Sunday, 28 June 2020

[dua puluh enam] mau ke mana kah kamu?

Hello kawan semua wkwkk

Ketemu lagi yaa, tidak terasa sudah yang ke dua puluh enam nih wkwkw setahun setengah hasilnya dua puluh enam pieces, mayanlah yaaa wkwkwk

Ini lagi mau cerita-cerita soal hal yang sering dialami orang di persimpangan atau bahasa kerennya quarter life crisis. Masa di mana pertanyaan itu banyaaaaak sekali, sebanyak pertanyaan pacar posesif kalau lagi tidak bareng-bareng wkwkwk

Mau ke mana? Mau ngapain? Dua pertanyaan besar dan utama yang sering kita tanyakan ke diri kita sendiri. Pertanyaan tambahan, udah sampai mana? Udah ngapain aja? Makin tambah puyeng gak tuh hahahaaa

Kata orang, quarter life crisis itu banyak mendera manusia-manusia di usia 20an, ya mungkin 20-30 yaa, boleh dibilang di masa jaya-jayanya, di masa produktif-produktifnya, di masa yang paling maksimal buat mengeksplor semua yang bisa dieksplor. Punya tenaga? Punya. Punya waktu? Punya. Punya duit? Hmmm pertanyaan yang sulit hahahaaa setidaknya ada lah, cukuplah gitu kan ya. Jadi memang di masa-masa ini boleh dibilang mungkin the peak of the journey. Peak dalam arti apa yaaa, I'm in this condition btw, peak dalam artian di sini lah waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan sebanyak-banyaknya. Yak, kind of that lah. Jadi, dalam masa ini kita sering ada di persimpangan, bingung dan bertanya, hidup sudah sejauh ini, tujuannya mau kemana? Hidup tuh ngapain sih? Buat apa sih kita hidup? Those kind of question to find the answer of life purpose. 

Jawaban singkatnya, you do you. (Langsung saya ditappe' alias digeplak hahahaa karena jawaban yang tidak solutif). Okayy, markicob! Mari kita coba kulik lebih dalam hehheee

You guys must be familiar with ikigai. Go grab some books about this and read wkwkkww I'm not an expert though, tapi tahu dikit-dikit lah. Coba yaa, singkat aja. Jadi, ikigai itu adalah irisan dari 4 hal (modelnya kayak diagram Venn kalau masih ingat hehehee) yang katanya menjadi alasan untuk kita bangun tiap pagi dan melanjutkan hidup. Jadi, bisa dibilang kalau ikigai itu adalah alasan kita untuk tetap hidup, yang mana bisa juga menjadi tujuan hidup. Setidaknya menjawab pertanyaan mau ngapain tadi. Apa 4 hal itu? Pertama, apa yang kita suka (what you love). Kedua, apa yang kita mahir (what you are good at). Ketiga, apa yang dunia atau masyarakat butuhkan (what the world needs). Keempat, apa yang bisa dihargai dengan uang (what you can be paid for). Secara singkat, kalau keempat hal ini bisa kita temukan jawabannya dan irisannya, so congratulations, that's the answer!

Kalau saya ditanya, mungkin saya juga belum tahu pasti ya apakah saya sudah betul-betul tahu life purpose saya apa. Tapi saya cukup yakin kalau gambaran besarnya sudah ada hanya saja belum detail, hmmmm.

Kalau diingat-ingat lagi dan setelah membaca, melihat yang ada sekarang ini, menurut saya, ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan untuk menjawab ini (seandainya yang ikigai tadi cukup sulit atau rumit).

Ibaratnya gini, kita sedang naik mobil, kalau kita gak tau mau kemana, kita tidak tau mau jalan lewat mana. Tapi juga, kalau kita tidak tau ini jalan apa, kita tidak tau jalan ini akan membawa ke mana. Bingung gak tuh? Hahahhaaa pertanyaan mau ke mana dan mau  ngapain adalah dua hal yang saling berkaitan, yang mana pendekatannya bisa dari salah satunya. Ini akan berkaitan dengan ikigai juga sih nantinya.

Contoh, untuk pendekatan pertama, mau ke mana? Di sini, tujuannya yang harus diketahui lebih dahulu. Kita ini mau hidup kita bagaimana nanti, mau dibawa kemana, mau sukses kah, mau kaya kah, mau terkenal kah, mau apa terserah, boleh detil, boleh gambaran besarnya. Setelah diketahui, maka kita akan mulai bisa mencanangkan atau merencanakan jalannya mau lewat mana. Sama seperti kita mau ke tempat A, kita sudah tau tuh kalau bisa lewat jalan X, Y, atau Z (maafkeun contohnya tidak real wkwkww).

Sedangkan, untuk pendekatan yang kedua, jalan lewat mana? Ini kebalikan dari yang di atas. Nah, di sini, kita lebih melihat ke yang sekarang kita jalani, kita sukanya apa, tertarik di bidang apa, berbakat atau memiliki kemampuan di mana. Setelah itu, kita bisa menganalisa kira-kira yang kita jalani sekarang, ujungnya nanti akan kemana. Sama seperti kita mau lewat jalan X, kita tau jalan ini akan membawa kepada A, B atau C, nah tinggal dipilih kira-kira yang mana yang cocok.

Yah, sebenarnya ini dari kita aja sih lebih cocok yang mana kira-kira, it's really a personal thing. Kalau untuk saya, semua tujuan hidup itu mestinya adalah baik. Jadi apapun itu, it must be a good one, I think. Kalau misalnya kalian merasa kalian belum tau 'mau ke mana?', menurut saya no need to worry too much, anda sudah punya kok, cuma mungkin belum reveal atau belum yakin aja. Seiring berjalannya waktu, banyaknya proses yang dilewati, you will know. Read more references may help hahahhaaaa

Selama kita masih punya semangat untuk bangun tiap pagi dan melakukan sesuatu yang baik, I think, you're on the right track, nearly there! If not, go find one suits you :)

Anyway, menurut saya, tujuan hidup orang itu cenderung berubah seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan setelah dilewatinya berbagai proses kehidupan. Tujuan seorang pemuda yang berusia 25 tahun akan cenderung berbeda dengan tujuan seorang ayah yang punya anak berusia 13 tahun misalnya (saya bilangnya 'cenderung' karena gak bisa mastiin juga tiap orang beda-beda wkwkwkw). Tapi, kalau tujuannya dari awal itu sudah grande (luas) dan relevan untuk kapan saja maka mungkin saja tidak akan berubah, hanya objeknya saja yang berubah tapi masih dalam tujuan yang sama tadi. 

Yaaaaak, mungkin segini dulu tentang tujuan hidup which all of these above are purely my personal opinion. I'm not really sure tho if I have one wkwkwkkw pokoknya begitulah yaa, selamat berjuang masing-masing dari kalian. The one thing I am sure is being good, always.

Saran saya, untuk yang begini-beginian bisa baca buku atau dengar podcast atau nonton youtube maybe. I recommend you to listen to podcast Thirty Days of Lunch khususnya episode dengan mas Ivandeva (your kepala will meledak kalau dengar ini wkwkw cus!) atau ada juga beberapa episode lainnya yang berkaitan dengan ikigai, passion or life purpose. My friend recommended me to read Ikigai (yang sampulnya warna biru muda), you can try it too! Di saat teknologi seperti sekarang ini, tidak begitu sulit lagi untuk mencari banyak pengetahuan dan wawasan. Kembali lagi, you do you, okeeeh? wkwkw

Dah yaa, sampai ketemu di [dua puluh tujuh],
All the best, guys!!

Cheers,
Em 🙆

Tuesday, 16 June 2020

[dua puluh lima] menjadi orang biasa

Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
-Ir. Soekarno-

Halo semuanyaa,
Semoga selalu dalam keadaan sehat :)

Kali ini, mau bahas tentang cita-cita, kind of life goals. 
Beberapa waktu lalu, sempat ditanya oleh seorang teman tentang karir dan pekerjaan. Saya sendiri belum punya pengalaman kerja yang bisa diandalkan. Pengalaman kerja cuma seminggu hehehe dan pernah magang 2 bulan. Sisanya side job, kerja sambilan sambil sekolah. 
Singkat cerita, setelah tanya-tanya dan ngobrol, dia mengatakan bahwa dia belum tahu mau kerja di mana sementara teman-teman yang lain sepertinya sudah punya rencana untuk masa depan. 

Sepintas lalu, saya pun jadi teringat bagaimana kita dari kecil sampai lulus sekolah mungkin hampir selalu didoktrin atau mendengar nasehat-nasehat seperti dua kalimat paling awal. Kita selalu dihimbau oleh entah itu orangtua, guru atau siapapun untuk bermimpi setinggi-tingginya. Itu tidak salah memang, malah bisa jadi motivasi mungkin. Semua orangtua pasti mau yang terbaik buat anaknya bukan? Wkwkwkk

Tapi at some points, saya jadi berpikir bagaimana dengan orang yang tidak memiliki mimpi yang 'tinggi'. Ya memang, tinggi itu relatif, mungkin ada yang menerjemahkan sebagai sukses? terkenal? kaya? terpandang? terpelajar? ya, apapun itulah. Tapi sepengetahuan saya (mungkin pengetahuan saya kurang hahahaaa), mimpi yang tinggi identik dengan yang sifat-sifat yang saya sebutkan tadi.

Kembali ke topik yang awal, saya tidak tahu pasti, tapi kalau ada orang yang merasa aneh karena tidak memiliki mimpi yang tinggi, come on, go ahead! Tidak perlu terlalu memikirkan opini khalayak umum. Kalau ada orang yang bermimpi menjadi presiden maka tidak apa-apa juga jika ada yang bermimpi menjadi karyawan biasa. Kalau ada yang bermimpi menjadi pengusaha kaya raya terkenal maka tidak apa-apa juga jika ada yang bermimpi menjadi ibu rumah tangga biasa. Sama kok tingginya, take it easy hehhehe

Lha jadi gak perlu bermimpi tinggi-tinggi dong? Ya you do you, mungkin tinggi menurut saya beda dengan tinggi menurut anda. Misalnya ada orang yang bermimpi cukup jadi karyawan yang kerja 9 to 5, gaji gak perlu segede gaban yang penting bisa hidup cukup. That's fine. Ada orang juga yang bermimpi wah harus jadi pengusaha sukses omzet 5 M per bulan. That's fine as well. 

I don't know if you can relate, tapi maksudnya adalah, jika kita punya mimpi yang sederhana that's fine, gak ada yang salah kok. 

Jika teman-teman pernah membaca cerita yang berseliweran di sosial media, tentang seorang anak yang tidak terlalu pandai secara akademik, tetapi selalu baik hati membantu temannya jika kesusahan. Dan ketika ditanya, cita-citanya apa, dia menjawab kalau dia ingin menjadi orang yang selalu bertepuk tangan untuk kesuksesan temannya. She even doesn't want to be a superstar! But that's okay! Saya sendiri waktu baca cerita itu jadi gimana ya, cukup terenyuh, tapi jadi mikir juga bahwa menjadi seseorang yang 'tak terlihat' pun tak apa-apa, sama sekali tidak mengurangi value seseorang. Saya jadi bisa melihat kalau memang semua ada perannya masing-masing. Kalau semua orang mau jadi guru, gurunya jadi? Banyak! Hahaaa, I mean, siapa yang mau jadi murid gitu wkwkkww

Sejauh ini, mungkin karena main saya kurang jauh atau gimana, saya masih jarang melihat kasus-kasus mem'bully' cita-cita sih, gak tau kalau ada di luar sana, tapi mudah-mudahan tidak ada dan tidak perlu sampai ada. Setiap orang berhak untuk cita-citanya sendiri terlepas dari doktrin, tekanan, paksaan siapapun. Tidak perlu juga adu tinggi-tinggian untuk masalah cita-cita. Semua orang punya kapasitas dan kenyamanan masing-masing.

Ada orang yang ingin tinggal di rumah besar bak istana, tapi ada juga yang senang-senang saja tinggal di apartemen yang sedang-sedang saja. Ada orang yang ingin naik mobil paling mahal, tapi ada juga yang naik motor pun sudah cukup. Tidak ada yang salah, setiap orang punya ukurannya masing-masing untuk kehidupan dan masa depan masing-masing.

Cuma mau bilang, apapun cita-cita kita (saya dan kalian yang membaca), tidak ada yang salah, tinggi itu relatif bagi tiap orang, tidak perlu terpengaruh apalagi ikut-ikutan. 

Bagi saya pribadi, cita-cita apapun itu, yang penting bisa bermanfaat untuk orang lain.
Mungkin parameter kalian berbeda, ya gak apa-apa juga, gak mesti sama lah semua orang tuu hahhahaha

Tidak ada yang salah menjadi orang 'biasa', toh semuanya hanya manusia biasa wkwkwkw

I don't know if this could bring new insight, but I hope so.
Anyway, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca :))

Sampai ketemu di [dua puluh enam] ya,

Cheers,
Em 🙆

Saturday, 13 June 2020

[dua puluh empat] Apakah hanya mata yang melihat?

Mengapa muncul istilah 'kalau jalan pakai mata?!' atau 'matanya ditaruh dimana?!'
Apakah orang kalau berjalan matanya tertutup? Wkwkwk 
Tentu tidak bukan? Hahahaa

Ada satu pengalaman yang mungkin teman-teman juga pernah mengalami nya meskipun dalam kasus yang berbeda.
Berhubung dalam rangka COVID-19 ini, kampus saya memberlakukan sistem one way, jadi 1 pintu hanya boleh digunakan untuk keluar atau masuk. Di depan pintu sudah tertempel tanda larangan yang besar berwarna merah dan bertuliskan 'Do not enter'. Akan tetapi, entah mengapa, mungkin karena masih terbawa kebiasaan sebelumnya, saya masuk lewat pintu tersebut, lalu teman saya memberitahu bahwa saya masuk di pintu yang salah. 

Setelah itu, waktu melintas kali berikutnya saya coba perhatikan pintunya, ada kok tandanya besar sekali tertempel di sana, tapi kok saya gak ngeh ya dengan tanda itu? Hahhaaa

Lalu, saya jadi berpikir dan merasa lucu sendiri, mixed feeling, lucu, aneh, merasa bego, tapi kagum juga. 
Kenapa kagum? Kagum karena begitu hebat dan begitu cepatnya pikiran, indera, dan alam bawah sadar kita bekerja sedemikian rupa.
Kenapa merasa bego? Karena ternyata ada hal yang sering sekali hilang atau luput ketika saya melakukan sesuatu yang membuat saya menjadi bego, menjadi tidak melihat apa yang seharusnya dilihat.

Inilah yang menjadi jawaban apakah hanya mata yang melihat. Maka jawabannya adalah tentuu tidakkk. Apakah ini hal yang baru untuk teman-teman? Kalau sudah tau sebelumnya, sudahi saja membacanya wkwkkwk mungkin kita sudah tau cuma kurang ngeh aja, kurang sadar gituu.

Jadi, selain mata, kita butuh perhatian, bahasa daerahnya awareness huehehee, jadi mesti waspada gitu lho. Contoh tadi waktu salah masuk pintu itu, mungkin perhatian saya lagi gak di situ, pikirannya lagi kemana-mana, ditambah lagi alam bawah sadar yang sudah menjadi kebiasaan masuk dan keluar lewat pintu itu, maka ketika ada perubahan ditambah kesadaran dan perhatian sedang tidak di sana dan di saat itu, segede apapun simbol di depan mata, kalau pikirannya sedang kemana-mana ya gak akan ngerti juga kalau di situ ada tanda larangan masuk gitu. 

Mungkin kita sering tidak sadar, bahwa kebanyakan yang kita lakukan itu karena alam bawah sadar saja tanpa adanya perhatian di sana, tidak ada kewaspadaan di sana, kurang fokuslah gitu. Jadi meskipun ada mata kalau gak ada perhatian sama aja gitu. Mirip kayak naruh kacamata di atas kepala, trus kacamatanya dicariin mulu wkwkwk karena waktu naruh kacamata di atas kepala tuh kita gak sadar, pikiran lagi kemana-mana, maka otak kita tidak betul-betul merekam hal itu karena dimana pikiran terpusat di situ memorinya akan lebih kuat. Ya gak sih? Hehehe

Mungkin teguran 'matanya ditaruh dimana' mesti diganti jadi 'pikiran perhatianmu lagi kemana' wkwkwkw

Jadi, perhatian apalagi kewaspadaan itu penting ya, karena bukan hanya mata tapi semua indera yang bekerja tanpa perhatian atau kewaspadaan itu tidak ada artinya. 

Kalau saya sering bilang, harus sadar!

Sampai ketemu di [dua puluh lima]

Cheers,
Em 🙆