Tuesday, 11 August 2020

[tiga puluh satu] Belajar Melepas ...

santai mko, dunia ji ini ...

- anak makassar jaman entahlah wkwkwk -

Halo lagi teman-teman, semoga selalu dalam keadaan sehat yaa, masih pandemi nih sudah masuk bulan ke 6, tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dalam kondisi pandemi ini yaa, tetap semangat maju terus! Apalagi ini bulan Agustus kan, bulan kemerdekaan, harus semangat dong! Wkwkkw

Kali ini, saya mau tanya, seberapa sering kita kehilangan? Entah dari kehilangan barang remeh temeh sampai kehilangan orang yang paling disayang?

Saya sendiri woww sudah tidak terhitung kehilangan yang saya alami selama hidup ini wkwk mulai dari kehilangan pulpen sampai kehilangan anggota keluarga yang disayangi. Baru-baru ini, laptop saya tiba-tiba rusak dan ternyata harus direset, padahal awalnya saya berpikir harus diperbaiki atau malah harus beli baru, tapi ternyata bisa diperbaiki asal direset ulang. Otomatis tidak romantis, aplikasi dan beberapa data (untungnya bukan yang krusial) harus hilang dong. Sempat juga beberapa tahun lalu, kehilangan HP, juga otomatis tidak romantis, kartu sim nya hilang, kartu memori nya hilang, foto-foto hilang semua dong. Yang paling aneh, saya pernah kehilangan tas di rumah saya sendiri beserta isinya, ada buku, kalkulator, dan dompet kalau tidak salah ingat tapi untungnya KTP dan kartu penting lainnya tidak di dompet itu. Apanya yang aneh? Anehnya adalah, tas itu hilang di dalam rumah dan barang berharga lain seperti laptop, HP tidak hilang padahal ada di ruangan yang sama. Saya sampai bingung, apa saya tidak sadar terus saya buang tas saya ya? Hahahaaa

But, then, so what? Kalau bahasa Makassarnya, jadi kenapa mi? wkwkkww

Yang ingin saya katakan adalah santai mi dunia ji ini hahhaaaa 

Maksudnya adalah tidak ada yang selama-lamanya. Ketika saya mereset laptop saya (ini baru saja kemarin ketika saya menulis ini), saya jadi kepikiran dan mengingatkan diri saya kembali kalau oh iya ya, suatu hari bisa loh barang itu rusak, kayak laptop ini, tidak saya duga-duga sebelumnya, karena terakhir saya pakai masih bagus eh tiba-tiba harus direset. Saya jadi mikir dan kembali belajar dan mengingatkan diri saya, kalau ini mah hal lumrah, bisa terjadi pada barang apa saja dan orang mana saja. Saya jadi 'diingatkan' oleh laptop ini kalau saya tuh harus tau betul kalau suatu hari barang lain juga mungkin akan mengalami hal yang sama, wajar saja, tidak usah terlalu merasa bagaimana, tidak usah terlalu sedih. Hari itu, saya belajar dari laptop saya, terima kasih laptop hahhahaaa jangan begitu lagi ya, kalau begitu lagi, nanti saya berterima kasih lagi wkwkkw

Barang hilang itu biasa, mari belajar merelakan. Jangan melekat. Nanti kita kayak tikus, kena lem, ga bisa lepas, lalu mati, sia-sia wkwkkw. Seringkali ketika kita kehilangan sesuatu itu nyeseknya sampai lamaaaaaa sekaliiii, mungkin karena barang kesayangan ya yang diperoleh dengan jerih payah misalnya. Ketika pulpen kita hilang, duh, bisa sampai berhari-hari galaunya. Pulpen saya kemana ya terakhir saya taruh dimana ya, terakhir siapa yang pinjam ya? Pusing dah tuh pikirannya kemana-mana padahal kan masih punya pulpen lain. Mungkin saja pulpen kita menjadi amal untuk orang lain yang membutuhkan. Pulpen itu sudah jadi manfaat besar untuk orang lain. Mungkin hehehee. Karena di otak dan pikiran kita, kita melihat barang itu sebagai punya kita, milik kita, punyaku, milikku, tanpa sedikitpun berpikir bahwa barang ini juga bisa hilang. Kita kadang-kadang kurang paham betul bahwa nothing lasts forever, really, nothing. Kita tahu tapi tidak betul-betul paham. Singkatnya, kita kadang terlalu melekat, kita kurang melepas ...

Anyway, ini bukan berarti bahwa oh kalau gitu gak apa-apa dong kalau barang kita hilang kan memang tidak ada yang selamanya, jadi taroh saja sembarangan barang-barangnya. Hahahaaa bukan begitu juga dong kakak, kan ada namanya tanggung jawab, amanah. Ya, tetap harus bertanggung jawab dong dengan yang kita punya, harus dijaga, dirawat sebaik-baiknya. Tapi, ada hal yang berada di luar kontrol kita. Dan ketika kita sudah  melakukan yang sebaik-baiknya, tetapi barangnya tetap hilang, itulah yang saya maksud. Ketika semua sudah terjadi, apa yang harus dilakukan? Itu yang penting. Malahan, karena kita tau bahwa suatu hari barang (di sini saya contohinnya barang aja ya, tapi orang juga bisa loh wkwkwk) ini akan pergi, akan hilang, akan rusak, akan diambil, atau akan tidak terpakai lagi, maka kita harus menggunakan waktu yang singkat ini untuk menjaga, memakai, memanfaatkan, memelihara apa yang kita punya sekarang. Sehingga, ketika waktunya tiba, barang itu hilang, pergi, rusak, kita tidak kaget lagi, tidak nyesek lagi, karena kita tau memang semua akan pergi pada waktunya dan kita tau selama ini kita tidak menyia-nyiakannya.

Melekat itu agak berbahaya sebenarnya gais, kadang-kadang kita tidak sadar. Kayak lem tikus atau lem alteco atau lem korea gitu hahhaaa, lengket, susah lepas, sekalinya lepas, malah luka. Kita itu sering begitu, tanpa sadar. Sudut pandang kita dibutakan dengan apa yang kita punya sekarang. Mungkin karena sudah terlalu nyaman, sampai lupa. Nyaman dengan punya HP, ketika hilang atau rusak, bingung. Ya, memang kadang-kadang kita perlu mengingatkan diri sendiri kalau ini cuma barang loh, suatu hari bisa rusak atau hilang. Kalau misalnya terjadi saya akan bagaimana ya? Bukan bermaksud meminta-minta supaya barangnya hilang hahahaa tapi upaya pencegahan aja. Sedia payung sebelum hujan (kalau tidak naik mobil) wkwkwk. 

Saya lupa waktu jaman kapan mungkin waktu kuliah kali ya atau SMA ya hahhaaa kalau ada orang yang berlebihan dengan sesuatu atau berlebihan dengan yang ia miliki, maka pasti akan muncul kalimat ini 'santai mko, dunia ji ini' (artinya: santai aja, ini cuma dunia) wkwkw. Lucu juga menurut saya, tapi ada benarnya. Memang benar, bahwa ini cuma dunia, tidak selamanya, tidak kekal. Benda, hewan, manusia, perasaan, peristiwa, semuanya datang dan pergi bergantian. Whoever you are, you have no idea on how to keep something forever. Cepat atau lambat, sekarang atau  nanti, ketika tiba waktunya semua akan pergi dan yang lain akan datang. 

Ya, begitu saja siklusnya, datang, pergi, hilang, tumbuh, berganti, selalu, demikian.

Saya yakin, kita, teman-teman semua yang membaca ini pasti lah sudah familiar, sudah tau, sudah hafal di luar kepala kalau tidak ada yang abadi. Ada barang yang hilang, ada orang pergi, lumrah. Kita tidak selamanya ditinggalkan, bisa jadi kita saling meninggalkan. Kita juga bisa jadi orang yang pergi, jadi orang yang hilang. Jadi, ya biasa aja. Memang itu wajar terjadi dan bagian dari proses kehidupan. Jadi, kalau sudah tau, kenapa masih sering sedih yang mendalam? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Coba tanya-tanya sama diri sendiri, seperti di postingan sebelumnya wkwkk. Seberapa melekatnya kita, seberapa melepasnya kita, hanya kita sendiri yang tau.

Kita manusia, wajar sedih ketika ada yang hilang, wajar senang ketika ada yang datang (umumnya demikian, pun tidak semuanya). Tapi ketika kita tau pakemnya, tau basic dari semuanya, kita tidak akan terlarut, terhanyut dan terbawa, karena kita tau, kita paham, kita sadar betul. Ya, begitulah kira-kira. 

Jadi santai mi saja teman-teman wkwkkww 

Ada yang hilang, ada yang datang, semuanya, ketika sudah waktunya.

Saya juga masih belajar, mari kita sama-sama belajar untuk tidak terlalu melekat :)

Semoga ada faedahnya ya. Sampai sini dulu.

Sampai ketemu di [tiga puluh dua]

Cheers,

Em 🙆

[tiga puluh] Talk to yourself!

Self contemplation is the best way to fall for your ownself

-Priyal Agrawal-


Hello again! Hope you are all doing well there!!

Hmm, a question, have you ever talked to yourself??

But, wait, don't do this very often because people may think you are a lil bit 'pongoro'? wkkwkwww

I'm joking huehehehee

Jaaaadiii, kali ini, saya mau nulis terkait self-talk atau self contemplation atau berbicara dengan diri sendiri, yang saya gak tau apakah banyak yang sudah familiar dengan ini atau sudah sering melakukan ini. Saya pribadi melakukan ini cukup sering mungkin karena saya orangnya lebih introvert dan agak susah ngobrol dengan orang lain, jadi saya lebih sering membahas apa yang ada dalam pikiran saya dengan diri saya sendiri. Sounds weird? Entahlah kwkkwww

I'm not talking about whether it is weird or not, but I found it useful, so I'm just trying to share ... Let's get started ...

Nah, ngomong dengan diri sendiri atau bisa dibilang merenung atau mungkin berkontemplasi. Menurut saya pribadi, dengan berbicara dengan diri sendiri sangat membantu dalam banyak hal. Termasuk ketika saya sedang menulis blog ini, saya sedang berbicara, berdiskusi, dan berdebat dengan diri saya sendiri.

If you never do this, then you should try it someday. I am sure, it helps, at least for me, but I hope for you, too ...

Apa yang terjadi ketika kita berbicara dengan diri kita sendiri?

Ketika kita punya suatu ide, suatu pemikiran, suatu pendapat, suatu emosi, atau apapun itu bentuk pikiran yang muncul di pikiran kita, berbicaralah dahulu kepada diri sendiri. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mengontrol diri kita. Itu yang pertama. Contoh simpel, misalnya ketika sedang jengkel kepada orang, kita bisa bilang ke diri kita bahwa kita sekarang sedang jengkel. Nah, dengan berkata demikian, bagian dari diri kita yang lain akan merespon.  Di sini, bukan berarti kita punya banyak diri yaa hahaa tapi kita pasti punya pemikiran lain yang muncul setelah satu pemikiran muncul. Nah, pemikiran pengikut ini atau yang saya sebut sebagai 'respon' yang mungkin kadang-kadang kita sering abai jika kita tergesa-gesa. Responnya ini menurut saya tergantung latihan kita dan kepribadian kita seperti apa. Bisa jadi kita menanyakan balik ke diri kita mengapa kita jengkel? Atau mungkin kita malah mendukung rasa jengkel itu, atau mungkin mengatakan bahwa tidak perlu jengkel. Banyak kemungkinan. Tentu, lebih baik kalau kita bisa mengontrol ke hal yang positif atau yang lebih baik. Tapi, ketika kita mengangkat suatu argumen ke diri kita sendiri, kita punya waktu lebih panjang sebelum menentukan suatu tindakan yang mungkin saja bisa merugikan kita ataupun orang lain. Dengan demikian, kita bisa lebih mengontrol tindakan yang kita ambil. Jadinya, kita tidak tergesa-gesa dan menyesal. Contoh lain, ketika kita ingin mengungkapkan sesuatu, nah kita bisa berdiskusi dulu dengan diri kita, berpikir lagi, menyelami lagi, kira-kira yang mau saya sampaikan ini menyakiti orang gak ya? Kira-kira berguna tidak ya? Kira-kira sudah sopan belum ya? Ya, kurang lebih begitulah, untuk yang pertama ini, menurut saya sangat membantu untuk mengontrol apa yang kita lakukan, karena kita seolah-olah seperti mengulur waktu dengan mengolah pikiran kita.

Lalu, selanjutnya itu adalah memperkaya perspektif akan suatu hal. Jadi, mirip contoh kasus seperti di atas. Dengan berbicara atau berdiskusi dengan diri kita, sebut saja kontemplasi diri, kita belajar melihat dari berbagai sudut pandang. Secara tidak langsung, bisa mengolah cara berpikir kritis kita. Ya, karena otomatis kita akan berdebat dengan diri sendiri. Namanya saja berdebat pasti kadang-kadang bisa berlawanan pendapat. Okay, jadi begitu ya hehee kita bisa melihat apa yang kita rasakan atau pikirkan dari berbagai sudut pandang dan bisa melihat lebih jauh ke depan. Ketika kita bisa memberikan waktu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, otak kita, pikiran kita akan punya kesempatan mengeksplor lebih banyak, sehingga keputusan yang kita ambil bisa dibilang sudah melewati beberapa seleksi gitu.

Kemudian berikutnya yaitu kita bisa lebih mengenal diri sendiri. Kita bisa tahu perspektif apa yang kita ambil, sudut pandang mana yang kita amati, bagaimana pola pikir kita, bagaimana respon kita terhadap suatu hal. Dengan sering-sering kontemplasi diri, kita kurang lebih bisa introspeksi, menyeleksi apa yang baik dan buruk dan ujung-ujungnya bisa upgrade diri. Kita pun juga akan lebih terbuka untuk dikritisi oleh diri kita sendiri. Tapi apakah benar begitu? Bukankah kita punya ego? Nah, ketika kita berusaha berbicara dengan diri kita sendiri, maka jangan maksa juga wkkwkw turunkanlah egonya sedikit, ketika kita punya suatu pemikiran yang mungkin kita kurang setuju, maka pemikiran itu jangan ditolak, tapi lihat dan amati kenapa kita bisa berpikir begitu. Dan apakah itu benar atau tidak? Dampaknya baik atau tidak? Dengan begitu, kita bisa pelan-pelan belajar. Ibaratnya, kalau kita saja tidak mau mendengar diri sendiri, bagaimana bisa kita dengar orang lain? wkwkwkw

Mohon maaf ya ini mungkin yang saya sampaikan agak berat mungkin hehehee atau penjabarannya kurang jelas. Intinya, dengan berbicara dengan diri sendiri bukan berarti kita tidak bisa cerita atau curhat ke orang lain. Tentu bisa, kita selalu butuh orang lain, tidak mungkin tidak. Tapi, dengan sesekali meluangkan waktu untuk kontemplasi diri, menurut saya, kita bisa jadi lebih tenang, terkontrol, lebih mengenal diri sendiri dan juga kita bisa belajar lebih banyak tentu dari diri kita sendiri juga. 

Kadang-kadang yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan kita itu adalah diri kita sendiri bukan orang lain.

Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu perlu, asalkan jangan sambil tertawa tanpa sebab nanti dikira apa gitu wkwkkwkk

Sekian dulu ya teman-teman, sekali lagi ini opini saya saja, semoga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat karena kita semua sama-sama belajar dan sama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih baik, bukan? hehehe

Stay safe semuanya, jaga diri kita untuk kita dan orang lain :)

Sampai ketemu di [tiga puluh satu]

Cheers,

Em🙆


Tuesday, 4 August 2020

[dua puluh sembilan] gone too soon

Good things come in good time
-Wiz Khalifa-

Halo guys, welcome back! Hope you are doing well wherever you are!

Kali ini cuma pengen cerita saja, bahwa saya adalah orang yang cukup percaya dengan ungkapan 'semua ada waktunya'. I do. Apapun itu, selama kita masih mau dan terus berusaha, maka segala sesuatu akan tiba atau terjadi pada waktunya. 

Tapi...

Apa yang terjadi ketika waktunya belum tiba tetapi waktu yang lain sudah berakhir?
Apa yang terjadi ketika dua waktu tidak saling bersilangan?

Kita hidup saling bergantungan satu sama lain, we do need other people, to help us, to cheer us up, to answer our question, or even just to stand beside us in silence. What happen if you have a question but the answer has run out of time? Or what happen when you realize something but the time is over?

Cukup mengawang-awang ya hahahahaa

Contoh sederhana, jika kita diberikan laptop ketika usia kita misalnya masih SMP, mungkin kita cuma tau memakainya untuk main game, mengetik, atau pekerjaan microsoft office lainnya. Tapi, ketika kita mungkin sudah kuliah kita tau bahwa sebenarnya laptop kita bisa lebih dari itu, bisa buat photoshop, bikin video, dan untuk kreativitas lainnya. Tapi, bagaimana jika saat kita kuliah , laptop kita sudah tidak bisa dipakai??

Get a brand new laptop!

Good answer! Betul sekali, beli laptop yang baru, masalah selesai.

Pertanyannya, bagaimana jika saat kita kuliah, semua perusahaan pembuat laptop sudah tutup??

There must be another smarter device than laptop!

Again, good answer! Pasti ada teknologi yang lebih canggih daripada laptop, bukan? Wkwkwkw

This is the thing that keep going on my mind lately, banyak yang 'sudah tidak sempat lagi', in many cases. Meskipun, in a positive way, saya juga tetap yakin bahwa akan ada kesempatan-kesempatan lainnya mungkin di masa depan, atau ada hal lain yang bisa menggantikan. Atau, mungkin juga jawaban itu akan muncul dalam bentuk lainnya, sama seperti alat yang lebih canggih dari laptop itu.

I don't know.

It's just many things have gone too soon, bukan karena ketika ada tidak dimanfaatkan dengan baik, tetapi pada waktu itu memang waktu nya belum tiba. But no need to regret, yang terjadi ya terjadilah wkkkw

Just use your time, wisely! 

See you at [tiga puluh] uyeaa wkwkw

Cheers,
Em 🙆