Sunday, 18 September 2022

[enam puluh satu] how I met math

Hello guys, 

Hari ini mau share sedikit tentang suatu hal yang baru kepikiran belakangan. Beberapa hari terakhir ini memang cukup sibuk dengan pekerjaan, kemudian di akhir minggu ada tawaran mengajar 2 kelas sekaligus, tapi saya menyanggupinya, mana materinya perlu dibuat, yang berarti hari Jumat malam dan Sabtu saya perlu menyisihkan waktu untuk membuat materi pelajaran. Kemudian saya jadi berpikir, lucu juga ya, kenapa menyanggupi mengajar 2 kelas yang materinya belum ada padahal seminggu ini sudah lumayan kelelahan dengan pekerjaan. And that's what I am trying to figure out the answer here.

As a context, jadi saya sudah menjadi tutor sejak kelas 2 SMA. Jadi, waktu kelas 2 SMA ada tawaran dari seorang guru di sekolah untuk bantu dia mengajar kursus. Memang waktu itu pengajarnya banyak dan beberapa ada yang masih SMA atau kuliah. Jadi, pengalaman pertama saya mengajar adalah di tempat guru saya itu. Mengajar matematika dan juga fisika. Saya mengajar secara kontinu kurang lebih selama 7 tahun dari kelas 2 SMA hingga sebelum sekolah S2. Di selang 7 tahun itu, ada beberapa bulan yang lowong tapi selebihnya saya mengajar. Tak bisa dipungkiri juga kalau dari situ saya dapat uang tambahan wkwkw jadi kalau mau beli apa-apa tidak perlu minta ke orang tua. Kadang-kadang masih minta sih hahaha tapi lebih jarang lah.

Okay, back to the topic, jadi setelah dipikir dan dipikir, I think that math is my comfort zone. Jadi, waktu mengajar pertama kali itu saya masih mengajar matematika dan fisika sampai di tempat terakhir saya mengajar itu saya cuma mengajar matematika. Di satu sisi, dulu nya waktu SMA memang saya mendapat kesempatan ikut olimpiade fisika waktu itu syukurnya bisa sampai nasional meskipun tidak mendapatkan medali. Tapi, entah kenapa saya kurang confident dengan kemampuan fisika saya. Jadi, saya ndak berani untuk mengajar fisika, lebih pede rasanya mengajar matematika, sampai sekarang ini, meskipun ga jago-jago banget juga sih hahaa tapi setidaknya untuk pelajaran sekolah masih okelah, masih banyak yang diingat.

Nah, di sini saya mau share bagaimana saya dulunya bisa belajar matematika yang bisa membuat saya mengingat sampai sekarang dan masih bisa mengajarkan kepada orang lain. I am really thankful for meeting my math teacher. Karena beliau lah, matematika jadi satu pelajaran yang meninggalkan kesan dan pemahaman paling dalam. 

Waktu SD saya pernah beberapa kali mewakili sekolah mengikuti lomba matematika, tapi gak pernah menang wkwkk saya masih ingat, waktu SD itu saya ikut les di sekolah sementara kebanyakan teman saya itu les di luar di guru A, B, C, dst. Saya juga masih ingat bagaimana saya tidak paham bagaimana menghitung perbandingan skala, menghitung luas lingkaran, menghitung keliling lingkaran. Tidak paham saya dan tidak bisa menghafal. That's why biology doesn't work on me, sad. Jadi, saya tidak bisa menghafal rumus, hanya beberapa saja yang bisa saya ingat, dan jika soalnya sudah diutak-atik saya sudah tidak bisa jawab. Alhasil, waktu ujian kelulusan SD, nilai ujian matematika saya di batas rata-rata, kalau tidak salah dapat 5 atau 6, pokoknya udah mepet gak lulus waktu itu. Saya jadi mikir, kok bisa ya nilai matematika saya jelek, padahal saya pernah ikut lomba loh. 

Setelah itu, masuk SMP, saya dikenalkan oleh tetangga saya seorang guru matematika. I have no idea dengan guru ini. Setelah masuk baru tau, ternyata beliau guru yang membina murid-murid yang ikut olimpiade. Wah, di situlah perjuangan (penderitaan) dimulai. Kalau orang bicara titik balik, salah satu titik balik saya itu waktu masuk belajar di situ. Dari yang dulu nya ndak paham matematika sampai yang paham kenapa rumus ini begini kenapa rumus ini begitu. Kenapa saya tadi bilang penderitaan, saya belajar dengan beliau dari saya kelas 1 SMP sampai saya bisa lolos olimpiade tingkat nasional di kelas 2 SMA, sekitar 5 tahun non stop, paling pernah istirahat 1-2 bulan tapi akhirnya kembali lagi belajar di situ. Luar biasa sih peran beliau dalam pendidikan sains saya wkwkwk. Oh iya balik lagi, kenapa saya bilang penderitaan, yang pertama, karena saat itu jam belajarnya itu dari jam 4 sore sampai jam 7 malam (paling cepat), 2 kali seminggu. Bahkan, awal-awal saya itu mulai dari jam setengah 4, biasa pulang jam setengah 8 kwkkw. Selama jam belajar itu, ga boleh main hape, waktu itu handphone juga belum secanggih sekarang sih, pokoknya dilarang main handphone. Selama jam 4-7, yang dilakukan cuma bisa belajar, yaitu kerja soal atau membaca, kalau capek ya liatin orang atau bengong hahahaa. Kemudian, saya masih ingat sekali, ada waktu-waktu di mana dalam 1 hari saya cuma kerjain 1 soal aja selama 3 jam itu. Kemudian, ada juga masa di mana, saya takut kalau saya mau pergi les, takut gak bisa ngerjain soal. Ada juga masa di mana, waktu saya ngerjain 1 soal, tiap saya liatin ke guru saya itu, salah terus jawabannya, jadi karena sistemnya pantul, jadi kalau salah, beliau gak kasih tau jawaban benarnya, kita yang mesti cari tahu dan perbaiki sendiri, sampai beliau bilang 'wah akhirnya benar juga jawabannya'. Waduh, parah sih itu kalau dibayangin lagi, lebih ke malu sih hahahhaa. Ada juga masa di mana setelah pulang les itu kepalanya panas wkwkwk karena disuruh mikir teruus hahhaa. Ada juga yang lucu, jadi dulunya saya memakai kalung dengan liontin Buddha kemana-mana. Suatu hari, saya lupa memakai kalung itu. Di jalan saya sudah berfirasat, aduh saya lupa pakai kalungnya, mudah-mudahan nanti saya tetap bisa kerjain soal wkwkkw udah menganggap kalung itu jimat karena saking takut soalnya sesulit itu hhaaa tapi untung ga ada trauma, karena setelah belajar beberapa waktu di sana, saya jadi lebih banyak paham dan jadi semangat belajar matematika dan fisika (apalagi saat itu, hampir semua orang bilang matematika dan fisika itu susah), tapi ternyata sistem yang diterapkan guru saya itu cocok untuk membuat saya paham. 

Jadi, sistem belajar di sana itu adalah, belajar mandiri, kalau gak tau baru nanya, itupun kalau nanya jawabannya itu dikasih bacaan aja, jadi jatohnya tetap aja belajar sendiri. Setiap masuk satu materi baru kita disuruh baca dulu, liat latihan soalnya, kenapa bisa cara kerjanya seperti itu. Sistem belajar itu yang membuat tidak semua orang betah. Sayapun sempat merasa putus asa kalau saya tidak paham-paham (meskipun kadang-kadang guru nya juga akan menjelaskan pada akhirnya). Tapi, saya cuma bisa bengong dan bertahan. Akhirnya, ada buahnya juga. Beliau memang sangat logis dalam penjelasan matematika, jadi tidak ada hafalan, yang ada adalah pemahaman. Hal ini yang menurut saya pribadi, yang melatih cara berpikir logis dan analitis saya hingga sekarang. Sebagai contoh, kalau teman-teman masih ingat rumus trigonometri sudut rangkap yang biasanya dihafal, dari guru saya itu, dijelaskan bagaimana masing-masing rumus itu bisa muncul, sehingga sampai sekarang saya masih ingat, meskipun saya tidak hafal, tapi saya ingat bagaimana cara rumus itu diturunkan. So, I am truly grateful for being there at that time. I do thank him for being a great teacher during my high school time. 

So, that's how I met math (and physics). Tidak ada hafalan sama sekali. Meskipun level matematika saya gak sampai olimpiade, tapi saya pikir gara-gara guru saya itu, matematika menjadi comfort zone saya. Saya tertarik mengerjakan soal matematika meskipun pada akhirnya saya gak bisa jawab. But, I enjoy how my brain is working on that problem. Dan mengapa saya mengatakan math is my comfort zone, mungkin karena I don't need to work too hard to bring something to people. I don't need to put too much effort, karena saya masih mengingat sebagian besar materi dan bagaimana mempelajari nya dan itulah juga yang saya ajarkan. Di sisi lain juga, mengajar dan membuat bahan ajar matematika mungkin jadi satu bahan refreshing buat saya di samping pekerjaan utama saat ini. 

Jadi, begitulah, kalau ada satu hal yang patut saya syukuri adalah itu tadi, belajar matematika dan fisika dari guru saya itu. Karena beliau lah saya bisa ikut lomba, saya bisa ikut olimpiade, saya bisa dipanggil menjadi pengajar, saya bisa mengajar orang lain, saya bisa berpikir logis dan analitis sampai sekarang, dan saya bisa menjadi saya sekarang, part itu berperan penting. So, thank you Sir, I owe you a lot!

Di sepanjang perjalanan belajar itu, kebanyakan saat masih sekolah, ada juga guru-guru lain yang juga berperan banyak. Jadi, saya ingin ucapkan terima kasih kepada semua guru-guru saya. I owe you all a lot, thank you!!

Semoga masih ada sedikit ilmu yang bisa terus saya alirkan ke orang-orang menjadi kebermanfaatan yang baru. Semoga.

Sharing ini bukan berarti menunjukkan bahwa saya jago banget matematika, gak juga lah, masih banyak orang di luar sana yang lebih hebat. Tapi, yang ingin saya sampaikan bahwa setiap proses yang sulit itu, biasanya buahnya manis, jangan cepat menyerah. Selain itu, setiap orang juga pasti punya comfort zone nya sendiri, hal-hal yang disenangi di luar rutinitas, dan itu perlu to keep us sane.

I share this because I think this one is interesting in my life and I want to keep this story here :)

See you later di [enam puluh dua]

Cheers,

Em🙆

Friday, 16 September 2022

[enam puluh] that day

It was the day, the same day, eleven years ago. It was the day when, I think, I didn't remember days. Until now, sometimes, I am still wondering, why didn't I remember that day. In fact, that was one of the saddest day in my life. However, the images of what happened that day are still clear, until today. It is a little weird that I cannot remember the day. In many previous years, sometimes the day just passed by when I remember when that day was. To be honest, I just recall this day because the date is similar to our house number. Such a coincidence. So, the date is not directly related to the occasion actually. And today, after eleven years, I decided to write this down, after several times of thinking the same problem of why can't I remember the day like any other important days. But, what I am going to write today will not answer that question, I guess, it has no answer. The simplest answer I can think of is just maybe what happened that day took all my attention that I am not able to think about anything else, anything, including the date, the day.

I just want to share a little story, so one day if I forgot (hopefully no), I have something to remind me..

So, actually that day was predictable and finally came. We should have been prepared ourselves for that, however, no matter how hard or how well you prepare, you will never be prepared for that thing, trust me (or not). After a long long fight, maybe 2 - 3 years, we have no other choice, the fight was over. No more fight, no more suffering. 

I can't remember, but, maybe a week or maybe two weeks before that, someone told me to be prepared, for that day. Before that, other people told me the same too. Deep down in my heart, I said to myself why should we treat a person that still alive like she was going to leave us that soon? Isn't it cruel for her? Isn't it like she was unwanted? These question was never asked, yet got no chance to be answered. Time passed by, and that day finally came. I can still remember how strange all the things were, still very clear in my mind, like recalling a movie scene. I was still very young, still in high school, and I think I can not speak up my opinion, maybe even now, if I am in that kind of situation, still can not tell my opinion. It's just so weird. At that night, we had someone to come and see her. That person said, it's time. So, we prepared everything. It was midnight already, I was asked to go to sleep. I was told that he will call me when it's time. It was an early morning, still dawn, it's time, it really is. The oxygen was there, but it was not breath anymore. I woke up to say the last goodbye. Indeed, I didn't say anything. No words came out. In our tradition, we are told to say 'good people walk good path', I cannot think of anything else instead of repeating that sentence, hoping that she really had a good path. I have nothing to wish for. 

It was predictable, it really was. I didn't remember what I was thinking when I went to sleep that night. What I can say is I think my brain did not work at all, completely. It's just happened, I can't think of anything, I can't do anything. I was crying, a little bit. We don't have a big house, just a small one but enough for us. But that day, for two days maybe (see? I can't remember properly), lots of people came to that small house. It was full day and night. I have no time to process everything. But now, I can still remember me looking at myself at that day, you know, like you are being another person to see your own self. One of the sad things that I remember, at the beginning I didn't cry when I deliver her to the funeral, I cried because the person beside me cried, that made me cry. I was crying quite hard that time. The rest was history, we continue our life, our life must go on. It was a great great lost. He said, it must be different, even if she just stayed in bed, she was with us, but now she was not here anymore. Like a table, we had lost one of our legs. That was true. 

After that day, I don't remember how I live, just like normal people, but I believe I have something inside. I lost someone really important. Lots lots lots of things I wish we can do together, but indeed, we can't. Lots of experience, lots of questions, that I should ask to her, but I can't. And, I think, I am today, is made of those little pieces of life events. 

I don't know how to explain myself that day. As I said, the memories are crystal clear, but my feelings, my thoughts, I have no idea until today, can't explain. 


Hey, look at me now, I live a good life, don't I? Hopefully I have something to make you proud. Hopefully you are truly proud of me. We have no proper picture together, technology that day was lame. I can't even remember our very last conversation. It was because we fought together, we have no time for other things, but that's okay, that was the right thing to do. You know, I will always, hopefully, remember your face. Actually, not only your face, but you, all the good things in you :)

I wish you are born in a better place now and let's meet in another life.

I love you in every universe. I love you limitless. And I miss you always.

We missed a lot of experiences that we possibly had. But that's okay, I had 16 years of my life with you, now I already have 11 years without you, maybe I will have more years without you than with you, but you know what, it doesn't matter, I always have you in me, always. I wish one day we cross our path again, until one day we are free. Sadhu.

with love, your little buddy who loves you endlessly,

Em 🙆