malu bertanya sesat di jalan
peribahasa andalan waktu SD
Halo teman-teman semua, aku kembali lagi wakwaww wkwkwk sebenarnya sudah ada postingan lain yang seharusnya mengisi slot ke tujuh puluh satu ini, tapi karena ide ini kayaknya lebih sat set sat set di otakku, jadi saya tulis duluan hahahha
Lanjotttt, hari ini obrolannya perkara bertanya dan ditanya wkwkwk
Agak unik perkara satu ini menurut saya, setelah diamat-amati dari berbagai kejadian kadang-kadang bikin senyum-senyum juga hahahaha
Mau cerita sedikit satu kejadian yang cukup membekas di kepala sampai sekarang terkait perkara bertanya. Waktu itu saya masih SD, so lupa SD kelas berapa tapi kayaknya 5 atau 6 lah ya, matematikanya sudah lumayan susah waktu itu (tapi tdk ada hubungannya kasian wkwkw). Ya, jadi waktu itu saya lupa tepatnya perkara apa, tapi sesuatu yang mengharuskan saya masuk ke dalam ruang guru dan menanyakan sesuatu ke wali kelas saya. Waktu saya SD itu, entah kenapa dan bagaimana, sepertinya bertanya baik di kelas maupun di luar kelas itu bukan sesuatu yang lumrah, membuat orang malu-malu bertanya, which is jelek. Di tambah lagi, masuk ke ruang guru itu kayak masuk ke rumah hantu, angker, horor. Kalau kita masuk ke ruang guru, kita kayak jadi Miss Indonesia, semua mata tertuju padamu wkwkwkw. Tapi benar, semua guru pasti langsung lihat ke arah kita, kadang-kadang juga digangguin (mungkin bukan digangguin sih, tapi kayak ditanya-tanya begitu, jadi takutlah kita). Biasalah guru-guru yang lucu-lucu. Nah, waktu itu saya dan teman saya saling dorong siapa yang mau masuk, sampai saya bepikir, kenapa kita setakut ini ya, kita kan cuma mau bertanya, kita tidak berbuat salah, kenapa kita harus takut. Akhirnya, entah keberanian darimana, saya memutuskan untuk masuk. Ketuk pintu, permisi, masuk, bertanya, selesai, keluar. Alhamdulillah, masih hidup wkwkkw
Pertanyaannya adalah, kenapa, sampai sekarang, kita masih suka takut bertanya?
Memang pada kenyataannya tak bisa dipungkiri bahwa perkata bertanya, ditanya, menjawab dan dijawab itu tidak sesederhana itu. Melibatkan begitu banyak faktor. Perasaan, emosi, konteks, pertanyaan ngambang, pertanyaan salah sasaran, ataupun pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Tidak heran, jika dari satu pertanyaan bisa melebar ke entah diskusi ataupun cekcok. Padahal, kalau diliat kembali, itukan cuma bertanya. Apa yang seyogyanya dilakukan jika ada yang bertanya? Ya, dijawab. Sesederhana itu wkwkwk
Dalam hal pekerjaan, paling sering, kita takut bertanya, ataupun ketika kita diberi pertanyaan, perasaan dan emosi terbawa-bawa. Tentu tidak salah, namanya juga manusia. Maka dari itu, baik dari sisi penanya maupun yang ditanya sama-sama membutuhkan kebijaksanaan dan skill yang disebut kesabaran. Pada dasarnya orang bertanya pasti ada tujuannya. Kalau tidak bertanya nanti sesat di jalan wkwkwk. Tapi ya begitulah, jika kita sebagai penanya kita butuh kebijaksanaan dalam bertanya, jika kita sebagai yang ditanya maka butuh kebijaksanaan juga dalam menjawab.
Jadi, selama ketakutan kita untuk bertanya itu didasari oleh hal-hal yang tidak jelas, dan tujuan kita bertanya juga jelas, sudah dipikirkan baik-baik, maka tidak ada salahnya kita bertanya. Begitupun, ketika kita menjawab, seaneh atau sebodoh apapun pertanyaan itu, namanya juga bertanya, hanya perlu dijawab wkwkkw. Tidak usah marah atau terbawa emosi karena mungkin yang bertanya juga tidak tau dampak dari pertanyaan yang dilemparkan itu wkwkkw sulit memang tapi itu salah satu cara supaya kita tidak terlumat oleh hal-hal yang tidak terlalu penting.
Perkara tanya-tanya ini memang kadang-kadang agak lucu. Kalau bertanya saja takut, agak sedih rasanya, karena salah satu cara kita bisa memperoleh pengetahuan adalah dengan bertanya.
Sekian komat kamit saya hahahhaaa
Takde intiii, begitu sajaaaa
Bye byeeee, sampai ketemu di [tujuh puluh dua] yaaa
Cheers,
Em🙆
No comments:
Post a Comment