Tuesday, 9 December 2025

[seratus lima] the imagination of a toddler

Hello guys, 

So, sekarang saya lagi menunggu pesawat pulang ke Jakarta, tapi karena pesawatnya masih lama jadi saya yang harusnya mengerjakan pekerjaan lain tapi belum ada ide jadi melipir nulis dulu ah hahahaaa

Kepulangan kali ini singkat sekali rasanya, cuma 4 hari. Tapi, selama 4 hari itupun, tiap hari saya main dengan keponakan ku yang ucul wkwkwk biasanya misalnya selama pulang seminggu cuma ketemu 4 atau 5 hari, tapi kali ini literally setiap hari hahaha and as she is growing bigger, she understands everything dan mengerti oh ini kuku (tante) nya datang. Meskipun shy shy cat awalnya, tapi lama-lama ikrib juga heheee

Nah melanjutkan tadi, as she is getting bigger now, sudah 4 tahun, dia sudah mulai mengerti mau main apa, suka karakter tertentu, dan sudah bisa request main ini main itu, request gambar ini gambar itu. 

Dan kuku nya ini si sok bisa gambar hahahhaha jadi kutawarkan lahhh

🙆: mau gambar apa? sini kuku gambarkan

👧: rumi demon hunter

🙆: (bingung dak taupun itu apa hahhhaa) yang mana itu? kuku nda tau, kuku cari dulu nah di google

👧: iyaa 

Setelah searching ketemu lah gambar si rumi demon hunter ini, entah kenapa si bocil ini suka sekali demon hunter, terus ada 3 karakternya kayak anime begitu, susah pun bentukannya krna kayak orang, bukan hewan macam doraemon hahahaa

Tapi ya sudahlah, terlanjur sudah menawarkan dan nampaknya masih bisa ji digambarkan, jadi kugambarlah, nah pas di tengah-tengah gambar, agak jelek kan kurasa jadi kubilanglah begini

🙆: aihh jelek ini, kuku nda bisa gambar

👧: mana liat? bagus ji ini kuku, bagus ji

🙆: (dalam hati "wkwkkwkw")

Di saat itu juga mikir, anak-anak itu sederhana sekali ya yang mereka mau, meskipun gambarnya jelek tapi ndak protes, malah bilang sudah bagus, dan dia happy sekali digambarkan, and I'm so happy see her happy hahahhaa. Then, dia lanjut warnai, dan kuminta dia tulis namanya si karakter (hitung-hitung doi lagi belajar nulis). 

Terus, imajinasi nya anak-anak itu betul-betul tanpa batas. Tidak heran kalau misal anak-anak itu gambar orang cuma kotak-kotak, tapi apa yang mereka lihat gambar itu hidup dan bergerak seperti di pikirannya mereka, sangat amazing dan sangat menyenangkan. Anak-anak nda selalu butuh gambar yang perfect, mereka bisa mengimajinasikan gambar yang biasa-biasa aja itu jadi gambar yang bagus menarik seperti yang mereka bayangkan. Padahal saya kek aduh gambar apa ini hahahaa hancur bettt, tapi ternyata si bocilnya sudah hepi sekali.

Jadi amazed aja begituu hahahhaa karena ternyata biar gambar yg kita buat tidak sempurna tapi mereka sudah senang karena mau digambarkan, terus juga melihat itu jadi kayak kita juga dulu begitu mungkin ya tapi sekarang sudah sebesar ini, banyak yang berubah, tapi seru ya dulu jadi anak-anak. Mungkin kadang-kadang kita perlu jadi kayak kita yang anak-anak dulu, berimajinasi dan happy dengan sesuatu yang sederhana wkwkkww

Sebagai informasi yang tidak penting, ini gambar yang kugambarkan (bukan saat percakapan di atas, ini sudah gambar kedua kali tapi ya kurang lebih kyk begini modelnya HAHHAA). Kuku gambar, doi warnai dan tulis nama karakternya.


Stay happy yaa kiddosss!!!
I'll see you soon again hehehe

See you at [seratus enam]
Cheers,
Em 🙆

Sunday, 23 November 2025

[seratus empat] semua orang adalah orang

every person is a human being

Hello guys, tidak terasa sudah penghujung November, sedikit lagi kita akan menyambut tahun yang baruuu yuhuuu

So, hari ini mau nulis nulis dulu sedikit wkwkkww

Kebanyakan topik yang saya tulis di blog ini muncul randomly dari momentum-momentum kecil, yang tiba-tiba memberi kesan tersendiri terus memunculkan pemikiran-pemikiran random wkwkwk, nah yang ini termasuk salah satunya.

Jadi, beberapa waktu lalu, saya habis menghadiri salah satu presentasi dari seseorang yang posisinya cukup tinggi di kantor, and I admire her so much, kyk kerennya ini ibuu kwkwkw

Nah, singkat cerita (wkwkwk singkat memang ji ini postingan HAHHA), ada satu momen yang membuat saya menyadari sesuatu. Saat presentasi itu, menurut pandangan subjektif mata saya (jadi ini klaim sepihak ygy, saya ndaktau ibunya merasakan apa saat itu), ibunya terlihat cukup gugup, kelihatan dari cara beliau menyampaikan materinya (however, the meeting ended very well). Ini hanya sebuah momen kecil dari presentasi dan diskusi selama kurang lebih 3-4 jam itu. Kebetulan waktu itu pesertanya juga ada dari eksternal dan ada yang bertanya-bertanya gitulah. Jadi memang tense nya beda ya hahahaa. Di momen yang sangat singkat itu, saya melihat sisi "manusia" nya ibu ini. Saya jadi berpikir, wah ibu ini, yang pastinya dikagumi banyak orang, bisa juga ada gugupnya di depan khalayak. 

Then, what's next?

Sejujurnya saya juga masih bingung mendeskripsikan apa yang saya rasakan waktu itu, belum nemu kata-kata yang pas. Tapi, setelah berpikir beberapa hari sebelum menulis ini, mungkin saya akan lihat dari 2 point of view. Yang pertama, dari sisi sebagai ibu ini, bahwa bagaimana pun seseorang, sehebat apa pun dia, dia adalah seorang manusia, yang pasti tidak lepas dari sifat-sifat manusia yang tidak sempurna dan sangat wajar. Misalnya gugup, atau ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, which are normal. Setelah kejadian itu, bukan berarti kekaguman saya berkurang, tapi saya malah jadi rispek dan bisa mengerti memahami dan memaklumi sisi "kemanusiaan" ibu ini. Jadi, kayak siapapun itu, lihatlah dia sebagai seorang manusia, dia bukan orang yang sempurna, jadi kalau ada kesalahan minor 1 2 ya itu wajar dan tidak menganulir hal-hal hebat yang pernah ia buat. Yang pov kedua adalah mungkin pelajaran yang bisa saya ambil, bahwa saya juga manusia. Apalagi posisi saya masih jauh di bawah ibu itu ya, memang mesti banyak belajar. Dan bahwa, doing a mistake itu tidak apa-apa loh. Memang itu manusiawi. Orang sehebat itu aja bisa melakukan kesalahan kecil dan orang lain pasti bisa memaklumi. Jadi kalau kita melakukan kesalahan kecil, itu tidak apa-apa, bisa dijadikan pelajaran, dan orang-orang yang tau kita, pasti akan memaklumi, karena itu bukan kesengajaan, itu hanya memang sisi manusia kita saja, tidak sempurna dan tidak akan pernah.

Ya kira-kira begitulah yaaa hahahaa semoga nyampe apa yang mau saya sampaikan. Karena kita juga manusia, mari kita memanusiakan sesama manusia. Termasuk di dalamnya tidak over ekspektasi dan tidak under estimate. Secukupnya saja. 

That's it. And I'll see you at [seratus lima],

Cheers,

Em 🙆


Saturday, 1 November 2025

[seratus tiga] the matter of winning

Winning is for everyone, but not every time

Hello everyone, welcome Novemberrr yuhuwww

Ternyata postingannya keskip di Oktober yak wkwkw

Kali ini nulisnya pas di jalan wkwkwk

Oke lesgoo, kali ini mau menulis terkait hal-hal yang kadang kita dapatkan, kadang tidak kita tidak dapatkan. Just a short one, tapi kayak lagi ngena huehehe.

I, sometimes, think that in some aspects of life,  I can win, but in another aspect, I lost. This most likely happen to others, too.  

Then, this thought just came yesterday, that, maybe, in every game in this life, sometimes you win, sometimes you lose. If people say not everyone can win, I would say that winning is for everyone, but not every time. This is kind of a little bit optimistic, you can win any games, if you try, but it is not possible to win every time. Even Valentino Rossi can be defeated.

It is okay to lose. You can win, maybe, next time, even no one knows when the next time is. And the plot twist maybe, lose is win, who knows.

Ya begitulah, hehe.

See you at [seratus empat],

Enjoy the rest of 2025, two months to go :))

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️

Sunday, 14 September 2025

[seratus dua] jika tidak hitam, maka belum tentu selalu putih

Life is not as clear as black or white

Hitam dan putih adalah warna yang mutlak. Hitam adalah ketiadaan cahaya sedangkan putih ada sumber dari segala warna ketika disinari oleh cahaya. Tetapi, hidup tidak sesederhana definisi kedua warna tersebut. 

Tidak jarang, kita melihat sesuatu di kehidupan ini hanya sebatas hitam dan putih. Contohnya "kita tuh ga perlu lah dengar kata orang lain tentang kita". Kadang, kesan yang kita ambil adalah "oh iyaa, ga perlu kita dengar kata orang lain, suka-suka gue aja lah". This is not how this world works, right? Tidak mendengarkan kata orang lain, bukan berarti bisa berbuat sesuka hati kita. This is too unemphatetic. Atau contoh lain "kita tuh harus selalu baik sama orang", yang ditangkap adalah "oke apapun yang terjadi, kita harus baik, di kondisi apapun harus tetap baik". Hmmmm, gimana ya, kan gak bener juga yaa jadinyaa..

*disclaimer a little bit: I don't really like those two examples, but my brain is not braining right now, but if I wait until my brain braining again, maybe this will be a draft forever wkwwkk so hope you understand and get my point and can find your own examples that fit better hehee

Lanjut,

Jadi seperti itu guys, ada hal yang harus dipertimbangkan dalam menyerap suatu informasi termasuk di dalamnya insight ataupun nasihat. Ada satu kata kunci yang bisa membuat kita tidak melihat sesuatu secara hitam dan putih, I think it is called "wisdom". Ya, dengan kebijaksanaan, kita bisa mengerti batasan suatu hal, bukan ekstrim kiri atau kanan, tapi bisa saja di tengah-tengah, tidak terlalu kiri, tidak pula terlalu kanan. 

Di contoh yang pertama, mungkin benar kita tidak usah mendengarkan kata-kata orang lain, kalau itu ternyata hanya bersifat subjektif, tidak benar, atau tidak berdampak langsung ke orang lain. Misal orang yang mengomentari penampilan orang lain. Masalah penampilan ya kembali ke orang memakai ya, senyamannya, kalau di Indonesia, harus memperhatikan norma-norma juga misalnya. Tapi, kalau ada orang yang mengomentari etos kerja kita, yang mana sifatnya kritik membangun, mungkin bisa dipertimbangkan. Apalagi untuk kebaikan atau improvement kita juga. Jadi, tidak semua ditolak, tapi tidak semua juga diserap, nanti bisa gila.

Di contoh yang kedua pun sama. Benar kita harus baik sama orang, tapi ketika kita baik tapi kita ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik, mungkin kita harus berpikir ulang. Seperti kita memberi bantuan ke orang lain, tapi bantuan itu malah dipakai untuk hal-hal yang buruk. Tentu kita jadi berpikir ulang kan ya. Jadi, memang perlu bijaksana.

Tidak bersikap baik bukan berarti bersikap jahat. Tidak seperti itu. Karena hampir semua hal dalam hidup ini adalah spektrum. Tidak bisa terlalu cepat menyimpulkan, ini hitam atau ini putih. We should go deep into something and define in which spectrum it should be. This will make thimgs more understandable, applicable, and make more sense. Intinya adalah bijaksana, jangan cepat mengambil kesimpulan, it will always be a win-win solution or option.

Kira-kira begitu yaaa, this is not a good one, but I will let it be released.

Sampai ketemu lagi di [seratus tiga],

Have a good day.

Cheers,

Em 🙆

Saturday, 13 September 2025

[seratus satu] Question to mom (1) : Have you ever woke up late?

Hello everyone!

This is a new series of my posts, yang dinamakan "Question to mom". Random aja sih kepikiran buat nambah-nambahin "series" kayak gini hahahhaa

Ini gara-gara pernah suatu hari kakak ipar saya cerita kalau pagi itu dia tuh terlambat bangun dan jadinya si bocil ponakan saya telat juga dan buru-buru siap-siap ke sekolah wkwkkw terus saya pun jadi kepikiran kan ya, dulu tuh mamak saya pernah telat gak yah, dan mungkin ada pertanyaan-pertanyaan lain yg I wish I could ask. So, mungkin menarik juga buat dikulik lewat tulisan. 

And then, after a crazy week becoz encok saya tiba-tiba kambuh entah kenapa, writing about mom feels like "good", because when you're not feeling well, you seems to miss your parents wkwkwk

A disclaimer that pertanyaan-pertanyaan yg muncul ini sifatnya hanya berandai-andai, I also don't know whether I will ask her if she were here. So, it's just kind of a release for me to write this things down, and also, as usual, it's gonna be a reflection when I become a mom someday :)

--

Okay, let's go back to the topique, telat bangun, ya pastii kita semua pasti pernah telat bangun ya, entah karena mungkin kecapean, atau tidurnya telat, atau ketiduran saat tidur untuk kedua kalinya (lima menit lagi deh, trus jadi 1 jam wkwkw). 

Apakah mama saya pernah telat bangun? Kira-kira apa yang dirasakan ketika telat bangun itu? Rasa bersalahkah atau apa? Apa yang dilakukan setelahnya? Bagaimana respon orang rumah ketika itu terjadi?

Seingatan saya, mama saya sepertinya pernah bangun telat tapi masih bisa diselamatkan wkwkwk karena tidak berdampak misalnya ke anaknya yang jadi bolos sekolah atau tidak ada sarapan di meja makan.

Life do changes when you become a mom. Karena tindakan seorang ibu bisa berdampak ke keluarga, anak-anak. Pada akhirnya seorang ibu pun adalah manusia biasa. Even you woke up late, you're still an amazing mom.

Why do I want to ask this question? Hanya mau dengar ceritanya saja, siapatau ada cerita lucu ye kan wkwkkw

At the end, this is gonna be an unanswered question, sama seperti pertanyaan susulan lainnya.

Happy weekend everyone, and mom, I always miss you :))

See you at [seratus dua]

Cheers,

Em 🙆




Wednesday, 27 August 2025

[seratus] don't be a waste

Kita pasti sudah familiar, dalam sebuah proses pembuatan sesuatu, pasti selalu ada lebihan yang dibuat. Sebuah pabrik roti, kalau ada pemesanan roti 100 buah, mungkin akan buat 110 buah. Begitupun, di industri farmasi, jika permintaan 500 kg, mungkin akan dilebihkan 550 kg. Saya yakin, hal ini juga terjadi di kondisi-kondisi lain, bahkan yang lebih sederhana. Contoh lain, ketika kita membuat hajatan, tamu 80 orang, maka makanan yang kita pesan mungkin 100 paket. 

Kenapa dilebihkan? Ya, untuk mengantisipasi, jaga-jaga kalau-kalau ada yang rusak, atau kalau-kalau tidak cukup.  

Dalam suatu proses produksi ada yang dinamakan yield. Yield berarti perolehan kembali. Input 100, output 90, maka yield 90%. Input 100, output 100, maka yield 100%. Yield 100% itu jaraaang sekali bisa dicapai. Entah ada yang rusak, ada yang error, salah produksi, nyangkut di mesin, nyangkut sana dan sini, yang membuat tidak semua yang masuk bisa keluar.

Analogi seperti ini juga ada di kehidupan sehari-hari. Seringkali, kekurangan untuk mencapai yield 100% itu adalah semua pemakluman. Dari 100 kue yang dibuat (intermezzo, 100 mulu daritadi wkwkwk soalnya angka paling gampang dan sempurna hehe), *lanjut* ndak apa-apa kalau 10 nya jelek. Dari 500 karyawan, performa outstanding hanya 480 orang, 20 nya tidak maksimal, still 480 out of 500 is considerably amazing tho. Saya tidak mengatakan bahwa yield 90% itu hal yang buruk ya. It's acceptable, tapi point nya bukan di situ. 

Mungkin ini agak membingungkan, tapi yang ingin saya highlight adalah dalam hidup ini, apapun role kita, jadilah output. Jadilah orang yang memenuhi yield itu, jika yield nya 90% jadilah bagian dari 90% itu, jangan jadi yang 10%. Jadilah roti yang mengembang, jadilah produk yang dikemas dan lulus QC, jadilah granul yang lolos dari ayakan. Jangan menjadi yang nyangkut di mesin (inti post ini cuma ada di paragraf ini WKWKWK).

Entah kenapa hari ini, hal ini sangat berkesan untuk saya. 

Kadang-kadang ada yang yasudahlah begini-begini saja, tidak apa-apa seadanya. Atau kadang-kadang saya dalam kondisi malas dan tidak well-performed. And this makes me think, don't be a waste. Just don't. Jangan jadi bagian yang dimaklumi, jangan jadi bagian yang tidak terambil. Tapi jadilah bagian dari yield itu. Begitulah ya kira-kira. A small reflection di akhir bulan (di tengah-tengah kebingungan dan keterheran-heranan melihat kondisi negara ini). 

Wadidaw I never expected this will be my one-hundred post hahhaa padahal banyak draft yang nanggung tapi entah kenapa kayaknya ini lagi pas buat ditulis. Hopefully, a right post at the right time. 

Congratulations to me for achieving the hundredth post! Yuhuuu

I'll see you around, at [seratus satu] hehee

Cheers,

Em 🙆

Friday, 25 July 2025

[sembilan puluh sembilan] luka yang tidak sengaja, adalah luka

gentong yang kena kepala, bukan karena dipukul pun, tetap sakit

After all this time, it takes me back to realize that wisdom is the highest. Kata highest ini sengaja dipilih untuk menggambarkan yang paling paling paling. Kebijaksanaan adalah yang terpenting, yang teratas, kalau bisa segalanya, kubilang dialah segalanya.

Setelah beberapa kejadian sehari-hari, membuat saya berpikir (memang naknya suka berpikir hahaaa makanya banyak pikiran *eh wkwkw) kalau ternyata ada satu hal di atas kebaikan, satu hal di atas semua yang baik-baik, itulah dia kebijaksanaan.

Bijaksana, gampang bilangnya, susah menjadinya. 

Bijaksana itu kayak apa yah, penstabil, yang membuat kita tidak menyimpang terlalu ke kanan, tidak terlalu ke kiri, di tengah, stabil.

Orang baik, bisa jadi jahat, kalau tidak bijaksana.

Sebuah fenomena menarik yang saya amati belakangan (sebelumnya juga sudah pernah, cuma baru kepikiran aja hahaha), adalah suatu hal yang dilakukan tanpa niat jahat, bisa jadi output nya menyakiti orang lain. Menarik kan? Selama ini saya (atau banyak dari kita) berpikir, selama kita berbuat baik, aman lah barang-barang. Tidak usah berpikir kata orang, selama kita baik, gas saja. 

Apakah salah? Tidak juga. 

Saya punya sebuah cerita. Fiksi tapi hehe

Sebut saja mbak Bubu (ga ada ide nama hahaa), ia baru saja membeli sebuah mobil baru, terus tetangganya ini baru kena pemutusan hubungan kerja. Di satu sisi, karena mbak Bubu ini sangat senang dan bangga dengan mobil barunya, dia jadi suka dan sering beraktivitas dengan mobil barunya di depan rumah. Biasalah euforia punya mobil baru pada umumnya, apalagi hasil jerih payah sendiri. Rajin di lap, suka di nyalain di depan rumah, dan sering dibicarakan ketika ada tetangga yang lewat. Namun, di sisi lain, ternyata tetangga mbak Bubu ini (sebut saja mas Dudu) menjadi sedih, sedikit iri, dan terganggu dengan aktivitas mbak Bubu itu.

Ladies and gentlemen, saya bukan penulis cerita yang baik, mungkin cerita di atas tidak netral dan kurang representatif. Tapi, ..

Dari cerita di atas, apakah mbak Bubu ini salah? tidak, dia hanya sedang menikmati hasil jerih payahnya selama ini, tidak ada niat jahat sama sekali. Lantas, apakah mas Dudu ini salah? tidak juga, ia hanya sedang berada di kondisi yang membuatnya merasa demikian. 

Tidak ada yang salah, hanya memang kondisi nya demikian.

Tapi, kadang saya berpikir, di beberapa situasi, saya berada di kondisi mbak Bubu itu, senang yang mungkin berlebihan hingga membuat orang-orang di sekitar saya mungkin merasa tidak nyaman, entah dengan alasan apapun itu. Sehingga, mungkin benar, perlu kebijaksanaan di segala kondisi. Sekali lagi tidak salah, tapi apa salahnya kalau kita (re: saya) mencoba melihat dan memahami sudut pandang orang lain. 

Counter argument: tapi mas Dudu harusnya juga bisa ngerti dong orang lain?! Lho, ya betul, kalau kita berada di posisi mas Dudu kita juga harusnya bijaksana dan bisa memahami orang lain.

Tapi, kita tidak bisa menjadi dua pihak sekaligus, kita akan berada di salah satu pihak. Dan, rasanya, lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di posisi yang nyaman.

Coba bayangkan, lebih mudah mana, kamu habis gajian dan kamu diminta memahami temanmu yang moody, atau kamu habis diputusin pacar lalu diminta memahami temanmu yang moody?

Pasti akan lebih mudah menyesuaikan diri ketika kita berada di pihak yang 'lebih diuntungkan'. At that point, mengalah sedikit won't hurt. Dan, dalam hal ini, menurut saya, awal mula kebijaksanaan bisa timbul adalah rasa empati. Bisa memahami, menaruh kaki ini di sepatu orang lain, meskipun tidak bisa cocok dan pas, tapi minimal kita bisa rasakan, sepatu dia tuh gimana sih. Alas sepatunya tipis kah, bahannya kasar kah, tali sepatu nya kuat tidak. Dengan memahami orang lain, kita bisa lebih mengontrol diri dan menghindari sesuatu yang berlebihan. Senang berlebihan, excited berlebihan, pamer berlebihan, tampil berlebihan. It's not a mistake to feel happy, excited, confident, but when it's too much, it's something that you should aware of. 

Perumpamaan lain ketika kita melempar batu ke arah acak, tidak ada niat jahat, tapi ketika batu itu mengenai orang lain, apapun niatnya, tetap saja rasanya sakit wkwkwkw

Ya begitulah, ini refleksi juga sih, kadang-kadang lupa itu manusiawi, tapi mawas diri itu mutlak untuk seorang manusia. Jadi, harus selalu awas biar gak los aja hehehe

Akan ada rasa bahagia yang berbeda, ketika pengendalian diri kita membuat orang lain nyaman dan bahagia.

This post is quite serious, but I think this is real serious tho :))

See you at [seratus], (wow sudah 99 ges wkwkw)

Cheers,

Em 🙆

Friday, 4 July 2025

[sembilan puluh delapan] kesempatan (mungkin) tidak datang dua kali

Me is back again hehehee

Kali ini ndak mau tulis panjang-panjang, yang pendek-pendek saja hahaa

Jadi, kali ini mau bercerita sedikit tentang 'kesempatan'. Ada yang bilang kesempatan itu tidak datang dua kali, tapi ada juga orang yang bilang akan selalu ada kesempatan kedua 

Menurut saya, bisa dua-duanya wkwkwkkw

Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi adalah setiap kesempatan belum tentu datang dua kali. Bahkan ketika you have all the things in the world, you still can miss the one and only opportunity that comes to you. 

Mungkin teman-teman pernah mengalami, karena saya pernah hehee, ingin mengikuti suatu acara, sangat ingin, sudah ditunggu-tunggu jauh-jauh hari, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, ternyata eh ternyata, pas hari H ada halangan tertentu yang membuat kita tidak bisa mengikuti acara itu. 

Singkat. 

Tapi kalau dipikir-pikir kembali, betapa berharganya suatu kesempatan itu. Meskipun kadang-kadang suka disepelekan. 

Merasakan bahwa wah bisa gitu ya, kita mau dan sudah merencanakan semuanya tapi sekejap hilang. Hal ini sering saya rasakan ketika saya ingin mengikuti atau menghadiri suatu kegiatan tapi karena beberapa alasan yang tidak bisa ditinggalkan, jadinya saya tidak ikut. 

Sebaliknya, ketika saya menghadiri suatu kegiatan, sekelibat terpikir wah beruntung nya saya, saya bisa hadir di sini, ketika orang lain, mungkin mau tapi tidak bisa. 

Kesempatan dan jodoh berkerabat erat ya nampaknya hehhee

Jadi begitu ya guys, yang mau saya bilang adalah kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa kesempatan yang kita ambil itu kesempatan yang berharga sekali yang mungkin tidak datang kedua kalinya. Dan untuk semua kesempatan yang datang, pastikanlah bahwa tidak ada yang kita lewatkan dengan sia-sia. Mungkin karena itulah kata orang, bersiaplah selalu, agar ketika kesempatan itu datang, momen itu datang, you'll grab it fast. Di sisi lain, ketika sudah diusahakan tapi memang bukan jodohnya, berarti memang bukan untuk kita. 

Just to remember how precious it is for one opportunity in life ..

Agak kureng ya tulisan ini, tapi ya sudahlah ya pemanasan lagi setelah off 1 bulan haahhaa

I'll see you at [sembilan puluh sembilan] then.

Cheers,

Em 🙆

Monday, 12 May 2025

[sembilan puluh tujuh] maybe the point is just choosing to stay ..

maybe the point is just choosing to stay, no matter what.

this is gonna be a short one.

Pagi ini karena libur, saya dan seorang teman pergi berolahraga pagi, jalan pagi sih lebih tepatnya hehehee sepanjang jalan kami banyak bercerita, topiknya beragam apa saja, dari yang viral di sosial media, aktivitas kemarin apa saja, sampai cerita random yang muncul karena melihat sesuatu di jalan. Seru. Kemudian, ketika di jalan pulang, ada momen di mana ceritanya habis atau mungkin juga sudah lelah, lalu kami diam-diam saja sambil melihat handphone masing-masing atau melihat ke arah kaca jendela mobil yang kami tumpangi

Sebagai seorang yang cukup peka (malah kadang-kadang terlalu peka menurut saya hmmm), suasana hening itu kadang-kadang membuat menjadi canggung. Kemudian, saya jadi berandai-andai, apakah karena ada momen diam-diaman ini berarti saya dan teman saya tidak akrab atau tidak cocok? nampaknya tidak juga. Apakah saya jadi tidak berteman lagi dengan dia? nampaknya tidak mungkin juga. Karena, sepertinya, seorang teman yang baik adalah teman yang tetap ada seperti apapun kondisi teman dan pertemanannya. (Disclaimer: we're not talking about criminals, toxic, and other "clearly need to avoid" things).

Kita berteman untuk berteman. 

Begitupun di hubungan lainnya.

Saya mencoba mengambil sebuah kesimpulan adalah, mungkin, kunci dalam semua hubungan yang bertahan itu adalah orang-orang di dalamnya memilih untuk tetap tinggal, apapun keadaannya. Kadang keadaannya buruk, kadang keadaannya baik, kadang keadaannya seru, kadang keadaannya awkward, kadang kita lelah, kadang mereka lelah, kadang kita excited, kadang mereka excited. Just be there, accept, compromise, understand. Nothing lasts forever. 

Stay as long as you can ..

See you at [sembilan puluh delapan]

Cheers,

Em🙆




Sunday, 11 May 2025

[sembilan puluh enam] ternyata jalan yang tidak familiar itu ..

Ternyata, jalan yang tidak familiar itu sulit dan terjal, meskipun kita tahu ujungnya ada bahagia yang lebih luhur.

Pilihan, kalau ada 2, akan ada yang lebih familiar dimana akan dipilih oleh lebih banyak orang alias mayoritas. Dan akan ada yang lebih tidak familiar dimana hanya akan dipilih oleh segelintir orang alias minoritas.

Bukan benar dan salah. Ini hanya sebuah pilihan, tentu dengan konsekuensinya masing-masing.

Terkadang dan ternyata, pilihan yang tidak familiar itu lebih sulit dijalani. Sulit dijelaskan dan sulit dipahami orang lain.

Sekali lagi, bukan berarti pilihan itu salah. Itu hanya tidak familiar.

Begitu dulu terkait ini, kalau sudah agak lengkap puzzle nya baru akan diuraikan kembali.

Have a blessed weekend.

Sampai ketemu di [sembilan puluh tujuh]

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️

Sunday, 4 May 2025

[sembilan puluh lima] welcome to the club for the 95s

Yaaak hari ini mau melanjutkan tradisi (eaa) yang sudah dilakukan selama hmmm mungkin 5 atau 6 tahun terakhir kali ya hahahaa pas sekali ya ini post ke 95 untuk saya yang lahir di tahun 95 hahahaa

So, welcome to the club of 30s for myself wkwkwkk dilihat dari sisi manapun ini adalah pertambahan usia, daripada "meratapi" dekade usia yang baru ini, kayaknya lebih patut untuk disyukuri bahwa masih diberi waktu sejauh ini.

Kalau ditanya rasanya apa? Ya sama aja seperti hari-hari sebelumnya. Bukan berarti ketika usia 30 langsung mendadak kaya raya gitu trus ga kerja wkwkwk ga juga kan. Untungnya hari ini hari Minggu jadi ga kerja, kalau hari ini weekdays, ya masuk kantor juga hahahaaa

Tapi, memang, karena ini adalah momentum, serupa dengan tahun baru atau perayaan sejenis lainnya, maka menjadi waktu yang tepat untuk refleksi dan introspeksi, apalagi hari ini tidak spesial buat semua orang, ya ga si hehee. 

Pertama-tama (padahal udah paragraf ke-5 hahaa), selamat ulang tahun buat saya sendiri, selamat memasuki dekade yang baru yaa, wishesnya nanti di bawah, mau cerita yang lain dulu.

Jadi, sebenarnya, ulang tahun kali ini cukup berbeda secara personal, kenapa bisa demikian? karena di beberapa waktu, saya merasa momen quarter life crisis itu malah muncul di jeda perpindahan usia dari 29 ke 30 ini. Banyak sekali, saya ulang, banyak sekali, pertanyaan, kebingungan, keresahan yang suka berujung pada kekesalan yang malah muncul di hampir setahun belakangan. Penyebabnya apa? Tidak tahu juga. Selalu berusaha meng-absorb itu semua dulu, (meskipun tidak jarang jadi mengubek emosi), tapi kemudian mulai melihat dari sisi-sisi yang berbeda. Hingga sejauh ini kesimpulan yang saya ambil adalah mungkin ini adalah fase belajar yang baru. Mungkin fase ini saya alami 4-5 tahun lalu kemudian mengalami fase stabil hingga sekarang. Tapi kan, kita tau bersama tidak ada yang kekal adanya. Nah, mungkin agak syok karena udah lama ga ngalamin, kayaknya sih gituu wkwkkwwk, jadi mungkin sependek analisis dan perkiraan saya ini adalah fase belajar yang baru, yang seperti fase belajar pada umumnya itu banyakan susahnya daripada gampangnya, banyakan gagalnya daripada berhasilnya, banyakan hambatannya daripada lancarnya. Tapi, saya tau juga, kalau di fase belajar sebelumnya saya berhasil dan bisa sampai sekarang, maka di fase belajar yang sekarang saya juga pasti bisa. Syaratnya sesederhana, asalkan mau belajar. Jadi, di momen yang baik ini, refleksi utama saya adalah belajar lagi, dengan tenang, dan tekun. 

Di aspek kehidupan lain pun, masih banyak yang harus ditingkatkan. Tapi memang semua tentang belajar. Belajar hidup lebih sehat, lebih waras, dan lebih sadar. Belajar punya pola hidup termasuk di dalamnya pola makan dan pola tidur yang sehat. Belajar memiliki pola gerak yang baik misalnya pergi olahraga yang rajin. Belajar mengatur perasaan, emosi, stres, kejengkelan. Belajar lebih hadir di sini dan saat ini. Tak lupa pula, belajar merawat diri misal pake skin care wkwkwkw. Karena pilihan katanya masih 'belajar' maka tentulah ini sebuah proses yang masih berjalan. Dan mungkin akan terus berjalan sampai seterusnya. 

Di sisi lain, tahun ini juga adalah tahun merayakan keberanian. To embrace the fear (ciaelah). Berani menghadapi ketakutan yang selama ini ditakuti yang entah apa alasannya. Berani bertindak selayaknya orang besar wkwkw sotoy kali aku ini, padahal cuma ke dokter gigi doang hahahaa but I do appreciate it wkwkwk 

Ya begitulah kira-kira highlightsnya hahahaha beneran udah tua yak wkwkwk toa mi ramang hahahaa

Jadi, aspirasi atau wishes ulang tahun kali ini adalah lapangkanlah selapang-lapangnya ruang untuk belajar, ruang untuk menerima, ruang untuk mindful, ruang untuk melihat diri sendiri dan sekeliling, ruang untuk berbahagia, ruang untuk cinta kasih, dan ruang untuk memperbaiki diri. 

Semoga selalu menjadi dan diketemukan dengan hal-hal baik. Terima kasih sudah berusaha dan selamat untuk semua yang sudah dicapai sejauh ini.

Make your heart wide, as wide as an ocean that holds the rain. 

Make your mind clear, as clear as the sky without clouds. 

Selamat berproses kembali dan selalu.

Sampai ketemu di [sembilan puluh enam]

Cheers,

Em🙆

Friday, 25 April 2025

[sembilan puluh empat] eksistensi orangtua

holaaa, mau cerita sedikitt, ga panjang kok wkwkkw
Jadi, minggu lalu sempat nongkrong di salah satu cafe di mall sambil baca buku kemudian ada satu kejadian yang sangat singkat tapi cukup menggelitik saya. Sebagai orang yang suka mengamati kejadian sekitar, hal ini menjadi sesuatu yang menarik wkwkkww

Jadi, ceritanya, ada seorang ayah dan anak datang ke cafe tersebut. Setelah memesan dan mengambil minuman, mereka duduk di suatu meja. Tidak lama kemudian, datanglah ibunya (harusnya sih ibunya kalau mereka sekeluarga wkwkwkw). Kemudian, si anak dan ayah ini beranjak dari kursinya. Nah, anak ini membawa botol minum kayak tumbler gitulah, terus ada megang tentengan juga kalau ga salah. Terus karena tangannya cuma dua, dan minuman yang tadi dia pesan itu lebih perlu untuk dipegang, maka botol tumblernya itu diapit di lengannya (taulah ya gambarannya, mirip orang mengapit dompet gitulah).

Di sini nih yang menarik, karena liat anaknya bawa banyak barang, si ibu lalu mengambil botol tumbler itu dari anaknya. Terus, botolnya diapit di lengan ibunya, karena ibunya juga bawa beberapa tentengan wkwkkwwk

Nah terus, saya jadi mikir, lha apa bedanya? botol tumbler itu hanya berpindah dari apitan lengan si anak ke apitan lengan si ibu. Mungkin masih mending kalau botol itu berpindah ke genggaman tangan, atau ke dalam kantongan atau ke dalam tas, tapi ini sama aja, botolnya tetap diapit.
Tapi, ketika pikiran itu muncul, pikiran lain juga mengikuti yaitu ternyata itulah naluri orang tua, gak pernah mau liat anaknya kesusahan atau keribetan, meskipun dirinya sendiri ribet, tapi orang tua itu lebih rela dirinya yang ribet daripada anaknya. Wow banget, jadi terhura :" 

Kemudian, saya jadi ingat sebuah podcast yang pernah saya dengar. Mungkin teman-teman juga tahu podcast Thirty Days of Lunch. Info tidak pentingnya adalah ini adalah podcast pertama yang saya dengar dan ternyata bagus hahahaha
Oke lanjut, jadi saat itu guest nya adalah Dedy Vanshopi, jujur saya tidak tau abang ini siapa, kalo tidak salah seorang seniman. Tapi, ada potongan kalimat yang dia katakan bahwa eksistensi orang tua itu memberi. Jadi, kalau kita sudah besar sudah sukses, janganlah kita hilangkan eksistensi orang tua kita ini. Tetaplah meminta bantuan, tentunya dengan porsi yang tepat dan bijaksana, sehingga ia tetap memiliki eksistensi dan bisa berbahagia (tentunya selain melihat kita sudah sukses juga misalnya).

Setelah saya pikir, hm, benar juga. 

Kalau kita jadi orang tua, mungkin akan melakukan hal yang sama juga. A child will always be a child for the parents. Orang tua akan selalu berusaha memberikan apapun yang dia bisa kepada anak, yang mana memberikan dirinya kebahagiaan. 

Ya, kira-kira begitulah ya, sebuah kejadian yang sangat sangat sangat singkat, tapi membuat saya jadi berpikir dan refleksi kembali.

Gitu aja dulu ya hehehhe
Sampai ketemu di [sembilan puluh lima] *wah sedikit lagi seratus hehee

Cheers,
Em 🙆

Tuesday, 1 April 2025

[sembilan puluh tiga] the childhood that goes to the adulthood

Yakk, karena ini libur lebaran, mari kita ambil waktu sejenak buat menulas menulis wkwkwk

Padahal pengen nonton drakor, tapi posting dulu deh satu hahahah

Jadi, tulisan ini sebenarnya triggernya gegara saya sering melihat fenomena yang ada di masyarakat sekarang kwkwkw sebagai orang yang sudah dewasa, dan sudah banyak orang-orang seusia saya yang sudah jadi bapak atau ibu, sudah jadi orangtua. Yang menarik adalah orang tua zaman sekarang itu beda dengan orang tua kita dulu.

Mungkin ada yang biasa atau pernah lihat di timezone, saya jujur gatau apa nama permainannya, tapi permainannya itu sering dimainkan sama bapak-bapak atau ibu-ibu, yang jelas bukan anak-anak. Game nya itu yang kita pencet untuk menjatuhkan semacam roll yang ada tulisan angka, dan platenya itu akan bergerak maju mundur, nanti roll yang jatuh ke bawah itu yang akan mengeluarkan tiket. Ya sejenis itulah semoga ada gambaran hahaha klo gak ada, silakan ke timezone dan lihat sndri yang rame bapak-bapak ibu-ibu, kemungkinan besar itulah yang saya maksud. Itu salah satu contoh fenomenanya. Contoh lain itu adalah banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang masih main game, you named it, DOTA, atau mobile legend klo bapak-bapak, kalo ibu-ibu apa ya, nintendo switch mungkin? atau game lain lah, kalo saya sih masih main candy crush wkwkwkk

Nah, tapi apa yang bisa ditarik dari fenomena ini? 

Pertanyaan yang timbul di pikiranku adalah kenapa fenomena ini tidak ada di orang tua saya dulu, atau di generasi orang tua saya?

Saya gak tau sih, tapi orang tua saya tidak main game hahahha dan saya lihat banyak orang tua lainnya pun demikian. Malah beberapa orang tua mungkin suka 'komplain' kalau liat anaknya (yang sudah jadi orangtua juga) masih suka main game. 

And then, what I think is, kita itu adalah orang atau individu yang akan terus membawa memori yang kita alami sejak kecil hingga dewasa. 

In a simple way, karena dari kecil kita suka main game, then waktu remaja, kuliah kita masih  main game, maka tidak heran, hingga menjadi orang tua pun, kita masih suka main game.

*disclaimer: I am talking in a general context ya, tidak membicarakan kebiasaan yang benar atau salah dan tidak membicarakan jika orang ingin mengubah kebiasaannya. I'm just talking about general phenomenons (in my opinion, jadi ini bisa saja salah, bisa saja benar, bisa saja tidak ada benar dan salah wkwkwk)

Nah, lanjut, mungkin orang tua kita punya kebiasaan lain yang juga adalah yang ia bawa sejak ia kecil atau remaja. Misalnya hobi road trip, atau hobi mancing, atau hobi nongkrong. 

So, fenomenanya sebenarnya adalah sama, namun perwujudannya saja yang berbeda. Padahal, semuanya ini sifatnya expected. Kalau sejak kecil suka main game, maka sampai besar kemungkinan akan tetap suka. Mungkin gamenya ganti, atau jenisnya ganti, tapi excitement of playing games will still be there, I guess. 

*another disclaimer: main game is just a contoh, bisa diganti dengan kegiatan lain apa saja

Jadi, dalam diri seorang dewasa, menurut saya, tidak pernah luput dari masa kecilnya. Dan, menariknya, bagi saya pribadi, kadang-kadang melakukan hal-hal yang saya sering lakukan waktu kecil, misal main puzzle atau main lego, somehow, bring a little happiness. Maybe kind of visiting our childhood, heart-warming hehee

Kira-kira begituu wkwkw menarik sekali yaa

Jadi kadang-kadang, kalau ada orangtua yang sering bilang, sudah besar tapi masih main game, atau sudah besar tapi masih suka kumpul-kumpul sama teman (contoh saja ya), ya menurutku itu wajar saja, karena itu yang dibawa sejak kecil, sejak remaja. It's an expected matter wkwkwkw

Nah, masalah proper tidaknya, dengan mempertimbangkan prioritas-prioritas lain ya itu menjadi topik bahasan yang lain lah ya hahahah

Tapi, kenapa saya tulis ini, menurutku ini menarik karena ya itu tadi seorang dewasa itu bukanlah pribadi yang 180 derajat berbeda dengan masa kecilnya. Ia adalah orang yang sama, yang membawa semua hal yang telah ia lewati sepanjang hidupnya, sejak kecil hingga saat ini. 

I'll see you at [sembilan puluh empat]

Oiya, masih lebaran vibes, so mohon maaf lahir dan batin hehee

Cheers,

Em 🙆

Thursday, 20 March 2025

[sembilan puluh dua] ketika naik tangga ..

Apa yang kamu rasakan ketika sedang menaiki tangga? mungkin engap? ngos-ngosan? encok? pegal-pegal?

Ketika menaiki satu anak tangga demi satu anak tangga, sampai akhirnya tiba di anak tangga teratas, apa yang kamu rasakan? lega? puas? tapi mungkin masih engap wkwkwkw

Ada satu momen hari yang ini yang menggelitik saya hingga ingin menuliskan post ini

jika dianalogikan, ada momen dalam hidup ini yang seperti menaiki anak tangga. Susah? iya, capek? iya, tapi ketika berhasil menaiki satu anak tangga ada rasa puas dan lega, "wah sudah semakin dekat", atau "wah bisa juga nih sampai sini". 

Ketika kita "naik level" dalam kehidupan kita, mungkin rasanya juga sama seperti itu. Ketika sedang berusaha, rasanya penuh lika-liku, kesulitan, tantangan, tidak bisa dipungkiri, pasti tidak mudah. Tapi, ketika berhasil rasanya lega, senang, bersyukur, bangga. 

Sama halnya dengan kita, begitupun orang lain. Berada di anak tangga yang lebih di atas, tidak berarti kita lebih baik, kita hanya lebih duluan. 

Maksudnya apa? 

Kadang-kadang, ketika "naik level", kita suka lupa. Lupa diri. Lupa bahwa it's just a moment in life. Itu hanyalah sebuah dampak dari apa yang kita usahakan selama ini. Boleh bangga, boleh senang, dengan kadar yang cukup. Cukup membuat kita percaya dengan diri kita, cukup membuat kita menghargai dan mengapresiasi semua yang diupayakan selama ini. 

Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah kita yang dulu. 

Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah dia yang usahanya akan sama dengan usaha kita untuk menaiki anak tangga berikutnya.

Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah orang yang suatu hari akan berada di posisi kita. 

Bingung kan bahasannya apa? kwkwwk. Sama.

Teruslah naik tangga, sesekali tengoklah ke belakang, dan ulurkanlah tanganmu jika diperlukan. 

Sampai ketemu di [sembilan puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 16 February 2025

[sembilan puluh satu] a love letter for grandma

A grandmother is a little bit parent, a little bit teacher, and a little bit best friend

Hello everyonee ..

Happy late Valentine anywayy hhhee

There was a sudden something happen at the beginning of this month, that was a little bit shocked. So, on this occasion, just would like to write this post, to appreciate and thank my grandma, the one that I lost this month.

Thank you for everything that you have done.
I know and I see myself that life isn't that easy for you.

Your hardwork and fighting spirit, I think, were the most important traits that you have, that you can give to us. I will keep that as a lesson in my life.

You once told us about your life story, which somehow we might think that hmm it's a fairytale or seems impossible, however, that's real. So, I really understand that your personality was built from how hard your life was, nonetheless, you chose to not to give up and here we are, your children, grandchildren, can live a better life than that you might experience before. 

Sometimes you were angry at us, not tolerate a single mistake, or just told us how to do things, even a small one. But, I deeply know that you wanted us to do the right thing as you were. You didn't want us to make maybe the same mistake. So, we can do things right. 

You always emphasize on essential things. As you lived a hard life, you know which ones are essential and which ones are tolerable. 

In most times, I have to say, you were hard on us hhehee but, I know it's for the sake of our life, for a good life. 

Until the last time, you still show your spirit to work, to move, although I know you felt sick most of the times. 
But now, you are in a better place. 
I hope you'll have a happy life.

Hope to meet you in another life, until we will not be born anymore. 

Be happy there. We will miss you a lot, Ahu.

谢谢外婆

See you on [sembilan puluh dua]

Cheers,
Em 🙆

Thursday, 6 February 2025

[sembilan puluh] time for griefing

grief is the price we pay for love

- Queen Elizabeth -

Sebuah potongan kalimat yang sangat dalam dan indah sekali dari Ratu Elizabeth, mengingatkan kita (re: saya) kalau grief (berduka) itu adalah konsekuensi dari love (cinta/sayang). Kalau kita menyayangi atau mencintai sesuatu maka yakinlah suatu hari kita pasti akan berduka karena hal itu, tentu, saat hilang atau lepas dari kita. 

Last week, I just lost my grandma, my last grannys. Secara total, untuk keluarga dekat, ini yang keempat kalinya kehilangan keluarga terdekat. Selalu ada hal yang saya "temukan" di setiap kehilangan ini. 

Kali ini, entah sebelumnya sudah menyadari atau belum, I really feel that griefing is really hard, man. 

Not how to go through it, tapi ketika kita kehilangan, kita tuh tidak punya waktu untuk benar-benar berduka, merasakan oh saya kehilangan orang terdekat saya.

Lahir dan besar di tengah-tengah tradisi keluarga yang masih kental (bukan hanya Chinese tradition, tapi tradisi orang Indonesia juga), banyak hal yang harus dilakukan ketika kita sedang berduka. Hal teknis, technical things, that make you have no time to grief, at that very moment.

Saya betul-betul melihat dan merasa, orang yang mungkin belum benar-benar mencerna rasa kehilangannya, tidurnya kurang, makannya tidak teratur, tapi sudah harus mengurus banyak hal. Mengurus pemakaman, mengurus printilan-printilan upacara yang harus dilakukan, menghadapi tamu-tamu yang datang, menceritakan kejadian yang terjadi, memikirkan teknis lainnya yang harus dilakukan saat itu. Memikirkan diri sendiri malah mungkin tidak sempat.

Hal-hal itu bukan hal yang buruk. Tapi betul-betul membuat saya merasa it's not easy, it's damn hard. You need to be very dewasa dan bijaksana untuk bertindak di kondisi seperti itu. 

Hal yang sulit adalah bagaimana membuat suatu hal tidak menjadi hanya seperti formalitas. Melakukan upacara ini dan itu, tapi tidak sempat benar-benar merenung dan mendoakan orang terdekat kita yang pergi. 

Griefing needs time and loneliness, as you'll need time to think, to pray, to reflect on every thing. Dan, kadang-kadang saya jadi melihat bahwa susah sekali kita mendapatkan waktu untuk bisa merasakan kedukaan itu. Tapi ya mungkin itulah tantangannya juga hehee

Intinya, (saya kasih keluar dulu logatku wkwkw), saya kayak berpikir ji, karena sibuk sekali ini urus ini itu khususnya kalau banyak mi tamu datang, kayak ndak bisa mki berpikir dengan baik, ndak bisa ki benar-benar mencerna oh ini rasa duka yang kurasa karena pergi mi orang yang kita sayangi. Tapi, bukan juga saya bilang kalau tamu-tamu yang datang melayat itu ndak boleh, cuma menurutku ini sebuah fenomena yang unik saja. Bahwa, manusia-manusia super itu keluarga yang berduka, yang bisa na atur sedemikian rupa dirinya, emosinya, isi kepalanya untuk tetap berfungsi di keadaan yang pasti tidak bisa ki berfungsi maksimal. Jadi, kalau kita yang berduka, kita harus paham ini, dan kalau kita punya kenalan yang berduka, hargailah itu, karena manusia super itu mereka. 

Anyhow, for me personally, griefing is important, doesn't mean to attach to something that's already gone, but to move forward and to live your must-go-on-life better. By griefing, we don't deny the feeling, we hug the feeling and go through it. 

Itu saja celotehan hari ini, cuma mau berceloteh saja hehee

Sampai ketemu di [sembilan puluh satu]

Cheers,

Em 🙆

[delapan puluh sembilan] happiest birthday makk

Happy sixty two mom!

Bulan Februari, bulannya geng aquarius wkwk. Di rumah, ada 2 manusia yang lahir di bulan Februari ini, so dari kecil, bulan Februari adalah bulan yang "noticeable". Yap, dua manusia itu adalah emak saya dan bos saya (tapi bukan big boss hahhaa).

Anyway, for my mom, it's today! Happy birthday mamakkk, if you were still here, you would be 62 wkwkwk sungguh tak terasa waktu berjalan hmmm tidak cepat namun tidak juga lambat. And that means, sudah 14 tahun juga ucapan ulang tahun ini tidak tersampaikan. 

Sama seperti "perayaan" lainnya, ulang tahun is not really a special celebration, but surely for me, it's still special, not about the celebration, but about the day itself. The special day for your special ones. 

For this year, I would like to extend my heartfelt greetings through this post.

Happiest birthday ya makk, I dont really remember celebrating your birthdayy, huff, sorry since at that time I still didnt have any capacity (read: money) to make a special celebration hehehe 

Time goes mom. I have no idea whether you know this matter.

My main issue is still the same, I think that maybe around 3 or 4 posts of mine were talking about this problem. I have no idea where to find the answers of some questions running around my head day by day, from one question to another, sometimes go to another one, and sometimes going back to the previous one, while on the other side, I thought it might be a whole different story if you're still here. Again, this doesn't solve anything, yet I still need to think it myself. Sad story it is.

Putting those aside, many great things happen too!

The main highlight is your grandchild, she is totally amazing hahahhaa you'll be amazed that she can do so many things already wkwkwk 

Life goes on mom. At this moment, not feeling really good. But, this too shall pass (nod).

My wish since then is the same. Wish you have a better life there, a happy one. All the best.

Miss you lots 💛

[see ya, at sembilan puluh]

Sunday, 12 January 2025

[delapan puluh delapan] just how we get used to

hidup adalah proses pembiasaan diri karena hidup tidak pernah lepas dari perubahan

Selamat tahun baru yorobunnn wkwkkw

It took 12 days to post this one hehehe

This thought comes when I think about changes that need to be done. Sejak kita masih kecil, kemudian mulai sekolah SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, nikah dan seterusnya, itu semua proses kehidupan yang mengalami perubahan dari masa ke masa.

Waktu kecil, kita selalu didampingi orang tua, diajar jalan, diajar makan, diajar semua hal-hal baru. Kemudian waktu masuk sekolah, kita punya teman, kita belajar berbagi dengan teman, belajar membentuk kelompok, belajar pertemanan itu apa, persahabatan itu apa, bahkan perselisihan itu apa. Kita mengalami proses perubahan dari yang circle kita hanya orang tua dan keluarga, kemudian mulai bertambah orang-orang asing ini masuk dan menjadi dekat. Dari kita pun tentu melakukan penyesuaian, dari apa yang biasanya kita simpan sendiri, kita mulai belajar terbuka dengan orang lain, mulai menceritakan apa yang kita pikirkan dan rasakan.

Kemudian, ketika semakin dewasa, kita mulai belajar untuk independen, adulting process, mengurus diri sendiri, mengurus orang rumah, mengurus adik, mengurus orang tua, memikirkan masa depan. Terbiasa mengusahakan semua sendiri.

Ketika kita memiliki pasangan, kita kembali belajar untuk berbagi, belajar untuk bersandar. Bahwa ada orang lain yang bisa kita andalkan, yang bisa kita bagikan berbagai cerita dan pemikiran kita.

Ketika (nantinya) punya anak (kalau sekarang belum punya), kita harus belajar juga, membagi kasih sayang, membagi waktu ke makhluk kecil yang sudah pasti sangat kita sayangi. Mungkin jungkir balik, tapi namanya juga belajar.

Jangan salah, perubahan dari independen menjadi dependen sama susahnya seperti dari dependen menjadi independen. Kadang-kadang ada unsur ego nya, dimana kita sudah terbiasa melakukan hal-hal sendirian, kemudian berganti menjadi kita harus menggantungkan hal itu pada orang lain (yang sebenarnya memang bisa diandalkan, dan tidak ada salahnya juga), namun, kadang-kadang harus diakui itu adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu untuk menjadi terbiasa.

Jadi, menurut saya, semua nya itu proses pembiasaan dan pembelajaran dari satu tahapan ke tahapan yang lain. Dan untuk memasuki tahapan baru, kita harus menyiapkan diri, mungkin melepas hal-hal yang dulu kita genggam erat-erat, ataupun mulai meraup apa-apa yang dibutuhkan untuk tahap baru ini. Semua pembelajaran pasti bisa kita lewati dengan ikhlas selama kita tau tujuan mana yang kita ingin capai.

Sama seperti waktu TK kita hanya boleh pakai pensil, kemudian ketika SD sudah boleh pakai bolpen. Dari yang terbiasa menulis salah bisa dihapus, sekarang dengan bolpen harus lebih hati-hati. Dari yang menulis pakai pensil agak buram, sekarang pakai bolpen yang terang dan jelas. Kira-kira begitulah ya, maaf agak berantakan, tapi mungkin ini tidak sesederhana pensil dan bolpen hehe.

Sampai ketemu di [delapan puluh sembilan]

Cheers,

Em 🙆