Saturday, 30 March 2024

[delapan puluh tiga] cerita yunik from yuke (re: Belfast)

It's not only a city anymore; it's a home.

Hola everybodyy, ingin rasanya menertawai diri sendiri kalau lihat draft ini hahahaa

Udah lulus kuliah dari tahun 2021 akhir, tapi baru sekarang dipublish wkwkkw 

Sebenarnya ini pengen cerita-cerita aja sih, sekaligus menyimpan memori-memori yang ada selama kuliah di Belfast. Sedikit cerita bahwa waktu mau lanjut kuliah S2, specifically maunya bukan di Indonesia (ngayal aja dulu waktu itu), for some reason, I once said to myself, kalau misalnya tidak bisa kuliah di luar, berarti no S2 for me, langsung cari kerja saja. Waktu cari sekolah pun, entah kenapa carinya yang jauh sekali wkwkwk pengennya memang di Inggris dan sekitarnya atau kalau Asia minimal Jepang atau Korea yang di sono-sono lah. Waktu itu berpikirnya bahwa karena ini mungkin akan jadi sekali seumur hidup, just aim for the highest and the furthest yang possible. Jadi memang cari sejauh mungkin supaya ga gampang pulang, takutnya kalau dekat mau pulang mulu dan semakin jauh akan ada gap yang besar dari segi bahasa dan budaya, sehingga peluang belajar dan pengalamannya jadi lebih besar. Dan syukurnya, dikasih kesempatan buat S2 di Belfast yang sebelum ke sana juga belum pernah dengar nama kota itu. Sebelum mau sekolah ke sana, mana tau kalau UK itu isinya 4 negara hahaha (geografi saya jelek). Pengetahuannya itu nol besar tentang Belfast. Thanks to one of my lecturers yang sudah memperkenalkan Belfast :)

Oke, singkat cerita berangkatlah ke sana dan sekolah selama 2 tahun 6 bulan kurang lebih. Pengalamannya pasti banyak sekali, hidup di negara orang, tapi luar biasa sih maksudnya pengalaman hidup yang belum tentu semua orang diberi kesempatan, jadi sangat sangat bersyukur bisa punya sepenggal cerita itu di dalam kehidupan ini.

Jadi, inilah yang mau saya share terkait beberapa kejadian atau fenomena-fenomena unik selama di Belfast yang cukup beda kayaknya dengan yang ada di Indonesia atau Makassar, let's see

1. Tidak memanggil Prof/Pak/Bu

Nah, yang pertama ini, sudah terasa waktu pertama kali apply, jadi meng-email ke supervisornya, kebetulan supervisornya masih Doctor (belum Professor), jadi sapaannya Dr. XXX, nah terus beliau nya balas bilang panggil nama aja ga usah pakai Doctor2 gitu wkwkwk dan benar sampai di sana orang pada panggil nama euy, meskipun Prof gitu. Cuma, ga tau mungkin culture tiap kampus atau tiap negara/kota atau tiap individu beda-beda ya, bisa jadi tidak semua daerah di UK seperti ini. Cukup amaze dengan ini karena jadi keliatan humblenya Bapak/Ibu dosen di sana, dan jabatan jadinya tidak sebegitunya, meskipun jabatan resmi tetap digunakan pada forum resmi, tapi kalau sehari-hari ya sangat ringan dan seperti teman aja gituu. Nah, ini juga sebenarnya berlaku tidak cuma pada dosen ya, tapi memang di sana itu dak ada panggil kakak2 seperti di sini hahaha jadi sesama mahasiswa, meskipun ada yang lebih tua gitu, tetap panggil nama. Seperti yang kita biasa liat di film-film culturenya memang seperti itu ya wkwkwk

2. Dibukakan/ditahankan pintu

Apami bahasanya ini wkwkwk jadi salah satu culture di sana yang cukup unik itu, kalau kita sedang buka pintu terus di belakang kita ada orang, "adat kesopanan"nya itu kita menahan pintu untuk orang di belakang kita agar bisa masuk, atau kalau pas kita buka pintu trus dari jarak yang tidak terlalu jauh kita liat ada orang juga yang mau masuk, nah itu biasanya kita menahan pintu itu. Pas pulang ke sini jadi lumayan kebawa sih, jadi menahan pintu untuk orang yang di belakang kita.

3.  Lampu kamar mandi dan keran wastafel

Nah, ini cukup unik ternyata dan saya baru tau pas pulang ke sini trus liat di ig apa reels gitu ya kalau ternyata ini memang tidak terjadi di semua negara barat. Lampu kamar mandinya orang di sana itu khususnya di rumah ya, kalau di kantor-kantor kayaknya tidak, saklarnya itu ditarik wkwkwkw kayak lampu-lampu jadul, jadi pas masuk kamar mandi ada tali yang merupakan saklar. Lucu juga ini diliatnya, tapi kayak khusus di kamar mandi saja, kalau lampu kamar ya saklar kayak biasa. Terus juga, kayaknya karena di situ kan empat musim, jadi ada keran air panas dan keran air dingin, tapi uniknya itu bukan dalam 1 keran seperti yang biasa kita punya di Indonesia. Jadi kerannya terpisah, keran biru mengeluarkan air dingin, keran merah mengeluarkan air panas. Jadi kadang-kadang bingung, kalau buka keran biru, kedinginan, buka keran merah, kepanasan WKKWKWW

4. Tidak ada bidet

Salah satu kultur syok terbesar hahaha kamar mandi nya ndak ada bidet sodara-sodara. Solusinya? Sedia gayung wkwwkw, jadi di toilet di sana itu umumnya hampir semua ada wastafel nya di dalam toilet, jadi itulah gunanya gayung untuk menampung air dari keran hehehhee

5. Kartu ucapan

Salah satu juga yang khas itu penggunaan kartu ucapan yang lebih umum daripada di Indonesia sini. Jadi, kalau kita ke supermarket begitu pasti ada kartu ucapan yang dijual dengan berbagai pilihan. Ada juga toko yang khusus menjual kartu ucapan. Jadi, di sana opsi kartu ucapannya jauh lebih banyak daripada di sini. Dan, di sana kartu ucapan itu kayak umum dipakai untuk mendampingi kado yang akan kita berikan ke orang. Meskipun misalnya kadonya ndak seberapa tapi karena ada kartu ucapannya jadi berasa spesyel begitu.

6. Perayaan bayar sendiri

Apa maknanya ini? Wkwkwkw kalau ini, mungkin ndak semua ya, cuma ini pernah saya alami sewaktu di sana. Kalau di Indonesia kan budaya kita itu mentraktir ya kalau ada hajatan gitu, entah ulang tahun atau wisudaan atau apalah gitu. Nah, kalau di sana tuh budayanya kayaknya ngumpul-ngumpul aja tapi ga nraktir. Jadi kita kumpul-kumpul makan bareng merayakan sesuatu tapi nanti bayar sendiri ya makanannya wkkwkw Not saying good or bad ya, cuma unik aja, jadi pas agak kaget juga oh bayar sendiri, okay hahahaha tapi unik sih, dan jadinya tidak memberatkan satu pihak, dan ada willingness dari teman-teman yang mau hadir untuk merayakan meskipun bayar sendiri jadi kayak iklas ji bayar yang penting kumpul.

7. Jalan kaki dan nuansa Natal

Ini sih lumayan signifikan ya bedanya dengan di Indonesia. Jadi, karena di sana tidak punya kendaraan sendiri jadi lebih sering nya itu jalan kaki ke mana-mana. Bisa naik bus sih atau kereta atau taksi, tapi kalau bus itu ada jam nya dan kadang-kadang kita buru2 jadi agak malas, mending jalan kaki saja karena waktunya sama dengan nunggu bus. Trus, kalau kereta itu tidak bisa untuk jarak dekat, nah kalau taksi lebih ke mahal hahahaa (dompet mahasiswa kasian) jadi hanya kadang-kadang kalau jauh, urgent dan mau cepat. Umum lah ya kita semua sudah tau kalau di negara barat itu orang umumnya jalan kaki dan pedestriannya juga sangat memadai jadi aman, terus karena orang lokal pun umumnya jalan kaki jadi polusi lebih sedikit dan jarang sekali ada macet. Lumayan kalau pas lagi jalan-jalan bisa dapat lebih dari 10ribu langkah. Nah trus untuk nuansa Natal di sana sangat ramaii, mungkin mirip kalau kita mau Lebaran di Indonesia kali ya. Rumah-rumahnya orang dihiasi lampu-lampu dan hiasan Natal, jadi dulu tuh paling suka kalau pulang malam-malam dari kampus, sambil di jalan liat rumah-rumah orang cantik sekali hiasannya wkwkwk oh sama ada juga Christmas Market macam pasar malam yang jualan makanan khusus hari Natal. Oh satu lagi, pas hari Natal itu kan libur ya jadi semua toko tutup, pernah sekali pas Natal jalan-jalan ke city center itu sepinya luar biasa toko pada tutup, kayak Jakarta pas lebaran hahahaa tapi enak sih suka suasananya sepi jadi bisa menikmati saja begitu.

8. Pengunjung tempat meditasi

Nah, ini last one, ini lebih ke amaze aja sih untuk pengalaman yang ini. Jadi karena di Belfast itu kayaknya belum ada Vihara seperti di Indonesia sini, adanya tuh namanya Buddhist Center tempat meditasi gitu, ada juga ibadahnya tapi bukan hari Minggu, malah hari Minggu itu adanya meditasi. Lokasinya lumayanlah jalan kaki 20 menit dari tempatku waktu itu. Jadi pas pertama datang tuh agak kaget juga wah rame juga ya ternyata, trus pengunjungnya itu macam-macam tapi mayoritas orang-orang tua begitu sih, dan ada yang bertato gitu tapi ikut meditasi. Not judging tapi pemandangan ini hampir tidak pernah kita liat di Indonesia. Yang lebih unik lagi, orang itu ternyata sudah pernah pergi sampai ke Thailand dan negara-negara Buddhis lainnya buat meditasi. (Gokil). Jadinya kayak oh betul-betul ga bisa nilai orang dari penampilan. Dan di sana orang sangat welcome dengan siapapun yang datang ke Buddhist Center itu. So, sangat menarik lah, jadinya saya sempat ke sana beberapa kali sebelum covid tapi setelah itu kayaknya hampir tidak pernah lagi. 

Yah kira-kira begitulah ocehan saya hari ini yang mungkin bahasanya campur-campur dan kurang jelas tapi saya malas baca ulang haahahhaa

But, it was really one of the best experiences in my life, no regret, very grateful.

Semoga one day bisa ke sana lagi.

Begitu aja hiburan kali ini, semoga teman-teman juga bisa berkunjung ke belahan dunia yang lain untuk melihat betapa luas dan anekaragamnya dunia ini.

All the best, see you at [delapan puluh empat]

Cheers,

Em 🙆

Monday, 4 March 2024

[delapan puluh dua] Terima kasih Ibu Kartini!

Hi semuanya, long time no see

Time flies ternyata sudah 2024 dan belum ngepost wkwkkwk bakal sikit kyknya postingan taun ini, mari kita usahakan saja yang sebaek-baeknya HAHAHA

Selamat tahun baru (dah telat 3 bulan) hahaa *monmaap

Oke lanjut, jadi bulan Februari lalu menjadi bulan demokrasi untuk rakyat Indonesia dimana kita sama-sama ke TPS untuk memilih pemimpin negara pilihan kita. So, hari ini hanya mau sedikit cerita pengalaman ketika di TPS.

Jadi, karena pemilihannya agak terlambat dimulai, jadi ketika saya datang sesuai jadwal di undangan, panitia masih bersiap-siap mengatur TPS dan kertas suara dan teknis lainnya. Jadi, menunggulah saya, duduk di kursi. Tidak lama, datanglah juga warga-warga lainnya (re: bapak-bapak) yang mengira sudah bisa memilih, padahal belum. Jadilah mereka juga menunggu, duduk di kursi yang berjejeran dengan saya. Mungkin karena menunggu, merokoklah bapak-bapak itu, duduk di kursi itu. Pada saat itulah, saya berpikir dan menyadari betapa pentingnya pendidikan.

Sebagai orang yang berpendidikan baik (dan sebagaimana seharusnya pendidikan itu berperan dalam kehidupan), tentu harusnya tidak merokok di tempat yang ada banyak orang di sana. Memang bukan ruang tertutup dan ber-AC, tapi di dalam tenda kan semi-tertutup. Pada saat itu juga saya sadar kalau sudah lama saya tidak menghirup asap rokok, karena pada saat itu benar-benar terganggu,agak-agak sesek gimana gitu sampe akhirnya keluar dari tenda TPS hahaaa. 

Anyway, bukan tentang saya terkena asap rokoknya, tapi lebih ke wahh kalau orang berpendidikan harusnya peduli lah sama orang sekitarnya karena (seharusnya) pendidikan itu penting untuk membangun awareness, peduli dengan lingkungan sekitar, peduli pada orang lain atas apa yang kita lakukan. Tapi sayangnya, masih ada banyak orang yang kurang begitu peduli, hmmmm. Merokok di tengah-tengah orang mungkin hal kecil, tapi kalau hal kecil saja sudah nda peduli, agak susah ndak sih jadinya untuk hal-hal lainnya lagi.

Memang, mungkin bukan hanya pendidikan yang berperan di situ, tapi kayaknya pendidikan itu bare minimum (?) kayak ndada sekolahnya kapang ini orang merokok di sampingnya orang lain yang nda merokokk hmhmhmm wkwkkw mengesalkan tapi yasudahlah hahaaaa (agak esmosi jadinya wkwkw)

Intinya adalah terima kasih sama Ibu Kartini, sama pejuang-pejuang pendidikan bukan hanya untuk perempuan tapi semua orang yang memperjuangkan pendidikan (disclaimer: judul hanya clickbait wkkwwk itu yang kepikiran pertama kali). Semoga kita semua yang berpendidikan tidak apatis sama sekitar apa lagi yang berkaitan dengan orang lain, tidak merugikan orang lain gegara perbuatan kita.

Demikian kiranya cerita yang bukan hari ini tapi diposting hari ini. Meskipun sederhana, tapi cerita ini cukup memorable, karena waktu mengalami rasanya kayak pengen kutulis pengalaman ini hahahaa

(kyknya mesti sering-sering meluangkan waktu lagi untuk menulis :))

Sampai ketemu di [delapan puluh tiga]

Cheers,

Em 🙆