Wednesday, 15 April 2020

[dua puluh dua] PRIVILEGE adalah KITA

The privilege of a lifetime is being who you are
-Joseph Campbell-

Hai hai teman-teman semua, 
Masih dalam suasana stay at home ya wkwkwk semoga selalu sehat dimanapun berada


Jadi kali ini saya mau sharing tentang PRIVILEGE, yep yep, kayaknya ini sempet ngehits deh beberapa waktu lalu yaa. Orang-orang pada ngomongin orang yang punya privilege dan orang yang ga punya privilege. Jadi bagi yang belum familiar, privilege adalah suatu istilah hukum, tapi di sini saya ngomong privilege dalam konteks pembicaraan awam aja yaa yaitu sebuah 'keistimewaan' yang dimiliki seseorang (mungkin tidak semua orang) yang bisa berdampak ke aspek-aspek kehidupannya. Ya, kira-kira kayak gitulah yaa, hak istimewa lah pokoknya.

Nah, kali ini saya pengen melihat privilege ini dari suatu sisi yang berbeda, let's go ..

Jadi, menurut saya, fun fact tentang privilege ini adalah kita secara ramai-ramai menyebut sesuatu itu sebagai privilege ketika sudah ada sesuatu yang terjadi setelahnya. Contohnya mungkin yang baru kemarin cukup banyak dibicarakan yaitu Putri Tanjung yang diangkat menjadi staf khusus Presiden. Setelah itu, banyak yang ngomong bahwa dia bisa mendapatkan posisi itu karena punya 'privilege' dari bapaknya yang adalah Chairul Tanjung yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Nah setelah mikir, saya jadi bertanya-tanya, seandainya Putri Tanjung tidak menjadi pengusaha, tidak dikenal, dan tidak menjadi staf khusus apakah menjadi seorang anak Chairul Tanjung masih menjadi sebuah 'privilege'? Apakah orang-orang tetap akan ramai membicarakan privilege sebagai seorang anak dari Chairul Tanjung? 

Saya ga tau ya, mungkin ada yang sependapat ataupun tidak, yang saya pikirkan adalah kita tuh nyebut-nyebut 'privilege' setelah sesuatu sudah terjadi. Dan parahnya lagi, sering meng-kambing hitam-kan privilege itu dan mengesampingkan hal-hal lain yang mungkin lebih penting dari privilege itu sendiri (maap ya kata-katanya ngulang-ngulang hahahaaa)

Masih dengan contoh tadi, dari perspektif kita, orang luar yang bukan Putri Tanjung, kita mungkin akan berpikiran 'enak ya jadi anaknya Chairul Tanjung, punya privilege bisa jadi stafsus' (contohnya demikian). Kita menjadikan si 'privilege' itu sebagai excuse atau alasan yang negatif aja gitu menurutku. Kita selalu melihat orang yang sukses atau orang yang berhasil itu karena dia punya 'privilege' yang seolah-olah kita ga punya misalnya dia anak orang kaya lah, dia pintar lah, dia anaknya si X lah, dia cantik lah dan masih banyak lagi. Mata kita hanya tertuju pada 'privilege' dan menutup mata untuk usaha-usaha keras yang sudah orang itu lakukan di balik semua pencapaiannya.

Bagi Putri Tanjung, mungkin menjadi seorang anak Chairul Tanjung itu bukan privilege. Mungkin dia juga lelah berada di bayang-bayang bapaknya. Mungkin dia juga mau usahanya diakui tanpa ada embel-embel orang tuanya. Who knows. Ini hanya tebak-tebakan saya saja hehehee

Tapi, intinya adalah jangan melihat privilege sebagai sesuatu yang buruk gitu. Karena seringkali privilege meninggalkan kesan buruk yang seperti 'jalan pintas'. Jangan juga merasa kalau diri kita tidak punya privilege dan tidak bisa melakukan apa-apa. 

Semua orang punya privilege, karena privilege itu kita yang ciptakan sendiri, konsep yang kita bentuk di pikiran kita. PRIVILEGE adalah KITA, sama seperti judul topik kali ini wkwkkww

Nah, kok bisa??

Saya coba kasih contoh ya, 
Seorang anak yang orang tuanya kaya, dia punya privilege, karena orang tuanya mampu, dia bisa dapat modal dari orang tuanya dengan mudah lalu memulai usaha
Seorang anak orang tuanya kurang mampu, dia juga punya privilege, karena dia punya semangat dan motivasi yang berbeda dari orang-orang lain, dia punya privilege untuk bisa bangkit dan membuat perubahan, mungkin dia juga akan memulai usaha

Kedua contoh di atas ada terjadi di dunia nyata. Semua orang punya peluang untuk menjadi apa yang dia  mau, karena sekali lagi semua orang punya privilege kok. Bisa lahir jadi manusia aja privilege loh. Memang saat lahir kita tidak bisa memilih, tapi setelah kita lahir kita bisa memilih jalan apa, usaha apa yang kita tempuh. Menjadi diri kita sendiri itu sebuah privilege yang orang lain tidak punya. Being you is a super privilege, you are the privilege! wkwkwk. 

Jadi, untuk orang-orang yang mungkin masih melihat pencapaian orang lain karena privilege, sudahlah, cukup yaa wkwwkk, anda, saya, kita masing-masing punya privilege kok, so stop making excuses. Menurut saya, privilege tidak lebih hanya sekedar konsep kelebihan-kekurangan sebagai manusia yang mana semua orang punya. Nobody is perfect. Yang penting niat dan usaha, jangan lupa berdoa juga. Okeh okeh? Wkwkwk

Jadi, sekali lagi privilege adalah kita hehee

Sekian dulu yaa, semoga bermanfaat, maafkan jika ada kesalahan
Stay safe, stay sane, stay home :)

See ya at [dua puluh tiga]
Cheers,
Em 🙆

Tuesday, 7 April 2020

[dua puluh satu] apo[take care]

From research to healthcare : Your pharmacist is at your service

Apoteker. Apo-take care. Wkwkwk. Agak slengean maksa gitu ya hahaahaaa

Halo semuanya, semoga semua dalam keadaan sehat ya, kita masih dalam kondisi yang sekarang ini, masih berjuang melewati badai corona ini wkwk 
Ya, hampir seluruh negara di dunia mengalaminya, mari berjuang bersama-sama. Just make this time at its best. Semoga cepat berakhir.

Wokey, kali ini topik bahasan saya mungkin agak sedikit rada kontroversial hahaaa jadi sebelumnya saya mau bilang (mungkin sudah beberapa kali di beberapa post) bahwa yang saya tulis hanyalah opini pribadi saya berdasarkan pemikiran dan pengalaman saya, jadi mungkin jika ada yang keliru mohon dimaafkan hehee

So, yap, apoteker, salah satu profesi yang bergelut di bidang kesehatan yang mungkin belum banyak dikenali dengan baik oleh masyarakat luas. I want to talk about this because I come from this basic, of course, I am a (proud) pharmacist. Jadi, dari sejak zaman kuliah sampai lulus profesi sampai sekarang masih studi lagi, begitu banyak opini-opini tentang profesi kefarmasian ini. Profesi yang mungkin kepopulerannya masih kurang dibandingkan dokter atau perawat, which is sometimes kita dipanggil 'dok' di rumah sakit heheee for me personally, it's fine since they don't have any idea about our role. Okay, nanti akan saya bahas sedikit sedikit wkwkwk sedikit aja tapi hahahaaa

Yang pertama, salah satu kelemahan dari profesi apoteker kita adalah belum ada aturan perundang-undangan yang mengatur tentang profesi kefarmasian. Setau saya peraturan tertinggi yaitu PP No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian (mohon maaf guys, hafalan saya kurang baik begitu juga pemahaman saya soal hukum wkwk jika ada kesalahan bisa disampaikan, saya dengan senang hati akan mengubah hehee). Jadi, memang belum ada peraturan setara UU seperti yang dimiliki profesi kesehatan lainnya. Jujur saja, saya tidak terlalu paham tentang hukum tapi menurut hemat saya, berhubung profesi apoteker sangat erat kaitannya dengan pasien yang artinya menyangkut nyawa seseorang, juga berkaitan dengan kode etik maka dengan adanya peraturan yang levelnya cukup 'tinggi' setidaknya lebih menjamin peran profesi itu sendiri. Untuk case ini, sudah banyak sepertinya yang meng-gaung-gaungkan. Kalau dari saya tentu harapannya dari legislatif bisa segera mencanangkan atau mungkin kita perlu beberapa rekan sejawat apoteker untuk duduk di kursi legislatif untuk memperjuangkan ini hehehee. Saya tidak bisa berkomentar banyak sih tentang ini, tapi ya harapannya, bukan cuma profesi apoteker saja tapi profesi lain yang memang perlu peraturan yang melatarbelakangi profesi itu sebaiknya bisa segera dicanangkan oleh legislatif kita.

Berikutnya, pendapat tentang profesi apoteker yang sering kadang dipandang sebelah mata oleh profesi kesehatan lain ataupun oleh masyarakat. Sejauh ini, saya punya pandangan tersendiri untuk hal ini, yang mungkin tidak se-ekstrim orang-orang pada umumnya which I dont know it's good or bad. Kalau dari saya pribadi, semua pasti ada sebabnya. Dulu peran apoteker yang diketahui masyarakat hanya 'penjual obat', tapi ternyata di balik itu banyak sekali peran apoteker yang tidak diketahui masyarakat. Mungkin ibarat film, hanya sedikit orang yang tau peran produser itu apa yang padahal perannya penting lho dalam produksi sebuah film. Nah, balik ke yang tadi, sekarang ini peran apoteker mulai bergeser, bukan berpindah tapi bertambah, dari yang tadi hanya sekedar 'menjual' obat bertambah menjadi mengedukasi masyarakat tentang obat, menganalisis terapi seorang pasien khususnya pada pasien dengan penyakit komplikasi yang mengonsumsi banyak obat-obatan (polifarmasi). Meskipun, sampai sekarang profesi apoteker belum sampai pada tahap membantu dokter memutuskan terapi yang diberikan which might be visible in the future, mungkin beberapa tahun lagi. Bukan hanya itu, peran apoteker di industri juga tidak kasat mata oleh masyarakat, belum lagi peran apoteker di bidang penelitian yang masyarakat kita lebih buta lagi tentang itu. Jadi, menurut saya, tidak perlu terlalu menanggapi untuk menjadi 'setara' dengan dokter dalam hal kepopuleran di tengah masyarakat. Semua punya porsinya masing-masing yang mungkin saat ini kita apoteker masih merintis citra atau peran itu. Semua butuh waktu, suatu hari saya yakin kok kalau dokter dan apoteker dapat berkolaborasi dalam memutuskan terapi yang tepat untuk pasien, sama seperti kolaborasi dokter dan perawat dalam merawat pasien. Yang perlu diketahui juga adalah bahwa peran apoteker yang begitu luas ini mungkin kadang-kadang cukup membiaskan peran yang diemban. Seperti kalimat pembuka tulisan ini, from research to healthcare, jadi dari hulu (penelitian) hingga hilir (ke pasien), ada peran apoteker di sana. Yang mungkin kasat mata oleh masyarakat atau profesi kesehatan lain adalah bagian hilirnya, bukan hulunya. Namun, menurut saya, semua ada posisinya semua ada tempatnya, untuk apoteker yang memang bekerja di hulu (penelitian ataupun industri) maka they are the 'behind the scene' heroes. Tidak bisa memang menyamakan ketenaran aktor dan sutradara apalagi produser. Begitulah memang posisinya. Jadi, inti yang dari pendapat saya ini, saya yakin semua profesi kesehatan dan profesi apapun punya porsi peran masing-masing, semua punya tujuan sama mendukung bidang masing-masing dengan peran masing-masing. Jadi kurang elok sepertinya membandingkan satu profesi dan profesi lainnya. Yang terpenting adalah selalu memberikan pengabdian terbaik dalam peran yang digeluti. Untuk apoteker yang bergerak di hulu, lakukan yang terbaik, hasilkan penemuan-penemuan obat mutakhir. Untuk apoteker yang bergerak di hilir, lakukan yang terbaik, berikan pelayanan terbaik untuk pasien dan masyarakat. Dan untuk semuanya lakukan kolaborasi terbaik saling menghargai dengan semua profesi kesehatan.

Yang terakhir, kali ini tiga topik ini saja ya yang saya bahas hahahaaa
Belakangan ini ada peraturan baru ya tentang gelar apoteker yang semula disematkan di belakang nama sekarang dipindahkan ke depan. Saya sebenarnya setuju-setuju saja dimanapun gelar itu disematkan, karena menurut saya bukan gelar yang terpenting tapi peran. Tidak masalah gelar dipindahkan ke depan, mungkin agar lebih dikenal oleh masyarakat yang mana tidak ada salahnya. Hanya saja, menurut saya, jangan menjadikan gelar sebagai trigger, karena menurut hemat saya sekali lagi, dimanapun gelar itu disematkan, tanpa gelarpun, jika apa yang kita lakukan bisa berdampak ke orang lain, maka people will look at us as we are, orang-orang akan tau bahwa oh inilah apoteker dengan semua perannya yang begitu bermanfaat di tengah masyarakat. Sekali lagi, bukan berarti gelar tidak penting, gelar penting sebagaimana kita meraihnya dengan penuh perjuangan keringat, air mata bahkan darah mungkin, tapi sekali lagi juga itu bukan yang utama. Gelar tanpa peran tidak ada artinya. Maka dari itu, sama seperti poin kedua tadi, kita mungkin sekarang masih merintis, jadi intinya act first lah, sisanya akan senantiasa mengikuti.

Eh, ada lagi ternyata yang mau saya 'curhat' sedikit wkwkw ada satu pengalaman yang membuat saya pribadi cukup kecewa ketika ada pihak yang menurut saya mestinya menjadi wadah bersatunya apoteker tetapi memberi respon yang kurang mengenakkan. Dari pertanyaan yang saya ajukan, jawaban yang saya tangkap saat itu adalah apoteker yang berkarir di industri farmasi tidak dihitung sebagai pekerjaan kefarmasian. Saya tidak tahu, mungkin parameternya dari definisi di PP mungkin. Tapi menurut saya itu cukup diskriminatif, mungkin saja sekarang sudah berubah, mudah-mudahan. Tapi harapan saya dimanapun seorang apoteker berperan, sudah semestinya peran itu 'terhitung' sebagai peran yang 'nyata'. Yah, begitulah, kurang detil memang hahaa takut misleading dan misunderstanding. Tapi saya yakin kok semua ini masih berproses. Saya pun tidak mau berkritik terlalu banyak, toh saya juga belum berperan apa-apa, but I would like to say that I will do my best wherever I will be in the future as a pharmacist.

Oke, cukup panjang yaaa
Sebagai penutup, seperti judulnya apo[take care], apoteker seharusnya men-take care pasiennya, baik itu dari hulu maupun dari hilir. Tujuan kita sama kok. Yuk bareng-bareng mengambil peran. Act now, give the best one.

Untuk teman-teman sejawat apoteker yang mungkin membaca, jika ada yang keliru silahkan disampaikan. Tetap semangat dalam mengabdi :)

Semoga bermanfaat ya semoga memberi insight, kalaupun tidak, tidak apa-apa juga wkwk terima kasih sudah membaca

See ya at [dua puluh dua]
Cheers,
Em 🙆