Sunday, 20 June 2021

[empat puluh dua] another step (1)

tidak akan pernah ada kata cukup untuk hal-hal yang bisa kita sombongkan, tapi akan selalu ada kata cukup untuk hal-hal yang ingin kita syukuri

-got from somewhere-

 

Hello everyone, glad to post something again, after quite a long time

Hope y'all safe and well

So this is a kind of appreciation post...

Really grateful to be able to achieve another milestone in life and I would like to sincerely thank everyone who has helped me during all this time. Those people who keep supporting and encouraging me through this journey. This is absolutely not a work of one as it will never be a work of only one. I owe tons of thanks to all of you. You know who you are. 

So, I just would say I don't have any words to describe how grateful I am, just it. Too cheesy, maybe, but yaah who cares wwkwkwkwk

Jadi begitu teman-teman yah hahhahaa sangat bersyukuuuuuur sekaliiii sudah sampai ke tahap ini. Tapi selain itu, ada sebuah refleksi juga yang muncul di pikiran ini. Singkat cerita, dua hari yang lalu saya sudah menyelesaikan ujian tesis saya dan dinyatakan lulus dengan gelar yang baru. Kemudian, banyak teman-teman memberi ucapan selamat. Sebuah hal yang wajar dan sangat sangat saya syukuri atas apresiasi yang diberikan tersebut (even it feels like too much for me wkwkw too much dalam arti sangat terhura begitu huhuuu). 

The condition is...

Jadi, orang-orang banyak memberi selamat dengan kata-kata 'well done, you did great, well deserved' dan kata-kata selamat lainnya. Sebagai orang yang tidak tau merespons hal-hal demikian, saya tentu jawab dengan 'thank you'. Tapi, seringkali dalam hati saya berkata kalau 'ah ini belum apa-apa banyak orang yang lebih bagus dari ini' to get my feet on the ground. 

Don't get me wrong, please, I try to bring this in the most suitable phrases hahaaa

Maksudnya adalah banyak sekali hal yang muncul dalam pikiran saya ketika saya mendapat ucapan demikian atau katakanlah (dalam tanda kutip) dipuji. Di satu sisi, saya senang dan bersyukur dengan apresiasi dari apa yang saya kerjakan. Tapi di sisi lain, ketika saya memilih merespon (dalam hati) dengan 'iya sih tapi ini belum ada apa-apanya orang lain masih banyak yang lebih baik dari ini'. Terus saya jadi mikir kok saya seperti orang yang tidak puas atau tidak bersyukur yah? Apa memang begitukah atau bagaimana kah seharusnya? Tapi saya jadi berpikir lagi tapi kan respon saya begitu supaya saya tidak takabur dan tidak berhenti begitu untuk berusaha, biar tetap jadi motivasi bahwa oh masih ada loh yang di depan situ yang bisa dicapai yang lebih baik yang lebih bisa bermanfaat. Karena kalau hanya menerima mentah-mentah 'well done, well deserved' itu kayaknya apa ya seperti ya sudah, ini sudah didapat, selesai. 

Hope you got what I mean,

Hingga ketika berpikir dan berpikir, kayaknya memang dua-dua nya perlu, sama seperti kalimat di awal sekali dari postingan ini. Kalau kita mau melihat kata 'cukup', as in the 'well done, well deserved', untuk menjadikan kita sombong dan berhenti, saya rasa tidak pernah ada kata 'cukup'. Dengan kata lain, di atas langit masih ada langit, apa sih yang mau disombongkan. Tetapi sebaliknya, kalau kita mau melihat kata 'cukup' untuk menjadikan kita bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, maka selalu ada kata 'cukup', sekurang apapun itu, pasti ada kata 'cukup' untuk kita bisa bersyukur. Tidak muluk-muluk.

Jadi, kesimpulannya, saya banyak belajar dari apa yang sudah saya jalani sejauh ini. Khususnya untuk studi selama 2 tahun ini, semua adalah proses. Milestone ini pun hanyalah bagian dari proses. Cukup untuk disyukuri dan direnungi dengan sederhana. Ibarat sebuah perjalanan, ini hanyalah sebuah lampu merah, boleh beristirahat sebentar, melihat-lihat sekitar untuk sementara waktu. Tapi ketika lampunya sudah hijau maka life must still go on karena perjalanan di depan sana masih panjang. So, after all these things, I will personally take this as a part of process, a part of life journey, always.

Merasa cukup dengan yang diperoleh saat ini untuk disyukuri tapi bukan untuk berhenti karena pastinya di depan sana banyak hal yang bisa dicapai yang tentunya untuk kebaikan.

So, to end this post, saya terima kasih kepada semuanya, tidak pernah cukup kata terima kasih saya untuk semua yang sudah saya terima sejauh ini, tapi saya bersyukur banyak sekali orang-orang baik yang sudah mau membantu dan menolong dan mendukung sampai sekarang ini. Semoga kebaikan akan kembali kepada teman-teman semua di waktu dan kondisi yang tepat dan mendukung. 

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

I think there will be another part with the same title :)

Anyway this post has nothing to do with you who read this or anyone else. This is just simply a reminder for myself. This is a bad-written post I guess hahahaa. Just a bit if I want to reflect on several things.

Alright, me signing out, 

Sampai ketemu di [empat puluh tiga],

Cheers,

Em 🙆 

Tuesday, 18 May 2021

[empat puluh satu] Good or bad, who knows?

 the future we create, the future we can predict


Hello semuaaa!! Masih suasana lebaran nih wkkwkkw 

Selamat lebaran buat yang merayakan, mohon maaf lahir batin 

Another post! yeaaa, salah satu post yang sudah lama mangkrak di draft wkkwkw sudah kepikiran dari lama tapi gak tau mau tulis apa dan gimana sampai sekarang akhirnya nulis juga hehee

Ada satu ungkapan yang mungkin familiar yaitu 'apa yang keliatan baik, belum tentu baik, dan apa yang keliatan buruk, belum tentu buruk'. Benar, benar sekali. Karena tidak jarang kita sudah terlalu cepat menghakimi sesuatu yang terjadi di kehidupan kita tepat sesaat setelah kita mengalaminya. Terlalu cepat, terlalu gegabah. 

Mungkin di kebanyakan kasus kita sering berprasangka buruk terhadap sesuatu, yang menurut orang-orang tentu kurang baik. Tapi, apakah berprasangka baik adalah selalu baik? Hmm, tergantung. Sebenarnya keduanya tergantung ya, entah itu prasangka buruk atau baik. Yang cenderung kurang tepat itu jika setelah berprasangka itu kita lalu menutup semua kemungkinan lainnya dengan menganggap prasangka kita lah yang benar dan terjadi.

Hm, gimana gimana? wkwkkw

Iya, jadi, ketika sesuatu terjadi, mungkin naluri manusia kali yah, kita jadi langsung men-judge baik atau buruk, lalu berhenti di sana. Di sinilah celahnya sebenarnya. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah tau masa depan akan seperti apa. Kita tidak pernah tau apa yang kita judge sebagai baik atau buruk ini akan membawa kita kemana.

Kembali ke yang tadi, ketika kita berprasangka buruk akan sesuatu, contohnya kita sudah berencana pergi jalan-jalan dengan keluarga, terus karena sesuatu hal jalan-jalannya batal. Kita jadi bete dong. Ternyata gak lama hujan deras turun. Nah kan, untung juga gak jadi pergi, karena kalau jadi mungkin bisa kehujanan. Jadi, ketika kita hanya melihat apa yang terjadi di depan kita saja lalu langsung bereaksi secara keras mungkin itu yang akan buat kita pusing sendiri, karena emosi kita mudah sekali dimainkan di sana, marah, kesal, bete. Padahal sebenarnya, kalau kita mau berpikir bahwa tidak apa-apa mungkin bisa pergi lain kali atau mungkin ada hal lain yang juga seru dikerjakan di rumah. Maksudnya, secara manusiawi pastilah kita sedih karena apa yang direncanakan tidak berjalan semestinya. Tapi, jangan tutup kemungkinan lain. Coba perluas pandangan kita, supaya tidak sempit gitu loh hahhahaaa. Iya, karena rasanya lucu-lucu alias malu juga kalau kita sudah marah-marah gak jelas eh trus ternyata yang kita kesalkan ternyata menjadi berkah. Malu ga malu ga? Ya malu lah masa ga hahhahahhaa

Pun demikian, ketika berprasangka baik, jangan terlena. Ingat juga bahwa segala sesuatu itu naik dan tuurn. Hidup ini roda cuy, kadang di atas kadang di bawah, kadang baik kadang buruk. Sama dengan berprasangka buruk tadi, berprasangka baik pun tidak boleh menutup kemungkinan-kemungkinan yang lain. Seandainya cerita di atas kita balik, kita jadi pergi jalan-jalan tapi pas sampai tempatnya tutup atau penuh jadi kita ga bisa masuk (misalnyaaa). Seringkan kejadian mirip seperti ini. Jadi, tidak boleh juga terlalu senang atau terlena wkwkwwk 

Persis seperti judul masa depan yang kita rencanakan sekarang tetap adalah masa depan yang tidak bisa kita prediksi atau pastikan. Jadi, boleh banget berencana, tapi jangan ngoyo gitu loh, baik buruknya, terjadi tidaknya rencana kita, apa pun itulah yang terjadi tidak berhenti sampai di situ saja, pasti ada lagi yang terjadi berikutnya berikutnya berikutnya. 

Sama juga ketika kita ditegur atau dimarahi atau dipuji. Yah, you name it lah kalau kita menerima perkataan dari orang lain. Kadang kita dimarahi kita lihat sebagai sesuatu yang buruk padahal sebenarnya orang itu menegur untuk kebaikan kita. Kadang kita dipuji kita senang sekali padahal mungkin orang itu ada maksud yang lain, mau minjem duit misalnya hahahhaaa Inipun kalau ditarik lagi akan panjang lagi ke depan. Mungkin orangnya beneran muji ya mungkin saja. Makanya tidak perlu terlalu berlebihan menanggapi. Dipuji ya terima kasih, lalu introspeksi, ditegur juga terima kasih, lalu introspeksi, sama saja. Kalau minjem duit ya dikasih kalau punya duitnya, kalau ga mau kasih ya gak papa juga hahahaha

Yah begitulah yaaa wkkwkw

Segala sesuatu yang terlalu itu tetap kurang baik. Terlalu senang, terlalu sedih, terlalu bahagia, terlalu kesal, dan terlalu terlalu lainnya. Jadi ya steady sajalah, biasa saja, santai saja, tenang-tenang saja.

Jadi begitu ya, intinya yang pertama tidak boleh langsung menjudge dan menutup kemungkinan lainnya karena baik atau buruk, siapa yang tau? Ga ada. Kita akan tau ketika hal itu terjadi. Dan ketika kita sudah mati-matian menjudge sesuatu yang ternyata bisa berefek kebalikannya, malu loh kita wkkwkw Yang kedua, selalu waspada atau siap atau sadar gitu kalau ga mungkin semuanya baik atau semuanya buruk. Jadi, kita syukuri jalani saja apa yang terjadi. Di sisi lain karena baik dan buruk itu relatif sebaiknya juga untuk memijakkan kaki baik-baik ke bumi supaya pikiran emosi tetap berpijak jadi menanggapi apa-apa tidak berujung ke hal-hal yang merugikan kita sendiri.

Gitu ya gitu yaaaa hahahhaaa

Sudah dulu yaa semoga bergunaa semogaaa hahhaaa

Sampai ketemu di [empat puluh dua]

Cheers,

Em 🙆

Wednesday, 5 May 2021

[empat puluh] hari ulang tahun

And in the end, it's not the years in your life that count; it's the life in your years

-Abraham Lincoln-


Hola everyone! Teteup sehat yaa semuanyaaa!!


So, I have just had my birthday yesterday *yeaaa* hahhahaa 

Actually, bukan tentang itu, tapi ada hal yang menarik sih, ga penting sih ya tapi menarik hahahaa

Jadi, coba bayangkan dalam setahun ada 366 hari maksimalnya, we spend the whole year, going through day by day, but there is one day in that whole year which we notice carefully that the day is different to other days. That's our birthday.

Menarik aja sih menurut saya, seolah-olah ketika kita melewati suatu perjalanan kita sudah sasar dari jauh bahwa 'oh itu tuh di situ'. Seperti itu kurang lebih. Sementara, bagi orang lain, hari itu biasa saja, tidak ada kesan apa-apa. 

Tidak penting yah? Iya memang hahahaa

Apa pelajaran yang bisa diambil? Tidak ada. Hahahhaa

No no, I just think that it's interesting how this small particular thing is really personalised to each of us, to each individual. Hari yang kita rasakan spesial, belum tentu loh spesial bagi orang lain. Berangkat dari hal kecil ini saja yang sudah sangat personal, subjektif, bagaimana dengan hal-hal lain yang lebih besar. Pendapat, sudut pandang, tindakan, pola pikir. Kemudian, bagaimana perasaan kita yang mengubah dan membentuk kesan pada sesuatu. Semua hari dalam setahun hanyalah hari, biasa saja. Tapi, karena ada kesan di dalamnya maka itu yang membuat hari itu menjadi istimewa. Bukan hanya ulang tahun, hari-hari lainnya, hari jadi, hari raya, hari peringatan, dan lain-lain. Jadi, most of the things in life are neutral, hanya karena perasaan kita, pikiran kita, pengalaman kita, yang mengubah hal-hal itu punya kesan tersendiri. Jadi, bukan tentang hari nya, tapi tentang kita nya. This thing can be applied in many things in life. Ini dasar dari banyak hal yang terjadi. Semua kembali kepada kita, diri kita sendiri.

Demikian lah kira-kira refleksi hari ini hahhaaa

Trying not to be too serious, but just try to see a little thing which might be important hehehee


Last but not least, happy birthday to me *yesterday* hehee

And note to myself,

Tetaplah hidup bahagia, tenang, damai, seimbang, dan penuh kesadaran

Tetaplah berjuang dan berlatih dengan penuh semangat hingga mencapai tujuan di sana :)


Thank you everyone,

Sampai ketemu di [empat puluh satu]

Cheers,

Em 🙆

Friday, 12 March 2021

[tiga puluh sembilan] Berbahagia setelah kehilangan. Gimana gimana??

 Hantaman keras adalah pelajaran berharga

-eug-

 

Produktif, produktif euyyy wkwkw padahal lagi gabut aja.. Semoga teman-teman tetap sehat dan produktif (seperti saya) tapi tidak gabut (juga seperti saya) hehehehee


11 tahun lalu, pertama kali saya kehilangan orang dalam circle terdekat saya setelah 15 tahun hidup saya. Setelah 15 tahun hidup tanpa pernah hadir dan melihat rumah duka itu seperti apa, so itu pertama kali. 1 tahun setelahnya, kehilangan kedua saya, terberat rasanya, saat itu saya masih 16 tahun. Lalu, satu setengah tahun yang lalu, kehilangan yang sama beratnya, kalau kata ter- tidak hanya untuk satu hal saja, maka untuk dua kehilangan saya ini, sepuluh tahun dan satu setengah tahun yang lalu adalah yang terberat. 

Lalu apa?

Sering saya merenung dan berpikir, seberapa jauh saya mengikhlaskan, seberapa jauh saya menyesali, dan seberapa jauh saya belajar dari kehilangan tersebut. Seberapa jauh saya mengikhlaskan adalah seberapa banyak hal yang saya syukuri telah saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya menyesali adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya belajar adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan dulu dan saya lakukan itu sekarang. Hingga di satu titik dimana saya berpikir dan saya syukuri adalah bahwa meskipun ada hal-hal yang saya sesali, tapi untungnya masih lebih banyak hal yang membuat saya mengikhlaskan. 

Apa yang sebenarnya dirasakan ketika kita kehilangan? Khususnya kehilangan orang terdekat

Sedih. Sesak mungkin lebih tepat. Rasa sesaknya sama, masih jelas di ingatan saya. Tapi ya, lumrah lah ya. Semua orang juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi semua adalah temporary, sesaat. Setelah itu life must still go on. Kita harus tetap melihat ke depan. 

Lalu apa yang dimaksud berbahagia setelah kehilangan? Seperti judul di atas wkwkw

Sering sekali ya kalau lagi gabut alias gak ngapa-ngapain sering aja gitu kepikiran ketiga hal di atas tadi, seberapa jauh saya mengikhlaskan, menyesali, dan belajar. Dan ketika saya belajar, di situlah 'berbahagia setelah kehilangan' bisa dimunculkan. Saya jadi tau bahwa ada loh hal-hal yang mungkin saya sesali 'kenapa ya tidak saya lakukan dulu' (sebelum saya kehilangan), bisa saya lakukan sekarang yang membuat saya bahagia. Hal ini semacam menghindari adanya penyesalan berikutnya hahahaaaa Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ya memang ada hal-hal yang dulu memang tidak bisa kita lakukan, mungkin karena keterbatasan kondisi atau hal lainnya, ya semacam memang gak bisa aja dilakukan pada saat itu. Dan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk melakukan itu.

Setelah mengalami beberapa kehilangan, kita (saya) juga menjadi lebih belajar. Mungkin ada hal-hal yang dulu kita 'take for granted', kita anggap sebagai hal yang remeh, tapi sebenarnya itu hal-hal berharga yang baru kita sadari sekarang. Makanya, ketika kita sadari itu, kita lebih menghargai hal itu sekarang, kita jadi lebih bahagia, kita lebih 'fulfilled' untuk hal-hal yang kita lakukan dan yang kita alami. Selain itu, kalau teman-teman baca postingan saya yang judulnya 'gone too soon', mungkin juga ada hal-hal yang seperti itu, mungkin hal-hal yang kita sesali itu memang tidak terjadi dulu karena memang belum waktunya sama seperti yang saya tulis di situ. Jadi, mungkin tidak perlu terlalu disesali, yang penting untuk selalu belajar. 

Jadi, berbahagia setelah kehilangan berbeda dengan berbahagia karena kehilangan atau berbahagia atas kehilangan. Menurut saya pribadi, mungkin 'berbahagia setelah kehilangan' adalah bentuk 'penebusan rasa penyesalan' (mungkin terlalu berlebihan hahahaha) atau bentuk 'upgrading atau naik kelas' atau apa ya cara kita lebih menghargai waktu mungkin, sehingga kita lebih bahagia. I lost for words hhahaa kagak tau apa kata yang tepat guis ckckkck mungkin seperti ini, lebih ke perasaan yang 'wah akhirnya saya bisa melakukan hal ini ya, hal yang mungkin seharusnya saya lakukan dulu, untung masih sempat saya lakukan sekarang, dan saya bahagia karena sudah melakukannya dan juga bahagia untuk dampak yang terjadi atas hal yang saya lakukan itu'. Kurang lebih bahagia seperti itu. 

Don't know hahhaaa demikian yang bisa saya bagikan kali ini, sangat personal kali ini sepertinya, entah semua orang merasakan nya juga apa cuma saya saja. Tapi intinya selalu ada yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Apalagi dari suatu hal yang sungguh berat, pasti ada pelajaran besar di baliknya. Bagi saya, kehilangan adalah hantaman terbesar sejauh ini dan dari itu banyak sekali hal yang saya pelajari, untuk saya terhadap diri saya sendiri dan untuk saya terhadap orang lain di sekitar saya. 

Jadi begitulah ya..

Semoga berguna hehee

Sampai ketemu di [empat puluh]

Cheers,

Em 🙆

[tiga puluh delapan] totem pro parte, pars pro toto

Semua untuk satu, satu untuk semua

-(kayak) jargon tipi wkwk-

 

Demikianlah kiranya yang cukup sering kita dengar, bahkan kita lakukan. Sadar tidak sadar, tapi ya memang demikian. Agak bias ya judulnya hahahaa.. Anyway, sebelum lanjut, seperti biasa, semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, tenteram dan bahagia ya

Alright, 

Secara sadar atau tidak sadar, kita sering melakukan salah satu diantara keduanya ini (bahkan kedua-duanya), yaitu menjadikan sesuatu (satu) hal sebagai patokan atau mewakili semuanyaa dan/atau menjadikan sesuatu yang umum ke satu hal tertentu alias men-general-kan alias memukul rata. Agak ribet ye wkwkkw

Contohnyaaa biar kagak pusing kita hahaha

Contoh paling gampang mungkin kalau kita ketemu seseorang, karena ini yang sering kita temui sehari-hari bertemu orang yang berbeda-beda. Nah, misalnya kita ketemu seseorang dari negara tertentu, (kalau sebut suku atau negaranya nanti dibilang rasis hahahaa), dia adalah orang pertama dari negara tersebut yang kita temui, sebelumnya kita belum pernah ketemu orang negara tersebut. Ternyata, orang itu pelit. Berangkat dari pertemuan itu, saat lain waktu kita bertemu orang dari negara yang sama, seperti sudah terpatri di otak kita 'wah pelit ni pasti' wkwkwk itu untuk yang satu untuk semua.. Padahal ya belum tentu orang itu pelit juga khaan hahhaaa

Kalau yang semua untuk satu itu misalnya gini, kita ketemu seseorang dari negara Indonesia, karena saya juga dari Indonesia, maka di pikiran saya, pasti bisa bahasa Indonesia dong, karena semua orang Indonesia harusnya dan pastinya tau bahasa Indonesia. Tapi ternyata, orang itu ga bisa bahasa Indonesia dong, meskipun dia orang Indonesia, KTP Indonesia. Hm, okaii..

Saya sendiri sering sekali seperti itu, men-general-kan semua orang karena satu orang dan menganggap satu orang itu sama dengan semua orang lainnya. Dari kejadian-kejadian kecil itu, saya jadi berpikir bahwa sebenarnya pikiran kita sendiri yang  membentuk citra orang lain, bukannya orang tersebut. Kita sendiri yang sok tau menjudge setiap orang dari hal-hal yang kita alami sebelumnya, Padahal, setiap orang itu berbeda, setiap perjumpaan atau setiap hal yang kita alami, meskipun identik, tapi tidak sepenuhnya sama dan tidak semestinya kita menghakimi duluan sebelum benar-benar mengalaminya. Kenapa begitu? Soalnya, tidak jarang sikap kita itu ditentukan oleh apa yang sudah kita judge kepada orang lain. Misalnya, ke orang yang kita sangka pelit itu, orangnya belum ngapa-ngapain kita sudah tidak ramah karena di otak kita dia ni pelit nii, malas aku. Padahal kan ya belum tentu juga wkwkkwwk

Jadi gitu ya, 

Gak panjang-panjang lah kali ini, hanya sebagai pengingat buat saya saja, biar ingat dan belajar untuk tidak menentukan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, biar gak kaget juga hahhaaa

Jadi benar kata orang bahwa don't judge the book by its cover, mungkin saja dari 10 cover yang ilustrasinya jelek, 8 ceritanya tidak menarik, 2 ceritanya menarik. Kasian yang 2 buku ini, kasian juga kitanya yang tidak membaca cerita yang bagus hanya karena kita sudah misjudge dari covernya.

Meskipun menarik tidaknya suatu buku juga relatif ya (eh gimana)

Ya udah ya wkwkkw

Sampai ketemu di [tiga puluh sembilan]

Stay safe!

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 28 February 2021

[tiga puluh tujuh] it is what it is

Hello everyone,

Semoga semua selalu dalam keadaan sehat ya, entah kapan pandemi ini berakhir, dan rasanya semakin ke sini semakin banyak kenalan atau keluarga yang sudah terinfeksi covid. Yaaahhh, begitulah, hidup tidak bisa diprediksi, intinya semoga semua dalam keadaan yang baik dan sehat. 

It seems like it has been a very looooongg time and yet I don't know what to write here hahaa I really want to write about this thing, but just don't know to make it up into a good writing. So, whatever, just try wkwkkw

Sejujurnya, covid memberi pelajaran besar bagi kita manusia. Mungkin, sebenarnya dari printilan-printilan kecil dalam hidup kita pun kita dapat mengambil pelajaran yang sama, tetapi karena dampaknya yang tidak 'begitu' terasa, kita kerapkali abai *baku banget bu kek kanebo kering wkwkkw Iya, kita jadi sering bodo amat gitu, tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan apa yang sebenarnya mestinya bisa kita ambil menjadi pelajaran. 

Pertanyaannya adalah, pelajaran apakah itu???

Mungkin berbeda tiap orang, tapi kalau untuk saya pribadi, mungkin pernah saya bahas di postingan sebelumnya tentang covid mengajarkan kita tentang ketidakpastian hidup, tapi selain itu, bagi saya, covid juga mengajak saya untuk melihat sesuatu sebagaimana mestinya. To see everything as it is, yang menurut saya pribadi, bisa menolong dalam berbagai situasi yang sedang saya hadapi. 

Cobalah sesekali, lihat lah apa yang kita rasakan sebagaimana adanya. Dalam kasus ini, bedakan lihat dan bereaksi. Ketika kita melihat, kita tidak bereaksi apa-apa, kita hanya benar-benar melihat, karena apa reaksi kita adalah tahap selanjutnya. Yang kadang kita lakukan adalah melewatkan step melihat ini dan langsung bereaksi saat itu juga. Padahal, tanpa kita sadari, proses melihat yang sebenar-benarnya ini berkontribusi besaar sekaliiii dalam menentukan apa reaksi kita.

Contoh, saat kita sedang marah, coba jangan dulu nyerocos atau ngomel wkwkkw, coba kita lihat, apa yang kita rasakan saat kita sedang marah atau ketika kita mulai akan marah, misalnya kepala kita jadi panas? otak kita langsung mau ngomel? jadi sesak? apalagi ya? beda-beda tiap orang, tapi kita pasti tau bagaimana kalau kita sedang marah. Sama seperti kita mau nangis, mungkin hidung kita mulai cekit-cekit (hahhaa bahasa apa ini), pipi rasanya panas, mata memerah. Atau ketika kita lagi stres, nah ini mungkin lebih sering kita alami, kita jadi tidak nafsu makan, malas gerak, tidak mau melakukan apa-apa, dan lain-lainnya.

Intinya semacam itu, kita amati apa yang kita alami. Nah, apa pentingnya?

Kalau dari yang saya alami, dengan mengamati, saya jadi bisa punya glosarium tersendiri untuk diri saya, jadi saya tau betul saya sedang kenapa. Terus kenapa? Saya jadi bisa lebih mengontrol, tidak begitu terlarut, bisa memutuskan reaksi apa yang harus saya lakukan dengan lebih baik. Tidak ma'garambang (alias tidak sembrono wkwkw). 

Biasanya misalnya ketika sedang mengamati kalau kita lagi marah, kita tidak jadi mengomel, marahnya nanti redam sendiri setelah diamati, takut dia mungkin wkkwkw bcanda sis, setidaknya, kita (saya) bisa jadi lebih tenang dan mengontrol semuanya.

Apakah selalu demikian? Tentuuuuu tidak wkwkk Kadang-kadang lolos juga sih, tapi setidaknya tidak selalu atau tidak sering-sering dan bisa cepat sadar, oh lupa ni mengamati ni, gitu wkwkkw

Lebih dari itu lagi, ada lagi tahapan setelah mengamati itu menelisik, baru bereaksi, jadi tahapannya nambah lagi, cuma mungkin lain kali lah ya di tulisan berikutnya, biar saya mikir dulu kata-kata yang benarnya (apa pernah kali ya dibahas sebelumnya wkwk). Jadi semakin banyak tahap yang kita lalui sebelum bereaksi, semakin matang reaksi yang kita berikan which is semakin besar kemungkinan salah dan merugikan orang lainnya. 

Another question, apakah kalau kita mengamati berarti kita akan tinggal dalam kondisi itu? Kalau menurut saya, tidak.

Misalnya, kita sedang stres, apakah dengan hanya mengamati, oh saya lagi stres, kita akan tetap tinggal di sana? Kalau saya, tidak demikian. Dengan mengamati benar-benar, kita paham dan kita menerima, tapi bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa untuk move on dari stres tersebut. Yang ada adalah kita menghadapi, bukan lari. Kita lihat lekat-lekat, benar-benar, apa yang kita alami. Tapi, dalam diri, jauh di dalam hati kita ada semangat untuk kita move on. Kenapa? Karena kita tahu, kita sadar, apa yang kita alami, kita tau kalau kita sekarang sedang stres, kita juga tau  kalau kita terus-terus begini maka tidak bagus juga karena aktivitas kita terganggu, baik itu aktivitas fisik maupun biologis tubuh kita. Ketika kita mengamati, nalar kita berjalan, kita lihat dan tau apa kondisi kita sekarang. Saya tidak mengatakan bahwa kondisi stres adalah kondisi yang salah atau kondisi yang tidak semestinya, karena stres itu sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi. Stres, marah, sedih, senang, gembira, excited, lelah itu semua hal yang sangat manusiawi dan wajar, namanya juga kehidupan pasti adalah masalahnya. Tapi, berlarut-larut dalam kondisi stres juga bukan sesuatu yang sehat. Jadi, menurut saya semua hal-hal di atas itu (melihat apa yang kita alami dan move on dari yang kita alami) akan terintegrasi ketika kita melihat baik-baik apa yang kita alami. 

Next, bagaimana kalau kita sudah berusaha keluar dari stres tapi kita masih stres?

Sama, amati kembali, oh berarti usaha saya masih belum bisa ya, ya sudah, tidak apa-apa setidaknya sudah berusaha. Amati kembali, oh saya masih begini, saya masih begitu. Tidak apa-apa ya, besok kita usaha lagi. Semua berubah, begitu juga dengan stres ini pasti nanti berakhir. Terima saja, atau bahasa lainnya telan saja hahahaaa Tapi, memang begitu, setelah itu kita pasti tau apa ya kira-kira yang bisa kita lakukan, biasanya sih, kalau kita sudah bisa menerima otomatis kita sudah terlepas dengan sendirinya. Bagaimana ya membahasakannya hahhahaa

Jadi, coba belajar melihat sesuatu sebagaimana mestinya, lihat lah marah sebagai marah, dia hanya sebuah ekspresi, sebuah perasaan. Stres pun demikian, itu kondisi tubuh, kondisi pikiran. Tidak perlu terlalu ditindaklanjuti, atau diberikan reaksi yang terlalu berlebihan karena nanti efeknya jadi panjang. Santai saja, pelan-pelan. Amati, lihat, kenali, sadari. Begitu saja. 

Oke guys? Cukup panjang sudah ini hahahahaa

Semoga bisa dipahami oleh nalar dan bisa bermanfaat yaaaah. Sekali lagi, ini opini dan pengalaman pribadi, masing-masing orang bisa beda. Kita hanya perlu mengenali diri kita sendiri :)

Sehat-sehat selalu teman-teman.

Sampai ketemu di [tiga puluh delapan],

Cheers,

Em 🙆

Friday, 1 January 2021

[tiga puluh enam] 2021 yang penuh harapan!

Selamat tahun baru!!!

Halo semuanyaa, tak terasa kita sudah memasuki tahun yang baru yaitu tahun 2021, dekade yang baru juga. Rasanya turbo sekali yaa hahhaaa banyak yang bilang seperti setelah Maret langsung lompat ke Desember wkkwkw

Hari ini cuma mau ngebacot tentang apa yang kira-kira bisa disimak dan diambil pelajarannya dari tahun 2020 yang begitu berkesan bagi semua makhluk dunia, benar-benar satu dunia. Kinda reflection maybe heheheee

Jujur saja, bagi saya pribadi, 2020 benar-benar mengajarkan kita banyak hal, membukakan mata kita untuk hal-hal yang tidak kita sadari sebelumnya.

2020 mengajarkan tentang ritme. Bahwa ada kalanya kita berlari kencang, ada kalanya kita berjalan. Bahwa ada kalanya kita menginjak gas yang cukup dalam, ada kalanya kita harus mengerem. Bahwa ada kalanya kita terbang melaju, ada kalanya kita berpijak. Ada kalanya kita perlu berhenti. Walau sejenak. Secara drastis, hidup kita berubah di tahun 2020, hampir 180 derajat. Yas, gara-gara virus Corona, Covid-19. Menurut saya, di tahun 2020, kita benar-benar diajak untuk berhenti, beristirahat sejenak sehingga kita bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kehidupan ini.

2020 mengajarkan tentang kemanusiaan. Manusia hidup untuk manusia lainnya. Saat pandemi terjadi yang menghantam rata semua negara di dunia. Tidak mungkin lagi untuk mengkotak-kotakkan satu negara dengan lainnya. Kita jadi membantu untuk alasan kemanusiaan. Covid menyerang tanpa pandang bulu dan itu yang membuat kita melihat bahwa di atas segalanya, we are just human. Di sini juga, orang tergerak untuk saling membantu, karena semua orang kesusahan, kalangan atas, menengah, bawah, semuanya. This is about humanity. Kita diajak untuk tidak lupa memanusiakan manusia, memelihara kedermawanan dan kemurahan hati, membangkitkan kembali gotong royong yang menjadi identitas kita Indonesia.

2020 mengajarkan tentang kesehatan. Harta berlimpah tapi jatuh sakit juga menjadi tidak berguna. Mungkin karena zaman sudah begitu berkembang. Teknologi begitu canggih. Kita kadang-kadang lupa dengan kehidupan yang semestinya. Gaya hidup yang tidak sehat mungkin dijalankan oleh kebanyakan orang. Karena covid kita diajak kembali untuk hidup lebih sehat, hidup lebih bersih, hidup lebih baik. Kita diajak kembali bahwa olahraga itu penting, makanan sehat dan bersih itu penting. Tanpa kesehatan yang prima, kita bukan apa-apa.

2020 mengajarkan tentang alam. Suatu pencapaian yang luar biasa ketika kualitas udara di kota-kota besar menjadi jauh lebih baik karena lockdown atau PSBB (di Indonesia). Mungkin, Bumi kita sudah cukup lelah selama ini. Dan di tahun 2020 ini, kita memberi kesempatan bagi alam untuk recovery kembali. Mungkin kita sudah terlalu banyak mengeksploitasi alam, maka dari itu, kita diajak untuk lebih peduli dengan alam, karena sudah semestinya kita hidup selaras karena kita saling membutuhkan untuk hidup.

2020 mengajarkan tentang waktu. Seperti yang saya katakan di awal, tahun 2020 terasa begitu cepat. Tapi, hari-hari yang kita lewati rasanya begitu lambat. Di sisi lain, banyak yang melihat 'waktu' dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Orang-orang jadi lebih menghargai waktu dengan orang-orang yang dikasihi, keluarga, teman, sahabat, dll. Ketika kita berlari terlalu kencang kadang-kadang kita lupa dengan sekitar. Dengan berhenti sejenak, kita jadi punya waktu untuk melihat bahwa banyak hal berharga yang ada di sekitar, hanya kadang-kadang kita lupa.

Terakhir,

2020 mengajarkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Banyak berita kehilangan. Banyak sekali. Yang saya lihat di sini adalah bahwa kita ini begitu rapuh dan rentan. Kita tidak punya kendali sama sekali dengan apa yang akan terjadi. I don't know how to explain this, tapi di sini saya benar-benar belajar bahwa kita harus belajar menerima apapun yang terjadi, dengan hati yang besar, lapang dan ikhlas. Karena, at the end of the day, we have no power on what will happen. Dengan menerima, kita bisa jadi lebih waras dan berdamai dalam menghadapi kondisi apapun. Atau dengan kata lain, kita dilatih menjadi lebih adaptif dengan perubahan. Dengan menerima, kita bisa menerima perubahan, tidak denial, tidak tersiksa, pun juga tidak lengah.

2020 was tough and challenging, but, it is what it is. I thank 2020 for all the valuable lessons. 2020 is history in human life. Not too bad tough, karena di balik banyaknya tantangan di tahun ini, tentu banyak juga kan ya hal-hal positif dan menyenangkan yang bisa kita alami. Seperti, punya waktu lebih banyak dengan keluarga, bisa punya waktu istirahat lebih banyak, bisa melatih kreativitas, bisa tau yang namanya Zoom meeting! Hahahaaaa

Untuk 2021, tentu kita semua berharap bisa jauh lebih baik dari 2020 hahaaa of course! Semoga semua bisa menjadi normal kembali, semua diberikan kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan dan semua hal-hal yang baik.

Tapi,

Ada satu hal yang menurut saya lebih penting. Dengan banyaknya pelajaran hidup yang kita peroleh selama 2020, semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Whatever 2021 will bring, hopefully we are able to accept it wholeheartedly. Apapun yang terjadi di 2021, baik dan buruknya, kita sudah belajar di 2020 bahwa inilah realitas kehidupan yang harus diterima. Kan sudah belajar, ya gak? WKWKWKW 

Semoga bisa menjadi lebih damai dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Tak lupa, an act of kindness means a lot dalam situasi seperti ini. So, tetap jangan lupa berbuat baik!

Hmm, this writing is not very good I think hahahaa cause it feels like I can't find the right words to express what I really feel and think. But, this is what I got, secara garis besar seperti ini. Semoga bacotan saya ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua yaaks wkwkwk

Happy new year guys! Wishing everyone a better 2021! Bring it on! Keep going! *tiupterompeeet*


Sampai ketemu di [tiga puluh tujuh]

Cheers,

Em 🙆

Monday, 30 November 2020

[tiga puluh lima] Repot!

Repot! Repot! 

Kenapa orang tidak ingin direpotkan? Kenapa hayoo? Wkwkwk apakah kalian juga tidak mau direpotkan?

Hahaaa mungkin akan jadi postingan yang cukup kontroversial, mungkin bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk saya nanti mungkin 5 atau 10 tahun kemudian kalau saya baca lagi, mungkin saya akan pikir dasar anak ingusan belum tau susahnya hidup! Hhahaa mungkin demikian, tapi mungkin juga tidak, mungkin saya tetap memiliki pemikiran yang sama dan cukup senang bisa menulis ini saat ini. Who knows, and who cares?

Anyway, semakin ke sini, banyak hal yang terjadi yang membuat saya jadi berpikir sendiri, kenapa kadang-kadang kita sulit untuk mengeluarkan energi lebih untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, padahal kita sebenarnya mampu? Kenapa kita selalu membawa nama 'repot'?

Mungkin iya, kalau kita sedang sibuk, kita bisa menolak, atau  menawarkan di lain waktu. Tapi kadang kala kita tidak benar-benar sibuk, bukan begitu? Kadang kala kita melihat diri kita sibuk tapi sebenarnya tidak sedemikian kok.

Mungkin hanya saya yang berpikir seperti ini. This is also notetomyself, to think more, to find the answer, or maybe it has no answer. Who knows?

Tapi ya, begitulah. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya. Kenapa? Mungkin ada yang tau jawabannya?


Sampai ketemu di [tiga puluh enam],

Cheers,

Em 🙆