Sunday, 20 November 2022

[enam puluh tiga] just go

No matter how hard it is, or how struggling you are, if you are gonna do something, just go, just do it. Time will eventually have an answer

Halo teman-teman semua, kembali saya nge-post lagi hehee

Kali ini ingin berceloteh ringan saja, sudah banyak ide-ide tapi hanya tersangkut di draft, jadi yah mari kita eksekusi saja di hari libur ini wkwkwk

Jadi bermula saat saya sudah menyelesaikan suatu pekerjaan, kemudian saya teringat kembali bagaimana saya memulai pekerjaan itu. Kalau kita berbicara tentang suatu hal atau pekerjaan yang harus diselesaikan, tentunya tidak semua hal bisa one-step done yah wkwkw. Sebenarnya, semua hal pasti butuh proses, hanya saja ada yang pendek, panjang, atau bahkan sangat panjang. Kebetulan, saat itu, hal yang saya kerjakan ya lumayanlah prosesnya, kalau saya bilang mungkin agak panjang, tapi karena memang harus diselesaikan jadi mau gak mau kan yahh harus dikerjakan hahhaa. Pada awalnya kayak malas sekalii hehee soalnya banyak step-stepnya kan, bukan cuma masalah banyak stepnya, tapi tiap step itu lumayan lah menantang hahahaa intinya begitu. Tapi, ketika pekerjaannya sudah selesai, saya langsung jadi mikir, wah ternyata bisa juga ya saya selesaikan. Kemudian, teringatlah hal-hal lain yang mirip-mirip seperti itu. Kemudian mikir lagi, wah, ternyata, kuncinya memang ya kerjain aja, daripada kebanyakan mikir, ga dikerja-kerjain kan hhahaa jadi mending memang langsung dikerjain, meskipun mungkin pacenya akan slow tapi ya pelan-pelan pekerjaannya akan selesai. Soalnya, kalau kebanyakan dipikir, kita jadinya melihat semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang padahal belum tentu terjadi. Udah mikirin sulitnya, ribetnya, gagalnya, dan lain sebagainya. Padahal kan peluang nya masih fifty-fifty, dan di atas semuanya, sebagaimanapun pekerjaan itu tetap harus diselesaikan, jadi ga ada gunanya terlalu dipikirkan kesulitannya, gitu.

Sama halnya seperti kita menyusun puzzle. Puzzle paling sulit yang pernah saya buat itu yang 500 pieces, itupun pemberian orang wkwkw kalau kita pertama kali tuang puzzlenya langsung puyeng lah liat 500 biji kecil-kecil beut. Tapi, kalau kita pelan-pelan cari celah, mungkin kerja yang bagian framenya dulu, terus liat dari warna, dan seterusnya, maka pelan-pelan gambarnya akan terbentuk dan puzzlenya akan selesai. 

Saya yakin kita semua pasti pernah mengalami itu, termasuk saya. Maksudnya, hampir semua yang kita kerjakan itu stepnya seperti itu, malas di awal, terus karena harus diselesaikan, jadi ya dikerjakanlah sampai akhirnya selesai. Tapi, kita jarang menotice hal itu, dan itu terus berulang-ulang padahal kita harusnya tau, bahwa pada akhirnya pekerjaan memang harus dikerjakan. Karena membayangkan betapa susahnya suatu pekerjaan tidak berefek terlalu banyaklah yaa hahhahaa. Tidak cuma pekerjaan saja sih, tapi apa saja, misalnya perjalanan, atau even cita-cita. Ada pepatah yang bilang bahwa a long journey starts with a single step, it is damn true. Ga usah mikir seluruh perjalanannya lah, satu langkah aja dulu, ya khaan, karena pada akhirnya waktu juga yang bersama-sama dengan kita menjawab atau menyelesaikan hal itu.

Hahahaa ngemeng opooo iki

Ya begitulah yaaa, seperti biasa sebagai reminder aja buat saya, maklum suka lupa wkwkwkk

Yasudin, semoga kita semua tetap semangat menyelesaikan hal-hal yang harus dikerjakan, karena kalau tidak dkerjakan bagaimana bisa selesai kan. Namanya juga pekerjaan, harus dikerjakan, kalau pekarangan berarti teras rumah.


Sampai ketemu yah di [enam puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 30 October 2022

[enam puluh dua] what does matter doesn't really matter

Hey hey hey, it's been the end of October, yet has posted anything for this month wkwk so this will be the one. 

Jadi, bahasan hari ini itu soal prioritas. Beberapa hari belakangan sempat berpikir hal-hal yang menurut saya penting tapi ternyata setelah bertanya-bertanya, hal-hal tersebut belum tentu penting juga untuk orang lain. And then, fully realised that the things that matter are closely related to one's priority. Sehingga judul di atas menjadi seperti itu. Apa yang penting menurut kita belum tentu penting menurut orang lain. Kenapa bisa? Tentunya pasti banyak hal yang menjadi faktor. Setiap dari kita pasti punya latar belakang yang berbeda, kepribadian yang berbeda, dan kesukaan yang berbeda. Dari ketiga hal itu saja bisa berujung pada banyak nya hal-hal yang berbeda jika berbicara tentang prioritas, tentang apa-apa saja hal yang penting.

Di sisi lain, setelah berpikir juga beberapa waktu lalu, I kinda mislead between what does matter and what is good. Agak rancu sedikit. Jadi, dalam frame berpikir saya, hal-hal yang saya anggap penting adalah hal-hal yang menurut saya baik. Sehingga, agak sedikit mengganggu ketika hal-hal yang saya anggap penting itu tidak dianggap penting oleh orang lain, karena justifikasinya adalah hal itu adalah hal yang baik tapi kenapa menjadi hal yang tidak penting. Padahal, sebenarnya, setelah dipikirkan kembali, penting dan baik itu adalah dua hal yang berbeda. Hal yang baik tetaplah hal yang baik terlepas dari dia penting atau tidak penting. It's kinda value of something. Sedangkan sesuatu yang penting atau mendesak itu menjadi urusan prioritas, urutan. Jadi, di titik itu, cukup bisa memahami, meskipun tak tau juga lah ini benar apa ndak hahahaha intinya, setidaknya tidak terlalu terkekang dengan pola pikir yang kaku. Perbedaan itu lumrah, prioritas itu bisa berbeda, tapi hal-hal yang baik maka biarlah dia tetap menjadi hal yang baik terlepas itu penting atau tidak.

Karena, pernah ada suatu pemikiran, bahwa jika suatu hal itu penting dan baik menurut saya dan tidak penting (tapi belum tentu tidak baik) menurut orang lain, maka tidak ada suatu yang pakem yang bisa dipegang untuk diperjuangkan, karena toh bagi orang lain itu tidak penting, so nothing does really matter. However, I lost the point of goodness. Maka dari itu, kesimpulan yang saya ambil akhirnya adalah bisa jadi tidak ada yang benar-benar penting absolut untuk semua orang di dunia ini. Karena prioritas bisa berbeda. Tapi, jika saya meyakini suatu hal adalah baik, maka terlepas itu penting atau tidak penting, untuk saya ataupun untuk orang lain, maka hal baik itu tetaplah harus dipegang. 

Cause nothing does really matter, what does matter doesn't really matter, what if it's good, even if it doesn't matter, it will be still good, however.

A simpel short note for me as another reminder. 

I'll see you at [enam puluh dua tiga]

Cheers,

Em🙆

Sunday, 18 September 2022

[enam puluh satu] how I met math

Hello guys, 

Hari ini mau share sedikit tentang suatu hal yang baru kepikiran belakangan. Beberapa hari terakhir ini memang cukup sibuk dengan pekerjaan, kemudian di akhir minggu ada tawaran mengajar 2 kelas sekaligus, tapi saya menyanggupinya, mana materinya perlu dibuat, yang berarti hari Jumat malam dan Sabtu saya perlu menyisihkan waktu untuk membuat materi pelajaran. Kemudian saya jadi berpikir, lucu juga ya, kenapa menyanggupi mengajar 2 kelas yang materinya belum ada padahal seminggu ini sudah lumayan kelelahan dengan pekerjaan. And that's what I am trying to figure out the answer here.

As a context, jadi saya sudah menjadi tutor sejak kelas 2 SMA. Jadi, waktu kelas 2 SMA ada tawaran dari seorang guru di sekolah untuk bantu dia mengajar kursus. Memang waktu itu pengajarnya banyak dan beberapa ada yang masih SMA atau kuliah. Jadi, pengalaman pertama saya mengajar adalah di tempat guru saya itu. Mengajar matematika dan juga fisika. Saya mengajar secara kontinu kurang lebih selama 7 tahun dari kelas 2 SMA hingga sebelum sekolah S2. Di selang 7 tahun itu, ada beberapa bulan yang lowong tapi selebihnya saya mengajar. Tak bisa dipungkiri juga kalau dari situ saya dapat uang tambahan wkwkw jadi kalau mau beli apa-apa tidak perlu minta ke orang tua. Kadang-kadang masih minta sih hahaha tapi lebih jarang lah.

Okay, back to the topic, jadi setelah dipikir dan dipikir, I think that math is my comfort zone. Jadi, waktu mengajar pertama kali itu saya masih mengajar matematika dan fisika sampai di tempat terakhir saya mengajar itu saya cuma mengajar matematika. Di satu sisi, dulu nya waktu SMA memang saya mendapat kesempatan ikut olimpiade fisika waktu itu syukurnya bisa sampai nasional meskipun tidak mendapatkan medali. Tapi, entah kenapa saya kurang confident dengan kemampuan fisika saya. Jadi, saya ndak berani untuk mengajar fisika, lebih pede rasanya mengajar matematika, sampai sekarang ini, meskipun ga jago-jago banget juga sih hahaa tapi setidaknya untuk pelajaran sekolah masih okelah, masih banyak yang diingat.

Nah, di sini saya mau share bagaimana saya dulunya bisa belajar matematika yang bisa membuat saya mengingat sampai sekarang dan masih bisa mengajarkan kepada orang lain. I am really thankful for meeting my math teacher. Karena beliau lah, matematika jadi satu pelajaran yang meninggalkan kesan dan pemahaman paling dalam. 

Waktu SD saya pernah beberapa kali mewakili sekolah mengikuti lomba matematika, tapi gak pernah menang wkwkk saya masih ingat, waktu SD itu saya ikut les di sekolah sementara kebanyakan teman saya itu les di luar di guru A, B, C, dst. Saya juga masih ingat bagaimana saya tidak paham bagaimana menghitung perbandingan skala, menghitung luas lingkaran, menghitung keliling lingkaran. Tidak paham saya dan tidak bisa menghafal. That's why biology doesn't work on me, sad. Jadi, saya tidak bisa menghafal rumus, hanya beberapa saja yang bisa saya ingat, dan jika soalnya sudah diutak-atik saya sudah tidak bisa jawab. Alhasil, waktu ujian kelulusan SD, nilai ujian matematika saya di batas rata-rata, kalau tidak salah dapat 5 atau 6, pokoknya udah mepet gak lulus waktu itu. Saya jadi mikir, kok bisa ya nilai matematika saya jelek, padahal saya pernah ikut lomba loh. 

Setelah itu, masuk SMP, saya dikenalkan oleh tetangga saya seorang guru matematika. I have no idea dengan guru ini. Setelah masuk baru tau, ternyata beliau guru yang membina murid-murid yang ikut olimpiade. Wah, di situlah perjuangan (penderitaan) dimulai. Kalau orang bicara titik balik, salah satu titik balik saya itu waktu masuk belajar di situ. Dari yang dulu nya ndak paham matematika sampai yang paham kenapa rumus ini begini kenapa rumus ini begitu. Kenapa saya tadi bilang penderitaan, saya belajar dengan beliau dari saya kelas 1 SMP sampai saya bisa lolos olimpiade tingkat nasional di kelas 2 SMA, sekitar 5 tahun non stop, paling pernah istirahat 1-2 bulan tapi akhirnya kembali lagi belajar di situ. Luar biasa sih peran beliau dalam pendidikan sains saya wkwkwk. Oh iya balik lagi, kenapa saya bilang penderitaan, yang pertama, karena saat itu jam belajarnya itu dari jam 4 sore sampai jam 7 malam (paling cepat), 2 kali seminggu. Bahkan, awal-awal saya itu mulai dari jam setengah 4, biasa pulang jam setengah 8 kwkkw. Selama jam belajar itu, ga boleh main hape, waktu itu handphone juga belum secanggih sekarang sih, pokoknya dilarang main handphone. Selama jam 4-7, yang dilakukan cuma bisa belajar, yaitu kerja soal atau membaca, kalau capek ya liatin orang atau bengong hahahaa. Kemudian, saya masih ingat sekali, ada waktu-waktu di mana dalam 1 hari saya cuma kerjain 1 soal aja selama 3 jam itu. Kemudian, ada juga masa di mana, saya takut kalau saya mau pergi les, takut gak bisa ngerjain soal. Ada juga masa di mana, waktu saya ngerjain 1 soal, tiap saya liatin ke guru saya itu, salah terus jawabannya, jadi karena sistemnya pantul, jadi kalau salah, beliau gak kasih tau jawaban benarnya, kita yang mesti cari tahu dan perbaiki sendiri, sampai beliau bilang 'wah akhirnya benar juga jawabannya'. Waduh, parah sih itu kalau dibayangin lagi, lebih ke malu sih hahahhaa. Ada juga masa di mana setelah pulang les itu kepalanya panas wkwkwk karena disuruh mikir teruus hahhaa. Ada juga yang lucu, jadi dulunya saya memakai kalung dengan liontin Buddha kemana-mana. Suatu hari, saya lupa memakai kalung itu. Di jalan saya sudah berfirasat, aduh saya lupa pakai kalungnya, mudah-mudahan nanti saya tetap bisa kerjain soal wkwkkw udah menganggap kalung itu jimat karena saking takut soalnya sesulit itu hhaaa tapi untung ga ada trauma, karena setelah belajar beberapa waktu di sana, saya jadi lebih banyak paham dan jadi semangat belajar matematika dan fisika (apalagi saat itu, hampir semua orang bilang matematika dan fisika itu susah), tapi ternyata sistem yang diterapkan guru saya itu cocok untuk membuat saya paham. 

Jadi, sistem belajar di sana itu adalah, belajar mandiri, kalau gak tau baru nanya, itupun kalau nanya jawabannya itu dikasih bacaan aja, jadi jatohnya tetap aja belajar sendiri. Setiap masuk satu materi baru kita disuruh baca dulu, liat latihan soalnya, kenapa bisa cara kerjanya seperti itu. Sistem belajar itu yang membuat tidak semua orang betah. Sayapun sempat merasa putus asa kalau saya tidak paham-paham (meskipun kadang-kadang guru nya juga akan menjelaskan pada akhirnya). Tapi, saya cuma bisa bengong dan bertahan. Akhirnya, ada buahnya juga. Beliau memang sangat logis dalam penjelasan matematika, jadi tidak ada hafalan, yang ada adalah pemahaman. Hal ini yang menurut saya pribadi, yang melatih cara berpikir logis dan analitis saya hingga sekarang. Sebagai contoh, kalau teman-teman masih ingat rumus trigonometri sudut rangkap yang biasanya dihafal, dari guru saya itu, dijelaskan bagaimana masing-masing rumus itu bisa muncul, sehingga sampai sekarang saya masih ingat, meskipun saya tidak hafal, tapi saya ingat bagaimana cara rumus itu diturunkan. So, I am truly grateful for being there at that time. I do thank him for being a great teacher during my high school time. 

So, that's how I met math (and physics). Tidak ada hafalan sama sekali. Meskipun level matematika saya gak sampai olimpiade, tapi saya pikir gara-gara guru saya itu, matematika menjadi comfort zone saya. Saya tertarik mengerjakan soal matematika meskipun pada akhirnya saya gak bisa jawab. But, I enjoy how my brain is working on that problem. Dan mengapa saya mengatakan math is my comfort zone, mungkin karena I don't need to work too hard to bring something to people. I don't need to put too much effort, karena saya masih mengingat sebagian besar materi dan bagaimana mempelajari nya dan itulah juga yang saya ajarkan. Di sisi lain juga, mengajar dan membuat bahan ajar matematika mungkin jadi satu bahan refreshing buat saya di samping pekerjaan utama saat ini. 

Jadi, begitulah, kalau ada satu hal yang patut saya syukuri adalah itu tadi, belajar matematika dan fisika dari guru saya itu. Karena beliau lah saya bisa ikut lomba, saya bisa ikut olimpiade, saya bisa dipanggil menjadi pengajar, saya bisa mengajar orang lain, saya bisa berpikir logis dan analitis sampai sekarang, dan saya bisa menjadi saya sekarang, part itu berperan penting. So, thank you Sir, I owe you a lot!

Di sepanjang perjalanan belajar itu, kebanyakan saat masih sekolah, ada juga guru-guru lain yang juga berperan banyak. Jadi, saya ingin ucapkan terima kasih kepada semua guru-guru saya. I owe you all a lot, thank you!!

Semoga masih ada sedikit ilmu yang bisa terus saya alirkan ke orang-orang menjadi kebermanfaatan yang baru. Semoga.

Sharing ini bukan berarti menunjukkan bahwa saya jago banget matematika, gak juga lah, masih banyak orang di luar sana yang lebih hebat. Tapi, yang ingin saya sampaikan bahwa setiap proses yang sulit itu, biasanya buahnya manis, jangan cepat menyerah. Selain itu, setiap orang juga pasti punya comfort zone nya sendiri, hal-hal yang disenangi di luar rutinitas, dan itu perlu to keep us sane.

I share this because I think this one is interesting in my life and I want to keep this story here :)

See you later di [enam puluh dua]

Cheers,

Em🙆

Friday, 16 September 2022

[enam puluh] that day

It was the day, the same day, eleven years ago. It was the day when, I think, I didn't remember days. Until now, sometimes, I am still wondering, why didn't I remember that day. In fact, that was one of the saddest day in my life. However, the images of what happened that day are still clear, until today. It is a little weird that I cannot remember the day. In many previous years, sometimes the day just passed by when I remember when that day was. To be honest, I just recall this day because the date is similar to our house number. Such a coincidence. So, the date is not directly related to the occasion actually. And today, after eleven years, I decided to write this down, after several times of thinking the same problem of why can't I remember the day like any other important days. But, what I am going to write today will not answer that question, I guess, it has no answer. The simplest answer I can think of is just maybe what happened that day took all my attention that I am not able to think about anything else, anything, including the date, the day.

I just want to share a little story, so one day if I forgot (hopefully no), I have something to remind me..

So, actually that day was predictable and finally came. We should have been prepared ourselves for that, however, no matter how hard or how well you prepare, you will never be prepared for that thing, trust me (or not). After a long long fight, maybe 2 - 3 years, we have no other choice, the fight was over. No more fight, no more suffering. 

I can't remember, but, maybe a week or maybe two weeks before that, someone told me to be prepared, for that day. Before that, other people told me the same too. Deep down in my heart, I said to myself why should we treat a person that still alive like she was going to leave us that soon? Isn't it cruel for her? Isn't it like she was unwanted? These question was never asked, yet got no chance to be answered. Time passed by, and that day finally came. I can still remember how strange all the things were, still very clear in my mind, like recalling a movie scene. I was still very young, still in high school, and I think I can not speak up my opinion, maybe even now, if I am in that kind of situation, still can not tell my opinion. It's just so weird. At that night, we had someone to come and see her. That person said, it's time. So, we prepared everything. It was midnight already, I was asked to go to sleep. I was told that he will call me when it's time. It was an early morning, still dawn, it's time, it really is. The oxygen was there, but it was not breath anymore. I woke up to say the last goodbye. Indeed, I didn't say anything. No words came out. In our tradition, we are told to say 'good people walk good path', I cannot think of anything else instead of repeating that sentence, hoping that she really had a good path. I have nothing to wish for. 

It was predictable, it really was. I didn't remember what I was thinking when I went to sleep that night. What I can say is I think my brain did not work at all, completely. It's just happened, I can't think of anything, I can't do anything. I was crying, a little bit. We don't have a big house, just a small one but enough for us. But that day, for two days maybe (see? I can't remember properly), lots of people came to that small house. It was full day and night. I have no time to process everything. But now, I can still remember me looking at myself at that day, you know, like you are being another person to see your own self. One of the sad things that I remember, at the beginning I didn't cry when I deliver her to the funeral, I cried because the person beside me cried, that made me cry. I was crying quite hard that time. The rest was history, we continue our life, our life must go on. It was a great great lost. He said, it must be different, even if she just stayed in bed, she was with us, but now she was not here anymore. Like a table, we had lost one of our legs. That was true. 

After that day, I don't remember how I live, just like normal people, but I believe I have something inside. I lost someone really important. Lots lots lots of things I wish we can do together, but indeed, we can't. Lots of experience, lots of questions, that I should ask to her, but I can't. And, I think, I am today, is made of those little pieces of life events. 

I don't know how to explain myself that day. As I said, the memories are crystal clear, but my feelings, my thoughts, I have no idea until today, can't explain. 


Hey, look at me now, I live a good life, don't I? Hopefully I have something to make you proud. Hopefully you are truly proud of me. We have no proper picture together, technology that day was lame. I can't even remember our very last conversation. It was because we fought together, we have no time for other things, but that's okay, that was the right thing to do. You know, I will always, hopefully, remember your face. Actually, not only your face, but you, all the good things in you :)

I wish you are born in a better place now and let's meet in another life.

I love you in every universe. I love you limitless. And I miss you always.

We missed a lot of experiences that we possibly had. But that's okay, I had 16 years of my life with you, now I already have 11 years without you, maybe I will have more years without you than with you, but you know what, it doesn't matter, I always have you in me, always. I wish one day we cross our path again, until one day we are free. Sadhu.

with love, your little buddy who loves you endlessly,

Em 🙆

Sunday, 14 August 2022

[lima puluh sembilan] silent dream

You know what, I think that I live in a silent dream life, not only me, I'm sure many people out there are doing the same thing, maybe you as well? 

I do have lots of dreams and plans inside my head, but sometimes I don't really feel to say it out loud.

And sometimes, getting a compliment of having a good big dream feels like annoying a little bit, at least for myself, I think.

What I prefer is let it sound as loud as it comes true. Let it stay inside, let it grow inside, let me work so hard to make it sound. 

If it's not meant to be, it will just stay inside, in my head, as a very beautiful dream one can dream of.

On the other hand, sometimes I feel like I want to share all of those dreams and plans and exciting stories going around my head.

Yet, that someone hasn't come, on the way, maybe.

However, here comes a question, would it be the same life I live without the silent dream life?

Or, would it be something new that I haven't think about before? As if when you think that it is either A and B, and you don't really consider that you still have C, D, etc. that you never take into account before.

At some point, when I think of something, think and think, it always comes to one end root, maybe it's all about time. Still using 'maybe', as you know, everything evolve, the way we think also evolve, so our thoughts today might be different to our thoughts few years later. 

It's all about time, maybe I am today not feeling too comfortable to share what I dream of or feeling a bit annoyed for being the center of attention (getting compliments, etc.) which might also be part of my ego that need to be fulfilled. But, maybe as time goes by, I can compensate those things, find a better way to accept and process it in myself. To find an alternative and wiser way in accepting things. Hopefully :)

This post is totally random things written down hahahaa 

See you at [enam puluh] yaaw,

Cheers,

Em🙆

Saturday, 16 July 2022

[lima puluh delapan] the power of who

Sometimes you don't really miss the place, the time, or the situation, but the people. You miss the people who make the place, time, and situation become perfect memories.

Kalimat di atas adalah kalimat yang terbesit di kepala saya dan saya jadikan caption dari salah satu postingan saya pada akhir tahun 2016. Dan setelah beberapa waktu, kalimat itu masih saja begitu benar wkwkwk. That is how big the influence of someone in someone's life, particularly in me. 

Suatu tempat menyisakan cerita karena ada orang di dalamnya. Suatu waktu atau masa pun demikian pasti ada orang yang membuat itu jadi berkesan. Begitupun dengan situasi, kondisi, lagu, atau objek apapun itu.

Kita sangat mungkin merasakan pengalaman berbeda ketika pergi ke suatu tempat yang sama dengan orang yang berbeda. Iya ndak? So, it's not really about the place, it's about the people.

Ketika kita pergi sendiri ke suatu tempat A, kemudian di kesempatan lain kita pergi ke tempat yang sama dengan seseorang ke tempat A juga. Mungkin ketika kita ke tempat A lagi untuk berikutnya, atau ketika kita teringat tempat A kita ingat momen ketika kita pergi dengan orang tersebut. Padahal mungkin sebelumnya ketika pergi ke tempat itu ya biasa-biasa saja, tapi setelah pergi dengan orang tersebut maka meninggalkan kesan tersendiri. Bahkan, kalau kita pergi ke tempat yang tidak menyenangkan, tapi kalau dengan orang tertentu bisa jadi kesannya menjadi menyenangkan. 

I cannot find a good example, but I do always think and feel that way. Intinya adalah, orang mengambil peran yang paling besar dalam suatu memori. Apakah betul? kwkwkw

.. and maybe that's why, when I want to go to some places, the first thing comes to my mind is "with whom will I go there?" wkwkwk

Sekian dan terima gaji hahhaaa

Sampai ketemu di [lima puluh sembilan],

Cheers,

Em🙆

Friday, 15 July 2022

[lima puluh tujuh] perjalanan

there will always be something to learn in every journey...

Dulu sekarang, muda tua, jelek bagus, amatir ahli.. semuanya begitu..

Semua nya berjalan, semua nya berubah..

Pernah ada yang bilang semua orang pernah alay pada masanya, berarti sekarang sudah tidak wkkwkw artinya memang ada fase yang harus dilalui dan harus berubah. Begitu juga dengan blog ini, pola tulisan, pola cerita, isi, apa yang diceritakan, berubah seiring waktu. Postingan instagram kita pun begitu. Kalau kita lihat postingan yang lama, kualitas fotonya masih jelek, captionnya masih (mungkin) alay ehheee, terus kalau edit foto juga editan lama wkwkw kalau foto yang sekarang, kualitas lebih bagus, caption semakin pendek semakin bagus, bisalah dibedakan mana postingan baru mana postingan lama. Dan suatu hari postingan baru kita yang sekarang akan menjadi postingan lama. Semuanya begitu.

Yah, semuanya perjalanan, sekecil apapun hal pasti berubah wkwkkw kita tidak bisa mempertahankan sesuatu sama dari waktu ke waktu, karena apapun berubah, kita pun, sekecil apapun.

Lagi malas euy tulis panjang-panjang hahahhaa

Intinya belajar bahwa semua berubah, bukan hanya sekedar tahu, tapi benar-benar tahu. 

Saya dulu sering berpikir 'oh blog saya ini mau saya buat begini sampai nanti', toh pada akhirnya tidak bisa, pasti ada sesuatu yang entah mungkin bisa diimprove, atau tidak bisa saya pertahankan karena ingin mencoba yang lain. Dan selalu akhirnya mentok ke 'oh iya semua pasti berubah ya'. Jadi begitulah hehhehe dari semua apa yang terjadi, dulu sekarang, di setiap tahap dan proses nya pasti ada sesuatu yang kita ambil, sebelum dia berubah ataupun disadari setelah dia berubah. 

Berubah itu niscaya karena tidak ada suatupun yang bisa bertahan sama dari waktu ke waktu, semua berubah sekecil apapun. That's the truth.

Sampai ketemu di [lima puluh delapan],

Sehat-sehat semua gengs wkwkwkw

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 22 June 2022

[lima puluh enam] a short note

Let's walk our own path for now, while hoping that one day we will have a quick stop at the same traffic light, spending time together while waiting on the green light to continue walking on our own path again, till the next traffic light, until no traffic light anymore.


..if that's okay..