Wednesday, 23 August 2023

[tujuh puluh delapan] focus on the essentials

when a measurement becomes a goal, it ceases to become a good measurement

diambil dari buku Mulai Mengerti (Edward Suhadi)

Hello everyone,

So I think I really need to write this because this is sooooo relatable. Jadi, buku di atas itu adalah salah satu buku yang baguuus sekali, one of my favorites! Dan quote di atas itu adalah quote favorit dalam buku itu. Sangat dekat sekali, dengan mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, langsung saja, karena saya bingung mau pembukaan bagaimana wkwkwk

Dari quote itu, jelas sekali dikatakan bahwa ketika suatu ukuran dijadikan tujuan, maka ia bukan lagi suatu ukuran yang baik. Contoh orang sukses salah satu tandanya adalah punya uang yang banyak. Nah, uang yang banyak ini adalah salah satu ukuran, tapi ketika ia dijadikan satu-satunya tujuan, melakukan apa saja asal mendapatkan uang yang banyak, maka itu jadi keliru. Sama juga, orang sehat salah satu tandanya adalah punya berat badan ideal. Tapi, ketika berat badan dijadikan satu-satunya tujuan, hanya mau kurus saja, terus melakukan apapun, maka jadi keliru juga, bisa jatuh sakit.

So, it is really not about the parameters, it is always about the goal, so focus on the essentials. Fokus di intinya, di tujuannya, fokus pada hal yang mendasar itu. Fokus mencapai tujuan bukan hanya sekedar mencapai angka-angka yang ada dalam parameter-parameter itu. Karena jika angka-angka itu menjadi tujuan, maka semua cara bisa dilakukan, termasuk cara-cara yang buruk, yang pada akhirnya semakin menjauhkan dari tujuan yang sesungguhnya.

Mirip-mirip juga halnya kalau kita berbicara dengan orang lain, atau menyampaikan sesuatu. Tangkaplah atau sampaikanlah maksud dari apa yang disampaikan. Kadang-kadang pertanyaan yang dilontarkan bisa memberikan banyak kemungkinan interpretasi tujuan. Karena, satu tujuan bisa disampaikan dengan banyak jenis pertanyaan. Jadi, penting agar tujuan itu tersampaikan.

Wkwkwkwk ngomong opo iki

Ya pokoknya begitulah, tidak hanya contoh di atas, tapi semua aspek kehidupan juga. Kalau dalam hidup ini, pasti ada yang esensial dan non esensial, fokus lah pada hal yang penting, yang esensial, karena agak sia-sia rasanya menghabiskan waktu pada hal-hal yang kurang penting, membuang-buang tenaga.

So, harus pintar memilah-milah, bijak melihat yang mendasar, esensial, penting. 

Terlepas dari apapun itu yang saya tulis di sini, that very first sentence really hits me hard wkwkwk 

Ngeblank euy mau ngomong apa, tapi kayaknya itu sih intinya fokus pada hal esensial, it makes your life happier dan worth, gitu ajalah yaa hahahaha

Sampai ketemu di [tujuh puluh sembilan]

Cheers,

Em🙆


Thursday, 3 August 2023

[tujuh puluh tujuh] menyebalkan

saat kita jengkel dengan orang lain, bukan tidak mungkin, pada saat yang sama, orang itu juga jengkel dengan dirinya sendiri

Hello again hehee

Sudah biasa ya, draft dibuat duluan tapi dipost belakangan, termasuk yang satu ini hehee

Jadi, kalau diamat-amati kayaknya memang ada periode di mana manusia-manusia di Bumi cenderung menjadi lebih sensitif dan senggol bacok. Contohnya mungkin (kalau pengalaman pribadi saya) di pertengahan tahun. Entah apa alasannya, mungkin karena cuaca semakin panas, atau mungkin, karena kaget tau-tau sudah lewat 7 bulan di tahun 2023 ini, atau mungkin juga, karena pekerjaan, atau teman, keluarga atau masalah pribadi lainnya. Hanya orangnya sendiri yang tau hahahaa

Tapi, ada yang menarik ketika saya sedang di periode waktu yang sangat sensitif tersebut, saya sempat berpikir dua hal, yang pertama yang muncul di kalimat paling pertama di postingan ini. Dan yang kedua, adalah pemikiran bahwa sangat memungkinkan, hampir niscaya, apa yang kita rasakan, juga adalah apa yang orang lain rasakan.

Apakah dengan 2 pemikiran itu saya menjadi tidak sensitif dan jengkelnya langsung hilang? Tentu, tidak. Tetap saja kesal, jengkel, syedi, mixed feeling. Tidak berubah, nama nya juga perasaan, tidak bisa diatur hehee

Tapi, dengan berpikir demikian, mungkin, menurut saya kita bisa menjadi lebih objektif dan tidak buta menanggapi apa yang dirasakan.

Pada pemikiran pertama tadi, saat kita jengkel dengan orang lain, maka mungkin di saat yang sama, orang itu juga jengkel dengan dirinya sendiri. Disclaimer, ini asumsi saya kwkkww. Karena saya cukup sering berpikir seperti ini. Setelah saya mengatakan atau melakukan sesuatu, baru saya berpikir dan sadar wah kayaknya tadi saya menjengkelkan yaa. Tapi, mungkin saat saya melakukan itu, saya tidak kepikiran atau tidak kebayang bahwa itu akan semenjengkelkan itu. Atau pada saat itu, memang kondisinya membuat saya melakukan hal tersebut, hal yang menjengkelkan. Kadang-kadang demikian kan ya. Nah, kalau memang demikian yang terjadi, berarti orang yang menjengkelkan itu sebenarnya tidak berniat untuk menjadi menjengkelkan, you got my point? iya nda sih wkwkwk karena dia pun jengkel dengan dirinya sendiri hahaaaa. Jadi kita bukanlah objek sasaran yang ingin dengan sengaja dibuat marah/kesal/jengkel. Akibatnya, ya sudah, kita cukup berkutat dengan perasaan jengkel kita saja tanpa perlu merembet kemana-mana, cukup jengkel dengan kejadian yang terjadi, dan tidak berlanjut mengasosiasikan ke personal orang tersebut ataupun hal-hal lain yang sebenarnya tidak berkaitan.

Kemudian, pemikiran kedua juga sama sih intinya, sangat memungkinkan apa yang kita rasakan, juga adalah apa yang orang lain rasakan. Dalam arti, saat kita sedang jengkel, mungkin semua orang di dunia ini juga sedang jengkel wkwkw atauu saat kita jengkel, begitu juga orang lain rasakan saat kita yang menjengkelkan. Jadi, kita pun di saat tertentu bisa menjadi semenjengkelkan orang tersebut hahahaa which is pasti (bukan lagi possible). Jadi pemikirannya adalah kita tidak spesial dan bukan kita saja yang merasakan itu. Semua orang bisa merasakan kejengkelan dan kemarahan itu. Dan di saat tertentu bisa jadi kita lah pelakunya, yang membuat orang lain menjadi jengkel. Kesimpulannya juga sama sih dengan yang di atas, karena secara personal tidak ada yang berbeda baik dari kita maupun orang lain, jadinya fokus saja pada perasaan bukan pada orang atau kejadian-kejadian lain yang sesungguhnya tidaklah relevan dengan perasaan kita. 

So, jengkel marah or apapun itu sifatnya alamiah, selama hidup pasti pernah jengkel, pernah marah. Pernah juga pasti membuat orang jengkel, membuat orang marah. Tidak ada yang istimewa, itulah dinamika hidup, naik dan turun, senang dan susah, jengkel dan bahagia. Jika ada waktu dimana kita jengkel, tentu ada juga waktu dimana kita senang dan bahagia. Sealamiah dan sewajar itu.

Take home message: tidak apa-apa jengkel asal tidak merembet kemana-mana hahahaa. Perasaan adalah perasaan, hanya sekedar perasaan, dia bukan kita, bukan juga orang lain. Dia muncul, bertahan, dan berlalu. 

Demikian kira-kira ke-sotoy-an hari ini wkwkwk.

Seproduktif ini di bulan Agustus hahaha awal bulan udah ngepost, baguslah kemarin malas-malas soalnya wkwkwk

Sampai ketemu lagi di [tujuh puluh delapan],

Cheers,

Em 🙆