di jalan wkwkwk

Oke lesgoo, kali ini mau menulis terkait hal-hal yang kadang kita dapatkan, kadang tidak kita tidak dapatkan. Just a short one, tapi kayak lagi ngena huehehe.

I, sometimes, think that in some aspects of life,  I can win, but in another aspect, I lost. This most likely happen to others, too.  

Then, this thought just came yesterday, that, maybe, in every game in this life, sometimes you win, sometimes you lose. If people say not everyone can win, I would say that winning is for everyone, but not every time. This is kind of a little bit optimistic, you can win any games, if you try, but it is not possible to win every time. Even Valentino Rossi can be defeated.

It is okay to lose. You can win, maybe, next time, even no one knows when the next time is. And the plot twist maybe, lose is win, who knows.

Ya begitulah, hehe.

See you at [seratus empat],

Enjoy the rest of 2025, two months to go :))

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️

Sunday, 14 September 2025

[seratus dua] jika tidak hitam, maka belum tentu selalu putih

Life is not as clear as black or white

Hitam dan putih adalah warna yang mutlak. Hitam adalah ketiadaan cahaya sedangkan putih ada sumber dari segala warna ketika disinari oleh cahaya. Tetapi, hidup tidak sesederhana definisi kedua warna tersebut. 

Tidak jarang, kita melihat sesuatu di kehidupan ini hanya sebatas hitam dan putih. Contohnya "kita tuh ga perlu lah dengar kata orang lain tentang kita". Kadang, kesan yang kita ambil adalah "oh iyaa, ga perlu kita dengar kata orang lain, suka-suka gue aja lah". This is not how this world works, right? Tidak mendengarkan kata orang lain, bukan berarti bisa berbuat sesuka hati kita. This is too unemphatetic. Atau contoh lain "kita tuh harus selalu baik sama orang", yang ditangkap adalah "oke apapun yang terjadi, kita harus baik, di kondisi apapun harus tetap baik". Hmmmm, gimana ya, kan gak bener juga yaa jadinyaa..

*disclaimer a little bit: I don't really like those two examples, but my brain is not braining right now, but if I wait until my brain braining again, maybe this will be a draft forever wkwwkk so hope you understand and get my point and can find your own examples that fit better hehee

Lanjut,

Jadi seperti itu guys, ada hal yang harus dipertimbangkan dalam menyerap suatu informasi termasuk di dalamnya insight ataupun nasihat. Ada satu kata kunci yang bisa membuat kita tidak melihat sesuatu secara hitam dan putih, I think it is called "wisdom". Ya, dengan kebijaksanaan, kita bisa mengerti batasan suatu hal, bukan ekstrim kiri atau kanan, tapi bisa saja di tengah-tengah, tidak terlalu kiri, tidak pula terlalu kanan. 

Di contoh yang pertama, mungkin benar kita tidak usah mendengarkan kata-kata orang lain, kalau itu ternyata hanya bersifat subjektif, tidak benar, atau tidak berdampak langsung ke orang lain. Misal orang yang mengomentari penampilan orang lain. Masalah penampilan ya kembali ke orang memakai ya, senyamannya, kalau di Indonesia, harus memperhatikan norma-norma juga misalnya. Tapi, kalau ada orang yang mengomentari etos kerja kita, yang mana sifatnya kritik membangun, mungkin bisa dipertimbangkan. Apalagi untuk kebaikan atau improvement kita juga. Jadi, tidak semua ditolak, tapi tidak semua juga diserap, nanti bisa gila.

Di contoh yang kedua pun sama. Benar kita harus baik sama orang, tapi ketika kita baik tapi kita ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik, mungkin kita harus berpikir ulang. Seperti kita memberi bantuan ke orang lain, tapi bantuan itu malah dipakai untuk hal-hal yang buruk. Tentu kita jadi berpikir ulang kan ya. Jadi, memang perlu bijaksana.

Tidak bersikap baik bukan berarti bersikap jahat. Tidak seperti itu. Karena hampir semua hal dalam hidup ini adalah spektrum. Tidak bisa terlalu cepat menyimpulkan, ini hitam atau ini putih. We should go deep into something and define in which spectrum it should be. This will make thimgs more understandable, applicable, and make more sense. Intinya adalah bijaksana, jangan cepat mengambil kesimpulan, it will always be a win-win solution or option.

Kira-kira begitu yaaa, this is not a good one, but I will let it be released.

Sampai ketemu lagi di [seratus tiga],

Have a good day.

Cheers,

Em 🙆

Saturday, 13 September 2025

[seratus satu] Question to mom (1) : Have you ever woke up late?

Hello everyone!

This is a new series of my posts, yang dinamakan "Question to mom". Random aja sih kepikiran buat nambah-nambahin "series" kayak gini hahahhaa

Ini gara-gara pernah suatu hari kakak ipar saya cerita kalau pagi itu dia tuh terlambat bangun dan jadinya si bocil ponakan saya telat juga dan buru-buru siap-siap ke sekolah wkwkkw terus saya pun jadi kepikiran kan ya, dulu tuh mamak saya pernah telat gak yah, dan mungkin ada pertanyaan-pertanyaan lain yg I wish I could ask. So, mungkin menarik juga buat dikulik lewat tulisan. 

And then, after a crazy week becoz encok saya tiba-tiba kambuh entah kenapa, writing about mom feels like "good", because when you're not feeling well, you seems to miss your parents wkwkwk

A disclaimer that pertanyaan-pertanyaan yg muncul ini sifatnya hanya berandai-andai, I also don't know whether I will ask her if she were here. So, it's just kind of a release for me to write this things down, and also, as usual, it's gonna be a reflection when I become a mom someday :)

--

Okay, let's go back to the topique, telat bangun, ya pastii kita semua pasti pernah telat bangun ya, entah karena mungkin kecapean, atau tidurnya telat, atau ketiduran saat tidur untuk kedua kalinya (lima menit lagi deh, trus jadi 1 jam wkwkw). 

Apakah mama saya pernah telat bangun? Kira-kira apa yang dirasakan ketika telat bangun itu? Rasa bersalahkah atau apa? Apa yang dilakukan setelahnya? Bagaimana respon orang rumah ketika itu terjadi?

Seingatan saya, mama saya sepertinya pernah bangun telat tapi masih bisa diselamatkan wkwkwk karena tidak berdampak misalnya ke anaknya yang jadi bolos sekolah atau tidak ada sarapan di meja makan.

Life do changes when you become a mom. Karena tindakan seorang ibu bisa berdampak ke keluarga, anak-anak. Pada akhirnya seorang ibu pun adalah manusia biasa. Even you woke up late, you're still an amazing mom.

Why do I want to ask this question? Hanya mau dengar ceritanya saja, siapatau ada cerita lucu ye kan wkwkkw

At the end, this is gonna be an unanswered question, sama seperti pertanyaan susulan lainnya.

Happy weekend everyone, and mom, I always miss you :))

See you at [seratus dua]

Cheers,

Em 🙆




Wednesday, 27 August 2025

[seratus] don't be a waste

Kita pasti sudah familiar, dalam sebuah proses pembuatan sesuatu, pasti selalu ada lebihan yang dibuat. Sebuah pabrik roti, kalau ada pemesanan roti 100 buah, mungkin akan buat 110 buah. Begitupun, di industri farmasi, jika permintaan 500 kg, mungkin akan dilebihkan 550 kg. Saya yakin, hal ini juga terjadi di kondisi-kondisi lain, bahkan yang lebih sederhana. Contoh lain, ketika kita membuat hajatan, tamu 80 orang, maka makanan yang kita pesan mungkin 100 paket. 

Kenapa dilebihkan? Ya, untuk mengantisipasi, jaga-jaga kalau-kalau ada yang rusak, atau kalau-kalau tidak cukup.  

Dalam suatu proses produksi ada yang dinamakan yield. Yield berarti perolehan kembali. Input 100, output 90, maka yield 90%. Input 100, output 100, maka yield 100%. Yield 100% itu jaraaang sekali bisa dicapai. Entah ada yang rusak, ada yang error, salah produksi, nyangkut di mesin, nyangkut sana dan sini, yang membuat tidak semua yang masuk bisa keluar.

Analogi seperti ini juga ada di kehidupan sehari-hari. Seringkali, kekurangan untuk mencapai yield 100% itu adalah semua pemakluman. Dari 100 kue yang dibuat (intermezzo, 100 mulu daritadi wkwkwk soalnya angka paling gampang dan sempurna hehe), *lanjut* ndak apa-apa kalau 10 nya jelek. Dari 500 karyawan, performa outstanding hanya 480 orang, 20 nya tidak maksimal, still 480 out of 500 is considerably amazing tho. Saya tidak mengatakan bahwa yield 90% itu hal yang buruk ya. It's acceptable, tapi point nya bukan di situ. 

Mungkin ini agak membingungkan, tapi yang ingin saya highlight adalah dalam hidup ini, apapun role kita, jadilah output. Jadilah orang yang memenuhi yield itu, jika yield nya 90% jadilah bagian dari 90% itu, jangan jadi yang 10%. Jadilah roti yang mengembang, jadilah produk yang dikemas dan lulus QC, jadilah granul yang lolos dari ayakan. Jangan menjadi yang nyangkut di mesin (inti post ini cuma ada di paragraf ini WKWKWK).

Entah kenapa hari ini, hal ini sangat berkesan untuk saya. 

Kadang-kadang ada yang yasudahlah begini-begini saja, tidak apa-apa seadanya. Atau kadang-kadang saya dalam kondisi malas dan tidak well-performed. And this makes me think, don't be a waste. Just don't. Jangan jadi bagian yang dimaklumi, jangan jadi bagian yang tidak terambil. Tapi jadilah bagian dari yield itu. Begitulah ya kira-kira. A small reflection di akhir bulan (di tengah-tengah kebingungan dan keterheran-heranan melihat kondisi negara ini). 

Wadidaw I never expected this will be my one-hundred post hahhaa padahal banyak draft yang nanggung tapi entah kenapa kayaknya ini lagi pas buat ditulis. Hopefully, a right post at the right time. 

Congratulations to me for achieving the hundredth post! Yuhuuu

I'll see you around, at [seratus satu] hehee

Cheers,

Em 🙆

Friday, 25 July 2025

[sembilan puluh sembilan] luka yang tidak sengaja, adalah luka

gentong yang kena kepala, bukan karena dipukul pun, tetap sakit

After all this time, it takes me back to realize that wisdom is the highest. Kata highest ini sengaja dipilih untuk menggambarkan yang paling paling paling. Kebijaksanaan adalah yang terpenting, yang teratas, kalau bisa segalanya, kubilang dialah segalanya.

Setelah beberapa kejadian sehari-hari, membuat saya berpikir (memang naknya suka berpikir hahaaa makanya banyak pikiran *eh wkwkw) kalau ternyata ada satu hal di atas kebaikan, satu hal di atas semua yang baik-baik, itulah dia kebijaksanaan.

Bijaksana, gampang bilangnya, susah menjadinya. 

Bijaksana itu kayak apa yah, penstabil, yang membuat kita tidak menyimpang terlalu ke kanan, tidak terlalu ke kiri, di tengah, stabil.

Orang baik, bisa jadi jahat, kalau tidak bijaksana.

Sebuah fenomena menarik yang saya amati belakangan (sebelumnya juga sudah pernah, cuma baru kepikiran aja hahaha), adalah suatu hal yang dilakukan tanpa niat jahat, bisa jadi output nya menyakiti orang lain. Menarik kan? Selama ini saya (atau banyak dari kita) berpikir, selama kita berbuat baik, aman lah barang-barang. Tidak usah berpikir kata orang, selama kita baik, gas saja. 

Apakah salah? Tidak juga. 

Saya punya sebuah cerita. Fiksi tapi hehe

Sebut saja mbak Bubu (ga ada ide nama hahaa), ia baru saja membeli sebuah mobil baru, terus tetangganya ini baru kena pemutusan hubungan kerja. Di satu sisi, karena mbak Bubu ini sangat senang dan bangga dengan mobil barunya, dia jadi suka dan sering beraktivitas dengan mobil barunya di depan rumah. Biasalah euforia punya mobil baru pada umumnya, apalagi hasil jerih payah sendiri. Rajin di lap, suka di nyalain di depan rumah, dan sering dibicarakan ketika ada tetangga yang lewat. Namun, di sisi lain, ternyata tetangga mbak Bubu ini (sebut saja mas Dudu) menjadi sedih, sedikit iri, dan terganggu dengan aktivitas mbak Bubu itu.

Ladies and gentlemen, saya bukan penulis cerita yang baik, mungkin cerita di atas tidak netral dan kurang representatif. Tapi, ..

Dari cerita di atas, apakah mbak Bubu ini salah? tidak, dia hanya sedang menikmati hasil jerih payahnya selama ini, tidak ada niat jahat sama sekali. Lantas, apakah mas Dudu ini salah? tidak juga, ia hanya sedang berada di kondisi yang membuatnya merasa demikian. 

Tidak ada yang salah, hanya memang kondisi nya demikian.

Tapi, kadang saya berpikir, di beberapa situasi, saya berada di kondisi mbak Bubu itu, senang yang mungkin berlebihan hingga membuat orang-orang di sekitar saya mungkin merasa tidak nyaman, entah dengan alasan apapun itu. Sehingga, mungkin benar, perlu kebijaksanaan di segala kondisi. Sekali lagi tidak salah, tapi apa salahnya kalau kita (re: saya) mencoba melihat dan memahami sudut pandang orang lain. 

Counter argument: tapi mas Dudu harusnya juga bisa ngerti dong orang lain?! Lho, ya betul, kalau kita berada di posisi mas Dudu kita juga harusnya bijaksana dan bisa memahami orang lain.

Tapi, kita tidak bisa menjadi dua pihak sekaligus, kita akan berada di salah satu pihak. Dan, rasanya, lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di posisi yang nyaman.

Coba bayangkan, lebih mudah mana, kamu habis gajian dan kamu diminta memahami temanmu yang moody, atau kamu habis diputusin pacar lalu diminta memahami temanmu yang moody?

Pasti akan lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di pihak yang 'lebih diuntungkan'. At that point, mengalah sedikit won't hurt. Dan, dalam hal ini, menurut saya, awal mula kebijaksanaan bisa timbul adalah rasa empati. Bisa memahami, menaruh kaki ini di sepatu orang lain, meskipun tidak bisa cocok dan pas, tapi minimal kita bisa rasakan, sepatu dia tuh gimana sih. Alas sepatunya tipis kah, bahannya kasar kah, tali sepatu nya kuat tidak. Dengan memahami orang lain, kita bisa lebih mengontrol diri dan menghindari sesuatu yang berlebihan. Senang berlebihan, excited berlebihan, pamer berlebihan, tampil berlebihan. It's not a mistake to feel happy, excited, confident, but when it's too much, it's something that you should aware of. 

Perumpamaan lain ketika kita melempar batu ke arah acak, tidak ada niat jahat, tapi ketika batu itu mengenai orang lain, apapun niatnya, tetap saja rasanya sakit wkwkwkw

Ya begitulah, ini refleksi juga sih, kadang-kadang lupa itu manusiawi, tapi mawas diri itu mutlak untuk seorang manusia. Jadi, harus selalu awas biar gak los aja hehehe

Akan ada rasa bahagia yang berbeda, ketika pengendalian diri kita membuat orang lain nyaman dan bahagia.

This post is quite serious, but I think this is real serious tho :))

See you at [seratus], (wow sudah 99 ges wkwkw)

Cheers,

Em 🙆

Friday, 4 July 2025

[sembilan puluh delapan] kesempatan (mungkin) tidak datang dua kali

Me is back again hehehee

Kali ini ndak mau tulis panjang-panjang, yang pendek-pendek saja hahaa

Jadi, kali ini mau bercerita sedikit tentang 'kesempatan'. Ada yang bilang kesempatan itu tidak datang dua kali, tapi ada juga orang yang bilang akan selalu ada kesempatan kedua 

Menurut saya, bisa dua-duanya wkwkwkkw

Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi adalah setiap kesempatan belum tentu datang dua kali. Bahkan ketika you have all the things in the world, you still can miss the one and only opportunity that comes to you. 

Mungkin teman-teman pernah mengalami, karena saya pernah hehee, ingin mengikuti suatu acara, sangat ingin, sudah ditunggu-tunggu jauh-jauh hari, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, ternyata eh ternyata, pas hari H ada halangan tertentu yang membuat kita tidak bisa mengikuti acara itu. 

Singkat. 

Tapi kalau dipikir-pikir kembali, betapa berharganya suatu kesempatan itu. Meskipun kadang-kadang suka disepelekan. 

Merasakan bahwa wah bisa gitu ya, kita mau dan sudah merencanakan semuanya tapi sekejap hilang. Hal ini sering saya rasakan ketika saya ingin mengikuti atau menghadiri suatu kegiatan tapi karena beberapa alasan yang tidak bisa ditinggalkan, jadinya saya tidak ikut. 

Sebaliknya, ketika saya menghadiri suatu kegiatan, sekelibat terpikir wah beruntung nya saya, saya bisa hadir di sini, ketika orang lain, mungkin mau tapi tidak bisa. 

Kesempatan dan jodoh berkerabat erat ya nampaknya hehhee

Jadi begitu ya guys, yang mau saya bilang adalah kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa kesempatan yang kita ambil itu kesempatan yang berharga sekali yang mungkin tidak datang kedua kalinya. Dan untuk semua kesempatan yang datang, pastikanlah bahwa tidak ada yang kita lewatkan dengan sia-sia. Mungkin karena itulah kata orang, bersiaplah selalu, agar ketika kesempatan itu datang, momen itu datang, you'll grab it fast. Di sisi lain, ketika sudah diusahakan tapi memang bukan jodohnya, berarti memang bukan untuk kita. 

Just to remember how precious it is for one opportunity in life ..

Agak kureng ya tulisan ini, tapi ya sudahlah ya pemanasan lagi setelah off 1 bulan haahhaa

I'll see you at [sembilan puluh sembilan] then.

Cheers,

Em 🙆

Monday, 12 May 2025

[sembilan puluh tujuh] maybe the point is just choosing to stay ..

maybe the point is just choosing to stay, no matter what.

this is gonna be a short one.

Pagi ini karena libur, saya dan seorang teman pergi berolahraga pagi, jalan pagi sih lebih tepatnya hehehee sepanjang jalan kami banyak bercerita, topiknya beragam apa saja, dari yang viral di sosial media, aktivitas kemarin apa saja, sampai cerita random yang muncul karena melihat sesuatu di jalan. Seru. Kemudian, ketika di jalan pulang, ada momen di mana ceritanya habis atau mungkin juga sudah lelah, lalu kami diam-diam saja sambil melihat handphone masing-masing atau melihat ke arah kaca jendela mobil yang kami tumpangi

Sebagai seorang yang cukup peka (malah kadang-kadang terlalu peka menurut saya hmmm), suasana hening itu kadang-kadang membuat menjadi canggung. Kemudian, saya jadi berandai-andai, apakah karena ada momen diam-diaman ini berarti saya dan teman saya tidak akrab atau tidak cocok? nampaknya tidak juga. Apakah saya jadi tidak berteman lagi dengan dia? nampaknya tidak mungkin juga. Karena, sepertinya, seorang teman yang baik adalah teman yang tetap ada seperti apapun kondisi teman dan pertemanannya. (Disclaimer: we're not talking about criminals, toxic, and other "clearly need to avoid" things).

Kita berteman untuk berteman. 

Begitupun di hubungan lainnya.

Saya mencoba mengambil sebuah kesimpulan adalah, mungkin, kunci dalam semua hubungan yang bertahan itu adalah orang-orang di dalamnya memilih untuk tetap tinggal, apapun keadaannya. Kadang keadaannya buruk, kadang keadaannya baik, kadang keadaannya seru, kadang keadaannya awkward, kadang kita lelah, kadang mereka lelah, kadang kita excited, kadang mereka excited. Just be there, accept, compromise, understand. Nothing lasts forever. 

Stay as long as you can ..

See you at [sembilan puluh delapan]

Cheers,

Em🙆