Monday, 4 March 2024

[delapan puluh dua] Terima kasih Ibu Kartini!

Hi semuanya, long time no see

Time flies ternyata sudah 2024 dan belum ngepost wkwkkwk bakal sikit kyknya postingan taun ini, mari kita usahakan saja yang sebaek-baeknya HAHAHA

Selamat tahun baru (dah telat 3 bulan) hahaa *monmaap

Oke lanjut, jadi bulan Februari lalu menjadi bulan demokrasi untuk rakyat Indonesia dimana kita sama-sama ke TPS untuk memilih pemimpin negara pilihan kita. So, hari ini hanya mau sedikit cerita pengalaman ketika di TPS.

Jadi, karena pemilihannya agak terlambat dimulai, jadi ketika saya datang sesuai jadwal di undangan, panitia masih bersiap-siap mengatur TPS dan kertas suara dan teknis lainnya. Jadi, menunggulah saya, duduk di kursi. Tidak lama, datanglah juga warga-warga lainnya (re: bapak-bapak) yang mengira sudah bisa memilih, padahal belum. Jadilah mereka juga menunggu, duduk di kursi yang berjejeran dengan saya. Mungkin karena menunggu, merokoklah bapak-bapak itu, duduk di kursi itu. Pada saat itulah, saya berpikir dan menyadari betapa pentingnya pendidikan.

Sebagai orang yang berpendidikan baik (dan sebagaimana seharusnya pendidikan itu berperan dalam kehidupan), tentu harusnya tidak merokok di tempat yang ada banyak orang di sana. Memang bukan ruang tertutup dan ber-AC, tapi di dalam tenda kan semi-tertutup. Pada saat itu juga saya sadar kalau sudah lama saya tidak menghirup asap rokok, karena pada saat itu benar-benar terganggu,agak-agak sesek gimana gitu sampe akhirnya keluar dari tenda TPS hahaaa. 

Anyway, bukan tentang saya terkena asap rokoknya, tapi lebih ke wahh kalau orang berpendidikan harusnya peduli lah sama orang sekitarnya karena (seharusnya) pendidikan itu penting untuk membangun awareness, peduli dengan lingkungan sekitar, peduli pada orang lain atas apa yang kita lakukan. Tapi sayangnya, masih ada banyak orang yang kurang begitu peduli, hmmmm. Merokok di tengah-tengah orang mungkin hal kecil, tapi kalau hal kecil saja sudah nda peduli, agak susah ndak sih jadinya untuk hal-hal lainnya lagi.

Memang, mungkin bukan hanya pendidikan yang berperan di situ, tapi kayaknya pendidikan itu bare minimum (?) kayak ndada sekolahnya kapang ini orang merokok di sampingnya orang lain yang nda merokokk hmhmhmm wkwkkw mengesalkan tapi yasudahlah hahaaaa (agak esmosi jadinya wkwkw)

Intinya adalah terima kasih sama Ibu Kartini, sama pejuang-pejuang pendidikan bukan hanya untuk perempuan tapi semua orang yang memperjuangkan pendidikan (disclaimer: judul hanya clickbait wkkwwk itu yang kepikiran pertama kali). Semoga kita semua yang berpendidikan tidak apatis sama sekitar apa lagi yang berkaitan dengan orang lain, tidak merugikan orang lain gegara perbuatan kita.

Demikian kiranya cerita yang bukan hari ini tapi diposting hari ini. Meskipun sederhana, tapi cerita ini cukup memorable, karena waktu mengalami rasanya kayak pengen kutulis pengalaman ini hahahaa

(kyknya mesti sering-sering meluangkan waktu lagi untuk menulis :))

Sampai ketemu di [delapan puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆

No comments:

Post a Comment