Sunday, 8 May 2022

[lima puluh lima] ternyata kita belum

Terkadang kita kira kita sudah ramah, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka tidak peduli pada orang lain.

Terkadang kita kira kita sudah baik hati, ternyata kita belum. Kita mungkin masih berharap dibalas atas kebaikan itu.

Terkadang kita kira kita sudah tenang, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sering panik dalam menghadapi masalah.

Terkadang kita kira kita sudah sabar, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sering marah terhadap hal-hal kecil.

Terkadang kita kira kita sudah jujur, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka berbohong untuk hal-hal kecil, atau kepada diri sendiri.

Terkadang kita kira kita sudah rendah hati, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka menyombongkan hal-hal yang tidak perlu.

Terkadang kita kira kita sudah belajar banyak, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka sok tahu untuk hal-hal yang kita belum tau.

Terkadang kita kira kita sudah tidak egois, ternyata kita belum. Kita mungkin masih suka melakukan hal-hal yang menguntungkan diri sendiri tanpa memedulikan orang lain.

Terkadang kita kira kita sudah ikhlas, ternyata kita belum. Kita mungkin masih menyimpan dendam atau membawa beban-beban yang kita kira sudah kita lepaskan.

Terkadang kita kira kita sudah bijaksana, ternyata kita belum. Kita mungkin belum melihat dari sudut-sudut pandang yang lain.

Terkadang kita kira kita sudah tidak melekat, ternyata kita belum. Kita mungkin masih sulit melepaskan hal-hal yang sebenarnya bukan milik kita yang sesungguhnya.


Beberapa dari sekian banyak nya 'terkadang kita kira kita sudah ...., ternyata kita belum' dalam hidup kita ini. Semuanya hanya asumsi kita, perkiraan kita bahwa kita sudah baik sempurna, tapi ternyata kita belum. Bukan berarti kita tidak sama sekali, tetapi kita belum sepenuhnya.

What we think we have become are sometimes just the trick of your mind, ego, and pride (kilesa). We are just tricked by our own mind. In fact, we will never be freed from all those things before we end this (endless) cycle of life.

Terkadang, ketika kita berpikir kita sudah, di saat itu jugalah kita harus memeriksa kembali, apakah kita benar-benar sudah atau mungkin saja itu cuma justifikasi diri, untuk merasa diri lebih baik dan bukan untuk menjadikan diri lebih baik. Just always look inside yourself (myself) all over again.


This is a note to myself.


*Gotcha, unintentionally, 2 posts in a row heheee*

See you at [lima puluh enam],

Cheers, and always be good,

Em 🙆


Saturday, 7 May 2022

[lima puluh empat] it is here and now

Hello again everyone, hope you all are doing very well...

happy belated birthday to me anyway hahahaaa 

I thought I could make it one post every month hahhaaa I was planning to make one on the last day of April, but couldn't make it wkwkwkw but it's okay, mungkin akan posting dua biji bulan ini hahaaa demi memenuhi target 1 post per bulan. Sebenarnya bukan target juga sih, cuma ya mungkin biar tiap bulan ada spare waktu buat menulis, because loadwork gets crazier hahaaa so yaa begitulah ya gesss..

Jadi, topik cerita-cerita hari ini sebenarnya adalah hal yang sudah familiar mungkin yaa, saya cukup yakin banyak dari kita yang sudah pernah dengar, atau sudah tau, begitupun dengan saya, tapi untuk mengaplikasikannya sepertinya sulit yaa hahaa

So, in my case, it always starts with anxiety attack coming from nowhere, but definitely in a hard situation, like in a very tiring, stressful situation. Contohnya kayak kerjaan yang banyak atau lagi deadline tapi banyak masalah menyertainya wwwkwk, atau yang paling sering ketika berada di kereta. Perjalanan yang panjang, banyak orang, capek, panas, kebingungan, menunggu, semuanya yang bisa bikin seperti panik, sesak napas. At that very very short moment, it was horrible. Tapi, selalu ingat untuk kembali ke saat ini dan di sini. One step at a time. Magically, it always works. 

Why panic? Karena pikirannya sudah ke mana-mana. Berpikir perjalanannya akan lama sekali mau cepat-cepat sampai, nanti di stasiun akan desak-desakan, cuaca panas sudah capek maunya langsung rebahan di ruang ber-AC. Pikiran-pikiran itu yang bikin panik, karena kenyataannya yang dialami saat itu adalah memang masih dalam perjalanan, belum bisa sampai di tujuan, belum bisa rebahan, gitu. Jadi, satu-satunya solusi memang mengembalikan pikiran ke situasi yang sedang di alami, here and now. Satu per satu, karena sekarang lagi di kereta (misalnya) ya nikmati saja perjalanannya, karena sesuatu yang ditunggu akan terasa lebih lama. Karena jika terus terbawa dengan pikiran-pikiran yang sulit tadi, maka detak jantung semakin tinggi jadinya semakin panik karena ingin buru-buru. Begitupun dengan pekerjaan, pikirkan saja apa yang bisa dikerjakan saat ini, adapun masalah-masalah yang muncul adalah sesuatu yang wajar karena saya sedang bekerja.

Not going to write for too long.

Tapi kadang-kadang hal-hal kecil seperti itu rasanya penting untuk di-note, diingat selalu. Banyak-banyak hal karena terjadi dan berubah begitu cepat dapat menimbulkan kepanikan-kepanikan kecil. Ketika kita belajar untuk kembali ke tempat ini dan saat ini, kita tau kalau kepanikan itu tidak akan membawa kita kemana-mana karena we cannot do anything about the future. And what we can really do is think about what we can do here and now, that's all that matters. By thinking and doing that way, it will make things much better.

So, I think that is for today and for this post. 

For myself, keep doing good things and keep practicing! I really need you to do this Em :)

All the best for you guys,

I'll see you at [lima puluh lima],

Cheers,

Em 🙆