Sunday, 14 September 2025

[seratus dua] jika tidak hitam, maka belum tentu selalu putih

Life is not as clear as black or white

Hitam dan putih adalah warna yang mutlak. Hitam adalah ketiadaan cahaya sedangkan putih ada sumber dari segala warna ketika disinari oleh cahaya. Tetapi, hidup tidak sesederhana definisi kedua warna tersebut. 

Tidak jarang, kita melihat sesuatu di kehidupan ini hanya sebatas hitam dan putih. Contohnya "kita tuh ga perlu lah dengar kata orang lain tentang kita". Kadang, kesan yang kita ambil adalah "oh iyaa, ga perlu kita dengar kata orang lain, suka-suka gue aja lah". This is not how this world works, right? Tidak mendengarkan kata orang lain, bukan berarti bisa berbuat sesuka hati kita. This is too unemphatetic. Atau contoh lain "kita tuh harus selalu baik sama orang", yang ditangkap adalah "oke apapun yang terjadi, kita harus baik, di kondisi apapun harus tetap baik". Hmmmm, gimana ya, kan gak bener juga yaa jadinyaa..

*disclaimer a little bit: I don't really like those two examples, but my brain is not braining right now, but if I wait until my brain braining again, maybe this will be a draft forever wkwwkk so hope you understand and get my point and can find your own examples that fit better hehee

Lanjut,

Jadi seperti itu guys, ada hal yang harus dipertimbangkan dalam menyerap suatu informasi termasuk di dalamnya insight ataupun nasihat. Ada satu kata kunci yang bisa membuat kita tidak melihat sesuatu secara hitam dan putih, I think it is called "wisdom". Ya, dengan kebijaksanaan, kita bisa mengerti batasan suatu hal, bukan ekstrim kiri atau kanan, tapi bisa saja di tengah-tengah, tidak terlalu kiri, tidak pula terlalu kanan. 

Di contoh yang pertama, mungkin benar kita tidak usah mendengarkan kata-kata orang lain, kalau itu ternyata hanya bersifat subjektif, tidak benar, atau tidak berdampak langsung ke orang lain. Misal orang yang mengomentari penampilan orang lain. Masalah penampilan ya kembali ke orang memakai ya, senyamannya, kalau di Indonesia, harus memperhatikan norma-norma juga misalnya. Tapi, kalau ada orang yang mengomentari etos kerja kita, yang mana sifatnya kritik membangun, mungkin bisa dipertimbangkan. Apalagi untuk kebaikan atau improvement kita juga. Jadi, tidak semua ditolak, tapi tidak semua juga diserap, nanti bisa gila.

Di contoh yang kedua pun sama. Benar kita harus baik sama orang, tapi ketika kita baik tapi kita ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik, mungkin kita harus berpikir ulang. Seperti kita memberi bantuan ke orang lain, tapi bantuan itu malah dipakai untuk hal-hal yang buruk. Tentu kita jadi berpikir ulang kan ya. Jadi, memang perlu bijaksana.

Tidak bersikap baik bukan berarti bersikap jahat. Tidak seperti itu. Karena hampir semua hal dalam hidup ini adalah spektrum. Tidak bisa terlalu cepat menyimpulkan, ini hitam atau ini putih. We should go deep into something and define in which spectrum it should be. This will make thimgs more understandable, applicable, and make more sense. Intinya adalah bijaksana, jangan cepat mengambil kesimpulan, it will always be a win-win solution or option.

Kira-kira begitu yaaa, this is not a good one, but I will let it be released.

Sampai ketemu lagi di [seratus tiga],

Have a good day.

Cheers,

Em 🙆

Saturday, 13 September 2025

[seratus satu] Question to mom (1) : Have you ever woke up late?

Hello everyone!

This is a new series of my posts, yang dinamakan "Question to mom". Random aja sih kepikiran buat nambah-nambahin "series" kayak gini hahahhaa

Ini gara-gara pernah suatu hari kakak ipar saya cerita kalau pagi itu dia tuh terlambat bangun dan jadinya si bocil ponakan saya telat juga dan buru-buru siap-siap ke sekolah wkwkkw terus saya pun jadi kepikiran kan ya, dulu tuh mamak saya pernah telat gak yah, dan mungkin ada pertanyaan-pertanyaan lain yg I wish I could ask. So, mungkin menarik juga buat dikulik lewat tulisan. 

And then, after a crazy week becoz encok saya tiba-tiba kambuh entah kenapa, writing about mom feels like "good", because when you're not feeling well, you seems to miss your parents wkwkwk

A disclaimer that pertanyaan-pertanyaan yg muncul ini sifatnya hanya berandai-andai, I also don't know whether I will ask her if she were here. So, it's just kind of a release for me to write this things down, and also, as usual, it's gonna be a reflection when I become a mom someday :)

--

Okay, let's go back to the topique, telat bangun, ya pastii kita semua pasti pernah telat bangun ya, entah karena mungkin kecapean, atau tidurnya telat, atau ketiduran saat tidur untuk kedua kalinya (lima menit lagi deh, trus jadi 1 jam wkwkw). 

Apakah mama saya pernah telat bangun? Kira-kira apa yang dirasakan ketika telat bangun itu? Rasa bersalahkah atau apa? Apa yang dilakukan setelahnya? Bagaimana respon orang rumah ketika itu terjadi?

Seingatan saya, mama saya sepertinya pernah bangun telat tapi masih bisa diselamatkan wkwkwk karena tidak berdampak misalnya ke anaknya yang jadi bolos sekolah atau tidak ada sarapan di meja makan.

Life do changes when you become a mom. Karena tindakan seorang ibu bisa berdampak ke keluarga, anak-anak. Pada akhirnya seorang ibu pun adalah manusia biasa. Even you woke up late, you're still an amazing mom.

Why do I want to ask this question? Hanya mau dengar ceritanya saja, siapatau ada cerita lucu ye kan wkwkkw

At the end, this is gonna be an unanswered question, sama seperti pertanyaan susulan lainnya.

Happy weekend everyone, and mom, I always miss you :))

See you at [seratus dua]

Cheers,

Em 🙆