Thursday, 6 February 2025

[sembilan puluh] time for griefing

grief is the price we pay for love

- Queen Elizabeth -

Sebuah potongan kalimat yang sangat dalam dan indah sekali dari Ratu Elizabeth, mengingatkan kita (re: saya) kalau grief (berduka) itu adalah konsekuensi dari love (cinta/sayang). Kalau kita menyayangi atau mencintai sesuatu maka yakinlah suatu hari kita pasti akan berduka karena hal itu, tentu, saat hilang atau lepas dari kita. 

Last week, I just lost my grandma, my last grannys. Secara total, untuk keluarga dekat, ini yang keempat kalinya kehilangan keluarga terdekat. Selalu ada hal yang saya "temukan" di setiap kehilangan ini. 

Kali ini, entah sebelumnya sudah menyadari atau belum, I really feel that griefing is really hard, man. 

Not how to go through it, tapi ketika kita kehilangan, kita tuh tidak punya waktu untuk benar-benar berduka, merasakan oh saya kehilangan orang terdekat saya.

Lahir dan besar di tengah-tengah tradisi keluarga yang masih kental (bukan hanya Chinese tradition, tapi tradisi orang Indonesia juga), banyak hal yang harus dilakukan ketika kita sedang berduka. Hal teknis, technical things, that make you have no time to grief, at that very moment.

Saya betul-betul melihat dan merasa, orang yang mungkin belum benar-benar mencerna rasa kehilangannya, tidurnya kurang, makannya tidak teratur, tapi sudah harus mengurus banyak hal. Mengurus pemakaman, mengurus printilan-printilan upacara yang harus dilakukan, menghadapi tamu-tamu yang datang, menceritakan kejadian yang terjadi, memikirkan teknis lainnya yang harus dilakukan saat itu. Memikirkan diri sendiri malah mungkin tidak sempat.

Hal-hal itu bukan hal yang buruk. Tapi betul-betul membuat saya merasa it's not easy, it's damn hard. You need to be very dewasa dan bijaksana untuk bertindak di kondisi seperti itu. 

Hal yang sulit adalah bagaimana membuat suatu hal tidak menjadi hanya seperti formalitas. Melakukan upacara ini dan itu, tapi tidak sempat benar-benar merenung dan mendoakan orang terdekat kita yang pergi. 

Griefing needs time and loneliness, as you'll need time to think, to pray, to reflect on every thing. Dan, kadang-kadang saya jadi melihat bahwa susah sekali kita mendapatkan waktu untuk bisa merasakan kedukaan itu. Tapi ya mungkin itulah tantangannya juga hehee

Intinya, (saya kasih keluar dulu logatku wkwkw), saya kayak berpikir ji, karena sibuk sekali ini urus ini itu khususnya kalau banyak mi tamu datang, kayak ndak bisa mki berpikir dengan baik, ndak bisa ki benar-benar mencerna oh ini rasa duka yang kurasa karena pergi mi orang yang kita sayangi. Tapi, bukan juga saya bilang kalau tamu-tamu yang datang melayat itu ndak boleh, cuma menurutku ini sebuah fenomena yang unik saja. Bahwa, manusia-manusia super itu keluarga yang berduka, yang bisa na atur sedemikian rupa dirinya, emosinya, isi kepalanya untuk tetap berfungsi di keadaan yang pasti tidak bisa ki berfungsi maksimal. Jadi, kalau kita yang berduka, kita harus paham ini, dan kalau kita punya kenalan yang berduka, hargailah itu, karena manusia super itu mereka. 

Anyhow, for me personally, griefing is important, doesn't mean to attach to something that's already gone, but to move forward and to live your must-go-on-life better. By griefing, we don't deny the feeling, we hug the feeling and go through it. 

Itu saja celotehan hari ini, cuma mau berceloteh saja hehee

Sampai ketemu di [sembilan puluh satu]

Cheers,

Em 🙆

No comments:

Post a Comment