Hello guys,
Hari ini mau share sedikit tentang suatu hal yang baru kepikiran belakangan. Beberapa hari terakhir ini memang cukup sibuk dengan pekerjaan, kemudian di akhir minggu ada tawaran mengajar 2 kelas sekaligus, tapi saya menyanggupinya, mana materinya perlu dibuat, yang berarti hari Jumat malam dan Sabtu saya perlu menyisihkan waktu untuk membuat materi pelajaran. Kemudian saya jadi berpikir, lucu juga ya, kenapa menyanggupi mengajar 2 kelas yang materinya belum ada padahal seminggu ini sudah lumayan kelelahan dengan pekerjaan. And that's what I am trying to figure out the answer here.
As a context, jadi saya sudah menjadi tutor sejak kelas 2 SMA. Jadi, waktu kelas 2 SMA ada tawaran dari seorang guru di sekolah untuk bantu dia mengajar kursus. Memang waktu itu pengajarnya banyak dan beberapa ada yang masih SMA atau kuliah. Jadi, pengalaman pertama saya mengajar adalah di tempat guru saya itu. Mengajar matematika dan juga fisika. Saya mengajar secara kontinu kurang lebih selama 7 tahun dari kelas 2 SMA hingga sebelum sekolah S2. Di selang 7 tahun itu, ada beberapa bulan yang lowong tapi selebihnya saya mengajar. Tak bisa dipungkiri juga kalau dari situ saya dapat uang tambahan wkwkw jadi kalau mau beli apa-apa tidak perlu minta ke orang tua. Kadang-kadang masih minta sih hahaha tapi lebih jarang lah.
Okay, back to the topic, jadi setelah dipikir dan dipikir, I think that math is my comfort zone. Jadi, waktu mengajar pertama kali itu saya masih mengajar matematika dan fisika sampai di tempat terakhir saya mengajar itu saya cuma mengajar matematika. Di satu sisi, dulu nya waktu SMA memang saya mendapat kesempatan ikut olimpiade fisika waktu itu syukurnya bisa sampai nasional meskipun tidak mendapatkan medali. Tapi, entah kenapa saya kurang confident dengan kemampuan fisika saya. Jadi, saya ndak berani untuk mengajar fisika, lebih pede rasanya mengajar matematika, sampai sekarang ini, meskipun ga jago-jago banget juga sih hahaa tapi setidaknya untuk pelajaran sekolah masih okelah, masih banyak yang diingat.
Nah, di sini saya mau share bagaimana saya dulunya bisa belajar matematika yang bisa membuat saya mengingat sampai sekarang dan masih bisa mengajarkan kepada orang lain. I am really thankful for meeting my math teacher. Karena beliau lah, matematika jadi satu pelajaran yang meninggalkan kesan dan pemahaman paling dalam.
Waktu SD saya pernah beberapa kali mewakili sekolah mengikuti lomba matematika, tapi gak pernah menang wkwkk saya masih ingat, waktu SD itu saya ikut les di sekolah sementara kebanyakan teman saya itu les di luar di guru A, B, C, dst. Saya juga masih ingat bagaimana saya tidak paham bagaimana menghitung perbandingan skala, menghitung luas lingkaran, menghitung keliling lingkaran. Tidak paham saya dan tidak bisa menghafal. That's why biology doesn't work on me, sad. Jadi, saya tidak bisa menghafal rumus, hanya beberapa saja yang bisa saya ingat, dan jika soalnya sudah diutak-atik saya sudah tidak bisa jawab. Alhasil, waktu ujian kelulusan SD, nilai ujian matematika saya di batas rata-rata, kalau tidak salah dapat 5 atau 6, pokoknya udah mepet gak lulus waktu itu. Saya jadi mikir, kok bisa ya nilai matematika saya jelek, padahal saya pernah ikut lomba loh.
Setelah itu, masuk SMP, saya dikenalkan oleh tetangga saya seorang guru matematika. I have no idea dengan guru ini. Setelah masuk baru tau, ternyata beliau guru yang membina murid-murid yang ikut olimpiade. Wah, di situlah perjuangan (penderitaan) dimulai. Kalau orang bicara titik balik, salah satu titik balik saya itu waktu masuk belajar di situ. Dari yang dulu nya ndak paham matematika sampai yang paham kenapa rumus ini begini kenapa rumus ini begitu. Kenapa saya tadi bilang penderitaan, saya belajar dengan beliau dari saya kelas 1 SMP sampai saya bisa lolos olimpiade tingkat nasional di kelas 2 SMA, sekitar 5 tahun non stop, paling pernah istirahat 1-2 bulan tapi akhirnya kembali lagi belajar di situ. Luar biasa sih peran beliau dalam pendidikan sains saya wkwkwk. Oh iya balik lagi, kenapa saya bilang penderitaan, yang pertama, karena saat itu jam belajarnya itu dari jam 4 sore sampai jam 7 malam (paling cepat), 2 kali seminggu. Bahkan, awal-awal saya itu mulai dari jam setengah 4, biasa pulang jam setengah 8 kwkkw. Selama jam belajar itu, ga boleh main hape, waktu itu handphone juga belum secanggih sekarang sih, pokoknya dilarang main handphone. Selama jam 4-7, yang dilakukan cuma bisa belajar, yaitu kerja soal atau membaca, kalau capek ya liatin orang atau bengong hahahaa. Kemudian, saya masih ingat sekali, ada waktu-waktu di mana dalam 1 hari saya cuma kerjain 1 soal aja selama 3 jam itu. Kemudian, ada juga masa di mana, saya takut kalau saya mau pergi les, takut gak bisa ngerjain soal. Ada juga masa di mana, waktu saya ngerjain 1 soal, tiap saya liatin ke guru saya itu, salah terus jawabannya, jadi karena sistemnya pantul, jadi kalau salah, beliau gak kasih tau jawaban benarnya, kita yang mesti cari tahu dan perbaiki sendiri, sampai beliau bilang 'wah akhirnya benar juga jawabannya'. Waduh, parah sih itu kalau dibayangin lagi, lebih ke malu sih hahahhaa. Ada juga masa di mana setelah pulang les itu kepalanya panas wkwkwk karena disuruh mikir teruus hahhaa. Ada juga yang lucu, jadi dulunya saya memakai kalung dengan liontin Buddha kemana-mana. Suatu hari, saya lupa memakai kalung itu. Di jalan saya sudah berfirasat, aduh saya lupa pakai kalungnya, mudah-mudahan nanti saya tetap bisa kerjain soal wkwkkw udah menganggap kalung itu jimat karena saking takut soalnya sesulit itu hhaaa tapi untung ga ada trauma, karena setelah belajar beberapa waktu di sana, saya jadi lebih banyak paham dan jadi semangat belajar matematika dan fisika (apalagi saat itu, hampir semua orang bilang matematika dan fisika itu susah), tapi ternyata sistem yang diterapkan guru saya itu cocok untuk membuat saya paham.
Jadi, sistem belajar di sana itu adalah, belajar mandiri, kalau gak tau baru nanya, itupun kalau nanya jawabannya itu dikasih bacaan aja, jadi jatohnya tetap aja belajar sendiri. Setiap masuk satu materi baru kita disuruh baca dulu, liat latihan soalnya, kenapa bisa cara kerjanya seperti itu. Sistem belajar itu yang membuat tidak semua orang betah. Sayapun sempat merasa putus asa kalau saya tidak paham-paham (meskipun kadang-kadang guru nya juga akan menjelaskan pada akhirnya). Tapi, saya cuma bisa bengong dan bertahan. Akhirnya, ada buahnya juga. Beliau memang sangat logis dalam penjelasan matematika, jadi tidak ada hafalan, yang ada adalah pemahaman. Hal ini yang menurut saya pribadi, yang melatih cara berpikir logis dan analitis saya hingga sekarang. Sebagai contoh, kalau teman-teman masih ingat rumus trigonometri sudut rangkap yang biasanya dihafal, dari guru saya itu, dijelaskan bagaimana masing-masing rumus itu bisa muncul, sehingga sampai sekarang saya masih ingat, meskipun saya tidak hafal, tapi saya ingat bagaimana cara rumus itu diturunkan. So, I am truly grateful for being there at that time. I do thank him for being a great teacher during my high school time.
So, that's how I met math (and physics). Tidak ada hafalan sama sekali. Meskipun level matematika saya gak sampai olimpiade, tapi saya pikir gara-gara guru saya itu, matematika menjadi comfort zone saya. Saya tertarik mengerjakan soal matematika meskipun pada akhirnya saya gak bisa jawab. But, I enjoy how my brain is working on that problem. Dan mengapa saya mengatakan math is my comfort zone, mungkin karena I don't need to work too hard to bring something to people. I don't need to put too much effort, karena saya masih mengingat sebagian besar materi dan bagaimana mempelajari nya dan itulah juga yang saya ajarkan. Di sisi lain juga, mengajar dan membuat bahan ajar matematika mungkin jadi satu bahan refreshing buat saya di samping pekerjaan utama saat ini.
Jadi, begitulah, kalau ada satu hal yang patut saya syukuri adalah itu tadi, belajar matematika dan fisika dari guru saya itu. Karena beliau lah saya bisa ikut lomba, saya bisa ikut olimpiade, saya bisa dipanggil menjadi pengajar, saya bisa mengajar orang lain, saya bisa berpikir logis dan analitis sampai sekarang, dan saya bisa menjadi saya sekarang, part itu berperan penting. So, thank you Sir, I owe you a lot!
Di sepanjang perjalanan belajar itu, kebanyakan saat masih sekolah, ada juga guru-guru lain yang juga berperan banyak. Jadi, saya ingin ucapkan terima kasih kepada semua guru-guru saya. I owe you all a lot, thank you!!
Semoga masih ada sedikit ilmu yang bisa terus saya alirkan ke orang-orang menjadi kebermanfaatan yang baru. Semoga.
Sharing ini bukan berarti menunjukkan bahwa saya jago banget matematika, gak juga lah, masih banyak orang di luar sana yang lebih hebat. Tapi, yang ingin saya sampaikan bahwa setiap proses yang sulit itu, biasanya buahnya manis, jangan cepat menyerah. Selain itu, setiap orang juga pasti punya comfort zone nya sendiri, hal-hal yang disenangi di luar rutinitas, dan itu perlu to keep us sane.
I share this because I think this one is interesting in my life and I want to keep this story here :)
See you later di [enam puluh dua]
Cheers,
Em🙆