Wednesday, 22 December 2021

[lima puluh] Objektif sampai di mana?

Bukankah objektivitas adalah sekumpulan subjektivitas yang sejenis?


Draft ini sudah lama mendekam di list postingan tapi tidak pernah dieksekusi heheee entah kenapa, ide nya ada, tapi sepertinya belum mantap wkwkwk

Anyway, sapa-sapa dululah, apa kabar teman-teman? Semoga sehat selalu ya, physically and mentally pastinya. 

Setelah dipikir-pikir, mungkin beberapa tulisan membutuhkan ide yang matang terlebih dahulu lalu ditulis. Tapi mungkin ada juga yang ditulis dulu supaya menjadi mantap hehehe so I will take the latter for this one. 

Bicara tentang objektif-subjektif, sebenarnya ini masalah sudut pandang ya. Karena saya tidak ada kajian literasi, hanya berdasarkan apa yang saya lihat dan saya alami, so this one will just be a general insight and information, bukan teori ataupun sesuatu yang mutlak kebenarannya. 

Pertanyaan dari judul ini sebenarnya muncul karena saya berpikir sebenarnya objektif itu seperti apa, apakah ada penilaian atau pandangan yang objektif sepenuhnya? Ketika seseorang menilai orang lain, bagaimanakah penilaian yang objektif itu?

Kalau subjektif kan kita tahu merupakan pandangan atau opini pribadi. Biasa juga diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak general, tidak untuk semua orang atau tidak adil. Contohnya, di suatu kontes nyanyi, seorang juri memberi penilaian yang tinggi karena pesertanya good looking misalnya. Padahal sebenarnya yang harus dinilai kan, kualitas suaranya. Nah, pertanyaan berikutnya suara yang bagus itu seperti apa sih? Hm, mungkin yang nadanya tepat, artikulasi lirik bagus, dan seterusnya (saya gak tahu saya bukan penyanyi hahahaa).

Ya kurang lebih seperti itu,

Saya mengkaji dengan bertanya ke diri saya seperti itu. Kemudian, apa kesimpulan yang saya dapat?

Saya lalu berpikir, oh mungkin objektivitas itu didasarkan pada beberapa poin, di antaranya mungkin adalah sasaran/target/tempat yang tepat, terukur dan ada standar umum yang disetujui bersama. Jadi, misalnya dari contoh tadi, objektivitas itu ketika menilai berdasarkan apa yang harus dinilai dan mengabaikan faktor lain. Jadi, kalau lomba nyanyi ya suaranya yang dinilai. Kalau ujian ya hasil kerja nya yang dinilai. Tidak memasukkan faktor-faktor kepentingan atau sentimen pribadi. Kemudian, sesuatu yang terukur sehingga menjadi standar. Misalnya suara bagus kalau nada nya tepat, nah nada yang tepat kan bisa diukur ya, bunyinya bisa diukur melalui instrumen musik dan seterusnya. Nah, untuk bagian yang disetujui bersama, di situlah saya rasa ada part subjektivitasnya. Karena pandangan orang sama, maka terbentuklah sebuah pandangan objektif.

Nah selanjutnya, 

Apakah penilaian itu bisa sepenuhnya objektif? Menurut saya, at some point, ketika penilaian objektif sudah dilakukan dan tidak menemukan kesimpupan akhir, maka di situlah subjektivitas bekerja. Misalnya, dari 2 kandidat hanya akan dipilih 1 orang. Secara kualitas mungkin keduanya sama, tapi mungkin salah satu nya punya hal lain yang disukai oleh penilai maka dialah yang terpilih. Jadi, menurut saya di waktu tertentu memang tidak mungkin untuk memberi penilaian secara objektif sepenuhnya, selain itu background orang dalam menilai pun beda-beda. So maybe everyone just try to be as close as possible to the fairness. 

Itu saja kira-kira, tidak ada kesimpulannya ini gaes wkwkwk mon maap yak heheee. Hanya ingin menyampaikan apa yang ada di dalam kepala saja.

Sekian dulu ya. Semoga ada faedahnya :)

Sampai ketemu di [lima puluh satu],

Cheers,

Em 🙆🏻‍♀️




Monday, 20 December 2021

[empat puluh sembilan] see you when I see you again, Belfast!

After 2 years and a half, it's finally time to go home. Honestly, I never expect that it will be this sad, really. I would say I've been through a lot of come and go in this life. And I can even say I've gone through the hardest one, losing my loved ones. And that's why it comes to me that there would never be something as sad as those things. However, here I am, really sad of leaving Belfast with all the memories there. 

Ya jadi begitulah,

Setelah melihat-lihat kembali, wah kok ini levelnya sudah mirip kedukaan yah hahaaa ya mungkin masih 1 2 level di bawahnya. Tapi, getting your tears down on airplane adalah sesuatu buat saya wkkkww atau waktu liat postingan terus berkacaa-kaca hhhaa sepertinya baru kali ini. Anyway, hal yang mirip pernah juga terjadi waktu saya selesai KKN beberapa tahun lalu. Saya pun sepertinya menyadari kalau living together with someone you never or barely know before can bring some kind of attachment of you to them. Waktu KKN, saya tinggal dengan 9 teman yang sebelumnya tidak pernah saya kenal selama 2 bulan. Dan pada akhir masa KKN itu, rasanya memang sedih sekali. A key point that I think made me feeling so sad is because I don't know if I will ever experience the same thing again in the future. KKN tidak dua kali, kalau ke Belfast? Who knows, tapi kecil kemungkinan bisa ke sana lagi. S2 juga tidak dua kali yaa wkkwkw So, mungkin begitu ya. Really, it was so so sad at that/this moment.

One thing, special mention for Kak Qoni, my room mate. Apa-apa selalu sama-sama. I think you are the most reason that made this leaving day so difficult. Apalagi 1 tahun terakhir yang betul-betul sama-sama setiap hari. Those things that I might never experience again. Thank you for everything Kak, I know you'll be just fine, same as me. We'll be okay and let's see each other again in the future :)

Take things aside, I realise that attachment is really human's weakness. Masih melekat. That's why it's so sad when you need to let something go, apalagi kalau banyak memori indah di situ. It's okay, the process is on going, things are still improving.

All in all, thank you Belfast, you are not only a place now, you're home. 

I'll see you when I see you again :)

Hope to come back one day.


Sampai ketemu di [lima puluh]

Cheers,

at quarantine, Em 🙆