Tuesday, 8 September 2020

[tiga puluh tiga] what is it about being good?

virtue is its own reward

-Marcus Tullius Cicero-

Halohalohalo semuanya! :)

Ini tidak akan panjang gais kayaknya, tapi sepertinya akan sedikit tajam hahahaa

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berpikir tentang balas budi. Bukan Budi dalam buku pelajaran bahasa Indonesia yaa (krik krik wkwkwk). Anyway, kata orang tua kita, jadi orang harus tau balas budi. Ada juga yang mengatakan utang budi dibawa mati. Nah, utang budi itu apa? Kenapa utang budi menjadi sangat berharga dan tak ternilai harganya? Kalau menurut hemat saya, karena budi atau jasa itu nilainya tidak bisa dibandingkan dengan materi. Ketika ada seseorang meminjamkan kita uang 1 juta rupiah di saat kita sedang susah-susahnya membutuhkan uang, maka mungkin suatu hari kita bisa membayar kembali uang senilai 1 juta rupiah bahkan beserta bunganya. Tetapi, yang tidak bisa kita balas adalah niat baik orang tersebut yang sudah mau menyisihkan uangnya untuk membantu kita. Niat itu yang menjadi tak ternilai harganya dan mungkin karena itulah dikatakan bahwa utang budi dibawa mati.

Lalu, saya menjadi berpikir bahwa, jika seseorang berbuat kebaikan kepada orang lain 'hanya' karena ingin balas budi, hmmm bagaimana ya? Hingga pernah terbesit bahwa kalau memang melakukan kebaikan 'hanya' karena ingin balas budi maka sebaiknya tidak usah dilakukan.

Eits, tapi, saya pun terus berpikir dan berpikir. 

Sebenarnya, apapun motifnya, berbuat baik adalah berbuat baik, kebaikan tetaplah kebaikan. Tetapi menurut saya alangkah lebih baiknya jika ketika kita berbuat baik tidak 'hanya' karena 'sebatas' ingin balas budi. Satu pertanyaan, jika orang tersebut tidak punya budi  kepada kita (tidak pernah menolong kita, dsb), akankah kita tetap berbuat baik atau menolong orang tersebut saat dia susah? Silahkan dijawab sendiri. Tapi, maksud saya intinya ada di sini, seharusnya ada budi atau tidak ada budi, kita tetap bisa berbuat baik, gitu loh wkwkwk. Disclaimer sedikit, ini bukan bermaksud mengajar, menggurui, menyinggung, dan lain sebagainya. Ini cuma akan menjadi pengingat untuk saya, siapatau suatu hari pikiran saya berubah atau ada hal lain yang mengusik, mungkin saya bisa kembali membaca ini dan berpikir dan merenung kembali.

Other than that, let me have some words here, and then I will leave it to you, guys :)

Being good is not a transaction. You cannot make it as an excuse to expect people to do the same way as you do to them. It does not necessarily mean that when you do good to someone, then you have to get that 'good' back either from the same person or from other people. It is not how it works. It is a transaction, not a virtue. Being good is just good, just it is. Being good means you are able to train yourself to let go of the things that are not meant to be for you. In this case, letting go means that even if you don't get that 'good' back, it doesn't matter because it is not meant to be yours. When you do good and you have a bad day, that's not a problem anymore because you do good not because you want to have a good day. You do good just because you just want to be a good person. So, if you have a bad day after doing something good, you will know and realise and have a good understanding that it has nothing to do with the good deed you did before and you will stop thinking that it is not fair because of the bad things after doing something good. 

Being good is not that I have to be paid back for what I did. However, karma does exist. You don't have to ask for good things after you do good because one day it will automatically come to you even if you don't wish. That also happens with bad things. You harvest what you sow. That's why you don't have to expect to get something because the expectation will ruin all your good deeds. It is not pure anymore. 

Berbuat baik tidak mengharap, tidak meminta, tidak menuntut, pun tidak membayar. Berbuat baiklah karena, pertama, orang tersebut membutuhkan bantuan, kedua, kesadaran sendiri bahwa menjadi baik itu baik, menjadi baik itu membuat kita bahagia, kebaikan memberikan kebahagian di level yang berbeda.

Mungkin begitulah kira-kira guys, sekali lagi ini hanya opini pribadi saja, hanya bermaksud menulis keresahan pribadi. Semoga berkenan.

Stay good :)

Sampai ketemu di [tiga puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 6 September 2020

[tiga puluh dua] the invisible things

apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada

saya aja, 2020 wkwkw  

The ceiling has fallen, 4 September 2020

Sebuah fenomena langka yang menurut saya harus saya ingat baik-baik hahahaaa. Seumur-umur belum pernah saya mengalami hal yang demikian, plafon kamar yang tiba-tiba runtuh. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, tetangga saya, saat itu hujan dan angin memang sedang kencang-kencangnya, lalu tiba-tiba atapnya jeblok, jatuh. Mungkin saat itu dia juga merasakan yang saya rasakan hahhahaaa. Dari situ, kemudian saya jadi berpikir. 

Pertama, siap tidak siap, kita harus selalu siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Bukan cuma plafon runtuh, rejeki runtuh pun harus siap wkwkwk. Setiap malam saya tidur menghadap plafon itu, tapi tidak pernah saya berpikir kalau plafonnya bakal jeblok hahhaa. Banyak hal yang terjadi di hidup kita yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Dan, itu wajar-wajar saja. Kita saja yang kadang-kadang kaget terlalu lama untuk hal-hal yang sebenarnya kita sudah tau. Tidak ada yang bisa diprediksi secara pasti, bukan?

Kemudian, terlepas dari plafon runtuh itu, yang sempat saya pikirkan belakangan adalah sama seperti yang saya kutip di bagian awal, apa yang tidak kita lihat atau tidak kita tahu, belum tentu tidak ada. Belum tentu ketika saya tidak pernah menemui atau mengalami sesuatu bukan berarti hal tersebut tidak ada.

Sebuah frasa 'masa sih' dalam sebuah pertanyaan semestinya selalu mendapatkan jawaban 'ya'. Entah hanya saya, atau mungkin banyak orang sering berpikir misalnya 'masa sih ada orang yang bisa kepikiran plafon di atasnya akan runtuh?' atau 'masa sih ada orang yang tidak punya idola?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain?' atau 'masa sih ada orang yang tidak pernah marah?' atau juga 'masa sih ada orang yang tidak pernah pikirkan dirinya sendiri?'. Setelah dipikir-pikir, entah benar atau tidak hahaa, tapi saya rasa jawabannya ya bisa jadi ada. Kalau selama ini saya selalu bertemu orang yang suka marah bukan berarti semua orang di dunia ini suka marah. Dunia ini tidak sesempit apa yang kita kira. Dunia ini terlalu luas dengan terlalu banyak jenis-jenis manusia yang hidup di dalamnya, belum lagi makhluk lain wkwkkw

Makanya, kita tidak boleh cepat menarik kesimpulan hanya dengan melihat dari satu sisi. Semua kemungkinan bisa terjadi, tapi kita tentu harus siap dan tau bahwa kemungkinan itu ada. Terlalu sederhana jika kita hanya sependapat dan meyakini apa yang ada dalam pikiran kita, padahal di luar sana ada begitu banyak hal yang tidak kita pikirkan atau bayangkan sebelumnya.

Kali ini saya menulisnya singkat, tapi coba jika teman-teman sempat membaca ini, coba dilihat kembali apakah kita sering demikian, berkesimpulan sesuai apa yang kita lihat dan tau. 

Selalu siaga.

Salam sehat selalu.

Sampai ketemu di [tiga puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆