Sunday, 15 January 2023
[enam puluh delapan] jebak
Sunday, 1 January 2023
[enam puluh tujuh] thank you 2022, it's a wrap!
yesterday I said, tahun baru itu hanyalah pergantian hari yang sama seperti hari lainnya hehehe
Selamat taun baru gaissss, semoga resolusi, harapan-harapan, doa-doa semua bisa terwujud.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sejak kecil sampai sekarang, pergantian tahun dilewati dengan di rumah saja. Mendengar riuh kembang api dan petasan dari dalam kamar, melihat ramainya kerumunan orang di jalan lewat televisi, kalau sekarang lewat ig story heheee. Masih ingat, waktu kecil pengen juga kalau malam tahun baru ngapain gituu, tapi kayaknya (sejauh ingatan saya wkwk) malam tahun baru selalu di rumah, belakangan ini di kos sih wkwkkw paling keluarnya tuh di sore atau malam tapi tidak pernah sampai pergantian tahun nya. Tapi, untungnya, saya cukup menikmati sampai sekarang malam tahun baruan di rumah saja, melihat jam berpindah dari 23.59 ke 00.00, dari penanggalan 31 Desember menjadi 1 Januari, kemudian tidur wkwkwkw
Setelah dipikir-pikir beberapa tahun belakangan, bahwa, sepertinya, tanggal 1 Januari itu, hari pertama dalam setiap tahun, sesungguhnya tidaklah beda dari hari-hari lainnya. Sebagaimana hari Sabtu berpindah ke hari Minggu dan seterusnya. In that case, menurut saya, nothing should be really special for that day. Karena memang demikian adanya, pagi harinya, keesokan harinya, hidup terus berlanjut, tetap bekerja, mencari nafkah dan seterusnya. Tahun baru tidak membuat kehidupan kita berubah 180 derajat, tidak membuat kita mendadak kaya atau mendadak sukses. Secara kehidupan, tanggal 1 Januari is just another day to live. So, in this basic, it shouldn't be any different to other days.
Tapi, di sisi lain, tidak bisa dipungkiri juga bahwa tanggal 1 Januari itu menandakan sesuatu. Dalam pelajaran astronomi, pergantian tahun menandakan kembalinya Bumi ke titik awal dalam orbitnya mengelilingi matahari. Kemudian saya berpikir, kalau Bumi itu tidak mengelilingi matahari maka gak ada lho tahun baru itu hahahaa soalnya bergeraknya lurus-lurus saja wkwkw itulah yang terjadi secara sains, bahwa jangka waktu perputaran Bumi mengelilingi matahari ditandai dengan 1 tahun atau 365 hari (lebih tepatnya 365 1/4 hari). Asumsinya, tahun 2023 menandakan bahwa ini sudah yang ke 2023 kalinya Bumi kembali ke titik awal revolusi nya (tentunya jauh jauh lebih yaa dari 2023, sudah tak terhitung karena awal Bumi berputar kan tidak diketahui ya wkkww). Penandaan ini lah yang membuat 1 Januari atau setiap tanggal tidak lah dilihat dengan cara yang sama.
Kedua sisi yang berbeda di atas tentu sama benarnya. Tanggal 1 Januari, tahun baru, itu sama dengan hari yang lain tapi pun ada bedanya. Tergantung cara pandangnya.
Dibanding melihat tahun baru sebagai sebuah perayaan (saja), sepertinya saya cenderung melihatnya sebagai sebuah momentum untuk refleksi. Mungkin ibaratnya kita dalam sebuah perjalanan, tahun baru ini seperti lampu merah, atau penanda kilometer di jalan tol, ataupun rambu lainnya. Tanda ini membuat kita bisa berhenti sejenak untuk melihat sejauh apa kita sudah berjalan, hal-hal apa yang sudah dilewati, kira-kira apa yang ada di depan yang akan kita hadapi dan apa yang akan kita lakukan alias resolusyen.
Jadi, dengan adanya tahun baru ini, menjadi satu momentum, untuk bisa berhenti, melihat, merenung, berpikir. Bersyukur apa yang sudah diperoleh dijalani sejauh ini, menyusun apa yang bisa dilakukan ke depan. Tapi, satu hal yang selalu berusaha untuk saya ingat, dibanding dulu dan sekarang, momen sekarang lebih penting. Hal yang dulu disyukuri saat ini, rencana ke depan hanya bisa terjadi jika dilaksanakan saat ini.
For me personally, I'd rather see new year as a unique momentum, every year, to reflect, in silence in my room wkwkwk (dasar intropert). Merayakan tahun baru secara 'cukup', sepertinya lebih menjadi preferensi saat ini dan mungkin ke depannya juga.
I believe, people have their own way to "celebrate" new year which always always full of gratitude for the previous year and good wishes for the welcoming year.
It's been a wonderful ride in 2022 and it's a wraaaaaaaaap!! Thank youuuu!! Many many many good things happened in my 2022 life. New job, new friends, new city, adding more laughs and experiences, made my flat life become more colorful. Really thankful and grateful for everything.
I want to say 'welcome' to 2023, it's gonna be another amazing year, and I want to say 'be kind, be wise, be mindful' to myself.
All the things accumulated throughout the years in life take a small but important part like one piece puzzle that complete the whole picture.
See you at [enam puluh delapan]
Cheers,
Em 🙆
Sunday, 11 December 2022
[enam puluh enam] happy birthday super boss
wishing you the happiest birthday our super boss
Talking about parents and children relationship, we didn't choose our parents, they didn't choose us as their children either. So, I think it's another unique relationship that exists in this world wkkww
As people say, as we grow bigger, our parents are getting older, too. So, setelah hidup sekian tahun, today I'd like to say some sentences for my beloved boss, the most discipline person ever in the family. He is absolutely not perfect, but he has almost all the good things in life, hard work, persistent, logic, totalitas tanpa batas, and berpegang erat pada prinsip hidup, one of them is honesty. He always said that kalau kita jujur, kemanapun kita akan merasa aman. He also said tidak apa-apa hidup sederhana, yang penting kita tidak punya utang dengan orang lain, kita bisa hidup tenang dan nyaman. Those words are simple yet so true. Oh iya, he doesn't only put it in words, but also in his life. So, I think that's how we, or especially for me, learnt practically from him, not only just listen to what he said, but also see how he put in actions.
I would say that I am extremely grateful to be in this family. A lot of life lesson learnt until now, like I said not only nasehat-nasehat, but I see it in our daily life. Oh iya, talking about parents too, there is a tendency that the older our parents, the more difficult that children can handle them, which can create some conflict in this unique relationship. However, untungnya, as I said that he is the most discipline person ever, so he know and fully aware on his own health. So, kalau biasanya anak-anak agak membatasi orang tua makan manis dsb khususnya kalau ada diabetes (actually I saw this on my grandma, she loved sweets but she had diabetes, jadi ya begitulah), but in the case of this man, he is fully aware about everything. I think one of his life principle really works yaitu tidak mau menyusahkan orang. That is one thing that I really admire about him.
Nobody's perfect, he used to get angry easily (sekarang sudah tidak wkwkww), tidak suka menunggu (karena sangat sangat on time), tidak suka ribet, doesn't like mistakes wkwkkw. Introvert man, tidak suka kumpul-kumpul wkkwkww
Don't want to get this longer, life is not easy for him, he didn't get proper education, but how he is able to get his children to higher education (2 kali wisuda for each) is superb. He also said this frequently "We, parents, doesn't have a lot of things to give you guys, but what we can give is education. Education will make your life better". He has gone a lot of things in life, he has reached this point, it's time to slow a little bit, good man. His love for family is not in words, but in actions.
It's his belated birthday, but I wish him long life, good health, and happiness. Thank you for everything.
One closing statement, a sentence from him yang menurut saya cukup fenomenal wkwkw "if you have a boyfriend/girlfriend, don't love him/her 100%, but whenever he/she becomes your husband/wife, you must give your family your 100%". Applause wkkwkw
Cheers for my super boss,
See you at [enam puluh tujuh]
Em🙆
Sunday, 4 December 2022
[enam puluh lima] motivasi, inspirasi, dan urgensi
you can be motivated or inspired enough to start something, but you'll never be motivated nor inspired enough to maintain something, you need much more than that
Friday, 2 December 2022
[enam puluh empat] if Heaven had dial hours
I don't remember precisely, but that one time I saw someone posted this in instagram story: if heaven had dial hours, and suddenly I think that's true :')
Untuk kawan-kawan yang mungkin pernah kehilangan apalagi orang terdekat, pasti relate dengan sepotong kalimat itu. Sejujurnya sampai sekarang masih suka bingung kadang-kadang, when you miss that someone, you must think that hmm it would be great if heaven had dial hours hehehee meskipun itu adalah hal yang tidak mungkin, tapi apa yaa itu sebuah ketidakmungkinan yang sering muncul dalam pikiran.
Sebagai orang biasa, apalagi kalau ada hubungan personal atau keluarga, atau kita sering ngobrol dengan seseorang dan tiba-tiba orang nya gak ada, di beberapa waktu kita pasti berpikir untuk bisa ngobrol kembali, tapi yah memang agak mustahil yak wkwkkw so it's kinda mixed feeling, sedih juga, tapi lucu juga, terus membayangkan excitement nya kalau kita bisa ngobrol lagi seperti dulu.
Yah, begitulah, narasi saya hari ini kurang jelas yak wkwkwk, sejujurnya juga bingung mau tulis apa hahaa bingung mendeskripsikannya, tapi sebenarnya kenapa saya nulis post ini, adalah karena saya yakin kalimat itu pasti keluar dari suatu kerinduan hati yang mendalam (ciaelah hehehe), satu kalimat harapan yang kita tau itu tidak mungkin, tapi disebutkan sebagai penawar, menurut saya mungkin kurang lebih seperti itu. Salah satu hal yang kita ingin sekali lakukan, tapi kita tau tidak bisa, maka keluarlah kalimat seandainya tersebut hehhee
Okay, gak tau mau ngomong apa lagi hahahha
Sampai ketemu di [enam puluh lima]
Tak terasa sudah Desember yaaa hahhaaa
Cheers,
Em🙆
Sunday, 20 November 2022
[enam puluh tiga] just go
No matter how hard it is, or how struggling you are, if you are gonna do something, just go, just do it. Time will eventually have an answer
Halo teman-teman semua, kembali saya nge-post lagi hehee
Kali ini ingin berceloteh ringan saja, sudah banyak ide-ide tapi hanya tersangkut di draft, jadi yah mari kita eksekusi saja di hari libur ini wkwkwk
Jadi bermula saat saya sudah menyelesaikan suatu pekerjaan, kemudian saya teringat kembali bagaimana saya memulai pekerjaan itu. Kalau kita berbicara tentang suatu hal atau pekerjaan yang harus diselesaikan, tentunya tidak semua hal bisa one-step done yah wkwkw. Sebenarnya, semua hal pasti butuh proses, hanya saja ada yang pendek, panjang, atau bahkan sangat panjang. Kebetulan, saat itu, hal yang saya kerjakan ya lumayanlah prosesnya, kalau saya bilang mungkin agak panjang, tapi karena memang harus diselesaikan jadi mau gak mau kan yahh harus dikerjakan hahhaa. Pada awalnya kayak malas sekalii hehee soalnya banyak step-stepnya kan, bukan cuma masalah banyak stepnya, tapi tiap step itu lumayan lah menantang hahahaa intinya begitu. Tapi, ketika pekerjaannya sudah selesai, saya langsung jadi mikir, wah ternyata bisa juga ya saya selesaikan. Kemudian, teringatlah hal-hal lain yang mirip-mirip seperti itu. Kemudian mikir lagi, wah, ternyata, kuncinya memang ya kerjain aja, daripada kebanyakan mikir, ga dikerja-kerjain kan hhahaa jadi mending memang langsung dikerjain, meskipun mungkin pacenya akan slow tapi ya pelan-pelan pekerjaannya akan selesai. Soalnya, kalau kebanyakan dipikir, kita jadinya melihat semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang padahal belum tentu terjadi. Udah mikirin sulitnya, ribetnya, gagalnya, dan lain sebagainya. Padahal kan peluang nya masih fifty-fifty, dan di atas semuanya, sebagaimanapun pekerjaan itu tetap harus diselesaikan, jadi ga ada gunanya terlalu dipikirkan kesulitannya, gitu.
Sama halnya seperti kita menyusun puzzle. Puzzle paling sulit yang pernah saya buat itu yang 500 pieces, itupun pemberian orang wkwkw kalau kita pertama kali tuang puzzlenya langsung puyeng lah liat 500 biji kecil-kecil beut. Tapi, kalau kita pelan-pelan cari celah, mungkin kerja yang bagian framenya dulu, terus liat dari warna, dan seterusnya, maka pelan-pelan gambarnya akan terbentuk dan puzzlenya akan selesai.
Saya yakin kita semua pasti pernah mengalami itu, termasuk saya. Maksudnya, hampir semua yang kita kerjakan itu stepnya seperti itu, malas di awal, terus karena harus diselesaikan, jadi ya dikerjakanlah sampai akhirnya selesai. Tapi, kita jarang menotice hal itu, dan itu terus berulang-ulang padahal kita harusnya tau, bahwa pada akhirnya pekerjaan memang harus dikerjakan. Karena membayangkan betapa susahnya suatu pekerjaan tidak berefek terlalu banyaklah yaa hahhahaa. Tidak cuma pekerjaan saja sih, tapi apa saja, misalnya perjalanan, atau even cita-cita. Ada pepatah yang bilang bahwa a long journey starts with a single step, it is damn true. Ga usah mikir seluruh perjalanannya lah, satu langkah aja dulu, ya khaan, karena pada akhirnya waktu juga yang bersama-sama dengan kita menjawab atau menyelesaikan hal itu.
Hahahaa ngemeng opooo iki
Ya begitulah yaaa, seperti biasa sebagai reminder aja buat saya, maklum suka lupa wkwkwkk
Yasudin, semoga kita semua tetap semangat menyelesaikan hal-hal yang harus dikerjakan, karena kalau tidak dkerjakan bagaimana bisa selesai kan. Namanya juga pekerjaan, harus dikerjakan, kalau pekarangan berarti teras rumah.
Sampai ketemu yah di [enam puluh empat]
Cheers,
Em 🙆
Sunday, 30 October 2022
[enam puluh dua] what does matter doesn't really matter
Hey hey hey, it's been the end of October, yet has posted anything for this month wkwk so this will be the one.
Jadi, bahasan hari ini itu soal prioritas. Beberapa hari belakangan sempat berpikir hal-hal yang menurut saya penting tapi ternyata setelah bertanya-bertanya, hal-hal tersebut belum tentu penting juga untuk orang lain. And then, fully realised that the things that matter are closely related to one's priority. Sehingga judul di atas menjadi seperti itu. Apa yang penting menurut kita belum tentu penting menurut orang lain. Kenapa bisa? Tentunya pasti banyak hal yang menjadi faktor. Setiap dari kita pasti punya latar belakang yang berbeda, kepribadian yang berbeda, dan kesukaan yang berbeda. Dari ketiga hal itu saja bisa berujung pada banyak nya hal-hal yang berbeda jika berbicara tentang prioritas, tentang apa-apa saja hal yang penting.
Di sisi lain, setelah berpikir juga beberapa waktu lalu, I kinda mislead between what does matter and what is good. Agak rancu sedikit. Jadi, dalam frame berpikir saya, hal-hal yang saya anggap penting adalah hal-hal yang menurut saya baik. Sehingga, agak sedikit mengganggu ketika hal-hal yang saya anggap penting itu tidak dianggap penting oleh orang lain, karena justifikasinya adalah hal itu adalah hal yang baik tapi kenapa menjadi hal yang tidak penting. Padahal, sebenarnya, setelah dipikirkan kembali, penting dan baik itu adalah dua hal yang berbeda. Hal yang baik tetaplah hal yang baik terlepas dari dia penting atau tidak penting. It's kinda value of something. Sedangkan sesuatu yang penting atau mendesak itu menjadi urusan prioritas, urutan. Jadi, di titik itu, cukup bisa memahami, meskipun tak tau juga lah ini benar apa ndak hahahaha intinya, setidaknya tidak terlalu terkekang dengan pola pikir yang kaku. Perbedaan itu lumrah, prioritas itu bisa berbeda, tapi hal-hal yang baik maka biarlah dia tetap menjadi hal yang baik terlepas itu penting atau tidak.
Karena, pernah ada suatu pemikiran, bahwa jika suatu hal itu penting dan baik menurut saya dan tidak penting (tapi belum tentu tidak baik) menurut orang lain, maka tidak ada suatu yang pakem yang bisa dipegang untuk diperjuangkan, karena toh bagi orang lain itu tidak penting, so nothing does really matter. However, I lost the point of goodness. Maka dari itu, kesimpulan yang saya ambil akhirnya adalah bisa jadi tidak ada yang benar-benar penting absolut untuk semua orang di dunia ini. Karena prioritas bisa berbeda. Tapi, jika saya meyakini suatu hal adalah baik, maka terlepas itu penting atau tidak penting, untuk saya ataupun untuk orang lain, maka hal baik itu tetaplah harus dipegang.
Cause nothing does really matter, what does matter doesn't really matter, what if it's good, even if it doesn't matter, it will be still good, however.
A simpel short note for me as another reminder.
I'll see you at [enam puluh dua tiga]
Cheers,
Em🙆
Sunday, 18 September 2022
[enam puluh satu] how I met math
Hello guys,
Hari ini mau share sedikit tentang suatu hal yang baru kepikiran belakangan. Beberapa hari terakhir ini memang cukup sibuk dengan pekerjaan, kemudian di akhir minggu ada tawaran mengajar 2 kelas sekaligus, tapi saya menyanggupinya, mana materinya perlu dibuat, yang berarti hari Jumat malam dan Sabtu saya perlu menyisihkan waktu untuk membuat materi pelajaran. Kemudian saya jadi berpikir, lucu juga ya, kenapa menyanggupi mengajar 2 kelas yang materinya belum ada padahal seminggu ini sudah lumayan kelelahan dengan pekerjaan. And that's what I am trying to figure out the answer here.
As a context, jadi saya sudah menjadi tutor sejak kelas 2 SMA. Jadi, waktu kelas 2 SMA ada tawaran dari seorang guru di sekolah untuk bantu dia mengajar kursus. Memang waktu itu pengajarnya banyak dan beberapa ada yang masih SMA atau kuliah. Jadi, pengalaman pertama saya mengajar adalah di tempat guru saya itu. Mengajar matematika dan juga fisika. Saya mengajar secara kontinu kurang lebih selama 7 tahun dari kelas 2 SMA hingga sebelum sekolah S2. Di selang 7 tahun itu, ada beberapa bulan yang lowong tapi selebihnya saya mengajar. Tak bisa dipungkiri juga kalau dari situ saya dapat uang tambahan wkwkw jadi kalau mau beli apa-apa tidak perlu minta ke orang tua. Kadang-kadang masih minta sih hahaha tapi lebih jarang lah.
Okay, back to the topic, jadi setelah dipikir dan dipikir, I think that math is my comfort zone. Jadi, waktu mengajar pertama kali itu saya masih mengajar matematika dan fisika sampai di tempat terakhir saya mengajar itu saya cuma mengajar matematika. Di satu sisi, dulu nya waktu SMA memang saya mendapat kesempatan ikut olimpiade fisika waktu itu syukurnya bisa sampai nasional meskipun tidak mendapatkan medali. Tapi, entah kenapa saya kurang confident dengan kemampuan fisika saya. Jadi, saya ndak berani untuk mengajar fisika, lebih pede rasanya mengajar matematika, sampai sekarang ini, meskipun ga jago-jago banget juga sih hahaa tapi setidaknya untuk pelajaran sekolah masih okelah, masih banyak yang diingat.
Nah, di sini saya mau share bagaimana saya dulunya bisa belajar matematika yang bisa membuat saya mengingat sampai sekarang dan masih bisa mengajarkan kepada orang lain. I am really thankful for meeting my math teacher. Karena beliau lah, matematika jadi satu pelajaran yang meninggalkan kesan dan pemahaman paling dalam.
Waktu SD saya pernah beberapa kali mewakili sekolah mengikuti lomba matematika, tapi gak pernah menang wkwkk saya masih ingat, waktu SD itu saya ikut les di sekolah sementara kebanyakan teman saya itu les di luar di guru A, B, C, dst. Saya juga masih ingat bagaimana saya tidak paham bagaimana menghitung perbandingan skala, menghitung luas lingkaran, menghitung keliling lingkaran. Tidak paham saya dan tidak bisa menghafal. That's why biology doesn't work on me, sad. Jadi, saya tidak bisa menghafal rumus, hanya beberapa saja yang bisa saya ingat, dan jika soalnya sudah diutak-atik saya sudah tidak bisa jawab. Alhasil, waktu ujian kelulusan SD, nilai ujian matematika saya di batas rata-rata, kalau tidak salah dapat 5 atau 6, pokoknya udah mepet gak lulus waktu itu. Saya jadi mikir, kok bisa ya nilai matematika saya jelek, padahal saya pernah ikut lomba loh.
Setelah itu, masuk SMP, saya dikenalkan oleh tetangga saya seorang guru matematika. I have no idea dengan guru ini. Setelah masuk baru tau, ternyata beliau guru yang membina murid-murid yang ikut olimpiade. Wah, di situlah perjuangan (penderitaan) dimulai. Kalau orang bicara titik balik, salah satu titik balik saya itu waktu masuk belajar di situ. Dari yang dulu nya ndak paham matematika sampai yang paham kenapa rumus ini begini kenapa rumus ini begitu. Kenapa saya tadi bilang penderitaan, saya belajar dengan beliau dari saya kelas 1 SMP sampai saya bisa lolos olimpiade tingkat nasional di kelas 2 SMA, sekitar 5 tahun non stop, paling pernah istirahat 1-2 bulan tapi akhirnya kembali lagi belajar di situ. Luar biasa sih peran beliau dalam pendidikan sains saya wkwkwk. Oh iya balik lagi, kenapa saya bilang penderitaan, yang pertama, karena saat itu jam belajarnya itu dari jam 4 sore sampai jam 7 malam (paling cepat), 2 kali seminggu. Bahkan, awal-awal saya itu mulai dari jam setengah 4, biasa pulang jam setengah 8 kwkkw. Selama jam belajar itu, ga boleh main hape, waktu itu handphone juga belum secanggih sekarang sih, pokoknya dilarang main handphone. Selama jam 4-7, yang dilakukan cuma bisa belajar, yaitu kerja soal atau membaca, kalau capek ya liatin orang atau bengong hahahaa. Kemudian, saya masih ingat sekali, ada waktu-waktu di mana dalam 1 hari saya cuma kerjain 1 soal aja selama 3 jam itu. Kemudian, ada juga masa di mana, saya takut kalau saya mau pergi les, takut gak bisa ngerjain soal. Ada juga masa di mana, waktu saya ngerjain 1 soal, tiap saya liatin ke guru saya itu, salah terus jawabannya, jadi karena sistemnya pantul, jadi kalau salah, beliau gak kasih tau jawaban benarnya, kita yang mesti cari tahu dan perbaiki sendiri, sampai beliau bilang 'wah akhirnya benar juga jawabannya'. Waduh, parah sih itu kalau dibayangin lagi, lebih ke malu sih hahahhaa. Ada juga masa di mana setelah pulang les itu kepalanya panas wkwkwk karena disuruh mikir teruus hahhaa. Ada juga yang lucu, jadi dulunya saya memakai kalung dengan liontin Buddha kemana-mana. Suatu hari, saya lupa memakai kalung itu. Di jalan saya sudah berfirasat, aduh saya lupa pakai kalungnya, mudah-mudahan nanti saya tetap bisa kerjain soal wkwkkw udah menganggap kalung itu jimat karena saking takut soalnya sesulit itu hhaaa tapi untung ga ada trauma, karena setelah belajar beberapa waktu di sana, saya jadi lebih banyak paham dan jadi semangat belajar matematika dan fisika (apalagi saat itu, hampir semua orang bilang matematika dan fisika itu susah), tapi ternyata sistem yang diterapkan guru saya itu cocok untuk membuat saya paham.
Jadi, sistem belajar di sana itu adalah, belajar mandiri, kalau gak tau baru nanya, itupun kalau nanya jawabannya itu dikasih bacaan aja, jadi jatohnya tetap aja belajar sendiri. Setiap masuk satu materi baru kita disuruh baca dulu, liat latihan soalnya, kenapa bisa cara kerjanya seperti itu. Sistem belajar itu yang membuat tidak semua orang betah. Sayapun sempat merasa putus asa kalau saya tidak paham-paham (meskipun kadang-kadang guru nya juga akan menjelaskan pada akhirnya). Tapi, saya cuma bisa bengong dan bertahan. Akhirnya, ada buahnya juga. Beliau memang sangat logis dalam penjelasan matematika, jadi tidak ada hafalan, yang ada adalah pemahaman. Hal ini yang menurut saya pribadi, yang melatih cara berpikir logis dan analitis saya hingga sekarang. Sebagai contoh, kalau teman-teman masih ingat rumus trigonometri sudut rangkap yang biasanya dihafal, dari guru saya itu, dijelaskan bagaimana masing-masing rumus itu bisa muncul, sehingga sampai sekarang saya masih ingat, meskipun saya tidak hafal, tapi saya ingat bagaimana cara rumus itu diturunkan. So, I am truly grateful for being there at that time. I do thank him for being a great teacher during my high school time.
So, that's how I met math (and physics). Tidak ada hafalan sama sekali. Meskipun level matematika saya gak sampai olimpiade, tapi saya pikir gara-gara guru saya itu, matematika menjadi comfort zone saya. Saya tertarik mengerjakan soal matematika meskipun pada akhirnya saya gak bisa jawab. But, I enjoy how my brain is working on that problem. Dan mengapa saya mengatakan math is my comfort zone, mungkin karena I don't need to work too hard to bring something to people. I don't need to put too much effort, karena saya masih mengingat sebagian besar materi dan bagaimana mempelajari nya dan itulah juga yang saya ajarkan. Di sisi lain juga, mengajar dan membuat bahan ajar matematika mungkin jadi satu bahan refreshing buat saya di samping pekerjaan utama saat ini.
Jadi, begitulah, kalau ada satu hal yang patut saya syukuri adalah itu tadi, belajar matematika dan fisika dari guru saya itu. Karena beliau lah saya bisa ikut lomba, saya bisa ikut olimpiade, saya bisa dipanggil menjadi pengajar, saya bisa mengajar orang lain, saya bisa berpikir logis dan analitis sampai sekarang, dan saya bisa menjadi saya sekarang, part itu berperan penting. So, thank you Sir, I owe you a lot!
Di sepanjang perjalanan belajar itu, kebanyakan saat masih sekolah, ada juga guru-guru lain yang juga berperan banyak. Jadi, saya ingin ucapkan terima kasih kepada semua guru-guru saya. I owe you all a lot, thank you!!
Semoga masih ada sedikit ilmu yang bisa terus saya alirkan ke orang-orang menjadi kebermanfaatan yang baru. Semoga.
Sharing ini bukan berarti menunjukkan bahwa saya jago banget matematika, gak juga lah, masih banyak orang di luar sana yang lebih hebat. Tapi, yang ingin saya sampaikan bahwa setiap proses yang sulit itu, biasanya buahnya manis, jangan cepat menyerah. Selain itu, setiap orang juga pasti punya comfort zone nya sendiri, hal-hal yang disenangi di luar rutinitas, dan itu perlu to keep us sane.
I share this because I think this one is interesting in my life and I want to keep this story here :)
See you later di [enam puluh dua]
Cheers,
Em🙆