Friday, 25 July 2025

[sembilan puluh sembilan] luka yang tidak sengaja, adalah luka

gentong yang kena kepala, bukan karena dipukul pun, tetap sakit

After all this time, it takes me back to realize that wisdom is the highest. Kata highest ini sengaja dipilih untuk menggambarkan yang paling paling paling. Kebijaksanaan adalah yang terpenting, yang teratas, kalau bisa segalanya, kubilang dialah segalanya.

Setelah beberapa kejadian sehari-hari, membuat saya berpikir (memang naknya suka berpikir hahaaa makanya banyak pikiran *eh wkwkw) kalau ternyata ada satu hal di atas kebaikan, satu hal di atas semua yang baik-baik, itulah dia kebijaksanaan.

Bijaksana, gampang bilangnya, susah menjadinya. 

Bijaksana itu kayak apa yah, penstabil, yang membuat kita tidak menyimpang terlalu ke kanan, tidak terlalu ke kiri, di tengah, stabil.

Orang baik, bisa jadi jahat, kalau tidak bijaksana.

Sebuah fenomena menarik yang saya amati belakangan (sebelumnya juga sudah pernah, cuma baru kepikiran aja hahaha), adalah suatu hal yang dilakukan tanpa niat jahat, bisa jadi output nya menyakiti orang lain. Menarik kan? Selama ini saya (atau banyak dari kita) berpikir, selama kita berbuat baik, aman lah barang-barang. Tidak usah berpikir kata orang, selama kita baik, gas saja. 

Apakah salah? Tidak juga. 

Saya punya sebuah cerita. Fiksi tapi hehe

Sebut saja mbak Bubu (ga ada ide nama hahaa), ia baru saja membeli sebuah mobil baru, terus tetangganya ini baru kena pemutusan hubungan kerja. Di satu sisi, karena mbak Bubu ini sangat senang dan bangga dengan mobil barunya, dia jadi suka dan sering beraktivitas dengan mobil barunya di depan rumah. Biasalah euforia punya mobil baru pada umumnya, apalagi hasil jerih payah sendiri. Rajin di lap, suka di nyalain di depan rumah, dan sering dibicarakan ketika ada tetangga yang lewat. Namun, di sisi lain, ternyata tetangga mbak Bubu ini (sebut saja mas Dudu) menjadi sedih, sedikit iri, dan terganggu dengan aktivitas mbak Bubu itu.

Ladies and gentlemen, saya bukan penulis cerita yang baik, mungkin cerita di atas tidak netral dan kurang representatif. Tapi, ..

Dari cerita di atas, apakah mbak Bubu ini salah? tidak, dia hanya sedang menikmati hasil jerih payahnya selama ini, tidak ada niat jahat sama sekali. Lantas, apakah mas Dudu ini salah? tidak juga, ia hanya sedang berada di kondisi yang membuatnya merasa demikian. 

Tidak ada yang salah, hanya memang kondisi nya demikian.

Tapi, kadang saya berpikir, di beberapa situasi, saya berada di kondisi mbak Bubu itu, senang yang mungkin berlebihan hingga membuat orang-orang di sekitar saya mungkin merasa tidak nyaman, entah dengan alasan apapun itu. Sehingga, mungkin benar, perlu kebijaksanaan di segala kondisi. Sekali lagi tidak salah, tapi apa salahnya kalau kita (re: saya) mencoba melihat dan memahami sudut pandang orang lain. 

Counter argument: tapi mas Dudu harusnya juga bisa ngerti dong orang lain?! Lho, ya betul, kalau kita berada di posisi mas Dudu kita juga harusnya bijaksana dan bisa memahami orang lain.

Tapi, kita tidak bisa menjadi dua pihak sekaligus, kita akan berada di salah satu pihak. Dan, rasanya, lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di posisi yang nyaman.

Coba bayangkan, lebih mudah mana, kamu habis gajian dan kamu diminta memahami temanmu yang moody, atau kamu habis diputusin pacar lalu diminta memahami temanmu yang moody?

Pasti akan lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di pihak yang 'lebih diuntungkan'. At that point, mengalah sedikit won't hurt. Dan, dalam hal ini, menurut saya, awal mula kebijaksanaan bisa timbul adalah rasa empati. Bisa memahami, menaruh kaki ini di sepatu orang lain, meskipun tidak bisa cocok dan pas, tapi minimal kita bisa rasakan, sepatu dia tuh gimana sih. Alas sepatunya tipis kah, bahannya kasar kah, tali sepatu nya kuat tidak. Dengan memahami orang lain, kita bisa lebih mengontrol diri dan menghindari sesuatu yang berlebihan. Senang berlebihan, excited berlebihan, pamer berlebihan, tampil berlebihan. It's not a mistake to feel happy, excited, confident, but when it's too much, it's something that you should aware of. 

Perumpamaan lain ketika kita melempar batu ke arah acak, tidak ada niat jahat, tapi ketika batu itu mengenai orang lain, apapun niatnya, tetap saja rasanya sakit wkwkwkw

Ya begitulah, ini refleksi juga sih, kadang-kadang lupa itu manusiawi, tapi mawas diri itu mutlak untuk seorang manusia. Jadi, harus selalu awas biar gak los aja hehehe

Akan ada rasa bahagia yang berbeda, ketika pengendalian diri kita membuat orang lain nyaman dan bahagia.

This post is quite serious, but I think this is real serious tho :))

See you at [seratus], (wow sudah 99 ges wkwkw)

Cheers,

Em 🙆

Friday, 4 July 2025

[sembilan puluh delapan] kesempatan (mungkin) tidak datang dua kali

Me is back again hehehee

Kali ini ndak mau tulis panjang-panjang, yang pendek-pendek saja hahaa

Jadi, kali ini mau bercerita sedikit tentang 'kesempatan'. Ada yang bilang kesempatan itu tidak datang dua kali, tapi ada juga orang yang bilang akan selalu ada kesempatan kedua 

Menurut saya, bisa dua-duanya wkwkwkkw

Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi adalah setiap kesempatan belum tentu datang dua kali. Bahkan ketika you have all the things in the world, you still can miss the one and only opportunity that comes to you. 

Mungkin teman-teman pernah mengalami, karena saya pernah hehee, ingin mengikuti suatu acara, sangat ingin, sudah ditunggu-tunggu jauh-jauh hari, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, ternyata eh ternyata, pas hari H ada halangan tertentu yang membuat kita tidak bisa mengikuti acara itu. 

Singkat. 

Tapi kalau dipikir-pikir kembali, betapa berharganya suatu kesempatan itu. Meskipun kadang-kadang suka disepelekan. 

Merasakan bahwa wah bisa gitu ya, kita mau dan sudah merencanakan semuanya tapi sekejap hilang. Hal ini sering saya rasakan ketika saya ingin mengikuti atau menghadiri suatu kegiatan tapi karena beberapa alasan yang tidak bisa ditinggalkan, jadinya saya tidak ikut. 

Sebaliknya, ketika saya menghadiri suatu kegiatan, sekelibat terpikir wah beruntung nya saya, saya bisa hadir di sini, ketika orang lain, mungkin mau tapi tidak bisa. 

Kesempatan dan jodoh berkerabat erat ya nampaknya hehhee

Jadi begitu ya guys, yang mau saya bilang adalah kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa kesempatan yang kita ambil itu kesempatan yang berharga sekali yang mungkin tidak datang kedua kalinya. Dan untuk semua kesempatan yang datang, pastikanlah bahwa tidak ada yang kita lewatkan dengan sia-sia. Mungkin karena itulah kata orang, bersiaplah selalu, agar ketika kesempatan itu datang, momen itu datang, you'll grab it fast. Di sisi lain, ketika sudah diusahakan tapi memang bukan jodohnya, berarti memang bukan untuk kita. 

Just to remember how precious it is for one opportunity in life ..

Agak kureng ya tulisan ini, tapi ya sudahlah ya pemanasan lagi setelah off 1 bulan haahhaa

I'll see you at [sembilan puluh sembilan] then.

Cheers,

Em 🙆

Monday, 12 May 2025

[sembilan puluh tujuh] maybe the point is just choosing to stay ..

maybe the point is just choosing to stay, no matter what.

this is gonna be a short one.

Pagi ini karena libur, saya dan seorang teman pergi berolahraga pagi, jalan pagi sih lebih tepatnya hehehee sepanjang jalan kami banyak bercerita, topiknya beragam apa saja, dari yang viral di sosial media, aktivitas kemarin apa saja, sampai cerita random yang muncul karena melihat sesuatu di jalan. Seru. Kemudian, ketika di jalan pulang, ada momen di mana ceritanya habis atau mungkin juga sudah lelah, lalu kami diam-diam saja sambil melihat handphone masing-masing atau melihat ke arah kaca jendela mobil yang kami tumpangi

Sebagai seorang yang cukup peka (malah kadang-kadang terlalu peka menurut saya hmmm), suasana hening itu kadang-kadang membuat menjadi canggung. Kemudian, saya jadi berandai-andai, apakah karena ada momen diam-diaman ini berarti saya dan teman saya tidak akrab atau tidak cocok? nampaknya tidak juga. Apakah saya jadi tidak berteman lagi dengan dia? nampaknya tidak mungkin juga. Karena, sepertinya, seorang teman yang baik adalah teman yang tetap ada seperti apapun kondisi teman dan pertemanannya. (Disclaimer: we're not talking about criminals, toxic, and other "clearly need to avoid" things).

Kita berteman untuk berteman. 

Begitupun di hubungan lainnya.

Saya mencoba mengambil sebuah kesimpulan adalah, mungkin, kunci dalam semua hubungan yang bertahan itu adalah orang-orang di dalamnya memilih untuk tetap tinggal, apapun keadaannya. Kadang keadaannya buruk, kadang keadaannya baik, kadang keadaannya seru, kadang keadaannya awkward, kadang kita lelah, kadang mereka lelah, kadang kita excited, kadang mereka excited. Just be there, accept, compromise, understand. Nothing lasts forever. 

Stay as long as you can ..

See you at [sembilan puluh delapan]

Cheers,

Em🙆




Sunday, 11 May 2025

[sembilan puluh enam] ternyata jalan yang tidak familiar itu ..

Ternyata, jalan yang tidak familiar itu sulit dan terjal, meskipun kita tahu ujungnya ada bahagia yang lebih luhur.

Pilihan, kalau ada 2, akan ada yang lebih familiar dimana akan dipilih oleh lebih banyak orang alias mayoritas. Dan akan ada yang lebih tidak familiar dimana hanya akan dipilih oleh segelintir orang alias minoritas.

Bukan benar dan salah. Ini hanya sebuah pilihan, tentu dengan konsekuensinya masing-masing.

Terkadang dan ternyata, pilihan yang tidak familiar itu lebih sulit dijalani. Sulit dijelaskan dan sulit dipahami orang lain.

Sekali lagi, bukan berarti pilihan itu salah. Itu hanya tidak familiar.

Begitu dulu terkait ini, kalau sudah agak lengkap puzzle nya baru akan diuraikan kembali.

Have a blessed weekend.

Sampai ketemu di [sembilan puluh tujuh]

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️

Sunday, 4 May 2025

[sembilan puluh lima] welcome to the club for the 95s

Yaaak hari ini mau melanjutkan tradisi (eaa) yang sudah dilakukan selama hmmm mungkin 5 atau 6 tahun terakhir kali ya hahahaa pas sekali ya ini post ke 95 untuk saya yang lahir di tahun 95 hahahaa

So, welcome to the club of 30s for myself wkwkwkk dilihat dari sisi manapun ini adalah pertambahan usia, daripada "meratapi" dekade usia yang baru ini, kayaknya lebih patut untuk disyukuri bahwa masih diberi waktu sejauh ini.

Kalau ditanya rasanya apa? Ya sama aja seperti hari-hari sebelumnya. Bukan berarti ketika usia 30 langsung mendadak kaya raya gitu trus ga kerja wkwkwk ga juga kan. Untungnya hari ini hari Minggu jadi ga kerja, kalau hari ini weekdays, ya masuk kantor juga hahahaaa

Tapi, memang, karena ini adalah momentum, serupa dengan tahun baru atau perayaan sejenis lainnya, maka menjadi waktu yang tepat untuk refleksi dan introspeksi, apalagi hari ini tidak spesial buat semua orang, ya ga si hehee. 

Pertama-tama (padahal udah paragraf ke-5 hahaa), selamat ulang tahun buat saya sendiri, selamat memasuki dekade yang baru yaa, wishesnya nanti di bawah, mau cerita yang lain dulu.

Jadi, sebenarnya, ulang tahun kali ini cukup berbeda secara personal, kenapa bisa demikian? karena di beberapa waktu, saya merasa momen quarter life crisis itu malah muncul di jeda perpindahan usia dari 29 ke 30 ini. Banyak sekali, saya ulang, banyak sekali, pertanyaan, kebingungan, keresahan yang suka berujung pada kekesalan yang malah muncul di hampir setahun belakangan. Penyebabnya apa? Tidak tahu juga. Selalu berusaha meng-absorb itu semua dulu, (meskipun tidak jarang jadi mengubek emosi), tapi kemudian mulai melihat dari sisi-sisi yang berbeda. Hingga sejauh ini kesimpulan yang saya ambil adalah mungkin ini adalah fase belajar yang baru. Mungkin fase ini saya alami 4-5 tahun lalu kemudian mengalami fase stabil hingga sekarang. Tapi kan, kita tau bersama tidak ada yang kekal adanya. Nah, mungkin agak syok karena udah lama ga ngalamin, kayaknya sih gituu wkwkkwwk, jadi mungkin sependek analisis dan perkiraan saya ini adalah fase belajar yang baru, yang seperti fase belajar pada umumnya itu banyakan susahnya daripada gampangnya, banyakan gagalnya daripada berhasilnya, banyakan hambatannya daripada lancarnya. Tapi, saya tau juga, kalau di fase belajar sebelumnya saya berhasil dan bisa sampai sekarang, maka di fase belajar yang sekarang saya juga pasti bisa. Syaratnya sesederhana, asalkan mau belajar. Jadi, di momen yang baik ini, refleksi utama saya adalah belajar lagi, dengan tenang, dan tekun. 

Di aspek kehidupan lain pun, masih banyak yang harus ditingkatkan. Tapi memang semua tentang belajar. Belajar hidup lebih sehat, lebih waras, dan lebih sadar. Belajar punya pola hidup termasuk di dalamnya pola makan dan pola tidur yang sehat. Belajar memiliki pola gerak yang baik misalnya pergi olahraga yang rajin. Belajar mengatur perasaan, emosi, stres, kejengkelan. Belajar lebih hadir di sini dan saat ini. Tak lupa pula, belajar merawat diri misal pake skin care wkwkwkw. Karena pilihan katanya masih 'belajar' maka tentulah ini sebuah proses yang masih berjalan. Dan mungkin akan terus berjalan sampai seterusnya. 

Di sisi lain, tahun ini juga adalah tahun merayakan keberanian. To embrace the fear (ciaelah). Berani menghadapi ketakutan yang selama ini ditakuti yang entah apa alasannya. Berani bertindak selayaknya orang besar wkwkw sotoy kali aku ini, padahal cuma ke dokter gigi doang hahahaa but I do appreciate it wkwkwk 

Ya begitulah kira-kira highlightsnya hahahaha beneran udah tua yak wkwkwk toa mi ramang hahahaa

Jadi, aspirasi atau wishes ulang tahun kali ini adalah lapangkanlah selapang-lapangnya ruang untuk belajar, ruang untuk menerima, ruang untuk mindful, ruang untuk melihat diri sendiri dan sekeliling, ruang untuk berbahagia, ruang untuk cinta kasih, dan ruang untuk memperbaiki diri. 

Semoga selalu menjadi dan diketemukan dengan hal-hal baik. Terima kasih sudah berusaha dan selamat untuk semua yang sudah dicapai sejauh ini.

Make your heart wide, as wide as an ocean that holds the rain. 

Make your mind clear, as clear as the sky without clouds. 

Selamat berproses kembali dan selalu.

Sampai ketemu di [sembilan puluh enam]

Cheers,

Em🙆

Friday, 25 April 2025

[sembilan puluh empat] eksistensi orangtua

holaaa, mau cerita sedikitt, ga panjang kok wkwkkw
Jadi, minggu lalu sempat nongkrong di salah satu cafe di mall sambil baca buku kemudian ada satu kejadian yang sangat singkat tapi cukup menggelitik saya. Sebagai orang yang suka mengamati kejadian sekitar, hal ini menjadi sesuatu yang menarik wkwkkww

Jadi, ceritanya, ada seorang ayah dan anak datang ke cafe tersebut. Setelah memesan dan mengambil minuman, mereka duduk di suatu meja. Tidak lama kemudian, datanglah ibunya (harusnya sih ibunya kalau mereka sekeluarga wkwkwkw). Kemudian, si anak dan ayah ini beranjak dari kursinya. Nah, anak ini membawa botol minum kayak tumbler gitulah, terus ada megang tentengan juga kalau ga salah. Terus karena tangannya cuma dua, dan minuman yang tadi dia pesan itu lebih perlu untuk dipegang, maka botol tumblernya itu diapit di lengannya (taulah ya gambarannya, mirip orang mengapit dompet gitulah).

Di sini nih yang menarik, karena liat anaknya bawa banyak barang, si ibu lalu mengambil botol tumbler itu dari anaknya. Terus, botolnya diapit di lengan ibunya, karena ibunya juga bawa beberapa tentengan wkwkkwwk

Nah terus, saya jadi mikir, lha apa bedanya? botol tumbler itu hanya berpindah dari apitan lengan si anak ke apitan lengan si ibu. Mungkin masih mending kalau botol itu berpindah ke genggaman tangan, atau ke dalam kantongan atau ke dalam tas, tapi ini sama aja, botolnya tetap diapit.
Tapi, ketika pikiran itu muncul, pikiran lain juga mengikuti yaitu ternyata itulah naluri orang tua, gak pernah mau liat anaknya kesusahan atau keribetan, meskipun dirinya sendiri ribet, tapi orang tua itu lebih rela dirinya yang ribet daripada anaknya. Wow banget, jadi terhura :" 

Kemudian, saya jadi ingat sebuah podcast yang pernah saya dengar. Mungkin teman-teman juga tahu podcast Thirty Days of Lunch. Info tidak pentingnya adalah ini adalah podcast pertama yang saya dengar dan ternyata bagus hahahaha
Oke lanjut, jadi saat itu guest nya adalah Dedy Vanshopi, jujur saya tidak tau abang ini siapa, kalo tidak salah seorang seniman. Tapi, ada potongan kalimat yang dia katakan bahwa eksistensi orang tua itu memberi. Jadi, kalau kita sudah besar sudah sukses, janganlah kita hilangkan eksistensi orang tua kita ini. Tetaplah meminta bantuan, tentunya dengan porsi yang tepat dan bijaksana, sehingga ia tetap memiliki eksistensi dan bisa berbahagia (tentunya selain melihat kita sudah sukses juga misalnya).

Setelah saya pikir, hm, benar juga. 

Kalau kita jadi orang tua, mungkin akan melakukan hal yang sama juga. A child will always be a child for the parents. Orang tua akan selalu berusaha memberikan apapun yang dia bisa kepada anak, yang mana memberikan dirinya kebahagiaan. 

Ya, kira-kira begitulah ya, sebuah kejadian yang sangat sangat sangat singkat, tapi membuat saya jadi berpikir dan refleksi kembali.

Gitu aja dulu ya hehehhe
Sampai ketemu di [sembilan puluh lima] *wah sedikit lagi seratus hehee

Cheers,
Em 🙆

Tuesday, 1 April 2025

[sembilan puluh tiga] the childhood that goes to the adulthood

Yakk, karena ini libur lebaran, mari kita ambil waktu sejenak buat menulas menulis wkwkwk

Padahal pengen nonton drakor, tapi posting dulu deh satu hahahah

Jadi, tulisan ini sebenarnya triggernya gegara saya sering melihat fenomena yang ada di masyarakat sekarang kwkwkw sebagai orang yang sudah dewasa, dan sudah banyak orang-orang seusia saya yang sudah jadi bapak atau ibu, sudah jadi orangtua. Yang menarik adalah orang tua zaman sekarang itu beda dengan orang tua kita dulu.

Mungkin ada yang biasa atau pernah lihat di timezone, saya jujur gatau apa nama permainannya, tapi permainannya itu sering dimainkan sama bapak-bapak atau ibu-ibu, yang jelas bukan anak-anak. Game nya itu yang kita pencet untuk menjatuhkan semacam roll yang ada tulisan angka, dan platenya itu akan bergerak maju mundur, nanti roll yang jatuh ke bawah itu yang akan mengeluarkan tiket. Ya sejenis itulah semoga ada gambaran hahaha klo gak ada, silakan ke timezone dan lihat sndri yang rame bapak-bapak ibu-ibu, kemungkinan besar itulah yang saya maksud. Itu salah satu contoh fenomenanya. Contoh lain itu adalah banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang masih main game, you named it, DOTA, atau mobile legend klo bapak-bapak, kalo ibu-ibu apa ya, nintendo switch mungkin? atau game lain lah, kalo saya sih masih main candy crush wkwkwkk

Nah, tapi apa yang bisa ditarik dari fenomena ini? 

Pertanyaan yang timbul di pikiranku adalah kenapa fenomena ini tidak ada di orang tua saya dulu, atau di generasi orang tua saya?

Saya gak tau sih, tapi orang tua saya tidak main game hahahha dan saya lihat banyak orang tua lainnya pun demikian. Malah beberapa orang tua mungkin suka 'komplain' kalau liat anaknya (yang sudah jadi orangtua juga) masih suka main game. 

And then, what I think is, kita itu adalah orang atau individu yang akan terus membawa memori yang kita alami sejak kecil hingga dewasa. 

In a simple way, karena dari kecil kita suka main game, then waktu remaja, kuliah kita masih  main game, maka tidak heran, hingga menjadi orang tua pun, kita masih suka main game.

*disclaimer: I am talking in a general context ya, tidak membicarakan kebiasaan yang benar atau salah dan tidak membicarakan jika orang ingin mengubah kebiasaannya. I'm just talking about general phenomenons (in my opinion, jadi ini bisa saja salah, bisa saja benar, bisa saja tidak ada benar dan salah wkwkwk)

Nah, lanjut, mungkin orang tua kita punya kebiasaan lain yang juga adalah yang ia bawa sejak ia kecil atau remaja. Misalnya hobi road trip, atau hobi mancing, atau hobi nongkrong. 

So, fenomenanya sebenarnya adalah sama, namun perwujudannya saja yang berbeda. Padahal, semuanya ini sifatnya expected. Kalau sejak kecil suka main game, maka sampai besar kemungkinan akan tetap suka. Mungkin gamenya ganti, atau jenisnya ganti, tapi excitement of playing games will still be there, I guess. 

*another disclaimer: main game is just a contoh, bisa diganti dengan kegiatan lain apa saja

Jadi, dalam diri seorang dewasa, menurut saya, tidak pernah luput dari masa kecilnya. Dan, menariknya, bagi saya pribadi, kadang-kadang melakukan hal-hal yang saya sering lakukan waktu kecil, misal main puzzle atau main lego, somehow, bring a little happiness. Maybe kind of visiting our childhood, heart-warming hehee

Kira-kira begituu wkwkw menarik sekali yaa

Jadi kadang-kadang, kalau ada orangtua yang sering bilang, sudah besar tapi masih main game, atau sudah besar tapi masih suka kumpul-kumpul sama teman (contoh saja ya), ya menurutku itu wajar saja, karena itu yang dibawa sejak kecil, sejak remaja. It's an expected matter wkwkwkw

Nah, masalah proper tidaknya, dengan mempertimbangkan prioritas-prioritas lain ya itu menjadi topik bahasan yang lain lah ya hahahah

Tapi, kenapa saya tulis ini, menurutku ini menarik karena ya itu tadi seorang dewasa itu bukanlah pribadi yang 180 derajat berbeda dengan masa kecilnya. Ia adalah orang yang sama, yang membawa semua hal yang telah ia lewati sepanjang hidupnya, sejak kecil hingga saat ini. 

I'll see you at [sembilan puluh empat]

Oiya, masih lebaran vibes, so mohon maaf lahir dan batin hehee

Cheers,

Em 🙆

Thursday, 20 March 2025

[sembilan puluh dua] ketika naik tangga ..

Apa yang kamu rasakan ketika sedang menaiki tangga? mungkin engap? ngos-ngosan? encok? pegal-pegal?

Ketika menaiki satu anak tangga demi satu anak tangga, sampai akhirnya tiba di anak tangga teratas, apa yang kamu rasakan? lega? puas? tapi mungkin masih engap wkwkwkw

Ada satu momen hari yang ini yang menggelitik saya hingga ingin menuliskan post ini

jika dianalogikan, ada momen dalam hidup ini yang seperti menaiki anak tangga. Susah? iya, capek? iya, tapi ketika berhasil menaiki satu anak tangga ada rasa puas dan lega, "wah sudah semakin dekat", atau "wah bisa juga nih sampai sini". 

Ketika kita "naik level" dalam kehidupan kita, mungkin rasanya juga sama seperti itu. Ketika sedang berusaha, rasanya penuh lika-liku, kesulitan, tantangan, tidak bisa dipungkiri, pasti tidak mudah. Tapi, ketika berhasil rasanya lega, senang, bersyukur, bangga. 

Sama halnya dengan kita, begitupun orang lain. Berada di anak tangga yang lebih di atas, tidak berarti kita lebih baik, kita hanya lebih duluan. 

Maksudnya apa? 

Kadang-kadang, ketika "naik level", kita suka lupa. Lupa diri. Lupa bahwa it's just a moment in life. Itu hanyalah sebuah dampak dari apa yang kita usahakan selama ini. Boleh bangga, boleh senang, dengan kadar yang cukup. Cukup membuat kita percaya dengan diri kita, cukup membuat kita menghargai dan mengapresiasi semua yang diupayakan selama ini. 

Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah kita yang dulu. 

Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah dia yang usahanya akan sama dengan usaha kita untuk menaiki anak tangga berikutnya.

Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah orang yang suatu hari akan berada di posisi kita. 

Bingung kan bahasannya apa? kwkwwk. Sama.

Teruslah naik tangga, sesekali tengoklah ke belakang, dan ulurkanlah tanganmu jika diperlukan. 

Sampai ketemu di [sembilan puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆