Friday, 25 April 2025

[sembilan puluh empat] eksistensi orangtua

holaaa, mau cerita sedikitt, ga panjang kok wkwkkw
Jadi, minggu lalu sempat nongkrong di salah satu cafe di mall sambil baca buku kemudian ada satu kejadian yang sangat singkat tapi cukup menggelitik saya. Sebagai orang yang suka mengamati kejadian sekitar, hal ini menjadi sesuatu yang menarik wkwkkww

Jadi, ceritanya, ada seorang ayah dan anak datang ke cafe tersebut. Setelah memesan dan mengambil minuman, mereka duduk di suatu meja. Tidak lama kemudian, datanglah ibunya (harusnya sih ibunya kalau mereka sekeluarga wkwkwkw). Kemudian, si anak dan ayah ini beranjak dari kursinya. Nah, anak ini membawa botol minum kayak tumbler gitulah, terus ada megang tentengan juga kalau ga salah. Terus karena tangannya cuma dua, dan minuman yang tadi dia pesan itu lebih perlu untuk dipegang, maka botol tumblernya itu diapit di lengannya (taulah ya gambarannya, mirip orang mengapit dompet gitulah).

Di sini nih yang menarik, karena liat anaknya bawa banyak barang, si ibu lalu mengambil botol tumbler itu dari anaknya. Terus, botolnya diapit di lengan ibunya, karena ibunya juga bawa beberapa tentengan wkwkkwwk

Nah terus, saya jadi mikir, lha apa bedanya? botol tumbler itu hanya berpindah dari apitan lengan si anak ke apitan lengan si ibu. Mungkin masih mending kalau botol itu berpindah ke genggaman tangan, atau ke dalam kantongan atau ke dalam tas, tapi ini sama aja, botolnya tetap diapit.
Tapi, ketika pikiran itu muncul, pikiran lain juga mengikuti yaitu ternyata itulah naluri orang tua, gak pernah mau liat anaknya kesusahan atau keribetan, meskipun dirinya sendiri ribet, tapi orang tua itu lebih rela dirinya yang ribet daripada anaknya. Wow banget, jadi terhura :" 

Kemudian, saya jadi ingat sebuah podcast yang pernah saya dengar. Mungkin teman-teman juga tahu podcast Thirty Days of Lunch. Info tidak pentingnya adalah ini adalah podcast pertama yang saya dengar dan ternyata bagus hahahaha
Oke lanjut, jadi saat itu guest nya adalah Dedy Vanshopi, jujur saya tidak tau abang ini siapa, kalo tidak salah seorang seniman. Tapi, ada potongan kalimat yang dia katakan bahwa eksistensi orang tua itu memberi. Jadi, kalau kita sudah besar sudah sukses, janganlah kita hilangkan eksistensi orang tua kita ini. Tetaplah meminta bantuan, tentunya dengan porsi yang tepat dan bijaksana, sehingga ia tetap memiliki eksistensi dan bisa berbahagia (tentunya selain melihat kita sudah sukses juga misalnya).

Setelah saya pikir, hm, benar juga. 

Kalau kita jadi orang tua, mungkin akan melakukan hal yang sama juga. A child will always be a child for the parents. Orang tua akan selalu berusaha memberikan apapun yang dia bisa kepada anak, yang mana memberikan dirinya kebahagiaan. 

Ya, kira-kira begitulah ya, sebuah kejadian yang sangat sangat sangat singkat, tapi membuat saya jadi berpikir dan refleksi kembali.

Gitu aja dulu ya hehehhe
Sampai ketemu di [sembilan puluh lima] *wah sedikit lagi seratus hehee

Cheers,
Em 🙆

No comments:

Post a Comment