Thursday, 29 June 2023

[tujuh puluh lima] kumpul pertama

'biar mi seadanya mo dulu, kumpul pertama ji dulu' - seorang mahasiswa semester 3 yang lima laporannya dalam seminggu wkwkkww

Halo again semuanya wkwkwk ternyata sudah hampir sebulan ini belum post

Jadi mikir, kadang-kadang ada yang bilang, kalau mau lakukan sesuatu itu baiknya ditarget, misalnya posting tulisan sebulan sekali. Tapi, ada juga yang bilang, wah kalau ditarget seperti itu nanti jadinya terpaksa hanya untuk memenuhi target. Ya, kalau dipikir-pikir (mending nda usah dipikir, eh wkwkwk), dua-duanya benar. Dan, sebenarnya, mereka saling mengkondisikan satu sama lain. Tapi, yang menjadi keliru adalah ketika salah satu statement tersebut dianut dan dipercayai tanpa mempertimbangkan statement yang satunya. Jadi, kalau ada target jadinya kita tidak terlena dengan hal-hal di luar target itu, soalnya kalau sama sekali tidak ada target juga kayak ndak ada motivasi kan. Tapi, kalau semata-mata (nah bagus ni kata "semata-mata" wkwkwk) hanya karena target juga salah, karena jadinya semacam menggugurkan kewajiban saja. Jadi, memang mesti dua-duanya, mesti di tengah. Begitu intermejo nya ya ges wkkkwkw

Okee, sebenarnya draft ini sudah cukup lama ya tersimpan, idenya juga, tapi malas nulisnya hahhaa *dasar

Jadi ini agak mengkorelasikan apa yang pernah ditemui dalam bekerja dengan apa yang saya lakukan saat kuliah wkwkw

Jadi, mau cerita dulu sedikit, dulu waktu kuliah itu kan ada praktikum ya, terus, tiap praktikum itu ada laporannya. Aturan yang berlaku adalah laporan harus dikumpul pertama kali 2 hari setelah praktikum tersebut. Aturan tambahannya, kalau dalam 2 hari itu tidak mengumpulkan laporan maka laporannya dianggap batal atau diberi nilai nol. Jadi, karena mahasiswanya sangat sibuk dan cerdik (hehee), biasanya saat kumpul pertama itu, laporan kami cuma sampul dan menulis ulang apa yang dikerjakan di lab. Belum ada pembahasan sama sekali. Intinya, yang penting kumpul pertama dulu, mau ada isinya atau tidak ada, tidak menjadi soal, itu urusan nanti. Kami hanya menyelamatkan laporan dulu (daripada laporannya batal kan ya wkwkw). Lagipula, selengkap apapun isi laporan itu saat kumpul pertama, seringnya tetap ada pantulan atau revisi yang diberikan, jadi ya tetap akan dikerjakan lagi wkwkwkw. Kakak asisten lab pun nampaknya sudah paham dengan pola tersebut (mungkin mereka juga dulunya begitu, karena laporan bukan cuma 1, dalam seminggu bisa 3 atau 4 bahkan 5 yang harus dikumpulkan). Nantinya, seiring berjalan pengumpulan berikutnya baru kami lengkapi satu per satu, hasil, pembahasan, dan pertanyaan-pertanyaan tambahan dari kakak-kakak asisten untuk melengkapi isi laporan itu. Begitulah sampai akhirnya laporan tersebut ACC dan bisa lanjut ke praktikum berikutnya.

Nah, menilik dari kejadian itu, saat bekerja pun, menurut saya, sedikit banyak bisa mengaplikasikan metode ini, khususnya untuk hal-hal yang menurut saya cukup susah atau butuh waktu untuk menyelesaikan. 

Contoh sederhana mungkin membuat presentasi. Mungkin kita membutuhkan banyak data atau banyak informasi untuk membuatnya jadi presentasi yang bagus. Tapi, kalau di awal mah, mulai aja dulu bikin sampul wkwkkw atau bikin outline. Ya apa sajalah yang bisa dibuat dulu, nanti pelan-pelan baru dilengkapi. Karena kadang-kadang membayangkan saja sudah susah apalagi mengerjakannya. Tapi, kalau tidak dimulai untuk dikerjakan juga tidak akan rampung-rampung. Jadi, kalau dipikir-pikir, prinsip kumpul pertama ini, not bad juga, dan applicable ternyata. Prinsipnya sebenarnya lebih ke mulai aja dulu hahaha karena everything starts with a single step, betul? 

Dengan melakukan itu beberapa kali, jadinya pola yang terbentuk adalah, apapun pekerjaannya, jadinya bisa ditanggapi dengan lebih realistis. Memang banyak pekerjaan tidak bisa diselesaikan dalam semalam, oleh karena itulah, mulailah seawal mungkin, namanya juga pertama, gak mesti sempurna. Sama seperti kalau kata penulis-penulis, draft pertama selalu sampah kwkwkw tapi kalau gak ada draft pertama, gak jadi tuh sebuah buku, skenario, dll nya.

It doesn't have to be perfect at first, you just need to start.

Kira-kira begitu ya gaes, carita kosong ji jadinya sih, tapi ndak apa-apa ji

Baiklah, semoga ada yang bisa dibaca. 

Sampai ketemu di [tujuh puluh enam],

Cheers,

Em 🙆

Thursday, 4 May 2023

[tujuh puluh empat] penanda waktu

Whatever happens, today will always be a special day

Halo semuanya,

Happy birthday to me! Wkwkwkw

Sudah lupa sejak kapan, tapi beberapa tahun belakangan ini, setiap ulang tahun (atau momen ulang tahun) pasti digunakan untuk menulis sesuatu. Anggap saja semacam refleksi (atau resolusi?), ya semacam itulah

Transformasi ulang tahun dari tahun ke tahun, dari dulu waktu kecil, sekolah, kuliah, sampai besar kayak sekarang, selalu membawa kesan tersendiri. Menurut saya, ulang tahun ini agak aneh, setiap dekat hari ulang tahun pasti excited, dan pada hari ulang tahun ini rasanya aneh hahaha mungkin karena hari ini adalah hari biasa saja bagi orang lain, tapi bagi saya agak beda gitu rasanya wkwkkw. Yang anehnya, saya excited tiap ulang tahun, tapi gelisah karena takut diapa-apakan hahhahaa (geer beut dahh).

Saya termasuk orang yang cukup tertutup masalah ulang tahun ini. Tidak mengumumkan, tidak memposting juga kecuali memang ada momen bersama teman-teman. Postingannya pun biasanya bukan di hari ulang tahunnya, tapi ketika menutup hari di malam harinya, keesokan harinya atau bahkan setelahnya wkkww. Bingung juga kenapa, mungkin memang seperti itu. 

Setelah dipikir, ulang tahun ini tidak berbeda dari penanda waktu. Tahun, bulan, hari, jam, menit, detik. Serupa. Ulang tahun sesungguhnya bukan satu hari, tapi hanya satu momen yang menandai kita lahir, ketika udara menyentuh kulit pertama kalinya. Sesingkat itu. Jadi, ulang tahun adalah penanda waktu untuk masing-masing dari kita, penanda durasi lamanya kita sudah hidup, berada di dunia ini.

Ulang tahun akan selalu istimewa bagi pemiliknya, terlepas dari apa yang terjadi hari itu. Ada ucapan tidak ada ucapan, ada perayaan tidak ada perayaan. Tidak berdampak terlalu signifikan. Dia istimewa sebagai penanda waktu yang personal, sama seperti ketika jarum panjang menunjukkan angka dua belas, menunjukkan jam tertentu. 

Masih sama seperti tahun sebelumnya, ulang tahun masih kulihat sebagai momentum yang baik untuk me-refresh kembali tekad. Di depan ada tujuan yang besar, yang memang, masih sangat jauh, entah berapa kehidupan lagi, tapi tak apa, we're on the right track buddy. Keep it up dan berjuang. 

Sampai hari ini masih bersyukur karena selalu bertemu orang-orang yang baik. Couldn't ask for more, I'm truly thankful for that. Buat kalian, you know who you are :)

Happy twenty eight, buddy! 

Semoga dilimpahkan banyak kebaikan-kebaikan yang bisa ditularkan ke orang-orang. Tetap berjuang ya! 

One of my favorite wishes of this year is : semoga semakin bijak dan bajik :)

Sampai ketemu di [tujuh puluh lima],

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 3 May 2023

[tujuh puluh tiga] a piece of puzzle

we are like a piece of puzzle, a part of a very big big puzzle, contributing as a little piece to complete the whole picture in the puzzle

Halo again, 

rasanya lagi pengen nulis ini wkwkkw jadi mari kita bereskan draft ini satu per satu hahaha *padahal ini draft baru wkkwkw

Jadi, berbicara tentang kontribusi atau peran, kadang-kadang dalam apa yang kita kerjakan, kita sering merasa (jika menurut anda tidak, maka ganti kata kita dengan saya hahaha) bahwa kita ini tidak penting. Mungkin di kantor posisi kita tidak terlalu tinggi atau pekerjaan kita tidak berarti apa-apa. Tapi tahukah anda bahwa itu benar? Wkwkwkw bercanda guyss. Pikiran itu wajar saja, manusiawi. Ketika mungkin dalam satu kelompok kita merasa kok kita tidak berkontribusi apa-apa ya, orang lain mungkin mengeluarkan ide-ide yang cemerlang, tapi kita kok buntu. 

Tapi ternyata tidak demikian.

Sekecil apapun, seremeh apapun yang kita kerjakan tetaplah merupakan kontribusi untuk sebuah pekerjaan besar. Tidak mungkin seseorang dapat bekerja seorang diri. 

Dari kita lahir sampai kita selesai nanti, pasti ada bagian kontribusi orang lain dalam hidup kita, dalam apa yang kita lakukan, dalam setiap pencapaian kita.

Sebut saja rumah sakit misalnya. Seorang teman menceritakan ini, lalu saya pikir haa ini adalah cerita yang tepat untuk topik ini hahahaa jika dia baca dia pasti tau kalau ini dia yang menceritakan. Jadi, kadang-kadang orang berpikir kalau peran paling penting dalam rumah sakit itu adalah dokter. Tentu, kalau gak ada dokter, bagaimana bisa disebut rumah sakit, betul tidak? Tapi, kalau kita liat lagi, coba cari pekerjaan yang perannya paliiiiiing kecil dalam rumah sakit. Hmm sebut saja OB atau laundry. Coba bayangkan kalau tidak ada OB betapa terobrak abriknya rumah sakit kan? Tidak ada yang membersihkan. 

Pesannya apa?

Nasi goreng satu kayaknya enak wkwkkw bercanda mulu gaes

Artinya, betapa kecil pun kita merasa peran kita dalam apa yang kita kerjakan, tidak usah khawatir, karena we're working on our own small piece of puzzle. Kita ini sedang menyelesaikan sepotong puzzle kecil. Jika tidak dikerjakan dengan baik, jika potongan itu tidak menempati tempat yang seharusnya, puzzle utuh tidak akan terbentuk. Kerjakan dengan baik, cause we're doing a great big thing here. Jangan merasa kecil dan sepele, jika sesuatu yang kecil bisa dikerjakan dengan baik, dia tetap akan bermanfaat. Dan mungkin, menjadi mula untuk potongan puzzle yang lebih besar.

Sebaliknya, jangan lah kita meremehkan peran atau kontribusi orang lain. Sekecil apapun yang mereka lakukan. Sebuah puzzle besar hanya bisa terselesaikan jika setiap potongan-potongannya dikerjakan dengan baik dan diletakkan di tempat yang tepat.

Jadi begitu ya gaes, kira-kira filosofi puzzle dari pandangan saya yang abal-abal ini hahahaa

Intinya selalu lakukan yang terbaik dan selalu hargai peran atau pekerjaan orang lain (note to maisyelf).

Demikian. Sampai ketemu di [tujuh puluh empat]

Cheers,

Em🙆

Thursday, 27 April 2023

[tujuh puluh dua] sepatu

no matter how you imagine, the feelings will always be different unless you yourself experience it.

Halo lagi semua, hampir sebulan ternyata belum ngepost lagi wkwkw

Kali ini mau cerita-cerita soal penempatan diri dan empati, dimana kedua hal ini erat kaitannya dengan istilah "menempatkan diri pada sepatu orang lain". Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya sulit memang. Memahami kondisi atau situasi orang lain, dimana kita belum pernah merasakan atau mengalami, entah bagaimana membayangkannya, kalau kita belum merasakan langsung tetap saja akan berbeda. Kasus yang sama pun, bisa jadi rasanya berbeda, karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya.

Sebenarnya tidak cuma sepatu sih wkwkwk makanan juga bisa, tapi sepatu mungkin yang paling sering kita dengar, jadi judulnya itu saja hahha 

Menjelaskan apa yang kita rasakan kepada orang lain yang belum pernah berada pada kondisi yang sama, sama seperti menjelaskan rasa coklat kepada orang yang belum pernah memakan coklat. Seberapa deskriptif pun, tidak akan bisa benar-benar menjelaskan rasanya. Rasa manis tapi bukan manis gula. Rasa creamy tapi bukan seperti susu. Susahlah hahahhaa 

Langsung mi saja ke kesimpulan nah hahahaa

Intinya yang saya pikir adalah di satu sisi, ketika ada sesuatu yang terjadi kepada orang lain di sekitar kita, berusahalah menempatkan diri pada sepatu orang itu, berusahalah sedekat mungkin merasakan kondisinya, sedekat semirip mungkin yang kita bisa. Ber-empati. Tujuannya apa? Supaya reaksi kita tidak keliru. Tidak melihat sepatu orang lusuh lalu mengungkapkan kata-kata yang kurang tepat tanpa tahu kenapa sepatu itu lusuh, tanpa tahu kenapa orang mempertahankan sepatu lusuh itu, tanpa tahu bagaimana sih rasanya memakai sepatu yang lusuh itu. Berusahalah lebih bijak. Tidak menyepelekan. Karena we've never been on their shoes. Di sisi lain, ketika kita merasakan sesuatu, dan orang lain tidak bisa memahami dengan baik. Juga pahamilah, terimalah, karena orang lain tidak pernah benar-benar bisa merasakan apa yang kita rasakan. Berdamailah. Kita tau itu dan menerima itu, sehingga hati ini bisa lebih lapang. Tidak merasa bahwa tidak ada orang yang memahami kita, tapi tau bahwa orang-orang sudah berusaha. Ketikapun ada kata-kata yang kurang menyenangkan, ingatlah mungkin mereka tidak tau. Mereka mungkin sudah berusaha and that's enough.

Demikian guysss postingan singkat ini. Sehat-sehat semuaaa.

Sampai ketemu lagi di [tujuh puluh tiga]

Cheers,

Em🙆

Monday, 20 March 2023

[tujuh puluh satu] bertanya

malu bertanya sesat di jalan

peribahasa andalan waktu SD

Halo teman-teman semua, aku kembali lagi wakwaww wkwkwk sebenarnya sudah ada postingan lain yang seharusnya mengisi slot ke tujuh puluh satu ini, tapi karena ide ini kayaknya lebih sat set sat set di otakku, jadi saya tulis duluan hahahha

Lanjotttt, hari ini obrolannya perkara bertanya dan ditanya wkwkwk 

Agak unik perkara satu ini menurut saya, setelah diamat-amati dari berbagai kejadian kadang-kadang bikin senyum-senyum juga hahahaha

Mau cerita sedikit satu kejadian yang cukup membekas di kepala sampai sekarang terkait perkara bertanya. Waktu itu saya masih SD, so lupa SD kelas berapa tapi kayaknya 5 atau 6 lah ya, matematikanya sudah lumayan susah waktu itu (tapi tdk ada hubungannya kasian wkwkw). Ya, jadi waktu itu saya lupa tepatnya perkara apa, tapi sesuatu yang mengharuskan saya masuk ke dalam ruang guru dan menanyakan sesuatu ke wali kelas saya. Waktu saya SD itu, entah kenapa dan bagaimana, sepertinya bertanya baik di kelas maupun di luar kelas itu bukan sesuatu yang lumrah, membuat orang malu-malu bertanya, which is jelek. Di tambah lagi, masuk ke ruang guru itu kayak masuk ke rumah hantu, angker, horor. Kalau kita masuk ke ruang guru, kita kayak jadi Miss Indonesia, semua mata tertuju padamu wkwkwkw. Tapi benar, semua guru pasti langsung lihat ke arah kita, kadang-kadang juga digangguin (mungkin bukan digangguin sih, tapi kayak ditanya-tanya begitu, jadi takutlah kita). Biasalah guru-guru yang lucu-lucu. Nah, waktu itu saya dan teman saya saling dorong siapa yang mau masuk, sampai saya bepikir, kenapa kita setakut ini ya, kita kan cuma mau bertanya, kita tidak berbuat salah, kenapa kita harus takut. Akhirnya, entah keberanian darimana, saya memutuskan untuk masuk. Ketuk pintu, permisi, masuk, bertanya, selesai, keluar. Alhamdulillah, masih hidup wkwkkw

Pertanyaannya adalah, kenapa, sampai sekarang, kita masih suka takut bertanya?

Memang pada kenyataannya tak bisa dipungkiri bahwa perkata bertanya, ditanya, menjawab dan dijawab itu tidak sesederhana itu. Melibatkan begitu banyak faktor. Perasaan, emosi, konteks, pertanyaan ngambang, pertanyaan salah sasaran, ataupun pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Tidak heran, jika dari satu pertanyaan bisa melebar ke entah diskusi ataupun cekcok. Padahal, kalau diliat kembali, itukan cuma bertanya. Apa yang seyogyanya dilakukan jika ada yang bertanya? Ya, dijawab. Sesederhana itu wkwkwk

Dalam hal pekerjaan, paling sering, kita takut bertanya, ataupun ketika kita diberi pertanyaan, perasaan dan emosi terbawa-bawa. Tentu tidak salah, namanya juga manusia. Maka dari itu, baik dari sisi penanya maupun yang ditanya sama-sama membutuhkan kebijaksanaan dan skill yang disebut kesabaran. Pada dasarnya orang bertanya pasti ada tujuannya. Kalau tidak bertanya nanti sesat di jalan wkwkwk. Tapi ya begitulah, jika kita sebagai penanya kita butuh kebijaksanaan dalam bertanya, jika kita sebagai yang ditanya maka butuh kebijaksanaan juga dalam menjawab.

Jadi, selama ketakutan kita untuk bertanya itu didasari oleh hal-hal yang tidak jelas, dan tujuan kita bertanya juga jelas, sudah dipikirkan baik-baik, maka tidak ada salahnya kita bertanya. Begitupun, ketika kita menjawab, seaneh atau sebodoh apapun pertanyaan itu, namanya juga bertanya, hanya perlu dijawab wkwkkw. Tidak usah marah atau terbawa emosi karena mungkin yang bertanya juga tidak tau dampak dari pertanyaan yang dilemparkan itu wkwkkw sulit memang tapi itu salah satu cara supaya kita tidak terlumat oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. 

Perkara tanya-tanya ini memang kadang-kadang agak lucu. Kalau bertanya saja takut, agak sedih rasanya, karena salah satu cara kita bisa memperoleh pengetahuan adalah dengan bertanya.

Sekian komat kamit saya hahahhaaa 

Takde intiii, begitu sajaaaa

Bye byeeee, sampai ketemu di [tujuh puluh dua] yaaa

Cheers,

Em🙆

Wednesday, 8 February 2023

[tujuh puluh] what people like, what people don't like

Suka dan tidak suka, lumrah, namanya juga manusia

Kadang-kadang saya suka berpikir kenapa ya orang tidak suka ini, kenapa orang tidak suka itu. Padahal ini kan begini dan itu kan begitu. Kenapa berpikir demikian? Apakah saya tidak punya hal yang tidak saya sukai? Punya juga, tapi  mungkin suka lupa wkwkkw

Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin saya tidak suka makan hati (arti harfiah yaitu organ pada hewan yang bisa dimakan wkwwk) sama dengan orang lain tidak suka jalan kaki. Atau saya (sangat) suka diam di kamar, sama dengan orang lain yang (sangat suka) K-Pop. Objek bisa berbeda, tapi rasanya sama. 

Tidak harus apa yang kita suka, orang lain juga suka.
Tidak harus apa yang orang lain suka, kita juga suka.
Pun, tidak harus apa yang kita tidak suka, orang lain juga tidak suka.
Tidak harus apa yang orang lain tidak suka, kita juga tidak suka.
Begitu loh mil wkwkwk

Bingung mau nulis apa, kok gitu ya, padahal pas mikir lancar, pas mau nulis bingung hahhhaaa kek mana lah

Lanjut, oh iya, pernah baca di suatu buku, kalau orang itu bisa terbagi menjadi 2, *saya nyontek dulu ya wkwkw*, jadi, ada dua jenis mentalitas (disorders of responsibility namanya, baca dari buku The Road Less Traveled, minjem punya temen, belum habis dibaca wkwkwk tidak penting ya infonya hehhee). Yang pertama namanya neurosis disorder yaitu kecenderungan menyalahkan dirinya sendiri atas suatu kondisi atau konflik. Yang kedua namanya character disorder yaitu kecenderungan menyalahkan "dunia" atau pihak luar atas suatu kondisi atau konflik. 

Kenapa bahas itu?

Memang tidak berkaitan langsung dan konteks pembahasannya berbeda, tetapi menurut cocoklogi sotta saya, respon (atau entah apalah namanya) terhadap apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka itu biasanya mirip-mirip dengan disorder itu. Maksudnya adalah, misalnya ketika kita tidak suka sesuatu, we tend to put the blame on that thing. Ketika kita tidak suka 'itu', berarti 'itu' yang salah. Misalnya, saya gak suka K-Pop karena si boyband/girlband Korea nya tuh bgini bgini, karena lagunya tuh begini begini. Tapi, ndak pernah atau jarang sekali misalnya saya bilang saya gak suka K-Pop karena saya nda tau main musik atau karena saya telinganya lain daripada yang lain wkwkkw Iya nda sih? Tapi, kalau kita suka sesuatu, kita ini yang benar. Misalnya, saya suka main game karena gamenya seru, menantang, dll. Kalau orang gak suka, salahnya di orang itu, bukan di game atau di sayanya. Bagaimana ya hahaha bingung mendeskripsikannya heuheuheuuu. Nanti coba kupikir lagi ya hahahhaa maksudnya tuh bisa se-beda itu kecenderungan sudut pandangnya ketika kita suka atau tidak suka. Padahal kita membicarakan sesuatu dalam konteks yang sama dan sepadan tapi kita bisa beda. Cenderung ya berarti gak selalu dan gak semua. Ini menurut saya saja atau setidaknya yang sering saya pikirkan wwkwkw. 

Ya begitulah, abaikan saja kalau bikin bingung pemirsa hahahaa

Seperti saya tulis pada kalimat pertama, rasa suka dan tidak suka itu lumrah dan manusiawi. Kita masih manusia dan kita masih di dunia, pasti ada hal yang kita suka dan ada yang kita suka. Kita selalu mencari yang kita suka, menghindari yang kita tidak suka. Mencari tempat makan yang menyediakan lebih banyak makanan yang kita suka daripada yang tidak kita suka. Mencari tempat kerja yang lebih banyak hal yang kita suka daripada yang kita tidak suka. Dan seterusnya.

Pada dasarnya, kita semua dalam pencarian, yang tiada akhir. Mencari yang kita suka, menghindari yang kita tidak suka. Tanpa kita sadari, kita hanya akan terus mencari. 

Mengapa?
Karena, kita masih di dunia, tidak mungkin ada yang suatu hal yang kita suka tanpa didampingi dengan yang tidak kita suka. 
Karena, bisa jadi, apa yang kita suka hari ini, menjadi apa yang kita tidak suka nantinya. Dan juga, bisa jadi, apa yang kita tidak suka hari ini, menjadi apa yang kita suka nantinya.

We commonly say people do change, tapi tanpa sadar ditujukan ke orang lain. Padahal, we are people, too. We do change, too. Bisa jadi bukan karena objeknya yang berubah, tapi karena kitanya yang berubah. Rasa suka, tidak suka, terlalu dinamis wkkwkw dan pastinya, selalu ada. Namanya juga hidup wkwkkww

Ujungnya? Cuma dua mungkin, menemukan yang kita suka, atau menyesuaikan dengan apa yang ada (biasanya sih lebih ke yang tidak suka).

Kenapa di awal saya bilang saya suka berpikir kenapa orang bisa tidak suka ini dan itu? Mungkin seringnya saya memilih menyesuaikan daripada mencari dan menemukan. Malas sih lu mil wkkwkwk. Mungkin itu sekarang, nantinya tidak ada yang tau. 

Suka dan tidak suka, toh hanyalah perasaan, bukan kebenaran.

Apa konklusyen? Takde konklusyen wakwakwak.

Cuma ingin berbagi pikiran saja. Tarik sendiri saja kesimpulannya. Kalau ga bisa ditarik, mungkin tulisannya PUSH. Hehehee. Dah yaaaa wkkwkw

Sampai ketemu di [tujuh puluh satu],

Cheers,

Em🙆

Saturday, 4 February 2023

[enam puluh sembilan] the impermanence, it is

It was a very very good day, with a very good good plan, and in a very moment, everything change. That's the impermanence. 

We are (I am) a naive human. Coming up with thousand of plans, which is kinda normal. But, at some certain point, we are blind. Blind with something that might happen, something unexpected. However, that's again, the impermanence.

You know what, in a very very eazy peazy way, life can turn you upside down. Karma happens every single moment in our life. Each and every moment. Moment by moment. Good and bad things happen. 

Born, sick, aging, death, are absolute things in life. And after a fine morning with hot porridge and good laugh, here comes a kinda rough afternoon with back pain that comes unexpectedly but fortunately, still with good food wkwkwkw

All these things, again, make me think, (but still not making me realize), how easy, really, things change. Now and then, can be a totally different condition. And how human beings, we are, I am, are easily broken. Sick makes us not able to do anything. Even small things sometimes. 

Impermanence is real, kicks you in the ass, you know it, but not yet realize it.

It's the truth. 

Berjuang.

See you at [tujuh puluh]

Cheers,

Em🙆

Sunday, 15 January 2023

[enam puluh delapan] jebak

Kalau bicara masalah jebak-menjebak-dijebak-terjebak, siapa sih yang suka terjebak atau dijebak dalam jebakan? kwkwkwk mungkin tidak ada, tapi mungkin banyak yang suka menjebak orang lain hahahaa

Tapi, ada satu jebakan, yang kadang-kadang kita suka ga sadar kalau kita terjebak, malah terbuai. When you think you're enough, you are trapped!

Lagi malas nulis euy, jadi pendek-pendek aja lah yaa wekwekk

Intinya kadang-kadang kita tuh merasa udah bagus, mungkin memang udah bagus, tapi dunia berputar men, semua  bergerak secara dinamis, orang-orang belajar, teknologi berkembang, sebagus apapun kita saat ini, pasti akan ada yang lebih bagus. Kata lainnya mungkin comfort zone yaa, cuma uniknya adalah kita gak sadar, terlena dengan 'kebagusan' kita, padahal orang-orang juga berlomba menjadi bagus.

Mengapresiasi apa yang kita raih itu satu hal, tapi berupaya untuk terus berusaha itu hal lain juga.

Jadi, begitulah ya, jangan mau dijebak ataupun terjebak guys hahaha
Semoga kita bisa terus berupaya untuk berubah (menjadi lebih baik), karena dunia terus bergerak dan berubah, and we really need to adapt to it.

Semangat! (kalau gak semangat pun gak apa-apa).

See you at [enam puluh sembilan]

Cheers,
Em 🙆