Apa yang kamu rasakan ketika sedang menaiki tangga? mungkin engap? ngos-ngosan? encok? pegal-pegal?
Ketika menaiki satu anak tangga demi satu anak tangga, sampai akhirnya tiba di anak tangga teratas, apa yang kamu rasakan? lega? puas? tapi mungkin masih engap wkwkwkw
Ada satu momen hari yang ini yang menggelitik saya hingga ingin menuliskan post ini
jika dianalogikan, ada momen dalam hidup ini yang seperti menaiki anak tangga. Susah? iya, capek? iya, tapi ketika berhasil menaiki satu anak tangga ada rasa puas dan lega, "wah sudah semakin dekat", atau "wah bisa juga nih sampai sini".
Ketika kita "naik level" dalam kehidupan kita, mungkin rasanya juga sama seperti itu. Ketika sedang berusaha, rasanya penuh lika-liku, kesulitan, tantangan, tidak bisa dipungkiri, pasti tidak mudah. Tapi, ketika berhasil rasanya lega, senang, bersyukur, bangga.
Sama halnya dengan kita, begitupun orang lain. Berada di anak tangga yang lebih di atas, tidak berarti kita lebih baik, kita hanya lebih duluan.
Maksudnya apa?
Kadang-kadang, ketika "naik level", kita suka lupa. Lupa diri. Lupa bahwa it's just a moment in life. Itu hanyalah sebuah dampak dari apa yang kita usahakan selama ini. Boleh bangga, boleh senang, dengan kadar yang cukup. Cukup membuat kita percaya dengan diri kita, cukup membuat kita menghargai dan mengapresiasi semua yang diupayakan selama ini.
Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah kita yang dulu.
Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah dia yang usahanya akan sama dengan usaha kita untuk menaiki anak tangga berikutnya.
Orang lain yang masih berusaha di anak tangga di bawah kita, adalah orang yang suatu hari akan berada di posisi kita.
Bingung kan bahasannya apa? kwkwwk. Sama.
Teruslah naik tangga, sesekali tengoklah ke belakang, dan ulurkanlah tanganmu jika diperlukan.
Sampai ketemu di [sembilan puluh tiga]
Cheers,
Em 🙆